← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Forty Four

Extra 3 — Istri di Kursi Nomor Satu

POV: Hari

Sabtu malam, chef’s table Omah Rembulan penuh.

Kursi dua sampai delapan dipesan satu keluarga besar dari Menteng yang sedang merayakan ulang tahun ketujuh puluh dua seorang nenek mungil berambut perak dengan kebaya encim merah muda.

Aku mengenali nenek itu begitu ia masuk. Aku mengenali sanggulnya yang tinggi, langkahnya yang kecil-kecil, dan cara ia menatap dapur terbuka seperti menatap panggung pertunjukan.

Oma Lies.

Dua tahun lalu, di Sekar Kedhaton, ia merayakan ulang tahun ketujuh puluh di kursi nomor dua. Ia menanyakan kepada perempuan di kursi nomor satu apakah ia pacarku. Perempuan itu menjawab belum. Oma Lies bilang belum itu artinya sebentar lagi.

Oma Lies duduk di kursi nomor dua Omah Rembulan. Ia menatapku dari seberang meja dapur.

“Chef,” katanya. “Chef yang dulu di Senopati, kan?”

“Iya, Oma.”

“Restoran sendiri sekarang?”

“Iya, Oma.”

“Bagus. Bagus.” Ia mengangguk-angguk. Lalu matanya bergerak ke kursi nomor satu di sebelahnya, yang masih kosong, dengan papan kuningan kecil di sandarannya. Ia menyipitkan mata, membaca ukiran itu.

Dipesan atas nama Tamara Morgan. Selamanya.

Oma Lies menoleh padaku dengan alis terangkat setinggi sanggulnya.

“Chef,” katanya. “Ini nama yang dulu?”

Sebelum aku sempat menjawab, pintu depan Omah Rembulan terbuka.


Bu Ratih berdiri di ambang pintu dengan kebaya kutubaru berwarna merah hati dan senyum yang tidak bisa disembunyikan oleh profesionalisme dua puluh dua tahun. Ia menoleh ke ruang makan, berdeham, dan mengumumkan dengan suara yang cukup keras untuk didengar sampai ke dapur:

“Bapak, Ibu, mohon perhatian sebentar. Kursi nomor satu sudah datang.”

Lalu ia minggir.

Tamara masuk.

Gaun merah. Bukan merah anggur, bukan merah hati. Merah yang sama dengan lipstiknya. Merah yang tidak meminta izin. Panjang sampai betis, dengan belahan di satu sisi yang memperlihatkan kakinya setiap kali ia melangkah, dan tali tipis di bahu, dan punggung yang terbuka sampai ke tengah. Rambut cokelat bergelombangnya tergerai, disisir ke satu sisi, jatuh di atas bahu kanannya. Anting emas panjang. Cincin dengan batu berwarna madu di jari manis, dan di sebelahnya, cincin kawin lama ayahnya yang mendapat kesempatan kedua.

Dan lipstik merah.

Ia berjalan menyeberangi ruang makan dengan langkah yang tidak terburu-buru. Tamu-tamu di meja reguler menoleh. Seorang bapak di meja tiga berhenti mengunyah. Istrinya menyikut lengannya.

Ia berhenti di depan chef’s table. Ia menatapku dari seberang meja dapur.

Aku sudah melihatnya memakai banyak hal. Blazer CFO. Gaun hitam pesta Seri C. Piyama satin dengan kancing salah pasang. Kaus Pak Darto yang kebesaran tiga nomor. Paes ageng dan kebaya beludru.

Aku belum pernah melihatnya memakai merah dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dapur Omah Rembulan, yang luasnya cukup untuk delapan koki bergerak tanpa saling bertabrakan, mendadak terasa terlalu sempit.

“Selamat malam, Chef,” katanya.

Bu Ratih menarik kursi nomor satu untuknya. Ia duduk. Ia menyilangkan kaki. Belahan gaunnya jatuh ke samping.

Di belakangku, aku mendengar sesuatu jatuh. Logam. Sendok sayur.

Dimas.

Oma Lies menatap Tamara dari kursi nomor dua. Lama. Lalu ia menatap cincin di jari manis Tamara. Lalu menatapku. Lalu menatap Tamara lagi.

Lalu Oma Lies bertepuk tangan. Keras. Dengan dua tangan.

“Kan!” katanya, dengan suara yang membuat seluruh keluarganya menoleh. “Kan Oma bilang! Belum itu artinya sebentar lagi!”

Tamara menoleh ke Oma Lies. Ia mengenalinya. Aku melihat wajahnya berubah, dari CFO yang tenang menjadi sesuatu yang lebih hangat.

“Oma,” katanya. “Oma yang di Sekar Kedhaton.”

“Oma yang bilang jangan dilepas!” Oma Lies meraih tangan Tamara dan menepuk-nepuknya. “Oma bilang ke Chef, yang itu, jangan dilepas, matanya mata perempuan yang setia. Dan Chef nggak lepas!”

“Oma bilang itu ke Matahari?”

“Sambil makan klepon!” Oma Lies menoleh ke cucunya, laki-laki berumur tiga puluhan yang wajahnya sudah merah karena malu. “Bayu, kamu dengar? Oma bilang! Oma selalu benar soal jodoh!”

“Oma,” kata cucunya dengan nada pasrah.

Tamara tertawa. Tawa yang lepas, yang membuat kepalanya sedikit terdongak dan satu tangannya menutup mulut. Lalu ia menoleh padaku, dengan mata yang berkilau di bawah lampu gantung.

“Kamu nggak pernah cerita,” katanya.

“Kamu nggak pernah nanya.”

“Matahari.” Ia menatapku dengan alis terangkat. “Matanya mata perempuan yang setia. Kamu simpan kalimat itu dua tahun?”

Aku tidak menjawab. Aku mengambil sendok kayu dari meja dan pura-pura sangat sibuk mengaduk kaldu.

Telingaku panas. Aku tahu ia melihatnya.


Hidangan pertama, lemper ayam asap.

Aku meletakkan piring di depan kursi nomor satu. Tamara tidak melihat piringnya. Ia melihat tanganku.

“Chef,” katanya, dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh chef’s table, “tangannya bagus.”

Oma Lies menoleh dengan semangat.

Aku menarik tanganku dan kembali ke kompor.

Hidangan kedua, soto bening. Waktu aku menuang kuah dari teko kecil ke mangkuknya, Tamara mencondongkan badan ke depan. Rambutnya jatuh ke samping. Tali gaunnya bergeser sedikit di bahu.

“Chef,” katanya pelan, “boleh minta yang nggak ada di menu?”

Di kursi nomor dua, Oma Lies tersedak soto.

Cucunya menepuk-nepuk punggungnya. Seorang perempuan di kursi nomor lima, mungkin menantunya, menutup mulut dengan serbet dan bahunya mulai bergetar.

Aku meletakkan teko kuah di meja. Dengan sangat hati-hati. Supaya tanganku tidak gemetar.

“Semua menu sudah ditetapkan, Bu,” kataku.

“Bu?” Tamara mengangkat alis. “Kamu manggil istrimu Bu?”

Oma Lies, yang sudah berhenti tersedak, menoleh ke Tamara dengan mata membelalak. “Istri?”

“Istri, Oma,” kata Tamara manis. Ia mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin dengan batu berwarna madu di bawah lampu gantung. “Lima bulan.”

Oma Lies menatap cincin itu. Lalu menatapku. Lalu, dengan sangat perlahan, ia mengangkat tangannya dan menunjukku dengan jari telunjuk yang keriput.

“Chef,” katanya. “Kamu nikah, nggak undang Oma?”


Hidangan ketiga dan keempat, Tamara berganti taktik.

Ia berhenti bicara. Ia mulai menulis.

Serbet kertas. Seperti dua tahun lalu, di Sekar Kedhaton, waktu ia meminta diajari masak dan aku menolak dengan tiket pesanan. Bu Ratih, tanpa diminta, langsung mengambil peran kurir. Ia mengambil serbet dari tangan Tamara, berjalan ke dapur dengan langkah yang tidak cukup lambat untuk tidak membaca isinya, dan meletakkannya di talenan di sebelahku.

Ia tidak pergi.

Apron itu bikin pinggangmu kelihatan bagus. Aku iri sama apronnya.

Bu Ratih membaca terbalik dari sebelahku. Ia menutup mulut dengan ujung kebaya.

Aku memindahkan serbet itu ke saku apron. Aku tidak membalas.

Serbet kedua datang tiga menit kemudian.

Kamu nggak bales. Aku tahu kamu baca. Telingamu merah.

Serbet ketiga.

Lengan bajunya digulung. Sengaja? Aku tahu kamu tahu aku suka lihat lenganmu.

Bu Ratih sekarang berdiri di sebelahku dengan buku tulis bersampul batik dan pulpen gel tinta emas, menyalin isi setiap serbet sebelum aku sempat memasukkannya ke saku.

“Bu,” desisku.

“Arsip, Chef.”

“Bu, itu pribadi.”

“Chef, ini sejarah.” Bu Ratih tidak berhenti menulis. “Saya mau bikin buku. Judulnya Dua Puluh Dua Tahun di Restoran: Kisah Cinta yang Saya Antar. Ini bab terakhir.”

Serbet keempat. Kali ini Bu Ratih tidak meletakkannya di talenan. Ia membacanya dulu. Lalu ia menatapku dengan mata lebar. Lalu ia membacanya lagi. Lalu ia melipat serbet itu dan memasukkannya ke saku kebayanya sendiri.

“Bu, itu buat saya.”

“Chef masih kerja, Chef.” Bu Ratih menepuk sakunya. “Yang ini saya kasih nanti. Setelah servis. Chef nggak boleh baca sekarang. Nanti Chef nggak bisa masak.”


Di tengah hidangan kelima, Tamara menghilang dari kursi nomor satu.

Aku tidak melihatnya pergi. Aku sedang menata gudeg di delapan piring, menuang areh santan dengan sendok. Aku mengangkat wajah, dan kursi nomor satu kosong.

Lalu aku merasakan dua lengan melingkari pinggangku dari belakang.

Wajah di punggungku. Wangi kayu manis yang dibakar. Rambut yang menggelitik tengkuk.

“Tam,” kataku pelan, tanpa menoleh. “Kamu nggak boleh masuk dapur.”

“Aku punya restoran ini,” gumamnya ke punggungku. “Setengahnya. Harta gono-gini.”

“Itu bukan cara kerja harta gono-gini.”

“Aku CFO. Aku tahu cara kerja harta gono-gini lebih baik dari kamu.” Lengannya mengencang di pinggangku. “Aku kangen.”

“Kamu duduk tiga meter dari aku.”

“Tiga meter itu jauh. Ada meja dapur di tengah. Itu penghalang struktural.”

Di depan kompor sebelah, Dimas menoleh. Ia melihat lengan bergaun merah melingkari pinggangku. Matanya melebar. Ia mengangkat sendok sayur dan menunjukku dengan itu, seperti menunjuk dengan pedang.

“PASAL SEPULUH, BU!” teriaknya.

Seluruh chef’s table menoleh.

Tamara tidak melepaskanku. Ia menyembulkan kepalanya dari balik bahuku dan menatap Dimas.

“Pasal Sepuluh dicoret di redline, Dim,” katanya tenang.

“Diupayakan, Bu! Mbak Mona bilang diupayakan! Mbak Mona nitip pesan ke saya buat ngawasin!”

“Mona di Singapura.”

“Mbak Mona video call, Bu!” Dimas mengeluarkan ponselnya dari saku apron dan mengangkatnya. Di layar, wajah Mona, dengan latar belakang kamar hotel di Singapura, menatap dengan alis bertaut.

“Tam,” kata suara Mona dari ponsel Dimas, dengan volume penuh. “Lepasin Kakak. Kakak lagi kerja.”

Tamara menatap ponsel di tangan Dimas. Lalu ia menyandarkan dagunya di bahuku dan tersenyum ke kamera.

“Hai, Mona,” katanya manis. “Gimana Singapura?”

“Jangan ganti topik!”

“Panas, ya, di sana?”

“TAM.”

Di kursi nomor dua, Oma Lies sudah tidak lagi menatap gudeg di piringnya. Ia menatap pertunjukan di dapur dengan wajah penuh kebahagiaan, seperti menonton sinetron jam tujuh yang tokoh-tokohnya akhirnya menikah.

Bu Ratih berdiri di samping pass dengan pulpen tinta emas, menulis dengan kecepatan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Tamara akhirnya melepaskan pinggangku. Tapi sebelum ia pergi, ia mengambil sendok cicip dari wadah di sebelah kompor. Sendok yang baru saja kupakai untuk mencicipi kuah gudeg. Ia memasukkannya ke mulut. Pelan. Sambil menatapku.

Lalu ia mengeluarkannya. Pelan.

“Garamnya pas,” katanya.

Lalu ia berjalan kembali ke kursi nomor satu, dengan sendok cicipku di tangannya, dan duduk, dan menyilangkan kaki, dan menatapku dengan senyum yang sangat, sangat puas.

Aku berdiri di depan kompor dengan wajah yang aku tahu merah sampai ke leher.

Dimas, yang masih memegang ponsel dengan Mona di layarnya, menatapku dengan wajah duka.

“Chef,” katanya pelan. “Sendok cicipnya tinggal satu.”


Hidangan keenam, dessert.

Klepon dengan saus gula jawa dan kelapa parut yang dibakar. Delapan piring.

Tujuh piring kutata dengan saus gula jawa dalam bentuk garis melengkung, satu sapuan dengan punggung sendok. Seperti biasa.

Piring kedelapan, untuk kursi nomor satu, kutata dengan saus gula jawa dalam bentuk dua huruf.

T dengan ujung yang berputar, seperti tanda tangannya. Dan di sebelahnya, W.

Aku meletakkan piring itu di depannya.

Tamara menatap piring itu. Ia menatap dua huruf itu. T.W.

Ia diam lama.

Tamara Wirasena. Ia tidak pernah mengganti namanya di dokumen resmi. Di kantor, ia tetap Tamara Morgan. Di kartu nama, tetap Tamara Morgan. Di papan kuningan di kursi ini, tetap Tamara Morgan. Kami tidak pernah membicarakannya. Aku tidak pernah memintanya.

Tapi di piring klepon ini, di saus gula jawa, aku menulisnya.

Ia mengangkat wajah dan menatapku. Matanya berkaca-kaca. Tidak ada senyum puas. Tidak ada godaan. Hanya mata hazel yang basah dan bibir merah yang bergetar sedikit.

“Curang,” katanya, tanpa suara. Hanya dengan gerakan bibir. Seperti dua tahun lalu, di Sekar Kedhaton, waktu aku menuang huruf T yang pertama.

Aku mengangkat bahu. Aku kembali ke kompor.

Satu sama, pikirku.

Tapi aku belum selesai.


Setelah dessert, ada satu hidangan lagi. Teh jahe hangat dengan madu, disajikan di cangkir tanah liat. Penutup. Untuk menenangkan perut setelah tujuh hidangan.

Aku menyajikannya ke tujuh kursi, satu per satu. Oma Lies. Cucunya. Menantunya. Keluarga dari Menteng yang sekarang tidak lagi berpura-pura tidak menonton.

Lalu aku berdiri di depan kursi nomor satu.

Aku tidak membawa cangkir teh.

Tamara menatapku. Lalu menatap tanganku yang kosong. Lalu menatapku lagi.

“Punyaku mana?” tanyanya.

Aku meletakkan kedua tanganku di atas meja kayu jati chef’s table. Aku mencondongkan badan ke depan. Pelan. Sampai wajahku sejajar dengan wajahnya, dan jarak di antara kami tinggal selebar meja.

Seluruh chef’s table hening. Oma Lies berhenti mengaduk tehnya. Bu Ratih berhenti menulis. Dimas menurunkan ponselnya, dan di layarnya, Mona juga diam.

“Untuk kursi nomor satu,” kataku. Pelan. Jelas. Cukup keras untuk didengar delapan kursi, dan seorang adik di Singapura lewat video call. “Hidangan terakhir malam ini tidak ada di menu.”

Tamara menatapku. Matanya melebar sedikit.

“Hidangan terakhir khusus kursi nomor satu,” kataku.

Aku berhenti. Aku menatap matanya. Mata hazel yang dulu menatapku dari pojok ruangan pesta Seri C seperti menatap angka menarik di halaman empat puluh dua.

“Saya.”


Hening.

Hening yang sangat panjang.

Tamara tidak bergerak. Ia tidak bicara. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya tidak berkedip.

Lalu, perlahan, warnanya berubah.

Bukan pipinya saja. Lehernya. Telinganya. Dadanya, di atas garis gaun merah. Warna merah naik dari bawah ke atas, seperti gelombang, sampai wajahnya berwarna sama dengan gaunnya dan lipstiknya.

Ia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Tidak ada yang keluar.

Di kursi nomor dua, Oma Lies menjatuhkan cangkir tehnya. Cangkir tanah liat itu mendarat di piring kecil dengan bunyi tok yang keras, dan teh jahe tumpah ke taplak. Tidak ada yang peduli.

Di dapur, Dimas menjatuhkan ponselnya. Ponsel itu mendarat di atas tumpukan lap bersih. Dari layarnya, menghadap ke langit-langit, terdengar suara Mona yang berteriak: “KAK? KAK, TADI KAKAK BILANG APA? DIM, ANGKAT PONSELNYA! DIM!”

Bu Ratih tidak menjatuhkan apa pun. Bu Ratih menutup buku tulis bersampul batiknya, meletakkannya di dada dengan dua tangan, dan menatap langit-langit seperti orang yang baru menyaksikan mukjizat.

Dan Tamara Morgan, CFO Blin, perempuan yang menutup Seri C dalam empat bulan, yang membuat Head of Product lari ke lift, yang mengirim voice note dari bawah meja rapat direksi dan menggigit sendokku dan menulis aku iri sama apronnya di serbet, duduk di kursi nomor satu dengan wajah merah menyala dan mulut terbuka.

Ia tidak bisa bicara.

Aku menegakkan badan. Aku mengambil lap dari bahu. Aku kembali ke kompor.

“Terima kasih atas kunjungannya, Bapak, Ibu,” kataku ke chef’s table, dengan suara chef yang paling profesional. “Selamat ulang tahun, Oma.”


Tamara tidak bicara selama dua puluh menit berikutnya.

Ia tidak bicara waktu Oma Lies memeluknya sambil menangis dan bilang Oma doakan cepat punya cucu. Ia tidak bicara waktu Bu Ratih menyerahkan serbet keempat yang tadi disita, dan aku membacanya, dan isinya membuatku harus berpegangan ke meja. Ia tidak bicara waktu Dimas akhirnya mengangkat ponsel dan Mona berteriak TAM, KAMU OKE? TAM, JAWAB! dari Singapura.

Ia hanya duduk di kursi nomor satu dengan wajah merah, menatap piring klepon dengan huruf T.W. yang sudah habis.

Pukul sebelas, setelah semua tamu pulang, aku mengantarnya ke parkiran.

Bukan dua puluh meter seperti di Sekar Kedhaton. Tiga puluh lima meter. Parkiran Omah Rembulan di samping rumah, di bawah pohon jambu.

Ia berjalan di sebelahku. Diam. Gaun merah menyapu rumput. Sepatu hak di tangan kirinya. Tangan kanannya di tanganku, jari-jari terkunci.

Di bawah pohon jambu, ia berhenti.

Ia menatapku. Wajahnya masih merah, tapi lebih pudar sekarang. Seperti cabai yang sudah dimasak lama.

“Kamu,” katanya. Suara pertama yang keluar dari mulutnya dalam dua puluh menit. Serak. Pecah. “Kamu bilang itu. Di depan Oma Lies.”

“Iya.”

“Di depan Bu Ratih.”

“Iya.”

“Di depan Mona. Lewat video call. Dari Singapura.”

“Iya.”

Ia menatapku lama.

“Aku udah godain kamu tujuh kali malam ini,” katanya pelan. “Tangan. Menu. Serbet empat kali. Peluk dari belakang. Sendok cicip.” Ia menelan. “Dan kamu bales dua kali. T.W. sama—”

Ia tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Wajahnya memerah lagi.

“Sama?” tanyaku.

Ia memukul dadaku dengan sepatu haknya. Pelan.

“Sama itu,” katanya.

Aku tersenyum. “Efisiensi.”

“Itu bukan efisiensi!” Ia memukul dadaku lagi dengan sepatu. “Itu serangan! Itu serangan terencana! Kamu nyusun itu dari kapan?”

“Dari waktu kamu masuk pakai gaun merah.”

Ia berhenti memukul.

“Kamu masuk,” kataku pelan, “dan dapurku jadi terlalu sempit. Kayak malam pertama kamu ke Sekar Kedhaton. Aku pikir, dia udah godain aku dua tahun. Malam ini, sekali aja, aku yang menang.”

Tamara menatapku. Lama. Di bawah pohon jambu yang mulai berbunga. Dengan lampu parkiran yang membuat bayangan daun jatuh di wajahnya.

Lalu ia menjatuhkan sepatu haknya ke rumput.

Ia melingkarkan kedua lengannya di leherku, menarikku turun, dan menciumku. Keras. Lapar. Seperti malam setelah ayahnya menangis karena selat Solo. Seperti seseorang yang sudah menahan sesuatu selama dua puluh menit dan tidak bisa menahannya lagi.

Ketika ia akhirnya melepaskanku, napasnya berantakan. Lipstik merahnya, yang bukan transferproof, sudah tidak di bibirnya lagi.

“Kamu menang,” bisiknya. “Malam ini kamu menang.”

“Cuma malam ini?”

“Cuma malam ini.” Ia menyandarkan dahinya di dadaku. “Besok aku balas. Dua kali lipat.”

“Aku tunggu.”

Ia mengangkat wajah. Ia menatapku. Lalu ia mengulurkan dua tangannya, seperti anak kecil yang minta diangkat dari boks bayi.

“Gendong,” katanya. “Pulang.”

“Rumah kita sepuluh menit jalan kaki.”

“Sepuluh menit itu jauh. Baterainya nol persen. Kamu yang bikin habis.” Ia menggoyangkan tangannya. “Gendong.”

Aku berbalik dan berjongkok. Ia naik ke punggungku. Lengannya melingkari leherku. Kakinya yang telanjang melingkari pinggangku. Gaun merahnya menjuntai.

Aku berdiri. Aku memungut sepatu haknya dari rumput. Aku mulai berjalan.

Sepuluh menit dari Omah Rembulan ke rumah kami di Kemang, lewat jalan kecil di belakang, dengan lampu jalan yang terang dan pohon-pohon yang berbisik. Tamara di punggungku, dagunya di bahuku, napasnya di telingaku.

“Matahari,” bisiknya di menit ketiga.

“Hm.”

“Isi serbet keempat. Yang disita Bu Ratih. Kamu udah baca?”

Aku tidak menjawab. Telingaku panas.

Ia tertawa di telingaku. Tawa yang puas. Tawa orang yang tahu ia akan menang besok.

“Itu bukan godaan,” bisiknya. “Itu janji.”

Aku berjalan sedikit lebih cepat.

Di belakang kami, di Omah Rembulan, satu lampu masih menyala. Lampu di atas kasir. Di bawahnya, Bu Ratih duduk dengan buku tamu bersampul batik dan pulpen tinta emas, menulis satu baris di bawah tanggal hari ini.

Besok paginya, Dimas memotretnya dan mengirimnya ke grup Proyek Matahari.

Sabtu malam. Kursi No. 1. Ibu Tamara. Chef akhirnya menang satu kali. Oma Lies ketumpahan teh. Tidak apa-apa. Oma Lies bahagia.