Chapter Thirty
Karena Sayang
POV: Tamara
Selama tiga hari, aku bekerja delapan belas jam sehari.
Aku merevisi proyeksi kuartal empat dua kali, padahal tidak ada yang meminta. Aku membedah proposal anggaran tim legal, tim produk, dan tim desain interior yang ternyata masih belum menyerah soal kursi warna pastel. Aku memimpin empat rapat investor lewat video call dengan zona waktu berbeda. Aku menulis ulang kebijakan perjalanan dinas perusahaan dari halaman pertama sampai halaman tiga puluh dua.
Aku tidak membuka WhatsApp.
Maksudku, aku membukanya. Aku membaca setiap pesan yang masuk, dua centang biru, karena aku tidak bisa tidak membacanya. Tujuh pesan di hari pertama. Tiga di hari kedua. Satu foto kursi nomor satu yang kosong, di bawah lampu gantung, tanpa kata-kata. Aku menatap foto itu sampai layar ponselku mati sendiri.
Tapi aku tidak membalas.
Aku tidak tahu harus membalas apa. Semua kalimat yang kususun di kepalaku terdengar seperti presentasi. Aku mengerti posisimu. Aku menghargai komitmenmu pada keluargamu. Aku hanya merasa bahwa dalam jangka panjang. Kalimat-kalimat CFO. Kalimat-kalimat yang tidak punya darah.
Hari keempat, pukul tujuh malam, Sasha masuk ke ruanganku tanpa mengetuk.
Ia membawa kotak kardus.
Ia meletakkannya di meja kerjaku, di atas laporan arus kas yang sudah kubaca empat kali tanpa memahami satu angka pun, dan berdiri di depanku dengan tangan di pinggang.
“Bu,” katanya. “Paket darurat.”
Aku menatap kotak itu. “Apa ini?”
“Isinya: dua kotak tisu, satu yang biasa dan satu yang ada lotion-nya karena hidung Ibu sudah merah dari kemarin. Tiga bungkus cokelat yang Ibu suka, yang dari Belgia. Es krim, tapi sudah meleleh sedikit karena lift lantai dua puluh delapan lambat. Masker wajah untuk mata bengkak.” Sasha menarik napas. “Dan ini.”
Ia mengeluarkan selembar kertas dari kotak itu. Kertas A4, dicetak, dilaminating.
Tabel. Dua kolom. Kolom kiri berjudul Tanggal & Jam. Kolom kanan berjudul Isi Pesan.
Seluruh pesan Matahari dalam tiga hari terakhir. Disusun berdasarkan waktu. Dengan font yang rapi. Dilaminating.
Aku menatap kertas itu. Lalu menatap Sasha.
“Kamu,” kataku perlahan, “cetak semua pesan pacarku. Dan kamu laminating.”
“Ibu nggak mau buka WhatsApp, Bu. Saya pikir mungkin Ibu lebih nyaman baca dalam format laporan.” Sasha menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Ibu selalu lebih nyaman baca dalam format laporan.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Aku melakukan keduanya.
Aku membaca tabel itu setelah Sasha pulang. Sendirian, di ruanganku, dengan tirai turun dan es krim yang meleleh di kotak.
Jumat, 23:14 — Kamu sudah sampai? Jumat, 23:48 — Tamara. Sabtu, 00:30 — Maaf. Aku salah ngomong. Aku nggak maksud bilang kamu nggak ngerti. Sabtu, 06:02 — Kamu sudah makan? Sabtu, 12:15 — Kamu sudah makan siang? Sabtu, 19:40 — Kursimu kosong. Bu Ratih tetap siapin piringnya. Sabtu, 23:59 — Selamat tidur. Minggu, 07:00 — Pagi. Minggu, 13:22 — Mona nanya kamu nggak dateng makan malam? Aku bilang kamu sibuk. Minggu, 20:15 — [Foto: kursi nomor satu, kosong]
Tidak ada pesan di hari Senin.
Aku membaca tabel itu dari atas ke bawah. Lalu dari bawah ke atas. Lalu aku meletakkannya di meja dan menatap pesan yang paling bawah.
Minggu, 13:22 — Mona nanya kamu nggak dateng makan malam? Aku bilang kamu sibuk.
Ia tidak memberi tahu Mona.
Ia tidak memberi tahu Mona soal Lyon. Ia tidak memberi tahu Mona soal kami bertengkar. Ia menyimpan semuanya, seperti ia menyimpan surat beasiswa di saku celananya di atap kontrakan di Tebet.
Aku tidak tahu soal surat beasiswa itu. Belum. Tapi aku tahu polanya. Aku sudah melihatnya.
Laki-laki ini menyimpan semua hal yang bisa menyakiti adiknya. Bahkan kalau hal itu menyakiti dirinya sendiri.
Bahkan kalau hal itu menyakiti aku.
Pukul dua lewat dua puluh dini hari, pesannya masuk.
Besok malam. Aku ke apartemenmu. Jam sebelas. Aku perlu bilang sesuatu.
Aku membacanya di kasurku, di bawah lampu tidur kuning, dengan mata yang tidak bisa terpejam.
Aku perlu bilang sesuatu.
Aku sudah bekerja di dunia keuangan selama delapan tahun. Aku tahu artinya kalimat itu. Investor yang menelepon jam dua pagi dan bilang aku perlu bilang sesuatu tidak pernah membawa kabar baik. Bank yang mengirim email dengan subjek Kami perlu bicara tidak pernah memberi pinjaman tambahan.
Aku menatap pesan itu sebelas menit.
Lalu aku mengetik satu kata.
Oke.
Ia datang pukul sebelas tepat.
Aku membuka pintu. Ia berdiri di lorong apartemen dengan kaus hitam dan jaket kulit yang lecet di siku. Tidak membawa apa pun. Tidak ada rantang. Tidak ada kantong plastik apotek. Tidak ada helm.
Tangannya kosong.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Ia terlihat lelah. Lebih lelah dari yang pernah kulihat. Kantung di bawah matanya gelap. Rambutnya berantakan, bukan berantakan karena helm, tapi karena terlalu sering diusap dengan tangan. Bibirnya pecah sedikit di sudut.
Ia terlihat seperti orang yang sudah tiga hari tidak tidur.
Aku juga.
“Masuk,” kataku.
Ia masuk. Ia tidak melepas sepatu. Ia berdiri di ruang tengah, di dekat jendela besar yang menghadap Sudirman, dan tidak duduk.
Aku tidak menawarinya minum. Aku tidak menawarinya duduk. Aku berdiri di dekat meja makan kayu panjang, meja tempat ia makan nasi goreng gosongku di malam ulang tahunnya, dan menunggu.
Ia menatap ke luar jendela. Lampu-lampu Sudirman. Lampu-lampu yang sama yang kami tatap dari balkon di malam aku cinta kamu.
“Aku sudah mikir,” katanya. Pelan. “Tiga hari.”
“Aku juga.”
“Kamu benar.”
Aku diam.
“Malam itu. Di restoran. Kamu bilang aku sayang Mona duluan.” Ia menoleh dari jendela dan menatapku. “Kamu benar.”
Aku memegang tepi meja makan. Kayunya dingin di bawah telapak tanganku.
“Aku nggak bisa berubah,” katanya. “Aku udah coba. Tiga hari. Aku coba bayangin diriku bilang ke Mona aku mau ke Lyon. Aku coba bayangin naik pesawat. Aku coba bayangin Mona di apartemen sendirian, nyiapin bekal buat orang yang nggak ada.” Ia menelan. “Aku nggak bisa. Tanganku nggak bisa lepas.”
“Aku nggak minta kamu lepas Mona.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma minta kamu pilih dirimu sendiri. Sekali ini.”
“Aku tahu.” Ia menatap lantai. “Itu yang aku nggak bisa.”
Hening.
Hanya dengung AC, dan klakson samar dari Sudirman, tiga puluh dua lantai di bawah kami.
“Ada perempuan dulu,” katanya tiba-tiba. “Namanya Laras. Tujuh tahun lalu. Di hotel tempat aku kerja sebelum Sekar Kedhaton.”
Aku menatapnya.
“Kami nggak pacaran. Tapi hampir.” Ia mengusap tengkuknya. “Dia ninggalin surat waktu pindah ke Bali. Dia bilang dia nggak bisa jadi nomor dua selamanya. Karena nomor satu udah ada.”
Aku berhenti bernapas.
“Mona yang bilang ke dia,” lanjutnya. “Mona datang ke kosnya. Mona nggak jahat. Mona cuma bilang yang benar.” Ia mengangkat wajah dan menatapku. “Dan aku nggak marah ke Mona. Aku nggak pernah bilang ke Mona aku tahu. Aku biarin. Karena Mona benar, dan Laras benar, dan kamu benar.”
“Matahari—”
“Kalian semua benar, Tamara. Aku memang begitu. Aku nggak tahu cara jadi yang lain.”
Aku menatapnya. Laki-laki ini, yang berdiri di ruang tengahku dengan tangan kosong dan mata yang lelah, mengakui hal yang paling tidak ingin kudengar dengan suara yang paling jujur yang pernah kudengar darinya.
