Chapter Eighteen
Setelah Jam Tutup
POV: Hari
Kursi nomor satu sudah dipesan atas namanya dua puluh dua malam. Malam ini malam kedua puluh dua.
Aku tahu karena Bu Ratih memberi tahuku sejak pagi, dengan wajah duka seperti mengumumkan berita lelayu.
“Malam terakhir, Chef.”
“Bu, dia pacar saya. Dia bisa datang kapan aja.”
“Bukan itu masalahnya, Chef.” Bu Ratih menutup buku reservasi dengan sangat pelan. “Dua puluh dua malam itu sejarah. Saya mau tulis di buku tamu. Tinta emas.”
“Kita nggak punya tinta emas.”
“Saya beli tadi pagi.”
Ia benar-benar membeli tinta emas. Pulpen gel dengan tinta emas, dari toko alat tulis di dekat rumahnya, yang ia keluarkan dari tas dengan sikap seorang juru tulis kerajaan.
Dimas, dari depan kompor, mengusulkan agar kami memasang spanduk. Aku menolak. Dimas mengusulkan agar kami memutar lagu Begadang waktu Tamara masuk. Aku melempar serbet basah ke arahnya. Serbet itu meleset dan mengenai kucing oranye di pintu belakang, yang menatapku dengan pandangan penuh dendam.
Ia datang pukul tujuh lewat sepuluh, di tengah servis Jumat malam yang penuh.
Kursi dua sampai delapan diisi rombongan dari sebuah firma hukum yang sedang merayakan kemenangan kasus. Tujuh orang berjas, berdasi, berbicara keras tentang pasal-pasal yang tidak kumengerti. Mereka berhenti bicara waktu Tamara berjalan ke kursi nomor satu.
Ia memakai gaun hitam lagi. Bukan gaun malam pesta Seri C, yang potongannya lurus dan tegas. Gaun ini lebih lembut, dari kain yang jatuh mengikuti tubuhnya seperti air, dengan tali tipis di bahu dan punggung yang terbuka sampai ke tengah. Rambutnya disanggul tinggi, menampakkan leher dan bahu dan garis punggungnya. Anting panjang dari emas putih yang berayun setiap ia menoleh. Lipstik merah. Bukan merah bata, bukan transferproof. Merah yang asli. Merah malam pertama.
Ia duduk. Ia menyilangkan kaki. Ia menatapku dari seberang meja dapur.
Seorang pengacara di kursi nomor dua menjatuhkan garpunya.
Aku tidak menjatuhkan apa pun. Aku sudah belajar. Tapi aku harus memegang tepi meja stainless sebentar, dan Dimas di sebelahku, yang melihat aku memegang tepi meja, berbisik dengan nada khidmat: “Tahan, Chef. Masih tujuh hidangan lagi.”
Servis malam itu adalah servis paling sulit dalam karierku.
Bukan karena makanannya. Makanannya aku hafal. Tujuh hidangan, urutan yang sama, takaran yang sama, waktu yang sama. Tanganku bisa melakukannya sambil tidur.
Masalahnya, setiap kali aku meletakkan piring di depan kursi nomor satu, ia melakukan sesuatu.
Hidangan pertama, lemper ayam asap. Waktu aku meletakkannya, ia menyentuh punggung tanganku dengan ujung jarinya. Sekilas. Lalu menarik jarinya dan berkata dengan sopan, cukup keras untuk didengar para pengacara: “Terima kasih, Chef.”
Hidangan kedua, soto bening. Waktu aku menuangkan kuah dari teko kecil ke mangkuknya, ia mencondongkan badan untuk menghirup uapnya, dan gaunnya, dengan tali tipis di bahu itu, bergeser sedikit. Aku menuang terlalu banyak. Kuahnya hampir tumpah dari mangkuk.
“Hati-hati, Chef,” katanya lembut. “Nanti tumpah.”
Hidangan ketiga, rawon. Ia tidak menyentuh tanganku kali ini. Ia hanya mengambil sendok, mencicipi kuah, dan perlahan, sangat perlahan, menjilat sudut bibirnya. Sambil menatapku.
Di kursi nomor tiga, seorang pengacara perempuan berumur lima puluhan menyikut rekan di sebelahnya dan berbisik sesuatu yang membuat mereka berdua menatapku dengan mata lebar.
Hidangan keempat, aku menyerahkan tugas meletakkan piring ke Dimas.
“Chef,” bisik Dimas, “saya nggak berani.”
“Kenapa?”
“Bu Tamara bisa bikin saya jatuh cinta juga, Chef.”
“Dim.”
“Saya serius, Chef. Saya baru putus sama calon pacar.”
Aku akhirnya meletakkan sendiri hidangan keempat. Ia tersenyum padaku, senyum kecil yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan, dan aku kembali ke kompor dengan telinga yang mungkin bisa dipakai untuk menggoreng telur.
Hidangan terakhir, dessert. Klepon dengan saus gula jawa dan kelapa parut yang dibakar. Biasanya aku menata saus gula jawa itu dalam bentuk garis melengkung di piring, satu sapuan dengan punggung sendok.
Malam itu, untuk piring kursi nomor satu, aku menuang saus gula jawa itu dalam bentuk huruf T.
Dengan ujung yang berputar, seperti tanda tangannya.
Aku meletakkan piring itu di depannya tanpa berkata apa-apa.
Ia menatap piring itu. Menatap huruf T dari saus gula jawa yang mengilap di bawah lampu. Ia diam lama. Senyum kecil yang tadi ada di wajahnya, senyum orang yang sedang memenangkan permainan, perlahan berubah jadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih lembut. Sesuatu yang membuat matanya berkaca-kaca sebentar.
Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku, dan berkata tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir:
Curang.
Aku mengangkat bahu, dan kembali ke kompor, dan untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa menang.
Firma hukum pulang pukul sepuluh. Tamu terakhir di ruang makan utama pulang pukul sepuluh empat puluh. Bu Ratih menulis sesuatu di buku tamu dengan tinta emas, menatap tulisannya dengan puas, lalu pamit pulang dengan pandangan penuh arti ke arahku. Dimas mengepel lantai dapur dengan kecepatan yang belum pernah kulihat, lalu pamit dengan kalimat, “Chef, ponsel saya sudah saya bawa. Charger juga. Saya nggak akan balik. Saya sumpah.”
Ia pergi. Pintu belakang menutup. Aku mendengar motornya menyala dan menjauh.
Restoran sunyi.
Aku mematikan lampu ruang makan, satu per satu. Aku menyisakan satu lampu di atas chef’s table dan lampu-lampu di dapur. Aku mematikan api di bawah panci-panci, kecuali satu panci kaldu sapi besar di kompor paling belakang yang harus tetap menyala sampai besok pagi, dengan api terkecil.
Lalu aku berbalik.
Tamara sudah tidak di kursi nomor satu.
Ia di dapur. Ia duduk di atas meja stainless di tengah dapur, meja tempat aku menata piring setiap malam. Duduk di tepinya, kaki bersilang, sepatu haknya sudah dilepas dan diletakkan rapi di lantai, punggungnya yang terbuka diterangi lampu kuning di atasnya.
Ia menatapku dengan dagu sedikit terangkat.
“Kamu tahu,” kataku pelan, berjalan ke arahnya, “itu meja buat plating. Bukan buat duduk.”
“Aku tahu.”
“Itu meja yang paling bersih di dapur ini. Aku lap tiga kali setiap malam.”
“Aku tahu. Aku lihat kamu lap tadi.” Ia tidak bergerak. “Makanya aku duduk di sini.”
Aku berhenti di depannya. Karena ia duduk di atas meja, wajahnya sejajar dengan wajahku. Untuk pertama kalinya, aku tidak perlu menunduk untuk menatapnya.
“Kenapa kamu nggak suruh aku turun?” tanyanya. Suaranya rendah, sedikit serak, seperti suara yang sudah menunggu sepanjang malam untuk dipakai.
Aku tidak menjawab.
Aku meletakkan kedua tanganku di tepi meja, di kedua sisi tubuhnya. Tidak menyentuhnya. Hanya di sana. Mengurungnya di antara lenganku dan meja.
Napasnya berubah.
“Kamu sengaja,” kataku. Bukan pertanyaan.
“Sengaja apa?”
“Gaun ini. Lipstik ini. Jari di tanganku waktu hidangan pertama. Gaunmu yang geser waktu hidangan kedua. Kamu jilat bibir waktu rawon.”
“Kamu hitung.”
“Aku chef. Aku hitung semua yang terjadi di meja chef’s table.”
Ia tersenyum. Perlahan. Lalu ia mengangkat tangan dan meletakkannya di dadaku, di atas jas koki putih yang masih kupakai, dan mulai membuka kancing kainnya. Satu. Dari atas.
“Kalau gitu,” bisiknya, “kamu tahu skornya.”
“Skor apa?”
Kancing kedua.
“Tujuh hidangan. Tujuh kali aku goda kamu.” Kancing ketiga. “Kamu cuma balas satu kali. Saus gula jawa.”
“Itu satu yang paling bagus.”
“Itu curang.” Ia membuka kancing keempat dan berhenti. Jas kokiku terbuka sampai dada. Di baliknya, kaus putih tipis yang sudah basah keringat setelah servis enam jam. Ia meletakkan telapak tangannya di sana, di atas kaus itu, di atas jantungku. “Kamu bikin aku hampir nangis di depan tujuh pengacara.”
“Kamu bikin aku hampir numpahin soto di depan tujuh pengacara.”
“Impas.”
“Nggak impas. Kamu masih unggul enam.”
Ia tertawa. Pelan. Napasnya menyentuh daguku.
“Kalau gitu,” katanya, “kejar ketinggalanmu, Chef.”
Aku menciumnya.
Tidak seperti malam garang asem, di depan dandang, dengan ciuman pelan yang ragu-ragu seperti orang yang baru belajar. Tidak seperti di lobi apartemennya, di bawah gerimis, singkat dan dingin dan manis.
Kali ini aku menciumnya seperti aku sudah menahannya sepanjang servis. Karena memang begitu.
Tangan kananku naik ke belakang lehernya, ke tengkuknya yang terbuka, ke rambut yang disanggul tinggi. Jari-jariku menemukan jepit di sanggul itu dan menariknya lepas. Rambutnya jatuh, cokelat dan bergelombang dan wangi, menutupi tanganku, menutupi bahunya, menutupi punggungnya yang terbuka. Tangan kiriku di pinggangnya, di atas kain gaun yang tipis dan dingin, menariknya lebih dekat ke tepi meja, lebih dekat padaku.
Ia membuka mulutnya di bawah ciumanku, dan ciuman itu berubah. Lebih dalam. Lebih lambat. Lebih berani. Seperti kaldu yang sudah dimasak dua belas jam, yang rasanya tidak bisa diburu-buru, yang terus menjadi lebih dalam setiap jam yang lewat.
Kedua tangannya di dadaku, meremas kausku. Lalu naik ke leherku. Lalu ke rahangku, ke rambutku, menarikku lebih dekat. Kakinya, yang tadi bersilang, terurai, dan aku sekarang berdiri di antara lututnya, di tepi meja stainless yang paling bersih di dapur ini.
Aku berhenti sebentar untuk bernapas. Dahi kami bersentuhan. Napasnya berantakan. Napasku lebih berantakan.
“Matahari,” bisiknya.
“Hm.”
“Kamu,” ia menarik napas, “kamu belajar ini dari mana?”
“Dari kamu.”
“Aku nggak pernah ngajarin ini.”
“Kamu ngajarin ini setiap malam.” Aku mencium sudut bibirnya. “Dari kursi nomor satu.” Rahangnya. “Selama dua puluh dua malam.” Bawah telinganya, di mana anting emas putih panjang itu berayun dan dingin di pipiku. “Aku murid yang rajin.”
Ia gemetar. Aku merasakannya di bawah tanganku, di pinggangnya. Seluruh tubuhnya bergetar seperti nyala api kecil yang ditiup angin.
“Itu,” bisiknya, “itu nggak adil.”
“Kamu yang bilang kejar ketinggalan.”
Ia menarik wajahku kembali ke wajahnya dan menciumku dengan sesuatu yang lebih mirip serangan daripada ciuman. Aku membiarkannya. Aku membalasnya. Di suatu tempat di kepalaku yang sudah tidak berfungsi dengan benar, aku mendengar sesuatu seperti dengung, dan aku pikir itu darahku sendiri.
Lalu dengung itu berubah jadi bunyi bip.
Bip. Bip. Bip.
Lalu bunyi bip itu berubah jadi lengkingan.
Alarm asap.
Lengkingan yang menusuk telinga, keras dan nyaring dan sama sekali tidak romantis, memenuhi seluruh dapur. Lampu merah kecil di langit-langit berkedip-kedip.
Kami terpisah. Tamara menutup telinga dengan dua tangan, rambutnya berantakan di wajahnya. Aku menoleh ke arah kompor paling belakang.
Panci kaldu sapi. Api terkecil. Yang kupikir api terkecil.
Bukan api terkecil. Aku tidak memutarnya sampai benar-benar kecil, karena waktu aku memutarnya, aku sedang menatap punggung Tamara yang terbuka di atas meja stainless dan otakku sudah setengah pergi. Kaldunya sudah menyusut sampai sepertiga. Bagian bawahnya gosong. Asap tebal yang pahit naik dari panci ke cerobong, dan cerobong itu tidak sanggup menyedot semuanya.
Aku berlari ke kompor, mematikan apinya, mengangkat panci itu dengan lap ke bak cuci, dan menyiramnya dengan air. Desis keras. Uap putih bercampur asap abu-abu memenuhi dapur, persis seperti malam les pertama, waktu ia mengangkat telepon dari Raka dan nasi pertamanya gosong.
Alarm masih melengking.
Aku menarik kursi plastik, naik ke atasnya, dan menekan tombol di alarm itu dengan ibu jari sampai suaranya berhenti.
Hening.
Hening yang tiba-tiba sangat sunyi, setelah lengkingan tadi. Hanya desis air di bak cuci dan bunyi lampu neon yang berdengung.
Aku turun dari kursi plastik dan berbalik.
Tamara masih duduk di atas meja stainless. Rambutnya terurai berantakan di bahunya. Lipstiknya, lipstik merah yang asli, bukan yang transferproof, sudah hilang hampir semuanya, berpindah ke tempat-tempat yang aku belum sempat periksa. Tali gaunnya melorot di satu bahu. Ia menatapku dengan mata lebar, napas masih terengah.
Lalu ia mulai tertawa.
Ia tertawa sampai harus memegang tepi meja supaya tidak jatuh. Tertawa sampai air mata keluar dari sudut matanya. Tertawa dengan cara yang membuat bahunya berguncang dan rambutnya bergoyang dan seluruh dapur yang masih bau kaldu gosong terasa lebih hangat.
“Kamu,” katanya di antara tawa, “kamu chef paling hebat di Senopati.”
“Iya.”
“Dan kamu,” ia terengah, “kamu gosongin kaldu.”
“Iya.”
“Kaldu dua belas jam.”
“Delapan belas,” koreksiku. “Itu kaldu delapan belas jam. Dimas yang jaga dari kemarin sore.”
Tawanya meledak lagi. Ia menunjukku dengan jari gemetar. “Kamu harus bilang apa ke Dimas?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu harus bilang, Dim, maaf, kaldumu gosong karena aku lagi—”
“Tamara.”
“—karena aku lagi nyium pacarku di meja plating—”
“Tamara.”
Ia menutup mulutnya dengan dua tangan, tapi bahunya masih berguncang.
Aku menatapnya. Rambut berantakan. Bibir tanpa lipstik. Tali gaun melorot. Tertawa di atas meja plating di dapur yang bau gosong.
Dan aku menyadari sesuatu, berdiri di sana di samping bak cuci dengan lap basah di tangan dan dada yang masih berdebar.
Sepanjang hidupku, aku tidak pernah lupa mengecilkan api.
Tidak sekali pun. Tidak waktu umur empat belas, waktu aku baru belajar dan Pak Darto mengawasi setiap gerakanku. Tidak waktu umur dua puluh, waktu lenganku masih diperban dan aku tetap masuk kerja karena Mona butuh uang buku. Tidak waktu aku demam empat puluh derajat dan Mona harus datang ke restoran mengambil obatku dari loker. Tidak sekali pun. Karena api yang lupa dikecilkan bisa membakar dapur, dan dapur yang terbakar artinya tidak ada gaji, dan tidak ada gaji artinya Mona tidak bisa sekolah.
Seluruh hidupku dibangun di atas tidak pernah lupa. Tidak pernah lengah. Tidak pernah, sedetik pun, membiarkan diriku tenggelam dalam sesuatu yang cuma untukku.
Malam ini, aku lupa.
Malam ini, aku menginginkan sesuatu begitu besar sampai aku lupa kaldu delapan belas jam di kompor paling belakang.
Dan bukannya takut, bukannya merasa bersalah, aku merasa ringan. Seperti seseorang yang sudah membawa karung beras di punggung sejak umur sepuluh tahun, dan baru saja, untuk satu malam, menurunkannya.
Aku berjalan kembali ke meja stainless. Tawanya mereda melihat wajahku.
“Hei,” katanya, lebih lembut. “Kamu kenapa?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku mengangkat tangan dan membetulkan tali gaunnya yang melorot di bahu. Perlahan. Kembali ke tempatnya. Lalu aku menyibakkan rambut dari wajahnya dan menyelipkannya ke balik telinga.
“Aku lupa api,” kataku.
Ia menatapku, bingung.
“Aku nggak pernah lupa api,” kataku. “Seumur hidup. Nggak sekali pun.”
Ia diam. Aku melihat ia mengerti. Pelan-pelan. Seperti asam yang datang belakangan di garang asem Eyang.
“Dan malam ini kamu lupa,” katanya pelan.
“Iya.”
“Karena aku.”
“Karena aku,” koreksiku. “Karena aku pengin sesuatu buat diriku sendiri. Sekali ini.”
Matanya berkaca-kaca. Ia mengangkat tangan dan menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya. Tangannya hangat. Jempolnya mengusap tulang pipiku.
“Kamu boleh pengin,” bisiknya. “Kamu boleh pengin sesuatu buat diri kamu sendiri. Kamu boleh pengin lebih dari sekali.”
“Aku nggak tahu caranya.”
“Aku ajarin.” Ia tersenyum. Senyum yang basah dan hangat. “Aku guru yang bagus. Kamu sendiri yang bilang.”
Aku menatapnya lama. Lalu aku menunduk dan menciumnya lagi. Bukan ciuman yang tadi, yang lapar dan dalam. Ciuman yang pelan. Ciuman terima kasih.
Kami membersihkan dapur bersama setelahnya. Ia membantu menggosok panci yang gosong, dengan gaun hitam yang punggungnya terbuka dan rambut yang terurai dan tanpa sepatu, kakinya yang telanjang di atas lantai dapur yang baru dipel Dimas. Aku memintanya memakai sandal karet yang biasa dipakai Dimas. Ia memakainya. Sandal itu kebesaran empat nomor.
Pukul dua belas lewat dua puluh, aku mengirim pesan ke Dimas.
Dim. Kaldu delapan belas jam gosong. Besok bikin ulang. Aku yang jaga.
Balasan datang dalam dua detik. Dimas belum tidur. Dimas tidak pernah tidur.
Chef. Kaldu saya. KALDU SAYA. Delapan belas jam Chef.
Lalu, tiga detik kemudian:
Chef lupa matiin api???
Iya.
Jeda panjang. Tanda mengetik muncul dan hilang berkali-kali.
Lalu:
Chef. Chef nggak pernah lupa matiin api. Lima tahun saya kerja sama Chef, Chef nggak pernah sekali pun.
Lalu:
Chef lagi ngapain sampai lupa matiin api.
Lalu, sebelum aku sempat membalas:
Jangan dijawab Chef. Saya udah tahu. Saya ikhlas. Kaldu saya gugur demi cinta. Saya akan bikin ulang besok. Chef nggak usah jaga. Chef istirahat aja. Chef pantas istirahat.
Lalu, satu pesan terakhir:
Tapi Chef, besok saya mau kenaikan gaji.
Aku menunjukkan pesan-pesan itu ke Tamara. Ia membacanya sambil memegang spons dan tertawa sampai harus duduk di kursi plastik.
“Kasih,” katanya. “Kasih dia kenaikan gaji.”
“Aku bukan pemilik restoran.”
“Kalau gitu aku yang kasih. Bonus dari CFO.” Ia menyeka matanya. “Dimas pantas dapat bonus. Dia saksi sejarah.”
Aku mengantarnya ke parkiran pukul dua belas empat puluh. Dua puluh meter. Ia berjalan dengan sandal Dimas yang kebesaran, sepatu haknya dijinjing di satu tangan, tangan yang lain menggenggam tanganku.
Di depan mobilnya, ia berbalik.
“Malam kedua puluh dua,” katanya.
“Malam terakhir.”
“Bu Ratih nulis apa di buku tamu?”
“Aku nggak tahu. Dia pakai tinta emas.”
Ia tersenyum. Lalu ia berjinjit, dalam sandal Dimas yang kebesaran, dan mencium sudut bibirku.
“Besok,” katanya, “aku pesan kursi nomor satu lagi.”
“Berapa malam?”
“Semua malam.” Ia membuka pintu mobil. “Sampai Bu Ratih kehabisan tinta emas.”
Ia masuk. Mobilnya pergi. Aku berdiri di parkiran yang gelap dengan lipstik merah di kerah jas kokiku, di leherku, di rahangku, di tempat-tempat yang akan kutemukan nanti di depan cermin dan akan membuatku harus duduk sebentar.
Aku kembali ke dapur untuk mengunci pintu.
Di atas meja kasir, buku tamu Sekar Kedhaton terbuka di halaman terakhir. Di bawah tanda tangan tamu-tamu malam ini, dengan tinta emas yang berkilau di bawah lampu satu-satunya yang masih menyala, tulisan tangan Bu Ratih:
Malam ke-22. Kursi No. 1. Tamara Morgan. Semoga malam ini Chef lupa sesuatu. Sekali-sekali. Biar tahu rasanya.
Aku menatap tulisan itu lama. Lalu aku mengambil pulpen tinta emas yang ia tinggalkan di sebelah buku, dan menulis satu kata di bawahnya, dengan huruf besar yang miring ke kiri seperti tulisan anak SD.
Kaldu.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup reading
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan