← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Fourteen

Syarat & Ketentuan

POV: Mona

Pesan suara dari Dimas masuk pukul sebelas lewat lima puluh dua malam.

Durasinya empat puluh tujuh detik. Tiga puluh detik pertama isinya suara motor, angin, dan seseorang yang terisak di balik helm. Tujuh belas detik terakhir isinya kalimat yang akan kuingat sampai aku tua:

“Mbak Mona... maaf, Mbak... Mbak kalah... Chef menang, Mbak... Chef akhirnya menang... aku nggak bisa jelasin, Mbak, aku udah janji... tapi Mbak, lipstiknya merah, Mbak... merah semua...”

Lalu suara klakson truk, dan pesan itu berakhir.

Aku memutarnya tiga kali. Lalu aku meletakkan ponsel di meja dapur, duduk di kursi, dan menunggu.

Kakak pulang pukul dua belas lewat tiga puluh lima.

Ia membuka pintu pelan-pelan, seperti pencuri di rumahnya sendiri. Ia melihatku duduk di dapur dengan lampu menyala. Ia berhenti di ambang pintu.

Aku menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki, seperti ia menatapku di malam pesta. Rambut berantakan. Mata yang terlalu terang untuk jam segini. Senyum yang ia coba sembunyikan dan gagal. Dan di kerah kaus hitamnya, di sisi kiri, dekat leher, satu noda samar berwarna merah.

“Kak,” kataku.

“Mon.”

“Lipstik siapa itu di kerah?”

Ia menunduk menatap kerahnya. Ia mengangkat wajah. Ia tidak mencoba berbohong. Kakakku tidak pernah bisa berbohong.

“Mon,” katanya pelan, “Kakak pacaran.”

Aku menatapnya lama.

Aku sudah memikirkan malam ini selama sebelas hari, sejak aku melihat dua siluet yang menyatu di balik jendela restoran. Aku sudah memikirkan apa yang akan kukatakan. Aku sudah menyiapkan versi marah, versi sedih, versi dingin, dan versi pura-pura tidak peduli. Aku Head of Operations. Aku selalu punya rencana cadangan.

Tapi waktu kakakku berdiri di ambang pintu dapur dengan noda lipstik di kerah dan mata yang terlalu terang, semua versi itu menguap.

Yang tersisa hanya satu kalimat, dan aku tidak tahu dari mana datangnya.

“Itu bakal jadi Pasal Empat.”

Kakak berkedip. “Pasal apa?”

“Tidur, Kak.” Aku berdiri dan mengambil laptop dari meja. “Aku ada kerjaan.”


Aku tidak tidur malam itu.

Aku duduk di tempat tidurku dengan laptop di pangkuan, membuka dokumen kosong, dan mengetik judul dengan huruf kapital dan cetak tebal, karena kalau aku harus kalah, aku akan kalah dengan dokumentasi yang rapi.

SYARAT DAN KETENTUAN BERPACARAN DENGAN MATAHARI WIRASENA Versi 1.0 — Rahasia — Hanya untuk Pihak Kedua

Pukul empat pagi, dokumen itu berisi dua belas pasal, tiga lampiran, dan satu kolom tanda tangan.

Aku membacanya ulang dari awal. Aku menghapus satu kalimat di Pasal Tujuh yang terlalu emosional. Aku memperbaiki format penomoran. Aku mencetaknya dua rangkap di printer kecil di kamarku, menjilidnya dengan penjepit kertas hitam, dan memasukkannya ke map plastik bening.

Lalu aku mandi, berpakaian, dan berdandan dengan sangat hati-hati.

Kemeja putih dengan kerah tinggi, rok pensil hitam, blazer abu-abu tua. Rambutku kuikat rendah dengan pita hitam tipis. Lipstik nude dengan sedikit warna, karena aku tidak mau terlihat sedang bersaing. Anting bulan sabit. Di cermin, aku melihat perempuan berumur dua puluh sembilan tahun dengan wajah yang tegas dan mata yang sedikit bengkak karena tidak tidur, tapi bengkaknya bisa ditutup dengan concealer, dan wajah tegasnya tetap cantik. Aku tahu aku cantik pagi ini. Aku juga tahu aku akan kalah.

Tapi aku cantik dan aku akan kalah dengan dokumentasi yang rapi. Itu lebih baik dari kalah dengan wajah berantakan.


Pukul tujuh empat puluh tiga, aku naik ke lantai dua puluh delapan dengan mug kosong di tangan dan map plastik di tangan lain.

Tamara Morgan sudah di pantry.

Ia tidak berdiri di depan mesin kopi. Ia duduk di salah satu kursi tinggi di meja bar kecil di dekat jendela, dengan dua cangkir kopi di depannya. Satu sudah setengah diminum. Satu lagi masih penuh, masih mengepul.

Ia memakai blus sutra merah anggur dan celana panjang hitam. Rambut cokelatnya tergerai, sedikit lebih bergelombang dari biasanya, seperti tidak sempat disisir dengan benar. Lipstik merah. Dan di wajahnya, sesuatu yang belum pernah kulihat di sana selama lima tahun aku bekerja di Blin: ekspresi orang yang tidak sepenuhnya yakin akan menang.

Ia cantik pagi itu. Cantik yang lembut, yang belum sempat dipoles jadi tajam.

Ia melihatku. Ia mendorong cangkir kopi yang masih penuh ke arahku, perlahan, melintasi meja bar.

“Hitam,” katanya. “Satu gula.”

Aku menatap cangkir itu. Itu persis cara aku minum kopi.

“Bintang yang kasih tahu,” tambahnya.

“Bintang nggak pernah tahu aku minum kopi gimana.”

“Bintang tahu. Dia cuma nggak pernah bilang ke kamu bahwa dia tahu.”

Aku meletakkan mug kosongku di meja bar. Aku tidak duduk. Aku membuka map plastik, mengeluarkan satu rangkap dokumen, dan meletakkannya di depannya.

“Saya minta waktu Ibu,” kataku. “Lima belas menit. Di ruang rapat.”

Tamara menatap dokumen itu. Ia membaca judulnya. Matanya melebar sedikit.

Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik.

“Tiga puluh menit,” katanya, berdiri dan mengambil kedua cangkir kopi. “Untuk dokumen dua belas pasal, lima belas menit nggak cukup buat due diligence.”


Kami memakai ruang rapat kecil di pojok lantai dua puluh delapan, yang dinding kacanya buram sampai setinggi bahu. Tamara duduk di satu sisi meja. Aku di sisi lain. Di antara kami, dua rangkap dokumen dan dua cangkir kopi.

Ia membuka dokumennya. Ia mengeluarkan pulpen merah dari saku blazernya. Pulpen merah.

Aku tahu pulpen merah itu. Seluruh Blin tahu pulpen merah itu. Itu pulpen yang ia pakai untuk mencoret proposal anggaran sampai halaman-halamannya terlihat seperti korban pembunuhan.

“Pasal Satu,” bacanya. “Pihak Kedua wajib memulangkan Pihak Pertama, yaitu Matahari Wirasena, selambat-lambatnya pukul dua puluh tiga nol nol WIB pada hari kerja, mengingat Pihak Pertama bangun pukul lima pagi.” Ia mengangkat wajah. “Dia pulang dari restoran pukul sebelas. Paling cepat.”

“Itu di luar tanggung jawab Ibu.”

“Kalau dia ketemu aku setelah restoran tutup, pukul sebelas sudah lewat sebelum dia lepas apron.” Ia mencoret sesuatu. “Revisi: dua puluh empat nol nol. Dan hanya berlaku kalau besoknya dia shift pagi.”

Aku membuka mulut untuk protes. Lalu menutupnya. Logikanya benar.

“Pasal Dua,” lanjutnya. “Hari Minggu adalah hari Pihak Pertama dan adiknya. Pihak Kedua dilarang mengganggu pada hari tersebut.” Ia meletakkan pulpen. Ia menatapku. “Ini yang paling penting buat kamu, kan?”

Aku tidak menjawab.

Tamara menatap pasal itu sebentar. Lalu ia mengambil pulpen merahnya dan mencoret seluruh paragraf itu dengan satu garis panjang.

Dadaku mengencang. Aku sudah tahu ia akan mencoretnya. Aku sudah tahu. Aku tetap merasa seperti ada yang mencabut sesuatu dari dalam diriku.

Lalu ia menulis sesuatu di margin. Ia memutar dokumen itu supaya aku bisa membacanya.

Tulisan tangannya miring dan rapi.

Pasal 2 (revisi): Makan malam hari Minggu menjadi makan malam bertiga. Mona tetap boleh ikut. Mona selalu boleh ikut.

Aku menatap tulisan itu.

Aku membacanya dua kali. Tiga kali.

Mona selalu boleh ikut.

“Ibu,” kataku. Suaraku keluar aneh. “Ibu nggak bisa nulis boleh ikut di hari yang dari awal memang punya saya.”

“Aku tahu.” Tamara bersandar ke kursinya. “Makanya aku nggak ambil harinya. Aku cuma minta ikut duduk.”

Aku tidak bisa bicara.

Ia membiarkan diam itu sebentar, lalu menarik dokumen itu kembali ke arahnya dan melanjutkan dengan nada yang tiba-tiba berubah, kembali jadi nada CFO yang dingin dan efisien, seolah ia sengaja memberiku waktu untuk menyusun wajahku.

“Pasal Tiga. Pihak Kedua dilarang mengajak Pihak Pertama ke klub malam, bar, atau tempat hiburan sejenisnya.” Ia mengangkat alis. “Kamu pikir aku mau ngajak kakakmu dugem?”

“Ibu dari London.”

“London punya perpustakaan juga, Mona.” Ia mencentang pasal itu. “Disetujui. Aku juga nggak suka klub. Musiknya selalu terlalu keras untuk dengar orang ngomong.”

“Pasal Empat,” bacanya, dan berhenti. Ia membacanya lagi dalam diam. Lalu ia mendongak dengan ekspresi yang sangat datar. “Setiap noda lipstik yang ditemukan di pakaian Pihak Pertama wajib dilaporkan oleh Pihak Kedua kepada Pihak Ketiga, yaitu adik Pihak Pertama, dalam waktu dua kali dua puluh empat jam, beserta keterangan lokasi dan konteks.”

“Itu penting untuk urusan cuci baju.”

“Kamu mau aku kirim laporan setiap kali aku nyium kakakmu?”

“Saya mau Ibu kirim laporan setiap kali saya harus nyuci kemeja Kakak pakai sabun khusus.”

Tamara menatapku lama. Lalu ia tertawa. Tawa pendek, kaget, yang keluar dari hidung sebelum ia sempat menahannya.

“Revisi,” katanya, mencoret dan menulis. “Pihak Kedua akan menggunakan lipstik transferproof pada hari kerja.” Ia menatapku. “Puas?”

“Ibu punya lipstik transferproof?”

“Belum. Sasha akan belikan siang ini.”

Aku menggigit bibir supaya tidak tersenyum.


Kami membahas pasal-pasal berikutnya selama dua puluh menit.

Pasal Lima, tentang larangan membuat Kakak begadang lewat jam satu pagi, disetujui dengan tambahan: kecuali hari Senin, karena restoran tutup. Pasal Enam, tentang kewajiban memberi tahuku kalau Kakak sakit, disetujui tanpa revisi, dan Tamara menambahkan nomor ponselku ke kontak daruratnya di depanku. Pasal Tujuh, tentang larangan mengubah menu bekal Kakak, dicoret dengan catatan: Aku nggak bisa masak. Bekalnya aman.

Pasal Delapan, tentang hakku memilih hadiah ulang tahun Kakak terlebih dulu supaya tidak ada yang sama, disetujui, dengan catatan: Koordinasi via grup chat. Usul nama grup: Proyek Matahari.

Pasal Sembilan, tentang larangan memanggil Kakak Matahari di depanku karena itu nama dari Ibu, membuat Tamara berhenti lama.

Ia membaca pasal itu dua kali. Ia tidak memegang pulpen.

“Ini serius?” tanyanya pelan.

Aku menatap meja. “Ibu yang kasih nama itu. Ibu yang manggil dia Matahari. Setelah Ibu meninggal, nggak ada yang manggil dia Matahari lagi. Semua orang manggil Hari. Aku juga.” Aku menelan. “Waktu di pesta Ibu bilang aku lebih suka yang lengkap, aku—”

Aku berhenti. Aku tidak tahu harus menyelesaikan kalimat itu dengan apa.

Tamara meletakkan pulpennya. Ia menatapku dari seberang meja, dan wajahnya tidak lagi wajah CFO.

“Mona,” katanya. “Dia nggak pernah protes aku panggil dia Matahari.”

“Saya tahu.”

“Kamu mau aku berhenti?”

Aku menatapnya. Aku memikirkan Kakak di dapur pagi kemarin, tersenyum ke ponsel. Aku memikirkan namanya di layar ponsel itu. Mungkin perempuan ini memanggilnya dengan nama yang diberikan Ibu, dan mungkin itu sebabnya ia tersenyum seperti itu.

“Nggak,” kataku akhirnya. “Hapus aja pasalnya.”

Tamara tidak mencoretnya dengan pulpen merah. Ia mencoretnya dengan pulpen hitam biasa, satu garis tipis, hampir lembut.

Pasal Sepuluh: larangan bermesraan di depanku. Tamara mencoretnya tanpa komentar dan menulis di margin: Tidak bisa dijamin. Akan diupayakan.

“Ibu nggak bisa nulis diupayakan di kontrak.”

“Aku CFO. Aku nulis diupayakan di setiap proyeksi pendapatan. Itu kata yang paling jujur di dunia bisnis.”

Pasal Sebelas: Apabila hubungan berakhir, Pihak Kedua dilarang melakukan pembalasan dalam bentuk apa pun terhadap anggaran Divisi Operasional. Tamara membacanya, menatapku, dan mengangguk perlahan.

“Ini pasal yang bagus,” katanya. “Ini pasal paling profesional di seluruh dokumen.”

“Terima kasih.”

“Disetujui.” Ia menandai pasal itu. “Dan aku tambahkan klausul timbal balik: Divisi Operasional juga dilarang membalas dengan memasang rapat mingguan pukul delapan malam.”

Aku memerah. Ia tidak tersenyum, tapi matanya tersenyum.

Pasal Dua Belas: Pihak Kedua wajib mencicipi sambal bajak buatan adik Pihak Pertama minimal sekali sebulan dan memberikan penilaian jujur.

Tamara menatap pasal itu dengan alis terangkat. “Ini syarat atau hadiah?”

“Syarat.”

“Dimas bilang sambalmu yang terbaik di Jakarta.”

“Dimas bilang semua yang gratis itu terbaik di Jakarta.”

“Disetujui.” Ia mencentangnya dengan semangat yang sedikit berlebihan. “Dengan senang hati.”


Dokumen yang tersisa berisi sembilan pasal yang direvisi, tiga pasal yang dicoret, dan satu pasal tambahan yang ditulis Tamara di halaman terakhir dengan pulpen merah:

Pasal 13 (tambahan Pihak Kedua): Pihak Kedua tidak akan mengambil apa pun dari Pihak Ketiga. Pihak Kedua hanya akan ikut duduk.

Ia memutar dokumen itu ke arahku. Ia menyodorkan pulpen merahnya.

“Tanda tangan di sini,” katanya, menunjuk kolom di bawah. “Aku sudah tanda tangan.”

Aku menatap kolom itu. Tanda tangannya sudah di sana. Huruf T yang ujungnya berputar, sama seperti di kartu nama yang kutemukan di saku apron Kakak.

Aku mengambil pulpen merah itu. Tanganku tidak gemetar. Bagus.

Aku menandatangani.

Lalu aku meletakkan pulpen di meja dan menatap dokumen itu, dan sesuatu di tenggorokanku terasa sakit.

“Ibu tahu,” kataku pelan, “ini dokumen paling konyol yang pernah saya bikin.”

“Aku tahu.”

“Saya bikin semalaman.”

“Kelihatan. Formatnya rapi sekali.” Tamara mengambil satu rangkap, melipatnya dengan hati-hati, dan memasukkannya ke saku dalam blazernya. Di sana, tepat di atas jantungnya. “Aku akan simpan ini. Ini kontrak paling penting yang pernah kutandatangani.”

“Lebih penting dari Seri C?”

“Seri C cuma uang.” Ia berdiri. “Ini kakakmu.”

Aku tidak bisa menatapnya. Aku menatap kopi di depanku, yang sudah dingin. Hitam, satu gula.

Tamara berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti, dan aku mendengar suaranya, lebih pelan dari biasanya:

“Mona.”

Aku mengangkat wajah.

“Kamu cantik sekali kalau lagi negosiasi,” katanya. “Aku hampir kalah di Pasal Sembilan.”

“Ibu nggak hampir kalah. Ibu menang semua pasal.”

“Nggak.” Ia tersenyum. Senyum kecil yang sedih dan hangat sekaligus. “Kamu menang Pasal Sembilan. Aku cuma bikin kamu memutuskan sendiri untuk menghapusnya.”

Ia pergi.


Aku duduk di ruang rapat itu lima menit lagi.

Lalu pintu terbuka, dan Bintang masuk dengan laptop di tangan, berhenti, dan menatapku.

“Ruangan ini aku pesan jam delapan lewat sepuluh,” katanya.

“Aku keluar sebentar lagi.”

Bintang tidak bergerak. Ia menatap dokumen di depanku. Aku tidak menyembunyikannya. Aku tidak punya tenaga untuk menyembunyikan apa pun.

Ia membaca judulnya dari seberang meja. Alisnya naik sedikit.

“Syarat dan ketentuan,” bacanya.

“Jangan.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Kamu akan bilang sesuatu.”

Bintang meletakkan laptopnya di meja. Ia duduk di kursi yang tadi diduduki Tamara. Ia menatap dokumen itu, lalu menatapku.

“Siapa yang menang?” tanyanya.

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkan pulpen merah, dan Pasal Dua, dan tulisan miring di margin. Mona selalu boleh ikut.

“Nggak tahu,” kataku jujur. “Aku pikir aku kalah. Tapi aku nggak ngerasa kalah.”

Bintang mengangguk perlahan, seperti mencatat sesuatu.

“Itu namanya negosiasi yang bagus,” katanya. “Dua pihak keluar dengan ngerasa nggak kehilangan apa-apa.”

“Itu teori dari mana?”

“Buku manajemen. Aku baca buat ngerti kenapa kamu selalu menang di rapat anggaran.” Ia membuka laptopnya. “Ternyata nggak membantu. Kamu tetap menang.”

Aku tertawa. Tawa kecil, lelah, yang tidak kusangka akan keluar.

Lalu aku menatap kotak bekal di dalam tasku. Kotak bekal kedua, yang kubuat dua hari lalu dan sudah kuganti isinya pagi ini. Nasi, telur dadar dengan irisan cabai, tumis buncis, sambal bajak di wadah terpisah.

Aku belum memberikannya ke siapa pun.

Aku menatap Bintang, yang sudah fokus ke layar laptopnya, rambutnya berantakan, kacamatanya sedikit melorot di hidung.

Belum, pikirku.

Aku mengambil map plastik dan cangkir kopi dingin, lalu berdiri.

“Ruangannya punyamu,” kataku.

“Hm.”

Di ambang pintu, aku menoleh. “Bintang.”

“Hm?”

“Makasih udah kasih tahu Bu Tamara cara aku minum kopi.”

Jarinya berhenti di atas keyboard. Ia tidak mengangkat wajah.

“Aku nggak tahu kamu ngomongin apa,” katanya.

Telinganya merah.

Pasti karena AC ruang rapat terlalu dingin.