Chapter Twenty Nine

Dua Jam Hari Sabtu

POV: Bianca


Aku ganti baju tujuh kali.

Kemeja putih. Terlalu formal, kayak mau rapat. Gaun biru muda. Terlalu berusaha. Kaus dan jins. Terlalu santai, kayak nggak peduli. Blus kuning. Kuning itu warna favorit Elea, kata Adrian di pesannya, dia selalu pilih krayon kuning duluan, tapi apa itu terlalu jelas? Apa dia akan merasa aku sedang mencoba menyuapnya dengan warna?

Jam delapan pagi, Tasya datang ke apartemenku dengan dua gelas kopi susu dan wajah orang yang dipanggil untuk keadaan darurat nasional.

“Bu, Ibu bilang di WhatsApp ini darurat.”

“Ini darurat.”

Tasya menatap tempat tidurku. Tujuh setel baju berserakan. Sepatu-sepatu berjajar di lantai. Tas-tas yang dibuka dan ditutup.

“Bu,” katanya pelan. “Ibu mau ketemu Elea.”

“Jam sepuluh.”

“Dan Ibu udah ganti baju…”

“Tujuh kali.”

Tasya meletakkan kopi di meja. Dia menggulung lengan kemejanya. Dia menatapku dengan tatapan orang yang siap bertempur.

“Oke, Bu. Duduk. Biar saya yang pilih.”


Tasya memilih celana kain krem yang longgar dan blus katun putih dengan kancing kecil-kecil berwarna kuning. Sepatu kanvas putih. Rambut dikepang satu, longgar, menjuntai di bahu kiri.

“Kepang?” tanyaku.

“Kepang, Bu. Elea kan suka dikepang. Biar dia lihat Ibu juga dikepang. Biar ada yang sama.”

“Tas, ini bukan wawancara kerja.”

“Justru itu, Bu. Ini lebih penting dari wawancara kerja.” Tasya mundur dua langkah dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mengangguk puas. “Ibu cantik. Cantik yang… yang bukan cantik CEO. Cantik yang kayak ibu-ibu di iklan susu.”

“Itu pujian?”

“Itu pujian tertinggi, Bu.”

Aku menatap cermin. Nggak ada lipstik. Cuma pelembap bibir. Nggak ada riasan mata. Cuma maskara tipis yang Tasya paksa aku pakai, biar matanya nggak kelihatan kayak habis nangis seminggu, Bu, walaupun memang iya.

Perempuan di cermin itu terlihat lebih muda. Lebih lembut. Lebih takut.

“Tas,” kataku. “Kalau dia nggak mau ngomong sama aku?”

Tasya menatapku dari cermin.

“Kalau dia tanya kenapa aku nggak datang lima tahun, dan aku nggak bisa jawab?”

Tasya diam lama. Lalu dia berjalan ke arahku, berdiri di belakangku, dan membetulkan kepanganku yang sebenarnya nggak perlu dibetulkan.

“Bu,” katanya. “Dulu waktu saya SD, bapak saya kerja di Malaysia tiga tahun. Nggak pulang sama sekali. Waktu dia pulang, saya marah. Saya nggak mau ngomong sama dia dua minggu.” Dia tersenyum kecil. “Tahu nggak, Bu, kenapa akhirnya saya mau ngomong lagi?”

“Kenapa?”

“Karena dia nggak pergi lagi. Dua minggu saya diemin, dua minggu dia tetap di rumah. Tiap pagi dia antar saya sekolah, walaupun saya nggak ngomong. Tiap sore dia jemput. Terus hari kelima belas, saya lupa lagi marah. Terus saya ngomong.”

Dia menepuk bahuku.

“Ibu nggak perlu jawaban yang bagus, Bu. Ibu cuma perlu nggak pergi lagi.”


Jam sepuluh kurang lima, aku berdiri di depan pagar hitam di Jalan Wijaya.

Di tanganku, kantong kertas kecil. Aku nggak tahu apa yang harus kubawa. Mainan terasa seperti suap. Baju terasa seperti mencoba menebus. Kue terasa terlalu biasa.

Akhirnya aku membawa satu hal.

Pagar terbuka sebelum aku menekan bel.

Bi Imah berdiri di sana. Daster batik yang berbeda, bergambar burung merak. Kerudung hijau. Senyum yang lebar, lebih lebar dari yang pernah kulihat di wajahnya.

“Neng! Masuk, masuk. Wah, cantiknya. Kepang, ya? Bibi suka.”

“Pagi, Bu Imah.”

“Bibi aja. Panggil Bibi. Semua orang di rumah ini panggil Bibi.” Bi Imah menggandengku melewati halaman. Lalu dia merendahkan suaranya. “Dia gugup juga. Dari jam enam udah bangun. Ganti baju tiga kali.”

“Elea?”

“Bukan. Adrian.” Bi Imah tertawa kecil. “Elea ganti baju dua kali. Papanya tiga kali.”

Aku berhenti melangkah.

“Udah, jangan bilang Bibi yang cerita,” bisik Bi Imah, dan dia membuka pintu depan.

“Selamat datang di rumah,” kata pintu.

“Selamat pagi,” kataku ke pintu itu. Refleks. Nggak tahu kenapa.

Bi Imah menatapku dengan mata berbinar. “Tuh, kan. Kamu sopan. Pintunya suka kamu.”


Adrian berdiri di tengah ruang tengah.

Kemeja biru muda. Lengan digulung, memperlihatkan bekas jahitan di lengan kiri yang sudah memudar jadi garis merah muda. Celana panjang abu-abu. Kacamata. Rambut yang sedikit basah, seperti baru mandi.

Dia menatapku waktu aku masuk.

Matanya turun ke kepanganku. Berhenti di sana sedetik. Lalu naik lagi ke wajahku.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

“Elea di atas. Dia… dia minta waktu sebentar.”

“Nggak apa-apa.”

Kami berdiri di ruang tengah. Tiga meter. Seperti minggu lalu, waktu aku berlutut. Lantai kayu di antara kami. Di tempat yang persis sama.

Dia melihat ke lantai itu juga. Aku tahu dia ingat.

“Mau duduk?” tanyanya.

“Boleh.”

Aku duduk di ujung sofa. Dia duduk di kursi tunggal di seberang, bersandar dengan tangan terlipat di dada. Posisi yang dia pakai di setiap rapat. Posisi orang yang mengawasi.

Syarat baru. Aku ada di ruangan yang sama.

Dia nggak akan pergi ke mana-mana selama dua jam.


Langkah kaki di tangga.

Pelan. Satu anak tangga. Berhenti. Satu anak tangga lagi. Berhenti.

Aku menahan napas.

Elea muncul di ujung tangga.

Gaun kuning. Kaus kaki putih dengan renda. Rambut dikepang dua dengan pita kuning. Jepit kupu-kupu perak di atas telinga kanan. Mr. Snuggles dipeluk erat di dada, seperti perisai.

Dan di tangan kanannya, selembar kertas yang dilipat dua.

Dia berhenti di anak tangga terakhir. Menatapku.

Aku berdiri. Lalu aku sadar aku berdiri terlalu cepat, dan aku nggak tahu harus melakukan apa dengan tanganku, dan aku duduk lagi.

Elea menatapku dengan mata almond yang serius. Bukan mata yang berbinar seperti di lantai empat puluh. Bukan mata yang menangis seperti di dapur. Mata yang menilai. Seperti mata ayahnya di ruang rapat.

Dia berjalan ke tengah ruang tengah. Berdiri di antara sofa dan kursi tunggal. Di antara aku dan ayahnya.

Dia membuka kertas di tangannya.

“Elea punya peraturan,” katanya. Suaranya kecil tapi tegas.

Di kursi tunggal, Adrian menutup mulutnya dengan tangan. Bukan karena kaget. Aku tahu itu gerakan apa. Itu gerakan orang yang menahan tawa.

“Peraturan Main,” baca Elea dari kertasnya. Kertas HVS yang ditulis dengan pensil warna empat puluh delapan warna, setiap baris dengan warna yang berbeda. “Satu. Tante nggak boleh nangis. Kalau nangis, Elea pergi.”

“Oke,” kataku. Suaraku keluar serak.

“Dua. Tante nggak boleh peluk Elea. Kecuali Elea yang peluk duluan.”

“Oke.”

“Tiga. Tante harus jawab semua pertanyaan Elea. Yang jujur. Nggak boleh bohong. Papa udah bohong. Jadi Tante nggak boleh.”

Aku menatap Adrian. Dia menatap lantai.

“Oke,” kataku.

“Empat. Tante nggak boleh bilang Elea cantik terus-terusan. Semua orang bilang Elea cantik. Elea udah tahu.”

Bi Imah, dari ambang dapur, tertawa keras sekali dan langsung menutup mulutnya.

“Oke,” kataku, dan aku hampir tertawa juga.

“Lima. Elea panggil Tante. Bukan Mama. Belum.”

Sesuatu di dadaku mencengkeram.

“Oke,” bisikku.

“Enam. Tante nggak boleh ngomongin Papa jelek. Papa udah bohong, tapi Papa udah minta maaf.”

Adrian mengangkat kepala. Menatap anaknya.

“Tujuh,” lanjut Elea, nggak memperhatikan ayahnya. “Tante nggak boleh ke mana-mana selama dua jam. Kalau Tante mau ke toilet, bilang dulu.”

“Oke.”

“Delapan. Tante harus ikut main yang Elea mau.”

“Oke.”

“Sembilan. Tante harus makan bubur kacang hijau Nenek. Nenek bikin banyak. Nanti mubazir.”

“Oke.”

“Sepuluh.” Elea berhenti. Dia menatap kertasnya lama. Lalu dia menatapku. “Tante harus datang lagi minggu depan. Kalau Tante nggak datang, Elea nggak mau ketemu Tante lagi selamanya.”

Ruang tengah sunyi.

“Oke,” kataku. “Tante datang. Minggu depan. Dan minggu depannya lagi. Dan seterusnya. Sampai Elea bosan.”

Elea menatapku. Lama. Mencari sesuatu di wajahku.

“Sebelas,” katanya akhirnya. Lebih pelan.

“Sebelas?”

Elea melipat kertasnya. Dia nggak membaca nomor sebelas dari kertas. Dia mengucapkannya sendiri.

“Sebelas. Tante nggak boleh pergi lagi.”


Aku nggak menangis.

Peraturan nomor satu. Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa asin. Aku menatap lampu di langit-langit. Aku mengedipkan mata cepat-cepat.

Aku nggak menangis.

“Oke,” kataku. Suaraku hampir nggak keluar. “Nomor sebelas. Tante janji.”

Elea mengangguk. Dia menyerahkan kertas itu padaku. “Tante tanda tangan.”

“Tanda tangan?”

“Kayak kontrak. Papa juga tanda tangan kontrak kalau kerja. Elea lihat.”

Aku menerima kertas itu. Aku membaliknya. Di bagian bawah, di bawah sebelas peraturan yang ditulis dengan pensil warna berbeda-beda, ada dua garis. Di bawah garis pertama, tulisan ELEA. Sudah ditandatangani, dengan nama yang ditulis besar-besar dan gambar bintang kecil di sampingnya.

Di bawah garis kedua, tulisan TANTE.

Aku membuka tasku. Montblanc hitam dengan ujung emas.

Aku menandatanganinya.

Waktu aku mengangkat kepala, Adrian sedang menatap pulpen itu. Lagi. Seperti di ruang rapat Hallworth. Tapi kali ini matanya nggak berpaling.


Dua jam itu adalah dua jam paling melelahkan dan paling indah dalam hidupku.

Elea ingin main masak-masakan. Aku nggak pernah main masak-masakan. Waktu kecil, aku main pura-pura jadi CEO dengan Papa, duduk di kursi kulitnya dan menandatangani kertas-kertas kosong. Aku nggak tahu cara memasak sup dari daun mangga dan kerikil.

“Tante, garamnya kebanyakan.”

“Ini… ini pasir, Elea.”

“Itu garam, Tante. Pura-pura. Tante nggak bisa pura-pura?”

“Tante… lagi belajar.”

Elea menatapku dengan wajah kasihan. Wajah yang sama yang dia berikan pada Bayu waktu Bayu kalah debat soal kucing dan anjing. Lalu dia mengambil sendok plastik dari tanganku dan menunjukkan cara mengaduk sup pura-pura dengan benar. Tiga kali. Searah jarum jam.

Aku menatap tangannya yang kecil, mengaduk mangkuk plastik berisi daun dan kerikil. Tiga kali. Searah jarum jam.

Persis seperti cara aku mengaduk kopi tubruk.

Aku nggak tahu dari mana dia belajar itu.

Lalu aku tahu. Adrian. Dia pasti melihat Adrian membuat kopi tubruk setiap pagi selama lima tahun. Dua sendok. Air mendidih. Tiga kali aduk. Searah jarum jam. Cara yang dulu kulakukan untuknya.

Dia mewarisi itu dari ayahnya. Yang mewarisinya dariku.

Aku menoleh ke kursi tunggal. Adrian masih duduk di sana, lengan terlipat, mengawasi. Tapi wajahnya nggak lagi seperti wajah di ruang rapat. Wajahnya lebih lembut. Matanya mengikuti tangan Elea yang mengaduk.

Dia tahu juga. Aku bisa melihat dia tahu.


Jam sebelas, Bi Imah menyajikan bubur kacang hijau di mangkuk-mangkuk keramik.

Peraturan nomor sembilan. Aku makan semangkuk penuh. Lalu Bi Imah menambahkan setengah mangkuk lagi tanpa bertanya. Aku makan itu juga.

“Kamu kurus,” kata Bi Imah, untuk ketiga kalinya.

Elea duduk di kursi tinggi di seberangku. Dia makan buburnya sendok demi sendok, dan di antara setiap sendok, dia menatapku.

Lalu dia bertanya.

“Tante, kenapa Tante nggak datang?”

Sendok di tanganku berhenti.

Peraturan nomor tiga. Tante harus jawab semua pertanyaan Elea. Yang jujur.

Aku menatap Adrian. Dia nggak bergerak dari kursinya di ujung meja. Dia cuma menatapku, dengan mata yang bilang: Jangan bohong. Dia udah cukup dibohongin.

Aku meletakkan sendok.

“Karena Tante takut,” kataku.

Elea menatapku.

“Waktu Elea masih bayi, Tante sakit. Sakit di sini.” Aku menyentuh dadaku. “Tante sedih terus. Takut terus. Tante nggak bisa tidur. Dan waktu Tante lihat Elea, Tante… Tante takut nggak bisa jadi Mama yang baik. Jadi Tante bilang hal-hal yang salah. Tante bilang Papa harus bawa Elea pergi.”

“Terus?”

“Terus Tante sembuh. Pelan-pelan. Tapi waktu Tante udah sembuh, Tante… Tante tetap takut. Takut Elea marah. Takut Elea benci Tante. Takut kalau Tante datang, Elea nggak mau lihat Tante. Jadi Tante nggak datang. Lama. Lama sekali.”

Elea menatapku. Bibirnya mengerucut.

“Itu alasan jelek,” katanya.

“Iya,” kataku. “Itu alasan jelek.”

“Elea juga takut sama petir. Tapi Elea nggak lari. Elea panggil Papa.”

“Iya, Sayang. Elea lebih berani dari Tante.”

Elea menatapku lama. Lalu dia kembali makan buburnya.

“Elea masih marah,” katanya, dengan mulut penuh kacang hijau.

“Tante ngerti.”

“Tapi Tante jawab jujur. Jadi Elea nggak marah tambah.”

Dia menelan buburnya. Lalu dia bertanya pertanyaan lain. Dan lain. Dan lain. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah disimpan anak lima tahun di kepala kecilnya selama tiga tahun.

Tante suka warna apa?

Putih. Dan kuning, mulai sekarang.

Tante bisa nyanyi?

Nggak. Suara Tante jelek.

Lebih jelek dari Papa?

…Mungkin sama jeleknya.

Tante dulu kecil kayak Elea?

Iya. Tante punya foto. Nanti Tante tunjukin. Tante dulu dikepang dua juga. Pakai pita merah.

Tante dulu suka gambar?

Tante dulu suka bikin kupu-kupu dari kertas.

Elea berhenti makan. Matanya membulat.

“Kupu-kupu?”

“Iya.”

“Kayak di kelas Elea? Ms. Ratih juga suka bikin kupu-kupu kertas!”

Aku mengambil kantong kertas kecil yang kubawa dari bawah kursiku. Kantong yang sejak tadi kuletakkan di lantai karena aku nggak tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikannya.

Aku mengeluarkan isinya dan meletakkannya di meja di depan Elea.

Selembar foto. Foto yang kuambil dari album tahun 2001 di ruang kerja Papa, satu-satunya yang kuambil dari rumah Menteng malam itu, dan yang kucetak ulang di toko foto kemarin.

Anak perempuan berumur lima tahun, berdiri di depan pohon kamboja, dengan gaun kuning dan rambut dikepang dua dengan pita merah. Mengangkat kupu-kupu kertas ke arah kamera. Senyum lebar dengan satu gigi depan yang hilang.

Dan di bawah mata kirinya, titik gelap kecil.

Elea menatap foto itu.

Lalu dia menatapku.

Lalu dia menatap foto itu lagi.

“Ini Tante?”

“Iya. Waktu umur lima tahun. Kayak Elea sekarang.”

Elea meletakkan sendoknya. Dia mengambil foto itu dengan dua tangan, hati-hati. Dia menatapnya dari dekat. Sangat dekat. Hidungnya hampir menyentuh kertas foto.

“Tante punya ini,” bisiknya. Dia menunjuk titik gelap di bawah mata kiri anak di foto itu. “Kayak Elea.”

“Iya.”

“Mukanya…” Elea menatap foto itu lama. “Mukanya kayak Elea.”

“Iya, Sayang.”

Elea diam lama.

Lalu dia turun dari kursi tinggi. Dengan foto di satu tangan. Dia berjalan mengitari meja. Ke arahku.

Peraturan nomor dua. Tante nggak boleh peluk Elea. Kecuali Elea yang peluk duluan.

Dia berhenti di samping kursiku.

Dia menatapku. Lalu dia mengangkat foto itu, membandingkannya dengan wajahku. Foto. Wajah. Foto. Wajah.

“Elea mau gambar Tante lagi,” katanya. “Pakai pensil warna empat puluh delapan. Yang dari Tante.”

Dia tahu. Adrian sudah memberitahunya.

“Boleh,” bisikku.

“Tapi Tante diam. Jangan gerak. Biar mukanya bener.”

“Oke.”

Dia berlari ke kamarnya mengambil pensil warna.


Aku duduk diam di kursi meja makan selama empat puluh menit.

Elea duduk di kursi di depanku dengan buku gambar dan kotak pensil warna empat puluh delapan warna terbuka. Dia menggambar dengan dahi berkerut dan lidah sedikit menjulur di sudut mulut. Sesekali dia mengangkat kepala, menatapku lama, lalu kembali menggambar.

Aku nggak bergerak. Aku nggak berani bergerak.

Adrian sudah pindah dari kursi tunggal di ruang tengah. Dia sekarang berdiri bersandar di ambang dapur, dengan lengan terlipat. Mengawasi. Tapi aku melihat dia nggak mengawasiku. Dia mengawasi Elea. Dengan wajah yang… yang nggak bisa kubaca. Wajah orang yang melihat sesuatu yang sudah lama dia tunggu dan sudah lama dia takuti.

Di menit ketiga puluh, aku melihatnya mengusap matanya dengan ibu jari. Cepat. Pura-pura membetulkan kacamata.

Aku pura-pura nggak melihat.

Di menit keempat puluh, Elea meletakkan pensilnya.

“Udah,” katanya.

Dia nggak menunjukkan gambarnya. Dia menutup buku gambarnya dan memeluknya ke dada.

“Elea nggak kasih lihat Tante sekarang,” katanya. “Nanti.”

“Oke.”

“Kalau Tante udah datang lima kali.”

“Oke.”

Elea menatapku lama. Lalu dia melirik jam dinding di dapur. Jam dua belas kurang lima menit.

“Dua jamnya udah mau habis,” katanya.

“Iya.”

Elea diam. Dia menatap buku gambarnya. Menatapku. Menatap ayahnya di ambang dapur.

Lalu dia melakukan sesuatu yang nggak ada di sebelas peraturannya.

Dia memelukku.

Cepat. Kencang. Tangan kecil yang melingkar di leherku. Wajah yang terbenam di bahuku, di tempat kepanganku menjuntai. Satu detik. Dua detik.

Peraturan nomor dua. Kecuali Elea yang peluk duluan.

Aku nggak membalas pelukannya. Aku nggak berani. Tanganku melayang di udara. Satu senti dari punggung kecilnya.

Lalu Elea berbisik di telingaku:

“Tante boleh peluk balik. Sekali.”

Tanganku turun.

Aku memeluknya. Sekali. Pelan. Hati-hati. Seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah.

Dan aku nggak menangis.

Peraturan nomor satu. Aku nggak menangis. Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai berdarah, dan aku nggak menangis.

Elea melepaskanku. Dia mundur selangkah. Menatapku dengan wajah serius.

“Tante nggak nangis,” katanya, setengah heran.

“Peraturan nomor satu,” kataku. Suaraku hampir nggak ada.

Elea menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya pagi itu, dia tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang sedikit bengkok di sudut kiri.

Senyumku.

“Tante lulus,” katanya.

Lalu dia berlari ke atas dengan buku gambarnya, berteriak “NENEK! TANTE LULUS!” dengan suara yang bisa membangunkan seluruh Kebayoran.


Adrian mengantarku ke pagar.

Kami berjalan menyeberangi halaman tanpa bicara. Melewati pot-pot bunga. Melewati pohon mangga dan ayunan ban bekas.

Di pagar, aku berhenti. Aku berbalik.

“Terima kasih,” kataku.

Dia mengangguk.

Dia berdiri satu meter dariku. Jarak yang sama. Selalu satu meter. Tapi hari ini nggak ada jeruji pagar di antara kami.

Aku melihat lengan kirinya. Bekas jahitan yang memudar jadi garis merah muda, dari siku sampai pergelangan. Di dekat siku, ada bagian yang lebih merah, lebih baru. Jahitan ulang dari fan meeting.

Tanganku bergerak sebelum aku sempat berpikir.

Ujung jariku menyentuh lengan kirinya. Di bawah siku. Di garis merah muda itu. Pelan. Sangat pelan.

Dia membeku.

Aku menelusurkan jariku sepanjang bekas jahitan itu. Dari siku. Turun. Pelan. Merasakan kulit yang sedikit menonjol di sepanjang garis itu. Sampai ke pergelangan tangannya.

Aku berhenti di sana. Di pergelangan tangannya. Di tempat nadinya berdenyut.

Cepat. Sangat cepat.

“Masih sakit?” tanyaku pelan.

Dia nggak menjawab. Dia menatap tanganku di pergelangan tangannya.

“Bekas lukanya,” kataku. “Yang dari Kemayoran. Aku pengin lihat lebih jelas. Kapan-kapan.”

Dia mengangkat kepala. Menatapku.

Dan aku melihat lehernya. Di atas kerah kemeja biru muda. Merah. Pelan-pelan menyebar dari bawah telinga.

Lima tahun. Dan lehernya masih gampang merah.

Aku melepaskan tanganku. Mundur satu langkah.

“Sabtu depan,” kataku. “Jam sepuluh.”

“Jam sepuluh,” katanya. Suaranya serak.

Aku berbalik dan berjalan ke mobilku.

Aku nggak menoleh. Aku nggak perlu. Aku tahu dia masih berdiri di pagar. Aku tahu lehernya masih merah.

Di mobil, aku menyalakan mesin. Lalu aku mematikannya lagi.

Aku menatap tanganku. Ujung jari yang tadi menyentuh bekas lukanya. Masih terasa hangat.

Lalu, akhirnya, setelah dua jam menahan, setelah menggigit pipi sampai berdarah, setelah peraturan nomor satu, aku menangis.

Di mobil. Sendirian. Dengan kepala bersandar di setir.

Bukan karena sedih.

Karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa seperti seorang ibu.

Dan karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa seperti seorang perempuan yang jatuh cinta.

Lagi.

Pada laki-laki yang sama.

Dan kali ini, lebih dalam.