Chapter Twenty Four
Ayah dari London
POV: Hari
“Ayahku datang Kamis,” kata Tamara.
Ia mengatakannya hari Senin malam, di dapur Sekar Kedhaton yang tutup, sambil mengiris bawang merah dengan ruas jari menekuk, persis seperti yang kuajarkan. Ia sudah bisa mengiris bawang tanpa melihat sekarang. Ia mengiris sambil bicara, sambil menatapku, sambil sesekali mencuri ciuman di sudut bibirku kalau aku lewat di belakangnya.
Tapi waktu ia bilang ayahku datang Kamis, pisaunya berhenti.
“Dari London?”
“Dari Singapura. Dia ada urusan bisnis di sana minggu ini. Dia telepon tadi pagi, bilang dia mampir ke Jakarta satu malam.” Ia meletakkan pisau. “Dia mau makan malam.”
“Sama kamu?”
“Sama aku.” Ia menatap talenan. “Dan sama kamu.”
Aku berhenti mengaduk kaldu.
“Dia tahu?”
“Sasha yang bilang. Nggak sengaja. Ayahku telepon ke kantor waktu aku rapat, Sasha yang angkat, ayahku nanya aku sibuk apa akhir-akhir ini, dan Sasha—” Tamara menghela napas. “Sasha bilang Bu Tamara sibuk pacaran, Sir. Dalam bahasa Inggris. Dengan aksen Medan.”
Aku menahan senyum. “Terus?”
“Terus ayahku diam lima detik. Terus dia bilang I see. Terus dia minta Sasha pesan meja untuk tiga orang Kamis malam.” Ia mengangkat wajah. “Di sini.”
“Di Sekar Kedhaton.”
“Dia mau lihat kamu kerja.” Tamara menggigit bibir bawahnya. “Ayahku nggak percaya sama apa pun yang nggak bisa dia lihat sendiri. Dia bankir investasi. Tiga puluh lima tahun. Dia due diligence semua hal.”
“Kayak kamu.”
“Aku belajar dari dia.” Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Satu-satunya hal yang dia ajarin langsung ke aku.”
Aku meletakkan sendok kayu. Aku berjalan ke belakangnya dan melingkarkan lenganku di pinggangnya, daguku di bahunya. Ia bersandar ke dadaku.
“Kamu takut,” kataku.
“Aku nggak pernah takut.”
“Kamu iris bawangnya jadi tebal sebelah.”
Ia menatap talenan. Irisan bawangnya, yang tadi tipis sempurna, sekarang miring dan tebal di satu sisi, persis seperti di les pertama.
“Dia nggak pernah ketemu siapa pun yang aku kenalin,” katanya pelan. “Aku nggak pernah ngenalin siapa pun ke dia.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu dia akan bilang apa.” Ia menghela napas. “Dia akan bilang, Is this the best you can do, darling? Dengan senyum. Dengan nada sopan. Dan aku akan tersenyum balik dan bilang Yes, Father, dan aku akan pulang dan nggak tidur semalaman.”
Aku memeluknya lebih erat.
“Kamu mau aku masak apa?” tanyaku.
Ia menoleh, kaget. “Kamu nggak takut?”
“Aku takut,” kataku jujur. “Aku cuma nggak tahu cara lain buat ngadepin takut selain masak.”
Richard Morgan datang hari Kamis pukul tujuh lewat dua menit.
Aku melihatnya dari balik pass, dari dapur terbuka. Laki-laki tinggi berumur enam puluhan dengan rambut perak yang disisir ke belakang dengan sempurna, setelan jas abu-abu gelap dengan potongan yang tajam, dasi biru tua dengan pola kecil yang hanya terlihat dari dekat. Wajahnya kurus, tulang pipinya tinggi, dan matanya, aku melihatnya bahkan dari jarak sejauh ini, berwarna hazel. Mata Tamara.
Ia berjalan masuk dengan langkah orang yang terbiasa masuk ke ruangan dan membuat ruangan itu menyesuaikan diri dengannya.
Tamara di sebelahnya. Gaun hitam yang paling sederhana yang pernah kulihat ia pakai, lengan panjang, kerah tinggi. Rambut digelung rapi. Lipstik merah, tapi merah yang paling gelap, hampir seperti warna anggur. Wajahnya wajah CFO. Wajah rapat direksi. Wajah yang tidak membiarkan apa pun lewat.
Aku belum pernah melihatnya memakai wajah itu di restoran ini.
Bu Ratih menyambut mereka di pintu. Bu Ratih sudah latihan sejak Senin. Ia mengunduh aplikasi kursus bahasa Inggris dan berlatih di dapur belakang setiap jam istirahat, mengucapkan kalimat-kalimat seperti Welcome to Sekar Kedhaton dan Please sit down dengan aksen yang membuat Dimas harus keluar ke gang untuk tertawa.
“Welcome, Sir,” kata Bu Ratih, membungkuk sedikit, dengan senyum paling profesional yang pernah kulihat di wajahnya. “Welcome to Sekar Kedhaton. Monggo, please, this way. Chef’s table. Kursi nomor satu for Bu Tamara, nomor two for Sir.”
Richard Morgan menatap Bu Ratih dengan alis terangkat sedikit. “Thank you.”
“You’re welcome, Sir. Sugeng rawuh.”
“I beg your pardon?”
“Sugeng rawuh, Sir. It means... welcome. In Javanese. Very welcome. Double welcome.” Bu Ratih menarik kursi nomor dua untuknya. “Please sit, Sir. Lungguh. Sit.”
Richard duduk. Ia menatap Tamara. Tamara menatap lurus ke depan, ke dapur, ke arahku, dengan wajah yang tidak bergerak sedikit pun. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergetar.
Di belakangku, Dimas sudah menghilang ke gang lagi.
Richard Morgan tidak bicara padaku selama hidangan pertama dan kedua. Ia bicara pada Tamara, dalam bahasa Inggris yang cepat dan halus, tentang urusan bisnisnya di Singapura, tentang suku bunga, tentang seorang kenalan di London yang baru bercerai. Tamara menjawab dengan kalimat-kalimat pendek. Yes, Father. I see. That’s unfortunate.
Ia makan lemper ayam asap dengan pisau dan garpu, memotongnya menjadi potongan-potongan kecil yang presisi. Ia makan soto bening dengan sendok yang diangkat ke mulut, tidak dicondongkan ke mangkuk. Ia tidak berkomentar tentang rasa.
Di hidangan ketiga, ia akhirnya menatapku.
Aku sedang menuang kuah rawon ke mangkuknya dari teko kecil. Ia menatap tanganku. Kapalan di telunjuk. Bekas luka bakar di pangkal ibu jari. Lalu matanya naik ke lenganku, dan aku tahu ia melihat ujung garis pucat itu yang muncul dari balik lengan jas kokiku yang tergulung sedikit.
“So,” katanya. Lalu, dengan bahasa Indonesia yang ternyata lancar, dengan aksen Inggris yang kental: “Kamu chef di sini.”
“Iya, Pak.”
“Berapa lama?”
“Lima tahun di sini. Tujuh belas tahun masak.”
“Tujuh belas.” Ia menyesap kuah rawon. Wajahnya tidak berubah. “Kamu mulai umur berapa?”
“Empat belas.”
“Empat belas.” Ia meletakkan sendok. “Tamara bilang kamu tidak kuliah.”
Udara di sekitar chef’s table mendadak dingin. Aku melihat Tamara menegang di kursinya. Tangannya di atas meja mengepal sedikit.
“Iya, Pak,” kataku.
“Kenapa?”
“Father,” kata Tamara. Suaranya datar, tapi ada sesuatu di bawahnya.
“Aku cuma bertanya, darling. Bertanya itu tidak dilarang.” Richard menatapku lagi. “Kenapa tidak kuliah? Kamu jelas bukan orang bodoh. Cara kamu bicara, cara kamu bekerja. Kamu punya disiplin. Kenapa tidak?”
Aku meletakkan teko kuah di meja. Aku menatapnya.
Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang aku lebih suka belajar langsung di dapur. Aku bisa bilang sekolah kuliner tidak cocok untukku. Aku pernah mendengar chef-chef lain mengatakan hal itu di wawancara majalah.
Tapi aku tidak pandai berbohong.
“Karena adik saya harus kuliah, Pak,” kataku. “Uangnya cuma cukup buat satu.”
Hening.
Richard Morgan menatapku. Wajahnya tidak bergerak. Tapi matanya, mata hazel yang sama dengan mata Tamara, berubah sedikit. Seperti angka di laporan keuangan yang tiba-tiba tidak sesuai proyeksi.
“Adikmu,” katanya.
“Mona. Dia kerja di Blin. Head of Operations.”
Richard menoleh ke Tamara. Tamara mengangguk sekali.
“Dia lulus dengan predikat cum laude,” kata Tamara pelan. “Dia yang paling cepat naik jabatan dalam sejarah perusahaan.”
Richard diam lama. Ia mengambil sendoknya lagi, menyendok rawon, dan memakannya perlahan. Kali ini ia tidak memotong daging dengan pisau dan garpu. Ia makan langsung dari sendok, dengan kuah dan nasi dan daging bersamaan.
Ia tidak berkata apa-apa lagi selama hidangan ketiga.
Hidangan keempat seharusnya gudeg nangka muda. Aku menggantinya.
Tamara memberitahuku sesuatu hari Senin malam, waktu ia berhenti mengiris bawang dan bersandar ke dadaku. Ia bilang ayahnya pernah tinggal di Indonesia, dua tahun, di awal sembilan puluhan, waktu ia masih bankir muda yang dikirim ke Jakarta. Ia bertemu ibu Tamara di Solo, di acara pernikahan kerabat seorang klien. Ia bilang ayahnya pernah bercerita, satu kali, waktu Tamara umur sembilan dan ayahnya mabuk sedikit di malam Natal, bahwa kencan pertama orang tuanya adalah di sebuah warung di Solo yang menjual satu hidangan.
Selat Solo.
Bistik ala Jawa, dengan saus kecap manis yang encer dan sedikit asam, daging has dalam yang diiris tipis, telur rebus, kentang goreng, buncis, wortel, selada, dan mustard yang dicampur mayones. Hidangan peninggalan zaman Belanda yang diadaptasi orang Solo. Hidangan yang terlihat seperti makanan Eropa tapi rasanya sepenuhnya Jawa.
Tamara bilang ayahnya tidak pernah menyebutnya lagi setelah malam Natal itu. Tidak pernah. Bahkan setelah perceraian. Bahkan setelah ibunya menikah lagi.
Aku memasaknya sejak pagi. Aku menelepon salah satu ibu di Pasar Gede yang dulu membantuku dengan garang asem, dan bertanya tentang warung selat di Solo yang sudah berdiri sejak sebelum tahun sembilan puluh. Ia menyebut satu nama. Aku menelepon warung itu. Aku bicara dengan cucu pemiliknya selama empat puluh menit tentang takaran kecap dan cuka dan pala.
Aku meletakkan piring selat Solo di depan Richard Morgan.
Ia menatapnya.
Ia tidak bergerak. Pisau dan garpu di tangannya berhenti di udara. Ia menatap piring itu: daging yang diiris tipis di atas genangan saus cokelat encer, telur rebus yang dibelah dua, kentang goreng yang dipotong seperti dadu, selada yang ditata di pinggir, dan setitik mustard kuning di sudut.
Aku melihat tenggorokannya bergerak. Ia menelan.
Tamara menatapku dari kursi nomor satu. Matanya melebar. Ia tidak tahu aku akan menyajikan ini. Aku tidak memberitahunya.
Richard meletakkan pisau dan garpu di sisi piring. Dengan sangat pelan. Lalu ia mengambil sendok, sendok biasa, dan menyendok saus selat itu sedikit, dan mencicipinya.
Lalu ia diam.
Diam yang sangat lama. Diam yang membuat Bu Ratih, yang berdiri di dekat kasir, berhenti menghitung uang. Diam yang membuat Dimas, yang sudah kembali dari gang, berdiri membeku di depan kompor.
Richard Morgan, bankir investasi selama tiga puluh lima tahun, laki-laki yang menurut Tamara due diligence semua hal, duduk di kursi nomor dua chef’s table Sekar Kedhaton dengan sendok di tangan dan mata yang menatap jauh, jauh sekali, ke suatu tempat yang bukan di ruangan ini.
“Sriwedari,” katanya akhirnya. Pelan. Hampir berbisik. “Warung di dekat Taman Sriwedari.”
“Iya, Pak,” kataku. “Cucu pemiliknya masih jualan. Saya telepon tadi pagi.”
Richard menatapku.
Untuk pertama kalinya sepanjang malam, ia menatapku bukan sebagai sesuatu yang sedang ia nilai. Ia menatapku seperti orang yang baru menyadari bahwa laki-laki di depannya bukan apa yang ia kira.
“Bagaimana kamu tahu?” tanyanya.
Aku melirik ke Tamara. Ia menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Tamara cerita,” kataku. “Bapak pernah cerita ke dia. Waktu dia sembilan tahun.”
Richard menoleh ke putrinya. Lama. Lalu ia berkata sesuatu dalam bahasa Inggris, sangat pelan, yang tidak kudengar. Tamara menggeleng. Ia menjawab dalam bahasa Inggris juga, satu kalimat pendek, dan suaranya pecah di ujung.
Richard mengambil serbet dari pangkuannya dan menekannya ke matanya. Sebentar. Lalu meletakkannya kembali.
Lalu ia memakan selat Solo itu. Semuanya. Dengan sendok, bukan dengan pisau dan garpu. Sampai saus terakhir di piring.
Di bawah meja chef’s table, aku tidak bisa melihat apa yang terjadi. Tapi waktu aku meletakkan hidangan kelima, aku melihat tangan kanan Tamara tidak ada di atas meja.
Tangan itu menjangkau ke bawah, ke arah lututku yang berdiri di sisi meja, di celah antara meja dapur dan kursinya. Jari-jarinya menemukan tanganku yang tergantung di sisi badan. Menggenggamnya. Sebentar. Keras.
Aku menatap ke bawah. Tamara tidak menatapku. Ia menatap lurus ke depan, ke ayahnya yang sedang bicara dengan Bu Ratih tentang daun salam. Wajahnya masih wajah CFO. Tapi jari-jarinya di tanganku gemetar.
Lalu ibu jarinya mengusap punggung tanganku. Sekali. Pelan. Bukan gemetar lagi.
Bangga.
Ia bangga.
Setelah dessert, Richard Morgan meminta waktu bicara denganku. Berdua.
Tamara menatap ayahnya dengan alis bertaut. “Father—”
“Lima menit, darling. Hanya lima menit.”
Kami berdiri di gang belakang restoran, di depan pintu hijau yang catnya mengelupas. Kucing oranye duduk di anak tangga, menatap Richard dengan pandangan yang sama ia pakai untuk Tamara di malam les pertama.
Richard mengeluarkan kotak rokok dari saku jasnya, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya kembali tanpa mengambil satu pun.
“Saya berhenti merokok dua puluh tahun lalu,” katanya. “Tapi saya masih bawa kotaknya. Kebiasaan.”
Aku tidak menjawab.
“Tamara tidak pernah memperkenalkan siapa pun kepada saya,” katanya, menatap kucing oranye. “Tidak sekali pun. Tiga puluh tahun.” Ia diam sebentar. “Saya pikir dia tidak punya siapa-siapa. Saya pikir dia seperti saya. Bekerja, bekerja, bekerja. Sendiri.”
“Dia memang begitu, Pak,” kataku. “Dulu.”
Richard menoleh padaku. Matanya hazel di bawah lampu gang yang redup.
“Apa niatmu?” tanyanya. Langsung. Tanpa basa-basi. Pertanyaan bankir.
Aku memikirkannya. Aku bisa bilang hal-hal yang sering dikatakan di film. Aku akan membahagiakan putri Bapak. Aku akan menjaganya. Aku serius.
Tapi aku memikirkan termometer di laci kamar mandinya, yang baru dipakai sekali dalam dua tahun. Aku memikirkan lapis legit yang jadi makan malamnya waktu demam tiga puluh sembilan koma empat. Aku memikirkan kalimatnya di malam itu, di bawah lampu tidur kuning: Aku selalu sakit sendirian.
“Saya mau dia nggak sakit sendirian lagi, Pak,” kataku.
Richard Morgan menatapku lama.
Ia tidak tersenyum. Ia tidak mengangguk. Ia hanya menatap, dengan mata yang sama dengan mata putrinya, dan aku tidak tahu apa yang ia pikirkan.
Lalu ia mengulurkan tangan.
Aku menatap tangan itu. Lalu aku menjabatnya. Genggamannya kuat, dingin, dan lebih lama dari yang kuperkirakan.
“Selat Solo itu,” katanya pelan, masih menggenggam tanganku, “lebih enak dari yang di Sriwedari.”
“Itu nggak mungkin, Pak. Itu resep mereka.”
“Saya tahu.” Ia melepaskan tanganku. “Tapi waktu itu saya makan dengan perempuan yang meninggalkan saya. Malam ini saya makan dengan putri yang saya tinggalkan.” Ia memasukkan tangan ke saku jas. “Rasanya berbeda.”
Ia berjalan kembali ke pintu hijau. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.
“Is this the best you can do, darling?” katanya, dengan nada yang tiba-tiba ringan. “Itu yang biasanya saya tanyakan ke Tamara. Tentang semua hal. Nilai ujian, pekerjaan, apartemen.”
Aku menunggu.
“Saya tidak akan menanyakannya malam ini,” kata Richard Morgan. “Karena jawabannya jelas sekali.”
Ia masuk.
Kucing oranye menatapku dari anak tangga. Aku menatapnya balik.
“Barusan itu bagus, kan?” tanyaku ke kucing itu.
Kucing itu menguap.
Tamara menungguku di parkiran setelah ayahnya pergi dengan mobil hotel.
Ia tidak bicara waktu aku datang. Ia hanya menarik kerah jas kokiku, menarikku ke balik mobil sedan hitamnya, di sudut parkiran yang paling gelap, dan menciumku.
Ciuman yang keras. Ciuman yang lapar. Ciuman yang rasanya seperti seseorang yang sudah menahan napas sepanjang malam dan baru saja diizinkan bernapas.
Punggungku menabrak pintu mobilnya. Tangannya di kerahku, lalu di leherku, lalu di rambutku. Aku memeluk pinggangnya dan mengangkatnya sedikit dari tanah, dan ia memekik pelan di bibirku, dan aku merasakan ia tersenyum di tengah ciuman itu.
Ketika ia akhirnya melepaskanku, napasnya berantakan. Lipstiknya yang berwarna anggur sudah tidak di bibirnya lagi.
“Selat Solo,” katanya, terengah. “Kamu bikin selat Solo.”
“Iya.”
“Kamu nggak bilang.”
“Kalau aku bilang, kamu bakal nyuruh aku jangan.”
“Aku pasti nyuruh kamu jangan.” Ia menyandarkan dahinya ke dahiku. “Dia nangis, Matahari. Ayahku nangis. Pakai serbet. Di depan Bu Ratih.”
“Aku lihat.”
“Aku nggak pernah lihat dia nangis. Bahkan waktu cerai. Bahkan waktu Eyang meninggal.” Suaranya bergetar. “Dia bilang ke aku, di meja tadi, dia bilang I’m sorry I wasn’t there. Dia nggak bilang buat apa. Dia nggak perlu bilang.”
Aku menggenggam wajahnya dengan dua tangan.
“Kamu tahu dia bilang apa ke aku di gang?” tanyaku.
Ia menggeleng.
“Dia bilang dia nggak akan nanya is this the best you can do,” kataku. “Karena jawabannya jelas sekali.”
Tamara menatapku. Lama. Matanya berkaca-kaca di bawah lampu parkiran yang redup.
Lalu ia tertawa. Tawa yang basah dan pecah dan sangat, sangat lega. Ia memelukku dengan dua lengan di leherku, kakinya terangkat dari tanah lagi karena aku memeluknya balik, dan ia tertawa ke bahuku sampai bahunya berguncang.
“Dia suka kamu,” katanya ke bahuku. “Ya Tuhan. Ayahku suka kamu.”
“Kucingnya nggak terlalu suka dia.”
“Kucingnya nggak suka siapa pun.” Ia mengangkat wajah dari bahuku dan menatapku dengan mata basah dan senyum yang sangat lebar. “Kucingnya cuma suka kamu.”
“Dan kamu.”
“Kucingnya menoleransi aku.”
Aku tertawa. Lalu aku menciumnya lagi, kali ini pelan, di parkiran gelap di samping sedan hitamnya, di bawah langit Senopati yang tidak punya bintang.
Di dalam restoran, aku tahu, Bu Ratih sedang menulis sesuatu di buku tamu. Dengan tinta emas.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London reading
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan