← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Thirty Two

Dapur Paling Sepi

POV: Hari

Aku bekerja enam belas jam sehari selama sebelas hari.

Itu bukan rekor. Waktu umur tujuh belas, di warung Pak Darto, aku pernah bekerja delapan belas jam sehari selama sebulan penuh, karena Mona butuh seragam baru dan sepatu baru dan uang buku untuk kelas satu SMP. Waktu umur dua puluh, dengan lengan yang masih diperban, aku bekerja di dua tempat sekaligus selama tiga minggu. Enam belas jam bukan apa-apa.

Tapi waktu itu, aku tahu untuk apa aku bekerja.

Sekarang, aku tidak tahu.

Aku datang ke Sekar Kedhaton pukul lima pagi. Sebelum Dimas, sebelum Bu Ratih, sebelum kucing oranye bangun dari tidurnya di bawah tangga gang. Aku membuka pintu hijau dalam gelap. Aku menyalakan kompor. Aku memecahkan kluwek, merebus kaldu, mengulek bumbu. Aku membersihkan lemari pendingin yang sudah bersih. Aku mengasah semua pisau di dapur, satu per satu, termasuk pisau yang tidak pernah dipakai.

Pisau dari Mona, dengan ukiran Untuk Matahari, dari Bulan, aku asah setiap pagi. Aku belum memakainya untuk memotong apa pun. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena setiap kali aku memegangnya, aku teringat balkon lantai tiga puluh dua.

Aku pulang pukul sebelas malam. Kadang tengah malam. Aku tidur empat jam. Kadang tiga.

Dan setiap malam, pukul tujuh, aku memasak garang asem.

Bukan untuk menu. Garang asem tidak ada di menu Sekar Kedhaton. Aku memasaknya di kompor paling belakang, di dandang tembaga Bu Ratih yang tidak pernah ia minta kembali. Gula jawa. Daun salam lima lembar. Kluwek seujung sendok. Empat puluh menit.

Aku membuat dua pincuk. Aku menyimpannya di dandang, di atas api terkecil, supaya tetap hangat.

Dan setiap malam, pukul sebelas, aku membuangnya.


Dimas tidak bercanda lagi.

Itu yang paling terasa. Lebih dari kursi nomor satu yang kosong. Lebih dari pincuk garang asem di tempat sampah. Dimas, yang selalu punya komentar, yang selalu jatuhin sendok sayur, yang selalu bilang arsip, Chef dan memotret apa pun yang menurutnya bersejarah, tidak bercanda lagi.

Ia datang pukul enam pagi, satu jam setelahku, dan bekerja tanpa bicara. Ia memotong bawang. Ia menjaga kaldu. Ia mengepel lantai. Ia tidak memotret apa pun.

Di hari keenam, aku memperhatikan ia tidak lagi memakai plester bergambar kucing di jarinya, padahal ada luka gores baru di ibu jarinya. Ia memakai plester biasa. Warna cokelat. Polos.

“Dim.”

“Ya, Chef.”

“Plester kucingnya habis?”

Ia menatap ibu jarinya. “Nggak, Chef. Masih ada sekotak.”

“Terus kenapa nggak dipakai?”

Dimas diam lama. Lalu ia menunduk ke talenan.

“Plester kucing itu Bu Tamara yang beliin, Chef,” katanya pelan. “Waktu dia nyari tiga apotek di Kuningan, dia beli dua kotak. Satu buat dia, satu dititipin ke saya. Katanya biar kamu nggak kehabisan, Dim, kamu sering kena pisau.” Ia menekan pisau ke bawang lebih keras dari yang perlu. “Saya nggak tega pakai sekarang, Chef. Rasanya kayak... kayak nggak sopan.”

Aku menatapnya.

Aku tidak tahu soal kotak kedua. Tamara tidak pernah bilang. Ia membeli plester bergambar kucing untuk sous chef-ku, dan tidak pernah bilang.

Aku kembali ke kompor. Aku tidak bisa menatap Dimas lebih lama.

Bu Ratih juga berubah. Ia masih memakai kebaya yang berbeda warna setiap hari. Ia masih menyambut tamu dengan senyum profesional dua puluh tahunnya. Tapi buku tamu Sekar Kedhaton, yang biasanya ia buka setiap malam setelah tamu terakhir pulang untuk menulis sesuatu dengan pulpen gel, sekarang tertutup.

Di hari kesembilan, aku melihat pulpen gel tinta emas itu di laci kasir. Tutupnya terpasang rapat. Di sebelahnya, pulpen biasa. Tinta biru.

Bu Ratih tidak menulis apa pun selama sembilan hari.


Malam kesepuluh, Sasha datang.

Ia tidak masuk lewat pintu depan. Ia mengetuk pintu hijau di belakang, pukul sepuluh lewat sedikit, persis seperti Tamara biasanya mengetuk. Waktu aku membuka pintu dan melihat siapa yang berdiri di sana, jantungku berhenti sebentar, karena untuk setengah detik pertama aku mengira itu dia.

Bukan. Sasha. Dengan kemeja kantor yang kusut, tas laptop di bahu, dan wajah orang yang sudah berdebat dengan dirinya sendiri sepanjang perjalanan dari Kuningan.

“Chef,” katanya. “Maaf. Saya tahu ini nggak sopan.”

“Sasha.”

“Bu Tamara nggak tahu saya ke sini. Kalau Bu Tamara tahu, saya dipecat. Mungkin dua kali.” Ia menarik napas. “Tapi saya nggak tahan lagi, Chef.”

Aku membuka pintu lebih lebar. Ia masuk. Kucing oranye, yang biasanya menatap tamu dengan pandangan menghakimi, menggosokkan kepalanya ke betis Sasha sekali, lalu pergi.

Sasha berdiri di tengah dapur dan menatap sekeliling. Kompor yang masih menyala kecil di belakang. Dandang tembaga.

“Itu garang asem?” tanyanya.

Aku tidak menjawab.

“Dimas bilang Chef masak garang asem tiap malam,” kata Sasha pelan. “Dan dibuang tiap malam.”

“Dimas banyak omong.”

“Dimas khawatir, Chef. Kita semua khawatir.” Sasha menatapku. Matanya berkantung, sama gelapnya dengan mataku. “Bu Tamara nggak makan, Chef.”

Aku berhenti.

“Maksud saya, Bu Tamara makan. Kalau saya taruh makanan di mejanya, dia makan. Dua suap. Tiga. Terus dia lupa. Terus makanannya dingin, terus saya buang, terus saya taruh lagi, terus dia makan dua suap lagi.” Suara Sasha mulai bergetar. “Dia kerja delapan belas jam, Chef. Dia nggak pakai lipstik merah lagi. Sepuluh hari. Dia nggak pernah nggak pakai lipstik merah, Chef. Bahkan waktu demam tiga puluh sembilan, dia pakai lipstik merah waktu video call sama investor Jepang.”

Aku menatap dandang tembaga di kompor paling belakang.

“Pak Raka nggak gosip lagi,” lanjut Sasha. “Grup chat staf sepi. Pak Raka bilang, kalau Tamara sedih, aku nggak berhak ketawa. Pak Raka nggak pernah bilang hal kayak gitu, Chef. Pak Raka bilang hal kayak gitu cuma waktu startup-nya yang pertama bangkrut.”

Ia berhenti. Ia menatap lantai.

“Saya nggak minta Chef balikan sama Bu Tamara,” katanya. “Itu bukan urusan saya. Saya cuma—” Ia mengangkat wajah. “Saya cuma mau Bu Tamara makan.”

Aku tidak menjawab.

Aku berjalan ke kompor paling belakang. Aku membuka tutup dandang. Uapnya naik, membawa bau daun salam dan gula jawa dan kluwek. Aku mengangkat satu pincuk dengan penjepit, meletakkannya di wadah kertas, menutupnya. Lalu pincuk kedua.

Aku memasukkan keduanya ke kantong kertas cokelat. Aku menyerahkannya ke Sasha.

Sasha menatap kantong itu. Lalu menatapku.

“Jangan bilang dari aku,” kataku.

“Chef—”

“Bilang dari restoran. Bilang Bu Ratih yang masak. Bilang apa saja.” Aku menelan. “Tapi jangan bilang dari aku.”

Sasha memegang kantong itu dengan dua tangan, di dada, seperti memegang sesuatu yang berharga.

“Bu Tamara bakal tahu, Chef,” katanya pelan. “Dia selalu tahu.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa—”

“Karena kalau dia tahu dari aku, dia bakal mikir aku minta dia balik.” Aku menatap dandang itu. “Dan aku nggak boleh minta.”

Sasha menatapku lama. Lalu ia mengangguk, sekali, perlahan. Ia berbalik ke pintu hijau.

Di ambang pintu, ia berhenti.

“Chef,” katanya tanpa menoleh. “Saya nggak ngerti kenapa orang-orang yang paling sayang satu sama lain selalu yang paling pinter nyakitin satu sama lain.”

Ia pergi.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari, aku tidak membuang garang asem.


Hari kesebelas, Pak Gunawan memanggilku ke kantornya.

Kantor Pak Gunawan adalah ruangan kecil di lantai dua restoran, di atas dapur, dengan jendela yang menghadap ke gang belakang. Meja kayu jati tua. Rak berisi buku-buku masakan Jawa yang sudah lusuh. Kalkulator dengan tombol nol yang macet. Dan di dinding, foto hitam putih seorang perempuan tua dengan kebaya dan sanggul, tersenyum di depan dapur kayu.

Pak Gunawan enam puluh tahun, kurus, rambut tipis yang disisir rapi ke samping, kacamata baca yang selalu melorot ke ujung hidung. Ia jarang turun ke dapur. Ia percaya padaku. Ia hanya muncul kalau ada yang penting.

Ia menunjuk kursi di depan mejanya. Aku duduk.

“Ratih bilang kamu masak garang asem tiap malam,” katanya.

“Bu Ratih juga banyak omong.”

“Ratih nggak pernah banyak omong soal hal yang nggak penting.” Pak Gunawan melepas kacamatanya dan menggosoknya dengan ujung kemeja. “Dimas juga bilang kamu nggak tidur.”

Aku tidak menjawab.

Pak Gunawan memasang kacamatanya kembali. Ia menatapku dari balik lensa yang tebal. Lalu ia menoleh ke foto hitam putih di dinding.

“Itu ibu saya,” katanya.

Aku tahu. Semua orang di Sekar Kedhaton tahu. Restoran ini dinamai dari kebun bunga di belakang rumah ibunya di Yogya, dan resep-resep tertua di menu adalah resep ibunya.

“Waktu saya umur dua puluh delapan,” kata Pak Gunawan, masih menatap foto itu, “saya dapat tawaran kerja di Belanda. Restoran Indonesia di Den Haag. Pemiliknya teman almarhum bapak saya. Dia mau saya jadi kepala dapurnya. Lima tahun kontrak. Setelah itu, katanya, dia bantu saya buka restoran sendiri di sana.”

Aku menatapnya.

“Saya nggak pergi,” lanjutnya. “Ibu saya sendirian di Yogya. Bapak sudah meninggal. Adik-adik saya masih kecil. Saya pikir, siapa yang jaga Ibu kalau saya pergi?”

Ia diam sebentar.

“Ibu saya meninggal tiga tahun kemudian,” katanya. “Sakit. Mendadak. Dan sampai hari terakhirnya, di rumah sakit, dia bilang ke saya, Gun, Ibu nyesel kamu nggak ke Belanda. Ibu nggak minta kamu tinggal. Ibu nggak pernah minta.”

Pak Gunawan melepas kacamatanya lagi. Kali ini ia tidak menggosoknya. Ia hanya memegangnya.

“Saya pikir saya tinggal untuk Ibu,” katanya. “Ternyata saya tinggal untuk diri saya sendiri. Karena saya takut. Takut pergi. Takut gagal di tempat yang jauh. Takut nggak ada yang butuh saya lagi. Dan saya pakai Ibu sebagai alasan, karena itu alasan yang paling nggak bisa dibantah siapa pun.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Ibu saya tahu,” kata Pak Gunawan. “Ibu selalu tahu. Dan dia harus hidup tiga tahun dengan rasa bersalah karena dia jadi alasan anaknya nggak berani bermimpi.”

Ia memasang kacamatanya lagi. Ia menatapku.

“Ratih juga bilang soal laki-laki Prancis yang dateng ke sini bulan lalu,” katanya. “Saya nggak tahu apa yang dia tawarkan. Saya nggak mau tahu. Itu urusanmu.” Ia mengambil kalkulator dengan tombol nol yang macet dan menatapnya. “Tapi kalau kamu nolak sesuatu karena adikmu, Le, tanya dirimu dulu. Kamu nolak buat dia, atau kamu nolak karena kamu takut?”

Aku menatap meja kayu jati di antara kami.

“Dan satu lagi,” kata Pak Gunawan. “Tanya adikmu. Jangan cuma mutusin buat dia. Dia bukan anak kecil lagi.”


Malam itu aku pulang pukul sebelas.

Apartemen gelap. Lampu ruang tengah mati. Lampu dapur mati. Pintu kamar Mona tertutup, dan dari celah bawahnya tidak ada cahaya.

Mona tidak di rumah.

Ia jarang di rumah akhir-akhir ini. Sejak malam ia duduk di lantai lorong di depan pintu kamarku, dengan mata merah, dan bilang nggak apa-apa. Ia berangkat lebih pagi. Ia pulang lebih larut. Kadang ia menginap di kantor, katanya ada proyek. Kadang ia pulang dan langsung masuk kamar tanpa makan.

Ia masih menyiapkan bekal setiap pagi. Tapi sekarang hanya dua. Untukku dan untuk Bintang.

Kotak untuk Tamara sudah tidak ada.

Aku berdiri di dapur dalam gelap. Aku menyalakan lampu di atas kompor, satu-satunya lampu kecil, kuning, redup. Di pintu kulkas, kertas jadwal Tamara masih ditempel dengan magnet berbentuk cabai. Rabu rapat direksi sampai malam. Kamis free. Jumat Sasha cuti, T kerja sendiri, kirim bekal lebih banyak. Aku belum mencabutnya. Aku tidak sanggup.

Aku membuka kulkas. Di rak tengah, satu kotak bekal. Kotak bekal stainless yang Mona beli dengan gaji pertamanya. Di atasnya, selembar kertas kecil yang ditempel dengan selotip. Tulisan tangan Mona, kecil dan rapi.

Kak, makan. Aku pulang telat. Jangan nunggu.

Aku menatap kertas itu.

Jangan nunggu.

Selama dua puluh dua tahun, Mona selalu menungguku. Di depan pintu kamar mandi kontrakan. Di sofa dengan televisi tanpa suara. Di meja dapur dengan tiga kotak bekal.

Malam ini, ia bilang jangan nunggu.

Aku mengambil kotak bekal itu. Aku duduk di meja dapur, di bawah lampu kuning kecil, dan membukanya. Nasi. Telur dadar dengan irisan cabai. Tumis buncis yang dipotong miring. Sambal bajak di wadah terpisah.

Telurnya gosong sedikit di pinggir.

Mona tidak pernah membuat telur yang gosong. Kecuali waktu tangannya tidak fokus. Kecuali waktu ia sedang memikirkan sesuatu yang lain.

Aku makan bekal itu. Sendirian. Di dapur yang gelap. Pukul sebelas lewat seperempat malam.

Aku memikirkan pertanyaan Pak Gunawan.

Kamu nolak buat dia, atau kamu nolak karena kamu takut?

Aku tidak tahu jawabannya.

Aku selalu berpikir aku tahu. Aku selalu berpikir semua yang kulakukan, semua yang kutolak, semua yang kurobek jadi delapan bagian di atap kontrakan di Tebet, adalah untuk Mona. Untuk adikku. Untuk satu-satunya orang yang tersisa.

Tapi malam itu, di dapur yang gelap, dengan telur dadar yang gosong di pinggir dan kertas yang bilang jangan nunggu, aku mulai bertanya-tanya.

Siapa yang sebenarnya takut ditinggal?

Mona, yang mengusir semua perempuan dari sekitarku?

Atau aku, yang tidak pernah pergi ke mana pun, supaya tidak ada yang bisa meninggalkanku?


Pukul satu dini hari, aku mendengar pintu apartemen dibuka.

Mona masuk dengan langkah pelan. Aku masih di dapur. Aku mendengarnya berhenti di ruang tengah, melihat lampu kecil di dapur menyala.

“Kak?”

“Kakak di dapur.”

Ia muncul di ambang pintu dapur. Ia masih memakai baju kantor, blazer abu-abu, rambut diikat rendah. Matanya merah. Bukan merah karena lelah. Merah karena menangis.

Ia melihat kotak bekal kosong di depanku.

“Kakak makan,” katanya.

“Telurnya gosong.”

Ia menatapku. Bibirnya bergetar sedikit. Lalu ia tersenyum. Senyum kecil, basah.

“Kakak suka yang gosong,” katanya.

“Itu bohong.”

“Iya.” Ia menyeka matanya dengan punggung tangan. “Itu bohong. Tapi Kakak nggak pernah bilang.”

Aku menatapnya. Adikku. Dua puluh sembilan tahun. Head of Operations. Berdiri di ambang pintu dapur jam satu pagi dengan mata merah dan blazer kusut.

“Mon,” kataku. “Kamu dari mana?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai dapur. Lalu ia menatapku.

“Dari mikir,” katanya.

“Mikir apa?”

Ia diam lama. Lalu ia berjalan ke arahku, membungkuk, dan memelukku dari belakang kursi. Lengannya di leherku. Pipinya di atas kepalaku. Seperti waktu ia kecil, waktu aku duduk di lantai kontrakan dan ia memelukku dari belakang karena tidak bisa tidur.

“Nanti,” bisiknya di rambutku. “Nanti aku cerita. Kalau aku udah selesai mikir.”

Ia melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamarnya. Pintunya menutup.

Aku duduk di dapur, di bawah lampu kuning kecil, sampai pukul dua.

Malam itu, aku mendengar sesuatu dari kamar Mona yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Bukan suara tangis. Bukan suara dengkur.

Suara ketikan. Cepat. Terus-menerus. Seperti seseorang yang sedang menyusun rencana.