Chapter Thirty Three
Ratu Es
POV: Tamara
Sepuluh hari tanpa lipstik merah, dan seluruh lantai dua puluh delapan berbicara dengan suara berbisik.
Aku tidak menyuruh mereka berbisik. Aku tidak menyuruh siapa pun melakukan apa pun yang berbeda. Aku datang pukul tujuh pagi, seperti biasa. Aku membuat kopi di pantry pukul tujuh empat puluh lima, seperti biasa. Aku memimpin rapat, membedah proposal, menandatangani berkas, membalas email. Seperti biasa.
Tapi aku melakukannya tanpa lipstik merah.
Aku tidak memutuskan untuk berhenti memakainya. Pagi setelah malam itu, aku berdiri di depan cermin kamar mandi dengan tabung lipstik di tangan, dan aku tidak bisa membukanya. Tanganku tidak mau. Seperti tangan Matahari yang tidak bisa lepas dari Mona, tanganku tidak bisa memakai merah.
Jadi aku memakai lipstik nude. Warna kulit bibir. Hampir tidak terlihat.
Dan seluruh lantai dua puluh delapan menyadarinya.
Head of Marketing, yang proposalnya sudah kubedah tiga kali tahun ini, menatap bibirku di rapat hari Selasa dengan ekspresi orang yang melihat langit berubah warna. Ia tidak berkomentar. Ia hanya menyerahkan proposal revisi keempatnya dengan dua tangan, dan untuk pertama kalinya, proposal itu tidak punya satu pun kata sinergi.
Tim keuangan, timku sendiri, mulai menaruh camilan di mejaku. Diam-diam. Waktu aku rapat. Keripik singkong. Biskuit kelapa. Satu kotak kue lapis dari toko di Menteng yang antreannya dua jam. Tidak ada yang mengaku menaruhnya.
Dan Raka berhenti bergosip.
Itu yang paling menakutkan.
Raka masuk ke ruanganku hari Kamis pukul sepuluh, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia mengetuk pintu dulu.
“Tam.”
“Raka.”
Ia berdiri di ambang pintu dengan sesuatu di tangan. Sebuah wadah plastik kecil. Yogurt Yunani dari kulkas pantry. Yogurt yang tidak pernah dimakan siapa pun.
Ia meletakkannya di mejaku, di sebelah laptop, dengan hati-hati, seperti meletakkan persembahan di altar.
“Buat kamu,” katanya.
Aku menatap yogurt itu. Lalu menatapnya.
“Raka, ini yogurt pantry.”
“Iya.”
“Yang nggak ada yang makan.”
“Iya. Makanya aku ambil. Kasihan, nggak ada yang makan.” Ia menggaruk tengkuknya. “Aku baca di internet, yogurt bagus buat mood. Ada probiotiknya. Probiotik bikin usus bahagia, usus bahagia bikin otak bahagia.”
“Itu dari artikel mana?”
“Nggak tahu. Instagram.” Raka berdiri canggung di depan mejaku, tangannya di saku celana, kakinya bergerak-gerak. CEO perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, laki-laki yang presentasi di depan investor Silicon Valley tanpa gugup, berdiri di depan mejaku seperti anak SD yang dipanggil ke ruang guru.
“Tam,” katanya. “Aku nggak tahu harus ngapain.”
“Kamu nggak perlu ngapain-ngapain.”
“Aku tahu. Tapi aku mau.” Ia menatap lantai. “Waktu startup-ku yang pertama bangkrut, aku nggak keluar kamar tiga minggu. Kamu yang telepon aku. Kamu yang bilang Raka, bangun, aku punya ide. Kamu yang bawa term sheet Blin ke apartemenku jam sebelas malam.” Ia mengangkat wajah. “Kamu ingat?”
Aku ingat. Enam tahun lalu. Aku baru pulang dari London. Raka adalah satu-satunya orang di Jakarta yang kukenal dari jaringan alumni. Ia sedang di titik terendah hidupnya, dan aku butuh seseorang yang cukup gila untuk membangun sesuatu dari nol bersamaku.
“Aku ingat,” kataku.
“Aku nggak pernah bilang makasih.” Raka mengeluarkan tangannya dari saku. “Makasih, Tam.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang memasang taruhan soal pernikahanku di grup chat staf. Laki-laki yang mengumumkan teori soal Mona dan Bintang dengan tiga emoji muka kaget. Laki-laki yang menyimpan Funko Pop di rak ruangannya.
“Sama-sama, Raka.”
Ia mengangguk. Ia berbalik ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti.
“Taruhannya aku tutup,” katanya tanpa menoleh. “Dua-duanya. Sasha udah balikin semua uangnya. Kecuali punya Bintang. Bintang nggak mau uangnya dibalikin. Katanya taruhanku belum kalah.”
Pintu menutup.
Aku menatap yogurt Yunani di mejaku. Lalu aku membukanya, mengambil sendok plastik dari laci, dan memakannya. Rasanya asam dan dingin dan sedikit terlalu kental.
Tiga suap. Lalu aku lupa.
Malam itu, Sasha meletakkan kantong kertas cokelat di mejaku.
Pukul sepuluh lewat empat puluh. Aku masih di kantor. Aku selalu masih di kantor akhir-akhir ini. Apartemenku di lantai tiga puluh dua terlalu sunyi, dan meja makan kayu panjang di sana mengingatkanku pada nasi goreng gosong.
“Bu,” kata Sasha. “Dari restoran.”
Aku menatap kantong itu.
Aku tahu baunya sebelum aku membukanya. Aku tahu baunya dari jarak satu meter, dari balik kertas cokelat yang dilipat rapi. Daun salam. Gula jawa. Dan sesuatu yang gelap dan hangat di bawahnya.
“Restoran mana?” tanyaku. Suaraku keluar datar.
“Sekar Kedhaton, Bu.”
“Siapa yang masak?”
Sasha diam sebentar. “Bu Ratih, Bu.”
Aku menatapnya. Sasha menatapku balik. Ia berbohong, dan ia tahu aku tahu ia berbohong, dan ia tetap berdiri di sana dengan wajah yang sangat tegar dan mata yang sangat berkaca-kaca.
“Bu Ratih,” ulangku.
“Iya, Bu.”
“Bu Ratih masak garang asem pakai kluwek.”
“Bu Ratih orang Solo, Bu. Ibunya orang Solo.”
“Bu Ratih nggak pernah masak di dapur. Bu Ratih maître d’.”
Sasha menelan. “Bu Ratih lagi belajar, Bu.”
Aku tidak menjawab. Aku membuka kantong kertas itu. Dua wadah kertas di dalamnya. Aku membuka satu. Pincuk daun pisang, layu sempurna, disematkan dengan lidi.
Aku mencabut lidinya. Aku membuka lipatan daun pisang itu.
Uapnya sudah tidak ada. Sudah satu jam di perjalanan. Tapi baunya masih ada. Daun salam, lima lembar. Dua rawit utuh di atasnya.
Yang berani boleh gigit.
Aku menatap pincuk itu lama.
“Sasha.”
“Ya, Bu.”
“Kamu ke restoran.”
Hening. Lalu Sasha menundukkan kepala. “Iya, Bu. Semalam. Maaf, Bu. Ibu boleh pecat saya.”
“Dia bilang jangan bilang dari dia.”
Sasha mengangkat wajah, terkejut. “Ibu tahu?”
“Dia selalu bilang jangan bilang dari dia.” Aku mengambil sendok plastik dari laci. “Dia nggak tahu cara ngasih tanpa sembunyi.”
Aku makan garang asem itu.
Pelan. Satu suap. Dua. Tiga. Asamnya datang belakangan. Gurihnya dalam. Manisnya muncul di ujung, seperti ucapan selamat malam.
Empat suap. Lima.
Aku tidak lupa.
Aku makan sampai pincuk pertama habis. Lalu aku membuka pincuk kedua dan memakannya juga. Sampai habis. Sampai butir nasi terakhir. Sampai aku menggigit rawit utuh dan pedasnya meledak di lidahku dan mataku berair.
Sasha berdiri di depan mejaku dan menonton. Ia tidak bicara. Ia tidak memotret. Ia hanya menonton, dengan dua tangan di dada dan air mata yang mengalir diam-diam di pipinya.
Ketika aku selesai, aku meletakkan sendok plastik di atas daun pisang yang kosong.
“Makasih, Sasha,” kataku.
“Saya nggak masak apa-apa, Bu.”
“Kamu nggak masak.” Aku menatap daun pisang kosong itu. “Kamu nganter.”
Mona datang hari Jumat pukul tujuh empat puluh tiga pagi.
Dengan mug kosong.
Aku sedang di pantry, berdiri di depan mesin kopi, menunggu espresso-ku selesai. Aku mendengar langkahnya di belakangku. Langkah sepatu hak tujuh senti di atas lantai kayu. Langkah yang kukenal dari lima tahun rapat.
Aku tidak menoleh. “Mesin kopi di lantai dua puluh enam rusak lagi?”
“Nggak,” kata Mona.
Aku menoleh.
Mona berdiri di ambang pintu pantry dengan mug kosong di tangan. Ia memakai kemeja putih dan rok pensil abu-abu, rambut diikat rendah dengan pita hitam. Tidak ada blazer. Tidak ada eyeliner yang tajam. Lipstik nude.
Matanya bengkak. Ia sudah menutupinya dengan concealer, tapi aku bisa melihatnya. Aku melihat mata bengkak di cermin setiap pagi selama sepuluh hari. Aku tahu bentuknya.
Kami saling menatap.
Dua perempuan, di pantry lantai dua puluh delapan, dengan lipstik nude yang sama dan mata bengkak yang sama.
“Kamu cantik,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Kebiasaan, mungkin. Atau mungkin karena memang benar. Mona tanpa baju zirahnya, tanpa eyeliner yang tajam dan blazer yang tegas, terlihat lebih muda. Lebih lembut. Terlihat seperti adik seseorang.
Mona berkedip. Lalu ia tersenyum kecil. Senyum yang sedih.
“Kamu juga,” katanya. “Bahkan tanpa merah.”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil cangkir espresso-ku dan meminumnya.
“Boleh aku ngomong?” tanya Mona. “Lima belas menit.”
“Tiga puluh,” kataku. Kebiasaan juga.
Mona tertawa kecil. Tanpa suara. Lalu ia mengangguk.
Kami memakai ruang rapat kecil di pojok lantai dua puluh delapan. Ruang rapat yang sama dengan Syarat dan Ketentuan dua belas pasal. Meja yang sama. Kursi yang sama. Kali ini tidak ada dokumen di antara kami. Tidak ada pulpen merah.
Mona duduk di seberangku. Ia meletakkan mug kosongnya di meja. Ia menatap mug itu.
“Aku nggak tahu,” katanya. “Soal kalian.”
Aku tidak menjawab.
“Kakak nggak cerita. Kakak nggak pernah cerita.” Ia memutar mug kosong itu di atas meja. “Aku tahu dari Dimas. Dimas nelepon aku jam enam pagi. Dimas nggak pernah nelepon.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tahu soal Lyon,” lanjut Mona, “dari Antoine.”
Aku mengangkat wajah.
“Antoine dateng ke kantor. Dua minggu lalu. Dimas yang kasih alamatku.” Mona menatapku. “Dia cerita soal tawaran yang sekarang. Dan dia cerita soal tawaran yang dulu.”
“Yang dulu?”
Mona menatapku lama. Aku melihat ia menyadari sesuatu. Aku melihat ia menyadari bahwa aku tidak tahu.
“Kakak nggak cerita ke kamu,” katanya pelan. “Soal yang pertama.”
“Pertama apa, Mona?”
Mona menutup mata sebentar. Lalu ia membukanya, dan ia menceritakannya.
Sembilan tahun lalu. Dapur hotel di Thamrin. Kluwek jam lima pagi. Rawon untuk teman-teman yang tidak punya uang beli makan siang. Antoine yang mencicipi dari panci. Amplop. Beasiswa penuh. Lyon, dua tahun, semua biaya ditanggung.
Dan kertas tagihan semester. Kalkulator. Tulisan kecil di pinggir kertas yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca siapa pun.
Kalau nggak cukup, aku cuti dulu. Kakak jangan tahu.
Mona menceritakannya dengan suara datar. Seperti membaca laporan. Seperti aku membaca laporan di malam aku menceritakan soal Eyang, di dapur Sekar Kedhaton, dengan air hangat di gelas di depanku.
Ketika ia selesai, aku tidak bisa bicara.
Dua kali.
Ia menolak Lyon dua kali. Pertama karena adiknya yang berumur dua puluh tahun menulis Kakak jangan tahu di pinggir tagihan semester. Kedua karena adiknya yang berumur dua puluh sembilan tahun, Head of Operations, perempuan yang bisa membuat vendor Cikarang minta maaf tiga kali dalam satu telepon.
Dan aku. Aku berdiri di dapur Sekar Kedhaton dengan presentasi lima belas slide dan grafik penerbangan Jakarta–Paris yang warnanya bagus, dan bilang Mona bisa hidup tanpa kamu, dan bilang aku nggak ngerti, dan pergi.
Aku tidak tahu ia sudah menolak sekali sebelumnya. Aku tidak tahu ia sudah merobek mimpinya jadi delapan bagian di atap kontrakan di Tebet waktu umurnya dua puluh dua.
Aku tidak tahu, karena ia tidak pernah bilang.
Karena ia tidak tahu cara bilang.
“Tamara,” kata Mona pelan.
Aku mengangkat wajah. Aku tidak sadar aku sudah menunduk.
“Ini salahku,” kata Mona. Suaranya pecah. “Semuanya. Lyon yang pertama. Laras. Lyon yang kedua. Kalian.” Ia menatap mug kosong di depannya. “Aku ngusir semua orang dari sekitar Kakak. Dan Kakak nggak pernah protes. Dan aku pikir itu artinya Kakak setuju. Aku pikir Kakak nggak butuh siapa-siapa selain aku.” Air matanya jatuh, satu, ke atas meja. “Ternyata Kakak cuma nggak tahu cara bilang aku juga mau sesuatu.”
Aku menatapnya.
Mona Rembulan Wirasena. Dua puluh sembilan tahun. Perempuan yang menjilid Syarat dan Ketentuan dua belas pasal dengan penjepit kertas hitam. Perempuan yang memanjat rak gudang tiga meter dengan sepatu kets. Perempuan yang menangis di pelukanku di kasur twin hotel di Surabaya, menceritakan darah yang menetes ke rok abu-abunya.
Ia duduk di depanku sekarang, menangis, menyalahkan dirinya sendiri.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang kukenal. Sakit yang kukenal.
Sakit orang yang takut ditinggal.
Aku berdiri dari kursiku. Aku berjalan memutari meja. Aku duduk di kursi di sebelah Mona, dan aku mengambil tangannya di atas meja.
Tangannya dingin. Gemetar.
“Mona,” kataku. “Aku nggak marah sama kamu.”
Ia menatapku dengan mata basah.
“Aku nggak pernah marah sama kamu,” ulangku. “Kamu cuma sayang dia.”
Mona menggigit bibir bawahnya. Air matanya jatuh lebih deras.
“Aku juga,” kataku pelan. “Aku juga cuma sayang dia.”
Mona menatapku. Lama. Dengan mata yang bengkak dan basah dan sangat terbuka.
Dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Seperti seseorang yang baru saja melihat dirinya sendiri di cermin, dari sudut yang belum pernah ia lihat. Ia melihat mataku yang bengkak. Bibirku yang tanpa merah. Wajahku yang, aku tahu, terlihat sepuluh tahun lebih tua dari dua minggu lalu.
Ia melihat sakit yang ia buat.
Bukan sakit yang ia buat dengan sengaja. Bukan sakit yang ia buat dengan cutter atau kata-kata kasar. Sakit yang ia buat dengan mencintai seseorang terlalu erat, sampai orang itu tidak bisa bergerak.
“Aku bikin kamu sakit,” bisiknya.
“Bukan kamu.”
“Aku bikin Kakak sakit.”
“Bukan kamu juga.” Aku meremas tangannya. “Kalian berdua saling jaga sampai lupa jaga diri sendiri. Itu bukan salah siapa-siapa. Itu cuma—” Aku mencari kata. Aku tidak menemukannya. Kata-kata di kepalaku semuanya kata-kata spreadsheet. Risiko. Proyeksi. Skenario.
“Pola,” kata Mona pelan. “Bintang bilang itu pola. Yang paling susah di-debug.”
Aku tertawa. Basah, pendek, tanpa suara. “Bintang benar.”
Kami duduk di ruang rapat itu lebih dari tiga puluh menit. Lebih dari satu jam. Sasha mengetuk pintu dua kali untuk mengingatkan rapat pukul sembilan, dan dua kali aku bilang batalkan.
Kami tidak banyak bicara setelah itu. Kami hanya duduk berdampingan, dengan tangan bergandengan di atas meja, dan mug kosong Mona di depan kami.
Lalu Mona berkata sesuatu yang membuatku menoleh.
“Raka nawarin aku VP. Di Singapura.”
“Aku tahu. Aku yang rekomendasiin.”
“Aku nolak.”
“Aku tahu. Raka cerita. Dengan tiga emoji.”
Mona menatap mug kosongnya. “Kamu tahu kenapa aku nolak?”
Aku menatapnya. Aku memikirkan Kakak di sini. Aku memikirkan Mona di sini. Aku memikirkan dua orang di dua tempat yang berbeda, mengucapkan kalimat yang sama, untuk alasan yang sama, tanpa saling tahu.
“Mona,” kataku pelan. “Jangan.”
“Jangan apa?”
“Jangan ulang.” Aku meremas tangannya lagi. “Jangan tolak Singapura karena dia. Jangan robek apa pun jadi delapan bagian. Jangan bikin dia hidup dengan tahu dia jadi alasan kamu nggak pergi.” Aku menelan. “Dia udah hidup kayak gitu sekali. Dari arah sebaliknya. Jangan kasih dia rasa itu juga.”
Mona menatapku lama. Lalu ia menunduk, dan bahunya mulai bergetar lagi, dan aku memeluknya, di ruang rapat kecil di pojok lantai dua puluh delapan, seperti aku memeluknya di Surabaya.
Kali ini, aku juga menangis.
Mona pergi pukul sembilan lewat empat puluh. Ia mencuci mukanya di toilet, memperbaiki concealer-nya, dan kembali ke lantai dua puluh enam dengan wajah Head of Operations.
Aku kembali ke ruanganku.
Aku berdiri di depan cermin kecil di dinding ruanganku. Cermin yang kupasang karena seorang CFO tidak boleh masuk rapat dengan lipstik yang tidak rata.
Perempuan di cermin itu menatapku balik. Mata yang masih sedikit bengkak. Bibir dengan lipstik nude yang sudah hampir hilang karena menangis. Rambut cokelat bergelombang yang tidak disisir dengan benar.
Ia masih cantik. Aku tahu itu. Bahkan sekarang. Bahkan tanpa merah. Cantik yang lebih tenang, lebih rapuh, lebih jujur. Cantik yang tidak memakai baju zirah.
Aku membuka laci mejaku.
Di dalamnya, tabung lipstik merah. Yang tidak kusentuh selama sepuluh hari.
Aku mengambilnya. Aku membuka tutupnya. Aku menatap warna merah di ujungnya.
Lalu aku menutupnya lagi dan meletakkannya kembali di laci.
Belum.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari, aku tidak menutup laci itu.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es reading
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan