Chapter Eight
Nasi Gosong
POV: Tamara
Pintu belakang Sekar Kedhaton berwarna hijau tua, catnya mengelupas di bagian bawah, dan di depannya duduk seekor kucing oranye gemuk yang menatapku seperti satpam yang menatap tamu tanpa undangan.
“Permisi,” kataku kepada kucing itu.
Kucing itu tidak bergeser.
Aku sudah bernegosiasi dengan menteri, dengan direktur bank sentral, dengan investor Jepang yang tidak pernah tersenyum. Aku tidak akan kalah dengan kucing. Aku berjongkok, menatapnya sejajar, dan berkata dengan nada rapat direksi: “Aku punya janji jam tujuh.”
Kucing itu menguap, berdiri, dan berjalan pergi dengan ekor terangkat, seolah keputusan pergi itu sepenuhnya miliknya.
Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk.
Matahari berdiri di ambang pintu dengan kaus hitam polos dan celana kerja abu-abu, apron cokelat tua tergantung di lehernya tapi belum diikat. Rambutnya sedikit basah, seperti baru keluar dari kamar mandi sebelum ke sini. Lengan kausnya pendek. Aku langsung melihat lengan bawah kirinya, garis pucat panjang itu, dan aku memaksa mataku naik ke wajahnya sebelum ia menyadarinya.
Ia menatapku dari atas ke bawah. Kaus hitam. Jeans gelap. Sepatu kets putih, karena aku membaca bahwa lantai dapur licin. Rambut tergerai. Lipstik merah.
“Kamu bilang jangan pakai baju putih,” kataku.
“Saya juga bilang bawa karet rambut.”
Aku mengangkat pergelangan tangan. Karet rambut hitam melingkar di sana.
“Kenapa nggak dipakai?”
“Karena aku mau kamu lihat dulu rambutku tergerai.” Aku melangkah melewatinya ke dalam, sengaja cukup dekat sampai bahuku menyentuh lengannya. “Sekarang sudah lihat. Aku boleh ikat.”
Di belakangku, aku mendengar ia menarik napas pelan. Lalu pintu hijau itu menutup.
Dapur Sekar Kedhaton di hari Senin berbeda dari dapur yang kulihat dari kursi nomor satu. Tanpa koki lain, tanpa bunyi tiket pesanan, tanpa Dimas dan Bu Ratih yang mengintip dari balik pintu, dapur itu terasa lebih besar, lebih sunyi, dan jauh lebih intim. Lampu-lampu di atas meja stainless menyala kuning. Di sudut, ada radio kecil yang memutar gending Jawa dengan volume sangat pelan.
“Kamu dengar gending?”
“Pak Gunawan yang pasang. Katanya biar bumbunya tenang.”
“Bumbu bisa tenang?”
“Kalau kokinya tenang.”
Ia mengambil apron kedua dari gantungan, apron putih yang lebih kecil, dan mengulurkannya padaku.
Aku tidak mengambilnya. Aku mengikat rambutku dulu, perlahan, mengangkat kedua tangan ke belakang kepala, mengumpulkan rambut yang tergerai dan memelintirnya jadi satu, dan aku tahu persis bagaimana gerakan itu terlihat dari tempat ia berdiri: leher yang terbuka, garis bahu, kaus hitam yang sedikit tertarik ke atas. Aku melilitkan karet rambut dua kali. Lalu aku berbalik, membelakanginya.
“Ikatkan,” kataku.
Hening.
“Apronnya,” tambahku, menoleh sedikit dari balik bahu. “Aku nggak bisa ikat simpul di belakang. Aku CFO, bukan pramuka.”
Ia diam lama. Lalu aku merasakan kain apron menyentuh perutku, lehernya dilingkarkan dari atas kepalaku dengan sangat hati-hati supaya tidak merusak ikatan rambutku. Lalu kedua tali apron itu ditarik ke belakang, dan tangannya ada di pinggangku.
Tidak menyentuh, persisnya. Hanya dekat. Buku-buku jarinya sesekali menyentuh kaus di atas pinggangku saat ia menyimpulkan tali. Aku bisa merasakan napasnya di tengkukku yang terbuka. Ia menarik tali itu sedikit, sangat sedikit, dan aku terdorong setengah sentimeter ke belakang, ke arahnya.
“Kekencangan?” tanyanya. Suaranya lebih rendah dari biasanya.
“Nggak.”
“Kekendoran?”
“Kamu bisa tarik lebih kencang kalau mau.”
Simpulnya selesai. Tangannya menjauh dari pinggangku. Aku berbalik, dan ia sudah mundur dua langkah, menatap lantai, telinganya merah sampai ke ujung.
“Pelajaran pertama,” katanya ke lantai. “Nasi.”
Aku tidak bisa masak nasi.
