Chapter Thirty Nine
Sekarang
POV: Mona
Resep bekal Kakak tidak pernah ditulis di satu tempat.
Aku menyadarinya waktu aku mencoba mengumpulkannya, tiga minggu setelah malam pembukaan Omah Rembulan, di kamarku di apartemen Kalibata, dengan kardus dari bawah kasur yang kubuka untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Kardus itu berisi semua yang kusimpan dari kontrakan di Tebet. Sendok aluminium yang bengkok. Mangkuk plastik yang retak di pinggir. Panci kecil yang bawahnya gosong. Dan setumpuk kertas.
Kertas-kertas yang tidak pernah kumaksudkan untuk dibaca siapa pun.
Ada sobekan buku tulis SD dengan tulisan pensil yang besar dan miring: telor jgn gosong. api kecil. Umur sebelas. Bekal pertama, telur gosong di kotak plastik bekas es krim.
Ada halaman dari buku catatan SMP, ditulis dengan pulpen biru: Kakak suka sambal ditambahin belakangan. Jangan dicampur ke nasi. Wadah terpisah. Umur tiga belas.
Ada kertas fotokopi tugas kimia SMA, dengan tulisan di bagian belakangnya: Buncis potong miring = permukaan lebih luas = bumbu lebih nempel. (Kakak bilang ini.) Umur enam belas.
Ada lembar dari buku agenda kuliah: Telur kocok pake garpu, bukan whisk. Kakak bilang whisk bikin kembung terus kempes. Umur sembilan belas.
Ada kertas tagihan semester tiga.
Aku berhenti di kertas itu.
Bagian depannya angka-angka. Penjumlahan dan pengurangan yang kutulis sampai tertidur. Di pojok, tulisan kecil yang tidak pernah kumaksudkan untuk dibaca siapa pun. Kalau nggak cukup, aku cuti dulu. Kakak jangan tahu.
Tapi di bagian belakangnya, dengan tulisan yang berbeda, lebih besar, lebih miring ke kiri, tulisan seperti anak SD, ada satu baris yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Nggak usah cuti. Kakak udah tahu.
Aku duduk di lantai kamarku dan menatap tulisan itu lama sekali.
Kakak menulisnya. Malam itu. Setelah ia turun dari atap dan merobek surat beasiswa jadi delapan bagian. Ia membalik kertas tagihanku dan menulis satu baris di belakangnya, lalu meletakkannya kembali di meja, terbalik, dengan sisi depan di atas.
Aku tidak pernah membaliknya. Sembilan tahun. Aku menyimpannya di kardus ini bersama sendok bengkok dan panci gosong, dan aku tidak pernah membaliknya.
Aku menangis di lantai kamarku pukul sebelas malam, dengan kertas tagihan semester tiga di tanganku.
Lalu aku mengambil buku tulis baru, sampulnya batik, dan mulai menyalin semuanya.
Aku menyerahkan buku itu ke Tamara hari Sabtu pagi, di dapur apartemen Kalibata.
Tamara masih sering datang sarapan di Sabtu pagi. Kebiasaan yang tidak berubah meski Kakak sekarang lebih sering di apartemen Tamara di Setiabudi, atau di Omah Rembulan sampai tengah malam. Ia datang dengan kaus OXFORD UNIVERSITY ROWING CLUB yang lehernya melar dan cincin dengan batu berwarna madu di jari manisnya, duduk di meja dapur, dan menonton aku menyiapkan bekal.
Dua kotak sekarang. Untukku dan untuk Bintang.
Kakak punya Dimas sekarang, yang menyiapkan makan siang staf di Omah Rembulan setiap hari dengan semangat orang yang baru dinaikkan gajinya dua kali. Kakak tidak butuh bekal dariku lagi.
Aku tahu itu. Aku sudah menerimanya.
Tapi tanganku masih tahu jalannya. Telur. Cabai. Daun bawang. Wajan.
Tamara menyesap kopinya. Hitam. Ia mulai minum kopi hitam sejak di Lyon. Katanya kopi Prancis terlalu pahit untuk diberi susu.
Aku mematikan kompor. Aku mengambil buku tulis bersampul batik dari laci dapur, dan aku meletakkannya di meja, di depannya.
Tamara menatap buku itu. Lalu menatapku.
“Apa ini?”
“Buka.”
Ia membukanya. Halaman pertama. Tulisan tanganku, kecil dan rapi.
Resep Bekal Matahari Wirasena. Disusun oleh Mona Rembulan Wirasena, umur 11–31 tahun.
Halaman kedua. Telur dadar. Dengan catatan di pinggir, yang kusalin persis dari sobekan buku tulis SD, dengan ejaan dan tulisan anak sebelas tahun: telor jgn gosong. api kecil.
Halaman ketiga. Sambal bajak. Dengan catatan dari umur tiga belas: Kakak suka sambal ditambahin belakangan. Wadah terpisah.
Halaman keempat. Tumis buncis. Potong miring. (Kakak bilang ini.)
Halaman kelima. Nasi. Jangan pakai beras pera. Kakak nggak bilang, tapi Kakak makannya lebih lambat kalau berasnya pera.
Halaman demi halaman. Tujuh belas resep. Setiap resep dengan catatan di pinggir. Catatan yang kutulis di umur yang berbeda-beda, dengan tulisan yang berbeda-beda, yang sekarang kusalin ulang dengan tangan yang sama.
Halaman terakhir, aku tidak menyalin resep apa pun.
Aku menempelkan kertas tagihan semester tiga itu. Dengan selotip di empat sudutnya. Bagian depannya yang menghadap ke atas. Kalau nggak cukup, aku cuti dulu. Kakak jangan tahu.
Dan di bawahnya, dengan tulisan tanganku sendiri:
Balik halamannya.
Tamara membaliknya. Perlahan. Ia mengangkat kertas tagihan itu dari selotip di satu sisi, sehingga bagian belakangnya terlihat.
Nggak usah cuti. Kakak udah tahu.
Tamara menatap tulisan itu lama.
Lalu ia meletakkan buku itu di meja, sangat pelan, dan menutup mulutnya dengan dua tangan.
Aku berdiri di depan kompor yang sudah mati, dengan sendok kayu di tangan, dan menatapnya.
“Dulu,” kataku, “kamu minta aku ajarin bikin bekal Kakak. Aku bilang belum.”
Tamara menurunkan tangannya. Matanya basah. Cincin dengan batu berwarna madu berkilau di jarinya.
“Kamu bilang kamu bakal nunggu,” lanjutku.
“Aku bilang aku pernah nunggu sepuluh tahun buat garang asem,” bisik Tamara. “Aku bisa nunggu buat telur dadar.”
“Kamu nunggu dua tahun.”
“Hampir dua tahun.”
Aku meletakkan sendok kayu di meja. Aku menarik kursi di sebelahnya dan duduk. Aku menatap buku tulis bersampul batik di antara kami.
“Sekarang,” kataku.
Tamara menatapku.
“Sekarang,” ulangku. Suaraku pecah sedikit. Aku membiarkannya. “Kamu yang bikin bekal Kakak. Bukan aku lagi.”
Tamara tidak bicara. Ia menatapku dengan mata yang basah dan bibir yang bergetar.
“Telurnya jangan gosong,” kataku. “Kakak bilang dia suka yang gosong. Itu bohong.”
“Aku tahu,” bisik Tamara.
“Sambalnya ditambahin belakangan. Wadah terpisah.”
“Aku tahu.”
“Buncisnya potong miring.”
“Aku tahu.”
“Dan dia,” aku menelan, “dia bakal bilang udah kalau kamu tanya dia udah makan. Jangan percaya. Tanya lagi.”
Tamara mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku di atas meja. Tangannya hangat. Cincinnya dingin.
“Mona,” katanya.
“Hm.”
“Kamu nggak berhenti jadi adiknya.”
“Aku tahu.”
“Kamu cuma berhenti jadi satu-satunya.”
Aku menatapnya. Lalu aku tertawa. Basah. Lesungku muncul.
“Kamu ngomong kayak Bintang,” kataku.
“Bintang ngajarin aku.” Tamara tersenyum. “Kami bikin grup chat sendiri. Namanya Proyek Bulan.”
Aku berhenti tertawa. “Apa?”
Tamara menggigit bibir. Matanya tiba-tiba berkilau dengan sesuatu yang sangat mirip rasa bersalah, dan sangat mirip kegembiraan.
“Lupakan,” katanya cepat. “Aku nggak bilang apa-apa.”
Bintang melamarku tiga hari kemudian, dengan cara paling tidak romantis yang pernah dilakukan siapa pun di muka bumi.
Selasa pagi pukul sembilan lewat empat belas. Aku sedang di mejaku di lantai dua puluh enam, membaca laporan gudang Sidoarjo yang tingkat kesalahannya sudah turun ke nol koma delapan persen sejak semua label dicetak dengan font empat belas.
Ponselku bergetar. Notifikasi dari sistem tiket internal Blin. Sistem yang dipakai tim engineering untuk mencatat bug dan permintaan fitur.
Tiket baru telah ditugaskan kepada Anda.
Aku mengernyit. Aku tidak pernah dapat tiket dari tim engineering. Aku Head of Ops, sekarang VP. Tiket engineering bukan urusanku.
Aku membukanya.
MONA-1 Judul: Permintaan perubahan status hubungan Pelapor: Bintang Aditama Ditugaskan kepada: Mona Rembulan Wirasena Prioritas: Kritis Status: Menunggu Respons
Deskripsi: Status saat ini: “Menunggu sampai Mona selesai.” Status yang diminta: “Menikah.”
Langkah untuk mereproduksi: 1. Pengembalian kotak bekal dengan nilai tambah (toko buku Cikini). 2. Delapan belas kencan lanjutan (log terlampir). 3. Satu roti dengan sobekan miring (rooftop, Sabtu). 4. Monitoring lesung pipi kiri: 47 kemunculan sejak pencatatan dimulai. 5. Mona selesai jaga kakaknya (dikonfirmasi: bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3, pukul 21.40).
Perilaku yang diharapkan: Mona bilang iya.
Perilaku aktual: Belum diketahui.
Lampiran: cincin.jpg
Aku membuka lampirannya.
Foto sebuah cincin. Emas putih, sederhana, tanpa batu. Di bagian dalamnya, terukir dengan huruf kecil, sangat kecil, tapi bisa dibaca di foto yang diperbesar:
Bulan tidak pernah sendirian.
Aku menatap layar laptopku.
Aku menatap tiket itu. Prioritas: Kritis. Perilaku yang diharapkan: Mona bilang iya.
Aku menatap angka empat puluh tujuh.
Lalu aku mulai tertawa.
Aku tertawa di mejaku di lantai dua puluh enam, di depan timku yang sedang rapat pagi di ruang kaca di sebelah. Aku tertawa sampai harus menunduk ke meja. Aku tertawa sampai mataku berair. Aku tertawa sampai lesungku muncul, dan aku tahu, entah bagaimana, bahwa di suatu tempat di lantai dua puluh delapan, seseorang sedang mencatatnya sebagai kemunculan keempat puluh delapan.
Aku berdiri dari mejaku. Aku berjalan ke lift. Aku menekan tombol lantai dua puluh delapan.
Bintang berdiri di depan mejanya waktu aku keluar dari lift.
Ia tidak duduk. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, rambut berantakan seperti biasa, kacamata sedikit melorot di hidung. Ia menatap layar laptopnya. Layar yang menampilkan tiket MONA-1, dengan status Menunggu Respons.
Di sekitarnya, seluruh tim engineering pura-pura sibuk. Tidak ada satu pun yang mengetik.
Ia mengangkat wajah waktu aku berjalan ke arahnya.
“Kamu,” kataku, “lamar aku pakai tiket bug.”
“Tiket permintaan fitur,” koreksinya. “Bukan bug. Bug itu sesuatu yang rusak. Ini bukan sesuatu yang rusak.”
“Kamu kasih prioritas kritis.”
“Ini kritis.”
“Kamu hitung lesungku empat puluh tujuh kali.”
“Empat puluh delapan. Barusan kamu ketawa di lantai dua puluh enam. Sasha kirim foto dari CCTV.”
Aku menatapnya.
“Kamu,” kataku perlahan, “pakai CCTV kantor buat ngehitung lesungku.”
“Itu monitoring.” Ia mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Aku engineer. Aku monitor semua yang penting.”
Aku menatapnya lama. Laki-laki ini. Rivalku. Head of Engineering. Laki-laki yang kasih nama mobilnya seperti server. Laki-laki yang mengoreksi kerning di toko buku bekas. Laki-laki yang menunggu, sabar, diam, tanpa mencoba menciumku, sampai aku selesai.
Aku sudah selesai.
“Bintang,” kataku.
“Hm.”
Itu bukan jenis pertama. Bukan jenis kedua. Bukan jenis ketiga. Itu jenis yang belum pernah kudengar. Jenis yang sedikit bergetar.
Aku mengambil laptopnya dari meja. Aku memutar layarnya ke arahku. Di kolom komentar tiket MONA-1, aku mengetik satu kata.
Iya.
Aku menekan kirim.
Lalu aku mengubah status tiket itu dari Menunggu Respons menjadi Selesai.
Bintang menatap layar laptopnya. Ia membaca komentar itu. Ia membaca status yang berubah. Ia tidak bergerak.
Lalu, perlahan, telinganya memerah. Lehernya memerah. Seluruh wajahnya, yang selalu datar, yang selalu tenang, yang tidak pernah menunjukkan apa pun, memerah seperti cabai rawit yang baru dipetik.
Ia mengeluarkan tangan dari saku celananya. Di telapak tangannya, kotak kecil dari beludru hitam. Ia membukanya.
Cincin emas putih. Sederhana. Tanpa batu.
Ia mengambil tangan kiriku. Ia memasangkannya di jari manisku. Tangannya gemetar sedikit. Tangan yang mengetik kode dengan kecepatan yang tidak masuk akal, yang tidak pernah gemetar di depan server yang mati pukul tiga pagi.
Cincin itu pas. Tentu saja pas. Proyek Bulan punya data ukuran jari semua orang.
Aku menatap cincin di jariku. Lalu aku menatap Bintang.
“Kamu belum pernah cium aku,” kataku.
“Aku nunggu kamu selesai.”
“Aku udah selesai.”
Bintang menatapku. Lama. Dengan mata cokelat tua yang ada bintik-bintik terangnya, seperti kopi yang diaduk dengan sedikit susu.
Lalu ia mengangkat tangannya, perlahan, dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Jarinya menyentuh anting bulan sabitku. Berhenti di sana.
“Bulan,” katanya pelan.
“Hm.”
“Bulan juga butuh ditemani.”
Lalu ia menunduk, dan menciumku.
Di lantai dua puluh delapan. Di depan meja kerjanya. Di depan seluruh tim engineering yang tidak mengetik apa pun. Di depan Raka, yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu ruangannya dengan ponsel terangkat dan mulut terbuka.
Ciuman itu pelan. Sabar. Seperti orang yang sudah menunggu lama dan tidak mau buru-buru.
Seperti orang yang tahu, ia tidak perlu buru-buru lagi.
Di suatu tempat di lantai dua puluh delapan, seseorang mulai bertepuk tangan. Lalu seseorang lagi. Lalu seluruh tim engineering. Lalu Raka, yang bertepuk tangan dengan satu tangan karena tangan lainnya memegang ponsel.
Ketika Bintang akhirnya melepaskanku, ia menyandarkan dahinya ke dahiku.
“Lesung kamu,” bisiknya. “Empat puluh sembilan.”
Aku tertawa. Lima puluh.
Malam itu, aku datang ke Omah Rembulan setelah restoran tutup.
Kakak di dapur. Sendirian. Dimas sudah pulang. Bu Ratih sudah pulang. Kucing oranye tidur di anak tangga pintu belakang.
Kakak sedang mencuci panci. Ia mendengar langkahku dan menoleh. Ia melihat tangan kiriku.
Ia mematikan keran.
Ia menatap cincin di jari manisku. Lalu menatap wajahku. Lalu menatap cincin lagi.
“Tiket bug,” katanya.
“Tiket permintaan fitur,” koreksiku. “Bukan bug.”
Kakak tersenyum. Senyum yang membuat kerutan di sudut matanya dalam.
“Raka udah kirim videonya ke grup,” katanya. “Dimas nangis di dapur tadi siang. Bu Ratih udah beli pulpen tinta emas baru.”
Aku berjalan ke dapur. Aku berdiri di sebelahnya, di depan bak cuci, di dapur Omah Rembulan. Rumah yang ia janjikan di atas atap kontrakan di Tebet.
Kakak mengambil panci lain dan mulai mencucinya. Aku mengambil lap dan mulai mengeringkan panci yang sudah ia cuci.
Seperti dulu. Ia mencuci, aku mengeringkan.
Kami tidak bicara lama. Hanya bunyi air, bunyi spons di stainless, bunyi lap di logam.
“Mon,” katanya akhirnya.
“Hm.”
“Kakak bangga sama kamu.”
Aku berhenti mengeringkan.
“Aku tahu,” kataku.
“Kamu harusnya jawab aku juga.”
Aku menatapnya. Lalu aku tertawa. “Itu kalimat Tamara.”
“Kakak belajar dari dia.”
Aku meletakkan lap dan panci. Aku menatap kakakku. Tiga puluh tiga tahun. Chef dan pemilik Omah Rembulan. Tunangan Tamara Morgan. Laki-laki dengan bekas luka panjang di lengan kiri.
Kami tidak lagi saling menjaga karena takut.
Kami saling melepas. Karena sayang.
“Aku juga bangga sama Kakak,” kataku.
Ia tersenyum. Ia kembali mencuci panci.
Aku kembali mengeringkan.
Di luar jendela dapur Omah Rembulan, di atas pohon jambu di halaman belakang, bulan menggantung. Penuh. Bersih.
Dan di sebelahnya, satu titik cahaya kecil. Tidak lagi redup.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang reading
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan