← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Forty One

Epilog — Pidato Bulan

POV: Mona

Aku sudah presentasi di depan investor Singapura dengan proyektor yang mati di tengah jalan. Aku sudah membuat vendor Cikarang minta maaf tiga kali dalam satu telepon. Aku sudah memimpin rapat direksi, rapat anggaran, rapat krisis waktu gudang Sidoarjo kebanjiran di musim hujan. Aku sudah berdiri di depan tiga ratus dua puluh pekerja per shift dan menjelaskan SOP baru tanpa membaca catatan.

Aku tidak pernah gugup.

Malam itu, di pendopo rumah Eyang di Laweyan, dengan mikrofon di tangan dan selembar kertas yang sudah kulipat dan kubuka dua puluh kali, aku gugup sampai lututku gemetar.

Resepsi dimulai pukul tujuh malam. Pendopo diterangi lampu-lampu minyak yang Dimas pasang di setiap tiang, puluhan, mungkin ratusan, karena ia bilang ia mau pendopo ini kelihatan kayak Fête des Lumières, Mbak, tapi versi Laweyan. Janur kuning di setiap sudut. Melati yang digantung dari atap. Bau garang asem dari dapur Eyang, karena Dimas memasak dua ratus pincuk sejak subuh, dengan dandang Eyang dan dandang Bu Ratih dan tiga dandang pinjaman dari tetangga.

Kakak dan Tamara duduk di pelaminan sederhana di ujung pendopo. Bukan kursi raja dan ratu. Dua kursi kayu jati dari rumah Eyang, yang biasa dipakai Eyang untuk duduk di teras sore hari. Kakak dengan beskap hitam berbordir emas. Tamara dengan kebaya beludru dan paes ageng dan lipstik merah yang, aku perhatikan, sudah sedikit pudar di sudut. Pasal Empat. Aku tahu kenapa pudar. Aku melihat mereka di belakang pendopo setengah jam lalu, waktu mereka kira tidak ada yang melihat.

Bintang duduk di barisan depan. Ia menatapku. Ia mengangguk sekali.

Pembawa acara memanggil namaku.

Aku berdiri. Aku berjalan ke tengah pendopo, ke depan pelaminan. Aku memegang mikrofon. Aku membuka kertas yang sudah kulipat dua puluh kali.

Aku menatap kertas itu. Tiga halaman. Ditulis dengan struktur. Pembukaan, isi, penutup. Ucapan terima kasih yang disusun berdasarkan urutan kepentingan. Lelucon yang sudah kuuji coba ke Bintang dan ia tidak tertawa sama sekali, yang artinya lelucon itu bagus karena Bintang tidak pernah tertawa di depan orang.

Aku menatap Kakak di pelaminan.

Ia menatapku balik. Dengan mata yang tenang dan dalam. Mata yang menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu di malam pesta Seri C, dan bilang kamu cantik banget malam ini, Mon, Kakak jadi takut sendiri.

Aku melipat kertas itu lagi. Aku memasukkannya ke saku kebaya.

Aku tidak butuh kertas.


“Selamat malam,” kataku.

Pendopo hening. Bahkan jangkrik di halaman berhenti.

“Nama saya Mona. Mona Rembulan Wirasena. Saya adiknya mempelai laki-laki.” Aku menelan. “Satu-satunya adik. Satu-satunya keluarga.”

Aku melirik ke Tamara. Ia tersenyum. Cincin dengan batu berwarna madu di jari manisnya, dan di sebelahnya, cincin kawin lama ayahnya yang sekarang punya kesempatan kedua.

“Sampai hari ini,” tambahku.

Beberapa tamu tertawa. Ayah Tamara, di barisan depan, tertawa paling keras.

“Ibu saya,” lanjutku, “kasih nama kami Matahari dan Bulan. Ibu bilang, satu untuk siang, satu untuk malam. Supaya rumah kami nggak pernah gelap.”

Aku menatap lampu-lampu minyak di setiap tiang pendopo.

“Ibu meninggal waktu saya delapan tahun. Kakak sepuluh. Dan rumah kami gelap, setelah itu. Gelap banget. Kontrakan satu kamar di gang sempit di Tebet. Satu kasur. Satu kompor minyak tanah. Lampu gang yang mati seminggu dan nggak ada yang benerin.”

Pendopo sangat hening sekarang.

“Tapi Ibu benar soal satu hal,” kataku. Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya. “Selama ada Kakak, saya nggak pernah benar-benar di dalam gelap.”

Aku menatap Kakak. Matanya sudah basah.

“Kakak bangun jam empat pagi. Kerja enam belas jam. Cuci piring di warung Pak Darto dari umur empat belas.” Aku menoleh ke Pak Darto, yang duduk di barisan kedua dengan tongkatnya, menyeka matanya dengan ujung sarung. “Kakak bawa pulang mi rebus sisa setiap malam. Kami makan di atap. Satu mangkuk, dua sendok. Kakak selalu kasih telurnya ke saya. Kakak bilang dia nggak suka telur.”

Aku tertawa. Basah.

“Itu bohong. Kakak suka telur. Kakak cuma bilang nggak suka, supaya saya makan.”

Beberapa tamu tertawa. Lebih banyak lagi yang menyeka mata.

“Kakak bayar SPP saya. Bayar uang kuliah saya. Kakak robek surat beasiswa ke Prancis waktu dia dua puluh dua tahun, karena saya nulis Kakak jangan tahu di pinggir tagihan semester.” Aku menatap Antoine, di barisan ketiga, yang mengangguk perlahan dengan mata berkaca-kaca. “Kakak tahan cutter pakai lengannya waktu saya delapan belas tahun. Empat belas jahitan. Dia masuk kerja besoknya.”

Aku menatap lengan kiri Kakak, di balik beskap hitam berbordir emas. Aku tidak bisa melihat bekas luka itu dari sini. Tapi aku tahu di mana letaknya. Aku sudah menyentuhnya.

“Tiga puluh satu tahun,” kataku. “Tiga puluh satu tahun Kakak jadi matahari buat saya. Bangun duluan. Terbenam belakangan. Nggak pernah, sekali pun, bilang capek.”

Air mataku jatuh. Aku tidak mengusapnya.

“Dan saya,” lanjutku, “saya jaga dia balik. Dengan cara saya. Saya bikin bekalnya setiap pagi. Delapan belas tahun. Saya ingetin dia makan. Saya usir semua perempuan yang deket-deket dia.”

Tawa meledak dari barisan belakang. Dimas, dengan apron yang belum dilepas, tertawa paling keras. Bu Ratih memukul lengannya.

“Saya usir semuanya,” ulangku, tersenyum. “Barista. Tetangga. Guru les piano yang sekarang tinggal di Balikpapan dan, saya dengar, sudah menikah dan bahagia.”

Tawa lagi.

“Saya usir semuanya,” kataku, dan suaraku turun, “kecuali satu.”

Aku menoleh ke Tamara.

Ia menatapku dari kursi kayu jati Eyang. Air matanya sudah jatuh, membuat garis tipis di paes di pipinya. Ia tidak mengusapnya.

“Yang satu ini,” kataku, “nggak bisa saya usir. Karena dia atasan saya. Karena dia nggak takut sama saya. Karena dia nawar kontrak dua belas pasal saya pakai pulpen merah dan menang di sebelas pasal.” Aku menelan. “Dan karena dia satu-satunya orang yang pernah bikin kakak saya senyum ke ponsel.”

Tamara menutup mulutnya dengan tangan.

“Saya kira saya kalah,” kataku. “Saya kira kalau ada perempuan yang datang, Kakak bakal pergi. Ninggalin saya. Kayak Ibu. Kayak Bapak.”

Aku menatap Kakak.

“Ternyata nggak,” kataku pelan. “Ternyata Kakak nggak pergi. Kakak cuma pindah tempat berdiri.”

Aku melirik ke barisan depan. Bintang menatapku dengan mata yang, untuk pertama kalinya yang pernah kulihat di depan orang, basah.


Aku menarik napas.

“Kak,” kataku. Langsung ke pelaminan. Bukan ke tamu. Ke kakakku.

Kakak menatapku.

“Tiga puluh satu tahun Kakak jadi matahari buat aku,” kataku. Tanpa saya lagi. Aku tidak bisa memakai saya untuk kalimat ini. “Mulai hari ini, aku titip mataharinya.”

Aku menoleh ke Tamara.

“Tam. Jaga dia dari dirinya sendiri. Dia bakal bilang udah waktu kamu tanya dia udah makan. Jangan percaya. Tanya lagi. Dia bakal bilang suka telur gosong. Itu bohong. Dia bakal angkat telepon dariku di tengah ngomong sama kamu.” Aku tersenyum. “Biarin. Dia bakal telepon balik kamu.”

Tamara mengangguk. Air matanya jatuh lebih deras. Ia menggenggam tangan Kakak di antara kursi mereka.

Aku kembali menatap Kakak.

Laki-laki yang memeluk adiknya di pemakaman Ibu. Yang naik ke atap kontrakan di Tebet dengan mi rebus bungkus. Yang berdiri di depan adiknya di gang gelap, tangan direntangkan seperti tembok. Yang merobek mimpinya jadi delapan bagian. Yang berlutut di lantai teraso di depan perempuan berlipstik merah dan bilang aku sayang kamu dengan suara yang tidak pernah ia pakai sebelumnya.

Yang sekarang duduk di kursi kayu jati Eyang, dengan beskap yang labelnya kupotong, menggenggam tangan perempuan yang ia pilih.

Duluan.

“Kak,” kataku. Suaraku pecah sepenuhnya sekarang. Aku tidak peduli. “Aku sayang Kakak.”

Kalimat itu.

Kalimat yang kuucapkan di malam pesta Seri C sebagai candaan, sambil membetulkan dasinya. Kalimat yang kuucapkan di atap kontrakan di Tebet sambil memegang bekas lukanya, dengan makanya sekarang Kakak harus pergi di belakangnya.

Malam ini, aku mengucapkannya tanpa apa pun di belakangnya.

Tanpa candaan. Tanpa makanya. Tanpa permintaan.

Hanya itu.

“Aku sayang Kakak,” ulangku. “Selamat menikah, Matahari.”


Pendopo itu tidak bertepuk tangan.

Tidak langsung. Semua orang diam. Seperti tidak ada yang mau memecahkan sesuatu yang rapuh.

Lalu Kakak berdiri dari kursinya.

Ia berjalan dari pelaminan ke tengah pendopo, ke tempat aku berdiri dengan mikrofon di tangan. Dengan beskap hitam dan blangkon dan kain sidomukti. Di depan semua tamu. Di depan penghulu yang masih duduk di pojok. Di depan perias yang panik karena paes pengantin laki-laki seharusnya tidak dipakai berjalan-jalan.

Ia berdiri di depanku. Ia menatapku.

Lalu ia memelukku.

Di tengah pendopo rumah Eyang. Di bawah ratusan lampu minyak yang Dimas pasang supaya kelihatan seperti Fête des Lumières versi Laweyan. Di depan seratus tamu.

Ia memelukku seperti di pemakaman Ibu. Seperti di atap kontrakan di Tebet. Seperti di depan pintu Omah Rembulan, di bawah papan nama berukir dari Jepara.

Aku memeluknya balik. Mikrofon di tanganku menangkap suara napas kami berdua yang berantakan, dan memperbesarnya ke seluruh pendopo.

“Makasih, Bulan,” bisiknya di rambutku.

Mikrofon menangkapnya juga.

Lalu pendopo itu bertepuk tangan.


POV: Tamara

Kamar pengantin di rumah Eyang dihias perias dengan melati.

Ratusan kuntum. Di atas kasur kayu, di bingkai cermin rias tua, di ambang jendela yang menghadap ke halaman belakang dan pohon salam yang daunnya dulu Eyang petik untuk garang asem. Lampu minyak kecil di nakas. Wangi melati dan, samar sekali, dupa dari pendopo.

Aku duduk di tepi kasur. Paes ageng sudah dihapus. Sanggul bokor mengkurep sudah dilepas, cunduk mentul emas sudah disimpan di kotak kayu, rambutku tergerai sampai punggung untuk pertama kalinya sejak subuh. Kebaya beludru sudah kuganti dengan kain batik sidomukti yang dililitkan dan kemben sederhana.

Lipstik merah masih di bibirku. Aku memakainya lagi setelah semua riasan dihapus. Dua gerakan. Atas, lalu bawah.

Pintu kamar terbuka. Lalu menutup. Kunci berputar.

Matahari berdiri di ambang pintu. Beskapnya sudah dilepas. Blangkon sudah disimpan. Ia memakai kemeja putih yang kancingnya dibuka dua di atas, dan kain batik sidomukti yang sama denganku. Rambutnya berantakan karena blangkon. Lengan kemejanya digulung sampai siku.

Garis pucat panjang di lengan kirinya terlihat jelas di bawah lampu minyak.

Ia menatapku. Dari ujung rambut yang tergerai sampai kaki yang telanjang di atas lantai ubin kuning yang dingin. Lalu kembali ke wajahku.

Lalu bibirku.

“Merah,” katanya pelan.

“Aku pakai lagi.”

“Kenapa?”

Aku berdiri dari tepi kasur. Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Dengan kain batik yang menyapu lantai ubin.

“Karena,” kataku, berhenti di depannya, cukup dekat untuk mencium bau melati dan dupa dan, di bawah semuanya, asap kayu dan sabun mandi, “aku pakai lipstik merah di malam pertama aku ketemu kamu. Di pesta Seri C. Dari pojok ruangan.”

Ia menatapku.

“Aku mau pakai lagi,” bisikku, “di malam pertama aku jadi istrimu.”

Ia tidak bicara. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipiku. Ibu jarinya, dengan kapalan di sisi telunjuk dan bekas luka bakar di pangkalnya, mengusap tulang pipiku. Lalu turun. Ke sudut bibirku.

Berhenti di sana.

Seperti di les ketiga, waktu ada titik cabai di sana dan ia menyerahkan kain kepadaku dan aku menyebutnya pengecut.

Seperti di malam garang asem pertama, waktu ia bilang masih merah, sedikit pudar, di sini.

“Tamara,” katanya.

“Hm.”

Ia menatapku dengan mata hitam yang dalam, dan basah, dan tidak takut lagi.

“Aku cinta kamu.”

Kalimat itu.

Di balkon lantai tiga puluh dua, dengan pisau dari Mona di kursi sebelah. Di chef’s table Omah Rembulan, berlutut di depan kursi yang namanya terukir selamanya.

Malam ini, di kamar Eyang. Di rumah tempat aku dibesarkan sampai umur dua belas. Di rumah yang aku tinggalkan, dan ia bawa aku pulang.

Aku menatapnya. Aku mengangkat tangan, meraih tangan kirinya, dan menyusuri garis pucat panjang di lengan bawahnya dengan ujung jariku. Dari pergelangan, ke atas, sampai hampir ke siku. Empat belas jahitan.

Ia tidak menarik lengannya.

“Aku cinta kamu,” kataku. “Matahari Wirasena. Suamiku.”

Kata itu terasa aneh di mulutku. Seperti rawit utuh. Mengejutkan, sedikit menyakitkan, dan membuat mataku berair.

Suamiku.

Ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang naik dari sudut bibir, sampai ke matanya, sampai kerutan di sudutnya dalam.

Lalu ia menunduk.

Dan menciumku.

Lampu minyak di nakas berkedip.

Di luar jendela, di halaman belakang rumah Eyang, pohon salam bergoyang pelan ditiup angin malam. Di pendopo, sayup-sayup, suara Dimas dan Bu Ratih yang masih mencuci dandang. Suara Raka yang tertawa. Suara Mona yang memarahi seseorang karena menaruh piring kotor di tempat yang salah, dan suara Bintang yang menjawab hm.

Aku tidak mendengar apa pun lagi setelah itu.

Hanya napasnya. Dan napasku.

Dan di suatu tempat, di tengah malam, tanganku menemukan lampu minyak di nakas, dan memadamkannya.


Pagi harinya, aku bangun sebelum dia.

Ia tidur telungkup, satu lengan terulur di atas kasur ke arahku, ke tempat aku tadi berbaring. Lengan kiri. Garis pucat itu terlihat di bawah cahaya pagi yang masuk lewat celah jendela.

Ia mendengkur. Pelan. Seperti kompresor AC yang lelah.

Aku tersenyum.

Aku turun dari kasur pelan-pelan. Aku mengambil buku tulis bersampul batik dari tas kecilku. Aku berjalan ke dapur Eyang.

Dapurnya masih bau garang asem dari semalam. Dandang tembaga Eyang sudah dicuci Dimas, ditiriskan di rak. Di meja beton, sisa-sisa bahan: telur, cabai, daun bawang.

Aku membuka buku itu di halaman kedua.

Telur dadar.

Di pinggirnya, tulisan anak sebelas tahun: telor jgn gosong. api kecil.

Aku menyalakan kompor. Api kecil.

Aku memecahkan telur ke mangkuk. Mengocoknya dengan garpu. Bukan whisk. Aku mengiris cabai, memasukkannya ke minyak dulu, biar wanginya keluar. Lalu telur.

Api kecil.

Ketika aku membaliknya, sisi bawahnya kuning keemasan. Sempurna.

Tidak gosong.

Aku memasukkannya ke kotak bekal stainless yang Mona titipkan padaku semalam, di belakang pendopo, dengan satu kalimat: Sekarang punyamu.

Nasi. Telur dadar. Tumis buncis yang dipotong miring. Sambal bajak di wadah terpisah.

Dari kamar, aku mendengar dengkurnya berhenti. Langkah kaki di lantai ubin. Lalu ia muncul di ambang pintu dapur Eyang, dengan rambut berantakan dan kemeja putih yang kusut dan mata yang masih setengah terpejam.

Ia melihatku. Ia melihat kotak bekal di meja.

Ia berhenti.

“Kamu masak,” katanya.

“Kupon satu,” kataku. “Tamara memasak untuk Matahari. Risiko ditanggung penerima.”

Ia berjalan ke meja. Ia membuka kotak bekal itu. Ia menatap telur dadar yang kuning keemasan.

“Nggak gosong,” katanya pelan.

“Kamu suka yang gosong?” tanyaku.

Ia mengangkat wajah dari kotak bekal. Ia menatapku. Lalu ia tersenyum, senyum yang membuat kerutan di sudut matanya dalam, senyum yang dulu cuma muncul satu kali setahun, di ulang tahun adiknya.

“Nggak,” katanya. “Itu bohong.”

Aku tertawa. Ia memelukku dari belakang, dagunya di bahuku, dan kami berdiri di dapur Eyang di pagi hari pertama kami sebagai suami-istri, dengan kotak bekal di meja dan bau daun salam di udara.

Di luar jendela dapur, matahari pagi naik di atas genteng-genteng Laweyan.

Dan di langit sebelah barat, masih belum tenggelam, pucat di bawah cahaya pagi, bulan.

Mereka berdua di langit yang sama.

Untuk pertama kalinya, tidak ada yang harus menunggu yang lain terbenam.


TAMAT