← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Thirty Eight

Omah Rembulan

POV: Hari

Lyon di bulan Maret bau roti dan sungai.

Aku tiba di sana di akhir musim dingin, dengan ransel hitam, kotak bekal stainless dari Mona yang sudah kosong sejak di atas Laut Arab, dan satu bungkus mi rebus mentah dari Pak Darto yang tidak pernah kubuka. Apartemen studio di arondisemen ketujuh, persis seperti di tab kedua spreadsheet Tamara. Jendela kecil yang menghadap ke atap-atap abu-abu dan cerobong asap. Kompor dua tungku. Kasur yang terlalu pendek untuk kakiku.

Dapur Antoine adalah dunia yang berbeda.

Empat belas koki. Tiga bahasa. Teriakan Oui, Chef! setiap tiga detik. Mentega dalam jumlah yang membuatku bertanya-tanya bagaimana orang Prancis bisa hidup sampai tua. Teknik yang tidak pernah kulihat: saus yang dikurangi sampai seperempat, daging yang dimasak di dalam kantong plastik di air hangat selama tujuh puluh dua jam, adonan yang dilipat dua ratus empat puluh tiga kali.

Minggu pertama, aku membakar tiga kali saus beurre blanc. Minggu kedua, seorang koki dari Marseille menyebutku le petit Javanais dengan nada yang tidak ramah. Minggu ketiga, aku memasak rawon untuk makan malam staf, dengan kluwek yang kubawa diam-diam di koper, dan koki dari Marseille itu menghabiskan tiga mangkuk dan bertanya apakah aku bisa mengajarinya.

Antoine berdiri di ambang pintu dapur waktu itu, dengan tangan di belakang punggung, menatapku dengan senyum orang tua yang sudah menunggu sembilan tahun.

Aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya memberinya semangkuk.


Tamara datang pertama kali di akhir Maret.

Ia turun dari kereta TGV di stasiun Part-Dieu dengan mantel wol cokelat panjang, syal merah, dan koper yang terlalu besar untuk kunjungan empat hari. Rambutnya tergerai di bawah topi baret abu-abu. Lipstik merah. Di udara dingin Lyon, pipinya merah juga.

Ia melihatku di ujung peron. Ia tidak berjalan. Ia berlari. Dengan sepatu bot hak tujuh senti dan koper beroda yang berbunyi keras di atas lantai stasiun, ia berlari dan melompat ke pelukanku, dan aku menangkapnya, dan kopernya terguling, dan seorang bapak tua Prancis di sebelah kami berkata sesuatu yang kedengarannya seperti ah, l’amour, dengan nada orang yang sudah terlalu sering melihat ini di stasiun kereta.

Aku mengajaknya ke pasar Saint-Antoine di tepi sungai Saône, Minggu pagi, seperti yang ia tulis di kolom paling kanan spreadsheet. Ia ingin melihatku menawar keju dengan bahasa Prancis yang kacau.

Bahasa Prancisku memang kacau. Aku menunjuk sebongkah keju Comté dan bilang ce-lui, s’il vous plaît, un peu, petit, dan pedagangnya, perempuan berumur enam puluhan dengan celemek bergaris, menatapku lama dengan alis terangkat. Lalu ia menatap Tamara, yang berdiri di sebelahku dengan tangan menutup mulut, menahan tawa.

Pedagang itu berkata sesuatu dalam bahasa Prancis yang cepat ke Tamara. Tamara menjawab dalam bahasa Prancis yang lancar sekali. Mereka berdua tertawa.

“Dia bilang apa?” tanyaku.

“Dia bilang,” Tamara menyeka sudut matanya, “bahasa Prancismu kayak anak umur tiga tahun. Tapi kamu menatap kejunya kayak menatap perempuan.”

“Kamu jawab apa?”

Tamara mengambil keju yang sudah dibungkus dari tangan pedagang itu. Ia berjinjit dan mencium pipiku, di tengah pasar, di depan pedagang keju dan seorang laki-laki yang sedang memilih zaitun.

“Aku bilang,” bisiknya di telingaku, “dia menatapku dengan cara yang sama. Dan aku nggak keberatan.”


Juni, piknik di tepi sungai Rhône. Aku memasak nasi kuning dengan kunyit yang kubeli di toko Asia di Guillotière, ayam goreng bumbu kuning, dan sambal bajak dengan rawit yang Mona kirim lewat pos, dibungkus tiga lapis plastik dan satu lapis koran. Tamara membawa jus anggur dari Beaujolais. Kami duduk di atas kain batik yang kubawa dari Jakarta, di bawah pohon plane yang daunnya hijau dan lebar, dan orang-orang Prancis yang lewat menatap nasi kuning kami dengan penasaran.

September, ulang tahun Tamara yang ketiga puluh satu. Aku mengatur semuanya, seperti yang ia minta. Aku membawanya ke dapur Antoine setelah restoran tutup. Seluruh brigade menunggu di sana, empat belas koki dengan topi putih, termasuk koki dari Marseille yang sekarang memanggilku mon frère. Mereka menyanyikan Joyeux anniversaire dengan aksen yang berantakan, dan aku keluar dari dapur dengan tumpeng kecil. Nasi kuning berbentuk kerucut, dicetak dengan cetakan aluminium yang Mona kirim lewat pos.

Satu lilin di puncaknya.

Tamara menatap tumpeng itu. Lalu menatapku. Lalu ia menangis di depan empat belas koki Prancis, dan Antoine, dan koki dari Marseille yang ikut menangis.

Desember, Fête des Lumières.

Seluruh Lyon dinyalakan lilin. Di setiap jendela, di setiap ambang pintu, ribuan lilin kecil dalam gelas berwarna, berkedip di malam yang dingin. Gedung-gedung tua di Vieux Lyon disinari proyeksi cahaya warna-warni. Jalanan penuh orang, napas mereka beruap di udara.

Kami berdiri di tangga Fourvière, di atas kota, dengan ribuan lilin di bawah kami seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Tamara menarik syalku. Ia menarikku turun sampai wajahku sejajar dengan wajahnya.

“Kolom paling kanan,” bisiknya. “Kunjungan empat. Masih ingat?”

“Aku mau cium kamu di bawah lampu-lampu itu.”

“Kamu hafal.”

“Aku baca spreadsheet itu tiap malam selama dua minggu sebelum berangkat.”

Ia menatapku. Matanya, di bawah cahaya ribuan lilin, berwarna seperti madu yang dibiarkan di bawah lampu.

Lalu ia menciumku. Di tangga Fourvière. Di bawah lampu-lampu Lyon. Persis seperti yang ia tulis di sel paling kanan, di tab keempat, berbulan-bulan lalu, di malam ia pikir ia akan ditinggal.


Aku pulang ke Jakarta di bulan Februari.

Tiga bulan setelah itu, Omah Rembulan dibuka.

Restorannya di Kemang, di bangunan yang sudah Antoine survei setahun sebelumnya. Rumah tua bergaya Belanda dengan halaman belakang yang ditumbuhi pohon jambu. Kami merenovasinya selama tiga bulan. Lantai teraso kuning seperti pendopo rumah Eyang di Laweyan. Tiang-tiang kayu jati. Dapur terbuka dengan chef’s table delapan kursi.

Di denah yang dulu Antoine tunjukkan padaku, nama restoran ini ditulis dengan pensil, dengan tanda tanya di belakangnya: Rumah Matahari?

Aku menghapus nama itu di bulan kedua di Lyon.

Aku menulis nama baru. Bukan dengan pensil. Dengan pulpen. Tanpa tanda tanya.

Antoine membacanya, menatapku lama, lalu menepuk pipiku dua kali dan berkata, Bien sûr. Tentu saja.


Mona melihat papan nama itu pertama kali di sore hari sebelum pembukaan.

Aku tidak memberitahunya nama restoran. Selama setahun, setiap kali ia bertanya lewat video call, aku bilang rahasia. Ia menebak Rumah Matahari, Dapur Hari, Sekar Kedhaton Dua. Aku bilang tidak untuk semuanya. Ia mengancam akan membuat Pasal Delapan Belas. Aku tetap tidak bilang.

Papan namanya dari kayu jati tua, diukir tangan oleh pengrajin dari Jepara, dipasang di atas pintu masuk restoran. Huruf-hurufnya sederhana, tegak, dicat emas.

OMAH REMBULAN

Mona turun dari mobil Bintang. Prod-1, yang masih belum pernah mogok. Ia berjalan ke halaman depan dengan langkah cepat, dengan blazer kantor dan sepatu hak tujuh senti, karena ia baru pulang dari Singapura dan langsung ke sini dari bandara.

Lalu ia melihat papan nama itu.

Ia berhenti di tengah halaman.

Ia tidak bergerak. Ia menatap papan itu. Lama. Bintang berdiri di belakangnya, dengan tangan di saku celana, dan tidak bicara.

Aku keluar dari pintu restoran. Aku berdiri di ambang pintu, di bawah papan nama itu.

Mona menatapku. Lalu menatap papan nama itu lagi. Lalu menatapku.

Bibirnya bergetar.

“Omah,” katanya. Suaranya pecah. “Rumah.”

“Iya.”

“Rembulan.”

“Iya.”

“Kak.” Air matanya jatuh. “Kakak janji.”

Aku menatap adikku.

Kak, nanti kalau kita gede, kita punya rumah sendiri, nggak?

Punya. Kakak janji.

Di atas atap kontrakan di Tebet. Di atas tumpukan genteng bekas. Dengan mi rebus satu mangkuk, dua sendok, dan lampu kota yang tidak bisa kami beli.

“Kakak janji,” kataku.

Mona berlari ke arahku. Ia memelukku di ambang pintu Omah Rembulan, di bawah papan nama berukir dari Jepara, dan menangis seperti di atap kontrakan di Tebet, seperti di lantai lorong apartemen, seperti di pemakaman Ibu waktu ia delapan tahun.

Tapi kali ini, aku juga tertawa.


Malam pembukaan, chef’s table penuh.

Kursi dua sampai delapan diisi oleh orang-orang yang tidak pernah kubayangkan akan duduk di restoran milikku. Antoine, yang terbang dari Lyon tiga hari sebelumnya, di kursi nomor dua. Richard Morgan, yang terbang dari London, di kursi nomor tiga, duduk di sebelah Antoine dan bicara dalam bahasa Prancis tentang anggur dan pensiun. Pak Gunawan di kursi nomor empat, dengan kacamata yang melorot. Pak Darto di kursi nomor lima, dengan tongkat yang disandarkan ke meja. Raka di kursi nomor enam, yang sudah memotret setiap sudut restoran untuk Instagram-nya. Mona di kursi nomor tujuh. Bintang di kursi nomor delapan, jari kelingkingnya di jari kelingking Mona.

Dan kursi nomor satu.

Di sandaran kursi nomor satu, ada papan kuningan kecil yang dipasang dengan sekrup. Ukirannya sederhana.

Dipesan atas nama Tamara Morgan. Selamanya.

Tamara duduk di kursi itu. Gaun hitam yang jatuh seperti air. Rambut disanggul tinggi. Anting emas putih panjang. Lipstik merah. Merah yang asli. Merah malam pertama.

Ia menatap papan kuningan di sandaran kursinya. Lama. Lalu menatapku.

“Selamanya,” katanya pelan.

“Bu Ratih yang pilih kata-katanya.”

“Bu Ratih di mana?”

Aku menunjuk ke pintu depan. Bu Ratih, dengan kebaya kutubaru berwarna emas, berdiri di sana menyambut tamu dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan oleh profesionalisme dua puluh tahun. Ia pindah ke Omah Rembulan dua bulan lalu. Pak Gunawan yang menyuruhnya. Ratih, kamu sudah dua puluh tahun di sini. Sekarang ikut anak itu. Dia butuh orang yang bisa nyambut tamu pakai bahasa Inggris campur Jawa.

Di sebelah Bu Ratih, di dapur, Dimas. Sous chef Omah Rembulan. Dengan apron baru dan plester bergambar kucing oranye di jari telunjuknya. Ia memakainya lagi.

Dan di pintu belakang, di anak tangga dapur, duduk seekor kucing oranye gemuk yang menatap semua orang dengan pandangan menghakimi. Ia datang dari Senopati bersama Dimas dalam kardus yang dilubangi, karena Dimas menolak pindah tanpa kucing itu.


Aku memasak tujuh hidangan malam itu. Live cooking. Di depan delapan kursi.

Lemper ayam asap dengan teknik pengasapan yang kupelajari di Lyon. Soto bening dengan kaldu yang dikurangi sampai seperempat, seperti saus Prancis. Rawon dengan iga yang dimasak tujuh puluh dua jam di dalam kantong plastik di air hangat. Gudeg nangka muda dengan areh santan yang diemulsi seperti beurre blanc.

Setiap hidangan, aku melirik ke kursi nomor satu. Setiap hidangan, Tamara menatapku balik. Ia tidak menggoda. Ia tidak menjilat sambal dari sendok. Ia tidak menyentuh tanganku waktu aku meletakkan piring.

Ia hanya menatap. Dengan mata hazel yang menyala di bawah lampu gantung. Seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang ia tidak tahu apa.

Hidangan keenam.

Bukan selat Solo. Bukan dessert.

Aku meletakkan piring kecil dari tanah liat di depan kursi nomor satu. Di atasnya, satu pincuk daun pisang. Layu sempurna. Disematkan dengan lidi.

Tamara menatap pincuk itu.

“Garang asem,” katanya pelan.

“Iya.”

“Ini nggak ada di menu.”

“Iya.”

Di sekitar chef’s table, semua orang berhenti bicara. Antoine meletakkan gelasnya. Richard Morgan berhenti di tengah kalimat bahasa Prancisnya. Raka menurunkan ponselnya. Mona menutup mulut dengan dua tangan.

Tamara menatapku. Lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencabut lidi dari pincuk itu dan membuka lipatan daun pisangnya.

Uapnya naik. Daun salam, lima lembar. Gula jawa. Kluwek. Dua rawit utuh.

Dan di tengah garang asem itu, di atas potongan ayam kampung bagian paha, sebuah cincin.

Cincin emas putih yang sederhana, dengan satu batu kecil di tengahnya. Batu berwarna kuning pucat. Warna madu yang dibiarkan di bawah lampu.

Tamara berhenti bernapas.

Aku berjalan memutari meja dapur. Aku berdiri di sebelah kursi nomor satu. Aku berlutut di lantai teraso kuning Omah Rembulan, satu lutut, sama seperti malam garang asem pertama di Sekar Kedhaton, sehingga wajahku sejajar dengan wajahnya.

Ia menatapku. Matanya sudah basah.

“Kamu bawa buku kuponnya?” tanyaku.

Ia menatapku, bingung. Lalu, perlahan, ia membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan buku kecil dengan sampul kertas cokelat dan jahitan benang merah yang miring. Tangannya gemetar.

“Kamu bilang buka waktu kamu pulang,” bisiknya. “Kamu udah pulang tiga bulan. Aku nunggu kamu bilang.”

“Sekarang,” kataku.

Ia membuka buku itu di halaman terakhir. Halaman kedua puluh.

Kupon 20: ____________________ (isi sendiri)

Di atas garis kosong itu, dengan huruf besar yang miring ke kiri, seperti tulisan anak SD, tulisan tanganku. Kutulis di dapur Sekar Kedhaton, setahun yang lalu, malam sebelum aku berangkat ke Lyon.

Menikah denganku.

Tamara menatap tulisan itu.

Lama sekali.

Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku. Air matanya jatuh. Satu, di pipi kiri. Satu, di pipi kanan. Ia tidak mengusapnya.

“Kamu,” katanya, dan suaranya pecah, “nulis ini setahun lalu.”

“Iya.”

“Sebelum Lyon.”

“Iya.”

“Kamu tahu dari setahun lalu.”

Aku menatapnya. Perempuan di kursi nomor satu. Perempuan yang memesan kursi ini dua puluh dua malam berturut-turut. Perempuan yang bilang aku ke sini bukan buat makanannya, Chef, dan aku menjawab tapi Ibu tetap harus bayar makanannya, dan ia tertawa seperti orang yang sudah lama tidak tertawa.

“Kamu ke sini bukan buat makanannya, kan?” tanyaku pelan.

Ia tertawa. Basah. Pecah. Di tengah tangis. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan, seperti malam itu, dan bahunya bergetar.

Lalu aku mengatakannya.

“Aku cinta kamu, Tamara.”

Kalimat itu, yang pertama kali kuucapkan di balkon lantai tiga puluh dua, dengan pisau dari Mona di kursi sebelah dan buku kupon di saku kemejaku. Kalimat yang tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun dalam tiga puluh dua tahun.

Malam ini, aku mengucapkannya di Omah Rembulan. Di rumah yang kujanjikan kepada adikku. Berlutut di depan kursi yang namanya terukir selamanya.

“Kamu pilihan pertamaku,” kataku. “Mau jadi pilihan terakhirku juga?”

Tamara menatapku.

Lalu ia mengangguk. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Cepat, seperti anak kecil.

“Ya,” katanya. “Ya. Ya, Matahari.”

Di dapur, di belakangku, terdengar bunyi logam yang sangat keras. Nampan. Penuh. Jatuh ke lantai teraso.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu itu Dimas.

Tamara mengambil cincin itu dari pincuk garang asem. Ia menyekanya dengan serbet. Ia menyerahkannya padaku. Aku memasangkannya di jari manisnya. Pas. Tentu saja pas. Proyek Matahari punya data ukuran jari semua orang.

Lalu ia memegang wajahku dengan dua tangan dan menciumku. Di chef’s table Omah Rembulan. Di depan Antoine dan Richard Morgan dan Pak Gunawan dan Pak Darto dan Raka dan Bintang.

Dan Mona.

Ketika kami akhirnya terpisah, aku menoleh ke kursi nomor tujuh.

Mona menangis. Bintang di sebelahnya memegang tangannya, tidak lagi jari kelingking, tapi seluruh tangan, jari-jari terkunci.

Mona menatapku. Lalu ia tersenyum. Lesungnya muncul, dalam, tidak disembunyikan.

Ia mengangkat ponselnya. Ia mengetik sesuatu dengan cepat. Ponselku bergetar di saku apron.

Aku membukanya.

Mona 🌙: Pasal Delapan Belas. Pihak Pertama wajib menikah dalam waktu enam bulan. Ini bukan permintaan. Ini perintah adik.

Di bawahnya, satu pesan lagi.

Mona 🌙: Bu Ratih udah nulis di buku tamu. Tinta emas. Aku lihat. Dia tulis satu kata doang.

Aku menoleh ke pintu depan. Bu Ratih berdiri di samping buku tamu Omah Rembulan yang baru, dengan pulpen gel tinta emas di tangan, mengusap matanya dengan ujung kebaya kutubaru berwarna emas.

Di halaman pertama buku itu, di bawah tanggal pembukaan, satu kata. Dalam tinta emas.

Akhirnya.