Chapter Twenty Eight
Pilihan Pertama
POV: Tamara
“Sasha, pakai apronnya.”
Sasha menatap apron putih yang kusodorkan. Apron yang dulu kupakai di les pertama, dengan ujung yang hangus dan noda kunyit di bagian dada.
“Bu, ini jam tujuh malam hari Jumat.”
“Aku tahu jam berapa.”
“Bu, saya punya rencana malam ini. Saya mau tidur.”
“Kamu bisa tidur jam sembilan. Pakai apronnya.”
Sasha memakai apron itu dengan wajah orang yang dipaksa memakai kostum badut di acara ulang tahun anak bosnya. Ia berdiri di tengah ruanganku di lantai dua puluh delapan, di antara meja kerja dan sofa tamu, dengan apron hangus yang terlalu panjang untuk tubuhnya yang mungil.
“Sekarang,” kataku, duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, “kamu Matahari.”
“Bu.”
“Kamu Matahari. Kamu chef. Kamu baru dapat tawaran ke Lyon. Kamu masih ragu.”
“Bu, saya bukan aktor.”
“Kamu lulusan terbaik dari kampus yang namanya kayak merek kopi. Kamu bisa main peran lima menit.”
Sasha menghela napas yang berasal dari jiwanya yang paling dalam. Lalu ia menegakkan badan, menyilangkan tangan di dada, dan memasang wajah yang sangat datar dan sangat serius. Ia menatap lantai.
“Hm,” katanya, dengan suara yang direndahkan satu oktaf.
Aku menatapnya. “Itu Bintang. Bukan Matahari.”
“Bu, saya cuma kenal dua laki-laki yang nggak suka ngomong. Saya campur.”
“Matahari bukan hm. Matahari iya sama nggak. Dan kadang dulu.”
Sasha mengangguk serius. Ia berdeham. “Iya,” katanya, dengan suara rendah.
“Bagus.” Aku memutar laptopku ke arahnya. Di layar, presentasi lima belas slide berjudul PROYEK LYON v2.0: Kenapa Kamu Harus Pergi (dan Kenapa Aku Akan Baik-Baik Saja). “Aku akan presentasi ini malam ini. Ke dia. Di restoran setelah tutup. Kamu dengerin, dan kasih tahu aku di bagian mana dia akan nolak.”
Sasha menatap layar itu. Lalu menatapku.
“Bu,” katanya pelan, keluar dari peran. “Ibu bikin presentasi lima belas slide buat ngeyakinin pacar Ibu pergi ke Prancis setahun.”
“Iya.”
“Biar Ibu ditinggal.”
“Biar dia dapat yang dia pantas dapat.”
Sasha diam lama. Lalu ia melepas apron itu perlahan, melipatnya, dan meletakkannya di sofa di sebelahku.
“Bu,” katanya, “itu hal paling romantis dan paling menyedihkan yang pernah saya lihat.”
Aku tidak sempat presentasi.
Aku datang ke Sekar Kedhaton pukul sepuluh lewat delapan menit dengan laptop di tas dan lipstik merah yang baru kuaplikasikan di mobil. Kucing oranye bergeser dari pintu hijau tanpa perlu ditawar. Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk.
Matahari berdiri di ambang pintu. Ia sudah melepas jas kokinya. Ia memakai kaus hitam dan celana kerja. Rambutnya basah, seperti baru mencuci muka.
Ia tidak tersenyum.
Ia selalu tersenyum waktu membukakan pintu untukku. Kecil, di sudut bibir, tapi selalu ada. Malam ini tidak.
“Hai,” kataku.
“Hai.”
Aku masuk. Dapur sudah bersih. Semua kompor mati. Tidak ada bawang di talenan, tidak ada panci di atas api. Meja stainless di tengah dapur, meja plating yang paling bersih, kosong kecuali satu benda.
Map biru tua.
Aku menatap map itu. Lalu menatapnya.
“Aku punya presentasi,” kataku, mencoba ringan. “Lima belas slide. Ada animasi.”
“Tamara.”
“Slide sembilan ada grafik jumlah penerbangan Jakarta–Paris per minggu. Sasha yang bikin. Warnanya bagus.”
“Tamara.”
Aku berhenti.
Ia berjalan ke meja stainless, mengambil map biru tua itu, dan menatapnya. Lalu ia meletakkannya kembali. Ia menatapku.
“Aku sudah telepon Antoine,” katanya. “Tadi sore.”
Jantungku berhenti sebentar. Lalu berdetak lagi, terlalu cepat.
“Dan?”
“Aku bilang nggak.”
Aku pernah mendengar banyak kata nggak dalam hidupku.
Nggak, dari investor di Singapura yang tidak percaya perempuan berumur dua puluh enam tahun bisa memimpin due diligence. Nggak, dari bank di Tokyo yang menolak memberi pinjaman bridging sebelum Seri C. Nggak, dari ayahku waktu aku umur sebelas dan memintanya datang ke pentas seni di sekolah asrama. Nggak, dari ibuku waktu aku umur dua puluh dan memintanya menunda pemakaman Eyang satu hari supaya aku bisa pulang.
Aku sudah terbiasa dengan nggak. Aku sudah membangun seluruh karierku di atas kemampuan mengubah nggak menjadi iya.
Tapi nggak dari Matahari, di dapur yang kosong, dengan map biru tua di atas meja plating, terasa berbeda.
“Kenapa?” tanyaku.
Suaraku tenang. Aku memastikannya tenang.
Ia tidak menjawab.
“Matahari. Kenapa?”
Ia menatap lantai. Tangannya di saku celana. Bahunya turun, seperti bahu orang yang membawa sesuatu yang berat.
“Kamu sudah lihat spreadsheet-ku,” kataku. “Kamu sudah lihat proyeksinya. Skenario konservatif pun impas di bulan keempat belas. Antoine investor yang bagus. Restorannya dua bintang. Kamu pulang dengan teknik yang nggak dimiliki chef mana pun di Jakarta. Namamu di pintu.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak perlu khawatirin aku. Aku sudah atur jadwal kunjungan. Tiap kuartal. Aku bahkan sudah cek harga apartemen di arondisemen ketujuh. Sasha sudah—”
“Bukan soal kamu.”
Aku berhenti.
Ia mengangkat wajah. Matanya hitam dan dalam, dan di dalamnya ada sesuatu yang belum pernah kulihat. Sesuatu yang lelah. Sangat, sangat lelah. Seperti orang yang sudah memikul karung beras sejak umur sepuluh tahun dan baru menyadari bahwa karung itu tidak akan pernah bisa diturunkan.
“Terus soal apa?” tanyaku.
Ia menatapku lama.
“Mona,” katanya.
Satu kata.
Seperti dulu. Seperti iya. Seperti semua kata pendek yang selalu ia ucapkan, yang selalu berisi lebih banyak dari panjangnya.
Aku menatapnya. Aku menunggu ia menjelaskan. Ia tidak menjelaskan.
“Mona,” ulangku.
“Iya.”
“Mona kenapa?”
Ia diam.
“Mona sakit?”
“Nggak.”
“Mona butuh uang?”
“Nggak.”
“Mona minta kamu jangan pergi?”
“Mona nggak tahu.”
Aku menatapnya. “Mona nggak tahu?”
“Aku belum bilang.”
“Kamu belum bilang Mona soal tawaran ini.” Aku mengulang kalimat itu perlahan, seperti mengulang angka yang tidak masuk akal di laporan keuangan. “Kamu belum bilang Mona, tapi kamu nolak tawaran ini karena Mona.”
“Iya.”
Aku meletakkan tasku di lantai. Dengan sangat pelan. Laptop di dalamnya, dengan presentasi lima belas slide dan grafik penerbangan Jakarta–Paris yang warnanya bagus.
“Matahari,” kataku. Suaraku masih tenang. Aku memaksanya tetap tenang. “Mona dua puluh sembilan tahun.”
“Aku tahu.”
“Mona Head of Operations di perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia.”
“Aku tahu.”
“Mona bikin vendor Cikarang minta maaf tiga kali dalam satu telepon. Mona manjat rak gudang tiga meter pakai sepatu kets. Mona nemuin masalah yang bikin tim analisku pusing sebulan dalam tiga jam.” Suaraku mulai naik. Sedikit. Aku tidak bisa menghentikannya. “Mona negosiasi kontrak dua belas pasal sama aku dan menang di Pasal Sembilan. Mona punya Bintang sekarang. Mona punya karier. Mona punya hidupnya sendiri.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Terus apa masalahnya?”
Kalimat itu keluar lebih keras dari yang kumaksud. Bergema di dapur yang kosong, memantul di dinding stainless dan panci-panci yang tergantung.
Matahari tidak bergerak. Ia tidak membalas dengan suara yang sama kerasnya. Ia hanya menatapku, dan wajahnya tidak berubah, dan itu yang paling menyakitkan. Seperti ia sudah memutuskan sesuatu, dan tidak ada spreadsheet atau presentasi atau grafik penerbangan yang bisa mengubahnya.
“Dia bisa hidup tanpa kamu,” kataku. Lebih pelan sekarang. Hampir memohon. “Dia bisa, Matahari. Dia sudah buktikan itu. Dia bisa hidup tanpa kamu.”
“Bukan itu masalahnya,” katanya lagi.
“Kamu terus bilang bukan itu masalahnya tapi kamu nggak bilang apa masalahnya!”
Ia diam.
Dan di dalam diam itu, aku mendengarnya.
Bukan kata-kata yang ia ucapkan. Kata-kata yang tidak ia ucapkan.
Bukan itu masalahnya.
Masalahnya bukan apakah Mona bisa hidup tanpa dia. Masalahnya adalah ia tidak bisa memilih dirinya sendiri. Masalahnya adalah, ketika ada dua pilihan di depannya, satu untuk dirinya dan satu untuk adiknya, ia akan selalu memilih adiknya. Bukan karena adiknya butuh. Karena ia tidak tahu cara melakukan yang lain.
Dan aku.
Aku ada di mana dalam pilihan itu?
Aku tidak ada di sana.
Aku bukan salah satu pilihan. Aku bahkan bukan pertimbangan. Ia tidak menolak Lyon karena aku. Ia tidak menerima Lyon karena aku. Aku hanya berdiri di pinggir, dengan presentasi lima belas slide dan jadwal kunjungan tiap kuartal dan catatan di kolom paling kanan spreadsheet tentang Fête des Lumières, menunggu dipertimbangkan.
Seperti dulu. Seperti selalu.
Ayahku memilih kerjaannya. Ibuku memilih hidup barunya. Laki-laki di London memilih perempuan yang lebih mudah. Dan Matahari memilih adiknya.
Bukan karena aku kurang. Karena aku bukan yang pertama.
Aku tidak pernah yang pertama.
“Tamara.”
Aku tidak sadar aku sudah mundur dua langkah. Punggungku menyentuh rak panci di dinding. Salah satu panci berdentang pelan.
“Tamara, kamu kenapa?”
Aku menatapnya. Laki-laki yang memasak garang asem Eyang dengan dandang pinjaman dan gula jawa. Laki-laki yang menggenggam tanganku tujuh jam waktu aku demam. Laki-laki yang bilang aku cinta kamu di balkon lantai tiga puluh dua.
Laki-laki yang, di malam itu, waktu aku bilang aku nggak pernah jadi pilihan pertama siapa pun, tidak menjawab. Hanya menggenggam tanganku.
Aku dulu pikir itu karena ia tidak perlu menjawab. Aku dulu pikir genggamannya adalah jawabannya.
Sekarang aku mengerti. Ia tidak menjawab karena ia tahu. Ia mengenal kalimat itu. Ia mengenalnya dari sisi yang lain.
“Kamu tahu,” kataku. Suaraku keluar aneh. Datar. Seperti suara orang lain. “Malam aku demam. Waktu aku bilang aku nggak pernah jadi pilihan pertama siapa pun.”
Ia diam.
“Kamu nggak jawab.” Aku menatapnya. “Kamu cuma pegang tanganku. Aku pikir itu cukup. Aku pikir kamu nggak perlu bilang apa-apa.”
“Tamara—”
“Kamu nggak jawab karena kamu tahu jawabannya.” Aku menelan. Tenggorokanku sakit. “Kamu tahu aku bukan pilihan pertamamu. Kamu tahu dari awal. Mona pilihan pertamamu. Mona selalu pilihan pertamamu. Dan aku—”
Aku berhenti. Aku tidak bisa menyelesaikannya.
Matahari melangkah ke arahku. Satu langkah. Tangannya terangkat, seperti mau menyentuh wajahku.
Aku menghindar.
Tangannya berhenti di udara. Ia menatap tangannya sendiri, seperti tidak percaya aku baru saja menghindarinya. Lalu ia menurunkannya perlahan.
“Bukan begitu,” katanya pelan.
“Terus gimana?”
“Aku nggak bisa jelasin.”
“Coba.”
Ia diam lama. Ia menatap lantai, ke ubin putih yang dipel Dimas setiap malam. Rahangnya mengencang. Aku melihat ia mencari kata. Aku melihat ia tidak menemukannya.
“Mona,” katanya akhirnya, “Mona nggak punya siapa-siapa selain aku. Dari dulu.”
“Mona punya Bintang. Mona punya karier. Mona punya—”
“Kamu nggak ngerti.”
Kalimat itu menghantamku seperti pintu yang dibanting.
Kamu nggak ngerti.
Aku menatapnya. Ia menatapku balik, dan aku melihat ia menyesal begitu kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku melihat ia mau menariknya kembali. Tapi kalimat itu sudah di udara, di antara kami, seperti asap dari kaldu yang gosong.
“Iya,” kataku pelan. “Aku nggak ngerti.”
Aku membungkuk dan mengambil tasku dari lantai.
“Aku nggak ngerti,” ulangku, “karena aku nggak pernah punya siapa pun yang milih aku kayak kamu milih Mona.”
“Tamara.”
“Aku nggak pernah punya kakak yang berdarah buat aku. Aku nggak pernah punya adik yang bikin bekal buat aku setiap pagi selama delapan belas tahun. Aku nggak pernah punya siapa pun yang bakal nolak dua bintang Michelin buat aku.” Suaraku pecah. Aku tidak peduli. “Jadi iya. Aku nggak ngerti. Kamu benar.”
Aku berjalan ke pintu hijau.
“Tamara, tunggu.”
Aku berhenti, tanganku di gagang pintu. Aku tidak berbalik.
Aku mendengar langkahnya di belakangku. Ia berhenti satu meter dariku. Aku bisa merasakannya, kehangatannya di punggungku, seperti di les pertama waktu ia berdiri di belakangku dan memandu tanganku di atas pisau.
“Jangan pulang kayak gini,” katanya. “Tolong.”
Aku menutup mata.
Suaranya. Suara yang sama yang berbisik aku sayang kamu sambil berlutut di lantai teraso, di malam garang asem. Suara yang dulu membuka sesuatu di dadaku yang sudah terkunci sejak umur dua belas.
Malam ini, suara itu tidak membuka apa pun.
“Aku tahu,” kataku, tanpa berbalik. “Kamu sayang aku.”
Aku membuka pintu.
“Tapi kamu sayang dia duluan.”
Aku tidak menunggu ia menjawab. Aku tidak menunggu ia mengantarku dua puluh meter ke parkiran. Aku berjalan sendiri, di gang gelap di samping gedung, dengan sepatu hak yang berbunyi keras di atas aspal.
Kucing oranye duduk di anak tangga di sebelah pintu hijau. Ia menatapku lewat. Untuk pertama kalinya, ia tidak menguap. Ia hanya menatap.
Aku masuk ke mobil. Sopirku menoleh, melihat wajahku, dan tidak bertanya apa pun. Ia menyalakan mesin.
Mobil melaju keluar dari parkiran. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku menatap lurus ke depan, ke jalan Senopati yang ramai dengan lampu-lampu bar dan klakson dan orang-orang yang tertawa di trotoar.
Di Sudirman, aku mengeluarkan laptop dari tasku.
Aku membuka presentasi itu. Lima belas slide. PROYEK LYON v2.0: Kenapa Kamu Harus Pergi (dan Kenapa Aku Akan Baik-Baik Saja).
Slide terakhir, slide kelima belas, isinya cuma satu kalimat. Kalimat yang kutulis jam dua pagi, setelah Sasha pulang, dengan font yang paling sederhana dan ukuran yang paling besar:
Kamu nggak perlu milih antara aku dan mimpimu. Kamu boleh dapat dua-duanya.
Aku menatap kalimat itu lama.
Lalu aku menekan hapus. Slide demi slide. Grafik penerbangan Jakarta–Paris. Jadwal kunjungan tiap kuartal. Proyeksi restoran di Kemang. Semuanya.
Ketika aku sampai di slide terakhir, jariku berhenti di atas tombol.
Aku tidak bisa menghapusnya.
Aku menutup laptop.
Ponselku bergetar. ☀️ Matahari.
Aku tidak membukanya.
Ponselku bergetar lagi. Lagi. Lagi.
Aku mematikan ponselku sepenuhnya, dan menyandarkan kepala ke jendela mobil, dan menatap lampu-lampu Sudirman yang bergerak mundur.
Aku tidak menangis. Aku tidak menangis di depan orang, dan sopirku ada di depan.
Di apartemenku di lantai tiga puluh dua, di kamar mandi dengan pintu terkunci dan keran air yang menyala penuh supaya tidak ada yang mendengar, aku duduk di lantai ubin yang dingin dengan punggung bersandar ke bak mandi.
Lalu aku menangis.
Lipstik merahku, yang kuaplikasikan dengan sangat hati-hati di mobil empat jam yang lalu, kuhapus dengan punggung tanganku. Merah itu menempel di kulitku, seperti noda yang tidak mau hilang.
Di cermin di atas wastafel, perempuan berumur tiga puluh tahun dengan mata merah dan bibir pucat dan rambut berantakan menatapku balik.
Aku tidak mengenalinya.
Atau mungkin aku mengenalinya terlalu baik. Gadis dua belas tahun di sekolah asrama di Inggris, yang menunggu di jendela setiap hari Minggu, menunggu mobil yang tidak pernah datang.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama reading
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan