← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Forty Eight

Extra 7 — Dua Garis

POV: Hari

Tamara memberitahuku dengan presentasi.

Tentu saja dengan presentasi.

Selasa malam, pukul sebelas lewat dua puluh, aku pulang dari Omah Rembulan dan menemukannya duduk di meja makan dengan laptop terbuka, rambut digelung asal, kaus Pak Darto, dan wajah yang terlalu serius untuk jam segini.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

Ia memutar laptopnya ke arahku. Di layar, slide pertama. Latar belakang putih. Font yang rapi. Logo Blin di sudut kanan bawah, karena ia memakai template perusahaan.

PROYEKSI PERTUMBUHAN: KUARTAL BARU Disusun oleh: Tamara Morgan, CFO Rahasia — Hanya untuk Pihak Pertama

Aku menatap slide itu. Lalu menatapnya.

“Tam, ini jam sebelas malam.”

“Dengerin aja.”

Ia menekan tombol panah. Slide kedua.

Ringkasan Eksekutif: Terjadi penambahan aset baru dalam portofolio rumah tangga Wirasena–Morgan. Aset ini bersifat jangka panjang, tidak likuid, dan nilainya tidak dapat diukur dengan metode valuasi konvensional.

Aku mengernyit. “Kamu beli apa?”

Ia tidak menjawab. Ia menekan tombol panah lagi.

Slide ketiga. Sebuah grafik garis yang naik perlahan dari kiri ke kanan. Sumbu horizontal bertuliskan Bulan. Satu sampai sembilan. Sumbu vertikal bertuliskan Ukuran (cm).

Di titik paling kiri, di bulan pertama, ada ilustrasi kecil. Biji. Biji wijen.

Di titik paling kanan, di bulan kesembilan, ilustrasi lain. Semangka.

Aku menatap grafik itu.

Aku tidak mengerti.

Lalu, perlahan, seperti asam di garang asem Eyang yang datang belakangan, aku mengerti.

Aku menatap Tamara.

Ia tidak menatapku. Ia menatap layar laptopnya, dengan wajah yang sangat, sangat serius, dan bibir yang bergetar sedikit.

Ia menekan tombol panah sekali lagi.

Slide keempat. Tidak ada grafik. Tidak ada teks. Hanya satu foto.

Alat tes kehamilan. Plastik putih. Dengan dua garis merah di jendela kecilnya.

Di bawah foto itu, dengan font yang sama, satu baris:

Estimasi tanggal kedatangan: Maret.


Aku tidak ingat berdiri. Aku tidak ingat memutari meja makan. Aku hanya ingat aku sudah berlutut di lantai kayu di sebelah kursinya, dengan wajahku sejajar dengan wajahnya, dan tanganku di pipinya, dan air mataku sudah jatuh bahkan sebelum aku sempat berkata apa pun.

“Tam.”

Ia menatapku. Matanya basah. Ia tersenyum. Senyum yang bergetar.

“Aku nggak tahu cara ngasih tahu,” katanya. “Aku coba latihan di depan cermin. Aku coba bilang aku hamil. Kedengerannya kayak sinetron. Jadi aku bikin presentasi.” Ia tertawa, basah. “Aku nggak tahu cara lain.”

“Dua garis,” kataku. Suaraku keluar aneh.

“Dua garis.”

“Kapan?”

“Tadi pagi. Di toilet eksekutif lantai dua puluh delapan.” Ia menutup wajahnya dengan dua tangan. “Aku teriak. Sasha lari masuk. Dia pikir ada tikus. Terus dia lihat alat tesnya. Terus dia teriak juga. Terus Raka lari masuk karena dengar dua orang teriak. Terus aku usir mereka berdua sebelum Raka sempat lihat.”

Aku tertawa. Di tengah air mata.

“Sasha udah tahu?”

“Sasha yang bantu bikin grafik semangkanya.”

Aku menarik tangannya dari wajahnya. Aku menggenggamnya. Lalu aku menunduk dan menyandarkan dahiku di perutnya. Di atas kaus Pak Darto yang kebesaran tiga nomor.

Tidak ada apa-apa di sana. Belum. Masih rata. Masih seperti biasanya.

Tapi di dalamnya ada sesuatu. Seukuran biji wijen.

“Hai,” bisikku ke perut istriku.

Di atas kepalaku, aku mendengar Tamara menangis.


Ngidam pertama datang tiga minggu kemudian, pukul dua pagi.

Aku terbangun karena ada yang mengguncang bahuku. Pelan. Lalu lebih keras.

“Matahari.”

Aku membuka mata. Tamara duduk di kasur, di sebelahku, dengan rambut berantakan dan mata yang sangat terang untuk jam dua pagi.

“Kenapa? Sakit? Mual?”

“Nggak.” Ia menatapku dengan wajah yang sangat serius. “Aku mau garang asem.”

Aku menatapnya. “Sekarang?”

“Sekarang.”

“Tam, ini jam dua pagi.”

“Aku tahu jam berapa. Aku CFO.” Ia menarik selimut sampai ke dagu. “Bayinya yang mau. Bukan aku. Aku cuma juru bicara.”

Aku duduk. Aku menyalakan lampu tidur. “Oke. Aku bikin. Ada ayam di kulkas. Ada daun salam. Dandang Bu Ratih di—”

“Bukan dandang Bu Ratih.”

Aku berhenti. “Terus dandang apa?”

Ia menatapku. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya cemberut.

“Dandang Eyang,” katanya pelan. “Di Laweyan.”

Aku menatapnya lama.

Laweyan. Solo. Lima ratus enam puluh kilometer dari Kemang. Delapan jam lewat tol, kalau tidak macet.

“Tam,” kataku pelan. “Dandang Eyang di Solo.”

“Aku tahu.”

“Itu delapan jam.”

“Aku tahu.” Air matanya jatuh. Satu. “Aku tahu itu nggak masuk akal. Aku tahu itu konyol. Aku CFO, aku tahu analisis biaya-manfaat dari nyetir delapan jam buat garang asem. Itu negatif. Itu sangat negatif.” Ia menyeka matanya dengan ujung kaus Pak Darto. “Tapi bayinya mau dandang Eyang. Aku nggak tahu kenapa. Bayinya bilang rasanya beda.”

Aku menatap istriku. Perempuan yang membedah proposal anggaran sampai tulang, yang bilang sinergi itu penyakit, yang menutup Seri C dalam empat bulan. Duduk di kasur pukul dua pagi, menangis karena bayinya mau garang asem dari dandang neneknya.

Aku berdiri dari kasur.

“Matahari?”

Aku mengambil kunci mobil dari nakas. Aku mengambil jaket. Aku mengambil selimut tebal dari lemari.

“Bawa bantal,” kataku.

Ia menatapku dengan mata lebar. “Kamu serius?”

“Bayinya mau dandang Eyang.” Aku menyampirkan selimut di bahunya. “Kita ke Laweyan.”


Kami berangkat pukul dua lewat dua puluh lima.

Tamara tidur di jok penumpang sebelum kami keluar dari Jakarta, dengan selimut sampai ke dagu dan bantal di antara kepalanya dan jendela. Aku menyetir sendirian di tol Trans-Jawa yang kosong, dengan lampu jalan yang berkedip seperti barisan bintang yang tidak habis-habis.

Pukul empat pagi, di rest area di Cikampek, aku berhenti untuk kopi. Aku menelepon Dimas.

“Dim. Aku nggak ke restoran hari ini.”

Suara Dimas mengantuk. “Chef? Ini jam empat... Chef di mana?”

“Tol. Ke Solo.”

Hening. Lalu: “Chef ke Solo jam empat pagi? Ada apa, Chef?”

“Bu Tamara mau garang asem.”

Hening lebih panjang. “Chef. Kita punya garang asem di restoran.”

“Harus dandang Eyang.”

Hening yang paling panjang. Lalu, dengan suara yang sudah sepenuhnya bangun, dan sedikit bergetar:

“Chef. Bu Tamara hamil?”

Aku diam.

“CHEF. BU TAMARA HAMIL?”

“Jangan bilang ke grup, Dim.”

“Saya nggak bilang, Chef! Saya nggak bilang! Saya cuma nangis! Boleh saya nangis?”

“Boleh.”

Ia menangis. Aku mendengarnya menangis di telepon, di rest area Cikampek, pukul empat pagi, sambil memegang kopi sachet yang terlalu manis.

Lalu, di sela tangisnya: “Chef, hati-hati nyetirnya. Bawa dua nyawa sekarang. Eh, tiga. Sama Chef.”


Kami sampai di Laweyan pukul sebelas siang.

Rumah joglo Eyang sunyi seperti biasa. Ibu tetangga yang dibayar untuk membersihkannya menatap kami dengan mata lebar waktu kami muncul di pintu tanpa kabar.

Tamara langsung ke dapur. Ia berdiri di ambang pintu dapur, menatap dandang tembaga di atas kompor, dan menghela napas panjang seperti orang yang baru sampai di rumah setelah perjalanan sangat jauh.

Aku ke pasar Laweyan. Ayam kampung bagian paha. Belimbing wuluh. Tomat hijau. Santan dari kelapa yang diparut di tempat. Gula jawa. Daun pisang. Satu biji kluwek.

Daun salam aku petik sendiri dari pohon di halaman belakang. Pohon yang dulu Eyang petik. Lima lembar per pincuk.

Tamara duduk di kursi kayu di sudut dapur sementara aku memasak. Ia tidak membantu. Ia hanya duduk dan menatapku, dengan dua tangan di atas perutnya yang masih rata.

“Kamu nyetir delapan jam,” katanya pelan.

“Delapan jam setengah. Ada truk mogok di Brebes.”

“Buat garang asem.”

“Buat bayinya.”

“Buat aku,” katanya.

Aku menoleh dari kompor. Ia menatapku dengan mata basah.

“Bayinya nggak minta garang asem,” katanya. “Aku yang minta. Aku bohong. Aku pakai bayinya sebagai alasan.”

Aku menatapnya.

“Aku kangen Eyang,” bisiknya. “Aku pengin Eyang tahu. Aku pengin masak di dapurnya waktu aku kasih tahu dia.”

Aku mematikan kompor. Aku berjalan ke arahnya. Aku berjongkok di depan kursinya, sampai wajahku sejajar dengan wajahnya.

“Kamu nggak perlu alasan,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kamu bisa bilang aku kangen Eyang, aku mau ke Solo, dan aku bakal nyetir.”

“Aku tahu.” Air matanya jatuh. “Tapi aku masih belajar. Bilang aku mau. Kamu yang ngajarin.”

Aku menatapnya. Lalu aku tertawa. Pelan. Rendah.

“Kita berdua masih belajar,” kataku.

Garang asem itu matang pukul satu siang. Empat puluh menit di dandang Eyang. Sepuluh menit lebih lama dari resep mana pun.

Tamara membawanya ke makam Eyang di belakang masjid kampung. Satu pincuk. Ia meletakkannya di sebelah nisan, dengan lima lembar daun salam di atasnya.

“Eyang,” katanya, berlutut di tanah lembap. “Eyang mau jadi buyut.”

Bunga kamboja jatuh dari pohon di atas kami.


POV: Tamara

Bulan keempat, level manjaku, menurut Mona, sudah melewati batas yang bisa diukur oleh instrumen apa pun yang dikenal manusia.

Mona mengatakannya sambil menyerahkan dokumen setebal empat puluh halaman yang dijilid dengan penjepit kertas hitam.

SOP KEHAMILAN TAMARA MORGAN Versi 1.0 — Disusun oleh Mona Rembulan Wirasena, VP Operations Untuk: Matahari Wirasena (Pihak Pertama), Seluruh Anggota Proyek Matahari

Bab satu: Protokol Nutrisi Harian. Bab dua: Jadwal Kontrol dan Kontak Darurat. Bab tiga: Daftar Makanan yang Dilarang (termasuk, aku perhatikan, udang, karena alergi, dan juga karena Mona tidak percaya udang). Bab empat: Prosedur Penanganan Ngidam di Luar Jam Kerja.

Bab lima: Manajemen Manja.

Aku membaca bab lima. Isinya tabel. Dua kolom. Jenis Manja dan Respons yang Direkomendasikan.

Minta digendong (jarak < 10 meter): Penuhi. Minta digendong (jarak > 10 meter): Penuhi, dengan istirahat tiap 50 meter. Minta disuapi: Penuhi. Tiup seperti meniup lilin ulang tahun (lihat lampiran C). Minta Kakak nyanyi Begadang jam 1 pagi: Penuhi. Rekam. Kirim ke grup.

Aku menatap baris terakhir itu. Lalu menatap Mona.

“Kamu tahu soal Begadang?”

“Kakak kirim videonya ke grup minggu lalu,” kata Mona. “Jam satu pagi. Kakak bilang kamu ngidam dengerin Kakak nyanyi. Lengkap sama gaya tangannya.” Ia tersenyum. Lesungnya dalam. “Itu video paling berharga di grup Proyek Matahari. Dimas udah nonton tujuh puluh kali.”

Aku menutup wajahku dengan SOP empat puluh halaman.

Aku memang ngidam itu. Bulan ketiga, pukul satu pagi, aku terbangun dan tidak bisa tidur dan tiba-tiba ingin sekali mendengar suaminya menyanyikan lagu dangdut dengan suara sumbang. Ia menyanyikannya. Di kasur. Dengan gaya tangan. Lupa lirik di bait kedua, seperti waktu kupon satu jilid dua. Aku merekamnya.

Lalu, karena hormon, karena jam satu pagi, karena aku terlalu bahagia untuk berpikir jernih, aku mengirimnya ke grup.

Aset Paling Berharga. Tidak lagi rahasia.


Bintang menyerahkan sesuatu yang lain.

Tablet. Dengan aplikasi yang ia buat sendiri dalam satu akhir pekan. Dasbor. Grafik. Garis-garis berwarna yang bergerak.

“Monitoring tendangan,” katanya, dengan wajah datar dan telinga merah. “Kamu tekan tombol ini setiap kali bayinya nendang. Datanya masuk ke server. Server-nya Prod-2. Aku bikin baru.”

Aku menatap dasbor itu. Grafik tendangan per jam. Grafik tendangan per hari. Heatmap, berdasarkan jam, kapan bayinya paling aktif.

“Bintang,” kataku. “Kamu bikin dasbor buat tendangan bayi.”

“Kamu CFO. Kamu suka data.” Ia mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Dan aku engineer. Aku monitor semua yang penting.”

Sasha membuat spreadsheet berisi daftar nama bayi, diurutkan berdasarkan makna, asal bahasa, dan skor kecocokan dengan nama Matahari dan Rembulan. Raka membuka taruhan jenis kelamin di grup chat staf Blin, yang sekarang punya empat ratus dua belas anggota. Bu Ratih menulis setiap perkembangan di buku tulis bersampul batik dengan tinta emas. Dimas menangis setiap kali ada yang mengirim foto USG ke grup.

Aku punya keluarga.

Keluarga yang sangat, sangat berisik.


USG di bulan kelima, aku memakai lipstik merah.

Matahari menatapku di mobil, di parkiran rumah sakit, waktu aku memperbaiki lipstikku di cermin kecil di balik penutup matahari.

“Tam. Kita ke USG.”

“Aku tahu.”

“Kenapa pakai lipstik?”

Aku menutup tabung lipstik. Aku menatapnya.

“Biar anaknya tahu,” kataku, “ibunya cantik.”

Ia menatapku lama. Lalu ia tertawa. Rendah. Pelan. Lalu ia membungkuk melewati konsol tengah dan mencium sudut bibirku, tepat di garis lipstik.

“Anaknya udah tahu,” katanya.

“Gimana dia tahu? Dia belum bisa lihat.”

“Dia dengar detak jantungmu,” katanya. “Tiap kali aku cium kamu, detaknya naik. Dia pasti mikir, ibuku pasti cantik, kalau nggak, kenapa detaknya naik terus.”

Aku menatapnya. Wajahku memanas. Seperti biasa. Lima bulan hamil, dua tahun menikah, dan wajahku masih memanas setiap kali ia membalas.

“Itu bukan logika,” kataku.

“Itu logika bayi.”

Di ruang USG, dokter perempuan berumur lima puluhan menatap lipstik merahku dengan alis terangkat. Lalu ia menatap Matahari, yang berdiri di sebelah tempat tidur periksa dengan tangan yang sudah menggenggam tanganku begitu erat sampai jariku sedikit kebas.

“Pertama kali ya, Pak?” tanya dokter itu.

“Iya, Dok.”

“Kelihatan.” Dokter itu tersenyum. Ia mengoleskan gel dingin di perutku. Aku memekik pelan. Matahari meremas tanganku lebih erat.

Lalu layar monitor menyala.

Abu-abu dan hitam. Bentuk-bentuk yang tidak masuk akal. Lalu dokter menggerakkan alatnya, dan bentuk-bentuk itu menjadi sesuatu.

Kepala. Tangan kecil. Kaki yang menendang.

Dan suara.

Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug.

Cepat. Sangat cepat. Seperti seseorang yang sedang mengulek sambal dengan tenaga penuh.

Aku berhenti bernapas.

Di sebelahku, Matahari tidak bergerak. Ia menatap layar itu. Tangannya di tanganku gemetar. Tangan yang tidak pernah gemetar di dapur.

Lalu ia menangis.

Tanpa suara. Air mata yang jatuh satu per satu, di pipinya, ke dagunya, ke kemeja batik yang kupilihkan pagi tadi. Ia tidak mengusapnya. Ia hanya terus menatap layar, mendengarkan detak jantung itu, dengan wajah seperti orang yang mencicipi garang asem Eyang untuk pertama kali.

Dokter menatapnya. Lalu menatapku. Lalu tersenyum lebih lebar.

“Mau tahu jenis kelaminnya, Bu?”

Aku menatap Matahari. Ia menatapku. Ia mengangguk, sekali, dengan mata basah.

“Laki-laki,” kata dokter.

Di saku Matahari, ponselnya bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu terus bergetar.

Ia tidak mengangkatnya. Aku tahu itu grup Proyek Matahari. Sasha pasti sudah melapor. Sasha pasti menunggu di parkiran dengan tablet dan grafik semangka.

Belakangan aku tahu, Raka kalah taruhan lagi. Ia memilih perempuan. Satu-satunya yang menebak laki-laki adalah Bintang.

Ketika Raka bertanya bagaimana ia tahu, Bintang mengirim tangkapan layar dasbor tendangan.

Pola tendangan menunjukkan karakteristik yang konsisten dengan tendangan ke arah perut ayah setiap kali ayahnya bicara. Ini perilaku protektif terhadap ibu. Statistik menunjukkan laki-laki.

Raka membalas dengan dua belas emoji menangis.


Malam itu, di kasur, aku berbaring telentang dengan bantal di bawah punggung.

Perutku sudah bulat sekarang. Tidak besar. Tapi bulat. Kaus Pak Darto yang dulu kebesaran tiga nomor sekarang hanya kebesaran satu nomor.

Matahari berbaring di sebelahku. Lalu, perlahan, ia turun sedikit, sampai wajahnya sejajar dengan perutku. Ia menyandarkan pipinya di sana. Di atas kaus Pak Darto. Di atas bayi kami.

“Hai,” bisiknya.

Aku tidak bergerak. Aku mendengarkan.

“Ini Papa,” bisiknya ke perutku. Pelan. Sangat pelan. Dengan suara yang tidak pernah ia pakai ke siapa pun, bahkan ke aku. “Papa mau cerita sesuatu.”

Aku memejamkan mata.

“Dulu,” katanya, “ada perempuan namanya Sri. Dia punya dua anak. Satu laki-laki, satu perempuan. Yang laki-laki dikasih nama Matahari, yang perempuan dikasih nama Bulan. Satu buat siang, satu buat malam. Supaya rumahnya nggak pernah gelap.”

Tangannya mengusap perutku. Pelan. Naik turun.

“Tapi matahari sama bulan itu jarang ketemu,” lanjutnya. “Yang satu terbit, yang lain terbenam. Gantian. Selalu gantian. Kayak dua orang yang saling jaga, tapi nggak pernah bisa ada di tempat yang sama di waktu yang sama.”

Aku membuka mata. Aku menatap langit-langit. Mataku panas.

“Tapi ada satu waktu,” bisiknya, “di mana matahari sama bulan ada di langit yang sama. Bareng. Nggak ada yang harus nunggu yang lain terbenam.”

Ia diam sebentar.

“Waktu itu namanya fajar.”

Aku menahan napas.

“Pagi-pagi banget, sebelum matahari terbit penuh, bulan masih ada di langit sebelah barat. Pucat. Tapi masih di sana. Dan matahari mulai naik di sebelah timur. Dan untuk beberapa menit, mereka berdua ada di langit yang sama.” Ia mencium perutku. Lewat kaus. Pelan. “Papa lihat itu pertama kali di dapur Eyang Buyut, di Laweyan. Pagi setelah Papa nikah sama Mama. Mama bikin telur dadar yang nggak gosong.”

Air mataku jatuh. Aku tidak mengusapnya.

“Jadi Papa mau kasih nama kamu Fajar,” bisiknya ke perutku. “Fajar Wirasena. Supaya kamu tahu, kamu lahir di waktu matahari sama bulan nggak perlu gantian lagi.”

Di bawah pipinya, di dalam perutku, sesuatu bergerak.

Tendangan.

Keras. Tepat di tempat pipinya bersandar.

Matahari mengangkat kepala dengan cepat. Ia menatap perutku dengan mata lebar. Ia menyentuh pipinya.

“Dia,” katanya. “Dia nendang aku. Di pipi.”

Aku tertawa. Basah. Di tengah air mata. “Dia setuju.”

“Atau dia nggak suka namanya.”

“Dia setuju,” kataku. “Bintang bilang dia selalu nendang kalau kamu ngomong. Itu perilaku protektif. Dia jagain aku dari kamu.”

Matahari menatap perutku. Lama. Lalu ia menyandarkan pipinya lagi di sana. Di tempat yang sama.

“Fajar,” bisiknya. “Jagain Mama dari dalam, ya.”

Tendangan. Lebih pelan kali ini.

“Mama itu manja banget,” bisiknya. “Di kantor galak. Di rumah kayak anak kecil. Minta digendong tiap hari. Minta disuapin. Minta Papa nyanyi Begadang jam satu pagi.” Ia diam sebentar. “Tapi jangan bilang siapa-siapa. Itu rahasia keluarga.”

Aku berhenti tertawa.

“Dan Fajar,” lanjutnya, lebih pelan lagi, dengan bibir yang hampir menyentuh perutku lewat kaus, “Papa kasih tahu satu rahasia lagi. Rahasia yang Mama nggak tahu.”

Aku menahan napas.

“Mama itu,” bisiknya, “perempuan paling cantik yang pernah Papa lihat. Dari malam pertama. Dari pojok ruangan pesta, waktu Mama pakai gaun hitam dan lipstik merah dan ngelihatin Papa kayak ngelihatin laporan keuangan.”

Wajahku memanas.

“Papa jatuh cinta sama Mama dari malam itu,” bisiknya. “Papa cuma butuh dua puluh dua malam buat berani ngaku.”

Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa bicara.

Wajahku terbakar. Leherku terbakar. Telingaku terbakar. Lima bulan hamil, dua tahun menikah, dan suamiku masih bisa membuatku KO total dengan satu kalimat yang bahkan tidak ia ucapkan kepadaku. Ia mengucapkannya kepada perutku.

“Kamu,” kataku, dengan suara yang hampir hilang. “Kamu curang. Kamu ngomong ke dia, tapi aku yang denger.”

Ia mengangkat wajah dari perutku dan menatapku. Matanya berkilau di bawah lampu tidur kuning. Senyumnya kecil, di sudut bibir. Senyum orang yang tahu ia baru saja menang.

“Itu namanya efisiensi,” katanya. “Satu kalimat, dua penerima.”

Aku menarik bantal dan menutup wajahku.

Di bawah bantal, aku mendengar ia tertawa pelan.

Di dalam perutku, Fajar menendang lagi.

Aku tidak tahu ia menendang karena setuju dengan Papa-nya, atau karena ia membela Mama-nya.

Tapi aku tahu satu hal. Di rumah kecil di Kemang ini, dengan dapur yang lebih besar dari kamar tidur dan pohon jambu air yang berbunga lagi setelah sepuluh tahun, tidak akan ada yang sakit sendirian. Tidak akan ada yang menunggu di jendela setiap hari Minggu. Tidak akan ada yang merobek mimpinya jadi delapan bagian di atap.

Matahari dan bulan, di langit yang sama.

Dan di antara mereka, sebentar lagi, fajar.


TAMAT — EXTRA