Chapter Thirteen

Album Lama

POV: Bianca


Aku nggak pernah pulang ke rumah Menteng kecuali dipanggil.

Sejak tiga tahun lalu, sejak aku diangkat jadi CEO dan membeli apartemen di Sudirman dengan uangku sendiri, rumah Menteng jadi tempat yang kukunjungi seperti orang mengunjungi kantor cabang: untuk makan malam keluarga di hari Minggu pertama setiap bulan, untuk rapat keluarga kalau Oma memanggil, untuk Lebaran dan Natal dan Imlek dan semua hari besar yang dirayakan keluarga Rexton dengan sama megahnya demi menyenangkan semua relasi bisnis.

Aku nggak pernah pulang hanya karena ingin pulang.

Hari Rabu malam itu, jam sepuluh, aku menyetir sendiri ke Menteng. Tanpa sopir. Tanpa memberi tahu siapa-siapa.

Pak Satpam yang baru, laki-laki muda yang menggantikan Pak Darto tiga tahun lalu, membuka gerbang dengan wajah kaget. “Non Bianca? Malam-malam? Ibu nggak bilang Non mau datang.”

“Mama nggak perlu tahu.”

“Tapi Non—“

“Saya cuma mau ambil sesuatu dari ruang kerja Papa.”

Dia membukakan gerbang tanpa bertanya lagi.


Rumah itu sunyi.

Lampu-lampu di ruang tengah sudah dimatikan, hanya lampu tidur di sudut-sudut yang menyala kuning redup. Karpet Persia Oma terbentang di lantai seperti danau gelap. Kursi beludru hijau di ujung. Sofa krem. Kursi jati tanpa sandaran tangan di dekat pintu.

Aku berhenti di ambang ruang tengah.

Lima tahun aku melewati ruangan ini setiap bulan, dan aku nggak pernah berhenti. Aku selalu berjalan cepat, langsung ke ruang makan, langsung ke tangga, langsung ke mana saja asal bukan di sini. Aku nggak pernah menatap karpet itu terlalu lama. Aku nggak pernah menatap tempat di depan sofa krem, tempat seorang laki-laki dengan kemeja biru tua yang lengannya digulung sampai siku pernah berlutut.

Malam ini, aku menatapnya.

Karpetnya masih sama. Corak bunga-bunga merah tua dan biru tua yang saling melilit. Ada satu bagian yang sedikit lebih pudar dari sekelilingnya, di depan sofa krem. Mungkin karena terlalu sering diinjak. Mungkin karena sinar matahari dari jendela. Mungkin karena nggak ada apa-apa.

Aku nggak tahu kenapa mataku panas.

Aku berjalan ke tangga.


“Mrrrrrow.”

Seekor kucing Persia putih yang sangat gemuk duduk di anak tangga ketiga, menghalangi jalanku, menatapku dengan mata kuning yang menghakimi.

Duchess Kedua. Penerus Duchess pertama yang mati empat tahun lalu dan dimakamkan Oma di taman belakang dengan upacara yang lebih megah dari pemakaman beberapa direktur Rexton. Duchess Kedua lebih gemuk, lebih galak, dan, menurut Mbak Lilis yang masih jadi pengasuhnya, lebih manja.

“Minggir, Duchess.”

Duchess Kedua nggak minggir. Dia menguap lebar, memperlihatkan gigi-gigi kecil yang tajam, lalu berbaring di anak tangga itu dengan sikap orang yang baru membeli tanah.

“Duchess. Aku CEO Rexton Malls. Aku punya seratus delapan puluh tenant dan proyek empat koma dua triliun. Minggir.”

Duchess Kedua menjilat cakarnya.

Aku menatap kucing itu. Kucing itu menatapku.

Lalu aku melangkahinya. Dengan gaun kantor dan sepatu hak sepuluh senti. Dengan sangat hati-hati, seperti melangkahi ranjau.

Di belakangku, Duchess Kedua mengeong keras sekali, mengeong seperti orang yang dihina, dan dari ujung lorong lantai dua terdengar suara pintu dibuka dan suara Mbak Lilis yang setengah tidur: “Duchess? Duchess kenapa? Ada maling?”

“Bukan maling, Mbak. Saya.”

“Ya Allah, Non Bianca! Malam-malam! Duchess kaget, Non!”

“Duchess yang ngehalangin jalan saya, Mbak.”

“Duchess nggak pernah ngehalangin, Non. Duchess cuma istirahat di tempat strategis.”

Aku menatap Mbak Lilis. Mbak Lilis menatapku dengan wajah serius, wajah orang yang sudah dua puluh tahun mengabdikan hidupnya untuk kucing dan nggak menyesalinya sedikit pun.

Untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tertawa. Sebentar. Pendek. Tapi tertawa.


Ruang kerja Papa masih seperti dulu.

Aku menyalakan lampu meja. Lingkaran cahaya kuning jatuh di atas meja kayu jati, di atas miniatur Rexton Mall pertama, di atas tempat pena kulit yang masih berisi pulpen-pulpen Papa yang tintanya pasti sudah kering.

Rak buku di dinding kiri. Buku-buku arsitektur, buku-buku manajemen, biografi pengusaha-pengusaha besar. Dan di rak paling bawah, berjajar rapi dalam sampul kulit cokelat tua yang sama, album-album foto keluarga.

Papa yang menyusunnya. Papa yang mencetak setiap foto, menyusunnya berdasarkan tahun, dan menuliskan keterangan di bawah setiap foto dengan tulisan tangannya yang besar dan miring. Mama selalu bilang itu kebiasaan kuno. Papa bilang foto di ponsel bisa hilang. Foto di kertas akan tetap ada.

Aku berlutut di depan rak itu. Jariku menyusuri punggung-punggung album. Tahun demi tahun, dicetak emas di sampulnya.

1994. 1995. 1996.

Aku lahir tahun 1996. Bulan Maret.

Aku menarik album itu keluar.


Halaman pertama: foto hitam-putih rumah sakit. Mama di ranjang dengan rambut yang berantakan dan wajah lelah dan tersenyum. Papa berdiri di sampingnya, menggendong bayi yang dibungkus selimut putih, dengan wajah yang menangis terang-terangan. Keterangan di bawahnya, tulisan tangan Papa:

Putri kami. 14 Maret 1996. Papa nangis. Jangan bilang siapa-siapa.

Aku tersenyum. Lalu aku membalik halaman.

Bayi di boks. Bayi mandi. Bayi tidur di dada Papa. Bayi di pangkuan Oma, yang waktu itu masih muda dan masih bisa tersenyum dengan seluruh wajahnya.

Aku membalik halaman lagi. Dan lagi. Bayi itu tumbuh. Duduk. Merangkak. Berdiri dengan berpegangan pada pinggir meja.

Aku menutup album itu, dan menarik album lain dari rak. Lalu yang lain lagi. 1997. 1999. 2001.

Di album tahun 2001, aku sampai di halaman itu.

Foto berwarna. Musim kemarau, dilihat dari cahayanya yang keemasan. Taman belakang rumah Menteng. Seorang anak perempuan berumur sekitar lima tahun berdiri di depan pohon kamboja, dengan gaun kuning dan rambut cokelat gelap yang dikepang dua dengan pita merah. Dia menatap kamera dengan senyum lebar yang memperlihatkan satu gigi depan yang hilang. Tangannya terangkat, memegang sesuatu ke arah kamera, seekor kupu-kupu kertas yang dibuatnya sendiri.

Keterangan di bawahnya:

Bianca, 5 tahun. Katanya mau jadi kupu-kupu kalau besar. Papa bilang dia udah jadi kupu-kupu.

Aku menatap foto itu.

Lalu aku menatap foto itu lebih lama.

Mata almond yang bulat. Cara kepala itu dimiringkan sedikit ke kanan. Poni yang lepek di dahi karena keringat. Kepang dua. Senyum yang lebar dan sedikit bengkok di sudut kiri.

Dan di bawah mata kiri, sangat kecil, hampir nggak terlihat di foto yang sudah pudar, sebuah titik gelap.

Aku sudah melihat wajah ini.

Empat hari lalu. Di bawah pohon ketapang. Tiga langkah dariku. Dengan pipi basah oleh air mata dan bau gulali dan jepit kupu-kupu perak di genggaman tangan kecilnya.

Aku sudah melihat wajah ini, dan aku tahu waktu itu juga. Aku tahu dari detik pertama. Tapi aku menolak tahu. Aku menolak membiarkan pengetahuan itu masuk lebih dalam dari kulit.

Sekarang, di ruang kerja Papa, di bawah lampu meja yang kuning, dengan album tahun 2001 terbuka di pangkuanku, pengetahuan itu masuk.

Dan membelah sesuatu di dalam dadaku.


Aku nggak tahu berapa lama aku menangis.

Aku nggak menangis seperti orang dewasa. Aku menangis seperti anak kecil. Dengan suara. Dengan bahu yang bergetar. Dengan napas yang tersendat-sendat dan ingus dan air mata yang jatuh ke halaman album, ke wajah anak perempuan lima tahun dengan gaun kuning, dan aku buru-buru mengusapnya dengan lengan blazerku karena takut fotonya rusak, dan itu membuatku menangis lebih keras.

Lima tahun aku nggak menangis.

Nggak waktu aku menandatangani surat cerai. Nggak waktu Bi Sumi membuang kopi tubruk ke wastafel. Nggak waktu aku diangkat jadi CEO dan berdiri sendirian di podium. Nggak waktu Oma menyebut namaku dan nama Darren dalam satu kalimat di makan malam keluarga.

Lima tahun aku mengunci semuanya di tempat paling dalam, dan aku menumpuk karung pasir di depan pintunya. Lipstik merah. Setelan rapi. Angka-angka. Proyek. Rapat. Karung demi karung demi karung.

Dan seorang anak kecil dengan wajahku sendiri berlari mengejar jepit rambut di lapangan sekolah, dan semua karung pasir itu runtuh dalam satu sore.

Aku menangis untuk anak perempuan di foto itu, yang mau jadi kupu-kupu kalau besar.

Aku menangis untuk anak perempuan di bawah pohon ketapang, yang bilang dari dulu punya Elea dengan bangga.

Aku menangis karena dua anak perempuan itu punya wajah yang sama, dan yang satu tumbuh dengan Papa yang mencetak setiap fotonya dan menulis keterangan dengan tangan, dan yang satu lagi tumbuh tanpa ibu karena ibunya bilang aku nggak mau lihat dia.

Dan aku menangis karena aku tahu, dengan kepastian yang dingin dan mengerikan, bahwa aku nggak pernah melihat satu pun foto anakku.

Satu pun.

Nggak pernah dalam lima tahun.


Ada satu hal lagi yang harus kuceritakan. Hal yang belum pernah kuceritakan ke siapa pun. Hal yang nggak pernah kuakui bahkan ke diriku sendiri dengan kalimat yang utuh.

Satu tahun setelah malam itu, aku menyewa penyelidik swasta.

Bukan untuk menemukan Adrian. Aku nggak peduli di mana Adrian. Aku cuma mau tahu satu hal: apakah bayi itu masih hidup.

Penyelidik itu butuh tiga minggu. Dia kembali dengan map tipis. Di dalamnya: alamat sebuah flat di Cowley Road, Oxford. Bukti pendaftaran mahasiswa MSc Engineering Science atas nama Adrian Renaldi. Bukti pendaftaran ke klinik anak di Oxford atas nama Elea Renaldi, umur satu tahun tiga bulan, sehat, imunisasi lengkap.

Dan satu informasi lagi: rekening bank atas nama Imah Rohimah, warung kelontong di Bandung, yang menerima transfer rutin dari Adrian setiap bulan.

Penyelidik itu bertanya apakah aku mau foto. Dia bilang dia bisa menyewa fotografer di Oxford. Foto bayi itu dari jauh. Diam-diam. Nggak akan ada yang tahu.

Aku bilang nggak.

Aku bilang nggak, karena aku takut. Aku takut kalau melihat fotonya, aku nggak akan bisa berhenti. Aku takut kalau melihat wajahnya, semua karung pasir akan runtuh. Aku takut aku akan naik pesawat ke Oxford dan mengetuk pintu flat di Cowley Road dan berdiri di depan laki-laki yang mengkhianatiku dan memohon untuk melihat anak yang kubuang.

Dan Rexton nggak memohon.

Jadi aku bilang nggak. Dan aku membayar penyelidik itu. Dan aku menyimpan nomor rekening Imah Rohimah.

Bulan berikutnya, aku mulai mentransfer uang ke rekening itu.

Setiap bulan. Tanggal empat belas. Tanggal ulang tahunku, karena itu satu-satunya tanggal yang nggak akan pernah kulupakan. Dari rekening pribadiku, lewat rekening perantara supaya namaku nggak muncul. Jumlah yang cukup besar untuk biaya sekolah anak, susu, baju, dokter. Jumlah yang nggak akan membuat Bi Imah curiga kalau dia pikir itu dari Adrian.

Empat tahun. Empat puluh delapan kali transfer.

Aku menyebutnya biaya rasa bersalah.

Aku nggak pernah sekali pun bertanya apakah uang itu sampai ke anakku. Aku nggak pernah sekali pun bertanya apakah anakku sehat, apakah dia bisa berjalan, apakah dia sudah bisa bicara, kata pertamanya apa. Aku cuma mentransfer, setiap tanggal empat belas, lalu menutup aplikasi bank, lalu kembali bekerja.

Seperti membayar tagihan listrik.

Seolah uang bisa menggantikan seorang ibu.

Aku tahu itu nggak bisa. Aku tahu dari awal. Aku cuma nggak sanggup melakukan yang lebih dari itu, karena yang lebih dari itu adalah datang, dan datang adalah mengaku, dan mengaku adalah runtuh.

Jadi aku membayar. Dan menyebutnya cukup.

Malam ini, di lantai ruang kerja Papa, dengan album foto tahun 2001 di pangkuanku, aku akhirnya tahu betapa nggak cukupnya itu.


“Bianca?”

Aku tersentak.

Mama berdiri di ambang pintu ruang kerja. Gaun tidur sutra biru muda. Rambut tergerai, bukan disanggul seperti biasa. Wajah tanpa riasan, wajah yang terlihat lebih tua dan lebih lelah daripada yang kulihat di siang hari.

“Pak Satpam bilang kamu datang.” Mama melangkah masuk, pelan. “Sayang, kamu kenapa? Kamu nangis?”

Aku buru-buru menutup album di pangkuanku. Terlalu cepat. Mama melihatnya.

Dia berhenti melangkah.

Matanya jatuh ke sampul album di pangkuanku. Angka emas di punggungnya. 2001. Lalu ke wajahku, yang basah, yang bengkak, yang nggak bisa kusembunyikan.

Dan aku melihat sesuatu di wajah Mama yang belum pernah kulihat.

Bukan simpati. Bukan kekhawatiran. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat sudut bibirnya menegang dan tangannya, yang tadi terulur sedikit ke arahku, menarik kembali dan meremas kain gaun tidurnya.

Takut.

Mama takut.

Hanya sedetik. Lalu wajahnya kembali lembut. Lalu dia berjalan ke arahku, berlutut di sampingku di lantai, dan memelukku. Tangannya mengusap punggungku, naik-turun, naik-turun, persis seperti lima tahun lalu di sofa krem di bawah sana.

“Sayang. Mama tahu ini berat. Laki-laki itu datang lagi dan bikin hidup kamu kacau. Mama tahu.” Suaranya lembut dan sabar dan hangat. “Tapi kamu nggak boleh biarin dia menang. Kamu dengar Mama? Dia mau kamu hancur. Itu tujuan dia kembali.”

Aku nggak menjawab.

“Kamu nggak salah apa-apa, Bianca. Dia yang salah. Dia yang selingkuh. Dia yang mencuri. Dia yang bawa anak itu pergi.”

Dia yang bawa anak itu pergi.

Aku menatap dinding di depanku. Rak buku Papa. Album-album bersampul cokelat.

“Ma,” kataku. Suaraku serak. “Malam itu. Aku yang bilang bawa anak itu. Bukan dia.”

Tangan Mama di punggungku berhenti.

“Aku yang bilang aku nggak mau lihat dia,” kataku. “Aku ingat. Aku ingat semuanya, Ma. Dia cuma melakukan apa yang aku suruh.”

Hening.

Lalu tangan Mama kembali bergerak. Naik-turun. Naik-turun.

“Kamu lagi sakit waktu itu, Sayang. Kamu nggak sadar apa yang kamu bilang. Kamu baru melahirkan, kamu tiga hari nggak tidur. Itu bukan kamu. Itu… itu penyakit.” Mama mengecup rambutku. “Dan laki-laki yang baik nggak akan membawa pergi bayi dari ibunya yang lagi sakit. Laki-laki yang baik akan tinggal. Akan merawat. Akan menunggu ibunya sembuh.”

Aku memejamkan mata.

Itu masuk akal. Itu selalu masuk akal, kalau Mama yang bilang. Lima tahun, semua yang Mama bilang selalu masuk akal.

Tapi malam ini, di lantai ruang kerja Papa, dengan foto anak perempuan lima tahun yang mau jadi kupu-kupu di pangkuanku, ada suara kecil di kepalaku yang bertanya:

Kalau dia tinggal, Ma, apa kalian akan membiarkannya?

Aku nggak mengucapkan pertanyaan itu.

Aku cuma menarik diri dari pelukan Mama, pelan, dan berdiri dengan album di tanganku.

“Aku pinjam ini, Ma.”

“Untuk apa, Sayang?”

Aku menatapnya. Perempuan yang membesarkanku. Perempuan yang membuatkanku teh chamomile setiap kali aku nggak bisa tidur. Perempuan yang memelukku di sofa krem waktu suamiku berlutut di depanku.

“Aku mau lihat wajahku sendiri waktu kecil,” kataku. “Udah lama nggak lihat.”

Mama tersenyum. Senyum yang lembut dan hangat dan sempurna.

Tapi waktu aku melewatinya di ambang pintu, aku melihat tangannya. Tangan kanannya, yang memegang kusen pintu.

Buku-buku jarinya putih.


Aku menyetir pulang ke Sudirman jam satu pagi dengan album foto tahun 2001 di kursi penumpang.

Di lampu merah Bundaran HI, aku menatap layar ponselku. Aplikasi bank. Riwayat transfer.

Empat puluh delapan baris. Empat puluh delapan kali tanggal empat belas. Empat puluh delapan kali jumlah yang sama, ke rekening yang sama, atas nama yang sama.

Imah Rohimah.

Bulan depan, transfer yang keempat puluh sembilan akan berangkat otomatis. Aku sudah mengaturnya begitu sejak tahun kedua, supaya aku nggak perlu melakukannya dengan tanganku sendiri. Supaya aku nggak perlu merasakannya.

Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson.

Aku menepi di depan Hotel Arunaya. Hotel tempat dia membuatku menunggu tiga jam. Aku mematikan mesin. Aku membuka aplikasi bank lagi. Aku menemukan pengaturan transfer otomatis itu.

Jariku melayang di atas tombol Batalkan.

Lalu aku nggak membatalkannya.

Aku menekan tombol yang lain. Ubah. Dan aku menghapus pengaturan otomatisnya, dan mengubahnya menjadi manual. Supaya bulan depan, dan bulan-bulan sesudahnya, aku harus melakukannya dengan tanganku sendiri.

Supaya aku harus merasakannya.

Itu bukan penebusan. Aku tahu itu bukan penebusan. Itu cuma hal paling kecil yang bisa dilakukan seorang perempuan yang nggak tahu harus melakukan apa lagi.

Aku menyalakan mesin. Aku membuka album di kursi penumpang, ke halaman anak perempuan dengan gaun kuning dan kupu-kupu kertas.

Katanya mau jadi kupu-kupu kalau besar. Papa bilang dia udah jadi kupu-kupu.

Aku menyentuh wajah di foto itu dengan ujung jari.

“Maaf,” bisikku. Ke siapa, aku nggak tahu. Ke anak di foto itu. Ke anak di bawah pohon ketapang. Ke Papa, yang menulis keterangan dengan tangan.

Ke laki-laki yang berlutut di karpet Persia, dan yang nggak kuberi satu kalimat pun.

Aku menyetir pulang.

Di apartemen, aku nggak menyalakan lampu. Aku berjalan dalam gelap ke dapur, membuka lemari, dan mengambil toples kaca kecil berisi kopi tubruk.

Aku membuat secangkir. Dua sendok penuh. Air mendidih. Nggak pakai gula. Diaduk tiga kali, searah jarum jam. Ditutup tatakan, empat menit.

Lalu aku duduk di meja makan, sendirian, jam dua pagi, dan meminumnya.

Pahit. Gosong. Seperti tanah dan asap.

Aku nggak pernah suka kopi. Aku nggak pernah minum kopi. Satu setengah tahun pernikahan, aku membuatkannya setiap pagi tapi nggak pernah meminumnya.

Malam ini aku menghabiskannya. Sampai ampasnya.

Rasanya seperti menelan semua yang kubuang.