“Jadi?” tanyaku. Suaraku keluar sangat kecil.
Ia melangkah ke arahku. Satu langkah. Dua. Ia berhenti satu meter di depanku. Ia tidak menyentuhku.
“Kamu nggak pernah jadi pilihan pertama siapa pun,” katanya. “Kamu bilang itu waktu demam. Aku nggak jawab waktu itu, karena aku tahu jawabanku nggak akan bikin kamu lebih baik.”
Aku menutup mata.
“Kamu pantas dapat orang yang milih kamu duluan,” katanya. “Orang yang tangannya bisa lepas dari apa pun buat pegang tangan kamu. Orang yang nggak bikin kamu nunggu di jendela setiap hari Minggu.”
Aku membuka mata. Air mataku sudah jatuh. Aku tidak tahu kapan mulainya.
“Aku bukan orang itu,” katanya. “Aku pengin jadi orang itu. Aku pengin banget. Tapi aku bukan.”
Ia menarik napas. Napas yang gemetar.
“Aku sayang kamu,” katanya. “Makanya aku nggak mau kamu nunggu orang yang nggak pernah bisa milih kamu duluan.”
Kalimat itu.
Aku sayang kamu.
Ia mengucapkannya pertama kali sambil berlutut di lantai teraso Sekar Kedhaton, dengan ibu jari di pipiku yang basah dan bau garang asem Eyang di udara. Waktu itu kalimat itu membuka sesuatu di dadaku yang sudah terkunci sejak umur dua belas.
Malam ini, kalimat yang sama menutupnya kembali.
Pintunya tidak dibanting. Ditutup pelan-pelan. Dengan hati-hati. Seperti ia mengancingkan lengan jas kokinya di malam kedua, waktu aku bertanya tentang lukanya dan ia bilang dulu.
Aku menatapnya. Aku menunggu diriku melakukan sesuatu. Memohon. Berdebat. Mengeluarkan presentasi lima belas slide. Menawar, seperti aku menawar Seri C, seperti aku menawar kontrak dua belas pasal dengan Mona.
Aku bisa melakukannya. Aku tahu caranya. Aku bisa bilang aku mau nunggu. Aku bisa bilang aku nggak keberatan jadi nomor dua. Aku bisa bilang kita cari jalan tengah.
Tapi aku menatap wajahnya. Kantung mata yang gelap. Bibir yang pecah. Tangan yang kosong.
Dan aku melihat sesuatu yang membuatku tidak bisa menawar.
Ia tidak melakukan ini karena ia tidak mencintaiku. Ia melakukan ini karena ia mencintaiku. Dengan cara satu-satunya yang ia tahu. Dengan cara yang sama ia mencintai Mona: dengan menyingkirkan dirinya sendiri dari jalan orang yang ia cintai.
Ini kebaikannya. Kebaikan yang salah tempat. Kebaikan yang menyakitkan. Tapi kebaikan.
Dan kalau aku menawar, kalau aku memohon, kalau aku bilang aku mau nunggu, aku akan memaksanya memilih. Antara aku dan Mona. Lagi. Setiap hari. Setiap kali Mona sakit kepala. Setiap kali Mona menelepon di tengah servis. Setiap kali ada tawaran lain, dari Antoine atau dari siapa pun, dan ia harus memilih antara mimpinya dan adiknya, dan aku berdiri di pinggir, menunggu.
Aku tidak mau jadi orang itu.
Aku tidak mau jadi orang yang membuat laki-laki ini harus memilih.
“Aku nggak mau,” kataku. Suaraku pecah. Aku menelan, mencoba lagi. “Aku nggak mau jadi orang yang bikin kamu milih.”
Ia menatapku.
“Kamu sudah milih seumur hidup,” kataku. “Antara dirimu dan Mona. Antara Lyon dan Mona. Antara Laras dan Mona. Aku nggak mau jadi satu pilihan lagi yang harus kamu pikul.”
Air mataku jatuh lebih deras. Aku membiarkannya.
“Kamu benar, aku pantas dapat orang yang milih aku duluan,” lanjutku. “Tapi kamu juga pantas dapat orang yang nggak bikin kamu milih.”
Matahari tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku melihat matanya. Mata hitam yang dalam itu sekarang basah, dan ia tidak mengusapnya.
Laki-laki yang tidak menangis waktu darah menetes dari lengannya di gang gelap. Laki-laki yang hanya menangis di kamar mandi kontrakan setelah memakan tumpeng pahit.
Ia menangis di ruang tengahku. Tanpa suara.
Aku berjalan ke kamar.
Aku tidak tahu kenapa. Kakiku bergerak sendiri. Aku membuka lemari dan mengambil sesuatu dari gantungan paling ujung. Sesuatu yang sudah tergantung di sana selama berminggu-minggu, sejak malam gerimis di bawah jembatan layang Casablanca.
Jaket flanel hijau tua.
Jaketnya kembaliin minggu depan. Biar kamu punya alasan ketemu aku lagi.
Aku tidak pernah mengembalikannya. Setiap minggu, aku bilang minggu depan. Setiap minggu, aku memakainya di apartemen kalau AC terlalu dingin, atau kalau aku tidak bisa tidur, atau kalau aku kangen bau asap kayu dan hujan yang sudah lama hilang dari kainnya.
Aku membawanya kembali ke ruang tengah. Aku berdiri di depannya.
Aku mengulurkan jaket itu.
Ia menatap jaket itu. Lama. Ia tidak mengambilnya.
“Kamu bilang kembaliin minggu depan,” kataku. “Biar aku punya alasan ketemu kamu lagi.”
Ia menatapku.
“Aku nggak butuh alasan lagi,” kataku. Suaraku hampir hilang. “Kan?”
Tangannya terangkat. Pelan. Ia mengambil jaket itu dari tanganku. Jari-jarinya menyentuh jari-jariku sebentar, di atas kain flanel yang lembut. Hangat. Kasar. Kapalan di telunjuk.
Lalu tangannya pergi.
Ia memegang jaket itu di dadanya, dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang rapuh.
“Tamara,” katanya.
“Jangan.”
“Aku cuma—”
“Jangan bilang apa-apa lagi.” Aku menggigit bibir bawahku sampai sakit. “Kalau kamu bilang apa-apa lagi, aku bakal minta kamu tinggal. Dan kalau aku minta kamu tinggal, kamu bakal tinggal. Dan kita bakal ulang semua ini lagi bulan depan, atau tahun depan, waktu ada tawaran lain, atau waktu Mona sakit, atau waktu apa pun.”
Ia diam.
“Pulang,” bisikku. “Tolong.”
Ia menatapku satu detik lagi. Dua detik. Tiga.
Lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu.
Di ambang pintu, ia berhenti. Ia tidak menoleh. Aku melihat bahunya. Bahu yang lebar, yang mengangkat panci kaldu setiap hari, yang menahan cutter di gang gelap sebelas tahun lalu. Bahu itu turun. Sangat turun.
“Makan,” katanya. Pelan. Ke pintu. “Jangan lupa makan.”
Pintu menutup.
Aku tidak bergerak lama sekali.
Aku berdiri di ruang tengah, di dekat meja makan kayu panjang, di tempat yang sama, dengan tangan yang masih terulur sedikit, seperti masih memegang jaket yang sudah tidak ada.
Lalu aku berjalan ke kamar mandi.
Aku menyalakan lampu. Aku berdiri di depan cermin di atas wastafel.
Perempuan di cermin itu cantik. Aku tahu itu. Bahkan malam ini, dengan mata merah dan bengkak, dengan hidung merah karena tiga hari menangis, dengan rambut yang tidak disisir sejak pagi, ia cantik. Tulang pipi yang tinggi. Garis rahang yang tegas. Mata hazel dari ayahnya. Kulit yang pucat.
Dan lipstik merah.
Aku memakainya pukul sepuluh malam, satu jam sebelum ia datang. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku tidak bisa menghadapinya tanpa baju zirah. Mungkin karena sebagian kecil dari diriku, bagian yang masih gadis dua belas tahun di jendela asrama, berharap ia akan menciumku dan semua ini akan selesai.
Ia tidak menciumku.
Aku mengambil kapas dan cairan pembersih riasan dari laci. Aku menuangkan sedikit ke kapas. Aku menempelkannya di bibirku.
Perlahan, aku menghapus lipstik merah itu.
Atas. Lalu bawah. Dua gerakan, seperti cara aku memakainya, tapi terbalik.
Kapas itu berubah merah. Bibirku, di cermin, berubah pucat. Bibir yang tidak dilindungi apa pun. Bibir yang tidak pernah kuperlihatkan kepada siapa pun selama sepuluh tahun.
Aku menatap bibir pucat itu di cermin. Lama. Sangat lama.
Aku tidak menangis lagi. Aku sudah tidak punya air mata.
Aku hanya berdiri di sana, di bawah lampu kamar mandi yang terlalu terang, menatap perempuan di cermin yang tidak memakai lipstik merah untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.
Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu.
Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja memberikan sesuatu.
Dan aku tidak tahu yang mana yang lebih menyakitkan.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang reading
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan