Chapter Seventeen
CFO Manja
POV: Tamara
Senin pagi pukul sembilan, aku menghancurkan proposal anggaran Divisi Marketing dalam dua puluh tiga menit.
Itu bukan rekor. Rekorku sembilan belas menit, tahun lalu, untuk proposal yang meminta empat miliar rupiah demi menyewa tiga influencer yang dua di antaranya ternyata punya pengikut palsu. Tapi dua puluh tiga menit cukup untuk membuat Head of Marketing, laki-laki berumur tiga puluh delapan tahun dengan kemeja slim fit dan rambut yang ditata seperti penyanyi boyband awal dua ribuan, berkeringat di bawah AC ruang rapat yang disetel delapan belas derajat.
“Halaman empat,” kataku tanpa mengangkat wajah dari dokumen. “Kamu menghitung customer acquisition cost dengan asumsi retensi enam puluh persen. Data kuartal lalu menunjukkan retensi kita tiga puluh delapan persen. Dari mana enam puluh?”
“Itu proyeksi optimis, Bu.”
“Itu fiksi ilmiah.” Aku membalik halaman. “Halaman tujuh. Kamu minta anggaran satu koma dua miliar untuk brand activation di tiga mal. Aktivasi terakhir di mal menghasilkan dua ratus tiga belas unduhan aplikasi. Itu lima juta enam ratus ribu rupiah per unduhan.” Aku mengangkat wajah. “Kita bisa kirim kurir ke rumah setiap orang, bawakan mereka nasi padang, dan minta mereka unduh aplikasi di depan kurir. Itu lebih murah.”
Seseorang di ujung meja tertawa, lalu cepat-cepat mengubahnya menjadi batuk.
Head of Marketing menelan ludah. “Saya akan revisi, Bu.”
“Kamis. Jam sembilan.” Aku menutup dokumen dan menyerahkannya kembali dengan coretan merah di dua puluh tiga dari tiga puluh satu halaman. “Dan tolong, jangan pakai kata sinergi lebih dari sekali per halaman. Aku hitung empat belas kali di dokumen ini. Itu bukan sinergi. Itu penyakit.”
Ruangan sunyi. Head of Marketing mengangguk dengan wajah pucat dan keluar dengan langkah cepat. Timnya mengikutinya seperti anak itik yang baru dimarahi induknya.
Aku membereskan kertas-kertasku. Sasha, di kursi sebelahku, mengetik catatan rapat dengan ekspresi orang yang sudah terbiasa menyaksikan pembantaian.
Lalu ponselku bergetar di atas meja.
Satu pesan. Dari kontak yang sudah kusimpan dengan nama yang membuat Sasha, waktu tidak sengaja melihatnya kemarin, menjatuhkan tablet ke lantai.
☀️ Matahari
Sudah makan?
Dua kata. Tanpa tanda baca berlebihan, tanpa emoji. Persis seperti cara ia bicara.
Aku menatap layar. Sesuatu di wajahku berubah. Aku bisa merasakannya, seperti otot-otot di pipiku tiba-tiba lupa cara memasang ekspresi CFO.
Sasha berhenti mengetik. Ia menatapku. Ia menatap ponselku. Ia menatapku lagi.
“Bu,” katanya pelan, “Ibu senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Bu, Ibu baru bilang sinergi itu penyakit dua detik yang lalu. Sekarang Ibu senyum kayak abege dapet DM dari idol.”
Aku menegakkan wajah dengan paksa. “Catat rapatnya, Sasha.”
“Udah, Bu. Dari tadi.”
Aku berdiri, mengambil ponsel, dan berjalan ke ruanganku dengan langkah cepat. Aku menutup pintu kaca. Aku menurunkan tirai. Lalu aku menelepon.
Ia mengangkat di dering kedua. Di latar belakang, aku mendengar bunyi pisau di talenan, desis minyak, dan suara Dimas yang berteriak Chef, bawang merahnya tinggal dua kilo!
“Halo,” katanya.
Aku duduk di kursi kerjaku, memutarnya membelakangi pintu, dan memeluk lututku di atas kursi. Aku tidak pernah duduk seperti ini. Kursi ini kursi ergonomis seharga tiga belas juta yang dipilih khusus untuk punggungku. Bukan kursi untuk memeluk lutut.
“Belum,” kataku.
“Belum apa?”
“Belum makan.”
“Ini jam sepuluh.”
“Aku nggak sarapan.”
Hening sebentar. Bunyi pisau di latar belakang berhenti. “Kenapa nggak sarapan?”
“Karena tadi pagi aku nungguin pesanmu, terus pesanmu nggak dateng-dateng, terus aku kesel, terus aku nggak nafsu makan.”
Aku mendengar diriku mengatakan kalimat itu. Dengan suara yang tidak kukenali. Suara yang lebih tinggi satu oktaf, sedikit merengek, sedikit memanjang di ujung kata seperti anak kecil yang sedang membujuk ibunya membelikan es krim.
Aku menutup mulut dengan tangan, ngeri.
Di ujung telepon, Matahari diam.
Lalu ia tertawa. Pelan. Rendah. Tawa yang sekarang sudah lebih sering kudengar, tapi setiap kali masih membuat perutku jungkir balik.
“Kamu,” katanya, “CFO perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia.”
“Iya.”
“Kamu nggak sarapan karena aku telat kirim pesan.”
“Iya.” Aku menurunkan tangan dari mulutku. Percuma. Sudah terlanjur. “Kamu biasanya kirim jam tujuh. Hari ini jam sepuluh. Aku pikir kamu kenapa-kenapa.”
“Aku ke pasar Kramat Jati jam empat pagi. Ada masalah pemasok bawang. Ponselnya di tas.”
“Kamu harusnya kabarin.”
“Aku nggak tahu harus kabarin.”
“Sekarang tahu.”
“Sekarang tahu.” Ia diam sebentar. “Maaf.”
Kata itu, diucapkan dengan suaranya yang rendah dan serak dan sedikit bingung, seperti laki-laki yang baru pertama kali harus meminta maaf karena tidak mengabari pacarnya, membuat seluruh kekesalan pagi ini menguap seperti air di wajan panas.
“Dimaafkan,” kataku. Lalu, lebih pelan, dengan suara yang masih satu oktaf terlalu tinggi: “Tapi kamu harus tanggung jawab.”
“Tanggung jawab gimana?”
“Aku laper.”
“Kamu punya kantin di lantai lima.”
“Aku nggak mau kantin.” Aku memutar kursi perlahan, ke kiri, ke kanan. “Aku mau masakan kamu.”
“Aku lagi di restoran.”
“Aku tahu.”
“Servis siang mulai jam sebelas.”
“Aku tahu.”
“Kamu di Kuningan. Aku di Senopati.”
“Dua puluh menit naik motor. Aku sudah hitung.” Aku memutar kursi lagi. “Kalau kamu sayang aku, kamu dateng.”
Hening yang panjang.
Lalu, dari ujung telepon, suara Dimas yang sangat jelas, sangat keras, seperti ia sedang berdiri tepat di sebelah ponsel: “CHEF, ITU BU TAMARA? BILANG SAYA YANG GANTIIN SERVIS SIANG! CHEF BERANGKAT AJA!”
Aku menutup mulutku lagi. Kali ini untuk menahan tawa.
“Dimas,” kata Matahari ke samping, dengan nada yang biasa ia pakai untuk kucing oranye di pintu belakang.
“Saya bisa handle, Chef! Saya udah tiga tahun! Bu Ratih juga bilang Chef harus berangkat!”
“Berangkat, Chef!” Suara Bu Ratih, dari jarak yang lebih jauh. “Bawa rawon yang tadi!”
Matahari menghela napas panjang. Napas orang yang tahu ia dikepung dari segala arah dan tidak punya jalan keluar.
“Setengah jam,” katanya padaku.
“Dua puluh menit.”
“Setengah jam. Aku harus bungkus dulu.”
“Dua puluh lima.”
“Tamara.”
“Hm?”
“Kamu nawar kayak nawar Seri C.”
“Ini lebih penting dari Seri C,” kataku. “Seri C cuma uang. Ini makan siangku.”
Kesalahanku, kalau dipikir lagi, adalah tidak menutup pintu ruanganku dengan benar.
Pintu kaca itu memang tertutup. Tirainya memang turun. Tapi pintu ruanganku punya celah di bagian bawah, celah setengah sentimeter yang sudah kuminta tim fasilitas perbaiki sejak tiga bulan lalu. Celah setengah sentimeter itu cukup untuk suara keluar.
Dan Raka Wibisana, CEO dan pendiri Blin, kebetulan sedang lewat di depan ruanganku pukul sepuluh lewat tujuh menit, dalam perjalanan ke pantry untuk mengambil yogurt Yunani yang tidak pernah dimakan siapa pun.
Ia mendengar Kalau kamu sayang aku, kamu dateng.
Ia mendengar Seri C cuma uang. Ini makan siangku.
Dan ia mendengar suaraku. Suara yang satu oktaf terlalu tinggi.
Aku tahu ini karena tujuh menit kemudian, grup chat staf Blin, grup dengan tiga ratus empat puluh tujuh anggota yang secara teknis tidak boleh dipakai untuk urusan non-pekerjaan, meledak.
Sasha menunjukkannya padaku dengan wajah pucat. Ia masuk ke ruanganku tanpa mengetuk, menutup pintu, dan menyodorkan tabletnya dengan dua tangan seperti menyerahkan bukti di pengadilan.
Pesan pertama, dari Raka Wibisana (CEO), pukul 10:14:
Teman-teman. Saya mau konfirmasi satu hal. Barusan saya lewat ruangan CFO kita. Saya dengar beliau bilang “kalau kamu sayang aku kamu dateng” dengan suara yang saya tidak pernah dengar selama tiga tahun bekerja dengan beliau. Saya ulangi. TIGA TAHUN. Apakah ada yang bisa konfirmasi apa yang sedang terjadi.
Lalu, dari akun-akun yang tidak kukenal, karena aku tidak pernah membuka grup chat ini:
Pak itu chef nya Pak. Yg di Senopati. Yg les masak itu ya KONFIRMASI DONG yg pegangan tangan di parkiran itu bener?? sumber saya Dimas sous chef nya. dia bilang udah JADIAN HAH Dimas masuk grup ini kok bisa Dimas di grup ini lewat Mbak Sasha @Dimas konfirmasi!!
Lalu, dari akun Dimas Sekar Kedhaton 🌶️, pukul 10:17:
Saya tidak bisa konfirmasi apa-apa. Saya sudah janji sama Chef. Tapi saya bisa bilang Chef barusan berangkat bawa rantang rawon tiga susun ke arah Kuningan pakai motor. Itu aja. Saya tidak bilang apa-apa ya.
Lalu, dari Raka Wibisana (CEO), pukul 10:18:
Saya buka taruhan. Siapa yang mau ikut. Taruhannya: kapan Tamara Morgan menikah. Minimal taruhan 50 ribu. Hasil taruhan untuk kas kegiatan kantor.
Lalu, dari Sasha (EA CFO), pukul 10:19:
Pak Raka, saya bukan mau ikut campur, tapi itu melanggar kebijakan perusahaan soal perjudian di lingkungan kerja.
Lalu, dari Raka Wibisana (CEO), pukul 10:19:
Bukan judi Sas. Ini prediksi pasar. Kayak polling. Kamu yang kelola ya. Kamu kan paling dekat sama sumber.
Lalu, dari Sasha (EA CFO), pukul 10:21:
Baik Pak. Opsi taruhan: (A) Akhir tahun ini (B) Tahun depan (C) Dua tahun lagi (D) Tidak menikah karena Bu Mona tidak mengizinkan. Silakan kirim pilihan via japri. Saya catat di spreadsheet.
Aku menatap Sasha.
Sasha menatapku dengan wajah orang yang tahu ia akan mati, tapi sudah berdamai dengan kematiannya.
“Kamu,” kataku perlahan, “kelola taruhan pernikahanku.”
“Pak Raka yang suruh, Bu.”
“Dan kamu bikin spreadsheet.”
“Saya EA CFO, Bu. Semua harus terdokumentasi.”
Aku menatap layar tablet lagi. Notifikasi masih terus masuk. Seseorang dari tim engineering sudah memilih (B). Seseorang dari tim legal memilih (A) dengan taruhan lima ratus ribu. Seseorang dengan nama Bintang A. hanya mengirim satu pesan, pukul 10:23:
D tidak akan terjadi.
Lalu, satu detik kemudian, pesan dari akun Mona R. Wirasena (Head of Ops), yang jelas-jelas baru dibuka setelah sekian lama tidak aktif:
Saya ingatkan grup ini untuk urusan pekerjaan. Dan saya tidak pernah “tidak mengizinkan” apa pun. Ada dokumen tertandatangan. Opsi D tolong dihapus.
Lalu, dari Raka Wibisana (CEO):
DOKUMEN APA MONA
Grup chat itu meledak lagi.
Aku menyerahkan tablet kembali ke Sasha. Aku berdiri. Aku berjalan ke cermin kecil di dinding ruanganku.
Perempuan di cermin itu menatapku dengan rambut cokelat bergelombang yang sedikit berantakan karena aku tadi memeluk lutut di kursi, kemeja sutra krem yang kerahnya miring, dan wajah yang merah sampai ke telinga. Lipstik merah transferproof, yang menurut Sasha bisa bertahan delapan jam meski dipakai makan gorengan. Mata hazel yang terlalu terang. Senyum yang tidak bisa dimatikan.
Aku cantik pagi ini. Aku selalu cantik. Tapi pagi ini aku cantik dengan cara yang tidak bisa kukontrol, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak keberatan.
“Bu,” kata Sasha di belakangku, pelan. “Ibu mau saya bilang apa ke grup?”
Aku merapikan kerah kemejaku. Aku menyisir rambutku dengan jari. Aku memperbaiki lipstikku, meski lipstik itu tidak perlu diperbaiki.
“Bilang,” kataku, “CFO sedang rapat makan siang dengan vendor katering. Jangan diganggu sampai jam satu.”
“Vendor katering, Bu?”
“Dia memang vendor katering. Restorannya pernah kita pakai untuk acara tahunan dua tahun lalu. Cek di sistem.”
Sasha membuka mulut. Menutupnya. Lalu mengetik di tabletnya dengan kecepatan penuh dan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Ia datang dua puluh delapan menit kemudian.
Aku tahu karena resepsionis lobi menelepon ke lantai dua puluh delapan dengan suara bergetar: Bu, ada... ada tamu untuk Ibu. Bapak-bapak. Pakai jaket ojek. Bawa rantang. Katanya, katanya pacar Ibu?
Aku turun sendiri. Aku tidak menyuruh Sasha menjemput. Aku turun dengan lift, dan di setiap lantai lift berhenti dan orang-orang masuk, dan aku tahu mereka tidak benar-benar butuh turun ke lobi. Lantai dua puluh enam, lima orang dari tim operasional. Lantai dua puluh dua, tiga orang dari tim keuangan, timku sendiri, yang langsung pura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Lantai lima belas, dua orang dari marketing, termasuk Head of Marketing yang proposalnya kuhancurkan pagi tadi.
Lift sampai di lobi dengan empat belas penumpang.
Matahari berdiri di tengah lobi marmer Blin, di bawah lampu gantung modern yang harganya setara dengan dua tahun gaji koki. Ia memakai jaket kulit hitam yang sudah lecet di siku, celana kerja abu-abu, dan sepatu kets yang ada noda kunyit di ujungnya. Rambutnya berantakan karena helm. Di tangannya, rantang besi tiga susun berwarna hijau tua, rantang yang biasa dibawa ibu-ibu ke sawah.
Seluruh lobi menatapnya. Resepsionis. Satpam. Dua kurir paket. Kerumunan karyawan yang tiba-tiba punya urusan mendesak di lobi pukul sepuluh empat puluh pagi.
Dan di dekat pintu lift sebelah, berdiri berdampingan dengan tangan terlipat di dada, Mona dan Bintang.
Matahari melihatku keluar dari lift. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatapku, dan wajahnya yang tadinya tegang karena dikerumuni orang tiba-tiba melunak, seperti mentega di wajan hangat.
Aku berjalan ke arahnya. Empat belas orang dari lift mengikutiku dengan jarak aman.
“Dua puluh delapan menit,” kataku.
“Macet di Mampang.”
“Aku bilang dua puluh lima.”
“Aku bilang setengah jam. Aku menang dua menit.”
Aku berhenti di depannya. Kami berdiri di tengah lobi, dikelilingi puluhan pasang mata, dan aku menyadari dengan sangat jelas bahwa ini pertama kalinya aku melihatnya di duniaku. Bukan di dapurnya. Bukan di parkiran restorannya. Bukan di warung Pak Darto. Di sini, di lobi marmer gedung tempat aku menghabiskan dua belas jam sehari menjadi CFO Blin yang ditakuti semua orang.
Ia terlihat salah tempat. Jaket lecet, sepatu bernoda kunyit, rantang tiga susun.
Ia terlihat seperti satu-satunya hal yang benar di ruangan ini.
“Rawon,” katanya, mengangkat rantang itu sedikit. “Susun atas nasi. Susun tengah rawon. Susun bawah tempe goreng sama sambal.”
“Sambalnya sambal Mona?”
“Sambal Mona.” Ia melirik ke arah lift sebelah, ke Mona yang masih berdiri dengan tangan terlipat. “Dia kasih tadi pagi. Katanya Pasal Dua Belas, edisi kantor.”
Aku menoleh ke arah Mona. Mona menatapku dengan wajah datar, lalu mengangkat satu alis. Sedikit sekali. Hampir tidak terlihat.
Itu, aku tahu, adalah restu.
Aku kembali menatap Matahari. Aku mengambil rantang dari tangannya. Lalu, karena aku sudah menghabiskan tiga puluh tahun hidupku menjaga wajah di depan orang, dan aku lelah, dan ia datang menembus macet Mampang dengan rawon untukku, aku berjinjit dan mencium pipinya.
Cepat. Ringan. Di tengah lobi marmer Blin.
Lobi itu meledak.
Bukan tepuk tangan, persisnya. Lebih seperti kombinasi teriakan, siulan, dan suara empat belas ponsel yang tiba-tiba diangkat untuk merekam. Resepsionis menutup mulut. Satpam tersenyum lebar. Head of Marketing menjatuhkan map proposalnya.
Matahari berdiri membeku dengan telinga merah menyala.
Dari dekat lift, suara Mona memotong keributan seperti pisau memotong mentega:
“Pasal Sepuluh!”
Aku menoleh ke arahnya, memeluk rantang di dada. “Pasal Sepuluh dicoret di redline, Mona.”
“Diupayakan!”
“Ini sudah diupayakan.” Aku menunjuk pipi Matahari. “Lipstik transferproof. Nggak ada bekas. Pasal Empat terpenuhi.”
Mona membuka mulut. Menatap pipi kakaknya yang memang bersih. Menutup mulut.
Di sebelahnya, Bintang menatap ke langit-langit lobi dengan bahu bergetar. Lalu, tanpa menoleh, dengan suara yang sangat datar, ia berkata cukup keras untuk didengar seluruh lobi:
“Aku pilih opsi A.”
Kami makan rawon di ruanganku, dengan pintu tertutup, tirai turun, dan Sasha berjaga di luar seperti penjaga istana.
Matahari duduk di sofa kecil di sudut ruanganku, sofa yang biasanya hanya dipakai untuk tamu investor. Aku duduk di sebelahnya, terlalu dekat, dengan rantang terbuka di atas meja kopi kaca. Rawonnya masih hangat. Kluweknya hitam pekat. Sambal Mona pedas sampai membuatku tersedak dua kali.
“Pelan-pelan,” katanya.
“Aku laper.”
“Itu salahmu sendiri nggak sarapan.”
“Itu salahmu nggak kirim pesan.” Aku menyodorkan sendok berisi rawon ke arahnya. “Aaa.”
Ia menatap sendok itu. Lalu menatap pintu ruangan yang tertutup. Lalu menatapku.
“Kamu tahu ada tiga ratus orang di luar sana yang ngomongin kita.”
“Tiga ratus empat puluh tujuh. Termasuk Dimas.”
“Dan kamu mau nyuapin aku.”
“Mereka nggak bisa lihat.” Sendokku masih di udara. “Aaa, Chef.”
Ia menghela napas. Lalu membuka mulut dan menerima suapan itu.
Aku tersenyum lebar. Aku menyuapinya lagi. Lalu lagi. Lalu ia mengambil sendok dari tanganku, menyendok rawon, meniupnya pelan, dan menyuapiku balik. Kami makan seperti itu, bergantian, dengan satu sendok, sampai rantang tengah kosong.
Pukul dua belas lewat lima belas, ia harus kembali ke restoran.
Aku mengantarnya sampai lift. Aku tidak peduli lagi siapa yang melihat. Di depan pintu lift, ia berbalik.
“Besok,” katanya, “aku kirim pesan jam tujuh.”
“Janji?”
“Janji. Dan kamu sarapan.”
“Kalau kamu kirim pesan, aku sarapan.”
“Kamu CFO,” katanya, dengan nada yang sama seperti di telepon, setengah heran setengah geli. “Kamu ngatur triliunan rupiah. Dan kamu nggak bisa sarapan kalau nggak dapet pesan dari tukang masak.”
Aku mendekat, merapikan kerah jaket kulitnya yang terlipat, dan berbisik di dekat telinganya, cukup pelan supaya Sasha di belakangku tidak dengar:
“Aku ngatur triliunan rupiah,” bisikku, “supaya aku punya alasan buat manja ke satu orang.”
Pintu lift terbuka. Ia masuk. Ia menatapku sampai pintu itu menutup, dan sebelum tertutup sepenuhnya, aku melihat telinganya. Merah.
Aku berbalik. Sasha berdiri di belakangku dengan tablet di dada dan wajah yang penuh dengan sesuatu yang mirip haru.
“Bu,” katanya pelan.
“Jangan.”
“Saya cuma mau bilang—”
“Jangan, Sasha.”
“—spreadsheet taruhannya sudah ada dua ratus tiga puluh entri. Opsi A memimpin.”
Aku berjalan kembali ke ruanganku tanpa menjawab. Tapi aku tahu, dan Sasha tahu, dan dua ratus tiga puluh orang di grup chat tahu, bahwa CFO Blin sedang tersenyum.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja reading
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan