Chapter Forty Six
Extra 5 — Pernikahan Bulan
POV: Hari
Undangan pernikahan Mona datang ke rumah kami dalam amplop kertas daur ulang berwarna abu-abu muda, dengan stiker bulan sabit perak di penutupnya.
Tamara yang membukanya. Di meja makan, hari Minggu pagi, dengan kopi hitam di satu tangan dan pisau mentega di tangan lain.
Ia membaca kartu di dalamnya. Ia diam. Ia membacanya lagi.
Lalu ia meletakkan kopinya, menutup mulut dengan tangan, dan bahunya mulai bergetar.
“Kenapa?” tanyaku.
Ia menyerahkan kartu itu padaku tanpa bicara.
Kertas tebal berwarna putih gading. Font sederhana, sans-serif, rapi. Di bagian atas, judul dengan huruf kapital:
RELEASE NOTES v1.0 Mona Rembulan Wirasena & Bintang Aditama
Di bawahnya:
Fitur baru: — Status hubungan: diperbarui dari “Menunggu” ke “Menikah” — Dukungan untuk dua sendok di satu mangkuk — Integrasi penuh dengan Proyek Matahari dan Proyek Bulan
Perbaikan bug: — Head of Ops (sekarang VP) tidak lagi membuat tiga kotak bekal ketika hanya butuh dua — Head of Engineering tidak lagi menunggu di rooftop tanpa alasan yang jelas
Masalah yang diketahui: — Kakak mempelai perempuan diperkirakan akan menangis. Mitigasi: tisu disediakan di meja keluarga.
Tanggal deploy: Sabtu, 14 Juni Lokasi: Omah Rembulan, Kemang Akad: 09.00 WIB. Resepsi: 18.00 WIB.
Mohon doa restu. Tidak ada rollback.
Aku menatap kartu itu lama.
Aku menatap baris yang bertuliskan Kakak mempelai perempuan diperkirakan akan menangis.
“Ini,” kataku pelan, “fitnah.”
Tamara tertawa lebih keras.
Akad nikah Mona dan Bintang dilakukan di Omah Rembulan pukul sembilan pagi, di ruang makan utama yang meja-mejanya disingkirkan dan diganti tikar pandan.
Mona yang meminta. Ia bilang ia tidak mau di hotel, tidak mau di gedung, tidak mau di masjid besar yang harus dipesan setahun sebelumnya. Ia mau di sini. Di restoran yang namanya diambil dari namanya. Di rumah yang kujanjikan di atas atap kontrakan di Tebet.
Dan karena Bapak sudah meninggal, karena tidak ada laki-laki lain di keluarga kami, akulah walinya.
Aku tidak tidur malam sebelumnya.
Bukan karena gugup. Atau bukan hanya karena gugup. Aku duduk di dapur rumah kami di Kemang sampai pukul tiga pagi, dengan buku catatan kecil di depanku, menulis dan menghapus dan menulis lagi satu kalimat. Kalimat ijab. Kalimat yang akan kuucapkan di depan penghulu, sambil menjabat tangan Bintang.
Saya nikahkan engkau, Bintang Aditama bin—
Aku sudah hafal kalimat itu. Aku sudah latihan dua minggu. Di dapur Omah Rembulan, di depan Dimas yang pura-pura jadi Bintang dan menjawab saya terima dengan suara yang terlalu dalam. Di mobil, di lampu merah. Di kamar mandi.
Tamara menemukanku di dapur pukul tiga pagi. Ia berdiri di ambang pintu dengan kaus Pak Darto dan rambut berantakan. Ia tidak bertanya. Ia hanya berjalan ke arahku, duduk di pangkuanku, melingkarkan lengannya di leherku, dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Kamu takut,” katanya.
“Aku nggak takut.”
“Kamu nulis kalimat yang sama empat puluh tiga kali.” Ia menatap buku catatan di meja. “Aku hitung.”
Aku tidak menjawab.
Ia mengangkat wajah dari bahuku dan menatapku. Lalu ia mencium dahiku. Lalu pipi kiriku. Lalu pipi kananku.
“Kuota tidur,” katanya. “Tiga. Dahi, pipi kiri, pipi kanan.” Ia menarik tanganku. “Ayo tidur.”
“Aku belum ngantuk.”
“Aku udah. Dan aku nggak bisa tidur kalau nggak meluk kamu.” Ia berdiri dan menarikku berdiri. “Kalau aku nggak tidur, aku jadi galak. Kalau aku galak, aku bikin Bintang nangis di akad. Kamu mau Bintang nangis di akad?”
Aku menatapnya. “Kamu bakal bikin Bintang nangis?”
“Aku bakal bikin semua orang nangis. Itu bakatku.”
Aku tidur pukul tiga lewat sepuluh, dengan Tamara memelukku seperti koala, dan kalimat ijab berputar-putar di kepalaku sampai aku tertidur di tengahnya.
Mona memakai kebaya putih.
Kebaya brokat putih dengan payet perak yang halus, membentuk pola bulan sabit kecil-kecil di sepanjang kerah dan lengan. Kain batik sidomukti, sama seperti yang dipakai Tamara di pernikahan kami. Rambut disanggul sederhana dengan melati yang dirangkai. Anting bulan sabit perak, yang ia beli dengan gaji pertamanya.
Ia keluar dari ruang belakang Omah Rembulan pukul delapan lewat lima puluh, diantar Tamara di satu sisi dan Bu Ratih di sisi lain.
Aku sedang berdiri di dekat meja penghulu. Aku menoleh.
Aku melihat adikku.
Dan aku tidak melihat perempuan dua puluh sembilan tahun. Aku tidak melihat VP Operations Southeast Asia. Aku tidak melihat perempuan yang memanjat rak gudang tiga meter dengan sepatu kets dan membuat vendor Cikarang minta maaf tiga kali dalam satu telepon.
Aku melihat anak delapan tahun di pemakaman Ibu, meremas ujung bajuku sampai sobek.
Aku melihat anak sepuluh tahun dengan rambut dikepang dua miring, membuat tumpeng pahit dengan kunyit yang terlalu banyak.
Aku melihat anak delapan belas tahun di mulut gang yang gelap, berteriak Kakak.
Aku melihat semuanya sekaligus, berjalan ke arahku dengan kebaya putih dan melati di rambutnya.
Mataku panas.
“Kak,” kata Mona, berhenti di depanku. Ia menatapku dari dekat. Matanya menyipit. “Kak, jangan.”
“Kakak nggak ngapa-ngapain.”
“Mata Kakak udah merah.”
“Itu bawang.”
“Nggak ada bawang di sini, Kak.”
“Dimas lagi motong bawang di dapur.” Aku menelan. “Baunya sampai sini.”
Mona menatapku lama. Lalu ia tersenyum. Lesungnya muncul. Dalam.
“Kakak cengeng,” katanya.
“Kakak nggak cengeng.”
“Release notes-nya bilang Kakak bakal nangis. Aku cuma mau lihat prediksinya akurat atau nggak.”
Ijab kabul dimulai pukul sembilan lewat dua.
Bintang duduk bersila di depanku di atas tikar pandan. Beskap hitam, blangkon, kain sidomukti. Kacamatanya bersih mengilap. Rambutnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mungkin, tidak berantakan sama sekali. Disisir dan diberi gel dengan sangat teliti, seperti ia menyisirnya dengan penggaris.
Ia menatapku. Wajahnya datar. Tapi tangannya, yang terulur untuk menjabat tanganku, gemetar.
Bintang Aditama, Head of Engineering, laki-laki yang tidak pernah gemetar di depan server yang mati pukul tiga pagi, gemetar di depanku.
Aku menjabat tangannya. Tangannya dingin dan basah.
Penghulu mengangguk padaku.
Aku menarik napas. Aku menatap Bintang. Aku menatap tangan kami yang bertaut.
“Saya nikahkan engkau, Bintang Aditama bin Darmawan Aditama,” kataku.
Suaraku keluar dengan baik. Tegas. Jelas. Seperti di latihan.
“Dengan adik kandung saya,” lanjutku, dan suaraku bergetar sedikit di kata adik, “Mona Rembulan Wirasena binti—”
Aku berhenti.
Aku tidak sengaja berhenti. Suaraku yang berhenti. Tenggorokanku yang berhenti. Seperti ada sesuatu yang menyumbat di sana. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang sudah tersimpan dua puluh tiga tahun.
Binti Suryo Wirasena. Nama Bapak. Bapak yang meninggal waktu Mona tujuh tahun dan aku sembilan. Bapak yang seharusnya duduk di tempat ini. Yang seharusnya menjabat tangan Bintang. Yang seharusnya melihat anak perempuannya dengan kebaya putih dan melati di rambut.
Aku menatap tikar pandan di bawahku.
Seluruh ruang makan Omah Rembulan hening. Tamara di barisan depan menahan napas. Bu Ratih menutup mulut dengan ujung kebaya. Dimas, yang berdiri di ambang pintu dapur dengan apron, sudah menangis.
Lalu aku merasakan tangan Bintang meremas tanganku. Sekali. Pelan.
Aku mengangkat wajah. Bintang menatapku. Wajahnya masih datar. Tapi matanya tidak. Matanya berkata sesuatu. Pelan-pelan. Aku tunggu.
Laki-laki ini selalu menunggu.
Aku menarik napas lagi.
“Mona Rembulan Wirasena binti Suryo Wirasena,” kataku. Suaraku pecah di tengah. Aku tidak peduli. “Dengan mas kawin seperangkat alat salat dan satu buah sendok aluminium, dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Mona Rembulan Wirasena binti Suryo Wirasena dengan mas kawin tersebut, tunai,” kata Bintang. Cepat. Jelas. Dalam satu napas. Seperti mengetik perintah yang sudah ia hafal di luar kepala.
Penghulu menoleh ke saksi. “Sah?”
“Sah!”
Seluruh ruangan menjawab bersamaan. Raka menjawab paling keras. Pak Darto menjawab dengan suara yang pecah.
Aku masih menggenggam tangan Bintang.
Aku tidak melepaskannya.
Aku tidak bisa melepaskannya.
Air mataku jatuh. Ke tikar pandan. Ke tangan kami yang bertaut. Satu. Dua. Tiga. Lalu aku tidak menghitung lagi.
Aku menangis. Di depan penghulu. Di depan Bintang. Di depan seratus tamu di Omah Rembulan. Bukan menangis diam-diam seperti di makam Ibu. Menangis yang sebenarnya. Bahu bergetar. Napas tersengal. Seperti anak kecil.
Bintang tidak menarik tangannya. Ia menunggu.
Di barisan belakang, aku mendengar Dimas menangis lebih keras lagi. Tapi tidak sekeras aku.
Mitigasi yang dijanjikan di release notes ternyata nyata.
Di meja keluarga, di sebelah kursi yang disediakan untukku, ada satu kotak tisu. Kotak besar. Dengan stiker kecil di atasnya: Untuk Kakak. Dari Bulan.
Tamara duduk di sebelahku. Ia mengambil tisu dari kotak itu satu per satu dan menyeka wajahku. Pipi kiri. Pipi kanan. Bawah mata. Hidung.
“Kamu nangis,” katanya.
“Kakak nggak nangis.”
“Kamu nangis lebih keras dari Dimas.”
Aku menatap ke ambang pintu dapur. Dimas berdiri di sana dengan apron, menangis di bahu Bu Ratih. Bu Ratih menepuk-nepuk punggungnya sambil menulis sesuatu di buku tulis bersampul batik dengan tangan yang lain.
“Dimas nangis tiap ada yang nikah,” kataku.
“Kamu nggak pernah nangis tiap ada yang nikah. Kamu nggak nangis di nikahan kita.”
“Aku nangis di nikahan kita.”
“Kamu berkaca-kaca. Itu beda.” Tamara menyeka hidungku lagi. “Hari ini kamu nangis. Beneran. Kayak bayi.”
Aku menatapnya. Matanya juga merah. Matanya juga basah. Riasannya, yang dibuat dengan sangat hati-hati tadi pagi, mulai luntur di bawah mata.
“Kamu juga nangis,” kataku.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu nangis.” Ia mengambil tisu baru dan menyeka matanya sendiri. “Kamu nangis, aku juga nangis. Adil.”
Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahuku dan memeluk lenganku dengan dua tangan, dan kami duduk di meja keluarga, menangis berdua, menghabiskan kotak tisu dengan stiker Untuk Kakak. Dari Bulan.
Resepsi dimulai pukul enam sore.
Omah Rembulan disulap Dimas dan Bu Ratih menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan. Lampu-lampu kecil berwarna perak digantung di pohon jambu di halaman belakang, ribuan, seperti bintang yang tersangkut di dahan. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian melati. Panggung kecil di bawah pohon jambu, dengan pelaminan sederhana.
Raka menjadi pembawa acara. Ia memintanya sendiri. Ia bilang ia sudah latihan tiga minggu. Ia membuka acara dengan pidato pembukaan yang dijadwalkan tiga menit dan berlangsung dua puluh dua menit, dua belas menit di antaranya tentang masa kecilnya di Bandung.
Tiga ratus tamu. Seluruh lantai dua puluh enam sampai dua puluh delapan Blin. Seluruh brigade dapur Omah Rembulan. Pak Darto dan Anto. Pak Haji. Pak Gunawan. Antoine, yang terbang lagi dari Lyon. Richard Morgan, yang terbang dari London dan sekarang duduk di sebelah Antoine lagi, berbicara dalam bahasa Prancis tentang anggur. Laras, yang terbang dari Bali dengan suaminya dan anaknya yang suka mencuri adonan, dan yang memeluk Mona di pelaminan lama sekali.
Aku duduk di meja keluarga dan menatap adikku di pelaminan.
Mona tertawa. Mona tertawa dengan lesung yang muncul dan tidak disembunyikan. Mona bersandar ke bahu Bintang. Mona menyuapi Bintang potongan kue pengantin, dan Bintang menerimanya dengan wajah datar dan telinga merah.
Aku menatap mereka.
Aku tidak bisa berhenti menatap mereka.
“Matahari.”
Aku menoleh. Tamara duduk di sebelahku dengan gaun malam hijau zamrud, warna yang sama dengan blus yang ia pakai di malam rawon kedua, dua tahun lalu. Rambutnya tergerai. Lipstik merah.
Ia menatapku dengan alis terangkat.
“Kamu,” katanya, “dari tadi lihatin Mona.”
“Dia adikku.”
“Satu jam empat puluh menit. Aku hitung. Kamu nggak lihat aku satu kali pun.”
Aku menatapnya. “Kamu cemburu sama Mona?”
“Aku nggak cemburu.” Ia menyilangkan tangan di dada. “Aku cuma ngitung.”
“Kamu cemburu.”
“Aku CFO. Aku ngitung. Itu beda.” Ia menatap pelaminan. Lalu menatapku lagi. Bibirnya sedikit cemberut. “Satu jam empat puluh menit. Itu defisit.”
“Defisit apa?”
“Defisit perhatian.” Ia mencondongkan badan ke arahku. “Dan defisit harus ditutup. Dengan kompensasi.”
“Kompensasi apa?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku, dengan mata hazel yang berkilau di bawah lampu-lampu perak di pohon jambu, dan bibir merah yang sedikit mengerucut.
Aku menatap bibirnya. Lalu aku menatap seratus orang di sekitar kami. Lalu aku menatap bibirnya lagi.
“Di sini?” tanyaku pelan.
“Satu jam empat puluh menit,” katanya. “Itu seratus menit. Aku minta satu ciuman per sepuluh menit.”
“Itu sepuluh ciuman, Tam.”
“Aku nggak minta sekarang semua.” Ia tersenyum. Senyum yang berbahaya. “Aku minta dicicil.”
Dansa pertama dimulai pukul delapan.
Mona dan Bintang di tengah halaman, di bawah lampu-lampu perak, berdansa dengan sangat canggung. Bintang menginjak kaki Mona dua kali. Mona tertawa dua kali. Raka, yang masih memegang mikrofon, berkomentar kalau Bintang injak kaki Mona sekali lagi, aku buka taruhan.
Lalu Raka mengundang semua pasangan untuk bergabung.
Tamara berdiri dari kursinya. Ia mengulurkan tangannya padaku.
“Aku nggak bisa dansa,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku belum pernah dansa.”
“Aku tahu.” Ia menggoyangkan tangannya. “Dansa itu kayak ngulek. Dari pergelangan, bukan dari bahu.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan alis terangkat.
Aku meraih tangannya.
Kami berdansa di halaman belakang Omah Rembulan, di bawah pohon jambu yang dihiasi lampu perak, di antara pasangan-pasangan lain. Dimas dan seorang perempuan dari tim marketing yang ternyata sudah ia dekati selama tiga bulan. Raka dan Sasha, karena Raka bilang CEO harus dansa dengan EA CFO untuk membangun budaya perusahaan yang inklusif. Richard Morgan dan, aku tidak percaya mataku, ibu Tamara, yang datang dari Bali dan sekarang berdansa dengan mantan suaminya dengan jarak setengah meter dan wajah yang sangat canggung.
Tamara meletakkan tangan kirinya di bahuku. Tangan kanannya di tanganku. Aku meletakkan tangan di pinggangnya, di atas kain gaun hijau zamrud yang tipis dan dingin.
Kami bergerak. Pelan. Kiri. Kanan. Seperti mengulek. Dari pergelangan.
“Bagus,” bisiknya. “Kamu bagus.”
“Aku nggak tahu apa yang aku lakuin.”
“Kamu lagi meluk istrimu di depan tiga ratus orang. Itu yang kamu lakuin.” Ia mendekat. Sangat dekat. Sampai pipinya menyentuh pipiku. Sampai bibirnya di dekat telingaku. “Dan kamu tahu, Matahari, beskap hitam kemarin di akad itu bikin aku nggak bisa konsentrasi selama ijab.”
Aku menelan.
“Aku duduk di barisan depan,” bisiknya, “lihat kamu nangis, lihat bahumu goyang di balik beskap itu, lihat tanganmu yang gemetar pegang tangan Bintang.” Ia diam sebentar. Napasnya di telingaku. “Dan yang aku pikirin bukan ya Tuhan, suamiku nangis. Yang aku pikirin adalah, ya Tuhan, suamiku ganteng banget waktu nangis. Dan aku mau buka beskap itu pelan-pelan, kancing per kancing, nanti malam.”
Aku salah langkah.
Kakiku menginjak kakinya. Keras. Dengan sepatu kulit di atas sepatu hak tujuh senti.
Tamara memekik pelan.
Pasangan di sebelah kami menoleh. Dimas menoleh. Raka, yang sedang berdansa dengan Sasha, menoleh dan langsung mengangkat mikrofon dengan tangan yang bebas:
“Kalau Chef injak kaki istrinya sekali lagi, aku buka taruhan!”
Tiga ratus tamu tertawa.
Aku berdiri membeku di tengah halaman, dengan wajah merah menyala, dan Tamara yang meringis kesakitan sambil tertawa di pelukanku.
“Maaf,” kataku. “Maaf, Tam. Sakit?”
“Sakit,” katanya, masih tertawa. “Tapi worth it. Aku akhirnya bikin kamu salah langkah.”
Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah yang sangat, sangat puas. Wajah orang yang baru memenangkan sesuatu.
Satu jam empat puluh menit aku tidak menatapnya. Satu jam empat puluh menit ia duduk di sebelahku, menghitung, menunggu. Dan sekarang ia memenangkan semuanya dengan satu bisikan.
Tidak.
Aku menarik napas. Aku menegakkan badan. Aku meletakkan tanganku lebih tegas di pinggangnya, dan menariknya lebih dekat. Sangat dekat. Sampai tidak ada jarak di antara kami.
Aku menunduk. Bibirku di dekat telinganya. Seperti ia tadi.
“Tam,” bisikku.
“Hm?” Suaranya masih bergetar karena tawa.
“Kamu mau buka beskapnya pelan-pelan?”
Tawanya berhenti.
“Kancing per kancing,” lanjutku. Pelan. Sangat pelan. Sehingga hanya ia yang mendengar. “Silakan.”
Aku merasakan napasnya tertahan.
“Tapi nanti malam,” bisikku, “aku yang nentuin tempo.”
Tamara tidak bergerak.
Ia berhenti berdansa. Ia berdiri di pelukanku, di tengah halaman Omah Rembulan, di bawah lampu-lampu perak di pohon jambu, di depan tiga ratus tamu.
Ia tidak bicara.
Aku menarik kepalaku dari telinganya dan menatapnya.
Wajahnya merah. Merah menyala. Merah yang naik dari leher, ke pipi, ke telinga, sampai ke dahi. Merah yang sama dengan lipstiknya. Matanya melebar. Mulutnya sedikit terbuka.
Tamara Morgan. CFO Blin. Perempuan yang baru saja berbisik aku mau buka beskap itu pelan-pelan, kancing per kancing dengan suara paling menggoda yang pernah kudengar.
Membeku. Total. Seperti layar komputer yang hang.
“Tam?”
Ia tidak menjawab.
Aku kembali bergerak. Kiri. Kanan. Seperti mengulek. Aku membawanya berdansa, dan ia mengikuti, seperti boneka, tanpa bicara, dengan wajah merah menyala.
Satu lagu habis. Lagu kedua dimulai.
Ia masih tidak bicara.
Di tengah lagu kedua, ia akhirnya menyandarkan dahinya di dadaku dan bergumam, sangat pelan, teredam:
“KO.”
“Apa?”
“Aku KO.” Ia tidak mengangkat wajah. “Di depan tiga ratus orang. Di depan ayahku. Di depan Antoine. Di depan Raka.”
Aku tertawa pelan.
“Jangan ketawa,” gumamnya ke dadaku. “Kamu udah bales dua kali hari ini. Kamu mau buka beskapnya? sama aku yang nentuin tempo.” Ia memukul dadaku dengan kepalan tangan. Pelan. “Itu dua serangan dalam lima detik. Itu melanggar konvensi Jenewa.”
“Konvensi Jenewa nggak ngatur dansa.”
“Konvensi Jenewa harus direvisi.”
Dari pelaminan, Mona melihat semuanya.
Aku tahu karena waktu aku melirik ke arahnya, ia sedang menatap kami dengan wajah yang tidak percaya. Ia menyikut Bintang. Bintang menoleh. Mereka berdua menatap Tamara yang menyembunyikan wajahnya di dadaku.
Lalu Mona mengangkat ponselnya, mengetik sesuatu, dan ponselku bergetar di saku beskap.
Aku mengeluarkannya dengan satu tangan. Tangan yang lain masih di pinggang Tamara.
Mona 🌙: Kak. Kakak bilang apa ke Tam? Mukanya kayak cabai.
Aku mengetik dengan satu jempol: Rahasia.
Mona 🌙: Pasal Sepuluh, Kak.
Pasal Sepuluh dicoret di redline.
Mona 🌙: Itu kontrak Tam. Ini kontrak aku sebagai pengantin. Pengantin nggak boleh dikalahin di hari pernikahannya sendiri. Kakak sama Tam lebih heboh dari aku sama Bintang.
Lalu, sepuluh detik kemudian:
Mona 🌙: Tapi Kak. Aku seneng lihat Kakak menang.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku menatap adikku di pelaminan, dengan kebaya putih dan melati di rambut dan cincin emas putih di jari manisnya. Ia tersenyum padaku dari jauh. Lesungnya dalam.
Aku tersenyum balik.
Tamara mengangkat wajah dari dadaku. Wajahnya masih merah. Ia melihat ponselku. Ia melihat adikku di pelaminan. Lalu ia melihatku.
“Kamu,” katanya pelan, “akhirnya lihat aku lagi.”
“Dari tadi aku lihat kamu.”
“Kamu lihat ponsel.”
Aku memasukkan ponsel ke saku. Aku menatapnya. Hanya dia. Di bawah lampu-lampu perak di pohon jambu.
“Sekarang aku lihat kamu,” kataku. “Defisitnya mulai dicicil.”
Aku menunduk dan menciumnya. Satu kali. Di tengah halaman Omah Rembulan. Di depan tiga ratus tamu.
“Satu,” kataku.
Tamara menatapku. Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan, dan lebar, dan sangat, sangat bahagia.
“Sembilan lagi,” bisiknya.
Dari panggung, Raka mengangkat mikrofon.
“Teman-teman! Saya buka taruhan baru! Berapa kali Chef cium istrinya sebelum resepsi selesai! Minimal taruhan lima puluh ribu! Sasha yang catat!”
Dari kursi tamu, Bintang mengangkat tangan.
“Sepuluh,” katanya.
Raka menatapnya. “Kok kamu tahu?”
Bintang mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Aku hitung defisitnya.”
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan
- 42 Extra 1 — CFO di Kantor, Bocah di Rumah
- 43 Extra 2 — Sakit Pura-Pura
- 44 Extra 3 — Istri di Kursi Nomor Satu
- 45 Extra 4 — Lebaran Pertama
- 46 Extra 5 — Pernikahan Bulan reading
- 47 Extra 6 — Buku Kupon Jilid Dua
- 48 Extra 7 — Dua Garis