← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Seven

Inspeksi

POV: Mona

Pantry lantai dua puluh delapan punya mesin kopi yang harganya setara motor bebek, kulkas penuh yogurt Yunani yang tidak pernah dimakan siapa pun, dan jendela besar yang menghadap ke deretan gedung Kuningan. Pantry itu juga punya satu aturan tidak tertulis: kalau dua orang direksi sedang di sana, orang lain tidak masuk.

Aku bukan direksi. Aku Head. Satu tingkat di bawah.

Tapi Senin pagi pukul tujuh empat puluh, aku naik dua lantai dengan mug kosong di tangan, karena aku tahu Tamara Morgan selalu membuat kopinya sendiri pukul tujuh empat puluh lima. Aku tahu karena aku Head of Operations, dan mengetahui jadwal orang adalah bagian dari operasional.

Ia sudah di sana. Berdiri di depan mesin kopi dengan punggung menghadap pintu, menunggu espresso-nya selesai.

Hari ini ia memakai setelan celana abu-abu muda dengan blazer yang potongannya membuat bahunya terlihat tegas, kemeja sutra krem di dalam, rambut cokelat bergelombangnya digelung rendah di tengkuk dengan jepit mutiara. Lipstik merah. Dari belakang pun ia terlihat seperti iklan majalah bisnis yang terlalu mahal untuk dibeli orang biasa.

Aku sendiri tidak kalah. Aku sengaja. Terusan hitam selutut dengan potongan pas badan, blazer putih tulang, rambut tergerai lurus sampai punggung, anting bulan sabit. Eyeliner yang membuat mataku terlihat seperti bisa memotong kaca. Aku tahu aku cantik pagi ini, dan aku memakainya seperti orang memakai tameng.

“Pagi, Bu.”

Ia tidak menoleh. “Pagi, Mona. Kopi?”

“Saya bisa bikin sendiri.”

“Aku tahu kamu bisa.” Ia mengambil cangkirnya, menyesap sekali, lalu akhirnya berbalik. Mata hazelnya menyapu wajahku dari atas ke bawah, cepat, teliti, seperti scanner di gudang Cikarang. “Kamu datang ke lantai dua puluh delapan dengan mug kosong jam tujuh empat puluh tiga. Mesin kopi di lantai dua puluh enam baru diservis Jumat. Jadi kamu bukan ke sini untuk kopi.”

Aku meletakkan mugku di meja. Tidak ada gunanya pura-pura.

“Kakak saya ngajarin Ibu masak malam ini.”

“Iya.”

“Saya minta Ibu jangan datang.”

Tamara mengangkat alis, sedikit, seperti melihat angka yang tidak sesuai proyeksi. Lalu ia bersandar ke konter, satu tangan memegang cangkir, satu tangan lagi masuk ke saku celana. Postur santai yang sama sekali tidak santai.

“Kenapa?”

“Karena Kakak saya bukan—” Aku mencari kata yang tepat. Aku tidak menemukannya. “Kakak saya bukan orang yang Ibu bisa ajak main-main.”

“Siapa yang bilang aku main-main?”

“Ibu CFO. Lulusan Oxford. Ibu bisa dapat siapa aja. Kakak saya chef. Dia nggak kuliah. Dia nggak ngerti dunia Ibu. Dia tidur empat jam sehari dan bau terasi.” Kalimat itu keluar dari mulutku dan langsung terasa salah, seperti menelan tulang ikan. Aku tidak pernah menjelekkan Kakak. Tidak pernah. Tapi aku tidak bisa berhenti. “Dia nggak akan bisa ngimbangin Ibu. Dan kalau Ibu bosan, yang sakit Kakak saya, bukan Ibu.”

Tamara menatapku lama.

Aku menunggu ia marah. Aku sudah melihatnya marah di rapat direksi: suaranya tidak naik, tapi suhunya turun sampai orang menggigil. Aku siap untuk itu.

Ia tidak marah.

Ia meletakkan cangkirnya di konter, melangkah ke depanku, dan berdiri cukup dekat untuk membuatku harus sedikit mendongak. Ia lebih tinggi dariku dengan hak sepatunya. Aku benci itu.

