Chapter Twenty Two
Dinas Surabaya
POV: Tamara
“Bu, saya minta maaf duluan.”
Sasha mengatakannya di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta pukul lima lewat empat puluh pagi, sambil menyerahkan boarding pass, dengan wajah orang yang sedang menyerahkan surat pengunduran diri.
“Minta maaf kenapa?”
“Hotelnya, Bu.”
“Kenapa hotelnya?”
“Di Surabaya minggu ini ada konferensi nasional dokter gigi, Bu. Lima ribu peserta. Semua hotel bintang lima penuh.” Sasha menelan. “Saya cuma dapat satu kamar. Twin bed. Untuk Ibu dan Bu Mona.”
Aku menatapnya.
Di kursi sebelahku, Mona yang sedang membaca laporan gudang di tablet, berhenti menggulir layar.
“Satu kamar,” ulangku.
“Twin bed, Bu. Kasurnya dua. Terpisah. Ada meja kecil di tengah.” Sasha mengangkat tangannya, membuat jarak sekitar empat puluh sentimeter di udara. “Segini, Bu.”
“Kamu sudah cek hotel bintang empat?”
“Penuh, Bu.”
“Bintang tiga?”
“Penuh, Bu. Dokter gigi itu banyak sekali, Bu. Saya nggak tahu Indonesia punya dokter gigi sebanyak itu.”
Mona meletakkan tabletnya di pangkuan. Ia menatap lurus ke depan, ke kaca besar yang menghadap landasan pacu, di mana pesawat-pesawat berdiri seperti burung yang belum bangun.
“Nggak apa-apa,” katanya dengan suara yang sangat datar. “Dua malam.”
“Dua malam,” ulangku.
“Twin bed.”
“Twin bed.”
Kami saling menatap. Sasha menatap kami bergantian dengan ekspresi orang yang menonton dua kucing di atas pagar yang sama.
“Bu,” katanya pelan, “saya boleh pulang sekarang?”
Gudang Blin di Sidoarjo adalah gudang terbesar kedua kami setelah Cikarang. Delapan belas ribu meter persegi, rak setinggi sembilan meter, tiga ratus dua puluh pekerja per shift, dan sistem pengambilan barang yang menurut audit internal bulan lalu punya tingkat kesalahan empat koma dua persen. Dua kali lipat standar.
Kami di sini untuk mencari tahu kenapa, sebelum musim belanja akhir tahun membuat angka itu meledak.
Dan aku, dalam tiga jam pertama, belajar bahwa Mona Rembulan Wirasena di gudang adalah orang yang sama sekali berbeda dari Mona di ruang rapat.
Di ruang rapat, Mona tajam, rapi, dan dingin. Di gudang, Mona hidup.
Ia berjalan di antara rak-rak dengan sepatu kets yang ia ganti dari hak tujuh senti di mobil, rambut diikat tinggi, rompi keselamatan oranye di atas kemeja putihnya. Ia menyapa kepala shift dengan nama. Ia menyapa operator forklift dengan nama. Ia tahu nama anak salah satu petugas pengemasan yang baru masuk SD. Ia naik ke tangga rak setinggi tiga meter untuk memeriksa sendiri label di kotak paling atas, dan waktu kepala gudang bilang Bu, biar saya, ia sudah turun dengan label di tangannya dan berkata, Ini masalahnya. Labelnya dicetak dengan font delapan. Operator yang matanya minus nggak bisa baca dari bawah.
Kepala gudang menatap label itu. Lalu menatap Mona. Lalu menatap label itu lagi.
“Ya Allah, Bu,” katanya. “Tiga bulan kami cari penyebabnya.”
“Ganti ke font empat belas. Tebal. Kontras tinggi. Dan periksa mata operator. Perusahaan yang bayar kacamatanya.”
Aku berdiri di bawah, di lorong antara rak, memegang tablet yang berisi angka-angka yang sudah tidak kubutuhkan lagi, karena Mona baru saja memecahkan masalah yang membuat tim analisku pusing selama sebulan, hanya dengan memanjat tangga.
Ia turun dan menepuk debu di rompinya. Pipinya merah karena panas gudang. Beberapa helai rambut lepas dari ikatannya dan menempel di dahinya yang berkeringat. Ia tidak memakai riasan apa pun selain lipstik nude yang sudah hampir hilang.
Ia cantik. Cantik dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan cermin. Cantik seperti orang yang sedang melakukan hal yang paling ia kuasai di dunia.
“Kenapa?” tanyanya, melihatku menatap.
“Nggak apa-apa.”
“Ibu ngelihatin saya kayak ngelihatin laporan keuangan.”
“Kamu,” kataku jujur, “lebih menarik dari laporan keuangan.”
Ia berkedip. Lalu matanya menyipit, curiga. “Itu pujian atau sindiran?”
“Itu pujian. Aku nggak pernah bilang apa pun lebih menarik dari laporan keuangan.”
“Bahkan Kakak?”
“Kakakmu bukan apa pun. Kakakmu kategori sendiri.”
Mona menatapku lama. Lalu ia mendengus, dan berbalik, dan berjalan ke lorong berikutnya. Tapi aku melihat sudut bibirnya. Naik sedikit.
Kami bertengkar pukul tiga sore.
Bukan soal Matahari. Soal rute pengiriman.
Mona ingin menambah dua armada truk untuk rute Surabaya–Malang selama musim belanja. Aku ingin memakai kurir mitra lokal dengan sistem bagi hasil, karena menambah armada berarti biaya tetap yang akan menggantung di neraca setelah musim belanja selesai.
“Kurir mitra nggak bisa diandalkan di musim puncak,” kata Mona, berdiri di depan papan tulis putih di kantor gudang, spidol di tangan. “Tahun lalu tiga kurir mitra mogok di minggu kedua Desember. Delapan ribu paket telat.”
“Tahun lalu kontraknya buruk. Nggak ada penalti, nggak ada insentif. Aku sudah revisi templatenya.”
“Kontrak nggak bikin motor kurir lebih cepat, Bu.”
“Kontrak bikin kurir mau pakai motornya. Itu beda.”
“Dua truk itu cuma tiga ratus juta sebulan.”
“Tiga ratus juta sebulan, kali dua belas bulan, karena kontrak sewa armada minimum setahun. Tiga koma enam miliar untuk masalah yang cuma ada enam minggu.”
“Kita bisa pakai truknya setelah musim belanja buat rute lain.”
“Rute lain mana? Kasih aku datanya.”
Mona membuka mulut. Menutupnya. Lalu ia membalik halaman di tabletnya dengan gerakan yang terlalu cepat, mencari data, dan aku melihat rahangnya mengeras.
Kepala gudang dan dua staf administrasi menatap kami dari pojok ruangan seperti penonton pertandingan tinju.
Kami berdebat empat puluh menit. Ia menggambar diagram di papan tulis. Aku mencoretnya dengan spidol merah. Ia menggambar diagram baru. Aku mengajukan tiga pertanyaan yang membuatnya harus menelepon tim analisnya di Jakarta. Ia menelepon, mendapat data, dan menghantamku balik dengan angka yang membuatku harus duduk dan menghitung ulang di kalkulator ponselku.
Akhirnya, kami sepakat: satu truk tambahan dengan kontrak enam bulan, ditambah kurir mitra dengan kontrak baru yang ada penalti dan insentif.
Kami keluar dari kantor gudang dengan wajah sama-sama lelah dan sama-sama puas, seperti dua petinju yang baru selesai dua belas ronde dan sama-sama masih berdiri.
Di parkiran, Mona menyerahkan sebotol air mineral padaku tanpa bicara. Aku menerimanya. Kami minum dalam diam, bersandar di mobil sewaan, di bawah matahari Sidoarjo yang menyengat.
“Bu,” katanya akhirnya.
“Tamara.”
“Tamara.” Ia menyesap airnya. “Kamu pernah kalah debat?”
“Pernah. Tadi.”
Ia menoleh. “Kamu nggak kalah. Kita kompromi.”
“Aku mau dua kurir mitra dan nol truk. Aku dapat satu truk. Aku kalah satu truk.”
Mona menatapku. Lalu, perlahan, ia tersenyum. Lesung di pipi kirinya muncul, sebentar, sebelum ia menyembunyikannya dengan meminum air.
“Kakak bilang kamu nggak suka kalah.”
“Kakakmu benar.”
“Tapi kamu nggak kelihatan kesal.”
Aku memikirkannya. “Karena aku kalah ke orang yang benar,” kataku. “Itu beda.”
Kamar hotelnya di lantai sebelas, dengan jendela yang menghadap ke Jalan Tunjungan. Dua kasur, persis seperti kata Sasha. Meja kecil di tengah, persis empat puluh sentimeter. Satu televisi, satu meja kerja, satu kamar mandi.
Kami tidak membicarakan pembagian kasur. Mona langsung mengambil kasur dekat jendela. Aku mengambil kasur dekat pintu. Kami mandi bergantian. Kami memesan makanan dari layanan kamar, karena kami terlalu lelah untuk keluar. Nasi goreng untuk Mona, sup ayam untukku.
Pukul sembilan malam, ponselku berdering. Panggilan video.
☀️ Matahari
Aku melirik ke kasur sebelah. Mona sedang berbaring dengan laptop di perutnya, membalas email. Ia tidak melihat ke arahku. Tapi aku tahu ia mendengar.
Aku mengangkat telepon itu.
Wajahnya muncul di layar. Ia di dapur restoran. Lampu kuning, panci-panci tergantung di belakangnya, jas koki putih. Ia sedang istirahat di sela servis, aku tahu dari wajahnya yang berkeringat.
“Hai,” katanya.
“Hai.”
“Kamu udah makan?”
“Udah. Sup ayam layanan kamar.”
“Enak?”
“Nggak seenak bubur kamu.”
Ia tersenyum. Di layar ponsel yang kecil, senyumnya masih membuat perutku jungkir balik.
“Kamu capek,” katanya.
“Aku debat empat puluh menit sama adikmu.”
“Siapa yang menang?”
“Adikmu.”
Ia tertawa. Di kasur sebelah, Mona berhenti mengetik.
“Kamu kangen aku?” tanyaku. Aku berbaring miring, ponsel di depan wajah, dengan suara yang aku tahu sudah turun satu oktaf dari suara CFO.
“Kamu baru pergi pagi tadi.”
“Itu bukan jawaban.”
Ia diam sebentar. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke kamera, sampai yang kulihat di layar hanya matanya dan hidungnya dan sebagian bibirnya. Suaranya merendah, seperti berbisik ke telingaku.
“Aku kangen,” katanya. “Aku kangen kamu duduk di kursi nomor satu. Aku kangen kamu jilat sambal dari sendok sambil ngelihatin aku. Aku kangen kamu nggak bisa konsentrasi motong bawang.”
Aku memejamkan mata sebentar. “Matahari.”
“Hm?”
“Kamu ngomong kayak gitu waktu aku jauh. Itu nggak adil.”
“Kenapa nggak adil?”
“Karena aku nggak bisa ngapa-ngapain.”
“Kamu mau ngapain?”
Aku membuka mata dan menatap layar. Wajahnya masih dekat dengan kamera. Matanya hitam dan dalam dan sangat, sangat sadar apa yang baru saja ia tanyakan.
Aku menurunkan suaraku lebih rendah lagi. “Kamu mau aku jawab jujur?”
“PASAL SEPULUH.”
Suara itu datang dari kasur sebelah, teredam bantal.
Aku menoleh. Mona sudah meletakkan laptopnya, berbaring telungkup, dan menekan bantal ke atas kepalanya dengan dua tangan.
“Pasal Sepuluh berlaku untuk video call!” katanya dari balik bantal. “Aku di sini! Aku dengar semuanya! Kakak, jilat sambal dari sendok? Itu apa?”
Di layar ponselku, Matahari menutup wajahnya dengan satu tangan.
“Mon,” katanya, “kamu satu kamar sama dia?”
“Twin bed, Kak! Dokter gigi lima ribu! Dan sekarang aku harus dengar Kakak bilang kangen kamu nggak bisa konsentrasi motong bawang! Aku nggak pernah tahu Kakak bisa ngomong kayak gitu! Aku nggak mau tahu Kakak bisa ngomong kayak gitu!”
Aku tertawa. Aku tidak bisa berhenti. Aku tertawa sampai ponselku hampir jatuh, sampai Matahari di layar juga tertawa, sampai Mona akhirnya mengangkat bantal dari kepalanya dan melemparnya ke arahku.
Bantal itu mendarat tepat di wajahku.
“Kak,” kata Mona, merebut ponselku dari tanganku dan menatap kakaknya di layar dengan wajah yang sangat serius, “aku sayang Kakak, tapi Kakak harus tutup telepon sekarang.”
“Mon—”
“Selamat malam, Kakak.”
Ia menekan tombol merah. Layar mati. Ia menyerahkan ponselku kembali dengan wajah datar.
“Pasal Sepuluh,” katanya.
“Dicoret.”
“Diupayakan.”
“Aku sudah upayakan. Aku angkat teleponnya pelan-pelan.”
Mona menatapku. Lalu ia menjatuhkan diri kembali ke kasurnya, menatap langit-langit, dan tertawa. Tawa yang lepas, yang keluar dari perut, yang membuat lesung di pipinya muncul dan tidak disembunyikan.
Lampu kamar mati pukul sebelas.
Kami berbaring di kasur masing-masing dalam gelap. Hanya cahaya dari jalan Tunjungan yang masuk lewat celah tirai, membuat garis-garis kuning di langit-langit.
Aku tidak bisa tidur. Aku mendengar dari napas Mona bahwa ia juga tidak bisa tidur.
“Tamara,” katanya dalam gelap.
“Hm.”
“Kamu pernah tanya soal luka di tangan Kakak?”
Aku diam. “Pernah. Malam kedua di restoran.”
“Dia jawab apa?”
“Dulu.”
Mona tertawa kecil, tanpa suara. “Itu Kakak banget.”
Hening lagi. Aku mendengar bunyi selimut yang bergeser. Mona berbaring miring, menghadap ke arahku, ke kasurku, melintasi jarak empat puluh sentimeter di atas meja kecil.
“Aku umur delapan belas,” katanya. Suaranya pelan, sangat pelan, seperti takut kata-katanya pecah kalau diucapkan terlalu keras. “Kelas tiga SMA. Aku pulang les jam sembilan malam. Kontrakan kami di gang sempit di Tebet. Lampu gang mati. Udah seminggu mati, dan nggak ada yang benerin.”
Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak.
“Ada laki-laki di mulut gang. Mabuk. Aku kenal mukanya. Dia sering nongkrong di warung di ujung jalan. Dia sering lihatin aku kalau aku lewat.” Napas Mona sedikit bergetar. “Malam itu dia nggak cuma lihatin. Dia tarik lengan seragamku.”
Aku menutup mataku dalam gelap.
“Aku teriak. Aku nggak tahu aku teriak apa. Mungkin Kakak. Aku selalu teriak Kakak kalau takut, dari kecil.” Ia berhenti. “Kakak baru pulang kerja. Dia di ujung gang. Dia lari.”
Hening yang panjang.
“Laki-laki itu punya cutter,” lanjut Mona. “Aku nggak lihat cutter-nya sampai Kakak udah di depanku. Kakak nggak mundur. Kakak berdiri di depanku, tangan direntangin kayak tembok, dan laki-laki itu ayunkan cutter-nya, dan Kakak tahan pakai lengan kirinya.”
Suaranya pecah di kata lengan.
“Darahnya banyak banget, Tamara. Netes ke rok abu-abuku. Aku masih ingat rasanya. Hangat. Terlalu banyak.” Ia menarik napas yang gemetar. “Dan Kakak nggak nangis. Kakak nggak teriak. Kakak cuma bilang, Udah, Mon. Udah. Kakak di sini. Sambil darahnya netes. Sambil tetap berdiri di depanku.”
Aku tidak sadar aku sudah menangis sampai aku merasakan bantalku basah.
“Tetangga datang. Laki-laki itu lari. Kakak dijahit di puskesmas. Empat belas jahitan. Dia masuk kerja besoknya. Lengannya diperban, dan dia tetap masuk kerja, karena aku butuh uang buat beli buku persiapan ujian masuk kuliah.” Mona tertawa, tawa basah yang pecah. “Dan sejak malam itu, aku janji sama diriku sendiri. Kakak udah berdarah buat aku. Jadi aku yang jagain dia. Dari apa pun. Dari siapa pun.”
Ia berhenti.
“Termasuk dari perempuan,” tambahnya, sangat pelan. “Aku pikir kalau ada perempuan yang dateng, dia bakal pergi. Ninggalin aku. Kayak Ibu. Kayak Bapak. Jadi aku usir semua. Sebelum mereka sempat ngambil dia.”
Hening.
Hanya bunyi napas kami berdua, yang sama-sama berantakan, dan klakson samar dari Jalan Tunjungan.
“Kecuali kamu,” kata Mona. “Aku nggak bisa ngusir kamu. Kamu atasanku. Kamu nggak takut sama aku. Kamu nawar kontrakku pakai pulpen merah.” Ia tertawa lagi. “Dan kamu bikin Kakak senyum ke ponsel. Aku nggak pernah bikin Kakak senyum ke ponsel.”
Aku bangun.
Aku tidak memikirkannya. Aku menyibakkan selimutku, menyeberangi empat puluh sentimeter di atas meja kecil itu, dan naik ke kasur Mona. Mona tersentak sedikit karena kaget. Aku tidak peduli. Aku berbaring di sebelahnya, di kasur twin yang terlalu sempit untuk dua orang dewasa, dan memeluknya.
Mona kaku di pelukanku. Seluruh tubuhnya tegang, seperti kucing yang tidak biasa digendong.
Lalu, perlahan, ia melunak.
“Terima kasih,” bisikku di rambutnya.
“Buat apa?”
“Sudah menjaga dia selama ini.” Aku memeluknya lebih erat. “Selama sebelas tahun. Selama dua puluh satu tahun. Sampai dia sempat ketemu aku.”
Mona tidak menjawab. Aku merasakan bahunya bergetar. Pelan. Lalu lebih keras.
Mona Rembulan Wirasena, Head of Operations Blin, perempuan yang membuat vendor Cikarang minta maaf tiga kali dalam satu telepon dan memanjat tangga rak setinggi tiga meter dengan sepatu kets, menangis di pelukanku di kasur twin hotel di Surabaya.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya memeluknya, seperti Eyang dulu memelukku waktu aku demam.
Lama kemudian, ketika tangisnya sudah reda dan napasnya mulai tenang, ia berkata dengan suara serak:
“Kamu tahu nggak.”
“Hm?”
“Kamu cantik banget kalau nggak lagi ngancam orang.”
Aku tertawa. Basah, dalam gelap. “Aku nggak pernah ngancam orang.”
“Kamu bilang ke Head of Marketing sinergi itu penyakit.”
“Itu bukan ancaman. Itu diagnosis.”
Mona tertawa kecil di pelukanku. Lalu, setelah jeda:
“Dan kamu,” kataku, “cantik banget kalau nggak lagi ngerjain spreadsheet.”
“Aku nggak ngerjain spreadsheet.”
“Kamu selalu ngerjain spreadsheet. Bahkan waktu tidur, kayaknya.”
“Itu namanya perencanaan.”
“Itu namanya penyakit.”
Ia tertawa lagi. Lebih keras. Aku merasakan tubuhnya bergetar dengan tawa di pelukanku, dan aku tersenyum ke rambutnya dalam gelap.
“Tamara.”
“Hm?”
“Jangan bilang Kakak aku nangis.”
“Pasal berapa?”
Ia berpikir. “Pasal Enam Belas.”
“Kita punya berapa pasal sekarang?”
“Nggak tahu. Aku udah nggak hitung.” Ia menguap. “Nanti aku bikin versi dua koma nol.”
Lima menit kemudian, napasnya teratur. Ia tertidur di pelukanku, di kasur yang terlalu sempit, dengan rambutnya yang wangi sampo hotel menutupi separuh wajahku.
Aku tidak kembali ke kasurku sendiri.
Aku berbaring di sana, menatap garis-garis kuning di langit-langit, mendengarkan napas adik dari laki-laki yang kucintai, dan memikirkan seorang laki-laki di gang gelap, umur dua puluh, dengan tangan terentang seperti tembok.
Aku mengerti sekarang kenapa ia berkata dulu.
Bukan karena ceritanya terlalu menyakitkan untuk diceritakan.
Karena cerita itu bukan miliknya. Itu milik Mona.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya reading
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan