← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Six

Saya Tidak Bisa Masak, Chef

POV: Hari

Sabtu malam, chef’s table penuh.

Kursi dua sampai delapan dipesan satu keluarga besar dari Menteng untuk merayakan ulang tahun ketujuh puluh Oma Lies. Oma Lies adalah perempuan mungil berambut perak yang disanggul tinggi, memakai kebaya encim merah muda, dan sudah tiga kali menjadi tamu Sekar Kedhaton. Di setiap kunjungan ia meminta satu hal yang sama: chef harus menyuapinya suapan pertama dessert, karena “di umur segini, Oma boleh minta apa saja”.

Kursi nomor satu, tentu saja, ditempati perempuan yang sudah memesannya dua puluh dua malam berturut-turut.

Ia datang dengan gaun merah.

Bukan merah lipstiknya, tapi merah anggur yang lebih gelap, dengan tali tipis di bahu dan potongan yang jatuh lurus sampai lutut. Rambutnya disanggul rendah di tengkuk, beberapa helai dibiarkan lepas di sisi wajah. Anting emas kecil. Leher yang panjang. Dan bibir merah yang sama, yang mulai kuhafal seperti aku menghafal warna sambal yang matang sempurna.

Ia duduk, menyilangkan kaki, dan menatapku dari seberang meja dapur seperti orang yang menatap menu dan sudah tahu mau memesan apa.

Aku pernah melihat banyak perempuan cantik datang ke restoran ini. Istri pejabat, artis sinetron, model yang hanya memotret makanannya tanpa makan. Mereka cantik seperti piring yang ditata dengan baik: indah, rapi, dan tidak mengundangmu menyentuh apa pun.

Ia tidak begitu. Ia cantik seperti api di bawah wajan. Kau tidak bisa memalingkan muka, karena kalau kau memalingkan muka, sesuatu akan gosong.

“Selamat malam, Chef.”

“Selamat malam, Bu.”

Oma Lies, yang duduk di kursi nomor dua, langsung menoleh ke arahnya dengan mata berbinar seperti nenek yang menemukan cucu perempuan yang belum menikah.

“Aduh, cantiknya,” katanya keras-keras. “Pacarnya Chef, ya?”

Seluruh keluarga Oma Lies menoleh. Aku menjatuhkan sendok kayu.

Tamara tersenyum ke Oma Lies dengan kesopanan yang pasti ia pelajari di sekolah asrama Inggris. “Belum, Oma.”

“Belum,” ulang Oma Lies, menepuk tangan Tamara dengan gembira. “Belum itu artinya sebentar lagi. Oma dulu juga bilang belum ke suami Oma. Tiga bulan kemudian, nikah.”

“Oma,” tegur cucunya, laki-laki berumur tiga puluhan yang wajahnya sudah merah karena malu.

“Apa? Oma cuma ngomong fakta.” Oma Lies menatapku. “Chef, kamu umur berapa?”

“Tiga puluh satu, Oma.”

“Sudah tua. Cepetan.”

Aku memungut sendok kayu, mencucinya, dan memutuskan bahwa malam ini aku akan bicara sesedikit mungkin.


Rencana itu gagal di hidangan ketiga.

Bu Ratih, yang bertugas mengantar minuman ke chef’s table, berhenti di sebelahku di balik pass dan meletakkan selembar serbet kertas di talenan.

“Titipan, Chef.”

Di serbet itu, dengan tulisan tangan miring yang sudah kukenal dari kartu nama di saku apronku:

Ajari aku masak.

Aku menatap serbet itu. Lalu menatap kursi nomor satu. Tamara sedang mengobrol dengan Oma Lies tentang batik tulis Lasem, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku mengambil satu lembar tiket pesanan kosong dan menulis di baliknya dengan pulpen:

Restoran bukan sekolah.

Bu Ratih mengambilnya, membacanya sambil berjalan, berhenti di tengah lantai, menoleh padaku dengan wajah kecewa yang luar biasa, lalu melanjutkan berjalan dan meletakkan tiket itu di sebelah gelas Tamara.

Tamara membacanya. Bibirnya bergerak sedikit. Ia menulis sesuatu di serbet baru dan menyerahkannya ke Bu Ratih, yang kini berdiri di sebelah kursi nomor satu dengan semangat seorang kurir yang dibayar per kiriman.

Bu Ratih kembali. Ia meletakkan serbet itu di talenan. Ia tidak pergi.

Aku nggak minta restoran. Aku minta kamu.

“Ya Allah,” bisik Bu Ratih di sebelahku, membaca terbalik.

“Bu, jangan dibaca.”

“Chef, saya kurir. Kurir harus tahu isi paketnya. Kalau-kalau isinya bom.”

Dari depan kompor sebelah, Dimas bergeser setengah meter mendekat dengan wajan masih di tangan, pura-pura menumis, mata ke arah serbet. Aku memindahkan serbet itu ke saku apron. Dimas menghela napas kecewa.

Aku menulis lagi.

Saya sibuk.

Bu Ratih mengantarnya dengan langkah yang semakin cepat. Balasan datang dalam dua menit.

Senin restoranmu tutup. Aku sudah cek.

Aku menulis: Senin saya istirahat.

Balasan: Kamu tidur empat jam. Kamu tidak tahu cara istirahat.

Pada titik ini, Oma Lies sudah menyadari ada lalu lintas kertas antara kursi nomor satu dan dapur, dan seluruh keluarga Menteng berhenti makan untuk menonton. Bu Ratih membawa serbet keenam di atas nampan kecil dengan sikap pelayan istana yang mengantar surat raja.

Satu malam. Kalau aku membosankan, kamu boleh berhenti.

Aku menatap serbet itu lama.

Lalu aku mendongak, dan mataku bertemu matanya di seberang meja dapur. Ia tidak berpura-pura mengobrol dengan Oma Lies lagi. Ia sedang menatapku langsung, dagu bertopang di punggung tangan, satu jari mengetuk-ngetuk pipinya sendiri dengan irama pelan.

Ia mengangkat alis. Menunggu.

Aku mengambil satu sendok kecil, mencelupkannya ke sambal bajak yang baru kuulek, dan meletakkan sendok itu di piring kecil. Bu Ratih mengantarnya tanpa diminta.

Tamara menatap sendok sambal itu. Lalu menatapku. Lalu, dengan perlahan, dengan mata yang tidak lepas dariku sedetik pun, ia mengambil sendok itu dan mengulumnya. Lambat. Sangat lambat. Lalu menarik sendok itu keluar dari bibirnya yang merah dan meletakkannya kembali di piring.

“Pedas,” katanya, cukup keras untuk terdengar ke dapur.

“Itu jawaban saya,” kataku, sama kerasnya.

“Jawabanmu pedas?”

“Jawaban saya, Ibu nggak akan tahan.”

Ia tersenyum, senyum yang membuat seluruh dapur terasa naik lima derajat. “Coba aja.”

Oma Lies bertepuk tangan. Cucunya menutup wajah dengan serbet. Di belakangku, Dimas menjatuhkan sesuatu lagi, dan aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu sendok sayur yang sama dengan yang ia jatuhkan kemarin malam.


Setelah servis selesai dan keluarga Oma Lies pulang, setelah Oma Lies menuntut suapan dessert pertamanya dan, sambil mengunyah klepon, berbisik kepadaku, “Yang itu, Chef. Jangan dilepas. Matanya mata perempuan yang setia,” Tamara masih duduk di kursi nomor satu.

Ruang makan sudah kosong. Bu Ratih menghitung uang di kasir dengan kecepatan seperempat dari biasanya, jelas supaya ia bisa mendengar. Dimas mengelap kompor yang sudah bersih untuk ketiga kalinya.

Aku melepas apron dan berjalan ke sisi luar meja dapur. Untuk pertama kalinya, tidak ada meja di antara kami.

“Saya nggak bisa, Bu.”

“Nggak bisa,” ulangnya, “atau nggak mau?”

Aku diam.

“Atau,” lanjutnya, lebih pelan, “nggak boleh?”

Aku tetap diam. Ia memiringkan kepala, membaca diamku seperti ia membaca semua hal, dan aku melihatnya sampai pada jawaban yang benar.

“Mona,” katanya.

“Mona atasan Ibu.”

“Mona bawahanku. Itu beda.” Ia berdiri dari kursi. Dengan sepatu haknya, matanya sejajar dengan daguku. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, dan aku mencium wangi parfumnya: sesuatu yang hangat dan sedikit pahit, seperti kayu manis yang dibakar. “Kamu tiga puluh satu tahun, Chef.”

“Oma Lies sudah bilang.”

“Oma Lies benar.” Ia mengulurkan tangan, dan sebelum aku sempat mundur, ujung jarinya merapikan kerah kemejaku yang terlipat di satu sisi. Gerakannya ringan dan cepat, tapi jarinya berhenti sedetik di sisi leherku, tepat di atas denyut nadiku, dan aku tahu ia merasakan sesuatu di sana yang tidak bisa kusembunyikan. “Aku cuma minta diajari pegang pisau,” bisiknya. “Selebihnya aku bisa belajar sendiri.”

Ia menarik tangannya. Mengambil tasnya. Berjalan ke pintu.

Di ambang pintu ia berhenti tanpa berbalik.

“Nomorku ada di kartu yang kamu simpan di saku apron, Matahari.”

Pintu menutup.

Di kasir, Bu Ratih menjatuhkan satu ikat uang lima puluh ribuan.


Minggu siang, Bu Ratih menceramahiku selama lima belas menit penuh.

Ia melakukannya di dapur belakang sambil mengupas bawang merah untuk persiapan Selasa, dan ia memakai bawang merah sebagai alat bantu visual.

“Ini,” katanya, mengangkat satu butir bawang. “Ini jodoh.”

“Itu bawang, Bu.”

“Dengar dulu.” Ia mengupas kulit pertamanya. “Jodoh itu kayak bawang, Chef. Berlapis-lapis. Kalau Chef nggak mau ngupas, Chef nggak akan tahu isinya. Dan kalau Chef ngupasnya ragu-ragu—” Ia mengupas lapisan kedua dengan sengaja pelan. “—mata Chef yang perih.”

“Bu, itu nggak masuk akal.”

“Itu filosofi Jawa.”

“Itu bukan filosofi Jawa, Bu. Itu Ibu ngarang barusan.”

“Semua filosofi Jawa awalnya dikarang orang, Chef.” Ia meletakkan bawang itu di depanku dengan bunyi tok yang menentukan. “Perempuan secantik itu, sepintar itu, datang ke sini dua puluh dua malam, nulis surat di serbet, ngulum sambal di depan Oma Lies, dan Chef bilang nggak bisa? Chef mau nunggu apa? Nunggu jodoh jatuh dari langit kayak paket Blin?”

“Paket Blin nggak jatuh dari langit, Bu. Pakai kurir.”

“Itu maksud saya, Chef. Jodoh juga butuh kurir. Dan saya sudah jadi kurir semalaman. Kaki saya pegal.”

Aku tidak bisa membantah itu.

Lalu aku memperhatikan Dimas yang sejak tadi duduk di bangku dekat pintu belakang dengan kepala menunduk ke ponsel, tersenyum-senyum sendiri sambil mengetik dengan dua jempol.

“Dim.”

Ia mengangkat kepala terlalu cepat. “Ya, Chef?”

“Lagi chat siapa?”

“Pacar, Chef.”

“Kamu nggak punya pacar.”

“Calon pacar.”

Aku berjalan ke arahnya. Ia menyembunyikan ponsel ke balik punggung. Aku mengulurkan tangan. Ia menatap tanganku, lalu wajahku, lalu tanganku lagi, dan menyerahkan ponselnya dengan wajah orang yang menyerahkan senjata di film koboi.

Di layar ada percakapan WhatsApp dengan kontak bernama Mbak Sasha (Asisten Bu CFO) 🌶️.

Pesan terakhir dari Dimas, terkirim dua menit lalu:

Chef libur Senin, Mbak. Restoran tutup. Biasanya Chef dateng ke sini jam 6 sore buat bersihin kluwek, bandel memang orangnya. Pintu belakang nggak dikunci kalau ada Chef. Sambalnya jangan lupa ya Mbak, dua botol, yg bajak.

Balasan dari Sasha:

Siap Dim. Sambal bajaknya dari Mbak Mona kan? Bu Tamara bilang tahu sumbernya. Btw Bu Tamara minta nanya satu lagi: Chef alergi apa?

Balasan Dimas:

Alergi perempuan, Mbak. Wkwk. Ga deng. Chef ga alergi apa2. Kecuali sama adiknya kalau lagi ngamuk.

Aku menatap Dimas.

Dimas menatapku dengan senyum lemah. “Arsip, Chef.”

“Dim.”

“Intelijen dua arah, Chef. Saya juga dapet info dari sana. Bu Tamara alergi udang. Itu penting, kan? Buat menu?”

Aku mengembalikan ponselnya tanpa bicara. Ia memeluk ponsel itu di dada seperti memeluk anak yang baru diselamatkan dari banjir.

Bu Ratih, yang menonton semuanya sambil mengupas bawang, berkata tanpa mengangkat wajah: “Tuh, Chef. Kurirnya udah dua.”


Minggu malam, Mona menungguku di ruang tengah.

Ia duduk tegak di sofa dengan kaki terlipat di bawah tubuhnya dan ponsel di pangkuan. Rambutnya diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan, dan ia memakai kaus lamaku yang kebesaran untuknya sejak SMA. Di wajah tanpa riasan itu, adikku masih kelihatan seperti anak kelas dua SD yang menunggu Kakak pulang dari warung, meski ia sekarang memimpin ratusan orang dan bisa membuat vendor logistik menangis di telepon.

Aku tahu ada sesuatu begitu aku membuka pintu. Mona tidak pernah duduk diam. Mona selalu sedang melakukan sesuatu: mencuci, memasak, membalas email, mengomel ke televisi. Mona yang duduk diam adalah Mona yang sedang merencanakan pidato.

“Kak. Duduk.”

Aku duduk.

“Bu Tamara minta Kakak ngajarin dia masak, kan?”

Aku tidak bertanya dari mana ia tahu. Dimas punya dua kurir. Tentu saja Mona punya jaringannya sendiri.

“Iya.”

“Kakak udah jawab?”

“Kakak bilang nggak bisa.”

Mona mengangguk cepat, terlalu cepat. “Bagus. Bagus. Terus kalau dia nanya lagi, Kakak bilang nggak bisa lagi. Kakak bilang Kakak sibuk. Kakak bilang ada katering, Kakak bilang Pak Gunawan nggak ngizinin restoran dipakai di luar jam kerja, apa aja.” Ia bicara semakin cepat, seperti presentasi yang dikejar waktu. “Dia atasanku, Kak. Kalau Kakak nolak, semuanya aman. Dia nggak bisa ngapa-ngapain Kakak, dan dia nggak akan ngapa-ngapain aku karena dia profesional, aku tahu dia profesional. Tapi kalau Kakak terima, terus nanti ada apa-apa, terus dia kesel, terus—”

“Mon.”

“—terus aku harus ketemu dia tiap Senin di rapat direksi dan pura-pura nggak tahu dia pernah nyentuh pisau Kakak, Kak, itu awkward, itu nggak profesional, itu—”

“Mon.”

Ia berhenti.

Aku memperhatikan tangannya. Kedua tangannya saling meremas di pangkuan, jari-jarinya memutar-mutar ujung kaus lamaku sampai kainnya kusut. Aku kenal gerakan itu. Aku melihatnya pertama kali di pemakaman Ibu, waktu Mona delapan tahun berdiri di sebelahku dan meremas ujung bajuku sampai sobek sedikit di jahitannya.

Mona tidak sedang takut soal pekerjaan.

Mona sedang takut. Titik.

Dan aku sadar, dengan rasa yang aneh, seperti menggigit cabai rawit tanpa sengaja, bahwa selama dua puluh satu tahun aku selalu membiarkan ketakutan itu memutuskan untuk kami berdua. Takut kehilangan rumah, takut kehilangan sekolah, takut kehilangan satu sama lain. Ketakutan itu yang membuatku bangun jam empat pagi. Ketakutan itu juga yang membuatku tidak pernah bertanya ke mana perginya perempuan-perempuan yang dulu menitipkan tempe goreng.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak mau membiarkannya.

“Kakak terima,” kataku.

Mona menatapku. Mulutnya sedikit terbuka. “Apa?”

“Kakak ajarin dia masak.”

“Kak, aku baru aja jelasin—”

“Kamu jelasin kenapa kamu takut. Kakak dengar.” Aku menyentuh tangannya, menghentikan jari-jarinya yang meremas kaus. “Tapi kamu nggak jelasin kenapa Kakak harus nolak.”

Ia tidak menjawab. Ia menatap tanganku di atas tangannya.

“Cuma masak, Mon,” kataku pelan. “Kakak cuma ngajarin dia potong bawang.”

Mona menarik tangannya perlahan. Ia berdiri. Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas, menatap isinya lama sekali tanpa mengambil apa pun, lalu menutupnya lagi.

“Kakak udah makan?” tanyanya tanpa menoleh.

“Udah.”

“Bohong. Kakak nggak pernah makan kalau Sabtu Minggu.”

“Udah, Mon.”

Ia mengeluarkan sayur asem dari kulkas dan menyalakan kompor. Ia tidak bertanya apa pun lagi malam itu. Ia hanya menghangatkan sayur asem, menuangkannya ke mangkuk, dan meletakkannya di depanku dengan sendok yang sudah ia lap dengan ujung kausnya, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil karena dulu sendok kami tidak pernah benar-benar bersih.

Aku makan. Ia duduk di sebelahku dan menatap televisi yang mati.

“Kak,” katanya, waktu mangkukku sudah setengah habis.

“Hm?”

“Dia cantik ya.”

Aku berhenti mengunyah. “Siapa?”

“Jangan pura-pura bego. Kakak paling nggak bisa pura-pura bego.”

Aku menelan. Aku menatap mangkuk sayur asem.

“Iya,” kataku. “Cantik.”

Mona mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu di kepalanya. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahuku, seperti waktu kami kecil, dan kami duduk seperti itu sampai sayur asemnya dingin.


Pukul satu dini hari, aku berbaring di kasur menatap langit-langit kamar.

Kartu nama itu ada di meja kecil di samping kasur. Pagi tadi aku menemukannya di meja sebelah sofa, di bawah remote, dan aku tidak ingat pernah meletakkannya di sana. Mungkin aku lebih capek dari yang kukira.

Aku mengambil ponsel. Aku mengetik nomor dari kartu itu. Aku menatap layar kosong di bawah nomor itu selama empat menit.

Lalu aku mengetik:

Senin. Jam 7. Pintu belakang. Bawa karet rambut.

Aku mengirimnya sebelum aku sempat berpikir ulang, dan langsung meletakkan ponsel di dada dengan layar menghadap ke bawah, seperti meletakkan tutup di atas panci yang mendidih.

Ponselku bergetar dua puluh detik kemudian. Ia belum tidur. Tentu saja ia belum tidur.

Itu syarat atau undangan?

Aku mengetik: Syarat.

Getaran lagi.

Aku suka syarat. Ada lagi?

Aku menatap layar. Jempolku berhenti di atas keyboard.

Jangan pakai baju putih. Kunyit susah hilang.

Noted, Chef. Jadi kamu sudah membayangkan aku pakai apa.

Aku meletakkan ponsel di dada lagi. Lebih cepat dari sebelumnya.

Getaran ketiga. Aku tidak mau melihatnya. Aku melihatnya.

Selamat tidur, Matahari. Usahakan lebih dari empat jam. Aku butuh guruku dalam kondisi prima.

Aku tidak membalas. Aku menatap langit-langit kamar sampai mataku perih.

Ada sesuatu di dadaku yang tidak kukenal. Bukan lapar, bukan capek, bukan takut. Sesuatu yang hangat dan tidak sabar, seperti adonan yang sedang mengembang di tempat gelap. Aku menyadari, perlahan, dengan rasa malu yang tidak masuk akal untuk laki-laki berumur tiga puluh satu tahun, bahwa aku ingin hari Senin datang lebih cepat.

Aku ingin bertemu dia lagi.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri.

Aku tidak yakin aku pernah.