Chapter Twenty Eight

Sumpah

POV: Adrian


Hendra Rexton diperiksa hari Senin. Sembilan jam.

Aku tahu karena Pak Sutomo meneleponku setiap dua jam, dengan suara tenang seperti pembaca berita, melaporkan hal-hal yang seharusnya membuatku merasa menang.

Jam sepuluh pagi: Pak Hendra datang dengan tiga pengacara. Senyum ke wartawan. Bilang ini fitnah dari mantan menantu yang sakit hati.

Jam dua belas: Penyidik tunjukkan rekaman Sinta. Senyumnya hilang.

Jam dua: Pengacara minta jeda. Lama. Pak Hendra keluar ruangan, telepon seseorang, kelihatan marah.

Jam empat: Marcel datang. Diperiksa terpisah. Kelvin Tan dari Singapura sudah dihubungi penyidik lewat jalur kerja sama. Kelvin bersedia kooperatif. Dia nggak mau ikut tenggelam.

Jam tujuh malam: Pak Hendra keluar. Status masih saksi, tapi penyidik bilang ke saya secara informal, naik jadi tersangka tinggal soal waktu. Marcel juga.

Lalu, jam delapan, satu telepon lagi.

Pak Adrian. Satu hal lagi. Ibu Bianca Rexton datang ke Bareskrim jam lima sore. Tanpa pengacara keluarga. Dia bawa pengacara sendiri, yang baru dia sewa hari ini. Dia minta memberikan keterangan sukarela.

Aku diam.

Dia bawa salinan faktur sepuluh Maret dari sistem Rexton Malls. Dan registri Singapura soal Kelvin Tan. Dan dia kasih keterangan soal percakapan Pak Hendra dan Marcel yang dia dengar di rumah Menteng. Soal Pak Joko, soal ancaman ke keluarga Sinta. Pak Sutomo diam sebentar. Pak, dia bersaksi melawan om dan sepupunya sendiri. Dan sebagian keterangannya menyangkut ibunya.

“Dia bilang apa soal ibunya?”

Yang dia tahu. Bahwa ibunya mengakui mengetahui foto itu palsu. Dia nggak tambah, nggak kurang. Jeda. Penyidik bilang keterangannya sangat jernih, Pak. Sangat tenang. Mereka sampai tanya apakah dia yakin, karena ini keluarganya sendiri. Dia bilang…

“Bilang apa?”

Dia bilang, “Lima tahun lalu saya diam waktu harusnya bicara. Saya nggak mau ngulangin itu.”


Selasa, Hallworth mengumumkan pembekuan kerja sama dengan Rexton Group sampai seluruh direksi keuangan diganti.

Rabu, saham Rexton Group turun tujuh belas persen.

Kamis, dewan direksi Rexton menggelar rapat darurat. Hendra Rexton dinonaktifkan sebagai Direktur Keuangan. Marcel Rexton diskors dari semua jabatan. Oma Margareth tetap Ketua Dewan, tapi Catherine Hall bilang padaku di telepon bahwa posisinya “sangat rapuh”.

Dan Bianca Rexton tetap CEO Rexton Malls dan project lead Grand Nusantara. Dengan dukungan penuh Hallworth. Dengan suara bulat dewan, kecuali satu abstain.

“Siapa yang abstain?” tanyaku ke Catherine.

“Margareth,” jawabnya. “Again.”


Aku nggak bertemu Bianca minggu itu.

Nggak di kantor. Nggak di rapat. Nggak di lift. Semua komunikasi soal proyek lewat Tasya, yang mengirim email dengan nada sangat formal dan sangat sopan dan, menurut Bayu, “kelihatan banget ditulis sambil nahan nangis”.

Kopi pagi juga berhenti. Syarat nomor delapan. Sejak Senin, nggak ada kopi di mejaku jam tujuh pagi. Nggak ada gelas kertas dari minimarket. Nggak ada termos hitam.

Aku nggak menagihnya.

Elea juga nggak menyebut nama Bianca minggu itu. Dia pergi ke sekolah. Dia pulang. Dia makan, sedikit lebih banyak dari minggu lalu. Dia membiarkanku mengepang rambutnya setiap pagi. Dia memakai jepit kupu-kupu setiap hari.

Dan setiap malam, dia bertanya.

Papa percaya Elea?

Selalu.

Dia nggak membalas. Dia cuma mengangguk, memejamkan mata, dan berbalik menghadap dinding.

Satu malam, aku melihatnya dari ambang pintu, setelah lampu dimatikan. Dia nggak tidur. Dia duduk di kasur, dengan senter kecil berbentuk bintang, dan menggambar sesuatu di buku gambarnya. Waktu dia mendengar langkahku, dia menutup bukunya dan menyembunyikannya di bawah bantal.

Aku nggak bertanya.


Sabtu pagi, jam sembilan, pintu depan bicara.

“Ada tamu di pintu depan.”

Aku sedang di dapur, memotong roti tawar jadi bentuk bintang. Elea minta bintang lagi pagi ini. Pertama kalinya sejak dapur, sejak malam itu. Aku memotongnya dengan sangat hati-hati, seolah satu kesalahan potong bisa membuatnya berubah pikiran.

Bi Imah, di kompor, berhenti mengaduk bubur kacang hijau. Dia menatapku.

Aku berjalan ke jendela ruang tengah.

Di depan pagar hitam, di bawah matahari pagi yang cerah, berdiri seorang perempuan.

Kemeja putih. Celana panjang krem. Sepatu datar. Rambut digerai, diikat setengah ke belakang. Nggak ada lipstik. Nggak ada riasan sama sekali. Wajah yang terlihat lebih tirus dari seminggu lalu, lebih pucat, dengan lingkaran gelap di bawah mata yang nggak ditutupi.

Dia nggak menekan bel. Dia cuma berdiri di sana, dengan tangan menggenggam tali tas di bahunya. Menunggu.

“Bianca,” kata Bi Imah di sampingku. Pelan.

Elea ada di kamarnya. Ganti baju. Aku mendengarnya bernyanyi lagu Starlight Seven dengan lirik yang salah semua.

“Bi,” kataku. “Tolong jaga Elea di atas. Sebentar.”

Bi Imah menatapku. Lalu dia mengangguk, dan naik ke lantai dua.

Aku keluar.


Aku membuka pagar.

Dia menatapku. Kaget. Dia nggak menduga aku akan membukanya.

“Masuk,” kataku.

Dia nggak bergerak.

“Aku nggak mau ngomong di depan pagar lagi,” kataku. “Tetangga udah cukup banyak bahan gosip.”

Dia masuk. Dia berjalan di belakangku menyeberangi halaman. Melewati pot-pot bunga Bi Imah. Melewati pohon mangga dengan ayunan ban bekas yang tergantung miring.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu depan.

Dia berhenti di ambang pintu, seperti malam itu. Menatap ruang tengah. Foto-foto di dinding.

Lalu dia melangkah masuk.

Aku berdiri di tengah ruang tengah, di depan sofa. Dia berdiri tiga meter dariku, di dekat pintu.

“Elea di atas,” kataku. “Aku nggak mau dia turun dan lihat kita kayak malam itu.”

“Aku nggak akan lama.”

“Kamu mau apa?”

Dia menatapku. Lama. Dengan mata yang lelah dan sangat jernih.

Lalu dia berlutut.


Di lantai kayu ruang tengah. Di depan sofa. Di antara aku dan dia.

Lututnya menyentuh lantai dengan bunyi pelan. Punggungnya tegak. Tangannya di pangkuan. Kepalanya nggak menunduk. Dia menatapku dari bawah. Langsung. Tanpa berkedip.

Aku nggak bergerak.

“Aku nggak berlutut buat minta dipercaya,” katanya.

Suaranya tenang. Nggak gemetar. Seperti suara yang sudah dilatih berkali-kali di depan cermin, di mobil, di lantai apartemen jam tiga pagi. Seperti kalimat yang sudah dia susun sampai tiap katanya pas.

“Aku nggak berlutut buat minta dimaafkan. Aku nggak berlutut buat minta ketemu Elea. Aku nggak berlutut buat minta apa-apa.”

Dia menarik napas.

“Aku berlutut karena ini tempat aku seharusnya lima tahun lalu.”

Ruang tengah sunyi. Dari lantai dua, suara Elea yang bernyanyi sudah berhenti.

“Lima tahun lalu kamu berlutut di karpet Oma. Di depanku. Dan aku duduk di sofa. Dan aku diam.” Dia menatapku. “Minggu lalu, aku berlutut di karpet yang sama. Di tempat yang sama. Dan aku lihat ke atas, ke sofa itu, dan aku baru tahu rasanya. Sofa itu tinggi sekali dari bawah. Jauh sekali.”

Rahangku bergerak.

“Aku nggak minta kamu jawab. Aku nggak minta kamu suruh aku berdiri.” Suaranya akhirnya bergetar sedikit di ujung. “Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku tahu di mana tempatku. Dan ini tempatnya. Di bawah. Di depan kamu. Bukan di sofa.”

Dia diam.

Dan dia tetap berlutut.


Aku nggak menyuruhnya berdiri.

Aku nggak tahu kenapa. Aku bisa. Satu kalimat. Berdiri, Bi. Itu saja.

Aku nggak mengucapkannya.

Aku berdiri di tengah ruang tengah dan menatap perempuan yang berlutut di depanku, dan aku merasakan sesuatu yang nggak bisa kunamai. Bukan kemenangan. Bukan kepuasan. Bukan lega.

Yang kurasakan adalah… berat.

Berat yang sama dengan berat yang kubawa lima tahun. Berat bukti di map cokelat. Berat kebenaran yang nggak ada yang mau dengar. Berat menunggu tiga detik di ambang pintu dan nggak mendapat apa-apa.

Sekarang berat itu ada di lantai ruang tengahku. Berlutut. Dengan punggung tegak dan mata yang nggak berkedip.

Dan aku nggak tahu harus melakukan apa dengannya.

Satu menit lewat. Dua. Lima.

Dia tetap berlutut. Aku tetap berdiri.

Di lantai dua, aku mendengar pintu kamar Elea terbuka sedikit. Lalu suara Bi Imah, berbisik, Jangan, Sayang. Tunggu di sini sama Nenek.

Sepuluh menit.

Lututnya pasti sakit. Lantai kayu itu keras. Aku melihatnya memindahkan berat badan sedikit, hampir nggak terlihat. Lalu dia menegakkan punggungnya lagi.

Lima belas menit.

Aku berbalik.

Aku berjalan ke dapur. Aku meninggalkannya berlutut di ruang tengah. Aku berdiri di depan meja dapur, di depan roti tawar yang sudah kupotong jadi bentuk bintang, dan menatap roti itu.

Tanganku gemetar.

Aku mengambil pisau roti lagi. Aku memotong satu roti lagi jadi bentuk bintang. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Sampai roti tawar di bungkusnya habis dan meja dapur penuh bintang-bintang roti yang nggak akan dimakan siapa-siapa.

Dua puluh menit.

Aku mendengar bunyi dari ruang tengah. Pelan. Gerakan. Lalu langkah kaki.

Lalu bunyi pintu depan.

“Sampai jumpa,” kata pintu depan.

Aku keluar dari dapur.

Ruang tengah kosong. Di lantai kayu, di depan sofa, di tempat dia berlutut dua puluh menit, nggak ada apa-apa. Cuma lantai kayu.

Di meja kecil di samping pintu, ada sebuah amplop putih. Nggak ditutup. Nggak dialamatkan ke siapa-siapa.

Aku membukanya.

Selembar kertas. Tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring ke kiri. Tulisan tangan yang kukenal dari kartu ulang tahun, dari catatan belanja di kulkas rumah Menteng, dari buku nama bayi yang kami isi berdua.

Bu Imah bilang Elea mau ketemu aku. Nanti. Kalau dia udah nggak terlalu marah.

Aku nggak akan datang kalau kamu nggak izinkan. Aku nggak akan melanggar syarat nomor tujuh lagi. Aku nggak akan nemuin dia di sekolah, di jalan, di mana pun.

Kalau suatu hari kamu izinkan, aku akan datang. Kapan pun. Di mana pun. Berapa lama pun. Dengan syarat apa pun yang kamu mau.

Kalau kamu nggak pernah izinkan, aku ngerti.

Aku akan nunggu. Kali ini aku yang nunggu.

— B.


Malam itu, waktu Elea sudah tidur, aku duduk di tepi kasurku dengan buku catatan hitam terbuka di pangkuan.

Halaman pertama.

Aku tidak akan memaafkan mereka.

Tidak dia.

Tujuh bulan lalu, di dapur rumah Summertown, aku menulis dua kalimat itu dengan tangan yang nggak gemetar sama sekali. Aku tahu persis apa yang kumau. Aku tahu persis siapa yang salah. Aku tahu persis siapa mereka dan siapa dia.

Malam ini, aku menatap dua kalimat itu, dan tanganku gemetar.

Mereka. Hendra, yang memalsukan rekening dan menyewa orang untuk mengatur foto. Marcel, yang mengambil kardus arsip dari gudang B5 dan menyimpan uang di trust Singapura. Veronica, yang menolak teleponku waktu aku memohon anakku disusui sekali saja. Oma, yang tahu semuanya dan memilih nama.

Mereka. Aku masih nggak memaafkan mereka. Aku nggak tahu apakah aku akan pernah bisa.

Tidak dia.

Aku menatap dua kata itu.

Dia yang diam. Dia yang bilang bawa anak itu. Dia yang lega. Dia yang mengirim uang empat puluh sembilan kali dan nggak sekali pun datang.

Dia yang menyelipkan jepit kupu-kupu di selimut bayinya sebelum turun ke ruang tengah. Dia yang lari ke tengah kerumunan karena anak asing terlihat mirip anaknya. Dia yang mengangkat telepon dalam satu dering jam satu empat puluh tiga pagi. Dia yang mencuci rantang Bi Imah sendiri. Dia yang bersaksi melawan om dan sepupunya sendiri tanpa pengacara keluarga. Dia yang menunggu di mobil sampai jam empat pagi, sampai lampu kamar anaknya mati.

Dia yang berlutut di lantai ruang tengahku dua puluh menit, dan nggak minta apa-apa.

Kali ini aku yang nunggu.

Aku mengambil pulpen.

Aku nggak mencoret kalimat itu. Aku nggak menulis apa-apa di bawahnya. Belum.

Aku cuma menatapnya. Lama. Sampai hurufnya buram.

Lalu aku menutup buku catatan itu, dan memasukkannya ke laci meja samping kasur.


Minggu pagi, aku menelepon Catherine Hall.

“Catherine. Lampiran C. Syarat nomor tujuh.”

Hening sebentar di ujung telepon. Di London, jam satu pagi. Dia pasti terbangun karena teleponku.

“Yes?”

“I’d like to amend it.”

Hening lagi. Lebih panjang.

“Amend,” ulang Catherine. “Not remove.”

“Amend.”

“To what?”

Aku menatap jendela dapur. Pohon mangga. Ayunan ban bekas. Elea duduk di ayunan itu, dengan Bi Imah yang mendorongnya pelan dari belakang, dan dia tertawa. Tawa pertama yang kudengar darinya dalam seminggu.

“Supervised visits,” kataku. “Saturdays. Two hours. At my house. With me present in the same room.”

Catherine diam lama.

“Adrian,” katanya akhirnya. Suaranya hangat. Suara perempuan tua yang punya anak dan cucu. “I’ll draft it tomorrow. And Adrian?”

“Yes?”

“It’s about bloody time.”

Dia menutup telepon.


Aku menulis pesan ke nomor yang nggak kusimpan.

Aku menulisnya, menghapusnya, menulisnya lagi. Lima kali. Seperti Mbak Desi di kantor Hallworth bilang aku melakukannya hari Senin setelah Elea naik ke lantai empat puluh.

Akhirnya, aku mengirim versi yang paling pendek.

Sabtu depan. Jam 10. Dua jam. Di rumah. Aku ada di ruangan yang sama.

Terkirim.

Aku menunggu.

Satu menit. Dua. Lima.

Lalu ponselku bergetar.

Terima kasih.

Dua kata. Sama seperti dua kata yang kukirim padanya di malam dia memperingatkanku soal Sinta.

Lalu, sepuluh detik kemudian, satu pesan lagi:

Elea suka apa? Aku nggak mau datang dengan tangan kosong. Tapi aku juga nggak mau bawa sesuatu yang salah.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu aku menoleh ke jendela. Ke Elea di ayunan ban bekas, tertawa, dengan kepangan dua yang bergoyang dan jepit kupu-kupu yang berkilau di bawah matahari.

Aku mengetik.

Kupu-kupu. Gulali. Lagu Starlight Seven, liriknya salah semua. Roti bentuk bintang. Kucing tapi dia bilang anjing. Hamster temennya namanya Kapitein. Dia nggak suka kacang panjang kecuali dipotong pendek. Dia takut petir. Dia tidur pakai jepit itu. Dia bakal nanya kenapa kamu nggak datang. Siapin jawaban yang jujur. Jangan bohong. Dia udah cukup dibohongin.

Aku membaca pesan itu.

Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya.

Termasuk sama aku.

Kirim.

Dari luar, Elea berteriak, “PAPA! LIHAT! ELEA BISA AYUN SENDIRI!”

Aku keluar ke halaman belakang. Dia mengayun tinggi, kaki kecilnya menendang udara, kepangan dua terbang ke belakang.

Bi Imah berdiri di samping pohon mangga, tangan di pinggang, menatapku dengan alis terangkat.

“Kamu senyum,” katanya.

“Nggak.”

“Senyum. Bibi lihat.”

“Bi.”

Bi Imah tertawa. Lalu dia mendorong ayunan Elea sekali lagi, lebih tinggi, dan Elea menjerit senang.

Malam itu, waktu aku menyelimutinya, Elea memegang ujung lengan bajuku.

“Papa percaya Elea?”

“Selalu.”

Dia memejamkan mata. Lalu, sebelum aku sempat berdiri, dia bergumam. Sangat pelan. Hampir nggak terdengar.

“…Elea juga.”

Aku membeku.

“Elea juga percaya Papa,” bisiknya, setengah tidur. “Sedikit. Belum banyak. Tapi sedikit.”

Aku duduk di tepi kasurnya sampai napasnya teratur.

Sedikit.

Itu cukup. Untuk malam ini, sedikit itu lebih dari cukup.