“Mona,” katanya pelan. “Kamu cantik, pintar, dan sangat menakutkan. Aku sudah lihat kamu bikin vendor Cikarang minta maaf tiga kali di satu panggilan telepon. Aku menghormati itu.”

“Terima kasih, Bu.”

“Tapi aku nggak takut sama kamu.”

Ia mengatakannya tanpa nada menantang. Seperti mengatakan cuaca hari ini cerah.

Aku menelan ludah. Lalu aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan ketika aku kalah argumen: aku menyerang dari sisi lain.

“Ibu juga cantik, Bu,” kataku, dengan senyum paling manis yang kupunya. “Tapi Kakak saya sudah sering lihat yang cantik.”

Hening.

Lalu Tamara tersenyum. Bukan senyum mengejek. Senyum yang sedih, sedikit, di sudut bibirnya, dan aku tidak menyangka akan melihat itu di wajahnya.

“Tapi belum pernah ada yang bertahan, kan?” katanya lembut. “Karena kamu.”

Kalimat itu masuk ke dadaku seperti pisau masuk ke mentega.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Aku berdiri di pantry yang mesin kopinya seharga motor bebek, dengan mug kosong di meja, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun bekerja di Blin, aku tidak tahu harus bilang apa.

Tamara mengambil cangkirnya lagi. Di ambang pintu pantry, ia berhenti.

“Malam ini jam tujuh,” katanya. “Pintu belakang. Dia minta aku bawa karet rambut.” Ia menoleh sedikit, cukup untuk aku melihat sudut matanya. “Kakakmu orang yang sangat detail, Mona. Aku suka orang detail.”

Ia pergi.

Aku berdiri di sana sampai mesin kopi berbunyi bip untuk menandakan mode hemat energi.


Rencana Darurat Nomor Tiga sudah dua hari kosong di aplikasi catatanku. Senin siang, setelah pantry, aku mengisinya dengan satu kata.

Inspeksi.

Konsepnya: kalau aku tidak bisa mencegah, aku akan mengawasi. Aku akan duduk di seberang jalan, di mobil, dan memastikan bahwa yang terjadi di dalam restoran itu memang cuma les masak. Kalau ada apa-apa, aku akan masuk. Aku punya kunci cadangan pintu belakang Sekar Kedhaton. Pak Gunawan yang memberikannya padaku dua tahun lalu, waktu Kakak demam dan aku harus mengambil obatnya dari loker.

Masalahnya: Senopati malam hari. Perempuan sendirian duduk di mobil yang diparkir berjam-jam di seberang restoran tutup akan terlihat mencurigakan. Satpam bisa mengetuk jendela. Orang bisa memotret. Aku butuh kamuflase.

Aku butuh seseorang yang membuat semua ini terlihat seperti kencan biasa di mobil, yang pasti dilakukan banyak orang di Jakarta.

Aku menatap ke seberang lantai dua puluh enam, ke ruang rapat kaca tempat tim engineering sedang meminjam meja kami. Bintang duduk di ujung meja, menatap layar laptop dengan kening berkerut, rambutnya berantakan seperti biasa, jari-jarinya mengetik dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Aku menghela napas panjang dan berjalan ke sana.

“Bintang.”

Ia tidak mengangkat kepala. “Hm.”

“Kamu sibuk malam ini?”

Jarinya berhenti mengetik. Ia mengangkat kepala perlahan, menatapku dari balik kacamata dengan ekspresi orang yang baru saja melihat server produksi mati sendiri tanpa alasan.

“Kamu ngajak aku keluar?”

“Bukan keluar. Kerja.”

“Kerja apa?”

“Operasi lapangan.”

“Kamu Head of Ops. Aku Head of Engineering. Operasi lapangan bukan—”

“Aku bawain rendang.”

Bintang menatapku. Lalu menatap laptopnya. Lalu menatapku lagi.

“Rendang siapa?”

“Rendang Kakak. Yang dimasak enam jam. Sisa katering kemarin.”

Ia menutup laptopnya.


Pukul tujuh kurang lima, mobilku diparkir di seberang Sekar Kedhaton, di bawah pohon angsana yang daunnya menutupi lampu jalan. Dari posisi ini, lewat jendela kaca depan restoran yang besar, aku bisa melihat sebagian ruang makan yang gelap dan, di belakangnya, cahaya kuning dari dapur terbuka.

Bintang duduk di kursi penumpang dengan kotak rendang di pangkuannya, sudah setengah habis.

“Ini,” katanya dengan mulut penuh, “rendang terbaik yang pernah aku makan.”

“Fokus, Bintang.”

“Aku fokus.” Ia mengunyah. “Ke rendang.”

“Ke misi.”

“Misinya apa, persisnya?”

“Mengawasi.”

“Mengawasi apa?”

“Mengawasi supaya nggak ada apa-apa.”

Bintang menyendok rendang lagi. “Kalau nggak ada apa-apa, kenapa harus diawasi?”

Aku tidak menjawab karena saat itu sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan restoran, dan Tamara Morgan turun.

Ia tidak memakai setelan kantor lagi. Celana jeans gelap yang pas di kaki, kaus hitam polos, rambut digerai, dan, aku melihatnya bahkan dari seberang jalan, dari dalam mobil, di bawah lampu jalan yang tertutup daun: lipstik merah. Tentu saja lipstik merah. Ia ke les masak dengan lipstik merah.

Ia tidak masuk lewat pintu depan. Ia berjalan menyusuri samping gedung, ke gang kecil menuju pintu belakang, persis seperti yang Kakak minta. Di tangannya, sesuatu kecil berwarna hitam. Karet rambut.

“Itu dia,” bisikku.

“Aku tahu itu dia. Aku kerja sama dia.” Bintang menatap ke luar jendela. “Dia pakai kaus. Aku nggak pernah lihat dia pakai kaus.”

“Nggak ada yang pernah lihat dia pakai kaus.”

“Kakakmu beruntung.”

Aku menoleh tajam padanya. Ia sedang menyendok rendang lagi dengan wajah datar.

“Beruntung apa?”

“Beruntung ada CFO yang mau pakai kaus buat dia.” Ia mengunyah. “Itu komitmen.”


Satu jam berikutnya adalah satu jam paling panjang dalam hidupku sejak sidang skripsi.

Dari mobil, lewat jendela restoran yang besar dan ruang makan yang gelap, aku hanya bisa melihat dapur terbuka sebagai kotak cahaya kuning di kejauhan. Sosok-sosok bergerak di dalamnya seperti wayang di balik kelir. Aku menyipitkan mata. Aku menyesal tidak membawa teropong. Aku punya teropong di rumah, peninggalan karyawisata SMA ke Bosscha.

Sosok yang lebih tinggi, Kakak, berdiri di depan sesuatu. Kompor, mungkin. Sosok yang lebih ramping berdiri di sebelahnya.

Lalu sosok yang ramping bergerak cepat ke arah kompor, dan sosok yang tinggi bergerak lebih cepat lagi, dan ada sesuatu seperti asap.

“Itu asap,” kataku.

“Hm.”

“Bintang, itu asap.”

“Nasi gosong, kayaknya.” Bintang melongok. “Aku pernah bikin nasi gosong di kos. Asapnya kayak gitu. Abu-abu, tebel, bau karbon.”

“Kamu bisa cium dari sini?”

“Nggak. Aku cuma ingat traumanya.”

Asapnya menghilang. Sosok-sosok itu bergerak lagi. Lalu, beberapa menit kemudian, aku melihat sesuatu yang membuatku duduk tegak.

Sosok yang tinggi berdiri di belakang sosok yang ramping. Sangat dekat. Dari sini, siluet mereka hampir menyatu menjadi satu bentuk. Lengan sosok yang tinggi terulur ke depan, melingkari, menyentuh tangan sosok yang ramping.

“Bintang.”

“Hm.”

“Bintang, lihat itu.”

Bintang melihat. Ia mengunyah dengan pelan, menelan, lalu berkata dengan nada penjelas teknis yang biasa ia pakai di rapat arsitektur sistem: “Itu posisi standar ngajarin orang motong.”

“Kamu tahu dari mana?”

“YouTube. Ada channel chef Jepang, ngajarin motong bawang. Dia berdiri di belakang muridnya, tangannya di atas tangan muridnya. Biar sudut pisaunya bener.”

“Itu terlalu dekat.”

“Itu jarak efektif.”

“Bintang, aku bisa lihat bentuk mereka nyatu.”

“Itu karena kamu lihat dari jarak tiga puluh meter dalam gelap lewat dua lapis kaca. Semua bentuk nyatu dari sini.” Ia menunjuk ke luar. “Tiang listrik sama pohon angsana itu juga kelihatan nyatu. Kamu nggak curiga mereka pacaran.”

Aku menatapnya dengan pandangan yang bisa membuat server-nya terbakar.

Bintang tidak terbakar. Ia menutup kotak rendang yang sekarang sudah kosong, meletakkannya dengan rapi di dasbor, dan memutar badan sedikit di kursinya untuk menatapku.

“Mona.”

“Apa.”

“Kamu tahu kamu kelihatan kayak apa sekarang?”

“Kayak orang yang lagi kerja.”

“Kayak ibu-ibu yang nungguin anaknya les piano di parkiran, terus ngintip dari jendela tiap lima menit buat mastiin gurunya nggak galak.”

Aku membuka mulut untuk membantah.

“Dia tiga puluh satu tahun, Mona,” lanjut Bintang, lebih pelan.

Aku menutup mulut.

Bintang tidak melanjutkan. Itu hal yang paling menyebalkan dari dia. Ia selalu tahu kapan harus berhenti bicara, dan diamnya selalu lebih berisik daripada omongannya.

Aku menatap kotak cahaya kuning di seberang jalan. Kedua sosok itu masih di sana, berdiri berdekatan. Kakak tidak mundur. Selama satu jam aku mengawasi, ia tidak pernah mundur.

“Dia nggak pernah begini,” kataku. Suaraku lebih kecil dari yang kuinginkan.

“Begini gimana?”

“Biasanya kalau ada perempuan deket-deket, dia mundur. Dia selalu mundur. Dia selalu bilang Kakak sibuk, Kakak capek, Kakak nggak ngerti. Dia nggak pernah—” Aku berhenti. “Dia nggak pernah berdiri sedekat itu sama siapa pun.”

“Kecuali sama kamu.”

Aku menoleh padanya.

Bintang menatap ke luar jendela, ke restoran, dengan wajah yang tidak bisa kubaca. “Di pesta, dia berdiri sedekat itu sama kamu sepanjang malam. Sebelah kiri. Setengah langkah di depan.” Ia mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Aku kira itu pacar. Ternyata itu tembok.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku tidak bilang apa-apa.

Kami duduk di mobil yang gelap, di bawah pohon angsana, mendengarkan suara klakson dan musik samar dari bar di ujung jalan. Rendang sudah habis. Kakakku masih berdiri di belakang perempuan itu, di kotak cahaya kuning yang jauh.

“Rencanamu gagal,” kata Bintang akhirnya.

“Ini bukan gagal. Ini pengumpulan data.”

“Data apa yang kamu dapat?”

“Nasi gosong. Jarak efektif. Kaus hitam.”

“Itu data yang bagus.” Bintang mengangguk serius. “Kesimpulannya?”

Aku tidak menjawab.

Ia tidak memaksa. Ia hanya mengambil tisu dari dasbor, mengelap mulutnya, dan berkata, “Makasih rendangnya. Bilang ke kakakmu, itu rendang terbaik di Jakarta. Dan bilang ke kakakmu, adiknya bawa aku ke operasi lapangan tanpa surat tugas.”

“Kamu nggak boleh bilang apa-apa ke Kakak.”

“Aku nggak kenal kakakmu.”

“Kamu salaman sama dia di pesta.”

“Satu kali salaman bukan kenal.” Ia membuka pintu mobil. “Aku pulang naik ojek. Kamu pulang. Jangan masuk ke sana pakai kunci cadangan.”

Aku menatapnya. “Aku nggak bilang aku punya kunci cadangan.”

“Kamu dari tadi megang kunci di tangan kiri sampai buku jarimu putih.” Ia keluar dari mobil, menutup pintu, lalu membungkuk sedikit di jendela. “Selamat malam, Mona.”

Ia berjalan pergi menyusuri trotoar, tangan di saku celana, rambut berantakan diterpa angin malam Senopati.

Aku menatap tangan kiriku. Kunci cadangan pintu belakang Sekar Kedhaton. Buku jariku putih.

Aku meletakkan kunci itu di laci dasbor dan menyalakan mesin.


Di rumah, aku menyiapkan bekal untuk besok.

Itu kebiasaan. Kebiasaan menenangkan. Nasi dari rice cooker, telur dadar dengan irisan cabai merah dan daun bawang, tumis buncis dengan bawang putih yang dicincang halus. Sambal bajak di wadah kecil terpisah. Aku sudah melakukannya ribuan kali. Tanganku tahu jalannya sendiri.

Tapi malam itu, waktu aku mengiris cabai untuk telur dadar, tanganku gemetar.

Aku meletakkan pisau. Aku menatap tanganku. Jari-jarinya bergetar sedikit, terus-menerus, seperti daun angsana tadi yang ditiup angin.

Aku tidak pernah gemetar. Tidak di rapat direksi, tidak di depan vendor yang membentak, tidak waktu presentasi Seri B di depan investor Singapura dengan proyektor yang mati di tengah jalan. Tanganku hanya pernah gemetar satu kali, sebelas tahun lalu, di mulut gang yang gelap, waktu darah kakakku menetes ke rok abu-abuku.

Aku menggenggam tangan sendiri sampai gemetarnya berhenti.

Lalu aku mengambil pisau lagi dan mengiris cabai sampai habis. Lebih tipis dari biasanya. Lebih rapi. Seperti kalau aku membuatnya sempurna, semua hal lain juga akan baik-baik saja.

Pukul sebelas lewat dua puluh, pintu apartemen terbuka.

Kakak masuk. Ia membawa tas kerjanya, apron di dalamnya seperti biasa. Bajunya bau asap. Bau nasi gosong yang samar.

“Belum tidur, Mon?”

“Lagi nyiapin bekal.”

“Oh.”

Ia meletakkan tas di kursi dan berjalan ke kamar mandi. Dan di lorong pendek antara ruang tengah dan kamar mandi, sambil membuka kancing kemejanya, kakakku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat ia lakukan dalam dua puluh sembilan tahun hidupku.

Ia bersenandung.

Pelan. Tidak jelas lagunya. Hanya nada yang naik turun, setengah tertahan, seperti orang yang tidak sadar dirinya sedang bernyanyi.

Pintu kamar mandi menutup. Suara air menyala.

Aku berdiri di dapur dengan kotak bekal yang setengah terisi dan sendok nasi di tangan, mendengarkan senandung itu dari balik pintu kamar mandi, bercampur dengan suara air.

Kakakku tidak pernah bersenandung.

Kakakku bangun jam empat pagi, bekerja enam belas jam, pulang dengan bahu yang turun dan mata yang setengah tertutup. Kakakku menyanyi satu kali setahun, di ulang tahunku, dengan suara sumbang yang sengaja ia buat lebih sumbang supaya aku tertawa.

Kakakku tidak pernah bersenandung di lorong sambil membuka kancing kemeja.

Aku menutup kotak bekal. Aku menekan tutupnya sampai berbunyi klik.

Lalu aku mengambil ponsel, membuka aplikasi catatan, dan menatap judul yang kutulis tiga hari lalu.

Rencana Darurat Nomor Tiga.

Di bawahnya, kata Inspeksi.

Aku menghapus kata itu. Aku menatap halaman kosong. Lalu aku menutup aplikasi, mematikan lampu dapur, dan masuk ke kamarku sebelum Kakak keluar dari kamar mandi, supaya ia tidak melihat wajahku.