← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Eleven

Kakak Senyum ke Ponsel

POV: Mona

Rencana Darurat Nomor Empat adalah rencana paling profesional yang pernah kubuat, dan itulah kenapa kegagalannya terasa paling memalukan.

Konsepnya: kalau Bu Tamara les masak setiap Rabu pukul sepuluh malam, maka Bu Tamara harus sibuk setiap Rabu pukul sepuluh malam. Bukan sibuk karena aku. Sibuk karena pekerjaan. Sibuk secara sah, terdokumentasi, dan tidak bisa ditolak.

Jadi hari Senin aku mengirim undangan rapat ke seluruh jajaran direksi dan Head: Weekly Operations Review — Peak Season Readiness. Setiap Rabu, pukul delapan malam sampai sebelas malam. Agendanya sah. Kami memang akan menghadapi musim belanja akhir tahun, dan gudang Cikarang memang belum siap. Aku menulis deskripsi rapat sepanjang tiga paragraf dengan istilah yang cukup teknis untuk membuat siapa pun malas membantah.

Raka menerima undangan itu dalam lima menit, karena Raka menerima semua undangan yang punya kata peak season.

Bintang menerima dalam sepuluh menit, dengan satu komentar di kolom catatan: Rapat jam 8 malam. Kreatif.

Bu Tamara tidak merespons sampai Rabu pagi.

Lalu, pukul tujuh empat puluh lima, tepat ketika aku tahu ia sedang membuat kopi di pantry lantai dua puluh delapan, notifikasi masuk ke ponselku.

Tamara Morgan menerima undangan: Weekly Operations Review.

Dan di bawahnya, catatan:

Hadir. Akan pulang pukul 21.55. Seluruh poin anggaran akan saya bahas di 90 menit pertama. Mohon agenda dikirim sebelum pukul 17.00 supaya saya bisa menyiapkan analisis.

Aku menatap layar.

Rabu malam itu, Bu Tamara datang ke ruang rapat pukul tujuh lima puluh delapan dengan laptop, dua tablet, dan setumpuk kertas cetak yang disusun dengan pembatas warna-warni. Ia membedah anggaran peak season timku dalam sembilan puluh menit dengan efisiensi seorang ahli bedah yang terlambat ke pesta ulang tahun anaknya. Ia menemukan tiga pos yang tumpang tindih, dua vendor yang terlalu mahal, dan satu kesalahan rumus di spreadsheet yang bahkan tim analisku tidak sadari.

Pukul sembilan lima puluh lima, ia menutup laptop.

“Saya harus pergi,” katanya ke seluruh ruangan. “Mona, kirim revisinya Jumat. Raka, kamu janji bicara tiga menit di akhir, dan kamu sudah bicara dua puluh menit. Bintang, terima kasih untuk tabel latensinya, itu satu-satunya slide malam ini yang nggak bikin aku pengin pensiun dini.”

“Sama-sama, Bu,” kata Bintang datar.

Bu Tamara berdiri, mengambil tas, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu ia berhenti, membuka tas, mengeluarkan lipstik merah, dan memakainya. Dua gerakan, di depan seluruh jajaran direksi Blin, tanpa cermin. Atas, lalu bawah.

Lalu ia menoleh padaku. Senyumnya kecil, hormat, dan sangat jelas maksudnya.

“Rapat yang bagus, Mona. Sangat produktif. Kita lakukan lagi minggu depan.”

Pintu menutup di belakangnya.

Hening.

Raka mengangkat tangan perlahan, seperti murid SD. “Dia mau ke mana pakai lipstik jam sepuluh malam?”

Tidak ada yang menjawab.

Raka mengeluarkan ponselnya. “Aku cek grup chat staf.”

“Raka,” kataku, “kamu CEO.”

“CEO juga manusia, Mona. CEO juga butuh hiburan.”

Dari ujung meja, Bintang menutup laptopnya, menatapku dari balik kacamata, dan berkata dengan nada yang sangat pelan dan sangat datar, hanya untukku:

“Rencana yang bagus. Dia jadi lebih efisien.”

Aku membatalkan rapat mingguan itu keesokan paginya.


Tapi bukan itu yang membuatku sadar.

Kegagalan rencana tidak membuatku sadar. Aku Head of Operations. Aku sudah sering gagal, dan aku selalu bangkit dengan rencana berikutnya. Kegagalan hanyalah data.

Yang membuatku sadar terjadi Jumat pagi, pukul enam kurang sepuluh, di dapur apartemen kami.

Aku bangun lebih awal dari biasanya. Aku tidak bisa tidur. Aku sudah tidak bisa tidur dengan benar sejak malam di mobil di bawah pohon angsana. Aku keluar dari kamar dengan kaus kebesaran dan rambut berantakan, berniat membuat kopi, dan berhenti di ambang pintu dapur.

Kakak sudah di sana.

Ia berdiri di dekat jendela kecil di atas wastafel, membelakangiku, dengan ponsel di telinga. Di atas meja dapur, di sebelahnya, ada tiga mangkuk kecil berisi sesuatu yang kuahnya berwarna seperti teh susu, dan satu tumpukan daun pisang yang sudah dipotong persegi.

“...belimbing wuluhnya dimasukin di awal atau di akhir, Bu?” tanyanya ke telepon, suaranya pelan supaya tidak membangunkanku. “Oh. Di akhir. Supaya asamnya nggak pecah. Iya, Bu. Iya. Terus santannya... perasan kedua. Iya, Bu, saya ngerti. Terus, Bu, maaf, satu lagi. Daun salamnya, Ibu biasanya pakai berapa lembar per pincuk?”

Aku berdiri diam di ambang pintu.

“Lima?” ulang Kakak. “Lima lembar. Per pincuk. Itu banyak, Bu.” Jeda. Lalu ia tertawa kecil. Pelan, rendah, tulus. “Iya, Bu. Biar harum sampai ke mimpi. Ibu juga bilang gitu? Wah. Itu ternyata omongan orang Solo semua, ya.”

Aku tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan. Tapi aku mengerti nadanya.

Kakakku bicara ke ponsel dengan suara yang tidak pernah kudengar. Bukan suara Chef ke pemasok. Bukan suara Kakak ke adiknya. Suara orang yang sedang mengejar sesuatu dengan seluruh hatinya.

“Matur nuwun sanget, Bu. Nanti kalau saya ke Pasar Gede, saya mampir. Iya, Bu. Salam buat Bapak.”

Ia menutup telepon. Lalu ia menunduk ke tiga mangkuk di meja, mengambil sendok, mencicipi mangkuk pertama, mengernyit. Mencicipi mangkuk kedua, mengernyit lebih dalam. Mencicipi mangkuk ketiga, berhenti, berpikir, lalu menggeleng.

Lalu ia mengambil ponselnya lagi, membuka sesuatu, dan mengetik.

Dan tersenyum.

Ia tersenyum ke ponselnya. Bukan senyum sopan. Bukan senyum sakit gigi yang ia pakai di foto. Senyum lebar, bodoh, tidak terkendali, yang membuat matanya menyipit dan pipinya terangkat, seperti anak SMA yang baru dapat balasan dari gebetannya.

Kakakku tidak pernah tersenyum ke ponsel.

Kakakku memakai ponsel untuk tiga hal: menelepon pemasok, membalas iya ke pesanku, dan menyalakan senter waktu mati lampu. Ponselnya adalah alat. Ponselnya bukan tempat ia tersenyum.

Aku melangkah mundur dari ambang pintu sebelum ia berbalik. Aku kembali ke kamarku. Aku duduk di tepi kasur.

Aku menatap tanganku. Tidak gemetar. Bagus.

Lalu aku menyadari mataku perih.


Ada satu hal yang selama ini aku percayai tentang kakakku, dan aku percaya padanya seperti aku percaya bahwa matahari terbit dari timur.

Kakakku tidak menginginkan apa pun.

Ia tidak pernah minta apa pun. Tidak pernah beli baju baru kecuali bajunya sudah sobek. Tidak pernah pergi liburan. Tidak pernah punya hobi selain memasak, dan memasak pun ia lakukan untuk orang lain. Waktu aku dapat gaji pertama dan bertanya ia mau apa, ia bilang Kakak nggak butuh apa-apa, Mon. Kamu tabung aja. Waktu aku naik jabatan dan membelikannya jam tangan, ia memakainya satu minggu lalu menyimpannya di laci karena takut tergores minyak.

Dan aku pikir, selama ini, itu karena ia memang tidak menginginkan apa pun. Aku pikir kakakku dilahirkan dengan cara itu. Seperti beberapa orang dilahirkan tidak suka durian.

Pagi itu, di ambang pintu dapur, dengan tiga mangkuk garang asem dan senyum ke ponsel, aku sadar aku salah.

Kakakku menginginkan banyak hal. Ia hanya tidak pernah membiarkan dirinya menginginkan apa pun, karena setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia harus memilih antara sesuatu itu dan aku.

Dan ia selalu memilih aku.


Aku tidak masuk kantor siang itu. Aku mengirim email ke timku bahwa aku bekerja dari rumah karena sakit kepala, yang setengah benar.

Sore harinya, pukul lima, aku masuk kantor. Aku tidak bisa diam di apartemen yang bau daun salam.

Aku naik ke rooftop gedung. Rooftop itu sebenarnya tidak boleh dimasuki karyawan. Ada pintu besi dengan tulisan DILARANG MASUK KECUALI PETUGAS. Tapi tim operasional punya akses kunci untuk pemeriksaan genset bulanan, dan aku sudah lama menyalahgunakan akses itu setiap kali aku butuh tempat untuk tidak dilihat siapa pun.

Langit Jakarta sore itu berwarna jingga kotor. Angin di atas sini lebih kencang, membuat rambutku yang tergerai berantakan. Aku duduk di tepi semen yang rendah di dekat tangki air, memeluk lutut, dan menatap gedung-gedung Kuningan yang berdiri seperti barisan raksasa yang kelelahan.

Pintu besi di belakangku berderit.

Aku tidak menoleh. Hanya ada satu orang di kantor ini yang tahu aku sering ke sini.

“Kamu tahu ini dilarang,” kata Bintang.

“Kamu juga ke sini.”

“Aku punya alasan. Antena repeater Wi-Fi lantai dua puluh delapan ada di sini. Aku sedang mengecek.” Ia berjalan ke arahku dengan dua gelas kopi di tangan, dan menyodorkan satu tanpa bertanya. “Kamu nggak masuk tadi pagi. Timmu bilang sakit kepala.”

Aku mengambil kopinya. Masih panas. Hitam, satu gula, persis seperti yang kusuka. Aku tidak ingat pernah memberi tahu Bintang bagaimana aku minum kopi.

“Kenapa kamu tahu aku di sini?”

“Lampu indikator pintu rooftop nyala di dasbor keamanan gedung. Aku punya akses ke dasbor itu.” Ia duduk di sebelahku, menjaga jarak setengah meter. “Lagian, kamu selalu ke sini kalau ada yang salah.”

“Nggak ada yang salah.”

“Hm.” Jenis kedua.

Kami duduk dalam diam. Angin bertiup. Di bawah sana, Jakarta mulai menyalakan lampunya satu per satu.

“Kakakku senyum ke ponsel,” kataku akhirnya.

Bintang tidak bereaksi. Ia menyesap kopinya dan menunggu.

“Tadi pagi. Jam enam. Dia lagi masak garang asem. Tiga versi. Dia telepon ibu-ibu pasar di Solo nanya berapa lembar daun salam. Terus dia ngetik sesuatu di ponsel.” Suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri, terlalu tenang, seperti suara orang yang membaca berita bencana. “Dan dia senyum. Kayak... kayak orang bego. Kayak anak SMA.”

“Itu buat Bu Tamara,” kata Bintang. Bukan pertanyaan.

“Iya.”

“Garang asemnya juga.”

“Iya.”

Bintang mengangguk perlahan.

“Dia nggak pernah masak buat siapa pun,” lanjutku. “Maksudku, dia masak buat ratusan orang setiap hari. Tapi itu kerja. Dia nggak pernah masak buat seseorang. Selain aku.” Aku menatap kopi di tanganku. “Dua puluh satu tahun, Bintang. Dua puluh satu tahun dia cuma masak buat aku.”

Bintang diam lama. Angin membuat rambutnya yang sudah berantakan menjadi lebih berantakan lagi. Ia tidak berusaha merapikannya.

Lalu ia berkata, dengan nada yang tidak menghibur dan tidak menuduh, hanya bertanya, seperti ia bertanya tentang bug di sistem:

“Kamu takut dia bahagia tanpa kamu?”

Aku menoleh tajam.

“Atau,” lanjutnya, masih menatap ke depan, ke lampu-lampu Kuningan, “kamu takut kamu nggak tahu harus jadi apa kalau dia bahagia?”

Pertanyaan itu menghantamku di tempat yang tidak kuketahui ada.

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Diam,” kataku.

Bintang diam.


Ia benar-benar diam.

Aku menunggu ia bicara lagi. Aku menunggu ia menjelaskan, atau minta maaf, atau mengganti topik, atau melakukan salah satu dari ratusan hal yang dilakukan orang normal ketika mereka menyadari sudah mengatakan sesuatu yang terlalu tajam.

Ia tidak melakukan apa pun. Ia duduk di sana, setengah meter dariku, menyesap kopinya, menatap kota.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Matahari tenggelam. Langit berubah dari jingga ke ungu ke biru tua. Lampu-lampu gedung menyala semua. Angin semakin dingin.

Dua puluh menit.

Kopiku habis. Aku memeluk gelas kosong itu seperti memeluk sesuatu yang hangat, meski sudah tidak hangat lagi.

Tiga puluh menit.

Bintang mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu, menyimpannya lagi. Masih tidak bicara.

Aku mulai merasakan diamnya seperti beban fisik. Seperti ia meletakkan pertanyaan itu di antara kami dan menolak mengambilnya kembali sampai aku menjawabnya. Aku tahu taktik ini. Aku memakainya di negosiasi dengan vendor. Siapa yang bicara duluan setelah diam yang panjang, dia yang kalah.

Aku tidak mau kalah.

Tiga puluh lima menit.

Bulan muncul. Separuh. Pucat di atas gedung-gedung, setengah tertutup polusi.

Empat puluh menit.

“Aku nggak tahu,” kataku.

Suaraku pecah di kata terakhir.

Bintang menoleh. Untuk pertama kalinya sore itu, ia menatapku langsung. Wajahnya tidak menang. Wajahnya tidak puas. Wajahnya hanya mendengarkan.

“Aku nggak tahu jawabannya,” ulangku. Lebih pelan. “Dua-duanya, mungkin. Aku takut dia bahagia tanpa aku. Dan aku takut, kalau dia bahagia, aku—”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu.

Aku sudah menjadi adik Matahari Wirasena sejak aku lahir. Aku sudah menjadi orang yang dijaga Kakak sejak aku delapan tahun. Aku sudah menjadi orang yang menjaga Kakak sejak aku bisa memegang pisau dapur dan menyiapkan bekal untuknya. Aku sudah menjadi orang yang menyingkirkan semua perempuan dari sekitar Kakak sejak aku tiga belas tahun.

Kalau kakakku tidak butuh dijaga lagi, aku ini siapa?

“Aku nggak pernah jadi apa-apa selain adiknya,” bisikku.

Angin bertiup. Rambutku menutupi wajahku. Aku tidak merapikannya, karena di balik rambut itu, mataku basah, dan aku tidak mau Bintang melihat.

Bintang tidak merapikan rambutku. Ia tidak menyentuhku. Ia tidak berkata kamu lebih dari itu atau kamu Head of Operations yang hebat atau kalimat-kalimat penghiburan lain yang akan terdengar seperti slide presentasi motivasi.

Ia hanya berkata, setelah jeda yang panjang:

“Kamu juga Head of Ops yang bikin vendor Cikarang minta maaf tiga kali dalam satu telepon.”

Aku tertawa. Tidak sengaja. Tawa basah yang keluar dari hidung.

“Kamu juga orang yang bikin sambal bajak paling enak di Jakarta, katanya,” lanjutnya. “Aku belum coba. Tapi Dimas bilang di grup chat.”

“Kamu ada di grup chat Dimas?”

“Grup chat staf. Dimas masuk lewat Sasha. Sekarang semua orang di grup chat staf Blin kenal Dimas.” Ia menyesap kopinya yang pasti sudah dingin. “Dia sangat aktif. Dia kirim foto kucing oranye setiap pagi.”

Aku tertawa lagi. Lebih keras kali ini. Aku menyibakkan rambut dari wajahku dan mengusap mataku dengan punggung tangan, dan aku tidak peduli lagi apakah Bintang melihat.

Bintang melihat. Ia tidak bilang apa-apa tentang itu.

“Dan kamu juga,” katanya, lebih pelan, menatap kembali ke kota, “orang yang bawain rendang buat rivalnya di operasi lapangan ilegal.”

“Itu bukan buat kamu. Itu sogokan.”

“Tetap rendang.”

Kami duduk diam lagi. Tapi diam yang ini berbeda. Diam yang ringan. Diam seperti duduk di atap kontrakan di Tebet, dulu, sebelum semuanya berubah.

“Bintang.”

“Hm.”

“Kenapa kamu ke sini?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia memutar gelas kopi kosong di tangannya.

“Antena repeater Wi-Fi,” katanya akhirnya.

“Kamu nggak sekali pun ngecek antena itu dari tadi.”

“Antenanya baik-baik saja. Aku bisa lihat dari sini.”

Aku menatapnya. Ia menatap kota. Telinganya, aku memperhatikan dengan takjub, sedikit merah. Mungkin karena angin.

Pasti karena angin.


Malam itu aku pulang pukul sembilan. Apartemen masih bau daun salam. Kakak belum pulang; Jumat malam restoran selalu penuh.

Di meja dapur, tiga mangkuk dari pagi tadi sudah dicuci dan ditiriskan di rak. Di sebelahnya, ada selembar kertas yang ditempel ke pintu kulkas dengan magnet berbentuk cabai.

Tulisan tangan Kakak. Huruf-hurufnya besar dan miring ke kiri, seperti tulisan anak SD, karena ia tidak pernah sempat belajar menulis dengan rapi.

Versi 1: asam terlalu cepat. Belimbing masuk di akhir. Versi 2: santan terlalu kental. Perasan kedua. Versi 3: kurang dalam. Coba kluwek sedikit. Daun salam 5 lembar. Versi 4: Kamis.

Aku menatap kertas itu lama.

Versi 4: Kamis.

Aku tidak tahu apa artinya Kamis. Tapi aku tahu itu bukan untukku.

Aku tidak mencabut kertas itu. Aku tidak membuangnya. Aku tidak menulis apa pun di bawahnya.

Aku membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan bekal untuk besok, dan mulai mengiris cabai. Tanganku tidak gemetar.

Lalu, setelah bekal Kakak selesai, aku membuat satu kotak bekal lagi. Nasi, telur dadar, tumis buncis, sambal bajak di wadah terpisah. Aku tidak tahu untuk siapa. Aku hanya membuatnya, karena tanganku ingin melakukan sesuatu.

Aku menutup kotak kedua itu, menatapnya, dan menyimpannya di kulkas.

Besok pagi, kalau aku bertemu Bintang di lift, mungkin aku akan memberikannya.

Mungkin.

Di luar jendela dapur, bulan separuh menggantung di atas Kalibata. Pucat, setengah tertutup polusi. Tapi masih di sana.