← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Thirty Six

Giliranku

POV: Mona

Kulit di atas bekas luka itu terasa berbeda.

Aku tidak pernah menyentuhnya. Sebelas tahun, aku tidak pernah menyentuhnya. Aku melihatnya setiap hari. Waktu Kakak menggulung lengan kemejanya untuk mencuci piring. Waktu aku memasangkan kancing manset di malam pesta Seri C. Waktu ia tertidur di sofa dengan lengan terkulai di luar kain batik. Aku melihatnya ribuan kali.

Tapi aku tidak pernah menyentuhnya. Karena setiap kali aku melihatnya, aku kembali ke mulut gang yang gelap, dengan darah yang hangat menetes ke rok abu-abuku, dan aku tidak sanggup.

Malam ini, di atap kontrakan di Tebet, aku menyentuhnya.

Kulitnya lebih halus dari kulit di sekitarnya. Sedikit menonjol. Sedikit lebih pucat. Seperti garis jahitan di kain yang sudah dicuci ratusan kali.

Aku menyusurinya dengan ujung jariku. Perlahan. Dari dekat pergelangan tangannya, ke atas, sampai hampir ke siku. Empat belas jahitan. Aku menghitungnya dalam hati.

Kakak tidak bergerak. Ia menatap jariku di lengannya. Napasnya tertahan.

“Kakak ingat apa yang Kakak bilang malam itu?” tanyaku.

Ia diam. Lalu, sangat pelan: “Udah, Mon. Udah. Kakak di sini.”

“Kakak bilang itu sambil darahnya netes.”

“Iya.”

“Kakak nggak nangis. Kakak nggak teriak. Kakak cuma berdiri di depanku. Tangan direntangin.”

“Iya.”

Aku berhenti di ujung bekas luka itu, di dekat siku. Aku meletakkan telapak tanganku di atasnya. Menutupinya sepenuhnya.

“Sebelas tahun,” kataku. “Sebelas tahun Kakak berdiri di depanku kayak gitu. Bukan cuma malam itu. Setiap hari. Setiap pagi Kakak bangun jam empat. Setiap kali Kakak robek surat. Setiap kali Kakak bilang udah, Mon waktu aku tanya Kakak udah makan.”

Kakak menatapku.

Aku menarik napas. Napas yang panjang dan gemetar, yang terasa seperti menghirup udara di atas atap ini untuk pertama kalinya setelah sebelas tahun menahan napas.

“Dulu Kakak berdarah buat aku,” kataku.

Suaraku tidak pecah. Aku memastikannya tidak pecah.

“Sekarang giliranku.”


Kakak tidak mengerti. Aku melihatnya di wajahnya. Kerutan di dahinya. Matanya yang bingung.

“Mon—”

“Aku nggak akan berdarah,” kataku. “Tenang aja. Aku nggak akan potong tanganku pakai cutter.” Aku mencoba tersenyum. Senyumnya keluar miring. “Aku cuma mau berdiri di depan Kakak. Sekali ini. Tangan direntangin.”

“Berdiri di depan Kakak dari apa?”

Aku menatapnya. Lama.

“Dari Kakak sendiri,” kataku.

Ia diam.

“Laras bilang,” lanjutku, “Kakak nggak pernah butuh dijaga dari perempuan. Kakak butuh dijaga dari diri Kakak sendiri. Dari kebiasaan Kakak ngasih semua sampai nggak ada yang tersisa. Dari kebiasaan Kakak bilang udah. Dari kebiasaan Kakak nggak pernah bilang aku mau.”

“Kamu telepon Laras?”

“Kemarin. Dari rooftop kantor.” Aku menatap tanganku di atas bekas lukanya. “Dia punya toko roti di Ubud, Kak. Namanya Roti Gagal.”

Kakak menatapku. Lalu, perlahan, di tengah wajahnya yang masih basah, sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum, persisnya. Lebih seperti sesuatu yang hampir tertawa dan hampir menangis sekaligus.

“Roti Gagal,” ulangnya.

“Dia punya suami petani kopi. Dan anak umur tiga tahun yang suka nyolong adonan.” Aku menelan. “Dia bahagia, Kak. Dia maafin aku. Dia bilang dia udah lama maafin aku.”

Kakak memejamkan mata. Ia menghela napas. Napas yang panjang, seperti orang yang baru meletakkan karung yang ia pikul bertahun-tahun tanpa sadar ia sedang memikulnya.

Aku menunggu ia membuka mata.

Lalu aku mengatakannya.

“Aku sayang Kakak.”

Kakak membuka mata.

Aku sudah mengucapkan kalimat itu ribuan kali. Waktu aku kecil, sebelum tidur, di kasur kontrakan yang sempit. Waktu aku remaja, dengan nada malas, sebelum berangkat sekolah. Di malam pesta Seri C, sebagai candaan, sambil membetulkan dasinya, supaya ia tersenyum di foto. Di pagi ulang tahunnya, dari ambang pintu kamarku, tanpa menoleh.

Malam ini, aku mengucapkannya sambil menatapnya. Dengan tanganku di atas bekas lukanya. Dengan suara yang tidak bercanda.

“Aku sayang Kakak,” ulangku. “Makanya sekarang Kakak harus pergi.”


Hening.

Tidak ada angin. Tidak ada motor yang lewat di gang di bawah. Sinetron di televisi tetangga, entah kapan, sudah dimatikan. Hanya kami berdua di atas atap kontrakan di Tebet, di atas tumpukan genteng bekas yang ditutup terpal biru yang sobek, dengan mangkuk plastik kosong dan dua sendok aluminium yang bengkok di antara kami.

Kakak menatapku.

Ia tidak bilang apa-apa. Ia tidak protes. Ia tidak bilang Kakak nggak bisa. Ia hanya menatapku dengan mata yang basah, dan aku melihat sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat. Sesuatu yang retak. Pelan. Seperti es di permukaan kolam yang mulai mencair.

“Mon,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar.

“Kakak harus ke Lyon.”

“Antoine udah—”

“Antoine masih di Jakarta sampai Jumat. Hotel di Thamrin. Dia kasih kartu namanya ke aku.” Aku menelan. “Dia bilang dia nggak akan nunggu sembilan tahun lagi. Tapi dia masih nunggu lima hari.”

“Mon, Kakak nggak bisa ninggalin kamu.”

“Kakak nggak ninggalin aku.” Aku meremas lengannya. “Kakak cuma pindah tempat berdiri.”

Ia menatapku. Kalimat itu bukan kalimatku. Itu kalimat Bintang, di rooftop kantor. Tapi aku memakainya, karena itu kalimat yang benar.

“Aku punya Bintang, Kak,” kataku. “Dia nunggu aku selesai jaga Kakak. Dia bilang dia mau jadi orang pertama yang jaga aku. Dan itu baru bisa terjadi kalau aku udah selesai.” Aku tertawa. Basah. “Dia kasih nama mobilnya kayak server. Dia nggak pernah mogok.”

Kakak tidak tertawa. Tapi sudut bibirnya bergerak lagi.

“Aku punya Tamara,” lanjutku. “Dia peluk aku di kasur twin di Surabaya. Dia bilang terima kasih udah jaga dia. Dia nggak marah sama aku, Kak. Dia bilang dia cuma sayang Kakak. Kayak aku.”

Kakak memejamkan mata sebentar.

“Aku punya Dimas yang nelepon aku jam enam pagi. Aku punya Bu Ratih yang nggak mau beli tinta hitam. Aku punya Sasha yang laminating pesan WhatsApp. Aku punya Raka yang kebanyakan emoji.” Aku menarik napas. “Aku punya banyak orang, Kak. Aku nggak tahu kapan mulainya. Tapi aku punya.”

Aku melepaskan lengannya. Aku meraih tas di sebelahku dan mengeluarkan sesuatu.

Buku masak tua dengan sampul bergambar mangkuk sup yang warnanya sudah pudar.

Masakan untuk Diri Sendiri: Seratus Resep Satu Porsi.

Aku meletakkannya di pangkuan Kakak.

Ia menatap buku itu. Ia membaca judulnya. Lalu ia membuka halaman pertama, dan membaca tulisan tangan pemilik sebelumnya, dengan tinta biru yang sudah pudar.

Untuk diriku. Karena aku juga pantas.

“Bintang yang kasih,” kataku. “Di kencan pertama. Di toko buku di Cikini.”

Kakak menatap tulisan itu lama.

“Aku udah masak tiga resep,” kataku. “Nasi goreng telur. Sup jagung. Tumis kangkung. Buat satu orang. Buat aku.” Aku tersenyum. “Nasi gorengnya kurang garam. Supnya kebanyakan maizena. Tumis kangkungnya lumayan.”

Kakak mengangkat wajah dari buku itu dan menatapku. Matanya basah lagi.

“Aku bisa masak buat diriku sendiri, Kak,” kataku pelan. “Aku nggak tahu caranya dulu. Sekarang aku belajar. Kayak Kakak belajar kluwek dari ibu-ibu Pasar Gede. Kayak Tamara belajar motong bawang.” Aku menutup buku itu di pangkuannya. “Kakak juga bisa belajar. Belajar pergi. Belajar mau sesuatu.”


“Satu lagi,” kataku.

Kakak menatapku.

“Aku terima tawaran Raka.”

Ia berhenti bernapas. “Singapura?”

“VP Operations Southeast Asia.” Aku tersenyum. “Tapi aku nego. Tamara yang ajarin aku nego, pakai pulpen merah. Kantornya tetap di Jakarta. Aku bolak-balik ke Singapura dua minggu sekali. Raka setuju. Pakai empat emoji.”

Kakak menatapku. “Kamu terima.”

“Aku terima.” Aku menatap lampu-lampu Kuningan di kejauhan. “Aku hampir ngulang, Kak. Aku hampir nolak karena Kakak di sini. Kayak Kakak nolak Lyon karena Mona di sini.” Aku menoleh padanya. “Tamara yang bilang jangan. Dia bilang, jangan bikin dia hidup dengan tahu dia jadi alasan kamu nggak pergi.”

Kakak tidak bicara.

“Jadi aku nggak mau jadi alasan Kakak juga,” kataku. “Udah dua kali. Aku nggak mau yang ketiga.”

Aku mengulurkan tangan ke arahnya.

“Ponsel Kakak.”

Kakak menatap tanganku. Ia tidak bergerak.

“Kak. Ponsel.”

“Kamu mau ngapain?”

“Rencana Darurat Nomor Lima.”

“Itu apa?”

“Melepas.” Aku menggoyangkan tanganku yang terulur. “Poin satu sudah: bawa Kakak pulang ke Tebet. Poin dua: ini. Ponsel, Kak.”

Kakak menatapku lama. Lalu, perlahan, seperti seseorang yang menyerahkan sesuatu yang sangat berat, ia mengambil ponselnya dari saku celana dan meletakkannya di telapak tanganku.

Aku membuka kunci ponselnya. Aku tahu sandinya. Tanggal lahirku. Sejak dulu.

Aku membuka kontak. Aku mencari nama itu. Chef Antoine.

Aku menekan tombol hijau.

“Mon—”

Aku mengangkat satu jari ke arahnya. Ia diam.

Ponsel itu berdering. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu suara serak, mengantuk, dengan aksen Prancis yang kental:

“Allô? Matahari?”

“Monsieur,” kataku dalam bahasa Inggris. “Ini bukan Matahari. Ini la petite sœur.”

Hening di ujung telepon. Lalu: “Mademoiselle Mona?”

“Maaf menelepon malam-malam.”

“Tidak apa-apa. Aku orang tua. Aku tidur jam sembilan dan bangun jam sebelas, lalu tidak bisa tidur lagi.” Antoine terdengar lebih bangun sekarang. “Ada apa? Matahari baik-baik saja?”

Aku menatap kakakku. Ia duduk di sebelahku di atas genteng bekas, dengan buku masak tua di pangkuannya dan mata yang basah, menatapku dengan ekspresi orang yang tidak percaya apa yang sedang terjadi.

“Dia baik-baik saja,” kataku. “Dia di sebelahku.”

“Dan?”

Aku menarik napas.

“Dia berangkat, Monsieur,” kataku. “Ke Lyon.”


Hening yang panjang di ujung telepon.

Lalu Antoine mulai bicara dalam bahasa Prancis. Cepat. Banyak. Aku tidak mengerti satu kata pun. Tapi aku mengerti nadanya. Nada orang tua yang sudah menunggu sembilan tahun, dan baru saja mendengar bahwa ia tidak perlu menunggu lagi.

Kakak mencoba merebut ponselnya. Aku menghindar, berdiri dari genteng, dan mundur dua langkah ke pinggir atap.

“Mon! Kakak belum bilang—”

“Pasal Tujuh Belas, Kak.”

“Kita nggak punya Pasal Tujuh Belas!”

“Sekarang punya.” Aku menutup speaker ponsel dengan telapak tangan. “Pihak Pertama dilarang menolak apa pun karena Pihak Ketiga. Berlaku seumur hidup. Tidak bisa direvisi.”

Kakak berdiri. Buku masak tua jatuh dari pangkuannya ke atas genteng. Ia berdiri di tengah atap, dengan mangkuk plastik kosong di kakinya dan lampu kota di belakangnya, menatapku.

Aku menatapnya balik.

“Tanda tangan nanti,” kataku. “Aku print besok.”

Lalu aku membuka speaker lagi.

“Monsieur? Masih di sana?”

“Oui, oui, aku di sini.” Suara Antoine bergetar sedikit. “Mademoiselle, kau yakin? Dia setuju?”

Aku menatap Kakak. “Dia belum setuju. Tapi dia akan setuju.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena,” kataku, menatap kakakku yang berdiri di tengah atap kontrakan di Tebet dengan wajah basah dan tangan yang tidak tahu harus melakukan apa, “aku adiknya. Dan aku belum pernah salah soal dia.”

Aku menyerahkan ponsel itu ke Kakak.

Ia menatap ponsel di tanganku. Lama. Sangat lama.

Lalu ia mengambilnya. Ia menempelkannya ke telinga.

“Chef,” katanya. Suaranya serak.

Aku tidak mendengar apa yang Antoine katakan. Aku hanya melihat wajah Kakak. Aku melihat rahangnya mengencang, lalu mengendur. Aku melihat matanya terpejam. Aku melihat bibirnya bergetar.

“Iya, Chef,” katanya. “Iya.” Ia menelan. “Saya berangkat.”


Ia menutup telepon.

Ia berdiri di sana, di tengah atap, dengan ponsel di tangan. Ia tidak bergerak.

Lalu ia menatapku.

Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami bergerak bersamaan, seperti dulu, waktu aku delapan tahun dan ia sepuluh tahun dan kami berdiri di pemakaman Ibu dan tiba-tiba saling memeluk tanpa ada yang menyuruh.

Ia memelukku. Aku memeluknya balik. Lengannya yang kuat melingkari punggungku. Wajahku di dadanya. Bau asap kayu dan sabun mandi dan, samar sekali, cendana.

Dan kami menangis.

Seperti dulu. Di atap yang sama. Di atas genteng bekas yang sama. Di bawah lampu kota yang sama yang tidak bisa kami beli.

Tapi kali ini bukan karena lapar.

Bukan karena sewa yang telat tiga bulan. Bukan karena SPP yang belum dibayar. Bukan karena darah yang menetes ke rok abu-abu. Bukan karena takut tidak punya siapa-siapa.

Kali ini karena kami punya terlalu banyak. Terlalu banyak orang. Terlalu banyak cinta. Terlalu banyak hal yang selama ini kami simpan untuk satu sama lain, yang sekarang harus kami bagi dengan dunia.

“Kakak takut, Mon,” bisiknya di rambutku.

“Aku tahu.”

“Kakak nggak tahu caranya.”

“Aku juga nggak tahu.” Aku memeluknya lebih erat. “Kita belajar.”

Ia tertawa. Basah. Pecah. Di tengah tangis. Dadanya bergetar di bawah pipiku.

“Kamu bikin Pasal Tujuh Belas,” katanya.

“Iya.”

“Kamu telepon Antoine pakai ponsel Kakak.”

“Iya.”

“Kamu tahu sandinya.”

“Tanggal lahirku, Kak. Dari dulu. Itu bukan sandi. Itu pengumuman.”

Ia tertawa lagi. Lebih keras. Lalu tawanya berubah jadi tangis lagi, lalu tawa lagi, dan aku tertawa dan menangis bersamanya, dan kami berdiri di atas atap kontrakan di Tebet seperti dua orang gila, berpelukan, menangis, tertawa.

Dari bawah, dari gang, suara serak orang tua:

“Hari! Mona! Udah malem! Turun! Ini bukan pasar malem!”

Pak Haji.

Kami berhenti. Kami saling menatap. Mata kami sama-sama merah dan bengkak dan basah.

Lalu kami tertawa lagi, lebih keras, sampai lesungku muncul dan tidak hilang-hilang, sampai Kakak harus duduk di atas genteng bekas karena lututnya lemas.


Kami turun pukul sebelas lewat empat puluh. Kakak duluan, aku menyusul. Ia mengulurkan tangan ke atas, menangkapku di anak tangga terakhir, seperti dulu.

Pak Haji berdiri di depan rumahnya dengan sarung dan peci, tangan di pinggang, menatap kami dengan ekspresi pura-pura marah yang sama sekali tidak meyakinkan.

“Kalian ini, dari dulu kalau naik atap lupa waktu.” Ia menerima kunci dari tangan Kakak. Lalu ia menatap wajah kami. Mata yang merah. Pipi yang basah. Ekspresinya berubah. Lebih lembut. “Kenapa? Ada apa?”

Kakak menatapku. Aku menatap Kakak.

“Kakak mau ke Prancis, Pak Haji,” kataku.

Pak Haji berkedip di balik kacamata tebalnya. “Prancis? Yang ada menara besinya itu?”

“Iya, Pak.”

“Ngapain?”

“Masak, Pak,” kata Kakak.

Pak Haji menatapnya lama. Lalu ia mengangguk perlahan, dengan wajah orang yang tidak sepenuhnya mengerti tapi memutuskan untuk percaya.

“Bagus,” katanya. “Bagus. Kamu dari dulu masaknya enak. Mi rebusnya enak. Saya pernah nyolong satu suap waktu kamu ninggalin di tangga.” Ia menepuk lengan kiri Kakak. “Pulang lagi, ya. Bawa oleh-oleh.”

Kakak tersenyum. “Iya, Pak.”

Kami berjalan ke mulut gang. Di bawah lampu LED putih yang terang, yang dipasang di tiang besi yang dicat hijau, dengan papan kecil bertuliskan Swadaya Warga RT 07.

Kakak berhenti di bawah lampu itu. Ia menatapnya.

“Mon.”

“Hm.”

“Satu hal lagi.”

Aku menunggu.

“Tamara,” katanya.

Aku menatapnya. Wajahnya, di bawah lampu putih, terlihat lebih muda dari biasanya. Lebih takut. Lebih berani.

“Kakak ke dia dulu,” kataku. “Sebelum Lyon. Sebelum apa pun.”

“Kakak udah nyakitin dia, Mon.”

“Aku tahu.” Aku meraih tangannya. “Makanya Kakak harus ke dia. Bukan buat minta maaf. Buat bilang yang Kakak nggak pernah bilang.”

Kakak menatapku. “Apa?”

Aku tersenyum. Lesungku muncul.

“Kakak tahu apa,” kataku. “Kakak cuma nggak pernah berani bilang.”

Kakak diam lama. Lalu ia mengangguk.

“Kamis,” katanya.

“Kamis?”

“Kamis itu hari yang nanggung.” Ia menatap lampu putih di atas kami. “Hari yang nanggung butuh makanan yang jujur.”

Aku tidak tahu itu kalimat siapa. Tapi dari cara Kakak mengucapkannya, pelan, hati-hati, seperti mengutip seseorang yang ia hormati, aku tahu itu kalimat yang penting.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

Kami berjalan keluar dari gang, di bawah lampu yang tidak akan mati lagi.