← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Nine

Mengantar ke Parkiran

POV: Hari

Rabu malam, pukul sepuluh lewat tiga, setelah tamu terakhir pulang dan Dimas selesai mengepel lantai dapur dengan kecepatan yang mencurigakan, Tamara mengetuk pintu hijau di belakang restoran.

Ia membawa plester bergambar kucing oranye di jari telunjuknya. Plester baru. Ia membelinya sendiri.

“Dimas nggak bilang beli di mana,” katanya, mengangkat jarinya di depan wajahku. “Jadi Sasha keliling tiga apotek di Kuningan.”

“Kenapa harus yang kucing?”

“Karena yang pertama kucing.” Ia melewatiku masuk ke dapur. “Aku orang yang konsisten, Chef.”


Les kedua: telur dadar.

Ia memecahkan telur dengan kekuatan orang yang memecahkan kaca jendela. Kuning telurnya pecah, cangkangnya masuk ke mangkuk dalam tiga potongan. Aku mengambil cangkang-cangkang itu satu per satu dengan ujung sendok tanpa komentar. Ia memperhatikanku melakukannya dengan dagu bertopang di tangan.

“Kamu sabar banget,” katanya.

“Saya ngajarin Dimas tiga tahun. Ini belum seberapa.”

“Dimas mecahin telur kayak aku?”

“Dimas mecahin telur ke lantai.”

Ia tertawa. Ia selalu tertawa dengan kepala sedikit terdongak, satu tangan menutupi mulut, seolah tawanya adalah sesuatu yang harus disembunyikan dari dunia. Aku mulai menghitung berapa kali aku membuatnya tertawa. Malam itu, empat.

Telur dadarnya gosong di satu sisi dan mentah di sisi lain. Ia memakannya dengan bangga, langsung dari wajan, dengan garpu.

“Enak,” katanya.

“Itu gosong.”

“Gosongnya enak. Rasa karbon. Sangat artisanal.”

Aku mengantarnya sampai ke mobil malam itu. Bukan sampai pintu, seperti malam-malam sebelumnya. Sampai ke mobil, di parkiran kecil di samping gedung, karena lampu jalan di sana mati dan aku tidak suka membayangkan ia berjalan sendiri di gang gelap, bahkan hanya dua puluh meter.

Ia tidak berkomentar soal itu. Tapi waktu ia masuk ke mobil, ia menatapku dari balik jendela yang setengah terbuka dan tersenyum seperti orang yang mencatat sesuatu untuk dibahas nanti.


Les ketiga: sambal.

Senin berikutnya, pukul tujuh. Ia datang dengan rambut yang sudah diikat dari rumah, kaus abu-abu, dan bibir merah. Aku sudah berhenti bertanya kenapa ia memakai lipstik ke les masak. Atau lebih tepatnya, aku belum pernah bertanya, dan aku sudah berhenti berpura-pura tidak memikirkannya.

Aku mengajarinya mengulek. Cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat yang sudah digoreng sebentar, terasi bakar, garam, gula merah.

“Ulekannya jangan ditekan ke bawah. Diputar. Dari pergelangan, bukan dari bahu.”

Ia memutar. Terlalu cepat. Cabai terciprat ke pipinya. Ia memekik kecil dan mengusap pipinya dengan punggung tangan, dan cabai itu tersebar ke dekat matanya.

“Jangan diusap—”

Terlambat. Matanya memerah, berair. Ia berdiri dengan mata terpejam, satu tangan melambai-lambai di depan wajah, mengumpat pelan dalam bahasa Inggris.

Aku membasahi kain bersih dengan air dingin, mengangkat dagunya dengan dua jari, dan mengusap pipinya perlahan. Dari dagu, ke tulang pipi, ke sudut mata. Hati-hati, seperti membersihkan noda dari piring porselen tua.

Ia diam. Napasnya pelan.

Ketika aku selesai dan ia membuka mata, matanya masih sedikit merah dan basah, dan bulu matanya basah, dan ia menatapku dari jarak yang terlalu dekat untuk seorang guru dan murid.

“Kamu lupa satu,” katanya.

“Di mana?”

Ia menyentuh sudut bibirnya sendiri. Bibir bawah. Di sana, di dekat garis lipstik merah yang sedikit luntur, ada titik merah yang lebih terang. Cabai.

Aku menatap titik itu.

Aku menatapnya terlalu lama.

Lalu aku menyerahkan kain basah itu ke tangannya. “Silakan.”

Ia mengambil kain itu, mengusap bibirnya sendiri dengan sangat perlahan, tanpa melepaskan mataku sedetik pun. “Pengecut,” bisiknya.

“Profesional,” jawabku.

“Sama aja.”

Aku kembali ke cobek. Telingaku panas. Aku menyalahkan cabai.


Les keempat: sayur lodeh.

Kami memasaknya bersama dari awal sampai akhir. Untuk pertama kalinya ia tidak membakar apa pun. Ia memotong labu siam dengan ruas jari menekuk, persis seperti yang kuajarkan. Ia menumis bumbu sampai harum tanpa mengangkat telepon. Ia menuang santan perlahan sambil mengaduk supaya tidak pecah, dengan wajah serius seperti sedang membaca kontrak senilai triliunan.

Waktu sayur lodeh itu matang dan ia mencicipinya dari sendok kayu, matanya melebar.

“Ini enak.”

“Iya.”

“Ini aku yang masak.”

“Iya.”

“Aku masak sesuatu yang enak.” Ia menatap panci itu seperti menatap anak yang baru lahir. Lalu ia mengambil sendok lagi, menyendok kuah, meniupnya perlahan, dan mengulurkannya ke arahku. “Coba.”

Aku menatap sendok itu. Lalu menatapnya.

Ia menunggu. Sendok di udara. Bibirnya yang merah sedikit mengerucut karena baru saja meniup.

Aku membungkuk sedikit dan mencicipi dari sendok yang ia pegang.

Santannya pas. Gurihnya pas. Pedasnya sedikit kurang, tapi aku tidak akan bilang. Aku menegakkan badan dan menelan, dan ia menatapku dengan wajah yang sangat serius, menunggu penilaian.

“Garamnya kurang sedikit,” kataku.

“Hanya itu?”

“Hanya itu.”

Ia tersenyum lebar, senyum yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih muda, dan menyendok lagi untuk dirinya sendiri. Dengan sendok yang sama.

Aku memalingkan muka ke arah bak cuci dan mencuci panci yang tidak kotor.


Setiap malam setelah les, aku mengantarnya ke parkiran. Dua puluh meter dari pintu hijau ke mobil sedan hitamnya. Dua puluh meter yang aku tempuh dengan langkah sepelan mungkin, karena aku mulai menyadari, dengan rasa malu yang semakin sulit diabaikan, bahwa dua puluh meter itu adalah bagian favoritku dari minggu itu.

Kami tidak banyak bicara selama dua puluh meter itu. Kadang ia bercerita tentang rapat yang membosankan. Kadang aku bercerita tentang pemasok cabai yang curang. Kadang kami tidak bicara sama sekali, hanya berjalan, bahunya sesekali menyentuh lenganku.

Malam setelah les sayur lodeh, ia tiba-tiba bertanya: “Kamu belajar masak dari siapa?”

“Dari warung.”

“Warung mana?”

“Warung tenda di dekat Stasiun Tebet. Mi rebus, nasi goreng, capcay. Saya cuci piring di sana dari umur empat belas.”

Ia berhenti berjalan. “Empat belas?”

“Pemiliknya Pak Darto. Dia yang ngajarin pegang wajan.” Aku tidak tahu kenapa aku menceritakan ini. Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun selain Mona. “Kadang kalau ada mi rebus sisa yang nggak kebeli, Pak Darto kasih ke saya. Satu bungkus. Saya bawa pulang ke kontrakan.”

Aku ingat malam-malam itu. Kontrakan kami di gang sempit Tebet, satu kamar, satu kasur, satu kompor minyak tanah. Kami tidak makan di dalam karena kamarnya terlalu panas. Kami naik tangga besi berkarat ke atap, duduk di atas tumpukan genteng bekas, dan berbagi mi rebus dari satu mangkuk dengan dua sendok. Mona selalu menyisakan telurnya untukku. Aku selalu pura-pura tidak suka telur supaya ia makan.

Mona kecil, dengan kaus kebesaran dan rambut yang dikepang dua sendiri dengan miring, menatap lampu-lampu kota dari atap dan bertanya, Kak, nanti kalau kita gede, kita punya rumah sendiri, nggak?

Dan aku menjawab, Punya. Kakak janji.

“Kamu bawa pulang ke siapa?” tanya Tamara pelan.

Aku kembali ke parkiran. Ke malam Senopati. Ke perempuan yang berdiri di depanku dengan wajah yang tidak lagi menggoda, hanya mendengarkan.

“Ke Mona,” kataku.

Ia diam. Ia tidak mengatakan apa pun seperti kasihan, atau pasti berat, atau hal-hal yang biasa dikatakan orang ketika mendengar cerita semacam itu. Ia hanya menatapku, dan ada sesuatu di matanya yang membuatku merasa ia tidak mengasihaniku, tapi menghormatiku.

Lalu ia melangkah mendekat, mengangkat tangan, dan merapikan kerah kausku yang terlipat. Lagi. Seperti di malam ia menulis surat di serbet. Kali ini jarinya tidak langsung pergi. Kali ini jarinya menyusuri kerah itu perlahan, dari tengkuk, ke samping leher, ke tulang selangka, dan berhenti di sana, di atas kaus, di atas jantungku.

“Kamu tahu,” bisiknya, “aku belum pernah ketemu laki-laki yang ceritanya bikin aku pengin meluk dia, bukan pengin ngaudit dia.”

Ia mendongak. Wajahnya tinggal sejengkal dari wajahku. Aku bisa mencium lipstiknya, yang ternyata berbau seperti vanila. Matanya yang madu menatap bibirku, lalu mataku, lalu bibirku lagi.

Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak.

Ia mendekat. Satu sentimeter. Dua. Napasnya menyentuh daguku. Ujung hidungnya hampir menyentuh hidungku.

Lalu ia berhenti.

Ia berhenti di sana, di jarak yang lebih tipis dari selembar daun pisang, dan tersenyum. Aku merasakan senyumnya lebih dari aku melihatnya.

“Belum,” bisiknya.

Ia mundur. Satu langkah. Dua. Tangannya meninggalkan dadaku.

“Aku sudah ngejar kamu tiga minggu, Matahari.” Ia membuka pintu mobilnya. “Langkah yang terakhir, kamu yang harus maju.”

Ia masuk. Pintu menutup. Mobil itu menyala.

Aku berdiri di parkiran yang gelap dengan jantung yang berdetak seperti cobek yang diulek terlalu keras, dan baru sadar aku sudah menahan napas sejak ia menyentuh kerahku.

Lalu jendela belakang mobil itu turun perlahan.

Sasha duduk di jok belakang dengan tablet di pangkuan dan wajah yang sangat, sangat merah. Ia melambaikan tangan dengan canggung.

“Selamat malam, Chef,” katanya pelan. “Saya dari tadi di sini. Maaf. Bu Tamara bilang saya nggak boleh turun.”

Dari kursi depan, aku mendengar suara Tamara: “Sasha, tutup jendelanya.”

“Siap, Bu.” Jendela itu naik lagi. Sebelum tertutup penuh, aku mendengar Sasha berbisik, sangat jelas di malam yang sunyi: “Bu, itu tadi hampir.”

Mobil itu pergi.


Les kelima, Rabu berikutnya. Ia datang pukul sepuluh lewat dua, dengan blus sutra hijau zamrud yang ia pakai di malam rawon, rambut tergerai, dan lipstik merah yang tampak baru saja diaplikasikan di mobil.

Kami memasak soto. Ia sudah bisa mengiris tanpa melukai diri sendiri. Ia sudah bisa menumis tanpa membakar. Ia sudah bisa mencicipi kuah dan berkata garamnya kurang sebelum aku sempat mengatakannya.

Tapi ada yang berbeda malam itu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan parkiran. Jari di kerahku. Langkah yang terakhir, kamu yang harus maju.

Dan setiap kali aku melirik ke arahnya, ia sedang melirik ke arahku. Lalu salah satu dari kami memalingkan muka. Lalu melirik lagi. Seperti dua orang yang bermain catur tanpa papan.

Pukul sebelas kurang sepuluh, ketika ia sedang membungkuk di atas panci untuk menghirup aroma kaldu, aku mendengar diriku berkata:

“Kamu selalu pakai lipstik merah ke kelas masak.”

Ia menegakkan badan perlahan. Menoleh.

“Iya.”

Aku meletakkan pisau. Aku menatapnya. Aku sudah memikirkan kalimat ini sejak les ketiga, sejak titik cabai di sudut bibirnya, dan aku memutuskan bahwa kalau aku tidak mengatakannya sekarang, aku tidak akan pernah mengatakannya.

“Kamu mau masak,” tanyaku pelan, “atau mau bikin saya nggak fokus?”

Tamara Morgan, perempuan yang menutup Seri C dalam empat bulan, yang membuat CEO perusahaan logistik mengakui utang tersembunyi tiga ratus miliar, yang menulis surat di serbet dan mengulum sambal di depan Oma Lies tanpa berkedip, berdiri di depan panci soto dengan sendok kayu di tangan, dan membeku.

Sepenuhnya membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya melebar. Sendok kayunya berhenti di udara, meneteskan kuah ke lantai.

Satu detik. Tiga detik. Lima.

Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan kebekuannya. Aku tidak pernah melihatnya kehilangan kata-kata. Jadi aku mengambil sendok kayu itu dari tangannya, perlahan, dan meletakkannya di atas panci.

“Kuahnya netes,” kataku.

Ia berkedip. Sekali. Dua kali.

Lalu ia tersenyum. Perlahan. Senyum yang mulai di sudut bibirnya, naik ke pipinya, sampai ke matanya. Senyum yang lebih berbahaya dari api di bawah wajan mana pun.

“Akhirnya,” bisiknya.

“Akhirnya apa?”

“Akhirnya kamu yang mulai.” Ia melangkah mendekat. Aku tidak mundur. “Jawaban pertanyaanmu, Chef: dua-duanya.”

“Dua-duanya?”

“Aku mau masak,” ia berhenti tepat di depanku, cukup dekat sehingga aku bisa melihat garis halus lipstiknya, “dan aku mau bikin kamu nggak fokus.” Ia mengulurkan tangan dan mengambil lap dari bahuku, lap yang kugantung di sana setiap kali masak, dan menyampirkannya ke bahunya sendiri. “Dan sepertinya dua-duanya berhasil.”


Malam itu aku mengantarnya ke parkiran lagi. Dua puluh meter. Kali ini aku berjalan lebih pelan dari biasanya, dan ia tidak protes.

Di mobil, sebelum ia masuk, ia berbalik. Ia tidak merapikan kerahku. Ia tidak mendekat. Ia hanya menatapku dengan senyum kecil.

“Langkah terakhir,” katanya. “Masih ingat?”

“Ingat.”

“Kamu sudah maju satu langkah malam ini.”

“Itu bukan langkah. Itu kalimat.”

“Untuk laki-laki yang menolak wawancara majalah tiga kali,” katanya, membuka pintu mobil, “kalimat itu langkah raksasa.”

Ia masuk. Kali ini tidak ada Sasha di jok belakang. Aku memeriksa. Ia melihatku memeriksa, dan tertawa sampai mobilnya keluar dari parkiran.

Aku pulang pukul dua belas kurang seperempat.

Lampu ruang tengah masih menyala. Mona duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, tapi layarnya sudah gelap karena mode tidur. Ia tidak sedang bekerja. Ia sedang menunggu.

“Kakak pulang,” kataku.

“Hm.”

Akhir-akhir ini Mona lebih pendiam. Ia masih menyiapkan bekalku setiap pagi. Ia masih mengirim pesan Kak, makan? setiap jam delapan malam. Ia masih mengomel soal handuk basah yang kugantung di kursi. Tapi ada yang hilang dari omelannya. Seperti sambal yang terasinya lupa dibakar.

Ia tidak bertanya soal les. Sejak malam ia mengawasi dari mobil di bawah pohon angsana, Mona tidak pernah bertanya soal les sekali pun.

“Mon.”

“Hm.”

“Kamu udah makan?”

Ia menoleh. Matanya sedikit merah. Mungkin karena layar laptop. Mungkin karena hal lain.

“Udah, Kak.”

“Bohong.”

Ia tersenyum kecil. “Kakak juga sering bohong soal itu.”

Aku pergi ke dapur. Aku membuat mi rebus. Satu bungkus, dengan telur, dengan sawi dan irisan cabai. Aku menuangkannya ke satu mangkuk besar dan membawa dua sendok.

Aku duduk di sebelahnya di sofa, meletakkan mangkuk itu di antara kami, dan menyerahkan satu sendok kepadanya.

Mona menatap mangkuk itu lama sekali.

Lalu ia mengambil sendoknya. Kami makan dalam diam, seperti dulu, di atap kontrakan di Tebet, kecuali sekarang tidak ada atap dan tidak ada lampu kota dan tidak ada tumpukan genteng bekas. Hanya sofa, televisi yang mati, dan apartemen dua kamar yang kami beli bersama tiga tahun lalu.

Mona menyisihkan telurnya ke sisi mangkukku. Seperti dulu.

Aku menyisihkannya kembali ke sisinya. Seperti dulu.

Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu ia tertawa kecil, dan lesung pipinya muncul, dan ia memakan telur itu.

Aku tidak menceritakan soal parkiran. Soal kerah. Soal jarak setipis daun pisang.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku menyimpan sesuatu dari adikku. Dan aku tidak tahu apakah itu artinya aku mulai tumbuh, atau mulai pergi.