Chapter Thirteen
Jawaban
POV: Tamara
Aku sudah menjawab ribuan pertanyaan dalam hidupku.
Pertanyaan ujian di Oxford, yang jawabannya kutulis dengan tangan sampai jari tengahku kapalan. Pertanyaan investor di Singapura, yang jawabannya kususun dalam tiga lapis supaya tidak ada celah. Pertanyaan dewan direksi, wartawan, auditor, regulator. Pertanyaan ayahku di telepon setahun sekali, Are you happy, darling?, yang jawabannya selalu sama dan selalu bohong.
Aku pandai menjawab. Itu salah satu hal yang paling kubanggakan dari diriku. Aku bisa menjawab pertanyaan apa pun dalam tiga detik dengan suara yang tidak bergetar.
Malam itu, dengan ibu jari Matahari di pipiku yang basah, dengan bau garang asem Eyang yang masih memenuhi udara, aku membuka mulut untuk menjawab, dan tidak ada yang keluar.
Tidak ada.
Otakku, yang biasanya bekerja seperti mesin hitung, berhenti total. Seperti layar komputer yang membeku. Aku hanya bisa merasakan hal-hal. Lantai teraso yang dingin di bawah sepatuku. Tangannya yang hangat di pipiku. Tanganku sendiri, yang entah kapan sudah naik dan menggenggam pergelangan tangannya. Dan dadaku, yang terasa terlalu penuh, seperti panci yang mendidih dengan tutup yang terlalu rapat.
Aku sayang kamu.
Ia mengatakannya dengan sangat sederhana. Tanpa gombal. Tanpa puisi. Seperti ia mengatakan iris tipis atau kasih saya waktu. Fakta. Seperti kluwek harus direndam sebelum dimasak.
Laki-laki yang menolak wawancara majalah tiga kali. Laki-laki yang bilang dulu waktu aku bertanya tentang lukanya. Laki-laki yang menghabiskan dua puluh satu tahun menjaga adiknya dan tidak pernah, sekali pun, menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Ia berlutut di lantai, di sebelah kursiku, dan memberikan kalimat itu kepadaku.
Dan aku tidak bisa bicara.
Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan mata hitam yang tenang tapi tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang bergetar di bawah permukaannya. Takut, mungkin. Takut bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh. Takut bahwa diamku adalah jawaban.
Jempolnya bergerak sedikit di pipiku. Ragu.
Ia mulai menarik tangannya.
Tidak.
Aku menggenggam pergelangan tangannya lebih erat, menahan tangannya di pipiku. Ia berhenti. Matanya melebar sedikit.
Aku menarik napas. Napas yang gemetar, yang terasa seperti menghirup uap garang asem lagi, hangat dan basah dan bau daun salam.
“Aku sayang kamu,” kataku.
Suaraku pecah di tengah. Tidak ada yang elegan dari kalimat itu. Tidak ada tiga lapis struktur. Tidak ada strategi. Hanya empat kata, serak, basah, keluar dari tenggorokan yang masih sakit karena menangis.
Tapi aku mengatakannya. Dan begitu aku mengatakannya, sesuatu di dadaku yang selama ini terkunci, sejak umur dua belas, sejak asrama, sejak email bersubjek Eyang, terbuka dengan bunyi yang hampir bisa kudengar.
“Aku sayang kamu,” ulangku, lebih jelas, lebih yakin, dan air mataku jatuh lagi, tapi kali ini aku tidak menutup wajahku. Aku membiarkannya. Biar ia lihat. “Aku sudah sayang kamu dari kursi ini. Dari malam pertama. Dari kamu bilang Mona kreatif dan aku ketawa kayak orang gila. Aku cuma nggak mau ngaku, karena aku nggak tahu caranya. Aku nggak pernah—” Aku berhenti. “Aku nggak pernah bilang itu ke siapa pun. Nggak ke Ayah. Nggak ke Ibu. Cuma ke Eyang, dan Eyang sudah nggak ada.”
Ia menatapku. Ekspresi di wajahnya berubah, perlahan, seperti matahari pagi yang naik di atas sawah. Sesuatu yang tegang di rahangnya mengendur. Sesuatu di matanya, yang tadi bergetar, berhenti bergetar.
Dan ia tersenyum.
Bukan senyum kecil di sudut bibir. Bukan tawa pendek di parkiran waktu God Save the King. Senyum yang lebar dan pelan dan tidak berusaha disembunyikan, yang membuat matanya menyipit dan kerutan di sudutnya dalam, senyum orang yang baru saja diberi sesuatu yang ia tidak berani minta.
“Kamu cantik banget,” katanya pelan, “bahkan pas nangis.”
Aku tertawa. Basah, pecah, bodoh. “Maskaraku luntur.”
“Iya.”
“Hidungku merah.”
“Iya.”
“Lipstikku—”
“Masih merah,” katanya. Ibu jarinya bergerak dari pipiku, turun, sangat pelan, ke sudut bibirku. Berhenti di sana. “Sedikit pudar. Di sini.”
Aku berhenti tertawa.
Ibu jarinya di sudut bibirku. Kasar, hangat, tidak bergerak. Seperti di les ketiga, waktu ada titik cabai di sana dan ia menyerahkan kain kepadaku dan aku menyebutnya pengecut.
Kali ini ia tidak menyerahkan kain kepadaku.
Ia berdiri.
Ia mengulurkan tangan. Aku menatap tangan itu sebentar, tangan dengan kapalan di telunjuk dan bekas luka bakar di pangkal ibu jari, lalu menyambutnya. Ia menarikku berdiri dari kursi nomor satu.
“Kuahnya belum habis,” kataku bodoh.
“Nanti dihangatkan lagi.”
Ia tidak melepaskan tanganku. Ia membawaku memutari meja chef’s table, melewati pass, masuk ke dapur.
Dapur gelap. Semua lampu mati kecuali satu, lampu kecil di atas kompor tempat dandang tembaga Bu Ratih duduk di atas nyala api biru yang kecil. Cahaya biru itu memantul di permukaan stainless, di panci-panci yang tergantung, di pisau-pisau di magnet dinding. Seperti bintang-bintang kecil di langit yang terlalu dekat.
Ia membawaku sampai ke depan kompor. Lalu ia berhenti dan berbalik menghadapku.
Aku bersandar ke meja stainless di belakangku. Dingin di punggungku. Ia berdiri di depanku, cukup dekat sehingga nyala api biru di belakangnya membuat garis cahaya di sepanjang bahunya, di sisi rahangnya, di rambut yang jatuh ke dahinya.
Ia tidak berkata apa-apa. Aku juga tidak.
Di parkiran, dua minggu lalu, aku berhenti di jarak setipis daun pisang dan berkata belum. Aku berkata langkah yang terakhir, kamu yang harus maju. Aku mengatakannya karena aku sudah mengejar laki-laki ini selama tiga minggu, karena aku tidak pernah dikejar balik oleh siapa pun, karena aku ingin, satu kali saja dalam hidupku, menjadi orang yang dipilih, bukan orang yang memilih.
Malam ini ia memasak garang asem Eyang dengan dandang pinjaman, gula jawa, dan sepuluh menit tambahan. Malam ini ia berlutut di lantai dingin dan bilang aku sayang kamu.
Ia sudah maju. Lebih jauh dari yang pernah kuminta.
Tapi ia masih berdiri di sana, di depanku, tidak bergerak. Menatapku dengan mata yang bertanya.
Dan aku mengerti. Laki-laki ini tidak pernah mengambil apa pun tanpa diizinkan. Seumur hidupnya.
“Matahari,” bisikku.
“Hm.”
“Langkah yang terakhir.” Aku mengangkat tangan, meletakkannya di dadanya, di atas kausnya, di atas jantungnya yang berdetak, aku bisa merasakannya, sama cepatnya dengan jantungku. “Sudah boleh.”
Ia menatapku satu detik lagi.
Lalu tangannya naik, satu ke pipiku, satu ke belakang leherku, jari-jarinya menyelip ke rambutku yang tergerai, dan ia menundukkan kepala, dan menciumku.
Aku sudah pernah dicium. Aku berumur tiga puluh tahun dan aku pernah tinggal di London. Aku pernah dicium di bawah lampu jalan di Mayfair oleh bankir yang tahu persis cara mencium perempuan. Aku pernah dicium di pesta gala oleh laki-laki yang terlalu banyak minum sampanye. Aku tahu rasanya dicium.
Aku tidak tahu rasanya dicium seperti ini.
Bibirnya hangat dan sedikit kasar, dan ia menciumku pelan. Sangat pelan. Seperti ia mengulek bumbu: tidak ditekan ke bawah, tapi diputar, dari pergelangan, bukan dari bahu. Seperti ia mengukus garang asem empat puluh menit, sepuluh menit lebih lama dari resep mana pun. Tidak terburu-buru. Seperti waktu adalah sesuatu yang ia punya banyak, dan semuanya untukku.
Tanganku yang tadi di dadanya meremas kausnya. Tanganku yang lain naik ke bahunya, ke tengkuknya, ke rambut di belakang kepalanya yang ternyata lembut. Aku menariknya lebih dekat. Ia membiarkan dirinya ditarik.
Ia berhenti sebentar. Dahinya bersandar ke dahiku. Napasnya berat, napasku berantakan.
“Lipstikmu,” bisiknya, dengan bibir yang masih menyentuh bibirku, “rasanya vanila.”
“Kamu sudah tahu,” bisikku balik. “Dari parkiran.”
“Waktu itu cuma bau. Sekarang rasa.”
“Dan?”
Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menciumku lagi. Kali ini sedikit lebih dalam, sedikit lebih lama, tangannya di belakang leherku menarikku sedikit lebih dekat. Punggungku menekan meja stainless. Nyala api biru di belakangnya berkedip.
Aku memejamkan mata dan berhenti berpikir.
Tidak ada angka. Tidak ada strategi. Tidak ada neraca, tidak ada proyeksi, tidak ada term sheet. Hanya bibirnya, dan tangannya di rambutku, dan bau daun salam dan asap kayu dan sesuatu yang hangat, seperti dapur di rumah joglo kecil di Solo pada hari Kamis.
Lampu dapur menyala.
Semua lampu. Sekaligus. Terang benderang, putih menyilaukan, seperti ruang operasi.
Kami melompat terpisah. Aku menabrak meja stainless. Matahari mundur satu langkah dan menabrak gantungan panci, yang berdentang seperti lonceng gereja.
Di ambang pintu belakang dapur, dengan satu tangan masih di saklar lampu dan satu tangan memegang kunci loker, berdiri Dimas.
Ia memakai jaket hoodie dan helm motor yang belum dilepas. Kaca helmnya terangkat. Matanya, di balik kaca helm itu, sangat, sangat lebar.
Tidak ada yang bergerak.
Panci yang ditabrak Matahari masih berdentang pelan. Ding. Ding. Ding.
“Dim,” kata Matahari, dengan suara yang sangat tenang untuk ukuran laki-laki yang bibirnya masih merah karena lipstikku.
Dimas tidak bergerak. Ia tidak bicara. Ia bahkan tidak berkedip. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan di saklar dan helm di kepala, membeku dalam posisi yang sama, seperti patung pahlawan di bundaran Hotel Indonesia.
“Dimas,” ulang Matahari.
Patung itu tidak merespons.
Aku menatap Dimas. Lalu menatap Matahari. Bibir Matahari merah. Pipi Matahari ada bekas merah juga, di dekat rahang. Dagu Matahari, astaga, ada bekas merah di dagu Matahari.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Dimas akhirnya bergerak. Sangat perlahan. Ia mengangkat tangannya yang memegang kunci loker, seperti memperlihatkan barang bukti di pengadilan.
“Ponsel,” katanya. Suaranya datar, mekanis, seperti mesin penjawab telepon. “Ketinggalan. Di loker.”
“Ambil,” kata Matahari.
Dimas berjalan ke loker. Ia berjalan dengan langkah yang sangat kaku, sangat lurus, dengan mata menatap lurus ke depan, ke dinding, seperti tentara di upacara bendera. Ia membuka loker. Ia mengambil ponsel. Ia menutup loker. Ia berjalan kembali ke pintu dengan langkah kaku yang sama, tanpa menoleh ke kiri atau kanan.
Di ambang pintu, ia berhenti. Masih membelakangi kami.
“Chef,” katanya, tanpa berbalik.
“Hm.”
“Saya nggak lihat apa-apa.”
“Oke.”
“Saya juga nggak akan bilang ke grup chat.”
“Oke.”
“Tapi, Chef—”
“Apa, Dim.”
Dimas menoleh, sedikit, cukup untuk aku melihat sisi wajahnya di balik helm. Ia sedang menangis. Sungguhan. Air mata di pipi di balik kaca helm.
“Saya bangga, Chef,” katanya dengan suara bergetar. “Lima tahun, Chef. Lima tahun.”
Lalu ia mematikan lampu dapur, semua lampu, sekaligus, dan menutup pintu belakang dengan sangat pelan, dan aku mendengar langkahnya di gang, lalu suara motor yang menyala, lalu, samar-samar, dari kejauhan, suara Dimas berteriak YESSS ke langit malam Senopati.
Dapur kembali gelap. Hanya nyala api biru di bawah dandang.
Aku tertawa.
Aku tertawa sampai harus bersandar ke meja stainless, sampai perutku sakit, sampai air mata yang tadi sudah kering mengalir lagi. Matahari berdiri di depanku, menatapku tertawa, dan perlahan-lahan ia juga tertawa, tawa rendahnya yang jarang itu, sampai kami berdua tertawa di dapur gelap seperti dua orang bodoh.
“Dia nangis,” kataku, terengah. “Dimas nangis.”
“Dia nangis waktu Liverpool juara juga.”
“Dia bilang saya bangga, Chef.”
“Dia akan ngomongin ini sampai tahun depan.”
“Kamu ada lipstik di dagu.”
Ia berhenti tertawa. Mengangkat tangan ke dagunya. “Di mana?”
“Di situ. Dan di rahang. Dan—” Aku menunjuk bibirnya. “Itu jelas.”
Ia mengusap dagunya dengan punggung tangan. Lipstikku menempel di punggung tangannya. Ia menatap noda merah itu, lalu menatapku, dan ada sesuatu di matanya yang membuat tawaku berhenti.
“Biarin,” katanya.
“Biarin?”
“Biarin aja.”
Ia melangkah mendekat lagi. Kali ini aku tidak bersandar ke meja. Aku melangkah menyambutnya. Ia memelukku. Bukan ciuman, hanya pelukan, lengannya melingkar di punggungku dan menarikku ke dadanya. Wajahku di lehernya. Bau asap kayu dan sabun mandi dan, samar sekali, daun salam.
Aku memejamkan mata.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali seseorang memelukku seperti ini. Bukan pelukan sosial di pesta, yang berlangsung dua detik dan diakhiri tepukan di punggung. Pelukan yang tidak punya batas waktu. Pelukan yang berkata aku di sini, dan aku nggak buru-buru pergi.
Mungkin Eyang. Mungkin sebelum umur dua belas.
“Jadi,” bisikku ke lehernya. “Kita apa sekarang?”
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya mengusap punggungku, pelan, naik turun.
“Kamu mau,” katanya akhirnya, dengan suara yang sedikit kaku, seperti orang yang mengucapkan kalimat dalam bahasa asing untuk pertama kalinya, “jadi pacar saya?”
Aku menarik kepala dari lehernya dan menatapnya.
“Saya?”
Ia berkedip.
“Kamu baru bilang aku sayang kamu sambil berlutut di lantai, kamu baru cium aku di depan dandang punya Bu Ratih, Dimas baru nangis pakai helm, dan kamu masih pakai saya?”
Telinganya merah. Di bawah nyala api biru, aku bisa melihatnya.
“Kamu mau,” ulangnya, lebih pelan, “jadi pacar aku?”
Aku menatapnya lama. Laki-laki ini. Laki-laki dengan kapalan di telunjuk dan luka panjang di lengan kiri dan dua puluh satu tahun yang ia habiskan untuk orang lain. Laki-laki yang memasak rasa yang sudah sepuluh tahun hilang dari hidupku, dan memberikannya padaku dalam pincuk daun pisang.
“Itu pertanyaan bodoh,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena jawabannya sudah jelas dari malam aku pesan kursimu dua puluh dua malam.”
“Itu bukan jawaban.”
“Iya, Matahari.” Aku mencium sudut bibirnya, singkat. “Iya.” Sudut bibir yang satunya. “Iya.” Bibirnya, sekali, ringan. “Iya.”
Ia tersenyum di bawah ciumanku. Aku merasakannya.
Kami makan garang asem itu bersama, setelahnya. Pincuk kedua, yang masih hangat di dandang. Duduk berdua di kursi nomor satu dan nomor dua di chef’s table, di bawah satu lampu gantung, dengan satu sendok untuk masing-masing.
Ia menyisihkan rawit utuh ke sisiku.
“Yang berani boleh gigit,” katanya.
Aku menggigitnya. Pedasnya menyerang lidahku seperti ledakan, dan aku terbatuk, dan mataku berair, dan ia menyodorkan air hangat sambil tertawa. Aku memukul lengannya. Lengan kiri. Tanganku mendarat tepat di atas garis pucat panjang di lengan bawahnya.
Aku berhenti. Tanganku tetap di sana.
Ia tidak menarik lengannya. Tidak seperti di malam kedua. Ia hanya menatap tanganku di atas lukanya, lalu menatapku.
“Suatu hari,” kataku pelan, “kamu cerita.”
“Suatu hari,” katanya.
Itu bukan dulu. Itu janji.
Pukul dua belas kurang sepuluh, ia mengantarku ke mobil. Dua puluh meter. Kali ini tangan kami bertaut sepanjang jalan. Kali ini aku tidak menghitung langkah karena aku tidak ingin dua puluh meter itu habis.
Di depan mobil, aku berbalik. Ia menungguku bicara.
“Besok,” kataku, “aku harus ketemu adikmu di rapat direksi.”
Wajahnya berubah. Sedikit. Bayangan yang lewat cepat di matanya, seperti awan yang lewat di depan matahari.
“Mona,” katanya.
“Mona.” Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Dia akan tahu. Mungkin dia sudah tahu. Dimas mungkin sudah—”
“Dimas janji nggak bilang ke grup chat.”
“Dimas nggak janji nggak bilang ke Mona.”
Ia diam. Ia tahu aku benar.
Aku menatap tangan kami. Aku memikirkan Mona di pantry, dengan mug kosong dan mata yang tajam dan suara yang berkata Kakak saya bukan orang yang Ibu bisa ajak main-main. Aku memikirkan Mona di mobil putih di bawah pohon angsana, mengawasi selama satu jam. Aku memikirkan perempuan berumur dua puluh sembilan tahun yang, menurut kakaknya, menyiapkan bekal setiap pagi sejak ia bisa memegang pisau.
Dia tidak jahat. Dia hanya takut kehilangan satu-satunya orang yang pernah tinggal.
Aku tahu rasanya.
“Besok,” kataku lagi, lebih pelan, “aku harus ngadepin adikmu.”
Matahari menatapku. Lalu ia mengangkat tangan kami yang bertaut, dan mencium punggung tanganku. Singkat. Hangat. Tepat di atas buku jari.
“Kita,” katanya.
“Hm?”
“Bukan aku. Kita yang ngadepin Mona.”
Aku menatapnya. Sesuatu di dadaku, yang tadi sudah terbuka, terbuka sedikit lebih lebar lagi.
Aku belum pernah menjadi bagian dari kita.
“Kita,” ulangku, mencoba kata itu di mulutku. Rasanya aneh. Rasanya seperti rawit utuh: mengejutkan, sedikit menyakitkan, dan membuat mataku berair.
Ia membukakan pintu mobil. Aku masuk. Ia menutupnya. Aku menurunkan jendela.
“Matahari.”
Ia membungkuk.
“Aku sayang kamu,” kataku. Kali ini tanpa air mata. Kali ini dengan suara yang jelas, yang bisa didengar di ruang rapat paling besar di Jakarta.
Ia tersenyum. “Aku tahu.”
“Kamu harusnya jawab aku juga.”
“Aku sudah bilang duluan.”
“Itu nggak dihitung.”
“Kenapa?”
“Karena itu tadi. Ini sekarang.”
Ia tertawa pelan. Lalu ia membungkuk lebih dekat, melewati jendela yang terbuka, dan mencium keningku.
“Aku juga,” bisiknya.
Mobil melaju. Aku tidak menoleh ke belakang, karena kalau aku menoleh, aku akan minta sopirku berhenti, dan aku akan turun, dan aku tidak akan pulang malam ini.
Di jalan Sudirman pukul dua belas malam, ponselku bergetar.
Sasha.
Bu, maaf ganggu jam segini. Dimas baru telepon saya. Dia nangis. Dia nggak bilang kenapa. Dia cuma bilang “Mbak, Bu Tamara menang.” Terus dia nutup telepon.
Bu?
Bu, Ibu menang apa?
Aku menatap layar. Aku menyentuh bibirku, yang lipstiknya sudah hampir habis, sebagian besar berpindah ke dagu dan rahang dan punggung tangan seorang chef di Senopati.
Aku mengetik.
Tolong kosongkan kalender saya besok pagi jam tujuh sampai delapan.
Siap, Bu. Ada apa?
Saya mau bikin kopi di pantry. Dan saya mau menunggu seseorang datang dengan mug kosong.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban reading
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan