← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Thirty Five

Rooftop Tebet

POV: Hari

Lampu gang di Tebet sudah tidak mati lagi.

Aku menyadarinya waktu kami turun dari ojek di mulut gang, pukul sepuluh lewat dua puluh malam hari Minggu. Gang sempit yang sama, dengan selokan yang sama di satu sisi dan deretan rumah petak yang sama di sisi lain. Tapi lampu jalannya baru. Lampu LED putih yang terang, dipasang di tiang besi yang dicat hijau, dengan papan kecil bertuliskan Swadaya Warga RT 07.

Aku berdiri di mulut gang dan menatap lampu itu.

Sebelas tahun lalu, lampu di sini mati. Sudah seminggu mati, dan tidak ada yang membetulkannya. Di bawah lampu yang mati itu, seorang laki-laki yang bau alkohol menarik lengan seragam adikku.

Mona berdiri di sebelahku. Ia memegang rantang besi dua susun dengan dua tangan. Ia juga menatap lampu itu.

“Pak Haji yang pasang,” katanya. “Tiga tahun lalu. Aku yang kirim uangnya.”

Aku menoleh padanya.

“Aku nggak pernah bilang ke Kakak,” katanya, tanpa menatapku. “Aku telepon Pak Haji waktu dapat bonus pertama di Blin. Aku bilang, Pak, tolong lampu gangnya diganti. Yang terang. Yang nggak gampang mati. Pak Haji tanya kenapa. Aku bilang ada anak SMA yang sering pulang les malam.”

“Kamu kenal anak SMA itu?”

“Nggak.” Mona menatap lampu itu. “Tapi pasti ada.”

Aku tidak bisa bicara.

Mona mulai berjalan masuk ke gang. Aku mengikutinya.


Kontrakan kami dulu ada di ujung gang, rumah petak paling belakang, dengan pintu kayu yang catnya biru muda waktu kami tinggal di sana. Sekarang catnya hijau. Ada pot bunga kertas di depannya, dan sepeda anak kecil yang disandarkan ke dinding.

Pak Haji menunggu di depan rumahnya, dua pintu sebelum kontrakan kami. Ia sudah tua sekali sekarang. Rambutnya putih semua, punggungnya membungkuk, dan ia memakai sarung dan peci seperti dulu. Ia menatap kami berdua dengan mata yang menyipit di balik kacamata tebal.

“Lho. Hari. Mona.”

“Pak Haji.” Aku mencium tangannya. Mona juga.

Pak Haji menatapku dari atas ke bawah. Lalu menatap Mona. Lalu menatapku lagi. Lalu ia tertawa, tawa orang tua yang serak dan pecah.

“Dulu kalian kecil-kecil banget. Kurus-kurus. Yang ini,” ia menunjuk Mona, “rambutnya dikepang dua, miring, kepangnya sendiri. Yang ini,” ia menunjukku, “pulang jam dua belas malam bawa mi rebus bungkus, terus naik ke atap kayak kucing.”

“Pak Haji masih inget,” kata Mona.

“Inget lah. Saya yang tagih sewa tiap bulan. Telat terus.” Pak Haji menepuk lenganku, tepat di lengan kiri. “Terus saya yang anter kamu ke puskesmas malam itu. Pakai motor saya. Kamu nggak mau naik. Kamu bilang Adik saya dulu, Pak, adik saya dulu. Padahal yang berdarah kamu.”

Aku diam. Mona di sebelahku juga diam.

Pak Haji menatap kami berdua bergantian. Lalu ia mengambil seikat kunci dari saku sarungnya dan memberikannya kepadaku.

“Kontrakannya kosong sekarang. Penyewa yang baru pulang kampung, Lebaran. Tangganya masih sama. Atapnya masih sama.” Ia menepuk tanganku yang memegang kunci. “Genteng-genteng bekasnya juga masih di sana. Saya nggak pernah buang. Saya pikir, siapa tahu kalian balik.”


Tangga besi berkarat ke atap masih di tempat yang sama, menempel di dinding belakang kontrakan. Lebih berkarat sekarang. Satu anak tangga di tengah sudah patah, dan seseorang menggantinya dengan papan kayu yang diikat kawat.

Aku naik duluan. Aku mengulurkan tangan ke bawah. Mona menyerahkan rantang dulu, lalu meraih tanganku. Aku menariknya naik.

Atap kontrakan itu datar, dari beton yang sudah retak di beberapa tempat. Tumpukan genteng bekas masih di sudut yang sama, ditutup terpal biru yang sudah sobek. Antena televisi tua yang sudah tidak berfungsi. Tali jemuran yang kosong.

Dan di bawah, di sekeliling kami, Jakarta.

Lampu-lampu Tebet. Lampu-lampu Kuningan di kejauhan, gedung-gedung tinggi yang dulu terlihat seperti istana dari atap ini. Salah satunya, gedung tempat Mona sekarang bekerja di lantai dua puluh enam. Aku tidak tahu yang mana. Dari sini, semuanya terlihat seperti titik-titik cahaya di kejauhan.

Dulu kami duduk di sini dan menatap lampu-lampu itu dan Mona bertanya, Kak, nanti kalau kita gede, kita punya rumah sendiri, nggak?

Dan aku menjawab, Punya. Kakak janji.

Mona duduk di atas tumpukan genteng, di tempat yang sama dengan dulu. Ia membuka rantang. Susun atas: mi rebus. Masih mengepul. Dengan telur setengah matang, sawi, irisan cabai, dan bawang goreng. Susun bawah: kosong, kecuali dua sendok.

Bukan sendok stainless dari apartemen. Sendok aluminium yang tipis dan sedikit bengkok di gagangnya. Sendok yang dulu kami pakai di sini.

“Kamu masih simpan,” kataku.

“Aku simpan semua.” Mona menuang mi rebus dari rantang ke satu mangkuk plastik besar yang ia bawa di tas. “Sendok, mangkuk, panci kecil yang gosong bawahnya. Semua ada di kardus di bawah kasurku. Kakak nggak tahu.”

Ia meletakkan mangkuk itu di atas genteng di antara kami. Ia menyerahkan satu sendok kepadaku.

Aku duduk di sebelahnya. Di atas genteng bekas yang sama, sebelas tahun lebih tua.

Kami makan.


Mi rebusnya enak. Lebih enak dari mi rebus Pak Darto, karena Mona memakai kaldu ayam yang ia masak sendiri, bukan bumbu bungkus. Tapi rasanya sama. Rasanya seperti malam-malam di atap ini, dengan lampu kota di kejauhan dan angin yang bau got dan gorengan.

Mona menyisihkan telurnya ke sisiku. Seperti dulu.

Aku menatap telur itu. Kuning telurnya setengah matang, oranye, sedikit meleleh ke kuah.

Dulu aku selalu menyisihkannya kembali ke sisi Mona. Aku selalu bilang aku tidak suka telur. Mona selalu memakannya, karena ia percaya. Karena ia umur delapan, sembilan, sepuluh tahun, dan kakaknya tidak pernah bohong.

Malam ini, aku tidak menyisihkannya kembali.

Aku memakannya.

Mona berhenti mengunyah. Ia menatapku.

“Kakak makan telurnya,” katanya.

“Iya.”

“Kakak nggak suka telur.”

“Kakak suka telur, Mon.” Aku menelan. “Kakak selalu suka telur.”

Mona menatapku lama. Lalu matanya mulai berkaca-kaca, dan ia menunduk ke mangkuk, dan bahunya mulai bergetar.

“Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu dari dulu, Kak. Dari umur sepuluh. Aku lihat Kakak ngelirik telurnya tiap kali aku makan.” Ia tertawa, basah. “Tapi aku tetap makan. Karena Kakak bilang nggak suka. Dan aku pikir, kalau Kakak bohong buat aku, aku harus pura-pura percaya. Biar bohongnya Kakak nggak sia-sia.”

Aku menatap adikku. Rambutnya yang hitam lurus, diikat asal. Anting bulan sabit di telinganya. Kaus lamaku yang kebesaran, yang ia pakai malam ini, kaus yang sama yang ia pakai di makan malam bertiga dan di malam-malam ketika ia menunggu aku pulang.

Dua puluh satu tahun, kami saling berbohong untuk saling menjaga. Dan kami berdua tahu. Dan kami berdua pura-pura tidak tahu.


Mi rebusnya habis. Mona meletakkan sendoknya di mangkuk kosong. Bunyi ting aluminium yang tipis.

Ia tidak bicara lama. Ia menatap lampu-lampu Kuningan di kejauhan. Angin malam menerbangkan rambutnya yang keluar dari ikatan.

Lalu ia berkata, tanpa menoleh:

“Aku tahu soal Lyon, Kak.”

Aku berhenti bernapas.

“Dua-duanya,” katanya.

Hening.

Hanya angin, dan bunyi motor yang lewat di gang di bawah kami, dan suara televisi dari rumah tetangga yang memutar sinetron dengan volume terlalu keras.

Aku menatap mangkuk kosong di antara kami. Aku tidak bisa menatap adikku.

“Antoine datang ke kantorku,” lanjut Mona. Suaranya tenang. Datar. Seperti membaca laporan. “Dimas yang kasih alamat. Antoine cerita semuanya. Tawaran yang sekarang. Tawaran yang dulu. Foto di lokermu di hotel.” Ia diam sebentar. “Dia bilang, dua kali dia menolak saya. Dua kali karena kamu.”

Aku menutup mata.

“Semester tiga,” kata Mona. Suaranya mulai pecah. “Aku nggak inget aku nulis itu, Kak. Di pinggir tagihan. Kakak jangan tahu. Aku nggak inget. Aku cuma inget aku ngitung uang sampai ketiduran. Dan pagi-paginya Kakak udah berangkat. Dan aku nggak pernah mikirin kertas itu lagi.” Ia menelan. “Kakak baca, ya?”

Aku membuka mata. Aku menatap lampu-lampu Kuningan.

“Baca,” kataku.

“Terus Kakak naik ke sini.”

“Iya.”

“Terus Kakak robek suratnya.”

“Delapan bagian.”

Mona menoleh padaku. Air matanya mengalir di pipi. Ia tidak mengusapnya.

“Kenapa Kakak nggak bilang?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sudah ditanya pertanyaan itu berkali-kali dalam hidupku. Oleh Pak Darto, waktu aku tidak bilang aku sakit. Oleh Bu Ratih, waktu aku tidak bilang aku lelah. Oleh Tamara, waktu aku tidak bilang soal Lyon yang pertama. Dan setiap kali, aku tidak punya jawaban, karena jawabannya terlalu sederhana dan terlalu besar sekaligus.

“Karena kamu bilang jangan,” kataku akhirnya.

Mona menatapku.

“Kakak jangan tahu,” kataku. “Kamu nulis itu. Kamu nggak mau Kakak tahu kamu siap cuti kuliah. Jadi Kakak pura-pura nggak tahu. Kakak robek suratnya, Kakak kerja lebih lama, dan kamu nggak pernah perlu cuti.” Aku menatap tanganku di pangkuan. “Kakak nggak mau kamu tahu Kakak tahu. Karena kalau kamu tahu, kamu bakal ngerasa bersalah. Dan Kakak nggak mau kamu ngerasa bersalah.”

“Kak—”

“Dan yang kedua,” lanjutku, lebih pelan, “Kakak nggak bilang karena Kakak takut kamu bakal nyuruh Kakak pergi.”

Mona berhenti.

Aku sendiri tidak tahu aku akan mengatakan itu sampai kalimat itu keluar dari mulutku. Tapi begitu keluar, aku tahu itu benar. Sama benarnya dengan kluwek yang harus direndam sebelum dimasak.

Kamu nolak buat dia, atau kamu nolak karena kamu takut?

Pak Gunawan, di kantornya yang kecil, dengan foto hitam putih ibunya di dinding.

“Kakak takut,” kataku. Suaraku pecah. “Kakak takut kalau Kakak bilang ke kamu, kamu bakal bilang pergi, Kak. Dan kalau kamu bilang pergi, Kakak harus pergi. Dan kalau Kakak pergi, Kakak nggak tahu Kakak ini siapa.”

Mona tidak bergerak.

“Dua puluh satu tahun, Mon,” kataku. “Dua puluh satu tahun Kakak jadi orang yang jaga kamu. Bangun jam empat. Kerja enam belas jam. Bawa pulang mi rebus. Tahan cutter pakai lengan.” Aku menatap lengan kiriku. Garis pucat panjang di bawah lampu kota yang samar. “Kakak nggak tahu jadi apa lagi. Kakak nggak pernah belajar jadi apa lagi.”

Air mataku jatuh. Aku tidak sadar kapan mulainya.

Aku tidak menangis di depan Mona. Selama dua puluh satu tahun. Bahkan di pemakaman Ibu. Bahkan di gang gelap. Bahkan waktu tumpeng pahit, aku menangis di kamar mandi.

Malam ini, di atap kontrakan di Tebet, di atas genteng bekas yang sama, aku menangis di depan adikku.

“Kakak pikir Kakak tinggal buat kamu,” bisikku. “Ternyata Kakak tinggal karena Kakak yang takut ditinggal.”


Mona tidak memelukku.

Ia duduk di sebelahku, di atas genteng bekas, dan menatapku menangis. Ia tidak menyentuhku. Ia tidak berkata apa-apa.

Dan aku mengerti kenapa. Karena dulu, waktu ia menangis di pemakaman Ibu, aku juga tidak berkata apa-apa. Aku hanya memeluknya sampai tangisnya habis. Tapi Mona tidak memelukku sekarang, karena ia tahu, entah bagaimana, bahwa aku butuh menangis dulu. Sendirian. Di depannya. Tanpa ada yang menghentikan.

Aku menangis lama. Lampu-lampu Kuningan berkedip di kejauhan, kabur oleh air mata.

Ketika tangisku akhirnya mereda, aku mengusap wajahku dengan punggung tangan dan menatap mangkuk kosong di antara kami. Dua sendok aluminium yang bengkok.

“Mon,” kataku. Suaraku serak.

“Hm.”

Aku menoleh padanya. Adikku. Dua puluh sembilan tahun. Head of Operations. Matanya merah dan basah, tapi ia tidak menangis lagi. Ia menatapku dengan wajah yang sangat tenang. Wajah yang belum pernah kulihat. Wajah seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.

Aku mengulurkan tangan dan menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinganya. Seperti dulu, waktu ia kecil dan kepangnya miring dan rambutnya keluar ke mana-mana.

“Kakak sayang kamu, Mon,” kataku.

Mona menatapku. Bibirnya bergetar.

“Dari dulu,” lanjutku, pelan, “itu cukup buat Kakak. Kamu cukup buat Kakak. Mi rebus satu mangkuk, dua sendok. Atap ini. Lampu kota yang nggak bisa kita beli.” Aku menatap lampu-lampu Kuningan. “Kakak nggak pernah butuh yang lain.”

Mona diam lama.

Lalu ia meraih tanganku. Bukan tangan kanan. Tangan kiri.

Ia membalik tanganku sampai telapak tanganku menghadap ke atas, di atas pahaku. Lalu ia menyingkap lengan kausku, perlahan, sampai siku.

Garis pucat panjang itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu gang baru yang terpantul dari bawah. Dari dekat pergelangan sampai hampir ke siku. Empat belas jahitan. Sebelas tahun.

Mona menatapnya.

“Kak,” katanya. Suaranya pelan. Sangat pelan. Tapi tidak bergetar. “Itu bohong.”

Aku menatapnya.

“Kakak butuh yang lain,” katanya. “Kakak selalu butuh yang lain. Kakak cuma nggak pernah ngizinin diri Kakak butuh.”

Ia meletakkan ujung jarinya di garis pucat itu. Di ujung dekat pergelangan. Dingin. Ringan.

“Sekarang,” katanya, “dengerin aku.”