Aku perlu mengklarifikasi pernyataan itu karena aku CFO dan aku benci pernyataan yang ambigu. Aku tahu teorinya. Air dan beras, rasio satu banding satu setengah atau satu banding satu seperempat tergantung jenis berasnya. Aku tahu semua itu. Aku bahkan pernah membaca makalah ilmiah tentang gelatinisasi pati.
Tapi aku tumbuh di asrama di Inggris dari umur dua belas, di mana makanan datang dari kantin. Di Oxford aku tinggal di college, di mana makanan juga datang dari kantin. Di London, aku kerja di bank investasi, di mana makanan datang dari Deliveroo pukul sebelas malam. Dan sejak pulang ke Jakarta, aku punya asisten rumah tangga yang datang tiga kali seminggu dan masak untuk enam hari.
Jadi ketika Matahari meletakkan panci kecil, sekantong beras pandan wangi, dan gelas ukur di depanku, lalu berkata, “Masak nasi. Saya lihat dulu kamu bisanya sampai mana,” aku tersenyum dengan percaya diri.
Tiga puluh menit kemudian, dapur Sekar Kedhaton dipenuhi asap abu-abu.
Aku tidak sepenuhnya bersalah. Ponselku bergetar. Raka. Aku mengangkatnya karena aku pikir mungkin darurat. Itu bukan darurat. Raka hanya ingin tahu apakah aku benar-benar sedang les masak dengan chef yang Sasha ceritakan di grup chat staf. Aku menutup telepon, tapi terlambat. Air di panci sudah habis, kerak di dasar sudah menghitam, dan asapnya naik seperti asap dari gunung yang sedang marah.
Matahari bergerak lebih cepat dari yang pernah kulihat ia bergerak. Dalam dua detik, panci itu sudah ia angkat dari api dengan lap, dimasukkan ke bak cuci, disiram air. Bunyi mendesis keras. Uap putih bercampur asap abu-abu. Aku mundur selangkah dan menyenggol meja, dan ujung apron putihku menyentuh kompor sebelah yang masih menyala kecil.
Ia menarikku.
Satu tangan di lenganku, satu tangan lagi menepuk-nepuk ujung apronku yang sudah mulai berasap. Tiga tepukan, cepat, keras. Asapnya padam. Ia mematikan kompor sebelah dengan sikunya.
Lalu kami berdiri di sana, di tengah dapur berasap, dengan tangannya masih menggenggam lenganku dan napas kami berdua sedikit terengah.
“Kamu,” katanya, perlahan, “hampir membakar dapur yang bertahan dua puluh tahun.”
“Aku nggak sengaja.”
“Kamu angkat telepon waktu masak nasi.”
“Itu CEO-ku.”
“CEO-mu bisa nunggu. Nasi nggak bisa.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Asap mulai menipis di sekitar kami, tersedot ke cerobong di atas kompor. Tangannya masih di lenganku. Ia sepertinya belum menyadari itu.
“Kamu masih pegang aku,” kataku.
Ia menatap tangannya sendiri, seperti baru sadar tangannya ada di sana. Tapi ia tidak langsung melepaskan. Ia menatapnya satu detik lebih lama. Dua detik.
Lalu ia melepaskan.
“Pelajaran pertama,” katanya, berbalik ke bak cuci, “jangan angkat telepon.”
“Itu bukan pelajaran memasak.”
“Itu pelajaran paling penting di dapur.”
Di balik punggungnya, aku menyentuh lenganku sendiri, di tempat tangannya tadi menggenggam. Kulitku masih hangat di sana. Aku menyalahkan kompor.
Pelajaran kedua adalah bawang.
Ia meletakkan talenan kayu di depanku, satu pisau dengan gagang kayu yang sudah aus di bagian genggamannya, dan sepuluh butir bawang merah.
“Iris tipis. Semua sama tebalnya.”
Aku mengiris. Irisan pertamaku setebal koin. Irisan kedua setipis kertas. Irisan ketiga miring seperti tangga yang dirancang arsitek mabuk.
Matahari menatap talenanku dalam diam selama sepuluh detik.
“Kamu,” katanya akhirnya, “pegang pisau kayak pegang pulpen.”
“Aku lebih sering pegang pulpen.”
“Kelihatan.”
“Kalau kamu cuma mau mengkritik, aku bisa cari guru di YouTube.”
Ia diam lagi. Lalu ia berjalan memutari meja.
Aku merasakan ia berdiri di belakangku sebelum aku melihatnya. Kehangatan yang tiba-tiba, di punggungku. Bau serai, asap kayu, dan sabun mandi. Lalu kedua lengannya terulur melewati kedua sisi tubuhku, dan tangannya menutupi tanganku. Tangan kanannya di atas tangan kananku yang memegang pisau. Tangan kirinya di atas tangan kiriku yang menahan bawang.
Aku berhenti bernapas.
“Jari yang nahan bawang, ditekuk,” katanya, suaranya tepat di atas telingaku. Ia menekuk jari-jariku dengan jari-jarinya sendiri, perlahan, seperti melipat kain. “Ruas jari yang jadi pemandu pisau. Ujung jari di belakang. Biar nggak kena.”
Aku tidak mendengar sepatah kata pun.
“Pisau nggak ditekan. Didorong ke depan, lalu ke bawah. Begini.” Tangannya menggerakkan tanganku. Pisau meluncur, dan irisan bawang yang tipis sempurna jatuh ke talenan. “Lagi.”
Irisan kedua. Ketiga. Tangannya hangat dan kasar di atas tanganku. Dadanya tidak menyentuh punggungku, tapi dekat, begitu dekat sehingga aku bisa merasakan setiap tarikan napasnya seperti gelombang kecil di belakangku.
Aku memejamkan mata sebentar.
“Chef,” kataku pelan, tanpa menoleh.
“Hm.”
“Kalau kamu berdiri sedekat ini, aku nggak bisa konsentrasi motong.”
Tangannya berhenti.
Aku menunggu ia mundur. Seperti di depan restoran waktu itu, waktu aku hendak menyentuh lukanya. Seperti yang kuduga dari laki-laki yang menolak diwawancara majalah tiga kali.
Ia tidak mundur.
Ia diam satu detik. Lalu, dengan suara yang sangat rendah, sangat tenang, tepat di atas telingaku, sampai aku merasakan setiap suku katanya di kulit leherku yang terbuka:
“Kalau begitu, belajar konsentrasi.”
Tangannya bergerak lagi. Pisau meluncur lagi. Irisan bawang keempat jatuh ke talenan, tipis sempurna.
Lututku, yang sudah berdiri di depan dewan direksi tiga perusahaan multinasional tanpa gemetar sedikit pun, mendadak tidak bisa dipercaya.
Aku bersandar ke belakang. Sedikit. Sangat sedikit. Hanya cukup untuk punggungku menyentuh dadanya.
Aku merasakan napasnya tertahan.
“Pisau di tangan, Bu,” katanya. Suaranya sedikit pecah di ujung. “Hati-hati.”
“Bukan pisaunya yang bahaya, Chef.” Aku menoleh, sedikit, cukup untuk melihat garis rahangnya dari jarak lima sentimeter. “Kamu.”
Saat itulah pisau meleset.
Lukanya kecil. Goresan di ujung jari telunjuk kiri, tidak lebih dari setengah sentimeter. Darahnya hanya setetes.
Tapi Matahari bereaksi seperti aku baru kehilangan satu tangan.
Dalam tiga detik, pisau itu sudah ia ambil dari tanganku dan diletakkan jauh di ujung meja. Dalam lima detik, tanganku sudah di bawah air keran yang mengalir. Dalam lima belas detik, ia sudah mengambil kotak P3K dari dinding, mengeringkan jariku dengan kasa bersih, dan menempelkan plester bergambar, aku memperhatikan dengan takjub, kucing oranye.
“Ini plester siapa?”
“Dimas.”
“Dimas punya plester bergambar kucing?”
“Dimas sering kena pisau.”
Ia selesai menempelkan plester itu. Tapi ia tidak melepaskan tanganku. Ia memegangnya dengan dua tangan, telapak tanganku menghadap ke atas di telapak tangannya yang besar, ibu jarinya mengusap pelan pangkal jari telunjukku di bawah plester, seperti memeriksa apakah ada luka lain yang ia lewatkan.
Ia menatap tanganku. Aku menatapnya.
Di bawah lampu kuning dapur, dari jarak sedekat ini, aku melihat hal-hal yang tidak terlihat dari kursi nomor satu. Bulu matanya yang ternyata panjang. Bekas luka kecil di alis kanannya. Kerutan halus di sudut matanya, kerutan orang yang terlalu sering menyipit karena asap atau karena lelah. Ia tidak tersenyum. Wajahnya serius, hampir tegang, seperti setetes darah di jariku adalah sesuatu yang benar-benar menakutkan baginya.
“Kamu biasa pegang tangan murid lama-lama begini?” tanyaku pelan.
Ia mengangkat wajah. Matanya bertemu mataku.
“Murid saya biasanya Dimas,” katanya.
“Dan kamu pegang tangan Dimas begini?”
“Dimas saya suruh tempel plester sendiri.”
“Kenapa aku nggak?”
Ia tidak menjawab. Ia menatapku, dan ibu jarinya berhenti mengusap pangkal jariku, tapi tangannya tetap di sana, menggenggam tanganku dengan hangat dan hati-hati, seperti menggenggam telur yang retak.
Lalu aku melihat sesuatu dari sudut mataku. Lewat jendela kecil di pintu ayun menuju ruang makan, lewat jendela kaca besar di depan restoran yang gelap, di seberang jalan, di bawah pohon angsana: sebuah mobil putih yang diparkir. Lampu kabinnya mati, tapi aku melihat dua siluet di dalamnya. Dan aku mengenali mobil itu. Aku sudah melihatnya setiap pagi di parkiran basement Blin, di slot yang disediakan untuk jajaran Head.
Aku menoleh kembali ke Matahari.
“Adikmu,” kataku, “ada di seberang jalan.”
Ia tidak menoleh ke arah jendela. Ia tidak kaget. Ia hanya terus menatapku.
“Saya tahu.”
“Kamu tahu?”
“Dari jam tujuh.”
Aku menatapnya. Sejak jam tujuh. Sejak sebelum aku datang. Ia tahu adiknya di seberang jalan, mengawasi, waktu ia mengikat apronku. Waktu ia memegang lenganku di tengah asap. Waktu ia berdiri di belakangku dan menggerakkan tanganku di atas pisau dan berkata belajar konsentrasi tepat di telingaku.
“Dan kamu tetap berdiri sedekat itu,” kataku perlahan.
Ia diam lama. Ibu jarinya bergerak lagi, sekali, di pangkal jariku.
“Iya,” katanya.
Satu kata. Seperti dulu di malam kedua. Tapi kali ini, bukan pintu yang ditutup.
Kali ini, pintu yang dibiarkan terbuka.
Les itu berakhir pukul sembilan lewat sepuluh. Kami tidak masak apa pun yang bisa dimakan. Sepuluh butir bawang merah teriris, empat di antaranya tipis sempurna karena tangannya yang menggerakkan, enam sisanya bencana karena tanganku sendiri. Satu panci gosong yang direndam di bak cuci. Satu apron dengan ujung yang hangus. Satu plester bergambar kucing.
Di pintu belakang, ia menyerahkan tas kecil padaku. Isinya sekotak nasi putih yang pulen, telur dadar, dan sambal bajak.
“Kamu masak ini kapan?”
“Waktu kamu angkat telepon.”
Aku menatap kotak itu. Lalu menatapnya.
“Jadi kamu sudah tahu aku bakal gosongin nasi.”
“Saya sudah tahu waktu kamu nanya food cost di malam pertama,” katanya. “Orang yang hafal angka biasanya nggak hafal api.”
“Itu menghina.”
“Itu pengamatan.”
Aku tertawa. Kucing oranye yang tadi menjaga pintu kembali entah dari mana dan duduk di sebelah kakinya, menatapku dengan pandangan menghakimi.
“Senin depan?” tanyaku.
“Kalau jarimu sudah sembuh.”
“Jariku sembuh dalam dua hari.”
“Kalau begitu Rabu. Setelah servis. Jam sepuluh.”
Aku mengangkat alis. “Kamu yang nawarin?”
Ia tampak menyadari apa yang baru saja ia katakan. Telinganya memerah lagi. Tapi ia tidak menarik kata-katanya.
“Jari jangan kena air,” katanya sebagai gantinya. “Plesternya ganti besok pagi.”
Di mobil, sopirku bertanya kenapa aku memegang kotak bekal seperti memegang piala.
Aku tidak menjawab.
Aku menatap jari telunjukku di bawah lampu kabin. Plester bergambar kucing oranye. Kecil, konyol, sangat tidak cocok dengan kuku yang dipoles nude dan cincin emas putih di jari tengahku.
Jantungku berdetak terlalu cepat. Sudah begitu sejak jam tujuh lewat lima belas, sejak tangannya menyimpulkan tali apron di pinggangku, dan belum melambat. Aku sudah mencoba menenangkannya dengan cara yang biasa kupakai sebelum negosiasi besar: menarik napas empat hitungan, menahan tujuh, mengembuskan delapan. Tidak berhasil.
Ponselku bergetar.
Nomor tanpa nama. Aku belum menyimpannya. Aku tahu nomor siapa itu.
Plesternya jangan dilepas sebelum tidur.
Aku menatap layar. Aku mengetik.
Kamu khawatir sama jariku atau sama aku?
Aku melihat tanda mengetik... muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi.
Lalu:
Jari.
Lalu, sebelas detik kemudian:
Dan yang punya jari.
Aku meletakkan ponsel di pangkuanku dengan layar menghadap ke bawah, seperti meletakkan sesuatu yang terlalu panas untuk dipegang. Aku menyandarkan kepala ke jendela mobil. Lampu-lampu Sudirman bergerak mundur.
Di jariku, kucing oranye di plester itu tersenyum konyol.
Aku juga.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong reading
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan