Chapter Three
Kursi Nomor Satu
POV: Hari
Kluwek harus direndam dua hari sebelum boleh dimasak.
Kalau tidak, ia beracun. Biji pohon kepayang mengandung asam sianida. Orang-orang tua kita menemukan cara membuatnya aman lewat waktu: direndam, dikubur dalam abu, difermentasi, ditunggu. Setelah itu biji yang bisa membunuh orang berubah menjadi warna hitam paling dalam di semangkuk rawon, rasa gurih yang tidak bisa ditiru bumbu apa pun.
Aku suka kluwek karena itu. Ia mengajarkan satu hal yang tidak pernah diajarkan sekolah mana pun: hal-hal yang berbahaya kadang hanya butuh waktu dan orang yang sabar.
Selasa sore, pukul empat, aku sedang memecahkan kluwek satu per satu dengan punggung pisau di meja persiapan Sekar Kedhaton ketika Bu Ratih masuk ke dapur dengan buku reservasi di tangan dan wajah orang yang baru memenangkan arisan tiga kali berturut-turut.
“Chef.”
“Bu.”
“Chef’s table besok malam.”
“Kenapa, Bu?”
“Satu orang.”
Aku berhenti. Chef’s table Sekar Kedhaton punya delapan kursi yang menghadap langsung ke dapur terbuka. Orang biasanya datang berempat, berenam, atau memesan semua untuk ulang tahun atau lamaran. Satu orang jarang. Satu orang biasanya berarti satu dari dua hal.
“Kritikus,” kata Dimas dari depan kompor sebelah, tanpa diminta, sambil mengaduk kaldu sapi yang sudah ia jaga sejak pagi. Dimas adalah sous chef-ku, dua puluh tujuh tahun, berbakat, rajin, dan mulutnya tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari tiga menit. “Pasti dari Michelin, Chef.”
“Michelin belum masuk Jakarta.”
“Makanya diam-diam.”
“Itu bukan cara kerja Michelin, Dim.”
“Chef nggak tahu. Bisa aja mereka berubah. Mereka Prancis, Chef.” Ia mengatakan Prancis seperti mengatakan dukun.
Bu Ratih mengabaikan Dimas dengan keahlian dua puluh tahun bekerja di dunia restoran. Ia adalah maître d’ Sekar Kedhaton, lima puluh empat tahun, rambut disanggul rapi, kebaya kutubaru yang setiap hari berbeda warna, dan kepala yang menyimpan nama, alergi, ulang tahun, dan aib setiap tamu tetap restoran ini. Ia membuka buku reservasi di depanku seperti membuka kitab suci.
“Atas nama T. Morgan,” katanya, menunjuk tulisan tangan di halaman itu. “Perempuan. Asistennya yang telepon. Minta kursi nomor satu, yang paling dekat dapur. Terus—” Bu Ratih merendahkan suaranya, meski tidak ada siapa pun di dapur selain kami bertiga dan seekor kucing yang selalu menunggu di pintu belakang. “—asistennya nanya, Chef Matahari yang masak, kan?”
Aku meletakkan pisau.
T. Morgan.
Sabtu malam, di pesta kantor Mona, perempuan dengan lipstik merah itu menyebut namaku yang lengkap seperti ia sedang mencicipi sesuatu. Aku lebih suka yang lengkap. Mona menyebutnya Bu Tamara. Aku tidak tahu nama belakangnya.
Tapi berapa banyak perempuan yang memesan chef’s table sendirian, meminta kursi paling dekat dapur, dan menanyakan namaku yang lengkap?
“Chef?” Bu Ratih memiringkan kepala. “Chef kenal?”
“Belum tentu.”
“Chef mukanya merah.”
“Kompor, Bu.”
“Chef dari tadi motong kluwek, bukan di depan kompor.”
Dimas berhenti mengaduk kaldu. Ia menatapku. Bu Ratih menatapku. Kucing di pintu belakang juga menatapku, meski kucing itu memang selalu menatap semua orang.
“Ya Allah,” bisik Bu Ratih, dengan nada yang biasanya dipakai orang saat melihat hilal. “Ada perempuan.”
“Bu, bukan begitu—”
“Lima tahun aku kerja sama Chef. Lima tahun aku nyariin jodoh buat Chef. Anak temen arisanku, keponakan Pak Gunawan, guru les piano anakku, tetangga sebelah yang jualan kue lumpur. Lima tahun, Chef. Semua gagal.”
“Itu karena Ibu nggak pernah nanya saya mau atau nggak.”
“Itu karena adikmu,” kata Bu Ratih tajam. “Guru les piano itu sudah mau, Chef. Sudah mau. Terus adikmu dateng ke sini, duduk di bar, ngobrol sama dia lima belas menit soal—apa itu? Efisiensi rantai pasok sayur organik—terus besoknya guru les piano itu pindah ke Balikpapan.”
“Itu kebetulan, Bu.”
“Kebetulan yang kesembilan.”
Dimas mengangguk-angguk dengan serius di belakangnya. “Kesembilan, Chef. Aku yang hitung.”
Aku mengambil pisau lagi dan kembali ke kluwek. Kadang diam adalah satu-satunya bumbu yang tidak bisa salah takar.
Sejujurnya, Bu Ratih tidak sepenuhnya salah.
Mona memang punya bakat istimewa membuat perempuan menghilang dari sekitarku. Aku tahu itu sejak SMA, sejak tetangga kontrakan yang suka menitipkan tempe goreng untukku tiba-tiba berhenti menitipkan apa pun setelah Mona mengajaknya ngobrol di warung. Aku tidak pernah tahu apa yang Mona katakan kepada mereka, dan aku tidak pernah bertanya. Sebagian karena aku tidak mau tahu. Sebagian karena aku tidak pernah benar-benar keberatan.
Hidupku tidak pernah punya ruang untuk hal-hal seperti itu. Dari umur sepuluh tahun, hidupku hanya muat dua hal: memastikan Mona makan, memastikan Mona sekolah. Kalau ada perempuan yang datang, aku akan harus membagi sesuatu, dan aku tidak punya apa pun yang bisa dibagi.
Lalu Mona lulus. Lalu Mona kerja. Lalu Mona jadi Head of sesuatu yang aku tidak terlalu paham, dengan gaji yang aku pura-pura tidak tahu angkanya karena kalau aku tahu aku akan merasa tidak berguna lagi. Dan aku tetap tidak punya ruang, karena entah bagaimana, kebiasaan itu sudah menjadi bentuk hidupku sendiri.
Pagi tadi, sebelum aku berangkat, Mona menyiapkan bekalku seperti biasa. Nasi, tumis kangkung, telur dadar dengan irisan cabai, sambal di wadah terpisah karena ia tahu aku suka sambalnya ditambahkan belakangan. Ia selalu menyiapkan bekal itu, sejak ia bisa memegang pisau, meski aku chef dan aku bisa memasak sendiri. Katanya, Chef itu masak buat orang lain. Siapa yang masak buat chef?
Ia menutup kotak bekal itu, lalu bertanya tanpa menoleh.
“Kak, inget nggak cewek yang ngobrol sama kita di pesta? Bu Tamara. CFO.”
“Yang lipstik merah.”
Mona berhenti mengikat tas bekal. Ia menoleh perlahan dengan mata menyipit. “Kok inget lipstiknya?”
“Merah, Mon. Susah lupa.”
“Nggak semua orang inget warna lipstik orang.”
“Kakak inget warna sambal di piring tamu bulan lalu. Kakak inget semua warna.”
Ia menatapku seperti menatap vendor yang mengirim barang telat. Lalu ia menyerahkan bekalku dengan sedikit terlalu bertenaga.
“Pokoknya kalau ketemu lagi, Kakak pacarku.”
“Mon. Itu bohong.”
“Itu strategi.”
“Bohong yang dikasih nama strategi tetep bohong.”
“Kakak nggak ngerti dunia korporat.”
“Kakak ngerti dunia dapur. Di dapur, kalau kamu bohong soal bahan, orang keracunan.”
Ia mendengus, mencium pipiku cepat, dan pergi ke kantor. Itu bukan jawaban, dan aku tahu itu bukan jawaban.
Rabu malam. Pukul tujuh lewat lima.
Pintu depan Sekar Kedhaton terbuka, dan dari balik pass, dari dapur terbuka yang menghadap ke delapan kursi kayu jati, aku melihatnya masuk.
Ia memakai blus sutra putih dengan kancing teratas dibuka, celana panjang hitam yang membuat kakinya terlihat lebih panjang dari yang masuk akal, dan sepatu hak tinggi yang suaranya terdengar sampai ke dapur di atas lantai teraso. Rambut cokelatnya tergerai, bergelombang, sedikit berantakan di ujung seperti baru keluar dari mobil dengan jendela terbuka. Bibirnya merah. Matanya, dari jarak sejauh ini pun, punya warna yang aneh: bukan hitam, bukan cokelat, tapi sesuatu di antaranya, seperti madu yang dibiarkan di bawah lampu.
Ia cantik. Aku bukan orang yang pandai menggambarkan perempuan, tapi aku pandai menggambarkan rasa, jadi kalau harus kugambarkan dengan cara yang kutahu: ia cantik seperti cabai rawit yang baru dipetik. Kelihatan sederhana. Tapi kau tahu, sebelum menggigit, bahwa ia akan membuatmu lupa sedang makan apa.
Dan dapur, yang luasnya cukup untuk enam koki bergerak tanpa saling bertabrakan, mendadak terasa terlalu sempit.
Bu Ratih mengantarnya ke kursi nomor satu dengan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran profesional. Ia duduk, menyilangkan kaki, meletakkan tas kecilnya di kursi sebelah, lalu menatap ke dapur. Menatapku.
“Selamat malam, Chef Matahari.”
“Selamat malam, Bu.”
“Tamara.”
“Bu Tamara.”
Sudut bibirnya bergerak. Ia tidak mengoreksiku lagi, tapi aku punya perasaan ia sedang mencatat, dan bahwa catatan itu akan muncul lagi di masa depan.
Di belakangku, aku mendengar sesuatu yang renyah. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Dimas dan Bu Ratih yang entah bagaimana sudah berdiri di balik pintu ayun menuju ruang penyimpanan, berbagi satu toples kerupuk udang, menonton seperti sedang menonton sinetron jam tujuh malam.
Menu chef’s table malam itu ada tujuh hidangan.
Hidangan pertama: lemper mini dengan ayam kampung suwir yang diasap kayu jati, dibungkus daun pisang yang dibakar sebentar supaya harum. Aku meletakkannya di depannya dan menjelaskan seperti biasa: asal ayamnya, kayu yang dipakai mengasap, kenapa daunnya dibakar.
Ia mendengarkan dengan serius, menggigit, mengunyah perlahan. Lalu ia bertanya:
“Berapa food cost hidangan ini?”
Aku berkedip. “Maaf?”
“Persentase biaya bahan terhadap harga jual. Kamu tahu angkanya?”
Aku tahu angkanya. Aku menghitung angka itu setiap minggu bersama Pak Gunawan, pemilik restoran ini, di meja belakang dengan kalkulator yang tombol nolnya sudah macet. Tapi tidak pernah ada tamu yang bertanya.
“Dua puluh delapan persen,” jawabku.
“Industri rata-rata tiga puluh sampai tiga puluh lima. Kamu efisien.”
“Ayamnya dari kampung saya sendiri. Kenal peternaknya.”
“Relasi pemasok yang kuat. Bagus.” Ia menggigit lagi. “Ini juga enak, omong-omong. Aku lupa bilang.”
Hidangan kedua: soto Kudus versi bening dengan kaldu kerbau. Ia bertanya berapa jam kaldu itu dimasak. Dua belas. Ia bertanya siapa yang menjaganya semalaman. Dimas. Dari balik pintu, aku mendengar Dimas tersedak kerupuk karena namanya disebut.
Hidangan ketiga: rawon dengan iga wagyu yang dimasak perlahan dan kluwek yang kupecahkan kemarin sore. Ia menghirup uapnya lama sekali sebelum menyentuh sendok, dengan mata setengah terpejam, dan untuk sesaat, ekspresi wajahnya berubah. Lebih lunak. Lebih jauh. Seperti orang yang mencium bau sesuatu dari masa kecil yang ia kira sudah lupa.
Lalu ia membuka mata, dan ekspresi itu hilang, digantikan pertanyaan berikutnya.
“Berapa jam kamu tidur semalam?”
Aku sedang menata hidangan keempat. Tanganku berhenti.
“Itu,” kataku pelan, “bukan pertanyaan soal makanan, Bu.”
“Semua pertanyaan soal makanan pada akhirnya adalah pertanyaan soal orang yang memasaknya.” Ia memiringkan kepala. “Berapa jam?”
“Empat.”
“Kenapa?”
“Kluwek.”
Ia mengangkat alis. Aku tidak menjelaskan. Ia tidak memaksa. Tapi ia tersenyum, sedikit, seperti orang yang menemukan bahwa jawaban yang tidak lengkap kadang lebih menarik dari jawaban yang lengkap.
Ia bertanya hal-hal lain sepanjang malam. Margin per kursi. Berapa banyak tamu yang kembali. Siapa yang memilih menu, aku atau pemilik. Apakah aku pernah memasak di luar negeri. Apakah aku punya rencana membuka restoran sendiri.
Aku menjawab sebagian dan diam di sebagian lain. Ia mencatat semuanya dengan matanya.
Pada titik tertentu, sekitar hidangan kelima, aku sampai pada kesimpulan bahwa ia kritikus. Mungkin bukan Michelin, tapi sesuatu. Investor yang menyamar. Inspektur dari asosiasi. Penulis buku. Tidak ada orang biasa yang bertanya tentang food cost sambil makan rawon.
Kesimpulan itu membuatku sedikit lebih tenang. Kritikus aku bisa mengerti. Kritikus punya tujuan yang jelas.
Kesimpulan itu bertahan sampai hidangan keenam.
Hidangan keenam adalah gudeg nangka muda yang dimasak dua belas jam dengan daun jati, disajikan dengan krecek dan telur pindang. Aku sedang menuangkan areh santan di atasnya ketika ia berkata, dengan nada santai seperti mengomentari cuaca:
“Kamu selalu serius begini kalau masak?”
“Kalau ada yang memperhatikan.”
“Aku memperhatikan.”
“Saya tahu.”
Ia diam. Aku mengangkat wajah dari piring dan mendapati ia sedang menopang dagu dengan satu tangan, siku di meja kayu jati, menatapku dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan food cost. Bibirnya yang merah sedikit terbuka, dan matanya yang madu itu tidak berkedip.
Sesuatu di perutku jatuh setengah meter. Bukan lapar.
Aku meletakkan piring gudeg di depannya. Tanganku tidak gemetar, karena tanganku tidak pernah gemetar di dapur. Tapi aku sadar aku meletakkannya sedikit lebih pelan dari biasanya.
Ia mencicipi gudeg itu. Ia menutup mata sebentar. Lalu, dengan nada yang sama santainya:
“Pacarmu nggak cemburu kamu masak buat perempuan lain sampai jam sepuluh malam?”
Dan aku, yang sudah bekerja enam belas jam, yang tidur empat jam karena kluwek, yang sedang memikirkan apakah klepon untuk hidangan terakhir sudah cukup dingin, menjawab tanpa berpikir:
“Pacar? Oh, Mona adik saya.”
Kalimat itu keluar dari mulutku dan menggantung di udara di antara kami, seperti asap dari panggangan.
Aku mendengarnya. Ia mendengarnya. Dimas dan Bu Ratih di balik pintu ayun jelas mendengarnya, karena suara kerupuk berhenti total.
Aku menutup mata sebentar.
Mona akan membunuhku.
Ketika aku membuka mata, perempuan di kursi nomor satu sedang tersenyum. Bukan senyum kecil seperti tadi. Senyum yang pelan, lebar, dan sangat, sangat puas. Senyum orang yang sudah tahu jawabannya dari awal dan hanya menunggu seseorang mengakuinya.
“Adik,” katanya.
“...Iya.”
“Jadi Mona bohong ke aku.”
Aku mencari kata yang tepat. Aku tidak menemukannya. Aku menemukan kata yang paling dekat. “Mona... kreatif.”
Dan perempuan itu tertawa.
Ia tertawa sungguh-sungguh, kepala sedikit terdongak, satu tangan menutup mulut seolah tertawanya keluar tanpa izin. Suaranya rendah dan hangat dan sama sekali tidak seperti suara yang memberi sambutan dingin di panggung Sabtu malam. Beberapa helai rambut jatuh ke wajahnya.
Aku berdiri di balik meja dapur, memegang lap, dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.
Ketika tawanya reda, ia menatapku lagi. “Kenapa dia bohong?”
Aku bisa saja tidak menjawab. Tapi dua puluh satu tahun menjaga adikku mengajarkan satu hal: kalau kau sudah membuka panci, lebih baik kau aduk sekalian.
“Dia jaga saya,” kataku.
“Dari apa?”
Aku diam sebentar. “Dari perempuan.”
Matanya berkilat. Ia mengambil gelas airnya, meminumnya perlahan, dan meletakkannya lagi.
“Kalau begitu,” katanya lembut, “dia gagal malam ini.”
Ia membayar dengan kartu hitam, memberi tip yang membuat Bu Ratih harus duduk sebentar di kursi kasir, dan meninggalkan sesuatu di atas meja kayu jati di kursi nomor satu.
Bu Ratih mengambilnya duluan. Tentu saja. Ia membawanya ke dapur dengan dua tangan seperti membawa undangan pernikahan anak pejabat.
Kartu nama. Putih, tebal, sederhana. Tamara Morgan, Chief Financial Officer, Blin. Di baliknya, tulisan tangan dengan tinta hitam, rapi dan miring:
Rawonnya sempurna. Chef-nya juga. — T.
Bu Ratih memekik, cukup pelan untuk tidak didengar tamu di ruang makan utama dan cukup keras untuk membuat kucing di pintu belakang lari. Dimas memotret kartu itu dengan ponselnya dari tiga sudut berbeda.
“Dim, hapus.”
“Arsip, Chef. Untuk sejarah.”
“Hapus.”
“Untuk anak cucu, Chef.”
Aku mengambil kartu itu dari tangan Bu Ratih. Aku menatapnya sebentar, ke tulisan tangannya yang miring, ke huruf T yang ujungnya berputar sedikit seperti senyumnya.
Lalu aku memasukkannya ke saku apron. Tidak ke tempat sampah. Ke saku apron.
Aku tidak tahu kenapa. Aku memutuskan tidak memikirkan kenapa.
Di loker, setelah restoran tutup, aku mengeluarkan ponselku. Ada dua pesan dari Mona dari jam delapan tadi. Kak, makan bekalnya? dan Kak, jangan lupa kunci pintu belakang, kucingnya suka masuk.
Aku menatap layar lama. Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Mon, Kakak keceplosan.
Tiga detik.
KECEPLOSAN APA.
Lalu, satu detik kemudian:
KAK.
Lalu:
KAKAK KECEPLOSAN APA.
Aku memasukkan ponsel ke saku, mengunci pintu belakang, dan menatap langit Senopati yang tidak punya bintang karena polusi.
Di saku apronku, kartu nama itu terasa lebih berat dari kartu mana pun yang pernah kusimpan.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu reading
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan