← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Twenty Three

Belum

POV: Mona

Sabtu pagi pukul delapan, Tamara Morgan duduk di meja dapur apartemen kami dengan rambut digelung asal, kaus kebesaran bertuliskan OXFORD UNIVERSITY ROWING CLUB yang lehernya sudah melar, dan secangkir kopi hitam yang dibuatkan Kakak sebelum Kakak berangkat ke pasar.

Ia sudah tiga kali datang sarapan di Sabtu pagi bulan ini. Kebiasaan baru. Kebiasaan yang tidak ada di kontrak mana pun, dan tidak ada yang meminta izin untuk memulainya, dan entah bagaimana tidak ada yang keberatan.

Aku sedang menyiapkan bekal. Sabtu Kakak tetap kerja, restoran tetap buka. Nasi, telur dadar dengan irisan cabai, tumis buncis, sambal bajak.

Tamara memperhatikanku dari balik cangkir kopinya. Ia memperhatikan dengan cara yang sama ia memperhatikan laporan keuangan: teliti, diam, mencatat.

“Mona.”

“Hm.”

“Kamu potong buncisnya miring.”

“Iya.”

“Kenapa miring?”

“Biar bumbunya nempel lebih banyak. Permukaannya lebih luas.”

Ia mengangguk perlahan. “Telurnya juga. Kamu kocok pakai garpu, bukan whisk.”

“Whisk bikin terlalu banyak udara. Telurnya jadi kembung, terus kempes. Pakai garpu, telurnya padat.”

“Dan cabainya kamu masukin sebelum telur dituang, bukan sesudah.”

“Biar cabainya kena minyak dulu. Wanginya keluar.”

Tamara meletakkan cangkir kopinya. Ia menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat serius.

“Ajari aku.”

Tanganku berhenti di atas wajan.

“Ajari apa?”

“Bekal ini.” Ia menunjuk kotak-kotak di meja. “Cara kamu bikinnya. Buncis miring, telur pakai garpu, cabai duluan. Semuanya. Aku mau bisa bikin buat dia.”

Aku menatap wajan. Telur dadar di dalamnya mulai berbuih di pinggir, tanda sudah waktunya dibalik.

Aku tidak membaliknya.

Bekal ini.

Aku sudah membuatnya sejak umur sebelas tahun. Pertama kali dengan nasi sisa semalam dan telur yang kugoreng sampai pinggirnya gosong, kumasukkan ke kotak plastik bekas es krim, kuberikan ke Kakak waktu ia berangkat ke warung Pak Darto jam tiga sore. Kakak membuka kotak itu di depanku, melihat telur gosong itu, dan tersenyum, dan berkata makasih, Mon, dan membawanya.

Delapan belas tahun. Setiap pagi. Kotak plastik bekas es krim berganti jadi kotak bekal plastik dari pasar, berganti jadi kotak bekal stainless yang kubeli dengan gaji pertamaku. Telur gosong berganti jadi telur dadar yang sempurna. Tapi tanganku selalu sama. Tanganku yang menyiapkannya. Untuk dia.

Kakak sudah punya Tamara. Kakak sudah punya kursi nomor satu yang dipesan setiap malam. Kakak sudah punya balkon lantai tiga puluh dua dan buku kupon dengan jahitan miring. Kakak sudah punya seseorang yang bisa merawatnya waktu sakit, seseorang yang ia peluk, seseorang yang ia bilang aku cinta kamu. Aku tahu soal itu. Kakak tidak bilang, tapi aku tahu. Ia pulang malam itu dengan wajah seperti orang yang baru saja melihat matahari terbit untuk pertama kali.

Bekal ini satu-satunya hal yang masih milikku.

“Belum,” kataku.

Telur di wajan mulai gosong di pinggir. Aku membaliknya, terlambat. Sisi bawahnya cokelat tua.

Tamara diam.

Aku menunggu ia menawar. Aku menunggu ia mengeluarkan pulpen merah, atau argumen, atau tiga lapis logika yang akan membuatku kalah seperti di ruang rapat. Aku sudah siap. Aku sudah memikirkan jawabanku.

Ia tidak menawar.

“Oke,” katanya.

Aku menoleh.

Ia menatapku dari balik cangkir kopinya dengan mata hazel yang tenang. Tidak kecewa. Tidak tersinggung. Hanya mengerti.

“Aku tunggu,” katanya.

“Mungkin lama.”

“Aku tahu.” Ia menyesap kopinya. “Aku pernah nunggu sepuluh tahun buat garang asem. Aku bisa nunggu buat telur dadar.”

Aku menatapnya. Lalu aku kembali ke wajan, mengangkat telur yang pinggirnya gosong itu, dan memasukkannya ke kotak bekal Kakak. Kakak tidak akan protes. Kakak tidak pernah protes.

“Telurnya gosong,” kata Tamara.

“Kakak suka yang gosong.”

“Itu bohong.”

“Iya,” kataku. “Itu bohong. Tapi Kakak nggak akan bilang.”

Tamara tertawa pelan. Ia tidak bertanya lagi.


Kencan pertamaku dengan Bintang tertunda dua kali.

Sabtu pertama, waktu ia mengajakku ke toko buku di Cikini sebagai pengembalian kotak bekal dengan nilai tambah, Tamara demam tiga puluh sembilan koma empat. Aku menghabiskan malam itu mengirim empat belas pesan ke Kakak tentang parasetamol dan kompres. Aku mengirim pesan ke Bintang pukul tujuh malam: Maaf. Darurat medis. Bukan aku. Ditunda.

Balasannya: Dimengerti. Semoga cepat sembuh. Kotak bekalmu aman di mejaku. Aku sudah cuci dua kali.

Sabtu kedua, aku di Surabaya. Dengan Tamara. Dengan dokter gigi lima ribu. Aku mengirim pesan dari bandara: Maaf lagi. Dinas. Ditunda lagi.

Balasannya: Dimengerti. Aku tahu jadwalmu. Aku punya akses ke kalender bersama. Sabtu ketiga kosong.

Lalu, satu detik kemudian:

Kotak bekalmu masih aman. Aku sudah cuci empat kali.

Sabtu ketiga adalah hari ini.


Aku berdandan selama satu jam dan lima belas menit.

Kakak pulang dari restoran untuk istirahat siang pukul dua, berdiri di ambang pintu kamarku, dan menatapku dengan alis terangkat sangat tinggi.

Aku sedang berdiri di depan cermin dengan tiga gaun di kasur, dua pasang sepatu di lantai, dan satu tabung lipstik di tangan. Gaun yang akhirnya kupilih adalah terusan linen berwarna hijau sage, panjang sampai betis, dengan kancing di depan dan ikat pinggang tipis. Rambutku kubiarkan tergerai, tapi kubuat sedikit bergelombang di ujung dengan catok, sesuatu yang tidak pernah kulakukan untuk ke kantor. Anting bulan sabit. Sepatu flat cokelat, karena toko buku butuh banyak berdiri.

Aku cantik. Aku tahu aku cantik. Wajahku di cermin terlihat lebih lembut dari biasanya, karena eyeliner-ku kubuat lebih tipis dan lipstikku kupilih yang berwarna mawar. Bukan wajah Head of Operations. Wajah perempuan yang mau ke toko buku hari Sabtu.

“Kamu dandan,” kata Kakak dari ambang pintu.

“Nggak.”

“Ada tiga gaun di kasur.”

“Aku lagi beres-beres lemari.”

“Kamu pakai catok.”

“Rambutku kusut.”

“Rambutmu nggak pernah kusut. Rambutmu lurus kayak sapu ijuk.”

Aku menoleh tajam. “Kak.”

Kakak tersenyum. Senyum yang sangat menyebalkan. Senyum yang sama persis dengan senyumku waktu aku memergoki noda lipstik di kerahnya.

“Bintang suka warna apa?” tanyanya.

“Pasal Lima Belas, Kak.”

“Pasal Lima Belas itu soal kotak bekal. Ini soal gaun.”

“Pasal Lima Belas revisi. Mencakup segala hal yang berkaitan dengan Pihak Ketiga dan rekan kerja Pihak Ketiga.”

“Kapan revisinya?”

“Barusan.”

Kakak bersandar ke kusen pintu, tangan terlipat di dada, dan menatapku dengan ekspresi yang membuatku ingin melempar sepatu ke arahnya. Ekspresi kakak yang baru menemukan bahwa adiknya akhirnya bisa digoda.

“Dia jemput jam berapa?” tanyanya.

“Jam tiga.”

“Pulang jam berapa?”

Aku menatapnya. “Kak. Jangan.”

“Kakak cuma nanya.”

“Kakak bukan cuma nanya. Kakak lagi ngelakuin yang aku lakuin ke Kakak.”

“Pasal Satu,” kata Kakak dengan wajah sangat serius. “Pihak Kedua wajib memulangkan Pihak Ketiga selambat-lambatnya—”

Aku melempar sepatu. Sepatu flat cokelat. Kakak menangkapnya dengan satu tangan, karena ia menangkap panci panas setiap hari dan sepatu flat bukan tantangan.

Ia meletakkan sepatu itu di lantai dengan rapi. Lalu ia tertawa, dan pergi ke dapur, dan aku mendengarnya bersenandung.


Bintang datang pukul tiga kurang dua menit.

Aku tahu karena Kakak yang membukakan pintu, dan aku mendengar percakapan mereka dari kamar, karena dinding apartemen kami, seperti dinding kontrakan di Tebet dulu, tidak setebal yang seharusnya.

“Selamat sore,” kata Bintang.

“Sore.”

Hening.

“Saya Bintang. Kita pernah salaman di pesta.”

“Saya ingat.”

Hening lagi. Lebih lama. Aku membayangkan mereka berdua berdiri di ambang pintu, dua laki-laki yang sama-sama tidak suka bicara, saling menatap.

“Ini,” kata Bintang. Aku mendengar bunyi kantong plastik. “Kotak bekal Mona. Sudah saya cuci. Lima kali.”

“Lima kali?”

“Saya nggak tahu standar kebersihan yang dipakai Mona. Saya ambil yang paling aman.”

Hening. Lalu, sangat samar, aku mendengar sesuatu yang mirip tawa tertahan dari Kakak.

“Mau ke mana?” tanya Kakak.

“Toko buku. Cikini.”

“Sampai jam berapa?”

Aku menutup mataku. Kakak. Kakak.

“Toko bukunya tutup jam sembilan,” kata Bintang dengan nada yang sangat tenang, seperti menjelaskan spesifikasi server. “Setelah itu mungkin makan malam. Pulang jam sembilan tiga puluh.”

“Jam sembilan.”

“Jam sembilan lima belas. Toko bukunya tutup jam sembilan, dan jalan dari Cikini ke Kalibata di hari Sabtu malam butuh minimal empat belas menit.”

Hening yang sangat panjang.

“Jam sembilan lima belas,” kata Kakak akhirnya. “Final.”

“Deal.”

Aku keluar dari kamar sebelum mereka sempat menandatangani sesuatu.

Bintang berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana chino abu-abu, dan sepatu kets yang terlalu bersih untuk dipakai sehari-hari. Rambutnya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak berantakan. Disisir. Rapi. Dengan sedikit gel. Kacamatanya bersih mengilap. Di tangannya, kantong plastik berisi kotak bekalku.

Ia melihatku.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku, dari rambut bergelombang, ke gaun hijau sage, ke sepatu flat cokelat, dan kembali ke wajahku. Lama. Lebih lama dari yang sopan.

Di belakangnya, Kakak berdiri dengan tangan terlipat di dada dan senyum yang sangat, sangat menyebalkan.

“Hai,” kataku.

Bintang menelan. Aku melihat jakunnya bergerak.

“Hm,” katanya.

Itu bukan jenis pertama. Itu bukan jenis kedua. Itu jenis ketiga, yang belum pernah kudengar sebelumnya.


Mobil Bintang adalah Corolla tua tahun dua ribu satu, berwarna abu-abu, sangat terawat, dan di dasbornya ada stiker kecil bertuliskan PROD-1.

“Kenapa Prod-1?” tanyaku waktu masuk.

“Itu server produksi pertama yang aku bangun waktu kuliah. Satu-satunya yang nggak pernah down.” Ia menyalakan mesin. “Mobil ini juga nggak pernah mogok. Jadi aku kasih nama yang sama.”

Aku menatapnya. “Kamu kasih nama mobil kayak server.”

“Aku kasih nama semua hal yang bisa diandalkan kayak server.”

“Termasuk orang?”

Ia menginjak gas. Mobilnya melaju keluar dari parkiran apartemen dengan sangat mulus.

“Belum pernah,” katanya, menatap jalan. “Belum ketemu orang yang bisa diandalkan kayak server.”

Lalu, setelah lampu merah pertama:

“Sampai sekarang.”

Aku menatap jalan di depan. Wajahku panas. Aku menyalahkan AC mobil yang ternyata tidak terlalu dingin.


Toko bukunya kecil. Toko buku bekas di lantai dua sebuah ruko tua di Cikini, dengan tangga kayu yang berderit dan rak-rak yang menjulang sampai langit-langit, penuh buku-buku dengan sampul yang sudah menguning. Di pojok ada kafe kecil dengan empat meja dan mesin kopi tua yang suaranya seperti kereta uap.

Bintang tahu tempat ini. Ia menyapa pemiliknya, seorang bapak tua berkacamata tebal, dengan nama.

Lalu ia mulai membaca.

Bukan membaca buku. Membaca segalanya. Ia mengambil buku dari rak, membalikkannya, dan membaca sinopsis di sampul belakang dari awal sampai akhir dengan konsentrasi penuh. Lalu ia membaca halaman hak cipta. Lalu ia membaca tahun cetakan. Lalu ia memeriksa jenis kertas dengan ujung jarinya.

“Ini,” katanya, mengangkat sebuah novel lama dengan sampul biru pudar, “cetakan ketiga. Tapi fontnya beda dari cetakan pertama. Penerbitnya ganti font di tahun sembilan puluh tujuh.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Kerning-nya lebih rapat. Lihat.” Ia menunjuk sebuah kata di halaman pertama. “Jarak antara huruf V dan A di sini terlalu dekat. Itu kesalahan umum font digital awal.”

Aku menatap huruf V dan A yang ia tunjuk. Aku tidak melihat bedanya.

“Bintang.”

“Hm.”

“Kita di toko buku. Kamu baca kerning.”

“Iya.”

“Bukan bukunya.”

“Bukunya juga. Nanti.” Ia mengambil buku lain. Membalikkannya. Membaca sampul belakang dengan wajah sangat serius. Lalu ia menunjuk sesuatu di sana. “Sinopsis ini punya tiga kesalahan ejaan. Dan satu kalimat tanpa predikat.”

Aku menatapnya. Laki-laki ini. Head of Engineering. Rambutnya disisir rapi untuk kencan pertama, kacamatanya mengilap, kemejanya disetrika sampai lipatannya tajam. Dan ia berdiri di toko buku bekas di Cikini pada Sabtu sore, mengoreksi tata bahasa sinopsis novel tahun sembilan puluhan dengan ketelitian seperti mengaudit kode produksi.

Aku tertawa.

Tawa yang keluar tanpa izin. Keras, tiba-tiba, dari perut, sampai pemilik toko di belakang meja kasir mengangkat wajah dari koran. Aku tertawa sampai harus bersandar ke rak buku. Aku tertawa sampai mataku berair. Aku tertawa seperti waktu Kakak bilang Kakak cuma kasihan sama sapinya di pesta Seri C, seperti waktu Tamara bilang itu skandal rantai pasok.

Aku merasakan lesung di pipiku. Dalam. Tidak kusembunyikan.

Bintang berhenti membaca.

Ia menurunkan buku di tangannya perlahan. Ia menatapku. Bukan dengan wajah datarnya. Bukan dengan hm jenis mana pun. Ia menatapku dengan wajah yang sangat diam, sangat terbuka, seperti orang yang menatap langit malam dan baru melihat bintang jatuh.

Ia tidak bilang apa-apa.

Ia tidak bilang kamu cantik waktu ketawa. Ia tidak bilang itu lesung ketiga. Ia tidak menghitung dengan suara keras.

Ia hanya menatap. Lama. Diam-diam. Seperti menyimpan sesuatu di tempat yang aman.

Tawaku mereda. Aku menyeka mataku dengan ujung jari.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu ngelihatin aku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Ia diam sebentar. Lalu ia meletakkan buku itu kembali ke rak, dengan sangat rapi, sejajar dengan buku di sebelahnya.

“Monitoring,” katanya.


Ia membelikanku satu buku.

Aku tidak memintanya. Ia mengambilnya dari rak di bagian belakang toko, di bawah tulisan tangan MASAKAN & RUMAH TANGGA, dan membawanya ke kasir tanpa menunjukkannya padaku. Pemilik toko membungkusnya dengan kertas cokelat dan mengikatnya dengan tali rafia.

Kami duduk di kafe kecil di pojok. Ia memesan kopi untukku tanpa bertanya. Hitam, satu gula. Dan kopi untuk dirinya sendiri, hitam tanpa gula.

Ia menyodorkan bungkusan kertas cokelat itu ke seberang meja.

Aku membukanya.

Buku masak tua dengan sampul bergambar ilustrasi mangkuk sup, warnanya sudah pudar. Judulnya ditulis dengan huruf sambung yang kuno:

Masakan untuk Diri Sendiri: Seratus Resep Satu Porsi.

Aku menatap judul itu.

Lalu aku menatap Bintang. Ia sedang menyesap kopinya, menatap ke luar jendela, ke jalan Cikini yang mulai gelap.

“Kamu masak buat kakakmu delapan belas tahun,” katanya tanpa menoleh. “Kamu masak buat Bu Tamara sekarang. Kamu masak buat aku.” Ia meletakkan cangkirnya. “Kamu pernah masak buat diri sendiri?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Aku memikirkan sebelas malam makan dari kotak bekal dingin di depan televisi. Bekal yang kubuat untuk orang lain, yang tidak jadi kuberikan, yang akhirnya kumakan sendiri karena tidak ada pilihan lain.

Aku tidak pernah masak untuk diriku sendiri. Tidak sekali pun. Bahkan waktu aku lapar dan sendirian, aku masak dengan porsi dua, karena tanganku tidak tahu cara memasak untuk satu orang.

“Nggak,” kataku. Suaraku keluar kecil.

Bintang mengangguk. Ia tidak berkata apa-apa lagi soal itu. Ia hanya membuka buku itu di halaman pertama, memutarnya supaya menghadapku, dan menunjuk sesuatu yang ditulis tangan di sana dengan tinta biru yang sudah pudar. Tulisan pemilik sebelumnya, mungkin puluhan tahun lalu.

Untuk diriku. Karena aku juga pantas.

Aku menatap tulisan itu lama.

Mataku panas. Aku menatap ke luar jendela, ke lampu-lampu Cikini yang mulai menyala, supaya Bintang tidak melihat. Tapi Bintang selalu melihat. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendorong kopinya sedikit, sampai cangkirnya menyentuh tanganku di atas meja, dan membiarkannya di sana.

Kehangatan cangkir kopi itu di punggung tanganku.

Ada orang yang ingin mengurusku. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaan itu. Rasanya seperti mengenakan baju yang ukurannya pas untuk pertama kalinya, setelah seumur hidup memakai baju kebesaran.

“Bintang,” kataku, masih menatap ke luar jendela.

“Hm.”

“Ini kencan?”

“Ini pengembalian kotak bekal dengan nilai tambah.”

“Nilai tambahnya apa?”

Ia diam sebentar. Lalu, dengan nada yang sama sekali datar, seperti membaca laporan status server pukul tiga pagi:

“Aku.”

Aku menoleh.

Ia sedang menatapku. Wajahnya datar, tapi telinganya merah sampai ke ujung. Dan sudut bibirnya, sangat sedikit, hampir tidak terlihat, naik.

Aku tertawa lagi. Lesungku muncul lagi.

Ia menatapnya lagi. Diam-diam. Menyimpannya.


Ia mengantarku pulang. Corolla tua bernama Prod-1 berhenti di depan lobi apartemen kami pukul sembilan lewat tiga belas menit.

“Dua menit lebih awal,” katanya, melirik jam di dasbor.

“Kamu hitung?”

“Kakakmu bilang sembilan lima belas. Final. Aku nggak mau melanggar SLA di kencan pertama.”

“Kamu bilang ini bukan kencan.”

“Aku bilang ini pengembalian kotak bekal dengan nilai tambah.” Ia mematikan mesin. “Nilai tambahnya kencan.”

Aku memeluk buku masak tua itu di dadaku. Aku menatapnya. Ia menatapku. Lampu lobi apartemen membuat bayangan kacamatanya jatuh di pipinya.

Ia tidak menciumku. Ia tidak mencoba. Ia hanya mengangkat tangan, perlahan, dan menyelipkan sehelai rambut bergelombangku yang jatuh ke wajah ke belakang telingaku. Ujung jarinya menyentuh anting bulan sabitku. Berhenti di sana sebentar.

“Bulan,” katanya pelan.

“Hm?”

“Antingmu.”

“Iya.”

“Kamu pakai setiap hari. Lima tahun.” Jarinya turun dari antingku. “Aku selalu mikir, kenapa bulan. Bukan bintang. Bukan matahari.”

“Karena namaku,” kataku. “Mona itu bulan. Kakakku matahari.”

Bintang menatapku lama.

“Kalau gitu,” katanya, “kamu tahu bulan nggak pernah sendirian di langit, kan?”

Aku berhenti bernapas.

“Selalu ada yang nemenin,” lanjutnya. “Kecil. Redup. Nggak ada yang lihat. Tapi selalu di sana. Nunggu matahari terbenam.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menatapnya, dengan buku masak tua di dada dan jantung yang berdetak terlalu keras.

“Selamat malam, Mona,” katanya.

Aku keluar dari mobil. Aku berjalan ke lobi. Aku tidak menoleh ke belakang, karena kalau aku menoleh, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.


Kakak duduk di sofa waktu aku masuk.

Televisi menyala. Tidak ada suaranya. Ia memegang remote dan menatap layar dengan wajah yang sangat serius, seperti sedang menonton berita penting.

Layar itu menampilkan iklan sampo.

“Kakak nunggu?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kakak nonton iklan sampo tanpa suara.”

“Iklannya bagus.”

“Kak.”

Ia menoleh. Ia menatapku. Rambut bergelombang yang sudah sedikit berantakan. Gaun hijau sage. Buku masak tua di pelukanku. Dan wajahku, yang pasti masih merah, yang pasti masih menyimpan sisa lesung di pipi kiri.

Ekspresinya berubah. Dari wajah kakak yang menunggu adiknya pulang, jadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lembut dan bangga dan sedikit sedih, seperti melihat sesuatu yang sudah lama ia tunggu akhirnya terjadi.

“Sembilan lewat empat belas,” katanya.

“Satu menit lebih awal.”

“Dia orang yang tepat waktu.”

“Dia kasih nama mobilnya kayak server.”

Kakak tersenyum. “Kakak suka dia.”

Aku menatapnya. Aku sudah mengusir semua perempuan yang mendekati kakakku selama enam belas tahun. Kakak tidak pernah mengusir siapa pun dari sekitarku. Ia tidak perlu. Selama ini tidak ada siapa pun yang berani mendekat.

Sekarang ada.

Aku berjalan ke dapur. Aku membuka kulkas. Aku mengeluarkan satu butir telur, sedikit nasi sisa, satu batang daun bawang.

Aku membuka buku masak tua itu di halaman yang dilipat sudutnya oleh pemilik sebelumnya. Nasi Goreng Telur, Satu Porsi.

Aku memasaknya. Untuk satu orang. Pertama kalinya dalam hidupku.

Kakak memperhatikanku dari sofa. Ia tidak bertanya. Ia tahu kapan tidak bertanya.

Aku makan nasi goreng itu di meja dapur, sendirian, pukul sembilan lewat tiga puluh malam. Rasanya biasa saja. Sedikit kurang garam.

Tapi itu nasi goreng pertama yang pernah kumasak untuk diriku sendiri, dan aku menghabiskannya sampai butir terakhir.