Chapter Thirty Four
Melepas
POV: Mona
Toko roti Laras ada di Ubud, di jalan kecil di belakang pasar, dan namanya Roti Gagal.
Aku menemukannya Sabtu pagi pukul enam, dengan secangkir kopi yang tidak kuminum dan laptop yang sudah menyala sejak jam empat. Aku tidak punya nomor teleponnya. Aku tidak pernah punya. Tujuh tahun lalu, aku datang ke kosnya di belakang hotel di Thamrin tanpa menelepon dulu, karena aku tahu alamatnya dari daftar karyawan yang tidak sengaja kulihat di meja HR waktu mengantar bekal Kakak.
Tujuh tahun kemudian, aku mencarinya dengan cara yang lebih sopan. Nama lengkapnya, yang kuingat dari tanda pengenal di seragam putihnya. Nama hotel di Bali tempat ia pindah. Kata kunci pastry chef. Lalu satu akun Instagram dengan foto profil perempuan berambut pendek yang tersenyum lebar di depan etalase roti, dengan seorang anak kecil di gendongannya.
Roti Gagal — Roti yang bentuknya nggak sempurna, rasanya jujur. Ubud, Bali.
Aku menatap nama itu lama.
Roti gagal. Roti yang tidak bisa dijual karena bentuknya tidak sempurna. Roti yang dulu, menurut Kakak, ia bawa setiap malam ke tangga darurat hotel di Thamrin. Kakak tidak pernah bercerita soal tangga darurat. Aku tahu dari Laras sendiri, tujuh tahun lalu, waktu aku duduk di kasur kosnya yang sempit dan ia bilang, dengan mata yang berbinar dan suara yang tidak tahu apa yang akan terjadi padanya: Kakakmu suka roti gagal. Katanya rasanya lebih jujur dari roti yang bagus.
Dan aku menatapnya dengan senyum sopan, dan berkata kalimat yang sudah kususun sepanjang perjalanan.
Mbak, kalau Mbak sama Kakak, Mbak harus siap jadi nomor dua selamanya. Karena nomor satu udah ada.
Aku tidak pernah memasukkan nama Laras ke daftar korban di kepalaku. Mbak Wulan dan tempe gorengnya. Siska di kafe. Guru les piano yang pindah ke Balikpapan. Semuanya masuk daftar. Laras tidak.
Karena Laras satu-satunya yang membuat Kakak berhenti makan bekalku selama seminggu.
Karena Laras satu-satunya yang membuatku takut.
Aku mengirim pesan langsung ke akun Instagram itu pukul enam lewat dua puluh.
Mbak Laras. Ini Mona. Adiknya Hari. Dari hotel di Thamrin, tujuh tahun lalu. Aku nggak tahu Mbak masih ingat aku atau nggak. Kalau Mbak nggak mau balas, aku ngerti. Tapi kalau Mbak mau, aku pengin minta maaf. Langsung. Lewat telepon. Kapan pun Mbak bisa.
Aku menatap pesan itu. Aku menghapus aku ngerti, lalu mengetiknya lagi. Aku menghapus langsung, lalu mengetiknya lagi.
Aku mengirimnya.
Lalu aku menutup laptop, berjalan ke dapur, dan mulai menyiapkan bekal, karena tanganku butuh melakukan sesuatu dan tidak ada yang lebih kukenal dari pisau dan wajan dan telur.
Dua kotak. Untuk Kakak dan untuk Bintang.
Aku mengiris cabai. Tanganku tidak gemetar.
Kakak keluar dari kamar pukul enam lewat empat puluh, dengan rambut berantakan dan mata yang masih setengah terpejam. Ia berhenti di ambang pintu dapur dan menatapku.
“Mon. Kamu nggak tidur.”
“Tidur.”
“Kamu pakai baju yang sama kayak semalam.”
Aku menatap bajuku. Ia benar.
“Aku ketiduran di laptop,” kataku.
Kakak menatapku lama. Ia tidak bertanya. Ia tidak pernah bertanya. Ia mengambil air dari kulkas, meminumnya, dan duduk di kursi di meja dapur, menatapku memasak.
Aku memecahkan telur ke mangkuk. Mengocoknya dengan garpu. Bukan whisk.
“Kak,” kataku tanpa menoleh.
“Hm.”
“Kakak inget Laras?”
Hening.
Hening yang sangat panjang. Aku mendengar kakakku meletakkan gelas air di meja dengan pelan. Aku mendengar ia menarik napas.
Aku tidak menoleh. Aku tidak berani menoleh.
“Ingat,” katanya.
“Kakak tahu,” kataku, masih mengocok telur yang sudah selesai dikocok. “Kakak tahu aku yang bikin dia pergi.”
Hening lagi.
“Tahu,” katanya.
Tanganku berhenti.
Aku sudah tahu jawabannya. Aku sudah menebaknya sejak malam di kafe dengan Antoine, sejak aku sadar kakakku menyimpan semua hal yang bisa menyakitiku. Tapi mendengarnya dari mulutnya, satu kata, datar, tenang, seperti dulu dan iya, membuat lututku lemas.
“Kenapa Kakak nggak pernah bilang?”
“Karena kamu benar.”
Aku menoleh. Kakak duduk di meja dapur dengan gelas air di depannya, menatapku dengan mata yang tenang dan lelah.
“Kamu bilang ke dia dia bakal jadi nomor dua,” katanya. “Kamu benar. Dia memang bakal jadi nomor dua. Kakak nggak bisa bikin dia nomor satu.” Ia menatap gelas air. “Kakak nggak marah sama kamu, Mon. Kakak marah sama Kakak.”
Aku menatapnya. Mataku panas.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku yang salah.”
“Kamu nggak salah.”
“Aku yang salah, Kak.” Suaraku pecah. Aku meletakkan mangkuk telur di meja. “Aku umur dua puluh tiga. Aku baru lulus. Aku baru dapat kerja. Aku takut. Aku takut Kakak pergi. Aku takut aku sendirian. Jadi aku datang ke kos dia, dan aku bilang hal yang paling jahat yang bisa aku bilang, dengan cara yang paling sopan.” Air mataku jatuh ke atas meja dapur, di sebelah mangkuk telur. “Dan Kakak nggak marah. Kakak nggak pernah marah. Kakak cuma makan rotinya, terus pulang, terus bilang udah, Mon waktu aku tanya Kakak udah makan.”
Kakak menatapku. Ia tidak bergerak.
“Aku mau telepon dia,” kataku. “Aku mau minta maaf.”
Kakak diam lama. Lalu ia berdiri, berjalan ke arahku, dan menyeka air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Kapalan di telunjuk. Bekas luka bakar di pangkal ibu jari.
“Oke,” katanya.
Hanya itu. Oke.
Lalu ia mengambil mangkuk telur dari meja, menyalakan kompor, dan mulai membuat telur dadar untuk bekal yang tadi kutinggalkan. Telur dadar yang tidak gosong. Telur dadar yang sempurna.
Aku menatap punggungnya. Bahunya yang lebar, yang mengangkat panci kaldu setiap hari. Yang menahan cutter di gang gelap.
Ia tidak pernah membuat bekalku. Delapan belas tahun, aku yang membuat bekalnya.
Pagi itu, ia membuat bekalku.
Laras membalas pukul sebelas siang.
Mona. Ya ampun. Aku inget banget. Aku lagi di toko, rame. Jam 3 sore aku bisa. Telepon ya.
Aku meneleponnya pukul tiga tepat, dari rooftop gedung kantor, karena itu satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu khawatir ada yang mendengar. Hari Sabtu. Gedung hampir kosong. Lampu indikator pintu rooftop pasti menyala di dasbor keamanan, tapi aku tidak peduli.
Laras mengangkat di dering ketiga.
“Mona?”
Suaranya masih sama. Keras, ceria, sedikit serak. Di latar belakang, bunyi oven, bunyi lonceng pintu toko, dan suara anak kecil yang berteriak Mama!
“Mbak Laras.”
“Ya ampun, Mona. Tujuh tahun. Kamu sekarang kerja di mana? Kakakmu gimana? Masih masak?”
Aku menatap gedung-gedung Kuningan di bawahku. Aku sudah menyusun kalimat permintaan maaf sejak semalam. Tiga paragraf. Dengan struktur. Dengan pengakuan, penjelasan, dan permohonan.
Aku tidak mengucapkan satu pun.
“Mbak,” kataku. “Maaf.”
Hening di ujung telepon. Hanya bunyi oven.
“Maaf,” ulangku. “Tujuh tahun lalu. Aku datang ke kos Mbak. Aku bilang Mbak bakal jadi nomor dua. Aku bilang itu bukan karena itu benar. Aku bilang itu karena aku takut. Aku takut Kakak pergi sama Mbak, dan aku sendirian.” Suaraku bergetar. “Itu jahat. Itu sangat jahat. Dan aku nggak pernah minta maaf.”
Hening yang panjang.
Lalu Laras tertawa.
Bukan tawa yang menghina. Tawa yang lembut, sedikit sedih, seperti tawa orang yang mendengar cerita lama tentang dirinya yang sudah lama tidak ia pikirkan.
“Mona,” katanya. “Kamu tahu nggak, aku udah lama maafin kamu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku marah waktu itu. Marah banget. Aku nangis tiga hari di kos. Aku pindah ke Bali karena aku nggak sanggup lihat kakakmu tiap hari di dapur.” Laras diam sebentar. Di latar belakang, anak kecil itu berteriak lagi, dan Laras menjawab sesuatu dengan bahasa Bali yang tidak kumengerti. “Tapi di Bali aku ketemu suamiku. Dia petani kopi. Dia makan roti gagalku tiap pagi dan bilang itu roti terenak yang pernah dia makan. Aku buka toko ini empat tahun lalu. Aku punya anak umur tiga tahun yang suka nyolong adonan.”
Aku tertawa. Basah. Tanpa suara.
“Aku bahagia, Mon,” kata Laras. “Bahagia banget. Jadi kamu nggak usah ngerasa bersalah lagi, ya.”
“Tapi Mbak—”
“Tapi,” potong Laras, dengan suara yang tiba-tiba lebih pelan. “Tapi aku mau bilang satu hal. Boleh?”
“Boleh, Mbak.”
Laras diam sebentar. Aku mendengar bunyi pintu ditutup. Bunyi toko meredam. Ia pindah ke ruangan lain.
“Waktu itu, kamu bilang kamu jaga kakakmu dari perempuan,” kata Laras. “Dari aku. Dari semua orang yang mau deket sama dia.”
“Iya.”
“Mona.” Suaranya lembut. “Kakakmu nggak pernah butuh dijaga dari perempuan.”
Aku menatap ke bawah, ke jalan Rasuna Said yang sepi di hari Sabtu.
“Kakakmu butuh dijaga dari dirinya sendiri,” kata Laras. “Dari kebiasaannya ngasih semua yang dia punya sampai nggak ada yang tersisa buat dia. Dari kebiasaannya bilang udah waktu ditanya udah makan, padahal belum. Dari kebiasaannya nggak pernah bilang aku mau.” Ia menarik napas. “Aku lihat itu waktu di tangga darurat. Dia makan roti gagalku kayak orang yang nggak pernah dikasih apa-apa. Dia nggak pernah minta apa-apa. Nggak pernah. Satu kali pun.”
Aku memejamkan mata.
“Itu yang harusnya kamu jaga, Mon,” kata Laras pelan. “Bukan pintunya. Tapi orangnya. Dari dalam.”
Bintang menemukanku di rooftop pukul empat lewat lima belas.
Ia tidak membawa kopi. Ia membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti dari minimarket di lantai dasar. Roti sobek rasa cokelat. Bentuknya tidak sempurna, sobekannya miring.
Ia duduk di sebelahku di tepi semen. Ia menyodorkan roti itu.
Aku menatap roti itu. Lalu aku tertawa. Tertawa sampai aku harus menunduk dan menutup mulutku dengan tangan.
“Kenapa?” tanyanya.
“Rotinya gagal.”
Bintang menatap roti di tangannya. “Sobekannya miring. Itu cacat produksi. Aku bisa tuker.”
“Jangan.” Aku mengambil roti itu dari tangannya. “Roti gagal itu rasanya lebih jujur.”
Ia menatapku dengan alis bertaut, bingung. Aku tidak menjelaskan. Aku menyobek roti itu jadi dua dan memberikan setengahnya padanya.
Kami makan dalam diam. Langit Jakarta sore itu jingga dan bersih, karena hujan semalam membawa polusi turun ke tanah. Angin bertiup pelan.
“Aku telepon Laras,” kataku.
Bintang tidak bertanya siapa Laras. Ia hanya mengangguk.
“Dia maafin aku. Udah lama. Dia bahagia. Dia punya toko roti di Ubud dan anak yang suka nyolong adonan.” Aku menatap roti di tanganku. “Dia bilang Kakak nggak butuh dijaga dari perempuan. Kakak butuh dijaga dari dirinya sendiri.”
Bintang mengunyah perlahan. Ia menelan. “Itu benar.”
“Aku tahu itu benar.” Aku menatap gedung-gedung di bawah. Di arah tenggara, jauh di balik gedung-gedung itu, Senopati. Pintu hijau yang catnya mengelupas. Dandang tembaga di kompor paling belakang. “Aku cuma nggak tahu caranya.”
Hening.
“Aku ngabisin hidupku mastiin dia nggak pergi,” kataku. Suaraku pelan. “Dua puluh satu tahun. Sejak Ibu meninggal. Aku pikir kalau aku jaga pintunya, kalau aku usir semua orang yang mungkin bawa dia pergi, dia bakal tetap di sini. Sama aku.”
“Dan dia tetap di sini,” kata Bintang.
“Dia tetap di sini,” ulangku. “Dua kali dia nolak Lyon. Dua kali karena aku. Dia putus sama Tamara karena aku. Dia tidur empat jam sehari dan masak garang asem tiap malam terus dibuang, karena aku.”
Bintang tidak menjawab.
“Aku menang, Bintang.” Aku tertawa. Tawa yang basah dan pahit. “Aku menang semuanya. Dia nggak pernah pergi. Persis kayak yang aku mau.”
Air mataku jatuh ke roti di tanganku.
“Dan aku nggak pernah ngerasa sekalah ini.”
Bintang meletakkan rotinya di semen. Ia menoleh padaku. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya menatapku, dengan mata cokelat tua yang ada bintik-bintik terangnya, seperti kopi yang diaduk dengan sedikit susu.
“Mona,” katanya.
“Hm.”
“Dia nggak akan pergi.”
Aku menatapnya.
“Dia nggak akan pergi,” ulang Bintang, pelan, jelas. “Dia nggak akan pernah pergi dari kamu. Bahkan kalau dia ke Lyon. Bahkan kalau dia ke bulan.” Ia diam sebentar. “Dia kakakmu. Dia udah berdarah buat kamu. Orang kayak gitu nggak pergi. Orang kayak gitu cuma pindah tempat berdiri.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kamu yang harus ngelepas,” kata Bintang. “Bukan dia. Dia nggak bisa ngelepas kamu. Tangannya nggak tahu caranya. Kamu sendiri yang bilang.”
“Aku juga nggak tahu caranya.”
“Aku tahu.” Bintang mengambil rotinya lagi dan menatapnya. “Tapi kamu Head of Operations. Kamu bikin SOP buat tiga ratus dua puluh pekerja per shift di gudang Sidoarjo. Kamu bikin Syarat dan Ketentuan dua belas pasal dalam satu malam.” Ia menyobek sedikit roti dan memakannya. “Kamu pasti bisa bikin rencana buat ngelepas.”
Aku menatapnya.
Lalu aku tertawa. Tawa yang masih basah, tapi tidak lagi pahit.
“Rencana Darurat Nomor Lima,” kataku.
“Nomor empat ke mana?”
“Rapat mingguan jam delapan malam. Gagal total.”
Bintang tersenyum. Sedikit. Di sudut bibirnya. Senyum yang jarang, yang hampir tidak terlihat, yang sekarang aku tahu cara menemukannya.
“Aku ingat,” katanya. “Aku nulis kreatif di kolom komentar.”
Bintang mengantarku pulang dengan Prod-1 pukul tujuh malam. Di dalam mobil, ia tidak menyalakan radio. Ia tidak bicara. Ia hanya menyetir dengan tenang, dan sesekali, di lampu merah, ia menoleh padaku sebentar, lalu kembali ke jalan.
Di depan lobi apartemen, ia mematikan mesin.
Aku tidak langsung keluar.
“Bintang.”
“Hm.”
“Kamu bilang kamu nggak mau jadi orang kedua yang aku jaga.”
Ia diam. “Iya.”
“Kamu bilang kamu mau jadi orang pertama yang jaga aku. Dan itu baru bisa terjadi kalau aku udah selesai.”
“Iya.”
Aku menatapnya. Lampu lobi membuat bayangan kacamatanya jatuh di pipinya.
“Aku belum selesai,” kataku. “Tapi aku mau mulai.”
Bintang menatapku lama. Lalu ia mengangguk, sekali, perlahan.
“Aku tunggu,” katanya.
Kalimat yang sama yang Tamara ucapkan, di meja dapur kami, waktu aku bilang belum soal resep bekal.
Aku tunggu.
Aku keluar dari mobil. Aku tidak menoleh ke belakang. Tapi aku mendengar mesin Prod-1 tidak menyala sampai aku masuk ke lift.
Malam itu, aku duduk di kasurku dengan laptop di pangkuan.
Aku membuka aplikasi catatan. Aku menggulir ke bawah, melewati daftar belanja dan catatan rapat dan draf email yang tidak pernah kukirim. Sampai aku menemukan judul yang kutulis berbulan-bulan lalu, di malam setelah aku menemukan kartu nama di saku apron Kakak.
Rencana Darurat Nomor Tiga.
Halamannya kosong. Kata Inspeksi sudah kuhapus lama.
Aku menatap halaman kosong itu.
Lalu aku menghapus judulnya, dan mengetik judul baru.
Rencana Darurat Nomor Lima: Melepas.
Aku menatap judul itu lama. Kursor berkedip di bawahnya.
Lalu aku mulai mengetik.
Bukan dua belas pasal. Bukan tiga lampiran. Bukan kolom tanda tangan.
Satu baris.
1. Bawa Kakak pulang ke Tebet.
Aku menatap baris itu. Lalu aku menutup laptop, mengambil ponselku, dan mengetik pesan ke kontak yang namanya kutulis dengan emoji matahari bertahun-tahun lalu, waktu aku baru belajar pakai ponsel pintar dan Kakak bilang ngapain pakai gambar-gambar.
Kak. Minggu malam. Restoran tutup jam sembilan kan? Abis itu kita ke Tebet. Kontrakan lama. Aku udah izin sama Pak Haji yang punya.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku menambahkan satu baris.
Aku bawa mi rebus.
Aku mengirimnya.
Dua centang abu-abu. Lalu dua centang biru. Dibaca.
Lalu tanda mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul. Lama sekali.
Lalu:
Satu mangkuk, dua sendok?
Aku menatap pesan itu. Mataku panas.
Aku mengetik: Satu mangkuk, dua sendok.
Di luar jendela kamarku, di atas Kalibata, bulan hampir penuh. Bersih. Tidak tertutup polusi.
Dan di sebelahnya, satu titik cahaya kecil.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas reading
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan