Chapter Two
Aset Tak Tercatat
POV: Tamara
Pesta ini ada karena aku, dan aku sudah bosan dalam dua puluh menit.
Itu bukan keluhan. Itu data.
Empat bulan lalu, Blin hampir kehabisan uang. Raka masih tersenyum di depan kamera, tim marketing masih memasang billboard di Sudirman, tapi di spreadsheet yang hanya dibuka tiga orang di perusahaan ini, angkanya merah. Aku terbang ke Singapura sebelas kali, ke Tokyo empat kali, ke London dua kali. Aku duduk di ruang rapat dengan pria-pria yang mengira perempuan dengan lipstik merah tidak bisa membaca neraca, lalu aku membuat mereka menandatangani term sheet sebelum kopi mereka dingin.
Malam ini hasilnya: lampu kristal, band jazz yang memainkan versi lambat lagu-lagu yang seharusnya cepat, dan dinding LED raksasa yang menulis WE’RE JUST GETTING STARTED dengan huruf kapital. Aku yang membiayai dinding itu, secara tidak langsung. Dan aku tidak suka huruf kapital.
Aku berdiri di dekat jendela karena itu satu-satunya tempat di ruangan ini di mana orang tidak bisa mendekatiku dari belakang. Kebiasaan lama dari sekolah asrama di Inggris. Kau belajar cepat memilih dinding untuk punggungmu.
Aku memakai gaun hitam tanpa lengan dengan potongan lurus. Rambutku kubiarkan tergerai, cokelat gelap, bergelombang alami, yang di Indonesia membuat orang bertanya apakah aku mengecatnya dan di Inggris membuat orang bertanya dari mana aku berasal. Mataku hazel, satu-satunya hal yang ayahku wariskan dengan murah hati. Lipstikku merah. Selalu merah. Merah adalah warna yang tidak perlu menjelaskan dirinya.
Aku tahu aku cantik. Aku mengatakannya dengan nada yang sama ketika aku mengatakan EBITDA kita membaik delapan persen. Itu bukan kesombongan. Itu angka di laporan yang sudah diaudit berkali-kali, oleh cermin, oleh laki-laki di ruang rapat yang lupa apa yang sedang mereka presentasikan, oleh perempuan-perempuan yang menatapku di lift dengan campuran kagum dan curiga. Fakta yang berguna, kadang. Fakta yang merepotkan, lebih sering.
“Bu.”
Sasha muncul di sikuku dengan tablet di tangan dan wajah orang yang sudah tidak tidur dengan benar sejak Juni. Ia asistenku, dua puluh enam tahun, lulusan terbaik dari kampus yang namanya terdengar seperti merek kopi, dan satu-satunya orang di Blin yang berani mengambil makanan dari mejaku tanpa izin.
“Bu, sambutan Ibu jam sembilan lewat sepuluh. Setelah Pak Raka. Pak Raka bilang sambutannya tiga menit, tapi Pak Raka juga bilang rapat Senin kemarin setengah jam dan itu jadi dua jam empat puluh menit. Jadi saya taruh buffer.”
“Berapa buffer-nya?”
“Lima belas menit.”
“Kurang.”
“Dua puluh?”
“Raka akan bercerita tentang masa kecilnya di Bandung. Kasih dua puluh lima.”
Sasha mengetik dengan ekspresi pasrah. “Ibu mau saya ambilkan makanan? Canapé-nya lumayan.”
“Rendangnya kurang lama dimasak.”
Sasha berhenti mengetik. “Ibu udah coba?”
“Belum.”
“Terus kok tahu?”
“Karena ada laki-laki di sana yang baru saja mengernyit saat memakannya, dan cara dia mengernyit bukan cara orang yang tidak suka. Itu cara orang yang tahu persis apa yang salah.”
Sasha mengikuti arah pandanganku. Lalu ia menoleh padaku dengan mata melebar perlahan, seperti layar loading.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu dari tadi lihatin pacarnya Bu Mona?”
Aku tidak berniat memperhatikan siapa pun malam ini. Aku berniat berdiri di sini, memberi sambutan dua menit, dan pulang sebelum band jazz itu mulai memainkan Fly Me to the Moon versi bossa nova.
Tapi aku memperhatikan Mona Rembulan sejak ia masuk, karena Mona adalah salah satu dari sedikit orang di perusahaan ini yang kuhargai.
Head of Operations. Dua puluh sembilan tahun. Naik dari Operations Associate ke Head dalam lima tahun, rekor yang sampai sekarang belum ada yang menyamai. Cerdas, cekatan, dan bicaranya seperti pisau yang diasah dengan baik. Proposal anggaran timnya adalah satu-satunya yang kubedah sampai tulang dan masih bisa berdiri. Ia tidak menangis di rapat. Ia tidak pernah membela diri dengan alasan. Ia mencatat, pulang, dan datang lagi minggu berikutnya dengan versi yang lebih baik.
Aku menyukainya, dengan cara orang menyukai lawan catur yang bagus.
Dan malam ini Mona masuk dengan gaun biru tua yang membuatnya terlihat seperti malam itu sendiri sedang berjalan, menggandeng laki-laki yang membuat separuh ruangan menoleh.
Laki-laki itu tinggi. Bahunya lebar, bukan bahu orang yang pergi ke gym, tapi bahu orang yang mengangkat sesuatu yang berat setiap hari selama bertahun-tahun. Kulitnya sawo matang. Rambutnya hitam, disisir ke belakang dengan rapi, dan dari caranya sesekali menyentuh tengkuk aku tahu ia tidak biasa menyisir rambutnya seperti itu. Wajahnya tenang. Rahangnya tegas. Jasnya pas sekali di badannya, dan aku cukup sering menghadiri gala di London untuk tahu bahwa jas itu tidak murah, dan bahwa laki-laki itu tidak tahu betapa tidak murahnya jas itu.
Tampan, ya. Tapi bukan itu yang membuatku terus memperhatikan.
Yang membuatku terus memperhatikan adalah ini: ia tidak menatap Mona seperti laki-laki menatap pacarnya.
Aku sudah melihat banyak pasangan di banyak pesta. Ada pola. Laki-laki yang sedang jatuh cinta menatap perempuannya seperti sesuatu yang bisa hilang kapan saja, maka mereka menatap terus, takut kehilangan detik. Laki-laki yang sudah lama bersama menatap perempuannya seperti perabot kesayangan, akrab, kadang lupa. Laki-laki yang pura-pura menatap perempuannya seperti aktor yang sedang menunggu aba-aba.
Laki-laki ini tidak termasuk satu pun.
Ia menatap Mona sebentar, lalu menatap ruangan. Menatap Mona lagi, lalu menatap ruangan lagi. Matanya bergerak dari pintu ke pintu, dari orang ke orang, seperti sedang menghitung pintu keluar dan memeriksa siapa saja yang terlalu dekat. Ia selalu berdiri di sebelah kiri Mona, setengah langkah di depan. Ia menuangkan air untuk Mona sebelum Mona memintanya. Ketika dua perempuan dari marketing mendekat, bahunya sedikit menegang, bukan seperti laki-laki yang tergoda, tapi seperti laki-laki yang bersiap menghalangi pintu.
Ia tidak menatap Mona seperti pacar.
Ia menatap Mona seperti satpam menatap brankas.
Dan sesekali, saat tidak ada yang melihat, tangan kanannya mengusap lengan bawah kirinya, di balik lengan jas. Gerakan kecil. Kebiasaan. Seperti orang yang menyentuh sesuatu yang dulu sakit.
“Bu,” Sasha berbisik lagi, “Ibu masih belum jawab.”
“Aku dengar pertanyaanmu.”
“Terus?”
“Aku memilih tidak menjawab.”
“Itu jawaban, Bu.”
Kadang aku menyesal mempekerjakan orang pintar.
Raka bicara tiga puluh satu menit. Dua belas menit di antaranya tentang masa kecilnya di Bandung. Buffer dua puluh lima menitku masih kurang, tapi aku tidak mengoreksi siapa pun karena aku sedang sibuk dengan hal lain.
Lalu MC menyebut namaku.
Aku naik ke panggung. Tepuk tangan, jenis tepuk tangan yang lebih banyak rasa takut daripada rasa sayang. Aku tidak keberatan. Rasa takut lebih bisa diandalkan.
“Selamat malam,” kataku. Ruangan mendadak sunyi. “Empat bulan lalu, saya berjanji kepada dewan direksi bahwa kita akan tutup Seri C sebelum kuartal tiga. Banyak yang bilang itu tidak mungkin. Malam ini, kita merayakan kemungkinan itu.” Jeda. “Untuk yang bilang tidak mungkin, kalian tahu siapa kalian. Bonus kalian sudah saya hitung ulang.”
Tawa. Tawa gugup, terutama dari meja divisi strategi.
“Terima kasih untuk semua tim. Silakan nikmati malamnya. Dan tolong, jangan ada yang kirim reimbursement taksi ke saya sebelum Senin.”
Tawa lebih keras. Sambutan selesai dalam satu menit empat puluh detik. Rekor pribadiku.
Saat aku turun dari panggung, mataku menangkapnya.
Laki-laki itu, berdiri di dekat pilar, segelas air di tangannya. Ia sedang menatapku.
Kebanyakan orang membuang pandang saat aku menangkap mereka sedang menatapku. Aku sudah terbiasa dengan itu; rasa takut membuat orang pemalu. Tapi laki-laki ini tidak membuang pandang. Ia menatapku terus, tenang, lalu mengangguk kecil. Hanya sekali. Seperti mengakui sesuatu. Seperti berkata, aku lihat kamu.
Sesuatu di dadaku bergeser satu sentimeter.
Aku tidak suka itu. Aku juga tidak benci itu. Dan itu paling mengganggu dari semuanya.
Aku menunggu sampai Mona selesai bicara dengan seseorang dari tim keuangan, lalu aku berjalan ke arah mereka.
Mona melihatku datang. Aku melihat bahunya menegang, lalu rileks dengan sengaja. Profesional. Bagus.
“Bu Tamara.” Ia tersenyum. “Selamat. Sambutannya pendek sekali.”
“Sambutan panjang itu tanda orang yang tidak yakin dengan apa yang ia capai.” Aku menatapnya dari dekat. Dari jarak ini, ia lebih cantik lagi. Kulitnya bersih, matanya tajam dan bulu matanya panjang, anting bulan sabit kecil berkilau di telinganya. Aku memutuskan untuk mengatakannya, karena aku tidak melihat alasan untuk tidak mengatakannya. “Kamu cantik sekali malam ini, Mona.”
Mona berkedip. Hanya sekali, tapi aku melihatnya. Ia tidak menyangka. “Terima kasih, Bu. Ibu juga.”
“Aku tahu,” kataku, dan Mona tertawa kecil, kaget, seperti tidak tahu apakah boleh tertawa. Lalu aku menoleh ke laki-laki di sebelahnya. “Dan kamu?”
“Hari,” katanya.
Suaranya rendah dan sedikit serak, seperti suara orang yang lebih banyak diam daripada bicara. Ia mengulurkan tangan dan aku menjabatnya. Telapak tangannya hangat dan kasar. Ada bekas luka bakar kecil di pangkal ibu jarinya, dan kapalan di sisi telunjuknya, persis di tempat orang menggenggam pisau.
“Hari saja?” tanyaku.
Ia diam sebentar, seperti menimbang apakah aku pantas mendapat jawaban lengkap. “Matahari. Kalau mau lengkap.”
“Nama yang ambisius.”
“Ibu saya yang ambisius.”
Sudut bibirku terangkat sebelum aku sempat mencegahnya. Itu jawaban yang bagus. Jawaban yang tidak berusaha membuatku terkesan, dan justru karena itu membuatku terkesan.
Aku menahan tangannya sedetik lebih lama dari yang perlu, lalu melepaskannya. Aku kembali menatap Mona.
“Pacarmu?” tanyaku ringan.
“Iya, Bu.”
Mona menjawab cepat. Terlalu cepat.
Dan di sebelahnya, laki-laki bernama Matahari itu diam. Tidak lama, mungkin setengah detik. Tidak ada yang akan menyadarinya kecuali orang yang menghabiskan hidupnya membaca jeda di wajah orang saat negosiasi. Matanya bergerak ke Mona, lalu kembali ke depan. Rahangnya mengencang sedikit. Persis seperti wajah CFO perusahaan target akuisisi saat aku bertanya apakah ada utang yang belum dilaporkan.
Ia bukan pacarnya.
Aku tahu dengan kepastian yang sama seperti aku tahu dua tambah dua.
“Beruntung sekali,” kataku. Aku mengatakannya ke Mona, tapi aku menatap Hari. Biar ia memutuskan sendiri siapa yang kumaksud beruntung.
Ia menatapku balik. Tidak gugup. Tidak tersipu. Hanya menatap, dengan mata hitam yang tenang, seperti sedang mencoba membaca resep yang ditulis dalam bahasa asing.
“Tadi,” kataku, mengganti topik dengan sengaja, “kamu mengernyit waktu makan canapé rendang.”
Matanya sedikit melebar. “Ibu lihat?”
“Aku melihat banyak hal. Itu pekerjaanku. Kenapa mengernyit?”
Ia ragu, lalu menjawab dengan nada orang yang tidak bisa berbohong soal makanan. “Rendangnya dimasak dua jam. Harusnya enam. Santannya belum pecah minyak, jadi bumbunya belum masuk ke daging.”
“Kamu chef?”
“Bu,” Mona menyela, dengan suara secerah lampu kristal di atas kepala kami, “Pak Raka kayaknya manggil Ibu.”
Aku tidak menoleh ke arah Raka. Aku tahu Raka tidak memanggilku. Raka sedang bercerita tentang Bandung kepada tiga orang yang sudah mendengar cerita itu sebelumnya.
Tapi aku tersenyum ke Mona, senyum yang mengakui gerakan catur yang bagus.
“Tentu,” kataku. Aku menatap Hari sekali lagi. “Senang bertemu kamu, Matahari.”
“Hari saja, Bu.”
“Aku lebih suka yang lengkap.”
Aku berbalik sebelum ia sempat menjawab. Di belakangku, aku mendengar Mona berbisik cepat dengan nada yang jelas bukan nada perempuan kepada pacarnya, lebih mirip nada atasan kepada staf yang salah input data. Aku tidak mendengar kata-katanya. Aku tidak perlu.
Sasha menyusulku ke pojok jendela dengan langkah setengah berlari.
“Bu. Bu. Itu tadi apa?”
“Apa yang apa?”
“Ibu muji Bu Mona cantik.”
“Dia memang cantik.”
“Ibu nggak pernah muji orang. Ibu bilang slide kamu bagus ke tim strategi sekali, tahun lalu, dan mereka bikin syukuran.”
“Itu berlebihan.”
“Mereka pesan tumpeng, Bu.” Sasha merendahkan suaranya. “Dan Ibu ngelihatin pacarnya kayak ngelihatin target akuisisi.”
“Dia bukan pacarnya.”
Sasha terdiam. “Hah?”
“Dia bukan pacar Mona.”
“Kok Ibu tahu?”
Aku memandang ke seberang ruangan. Hari sedang menuangkan segelas air lagi untuk Mona, yang sedang bicara dengan tangan bergerak-gerak penuh semangat, mungkin sedang menjelaskan kenapa ia harus bohong. Hari mendengarkan dengan kepala sedikit menunduk ke arahnya, sabar, dengan ekspresi orang yang sudah mendengar penjelasan serupa ribuan kali dan masih mau mendengar sekali lagi.
“Karena,” kataku pelan, “laki-laki yang mencium perempuan tidak pernah menatap perempuan itu seperti satpam menatap brankas.”
Sasha memproses kalimat itu. “Itu metafora yang aneh, Bu.”
“Itu metafora yang akurat.”
“Terus dia siapa?”
“Itu yang akan kamu cari tahu.”
Sasha menghela napas yang berasal dari jiwanya yang paling dalam. “Bu, ini di luar job description saya.”
“Job description-mu adalah membantu CFO menjalankan fungsi strategisnya.”
“Ini bukan fungsi strategis, Bu.”
Aku menatapnya. Sasha menatapku balik selama tiga detik, lalu mengeluarkan ponselnya.
“Nama lengkapnya?”
“Matahari. Itu yang aku punya. Ditambah: dia masak. Dia kenal rendang. Dia punya kapalan di telunjuk kanan dari genggaman pisau dan bekas luka bakar di pangkal ibu jari. Dan dia selalu menyentuh lengan kirinya kalau sedang tidak nyaman.”
Sasha menatapku lama. “Bu. Ibu ngobrol sama dia berapa menit?”
“Dua.”
“Dua menit dan Ibu tahu soal kapalan?”
“Aku membaca laporan keuangan tiga ratus halaman dalam satu malam, Sasha. Dua menit itu banyak.”
Sasha butuh lima puluh tiga menit.
Aku sudah di mobil, di jalan pulang, ketika ponselku bergetar. Pesan dengan tiga lampiran: tangkapan layar Instagram sebuah restoran, foto dari artikel majalah kuliner dua tahun lalu, dan satu paragraf panjang yang ditulis dengan semangat seseorang yang diam-diam menikmati tugasnya lebih dari yang mau ia akui.
Matahari Wirasena, 31. Chef de Cuisine di Sekar Kedhaton, Senopati. Fine dining masakan Jawa, chef’s table 8 kursi, sekali makan bisa sampai jutaan. Kadang ada sesi live cooking. Di artikel majalah dia disebut “chef yang menolak diwawancara tiga kali sebelum akhirnya mau, dengan syarat fotonya tidak close up.” Di IG restoran mukanya cuma muncul dua kali, dua-duanya blur. Nama belakangnya sama kayak Bu Mona, Bu. WIRASENA. Mona Rembulan Wirasena. Ini bukan pacar, Bu, ini KAKAKNYA. Pantas Ibu bilang brankas.
Lalu, satu pesan lagi, dua detik kemudian:
Bu, kenapa saya merasa saya baru saja melakukan sesuatu yang akan membuat hidup saya lebih susah?
Aku menatap layar ponselku. Di luar jendela mobil, lampu-lampu Sudirman bergerak mundur seperti angka yang dihapus satu per satu.
Kakaknya.
Mona berbohong. Mona, yang tidak pernah berbohong di rapat, yang lebih suka dikritik habis-habisan daripada membela diri dengan setengah kebenaran, berbohong dengan wajah datar kepada CFO-nya sendiri. Untuk apa?
Untuk menjaga brankasnya.
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku tersenyum. Mungkin karena aku tidak pernah punya siapa pun yang mau berbohong demi menjagaku. Mungkin karena aku penasaran, dan aku tidak ingat kapan terakhir kali aku penasaran tentang sesuatu yang tidak punya nilai valuasi.
Aku mengetik balasan.
Pesan chef’s table di Sekar Kedhaton. Satu orang. Kursi paling dekat dapur.
Kapan, Bu?
Secepatnya.
Bu, Ibu tahu kan ini kakaknya Bu Mona? Bu Mona itu Head of Ops. Kalau Bu Mona marah, rantai pasok satu Indonesia bisa macet.
Aku CFO, Sasha. Kalau aku marah, rantai pasok itu tidak punya anggaran.
Ada jeda panjang. Lalu:
Siap, Bu. Saya pesan sekarang. Saya juga mau minta maaf ke Bu Mona di masa depan, kalau boleh dimasukkan ke kalender.
Aku menyalakan lampu kabin dan membuka cermin kecil di balik penutup matahari. Lipstikku sedikit pudar di sudut bibir. Aku mengambil lipstik dari tas dan memperbaikinya dengan dua gerakan yang sudah kuhafal sejak umur dua puluh.
Perempuan di cermin itu tersenyum. Aku jarang melihatnya tersenyum seperti itu, tanpa strategi, tanpa audiens.
Matahari Wirasena, pikirku. Aset yang tidak tercatat di neraca siapa pun.
Belum.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat reading
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan