← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Sixteen

Makan Malam Bertiga

POV: Hari

Mona mulai memasak untuk makan malam Minggu pada hari Jumat.

Aku tahu karena Jumat malam, waktu aku pulang dari restoran, kulkas kami sudah penuh. Daging sapi has dalam yang sudah dimarinasi dalam kantong plastik kedap udara. Udang galah—yang langsung kupindahkan ke rak paling bawah dan kututupi dengan kertas karena Tamara alergi udang, dan Mona pasti tahu itu, dan aku tidak mau bertanya kenapa Mona tetap membelinya. Tiga jenis sayuran yang sudah dicuci dan ditiriskan. Satu panci besar berisi kaldu ayam yang sudah ia masak sejak sore.

Sabtu pagi, Mona bangun pukul lima, lebih awal dariku, dan mulai membuat sambal. Bukan satu jenis. Empat. Sambal bajak, sambal matah, sambal ijo, dan sambal terasi mentah.

“Mon,” kataku dari ambang pintu dapur, masih dengan mata setengah tertutup, “ini makan malam bertiga. Bukan katering nikahan.”

“Pasal Dua Belas, Kak,” jawabnya tanpa menoleh, sambil mengulek. “Pihak Kedua wajib mencicipi sambal buatan adik Pihak Pertama minimal sekali sebulan dan memberikan penilaian jujur.”

“Itu satu sambal.”

“Pasalnya nggak bilang satu.”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya. Aku sudah belajar, sejak Mona umur tiga belas, bahwa berdebat dengan Mona soal tafsir aturan adalah cara cepat untuk kalah.

Sabtu siang, Mona membersihkan seluruh apartemen. Ia mengelap jendela, menyedot debu di balik sofa, mengganti taplak meja makan dengan taplak batik tulis yang kami beli di Pekalongan tiga tahun lalu dan hanya kami pakai saat Lebaran. Ia memindahkan foto-foto di rak buku: foto wisudanya dipindah ke depan, foto kami berdua di atap kontrakan Tebet yang diambil tetangga dengan kamera saku dipindah ke tengah, dan foto aku waktu SMA dengan alis yang digambar pensil arang dipindah ke belakang, lalu dipindah lagi ke depan, lalu dipindah lagi ke belakang.

“Mon, foto itu—”

“Aku belum mutusin, Kak.”

“Itu foto Kakak tanpa alis.”

“Itu foto paling jujur yang Kakak punya.”

Minggu sore, Mona berdandan selama satu jam.


Tamara datang pukul tujuh tepat.

Aku membukakan pintu. Ia berdiri di lorong apartemen dengan gaun terusan biru muda sederhana sampai betis, lengan pendek, kerah yang tertutup sampai leher. Gaun yang sopan. Gaun yang dipilih dengan sangat hati-hati untuk bertemu keluarga. Rambutnya tergerai, disisir rapi ke satu sisi. Anting mutiara kecil. Lipstiknya merah, tapi merah yang lebih muda dari biasanya, lebih ke arah merah bata. Transferproof, aku tebak. Pasal Empat.

Ia membawa dua hal. Seikat bunga sedap malam yang dibungkus kertas cokelat, dan sebuah kotak besar dari toko kue di Menteng yang antreannya bisa sampai dua jam di hari Sabtu.

“Lapis legit,” katanya, mengangkat kotak itu sedikit. “Dua puluh empat lapis. Sasha antre dari jam enam pagi.”

“Kamu nyuruh Sasha antre?”

“Aku antre bareng Sasha. Dari jam enam pagi.” Ia tersenyum. “Aku mau bawa sesuatu yang aku sendiri ikut usahakan. Aku nggak bisa masak, jadi aku antre.”

Aku menatapnya. Gaun biru muda yang sopan. Lipstik transferproof. Bunga sedap malam. Lapis legit yang ia antre sendiri sejak pagi.

Ia gugup. Aku belum pernah melihat Tamara Morgan gugup. Tapi tangannya meremas tali tas, dan senyumnya sedikit terlalu lebar, dan ia belum masuk karena ia sedang menunggu izin.

“Kamu cantik,” kataku pelan.

Bahunya sedikit turun. Lega. “Terlalu formal?”

“Nggak.”

“Terlalu biru?”

“Nggak.”

“Mona suka bunga sedap malam? Sasha bilang hampir semua orang Jawa suka sedap malam, tapi Sasha orang Medan—”

Aku mengambil bunga dan kotak kue dari tangannya, meletakkannya di meja kecil di lorong, lalu menarik tangannya dan menciumnya. Singkat. Di bibir. Di lorong apartemen yang lampunya kedip-kedip.

Ia berhenti bicara.

“Kamu gugup,” kataku, masih dekat.

“Aku nggak pernah gugup.”

“Kamu ngomong kayak Dimas.”

Ia menatapku, terkejut, lalu tertawa pelan. Bahunya turun lagi.

Di belakangku, dari dalam apartemen, aku mendengar suara Mona yang sangat jelas: “Pasal Sepuluh, Kak.”

Tamara mengintip dari balik bahuku. “Kita masih di lorong.”

“Lorong apartemenku tetap wilayah apartemenku.”


Mona menyambut Tamara di ruang tengah dengan senyum yang sempurna.

Senyum yang terlalu sempurna. Senyum yang biasa ia pakai untuk vendor yang akan ia hancurkan di negosiasi. Ia memakai gaun terusan hitam selutut, rambutnya digerai lurus dan berkilau, anting bulan sabit, riasan yang membuat matanya terlihat lebih besar dan lebih tajam dari biasanya. Adikku cantik malam itu, dan aku tahu ia sengaja cantik, seperti orang memakai baju zirah sebelum perang.

“Selamat datang, Bu Tamara.”

“Tamara, Mona. Ini bukan kantor.”

“Selamat datang, Tamara.” Mona mengucapkan nama itu seperti mengucapkan kata dalam bahasa asing. “Silakan duduk.”

Tamara menyerahkan bunga sedap malam. Mona menerimanya, menciumnya, dan sesuatu di wajahnya bergetar sebentar.

“Ibu dulu suka sedap malam,” kata Mona pelan.

Tamara menatap Mona. Aku menatap Mona. Mona tidak menatap siapa pun. Ia berbalik dan membawa bunga itu ke dapur, mencari vas.

Kami tidak punya vas. Ia memakai botol sirup bekas.


Makan malam itu adalah perang yang dilakukan dengan sangat sopan.

Mona menyajikan tujuh hidangan. Sup bening ayam dengan sayur. Daging has dalam yang dimasak bumbu bali. Tumis kangkung. Tempe mendoan. Ikan bakar bumbu kecap. Perkedel kentang. Dan di tengah meja, empat mangkuk kecil sambal, ditata seperti piala di lemari kaca.

Tamara memuji setiap hidangan. Dengan spesifik. Dengan detail yang membuatku tahu ia benar-benar mencicipinya, bukan sekadar sopan.

“Bumbu bali-nya pakai daun jeruk lebih banyak dari biasanya,” katanya. “Wangi.”

“Kakak yang ajarin,” jawab Mona.

“Perkedelnya lembut di dalam, renyah di luar.”

“Kakak yang ajarin.”

“Ikan bakarnya, kecapnya meresap sampai ke tulang.”

“Kakak yang—” Mona berhenti. “Itu aku sendiri, sebenarnya. Kakak bakar ikan selalu gosong.”

Aku mengangkat wajah dari piringku. “Kakak nggak pernah bakar ikan gosong.”

“Lebaran tahun lalu, Kak.”

“Itu arangnya basah.”

“Arangnya nggak basah, Kak. Kakak ketiduran.”

Tamara menutup mulut dengan serbet. Bahunya bergetar sedikit.

Lalu Mona mulai bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan nada ramah, sambil menuangkan sup atau menyodorkan sambal, tapi aku mengenal adikku. Itu bukan pertanyaan basa-basi. Itu wawancara.

“Tamara tinggal di Setiabudi?”

“Iya. Apartemen.”

“Sendiri?”

“Sendiri.”

“Orang tua di mana?”

“Ayah di London. Ibu di Bali, dengan suami barunya.”

“Sering ketemu?”

“Ayah setahun sekali, kalau dia ada urusan bisnis di Singapura. Ibu...” Tamara berhenti sebentar. “Ibu kirim ucapan ulang tahun lewat WhatsApp. Kadang tepat waktu.”

Mona berhenti menuangkan sup. Ia menatap Tamara.

Aku melihat sesuatu di wajah adikku. Sesuatu yang tidak ia rencanakan untuk muncul malam ini. Sesuatu yang lebih mirip pengakuan daripada kemenangan.

“Oh,” kata Mona pelan.

Ia meletakkan sendok sup. Ia mengambil mangkuk sambal bajak, mangkuk yang paling ia banggakan, dan menyodorkannya ke Tamara dengan dua tangan. Tidak dengan satu tangan. Dua tangan. Seperti menyodorkan sesuatu kepada orang yang dihormati.

“Ini Pasal Dua Belas,” katanya.

Tamara menatap mangkuk itu. Lalu menatap Mona. Ia menerima mangkuk itu dengan dua tangan juga.

“Penilaian jujur?”

“Penilaian jujur.”

Tamara mengambil sambal itu dengan ujung sendok, mencampurnya dengan sedikit nasi, dan memasukkannya ke mulut. Ia mengunyah. Matanya melebar. Ia mengunyah lagi. Matanya mulai berair.

“Ini,” katanya serak, “ini pedas.”

“Itu sambal bajak dengan rawit setan, Tamara.”

“Kamu nggak bilang ada rawit setan.”

“Pasalnya nggak bilang harus bilang.”

Tamara mengipasi mulutnya dengan tangan, dan aku menyodorkan air hangat tanpa diminta, seperti biasa. Ia minum. Ia menarik napas. Lalu ia menatap Mona dengan mata berair dan berkata dengan suara yang sangat jujur:

“Ini sambal terenak yang pernah aku makan.”

Mona diam.

“Dimas nggak bohong,” lanjut Tamara, menyendok sambal lagi, lebih sedikit kali ini. “Ini lebih enak dari sambal di Sekar Kedhaton.”

“Itu nggak mungkin,” kataku.

“Diam, Matahari. Ini urusan perempuan.”

Mona menatap Tamara lama. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya bukan senyum vendor. Kecil, sedikit miring, dengan lesung di pipi kiri yang muncul sekilas sebelum ia menyembunyikannya.

“Rawit setannya aku tanam sendiri,” kata Mona. “Di pot. Di balkon.”

“Kamu tanam sendiri?”

“Rawit yang dijual di pasar sekarang nggak pedas. Dioplos sama rawit hijau biasa.”

“Itu skandal rantai pasok,” kata Tamara serius.

“Itu skandal rantai pasok,” Mona mengangguk dengan sama seriusnya.

Dan untuk sesaat, dua perempuan paling menakutkan di Blin duduk di meja makanku, di atas taplak batik Pekalongan, dan saling mengangguk tentang integritas rantai pasok cabai rawit.

Aku makan perkedelku dalam diam dan merasa seperti orang paling beruntung di dunia.


Masalahnya mulai di hidangan penutup.

Mona menyajikan es buah. Tamara membuka kotak lapis legitnya dan memotongnya menjadi irisan tipis yang rapi, dengan pisau yang kupinjamkan dari dapur. Kami duduk di meja makan, lebih santai sekarang. Mona bercerita tentang vendor gudang Cikarang yang mengirim lima ratus kardus dengan label terbalik. Tamara tertawa. Aku makan lapis legit.

Lalu sesuatu menyentuh betisku di bawah meja.

Aku berhenti mengunyah.

Sesuatu itu bergerak. Perlahan. Dari pergelangan kakiku, naik ke betis, berhenti di bawah lutut. Kaki. Telanjang. Tamara sudah melepas sandalnya entah kapan.

Aku menatap ke seberang meja. Tamara sedang mendengarkan Mona dengan wajah sangat serius, mengangguk di tempat-tempat yang tepat, bertanya terus vendornya bilang apa? dengan nada penuh perhatian. Tidak ada satu pun di wajahnya yang menunjukkan bahwa ujung kakinya sedang naik turun di betisku dengan irama pelan.

Aku menjatuhkan sendok.

Sendok itu berdenting di piring es buah. Mona berhenti bercerita. “Kak?”

“Nggak apa-apa. Licin.”

“Sendoknya?”

“Iya.”

Mona menatapku curiga. Lalu melanjutkan ceritanya. Ujung kaki Tamara berhenti, menunggu, lalu bergerak lagi, kali ini sedikit lebih tinggi, ke lutut, dan berhenti di sana.

Aku menatapnya. Ia tidak menatapku balik. Ia menyendok es buah dengan anggun dan bertanya ke Mona apakah vendor itu kena penalti.

Aku mengambil sendok baru dan mencoba fokus pada es buah. Aku gagal.

Lima menit kemudian, waktu Mona bangun untuk mengambil teko teh di dapur, Tamara menarik kakinya kembali dan akhirnya menatapku. Senyumnya kecil, puas, dan sangat jahat.

“Kamu,” bisikku melintasi meja, “jahat.”

“Pasal Sepuluh nggak ngatur di bawah meja,” bisiknya balik.

“Pasal Sepuluh dicoret.”

“Makanya.”

Lalu sesuatu yang lain terjadi. Waktu ia tersenyum, aku melihat setitik sambal bajak di sudut bibirnya. Merah di atas merah bata. Sisa dari suapan terakhir.

Tanpa berpikir, aku mengulurkan tangan melintasi meja dan mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari. Pelan. Satu usapan. Seperti di les ketiga, kecuali kali ini aku tidak menyerahkan kain. Kali ini aku tidak pengecut.

Ibu jariku masih di bibirnya ketika Mona kembali dari dapur.

Mona berhenti di ambang pintu dengan teko teh di tangan.

Lalu Mona, yang sedang menyesap teh panas langsung dari cangkir yang ia bawa sambil berjalan, tersedak.

Ia tersedak dengan sangat keras. Teh menyembur dari mulutnya dalam kabut halus. Ia membungkuk, terbatuk-batuk, teko teh berguncang di tangannya. Aku melompat berdiri. Tamara melompat berdiri. Kami berdua bergegas ke arahnya, aku mengambil teko dari tangannya, Tamara menepuk-nepuk punggungnya.

“Mon—”

“Pasal—” Mona terbatuk. “Pasal—”

“Pasal Sepuluh dicoret, Mona,” kata Tamara lembut sambil menepuk punggungnya.

“Pasal Sepuluh diupayakan!” Mona terbatuk lagi. “Itu tadi nggak diupayakan!”

“Itu tadi sambal,” kataku. “Ada sambal di bibirnya.”

Mona menegakkan badan, wajahnya merah karena batuk, matanya berair, dan menatapku dengan ekspresi yang membuatku merasa umur tujuh belas lagi, tertangkap basah menyanyi Begadang di warung Pak Darto.

“Kakak,” katanya dengan suara serak, “Kakak ngelap bibir orang pakai jempol.”

“Iya.”

“Kakak nggak pernah ngelap bibir siapa-siapa pakai jempol.”

“Kakak ngelap bibirmu waktu kamu kecil.”

“Itu belepotan bubur, Kak! Itu beda!”

Tamara menutup mulutnya dengan dua tangan. Bahunya berguncang. Ia menahan tawa dengan sekuat tenaga.

Mona menatapnya. “Tamara.”

“Ya?”

“Kamu ketawa.”

“Aku nggak ketawa.”

“Bahumu goyang.”

“Itu karena—” Tamara berhenti, menyerah, dan tertawa. Tertawa sampai harus bersandar ke dinding. Tertawa seperti waktu di Sekar Kedhaton, waktu aku bilang Mona kreatif.

Mona menatapnya tertawa. Lalu, perlahan, sudut bibir Mona bergerak. Melawan. Kalah.

Mona tertawa juga.


Setelah makan malam, aku mencuci piring.

Itu kebiasaanku. Di apartemen ini, Mona memasak dan aku mencuci, karena di restoran aku memasak sepanjang hari dan di rumah aku ingin tanganku melakukan sesuatu yang tidak menuntut berpikir. Air hangat, sabun, piring demi piring. Seperti meditasi.

Dari dapur, lewat celah pintu yang setengah terbuka, aku bisa melihat ruang tengah. Mona dan Tamara duduk di sofa. Bukan berdampingan. Mona di satu ujung, Tamara di ujung lain, dengan jarak setengah sofa di antara mereka. Mereka minum teh. Mereka tidak bicara banyak.

Lalu Tamara menunjuk sesuatu di rak buku. Foto. Aku tidak bisa melihat yang mana dari sini.

Mona menoleh ke foto itu. Ia diam sebentar. Lalu ia berdiri, mengambil foto itu dari rak, dan kembali ke sofa. Kali ini ia duduk sedikit lebih dekat. Ia menunjukkan foto itu ke Tamara.

Aku mematikan keran supaya bisa mendengar.

“...alisnya kebakar,” kata Mona. “Dua bulan. Dia gambar pakai pensil arang tiap pagi sebelum sekolah. Kadang miring. Kadang yang kiri lebih tebel.”

Tamara menatap foto itu dan menahan napas, lalu meledak tertawa.

“Ya Tuhan.”

“Dan dia nggak pernah ngaku miring. Selalu bilang, Ini gaya, Mon.”

“Pak Darto cerita soal alis ini,” kata Tamara di antara tawa. “Tapi aku nggak bayangin separah ini.”

Mona berhenti. “Kamu udah ke Pak Darto?”

“Kemarin. Kencan pertama.” Tamara menyeka air mata di sudut matanya. “Pak Darto juga cerita soal Begadang.”

Mona menatapnya. Mulutnya terbuka. “Dia cerita Begadang?”

“Lengkap sama gaya tangannya.”

“Kakak bikin aku sumpah nggak cerita soal Begadang ke siapa pun!”

“Pak Darto nggak tanda tangan apa pun,” kata Tamara.

Mona tertawa. Lesungnya muncul, dan kali ini tidak buru-buru disembunyikan.

Lalu, perlahan, ia bersandar sedikit ke arah Tamara dan merendahkan suaranya. Aku hampir tidak bisa mendengar.

“Kamu tahu nggak,” bisik Mona, “dia ngorok?”

Tamara mencondongkan badan mendekat. “Separah apa?”

“Kayak kompresor AC rusak. Dulu di kontrakan satu kamar, aku tidur pakai bantal di kuping. Sampai sekarang, kalau aku lagi nggak bisa tidur, aku buka pintu kamarku dikit, biar kedengeran.”

“Kenapa?”

Mona diam sebentar. “Biar tahu dia masih di rumah.”

Tamara tidak tertawa kali ini. Ia menatap Mona. Mona menatap foto di tangannya.

Lalu Tamara berkata, dengan nada yang sangat ringan, seperti menawarkan sepotong lapis legit:

“Kalau dia ngorok di tempatku nanti, aku rekam. Aku kirim ke kamu. Biar kamu tetap tahu.”

Mona mengangkat wajah. Ia menatap Tamara lama.

Lalu ia tertawa lagi. Lebih pelan. Lebih basah.

“Pasal Empat Belas,” katanya.

“Kita nggak punya Pasal Empat Belas.”

“Sekarang punya.”

Aku berdiri di depan bak cuci dengan tangan berbusa sabun, menatap dua perempuan di sofa ruang tengahku yang sekarang duduk berdekatan, memegang foto aku tanpa alis, tertawa tentang ngorokku.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali dadaku sepenuh ini.

Aku menyalakan keran lagi, perlahan, supaya mereka tidak tahu aku sudah mendengar semuanya. Aku mencuci piring terakhir. Lalu piring yang sudah bersih. Lalu piring yang sudah bersih lagi.

Aku butuh waktu sebelum bisa keluar dari dapur dengan wajah yang normal.