Chapter Thirty One
Dua Kali karena Kamu
POV: Mona
Dimas meneleponku hari Rabu pukul enam pagi.
Dimas tidak pernah meneleponku. Dimas mengirim pesan. Dimas mengirim foto kucing oranye. Dimas mengirim pesan suara empat puluh tujuh detik sambil menangis di atas motor. Tapi Dimas tidak pernah menelepon, karena menurut Dimas, menelepon itu terlalu serius, Mbak, kayak mau ngabarin ada yang meninggal.
Aku mengangkat di dering pertama.
“Dim?”
“Mbak.” Suaranya pelan. Tidak ada nada ceria. Tidak ada arsip. Tidak ada Chef. “Mbak, maaf ganggu pagi-pagi.”
“Ada apa?”
Hening. Aku mendengar bunyi pasar di latar belakang. Teriakan pedagang, bunyi timbangan, motor yang lewat. Dimas di pasar Kramat Jati, belanja untuk restoran.
“Chef sama Bu Tamara,” katanya. “Udahan, Mbak.”
Aku duduk di tepi kasur.
“Udahan,” ulangku.
“Senin malam. Chef ke apartemen Bu Tamara. Pulang bawa jaket.” Dimas menelan. “Jaket flanel yang dulu dipinjemin ke Bu Tamara waktu hujan. Chef bawa pulang. Chef taruh di loker restoran. Nggak dipakai. Cuma ditaruh.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Chef nggak cerita, Mbak. Chef nggak pernah cerita. Tapi saya lihat jaketnya di loker. Dan kursi nomor satu kosong lagi semalam. Dan Bu Ratih nggak nyiapin piring lagi.” Suara Dimas pecah sedikit. “Bu Ratih nyiapin piring tiga malam berturut-turut, Mbak. Semalam nggak. Bu Ratih bilang, udah, Dim. Udah selesai.”
Aku menatap pintu kamarku. Di baliknya, lorong pendek. Di ujung lorong, pintu kamar Kakak.
Senin malam. Kakak pulang pukul satu. Aku mendengarnya. Aku mendengar pintu apartemen dibuka pelan-pelan. Aku mendengar langkahnya di lorong. Aku mendengar pintu kamarnya menutup.
Aku tidak mendengar dengkurnya.
Selasa malam juga tidak.
“Mbak?”
“Iya, Dim.”
“Mbak nggak apa-apa?”
Pertanyaan itu aneh. Dimas menanyakan apakah aku tidak apa-apa. Bukan Kakak. Aku.
Aku membuka mulut untuk menjawab nggak apa-apa. Lalu aku sadar aku tidak tahu jawabannya.
Selama enam belas tahun, aku mengusir semua perempuan yang mendekati kakakku. Dan setiap kali mereka pergi, aku merasa lega. Aku merasa menang. Aku merasa sudah menyelesaikan satu tugas operasional dengan sukses.
Pagi itu, duduk di tepi kasur dengan ponsel di telinga dan suara pasar Kramat Jati di latar belakang, aku tidak merasa lega.
Aku tidak merasa menang.
Aku merasa kosong. Seperti gudang Sidoarjo di hari Minggu, ketika semua rak masih berdiri dan semua lampu masih menyala, tapi tidak ada satu orang pun di dalamnya.
“Aku nggak tahu, Dim,” kataku.
Dimas diam lama.
“Mbak,” katanya akhirnya. “Saya mau bilang sesuatu, tapi Mbak jangan marah.”
“Apa?”
“Saya udah lakuin sesuatu. Kemarin.” Ia menelan. “Saya kasih alamat kantor Mbak ke orang.”
Aku tidak sempat bertanya ke siapa.
Pukul sebelas lewat dua puluh, resepsionis lobi menelepon ke lantai dua puluh enam dengan suara bingung.
Bu Mona, ada tamu. Bapak-bapak bule. Tua. Pakai jas. Katanya cari Mademoiselle Mona Wirasena. Ibu kenal?
Aku turun.
Lobi Blin pukul sebelas siang tidak seramai pukul delapan pagi, tapi masih ada orang-orang yang lalu lalang. Kurir paket. Tamu yang menunggu di sofa. Dua karyawan magang yang sedang memotret lampu gantung modern untuk Instagram mereka.
Dan di tengah lobi, berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap lampu gantung dengan ekspresi orang yang menilai karya seni yang buruk, seorang laki-laki tua berambut putih dengan setelan jas abu-abu tua yang potongannya Eropa.
Ia menoleh mendengar langkahku.
Ia menatapku. Dari ujung rambut ke ujung kaki, seperti Kakak menatapku di malam pesta. Lalu kembali ke wajahku. Lama.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang lembut dan sedikit sedih, dan entah kenapa, membuatku merasa seperti anak kecil.
“Ah,” katanya. “La petite sœur.”
Aku tidak mengerti bahasa Prancis. Tapi aku mengerti kata sœur. Aku pernah mendengarnya di film.
Adik perempuan.
“Saya Antoine Lefèvre,” katanya dalam bahasa Inggris, mengulurkan tangan. “Saya pernah bekerja dengan kakakmu. Sembilan tahun lalu.”
Aku menjabat tangannya. Tangannya kering, keriput, dan hangat. Ada kapalan di telunjuk kanannya. Di tempat yang sama dengan kapalan di tangan Kakak.
“Mona,” kataku.
“Aku tahu.” Ia masih menggenggam tanganku. Ia menatap wajahku seperti menatap sesuatu yang sudah lama ia cari. “Kau tidak banyak berubah. Dari fotonya.”
“Foto?”
“Foto di loker kakakmu. Di hotel di Thamrin, sembilan tahun lalu. Kau memakai seragam sekolah. Putih dan abu-abu. Kau tersenyum dan memegang amplop.” Ia melepaskan tanganku. “Kakakmu menempelkan foto itu di bagian dalam pintu lokernya. Setiap pagi, sebelum shift, ia membuka loker dan menatap foto itu sebentar. Aku melihatnya. Setiap pagi.”
Aku tidak bisa bicara.
“Bisa kita bicara?” tanya Antoine. “Di tempat yang lebih tenang? Lampu gantung ini membuat kepalaku sakit.”
Kami duduk di kafe kecil di lantai dasar gedung, di meja paling pojok, di dekat jendela yang menghadap ke Rasuna Said.
Antoine memesan espresso. Ia mencicipinya, mengernyit, dan meletakkannya kembali tanpa diminum lagi. Aku memesan kopi hitam, satu gula. Aku tidak meminumnya.
“Kakakmu tidak memberitahumu,” kata Antoine. Bukan pertanyaan.
“Memberitahu apa?”
Antoine menatapku lama. Lalu ia menghela napas, napas orang tua yang sudah terlalu sering mengatakan hal-hal yang tidak ingin ia katakan.
“Aku datang ke Jakarta bulan ini untuk menawarkan sesuatu kepadanya,” katanya. “Satu tahun di Lyon, di dapurku, sebagai sous chef. Lalu pulang ke Jakarta dan membuka restoran sendiri. Aku investornya. Namanya di pintu.” Ia memutar cangkir espresso di atas piring kecilnya. “Dia menolak. Minggu lalu. Lewat telepon.”
Aku menatapnya.
Kakak bangun jam lima pagi. Nada datar seperti garis di monitor jantung. Kaldu sapi dua belas jam di hari Kamis.
Lyon.
“Dia nggak cerita,” kataku. Suaraku keluar aneh. Jauh. Seperti suara orang lain. “Dia nggak cerita apa-apa.”
“Aku tahu.” Antoine menatapku. “Dia juga tidak cerita sembilan tahun lalu.”
Aku berhenti bernapas.
“Sembilan tahun lalu,” kata Antoine pelan, “aku menawarkan beasiswa kepadanya. Sekolah kuliner di Lyon, dua tahun. Ditambah magang di restoranku. Semua biaya ditanggung. Tempat tinggal. Uang saku.” Ia menatap ke luar jendela, ke mobil-mobil yang bergerak pelan di Rasuna Said. “Itu tawaran yang tidak pernah kuberikan kepada siapa pun sebelumnya. Atau sesudahnya. Aku melihat sesuatu di anak itu. Anak kurus dua puluh dua tahun yang memecahkan kluwek jam lima pagi di sudut dapur hotel, untuk memasak rawon yang tidak ada di menu, untuk teman-temannya yang tidak punya uang beli makan siang.”
Aku menatapnya. Dua puluh dua tahun. Kakak dua puluh dua tahun. Aku dua puluh tahun.
Aku semester tiga.
“Dia mengirim email seminggu kemudian,” lanjut Antoine. “Satu kalimat. Thank you, Chef, but I cannot go. Tidak ada penjelasan.” Ia kembali menatapku. “Aku tidak perlu penjelasan. Aku sudah melihat foto di lokernya.”
Aku tidak bisa bergerak.
Semester tiga. Uang kuliah naik. Aku ingat. Aku ingat malam itu, malam-malam itu, ketika aku duduk di meja kecil di sudut kontrakan, dengan kalkulator dan tagihan semester, menghitung dan menghitung lagi. Aku ingat menulis sesuatu di pinggir kertas tagihan itu, kebiasaanku waktu sedang berpikir keras, kalimat yang tidak pernah kumaksudkan untuk dibaca siapa pun.
Kalau nggak cukup, aku cuti dulu. Kakak jangan tahu.
Aku tertidur di atas kertas itu. Aku ingat bangun pagi-pagi dengan pipi menempel di kertas tagihan, dan Kakak sudah berangkat kerja. Kertas tagihan itu masih di meja. Aku tidak pernah memikirkannya lagi.
Kakak melihatnya.
Kakak membaca Kakak jangan tahu. Dan Kakak naik ke atap dan memutuskan sesuatu. Dan Kakak tidak pernah bilang.
“Dua kali,” kata Antoine.
Aku mengangkat wajah.
Antoine menatapku dengan mata yang tua dan lelah dan tidak menuduh. Hanya sedih. Sedih seperti orang yang melihat bakat yang terbuang, dua kali, dan tahu ia tidak punya waktu untuk menunggu yang ketiga.
“Dua kali dia menolak saya,” katanya pelan. “Dua kali karena kamu.”
Aku tidak ingat bagaimana percakapan itu berakhir.
Aku ingat Antoine membayar kopi. Aku ingat ia menepuk punggung tanganku di atas meja, dua kali, dengan tangan yang keriput dan hangat. Aku ingat ia berkata sesuatu tentang tinggal di Jakarta sampai akhir bulan, tentang hotel di Thamrin, tentang kalau kau ingin bicara lagi. Aku ingat ia menyerahkan kartu nama.
Aku ingat ia berdiri di pintu kafe dan berkata, tanpa menoleh:
“Aku tidak menyalahkanmu, mademoiselle. Kau tidak tahu. Kau tidak memilih ini.” Ia mengancingkan jasnya. “Tapi dia memilih. Dua kali. Dan aku khawatir dia tidak tahu cara memilih yang lain.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di kafe itu sampai kopiku dingin.
Lalu aku duduk sampai kafe itu mulai ramai dengan karyawan yang turun makan siang.
Lalu aku duduk sampai seseorang menarik kursi di seberangku.
Bintang.
Ia tidak membawa kopi kali ini. Ia tidak berkata hm. Ia hanya duduk, menatapku, dan menunggu.
“Kamu tahu?” tanyaku. Suaraku serak.
“Aku lihat Monsieur Lefèvre di lobi. Resepsionis bilang dia cari kamu.” Bintang menatap cangkir kopiku yang dingin. “Aku tunggu di lobi satu jam. Terus aku lihat dia keluar sendirian. Terus aku tunggu kamu keluar. Kamu nggak keluar.”
Aku menatap tanganku di atas meja. Tanganku gemetar. Aku tidak mencoba menghentikannya.
“Dua kali,” kataku.
Bintang diam.
“Kakak nolak Lyon dua kali. Sembilan tahun lalu dan minggu lalu. Dua kali karena aku.” Suaraku pecah. “Sembilan tahun lalu karena aku tulis Kakak jangan tahu di pinggir tagihan semester. Aku nggak inget aku tulis itu. Aku nggak inget, Bintang. Tapi dia baca. Dan dia robek suratnya. Dan dia nggak pernah bilang.”
Bintang tidak menyentuhku. Ia hanya mendorong cangkir kopinya sendiri, yang tidak ada, ke arahku, gerakan yang sudah jadi kebiasaannya, dan karena tidak ada cangkir, tangannya berhenti di atas meja, di sebelah tanganku. Tidak menyentuh. Hanya di sana.
“Dan minggu lalu,” lanjutku, “minggu lalu, waktu aku nolak Singapura. Waktu aku bilang Kakak di sini.” Aku menatapnya. “Kamu bilang mungkin dia juga pernah bilang Mona di sini. Ke seseorang. Kamu bilang itu polanya.”
“Aku nggak tahu, Mona. Aku cuma—”
“Dia bilang. Dia pasti bilang. Ke Antoine. Ke Tamara.” Air mataku jatuh. Di kafe lantai dasar gedung kantor, di depan karyawan-karyawan yang sedang makan siang, di depan rivalku. Aku tidak peduli. “Dan Tamara. Mereka udahan. Senin malam. Dimas bilang. Dan aku nggak tahu kenapa, tapi aku tahu kenapa.”
Bintang menatapku.
“Karena aku,” bisikku. “Selalu karena aku.”
Aku pulang lebih awal hari itu. Aku tidak bilang ke siapa pun. Aku hanya mengambil tasku, berjalan ke lift, dan pulang.
Apartemen kosong. Kakak di restoran. Rabu malam, servis penuh.
Aku berdiri di tengah ruang tengah. Di rak buku, foto-foto yang kupindah-pindah sebelum makan malam bertiga. Foto wisudaku di depan. Foto kami berdua di atap kontrakan di Tebet di tengah. Foto Kakak tanpa alis di belakang, lalu di depan, lalu di belakang lagi. Aku tidak pernah memutuskan.
Aku berjalan ke dapur. Di pintu kulkas, kertas yang ditempel dengan magnet berbentuk cabai. Tulisan tangan Kakak, besar dan miring ke kiri.
Rabu rapat direksi sampai malam. Kamis free. Jumat Sasha cuti, T kerja sendiri, kirim bekal lebih banyak.
Jadwal Tamara. Kakak belum mencabutnya.
Di bawahnya, kertas lain. Lebih tua. Sudah sedikit menguning di pinggir.
Versi 1: asam terlalu cepat. Belimbing masuk di akhir. Versi 2: santan terlalu kental. Perasan kedua. Versi 3: kurang dalam. Coba kluwek sedikit. Daun salam 5 lembar. Versi 4: Kamis.
Aku menatap dua kertas itu.
Lalu aku berjalan ke lorong. Ke pintu kamar Kakak.
Pintunya tertutup. Kakak tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Ia tidak perlu. Selama dua puluh sembilan tahun, tidak pernah ada rahasia di antara kami yang perlu dikunci.
Aku pikir begitu.
Aku duduk di lantai lorong, di depan pintu kamar Kakak. Bersandar ke dinding. Memeluk lutut.
Aku tidak mengetuk. Ia tidak ada di dalam. Aku tahu ia tidak ada di dalam. Tapi aku duduk di sana, menatap pintu itu, seperti dulu aku duduk di depan pintu kamar mandi kontrakan di Tebet waktu aku delapan tahun dan Kakak sedang di dalam, dan aku takut kalau aku pergi dari depan pintu itu, Kakak juga akan pergi.
Kakak tidak pernah pergi.
Dua kali, Kakak tidak pergi.
Dua kali, Kakak memilih tetap di depan pintu yang sama denganku.
Dan aku tidak pernah tahu.
Kakak pulang pukul sebelas lewat empat puluh.
Aku mendengar kunci di pintu apartemen. Aku mendengar langkahnya di ruang tengah. Aku mendengar langkahnya berhenti.
Ia melihatku. Duduk di lantai lorong, di depan pintu kamarnya, dengan lutut di dada dan mata yang pasti merah dan bengkak.
“Mon?”
Aku tidak menjawab. Aku menatapnya.
Kakakku. Tiga puluh dua tahun. Jas koki putih yang ada noda kuah di bagian dada. Rambut berantakan. Kantung mata yang gelap, lebih gelap dari yang pernah kulihat. Tangan kosong.
Ia berjalan ke arahku, perlahan, dan berjongkok di depanku. Sejajar. Seperti dulu, waktu aku kecil dan jatuh dari sepeda, dan ia berjongkok supaya wajahnya sejajar dengan wajahku.
“Kamu kenapa?”
Aku membuka mulut. Aku ingin bertanya. Aku ingin bilang Antoine datang ke kantorku. Aku ingin bilang aku tahu soal Lyon, dua-duanya. Aku ingin bilang kenapa Kakak nggak pernah bilang.
Tapi aku menatap wajahnya. Kantung mata yang gelap. Bibir yang pecah. Mata yang lelah, sangat lelah, seperti orang yang memikul karung beras sejak umur sepuluh tahun dan baru saja menurunkan satu karung yang lain, karung yang ia pikul karena ia memilih untuk memikulnya, dan yang ternyata paling berat.
Dan aku tidak bisa bertanya.
Belum.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Kakak menatapku. Ia tahu itu bohong. Ia selalu tahu.
Tapi ia tidak bertanya.
Ia mengulurkan tangan dan menyeka air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Kapalan di telunjuk. Bekas luka bakar di pangkal ibu jari. Lalu ia duduk di lantai di sebelahku, bersandar ke dinding yang sama, bahu kami bersentuhan.
Kami duduk seperti itu. Di lantai lorong. Seperti dulu di kontrakan di Tebet, waktu kami cuma punya satu kasur dan kadang duduk di lantai karena kasurnya terlalu panas.
Kami tidak bicara.
Setelah lama sekali, aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Ia tidak bergerak. Ia membiarkannya.
Di bahu kakakku, aku memejamkan mata dan memikirkan sebuah amplop yang dirobek jadi delapan bagian di atap kontrakan di Tebet, sembilan tahun lalu, sementara aku tertidur di atas tagihan semester dengan kalimat yang tidak pernah kumaksudkan untuk dibaca siapa pun.
Kakak jangan tahu.
Kakak tahu.
Dan Kakak memilih aku. Lagi. Dan lagi.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap kakakku tidak memilihku.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu reading
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan