Chapter Forty Three
Extra 2 — Sakit Pura-Pura
POV: Tamara
Rencananya kususun hari Kamis malam, di bawah selimut, sementara suamiku mendengkur pelan seperti kompresor AC yang lelah.
Aku menyusunnya seperti menyusun strategi negosiasi Seri C. Tujuan. Sasaran. Risiko. Rencana mitigasi.
Tujuan: dirawat.
Sasaran: satu hari penuh, Matahari Wirasena tidak ke pasar, tidak ke Omah Rembulan, tidak memecahkan kluwek. Satu hari penuh, ia hanya untukku.
Risiko: ia tahu.
Rencana mitigasi: akting yang sangat, sangat bagus.
Aku pernah melihatnya merawatku sekali, waktu aku benar-benar demam tiga puluh sembilan koma empat. Bubur dengan kaldu delapan belas jam. Kompres air hangat. Tanganku yang ia genggam tujuh jam tanpa melepas, bahkan dalam tidur. Itu malam yang mengubah semuanya. Malam pertama dalam sepuluh tahun aku tidak sakit sendirian.
Aku ingin malam itu lagi.
Tapi tanpa demam tiga puluh sembilan koma empat. Karena demam tiga puluh sembilan koma empat itu, secara objektif, tidak menyenangkan.
Jumat pagi, pukul empat lewat lima puluh lima, aku bangun lima menit sebelum alarmnya.
Aku turun dari kasur pelan-pelan. Aku masuk ke kamar mandi. Aku menutup pintu.
Aku menatap perempuan di cermin.
Rambut cokelat bergelombang yang berantakan. Mata yang masih setengah tidur. Kaus Pak Darto yang melorot di satu bahu. Wajah yang, aku harus jujur, terlalu segar untuk orang sakit. Pipi yang terlalu merah. Mata yang terlalu terang. Aku terlihat seperti perempuan yang tidur delapan jam di pelukan suaminya, karena memang begitu.
Aku membasahi wajahku dengan air dingin. Aku menepuk-nepuk pipiku sampai sedikit pucat. Aku mengacak rambutku lebih berantakan lagi.
Lalu aku latihan suara.
“Matahari,” bisikku ke cermin. Terlalu jernih.
Aku berdeham. Aku mencoba lagi, lebih rendah, lebih serak. “Matahari, aku... uhuk... nggak enak badan.”
Terlalu dramatis. Terdengar seperti sinetron jam tujuh.
Aku mencoba lagi. Lebih pelan. Dengan tarikan napas yang sedikit berat di tengah kalimat. “Matahari... aku kayaknya... sakit.”
Lebih baik.
Aku keluar dari kamar mandi tepat ketika alarmnya berbunyi. Aku naik ke kasur, menarik selimut sampai ke dagu, dan memejamkan mata.
Ia mematikan alarm. Ia meregangkan badan. Ia menoleh ke arahku.
Aku membuka mata perlahan. Aku menatapnya dengan pandangan yang kuharap terlihat lemah dan menderita.
“Matahari,” kataku, dengan suara serak hasil latihan, “aku... kayaknya... sakit.”
Ia menatapku.
Lama.
Matanya, mata hitam yang tenang dan dalam itu, bergerak dari wajahku ke selimut yang kutarik sampai dagu, lalu kembali ke wajahku.
Ia tidak bicara. Ia mengulurkan tangan dan menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
Tangannya hangat dan kasar. Aku memejamkan mata dan berusaha membuat dahiku terasa panas dengan kekuatan pikiran.
Ia menarik tangannya. Ia diam sebentar. Lalu ia turun dari kasur, berjalan ke kamar mandi, dan kembali dengan termometer digital.
Termometer yang sama yang dulu kupakai sekali dalam dua tahun, di apartemen Setiabudi. Aku membawanya waktu pindah. Ia ingat.
Ia menyelipkan termometer itu di bawah lidahku. Aku menahannya di sana dengan wajah penuh penderitaan.
Satu menit. Bip.
Ia mengambil termometer itu dan membaca layarnya.
Aku menunggu.
Ia menatap layar itu lama sekali. Wajahnya tidak berubah. Lalu ia meletakkan termometer itu di nakas, dengan layar menghadap ke bawah, sebelum aku sempat melihat angkanya.
“Berapa?” tanyaku serak.
Ia menatapku. “Kamu harus istirahat.”
“Berapa, Matahari?”
“Istirahat,” katanya lagi.
Lalu ia mengambil ponselnya, dan aku mendengarnya menelepon Dimas.
“Dim. Aku nggak ke restoran hari ini. Kamu yang pegang.” Jeda. “Iya. Sakit. Bukan aku.” Jeda lebih panjang. Lalu, dengan suara yang sangat datar: “Nggak, Dim. Nggak usah kirim bubur sumsum. Aku yang masak.”
Ia menutup telepon.
Aku menatapnya dari balik selimut. Aku tidak menyangka akan semudah ini. Aku menyiapkan tiga lapis argumen kalau ia bilang harus ke pasar, harus ke restoran, harus memecahkan kluwek. Aku tidak memakai satu pun.
Ia libur. Seluruh hari. Untukku.
Aku menarik selimut sedikit lebih tinggi supaya ia tidak melihat aku tersenyum.
Pukul tujuh, aku mengirim email ke Sasha.
Sasha, saya sakit. Tidak masuk hari ini. Tolong batalkan semua rapat. Jangan hubungi saya kecuali perusahaan terbakar. — T.
Balasan Sasha datang dalam empat puluh detik.
Bu, semoga cepat sembuh. Tapi Bu, maaf, saya mau konfirmasi satu hal. Rabu kemarin Ibu bilang ke saya mau ambil cuti hari Jumat untuk “proyek pribadi dengan risiko tinggi”. Ibu bilang jangan masukin ke kalender. Ini yang Ibu maksud?
Aku menatap layar ponselku.
Aku lupa. Aku benar-benar lupa. Rabu sore, waktu aku sedang menyusun rencana di kepalaku, aku menyuruh Sasha mengosongkan hari Jumat dengan alasan yang terlalu jujur.
Aku mengetik: Itu beda.
Siap, Bu. Beda. Lalu, dua detik kemudian: Bu, proyek pribadinya berhasil? Saya doakan.
Aku mematikan ponsel dan menyembunyikannya di bawah bantal.
Bubur datang pukul delapan.
Ia membawanya ke kamar di atas nampan. Bubur nasi dengan kaldu ayam, suwiran ayam, daun bawang, bawang goreng, dan sedikit jahe. Segelas teh jahe hangat dengan madu. Dua tablet parasetamol di piring kecil yang, aku perhatikan, ia letakkan di nampan tapi tidak ia sodorkan ke arahku.
Ia membantuku duduk. Ia menyelipkan dua bantal di punggungku. Ia duduk di tepi kasur, mengambil mangkuk bubur, menyendok, meniupnya pelan, dan menyodorkannya ke bibirku.
Aku menatap sendok itu. Aku menatapnya.
“Tiupnya kurang,” kataku.
Ia berkedip. “Kurang?”
“Kurang mesra.”
Ia menatap sendok di tangannya. Lalu menatapku. “Tiup bisa mesra?”
“Bisa. Kamu tiupnya kayak niup kopi. Harusnya kayak niup lilin ulang tahun. Pelan. Sambil lihat aku.”
Telinganya mulai merah.
Ia mengangkat sendok itu lagi. Ia menatapku. Ia meniup bubur itu pelan, sangat pelan, dengan bibir yang sedikit mengerucut, sambil menatap mataku.
Aku lupa harus pura-pura sakit. Aku lupa harus pura-pura serak. Aku menatap bibirnya yang mengerucut di atas sendok bubur, dan jantungku berdetak seperti cobek yang diulek terlalu keras.
Ia menyodorkan sendok itu ke bibirku.
Aku membuka mulut. Aku makan.
“Lebih baik?” tanyanya. Telinganya merah menyala sekarang.
“Lebih baik,” kataku. Suaraku tidak serak sama sekali. Aku lupa. Aku berdeham. “Uhuk. Lebih baik.”
Ia menatapku sebentar. Sudut bibirnya bergerak sedikit, sangat sedikit, lalu kembali datar.
Ia menyuapiku seluruh mangkuk bubur itu. Setiap suapan, ia meniup seperti meniup lilin ulang tahun. Setiap suapan, aku lupa pura-pura sakit, lalu ingat, lalu batuk dengan sangat tidak meyakinkan.
“Kompres,” kataku setelah bubur habis.
Ia sudah menyiapkannya. Tentu saja ia sudah menyiapkannya. Baskom air hangat di nakas, handuk kecil yang dilipat. Ia memeras handuk itu dan meletakkannya di dahiku dengan hati-hati.
“Di sini juga,” kataku, menunjuk pipi kiriku.
Ia memeras handuk kedua dan meletakkannya di pipi kiriku.
“Di sini juga.” Pipi kanan.
Handuk ketiga.
Aku berbaring dengan tiga handuk di wajahku, seperti mumi yang tidak serius.
“Dan di sini,” kataku, menunjuk bibirku.
Ia berhenti memeras handuk keempat.
Ia menatap bibirku. Lalu menatapku. Lalu menatap bibirku lagi.
“Bibir nggak dikompres, Tam.”
“Bibirku panas.”
“Bibir nggak bisa demam.”
“Bibirku bisa.” Aku menatapnya dari balik tiga handuk. “Bibirku spesial. Bibirku CFO.”
Ia diam lama. Ia meletakkan handuk keempat kembali ke baskom. Lalu ia membungkuk, mengangkat handuk di dahiku sedikit, dan mencium dahiku. Lalu pipi kiriku, di balik handuk. Lalu pipi kananku. Lalu, perlahan, bibirku.
Ia menahannya di sana tiga detik.
Lalu ia menarik diri.
“Udah dikompres,” katanya. Datar. Dengan wajah yang merah sampai ke leher.
Aku berbaring dengan tiga handuk basah di wajahku dan jantung yang berdetak terlalu cepat untuk orang yang suhunya tiga puluh enam koma sesuatu.
“Obatnya,” kataku pukul sepuluh.
Ia menyodorkan dua tablet parasetamol di piring kecil.
Aku menatap tablet itu. Aku menggeleng.
“Bukan itu.”
“Ini obat demam.”
“Aku nggak butuh obat demam.” Aku duduk lebih tegak di antara bantal. “Aku butuh obat yang lain.”
Ia menunggu.
“Ciuman,” kataku. Dengan nada dokter yang membaca resep. “Tiga kali sehari. Sesudah makan. Diminum sampai habis.”
Ia menatapku.
“Itu bukan obat, Tam.”
“Itu obat. Aku udah riset. Ada jurnal ilmiahnya. Ciuman bikin hormon oksitosin naik, oksitosin bikin sistem imun membaik.” Aku mengangkat dagu. “Aku CFO. Aku nggak ngomong tanpa data.”
“Jurnal apa?”
“Jurnal... Kedokteran... Romantis Internasional.”
Ia menatapku lama sekali. Lalu ia tertawa. Tawa rendahnya yang keluar dari dada, yang membuat kerutan di sudut matanya dalam.
Lalu ia membungkuk dan menciumku. Satu kali. Lalu menegakkan badan.
“Itu satu,” katanya.
“Itu nggak dihitung. Itu terlalu cepat.”
“Dosisnya nggak ditulis berapa lama.”
“Dosisnya ditulis di catatan kaki.” Aku menarik kerah kausnya. “Minimal lima detik per dosis. Kalau kurang, harus diulang.”
Ia membiarkan dirinya ditarik.
Dosis pertama berlangsung jauh lebih lama dari lima detik.
Ia mendongeng untukku pukul sebelas.
Aku yang meminta. Aku bilang orang sakit butuh didongengkan. Aku bilang Eyang dulu mendongengkanku waktu aku demam.
Ia duduk bersandar di kepala kasur. Aku berbaring dengan kepala di pahanya. Ia mengelus rambutku dengan satu tangan.
“Dongeng apa?” tanyanya.
“Apa aja.”
Ia diam sebentar.
“Dahulu kala,” katanya, dengan suara rendah yang pelan, “di sebuah hutan di Jawa, ada pohon kepayang.”
Aku memejamkan mata.
“Pohon kepayang punya buah yang bijinya beracun. Ada sianida di dalamnya. Kalau dimakan mentah, orang bisa mati. Jadi semua hewan di hutan menghindarinya. Monyet nggak mau. Burung nggak mau. Babi hutan nggak mau.”
Tangannya terus mengelus rambutku. Pelan. Teratur.
“Terus suatu hari, datang seorang nenek. Nenek itu ambil biji kepayang, dibawa pulang. Dia rendam biji itu dua hari. Dia kubur di dalam abu. Dia tunggu. Berminggu-minggu. Semua tetangga bilang nenek itu gila. Biji beracun, kok disimpan.”
Aku mendengarkan. Aku tahu dongeng ini. Ia menceritakannya padaku di malam kedua, di Sekar Kedhaton, sambil mengulek bumbu rawon. Tapi malam itu ia menceritakannya sebagai fakta. Hari ini, ia menceritakannya seperti dongeng.
“Setelah berminggu-minggu, nenek itu buka abu itu. Dan biji yang beracun itu sudah berubah. Hitam. Berminyak. Wangi.” Ia diam sebentar. “Dia masak biji itu jadi rawon. Dan semua tetangga yang tadinya bilang dia gila, datang ke rumahnya, minta semangkuk.”
“Terus?” bisikku.
“Terus nenek itu bilang ke cucunya,” lanjutnya, dan tangannya berhenti di rambutku, “hal-hal yang beracun kadang cuma butuh waktu, dan orang yang sabar.”
Aku membuka mata. Aku menatapnya dari bawah.
“Itu bukan dongeng,” kataku. “Itu kamu.”
“Itu dongeng.”
“Itu kamu, ngomongin aku. Malam kedua. Aku nanya kamu lagi ngomongin kluwek atau aku? Dan kamu bilang kluwek, Bu.”
Ia menatapku. Ia tidak menjawab. Tapi tangannya kembali mengelus rambutku.
“Kamu bohong waktu itu,” kataku.
“Iya,” katanya pelan. “Aku bohong.”
Aku tertidur di pangkuannya, dua menit kemudian. Benar-benar tertidur. Tanpa pura-pura.
Aku terbangun pukul dua siang karena ponselnya berdering.
Ia masih duduk bersandar di kepala kasur. Kepalaku masih di pahanya. Ia mengangkat ponselnya dengan tangan yang tidak mengelus rambutku.
“Halo, Mon.”
Aku mendengar suara Mona dari ponsel itu. Keras. Sangat keras. Mona tidak pernah bicara pelan di telepon.
“Kak, Tamara beneran sakit?”
“Iya.”
“Kakak yakin?”
Matahari diam sebentar. Ia menunduk menatapku di pangkuannya. Aku menatapnya balik dengan mata yang tiba-tiba sangat waspada.
“Kenapa, Mon?” tanyanya.
“Soalnya, Kak,” suara Mona terdengar seperti orang yang sedang menahan tawa dengan sangat buruk, “Tamara barusan update story Instagram. Lagi jogging di GBK. Sepuluh kilometer. Pakai baju olahraga pink. Dengan caption ‘Friday morning run, feeling great!’ dan emoji matahari.”
Hening.
Aku duduk tegak dari pangkuannya dengan sangat cepat. Tiga handuk kompres yang sudah kering jatuh dari kasur.
Aku meraba di bawah bantal. Ponselku. Aku membuka Instagram.
Di sana. Di story-ku. Foto diriku dengan baju olahraga pink, berlari di trek GBK, dengan matahari pagi di belakangku. Diunggah empat puluh menit yang lalu.
Foto dari Jumat lalu.
Sasha. Sasha menjadwalkan konten Instagram-ku seminggu ke depan, karena Sasha bilang CFO harus punya personal branding yang konsisten, dan aku menyetujuinya tanpa membaca jadwalnya.
“Kak?” suara Mona dari ponsel. “Kak, kenapa diem?”
Aku menatap Matahari.
Matahari menatapku.
Lalu ia berkata ke ponselnya, dengan suara yang sangat tenang:
“Makasih, Mon. Nanti Kakak telepon balik.”
Ia menutup telepon.
Ia meletakkan ponselnya di nakas. Lalu ia mengambil termometer digital yang sejak pagi tergeletak di sana, dengan layar menghadap ke bawah.
Ia membaliknya.
36,5°C.
Aku menatap angka itu. Aku menatapnya.
“Kamu,” kataku pelan, “kamu tahu.”
“Dari jam lima pagi.”
“Dari jam lima pagi?”
“Kamu bangun lima menit sebelum alarm. Kamu nggak pernah bangun sebelum alarm. Aku dengar kamu di kamar mandi.” Ia diam sebentar. “Kamu latihan bilang uhuk.”
Aku menutup wajahku dengan dua tangan.
“Tiga kali,” tambahnya. “Yang ketiga lumayan.”
Aku jatuh ke kasur dan menenggelamkan wajahku di bantal. “Kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu libur? Kenapa kamu bikin bubur? Kenapa kamu kompres aku? Kenapa kamu kasih dosis lima detik?”
Ia diam lama.
Lalu aku merasakan kasur bergerak. Ia berbaring di sebelahku. Aku merasakan tangannya di punggungku, mengusap pelan, naik turun.
“Tam,” katanya.
Aku tidak mengangkat wajah dari bantal.
“Kamu sehat,” katanya pelan. “Aku tahu dari pagi kamu sehat.”
Aku menunggu.
“Tapi aku suka ngerawat kamu.”
Aku mengangkat wajah dari bantal.
Ia berbaring di sebelahku, menatapku dengan mata yang tenang dan dalam, dan telinga yang merah, dan wajah yang tidak bercanda.
“Dua puluh satu tahun aku ngerawat Mona,” katanya. “Karena harus. Karena nggak ada yang lain. Karena kalau aku nggak ngerawat dia, nggak ada yang ngerawat.”
Ia menyelipkan rambutku yang berantakan ke belakang telinga.
“Kamu orang pertama yang aku rawat karena aku mau.”
Aku menatapnya.
Wajahku panas. Leherku panas. Telingaku panas. Panas yang naik dari dada ke ubun-ubun, seperti termometer yang dicelupkan ke air mendidih. Kalau ia menyelipkan termometer digital itu di bawah lidahku sekarang, aku yakin angkanya tiga puluh sembilan koma empat.
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.
Aku menutup mulut.
Lalu aku menarik bantal dan menutup wajahku lagi.
“Kamu curang,” kataku dari balik bantal. Teredam. Pecah. “Kamu selalu curang.”
“Kenapa curang?”
“Karena aku udah nyusun strategi dari Kamis malam. Tiga lapis. Dengan rencana mitigasi. Aku latihan uhuk tiga kali. Aku minta bubur ditiup mesra. Aku minta bibir dikompres. Aku bikin jurnal ilmiah palsu.” Aku menurunkan bantal sedikit. Hanya mataku yang terlihat. Mata yang berkaca-kaca. “Dan kamu bales pakai satu kalimat. Aku suka ngerawat kamu. Dan aku langsung KO.”
Ia tersenyum. Senyum kecil di sudut bibir.
“Efisiensi,” katanya.
Aku memukul dadanya dengan bantal.
Malam itu, pukul tujuh, aku memasak bubur untuknya.
Aku memaksanya berbaring di kasur. Aku bilang gantian. Aku bilang sekarang ia yang pura-pura sakit. Ia protes. Aku mengeluarkan termometer digital dan mengancam akan memasukkannya ke mulutnya. Ia berbaring.
Aku memasak bubur dengan resep yang ia ajarkan di les kedua puluh tiga, di dapur Omah Rembulan. Kaldu ayam. Nasi. Api kecil. Diaduk terus.
Buburnya gosong di bawah.
Tidak banyak. Sedikit. Kerak cokelat tipis yang menempel di dasar panci. Tapi bau gosongnya memenuhi dapur, dan aku berdiri di depan kompor dengan sendok kayu di tangan dan wajah yang sangat kecewa.
Aku membawanya ke kamar. Aku duduk di tepi kasur. Aku menyendok bubur itu, bagian atas yang tidak gosong, dan meniupnya. Pelan. Seperti meniup lilin ulang tahun. Sambil menatapnya.
Ia menatapku meniup bubur.
Telinganya merah.
Aku menyodorkan sendok itu ke mulutnya.
Ia makan. Ia mengunyah. Ia menelan.
“Gosong,” katanya.
“Sedikit.”
“Enak.”
“Itu bohong.”
“Iya,” katanya. Lalu ia tersenyum. “Tapi aku nggak akan bilang.”
Aku menyuapinya sampai mangkuk itu habis. Termasuk kerak gosong di bawahnya, yang ia minta sendiri. Katanya kerak gosong itu yang paling enak.
Itu juga bohong.
Ia tahu aku tahu. Dan kami berdua pura-pura percaya.
Malam itu, waktu lampu tidur sudah dimatikan, waktu aku sudah memeluknya seperti koala, waktu ia sudah hampir mendengkur, aku berbisik ke lehernya:
“Matahari.”
“Hm.”
“Besok aku sakit lagi, boleh?”
Hening. Lalu tawanya. Pelan. Rendah. Bergetar di dadanya, di bawah pipiku.
“Kamu nggak perlu sakit,” katanya, “buat dirawat.”
Aku memejamkan mata.
Ia benar. Aku tidak perlu.
Tapi aku menyimpan termometer digital itu di nakas, dengan layar menghadap ke bawah.
Untuk jaga-jaga.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan
- 42 Extra 1 — CFO di Kantor, Bocah di Rumah
- 43 Extra 2 — Sakit Pura-Pura reading
- 44 Extra 3 — Istri di Kursi Nomor Satu
- 45 Extra 4 — Lebaran Pertama
- 46 Extra 5 — Pernikahan Bulan
- 47 Extra 6 — Buku Kupon Jilid Dua
- 48 Extra 7 — Dua Garis