Chapter Twenty Nine
Dua Kali
POV: Hari
Tamara tidak membalas pesanku selama tiga hari.
Hari pertama, aku mengirim tujuh pesan. Semuanya terkirim. Semuanya dibaca, dua centang biru, tapi tidak satu pun dibalas. Aku menatap dua centang biru itu di layar ponselku setiap lima belas menit, di sela-sela servis, di loker, di motor waktu berhenti di lampu merah.
Hari kedua, aku mengirim tiga pesan. Pesan terakhir berisi foto kursi nomor satu di chef’s table, kosong, di bawah lampu gantung. Tidak ada kata-kata. Dibaca. Tidak dibalas.
Hari ketiga, aku tidak mengirim apa pun. Aku tidak tahu harus mengirim apa.
Kursi nomor satu kosong tiga malam berturut-turut. Bu Ratih tidak mengisinya dengan tamu lain, meski ada daftar tunggu. Setiap malam pukul tujuh, ia menyiapkan satu set alat makan di kursi itu: piring, sendok, garpu, gelas air hangat. Setiap malam pukul sebelas, ia membereskannya lagi tanpa bicara.
Di malam ketiga, Dimas memasak sesuatu yang tidak ada di menu.
Aku menemukannya di sudut dapur pukul sembilan, di depan kompor paling belakang, dengan panci kecil berisi bubur sumsum. Bubur tepung beras dengan santan, disiram kinca gula jawa. Makanan untuk orang sakit. Makanan untuk orang sedih.
“Dim.”
Ia tidak menoleh. “Buat Chef.”
“Aku nggak lapar.”
“Chef nggak makan dari Jumat.” Ia menuang bubur itu ke mangkuk kecil dan menyiramnya dengan kinca. “Chef cuma minum kopi. Empat gelas sehari. Saya hitung.”
“Dim—”
“Ibu saya bilang, bubur sumsum itu buat nyambung hati yang patah.” Dimas meletakkan mangkuk itu di meja stainless di depanku dengan sendok di sebelahnya. “Ibu saya ngarang, kayaknya. Tapi saya percaya.”
Aku menatap mangkuk itu. Lalu menatap Dimas. Matanya merah. Ia tidak menangis, tapi matanya merah.
“Kamu tahu?” tanyaku.
“Seluruh restoran tahu, Chef.” Ia menatap kursi nomor satu yang kosong lewat pass. “Kursinya kosong tiga malam. Chef iris bawang tebal sebelah. Chef lupa kasih garam di sayur lodeh kemarin. Chef nggak pernah lupa garam.”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil sendok dan memakan bubur sumsum itu. Hangat, lembut, manis. Kinca gula jawanya sedikit terlalu kental.
“Enak,” kataku.
“Kincanya kekentalan, Chef. Saya tahu.” Dimas menggosok matanya dengan punggung tangan. “Saya bikin sambil mikirin Chef.”
Malam itu, di loker setelah restoran tutup, aku membuka dompetku.
Di dalamnya ada foto. Foto kecil seukuran KTP, sudah pudar dan sedikit lecek di sudut. Mona umur delapan belas, dengan seragam SMA putih abu-abu, berdiri di depan gerbang sekolah di hari pengumuman kelulusan. Ia tersenyum lebar. Lesungnya dalam. Tangannya memegang amplop putih.
Foto itu diambil seminggu setelah malam di gang. Lenganku masih diperban di balik kemeja waktu aku memotretnya dengan ponsel pinjaman.
Aku menatap foto itu lama.
Lalu aku membiarkan diriku mengingat. Hal-hal yang biasanya kusimpan di tempat yang tidak pernah kubuka, seperti map biru tua di bawah apron cadangan di loker ini.
Dua puluh dua tahun. Atap kontrakan di Tebet. Lampu jalan.
Amplop dari Antoine di tanganku, dengan surat penawaran beasiswa yang sudah kubaca tiga kali. Lyon. Dua tahun. Semua biaya ditanggung. Kata-kata itu terasa seperti makanan dari restoran yang tidak pernah kumasuki. Bau dari dapur orang lain.
Aku turun dari atap dan masuk ke kamar. Mona tertidur di meja kecil di sudut, kepala di atas buku kuliahnya, kalkulator di tangan. Di sebelahnya, selembar kertas tagihan semester tiga. Ada coretan pulpen di bawahnya, tulisan tangan Mona yang kecil dan rapi: angka-angka, penjumlahan, pengurangan. Ia sedang menghitung uang. Ia sedang menghitung apakah kami cukup.
Di sudut kertas itu, di pinggir, dengan tulisan yang lebih kecil lagi, ia menulis sesuatu yang mungkin tidak ia sadari ia tulis. Kebiasaannya waktu sedang berpikir keras.
Kalau nggak cukup, aku cuti dulu. Kakak jangan tahu.
Aku membaca kalimat itu sampai mataku perih.
Adikku, dua puluh tahun, juara kelas sejak SD, yang belajar sampai tertidur di atas buku. Yang siap cuti kuliah supaya kakaknya tidak perlu kerja lebih keras. Dan tidak mau kakaknya tahu.
Aku kembali ke atap. Aku merobek surat dari Antoine jadi delapan bagian.
Aku tidak merasa berkorban waktu itu. Aku merasa lega. Seperti orang yang menemukan jalan keluar dari ruangan yang terkunci. Pilihannya sederhana. Aku atau Mona. Dan aku sudah tahu jawabannya sejak umur sepuluh tahun, sejak berdiri di pemakaman Ibu dengan tangan Mona meremas ujung bajuku sampai sobek.
Dua puluh lima tahun. Dapur hotel di Thamrin.
Laras bekerja di bagian pastry. Ia satu tahun lebih muda dariku, dengan rambut pendek yang selalu tertutup topi koki dan tangan yang selalu bertabur tepung. Ia tertawa keras. Ia menyanyi sambil menguleni adonan. Ia membawakanku roti sisa setiap malam, roti yang gagal dibentuk dan tidak bisa dijual, dan kami memakannya di tangga darurat hotel jam satu pagi, setelah shift.
Kami tidak pernah pacaran. Tidak resmi. Tapi aku mulai menunggu tangga darurat itu. Aku mulai menunggu roti gagal. Aku mulai menunggu tawanya yang keras.
Mona tahu. Mona selalu tahu.
Suatu sore, Mona datang ke hotel untuk mengantar bekal. Ia sudah lulus kuliah waktu itu, baru diterima kerja di Blin sebagai operations associate. Ia melihat Laras. Ia melihat cara Laras menatapku dari balik meja pastry.
Seminggu kemudian, Laras berhenti membawakanku roti.
Ia tidak menjelaskan. Ia hanya tersenyum sopan waktu berpapasan di lorong dapur, senyum yang tidak sampai ke mata, dan tidak pernah lagi muncul di tangga darurat. Sebulan kemudian, ia pindah ke hotel lain di Bali.
Di hari terakhirnya, ia meninggalkan sesuatu di lokerku. Sepotong roti gagal, dibungkus kertas roti. Dan selembar kertas dengan tulisan tangannya yang besar dan bundar.
Adikmu datang ke kosku minggu lalu. Dia nggak jahat. Dia sopan banget malah. Dia cuma bilang satu hal: kalau aku sama kamu, aku harus siap jadi nomor dua selamanya. Karena nomor satu udah ada.
Aku marah sama dia waktu itu. Tapi aku lihat kamu, Har. Aku lihat cara kamu angkat telepon kalau dia yang nelepon, bahkan di tengah servis. Aku lihat kamu pulang jam berapa pun kalau dia bilang sakit kepala. Aku lihat kamu nggak pernah, sekali pun, bilang “nanti” ke dia.
Dia benar. Aku nggak bisa jadi nomor dua. Maaf.
Jaga diri. Makan yang bener. — L.
Aku membaca surat itu di loker hotel di Thamrin, dengan roti gagal di tanganku.
Aku tidak marah ke Mona.
Aku seharusnya marah. Aku tahu aku seharusnya marah. Tapi waktu aku membaca kalimat nomor satu udah ada, yang kurasakan bukan marah.
Yang kurasakan adalah: itu benar.
Laras benar. Mona benar. Aku tidak pernah bilang nanti ke Mona. Aku tidak akan pernah bilang nanti ke Mona. Dan perempuan mana pun yang bersamaku harus hidup dengan itu. Harus menerima bahwa ada seseorang yang akan selalu datang duluan.
Aku tidak menyalahkan Laras karena tidak mau menerimanya. Aku tidak menyalahkan Mona karena mengatakan kebenaran.
Aku menyalahkan diriku sendiri.
Aku memakan roti gagal itu. Lalu aku melipat surat Laras, memasukkannya ke saku, dan pulang. Mona sedang menyiapkan bekal untuk besok. Ia menoleh dan tersenyum. Kak, makan?
Udah, Mon.
Aku tidak pernah memberi tahu Mona bahwa aku tahu. Aku tidak pernah bertanya apa yang ia katakan ke Laras. Aku membiarkannya. Karena kalau aku bertanya, aku harus memilih. Dan aku sudah tahu apa yang akan kupilih.
Kembali ke loker di Sekar Kedhaton. Tiga puluh dua tahun. Foto Mona di tanganku.
Aku menutup mataku.
Kamu sayang aku. Tapi kamu sayang dia duluan.
Tamara mengatakannya di ambang pintu hijau, tanpa berbalik. Dengan suara yang pecah di ujung.
Kalau aku sama kamu, aku harus siap jadi nomor dua selamanya.
Laras menulisnya di kertas, dengan tulisan yang besar dan bundar.
Dua perempuan. Tujuh tahun berbeda. Kalimat yang sama.
Dan dua-duanya benar.
Aku membuka mata dan menatap foto Mona. Senyumnya. Lesungnya. Amplop putih di tangannya.
Aku memikirkan Tamara. Gadis dua belas tahun di sekolah asrama di Inggris. Ayah yang memilih pekerjaannya. Ibu yang memilih hidup barunya. Laki-laki di London yang memilih perempuan yang lebih mudah.
Aku nggak pernah jadi pilihan pertama siapa pun.
Ia mengatakannya di malam ia demam, di bawah lampu tidur kuning, dengan suara yang hampir hilang. Dan aku tidak menjawab. Aku menggenggam tangannya, dan ia mengira genggaman itu adalah jawaban. Ia mengira genggaman itu berarti sekarang kamu pilihan pertamaku.
Aku tahu waktu itu genggamanku bukan itu.
Aku tahu, bahkan waktu itu, bahwa kalau suatu hari aku harus memilih antara Tamara dan Mona, tanganku akan melepaskan tangan Tamara. Bukan karena aku tidak mencintainya. Karena tanganku tidak tahu cara melepaskan Mona. Tidak pernah tahu. Sejak umur sepuluh tahun.
Dan Tamara, yang sudah menghabiskan tiga puluh tahun tidak dipilih, pantas mendapatkan seseorang yang tangannya tahu cara memilih dia duluan.
Seseorang yang bukan aku.
Aku menutup dompet. Aku menyimpannya di saku celana.
Aku berdiri di depan loker yang terbuka. Di dalamnya, di bawah apron cadangan, map biru tua dari Antoine. Aku sudah menolaknya. Aku sudah menelepon Antoine dan bilang tidak. Antoine diam lama di telepon, lalu berkata dengan suara yang sangat lelah: Kau yakin, mon petit soleil? Ini yang terakhir.
Aku bilang yakin.
Aku tidak yakin. Tapi aku tidak tahu cara lain.
Bu Ratih mengetuk pintu loker yang setengah terbuka.
“Chef.”
Ia berdiri di ambang pintu, sudah ganti baju, daster batik dan jaket rajut, tas belanja di bahu. Ia seharusnya sudah pulang satu jam yang lalu.
“Bu belum pulang?”
“Belum.” Ia masuk dan duduk di bangku kayu panjang di depan loker, perlahan, seperti orang yang lututnya sudah mulai sakit. Ia menepuk bangku di sebelahnya. “Duduk, Le.”
Ia tidak pernah memanggilku Le. Selama lima tahun, ia selalu memanggilku Chef.
Aku duduk.
Bu Ratih tidak bicara langsung. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas belanjanya. Pulpen gel tinta emas. Ia memutarnya di jari-jarinya.
“Tinta emasnya tinggal sedikit,” katanya.
“Bu bisa beli lagi.”
“Saya nggak mau beli lagi kalau nggak ada yang perlu ditulis.” Ia meletakkan pulpen itu di bangku di antara kami. “Kursi nomor satu kosong tiga malam, Le.”
Aku menatap lantai.
“Saya sudah kerja di restoran dua puluh tahun,” kata Bu Ratih. “Saya sudah lihat banyak orang datang dan pergi. Pasangan yang lamaran di meja delapan, terus cerai lima tahun kemudian dan masing-masing datang sendiri dengan pasangan baru. Ibu-ibu arisan yang tadinya akrab, terus musuhan gara-gara utang. Saya sudah lihat semuanya.”
Ia menatapku.
“Tapi saya belum pernah lihat orang yang lebih pinter ngasih, dan lebih bodoh nerima, dari kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu ini, Le, dari kecil ngasih terus.” Suaranya lembut sekarang. Lembut seperti suara ibu yang menegur anak, bukan suara maître d’ yang menegur chef. “Ngasih ke adikmu. Ngasih ke tamu. Ngasih ke Dimas, ke saya, ke kucing itu. Kamu kasih semua orang semua yang kamu punya. Terus kalau ada yang mau ngasih ke kamu, kamu tolak.” Ia menghela napas. “Kapan kamu nerima, Le?”
Aku menatap tanganku di pangkuan. Kapalan di telunjuk. Bekas luka bakar di pangkal ibu jari. Garis pucat panjang di lengan kiri.
“Saya nggak tahu caranya, Bu,” kataku.
Bu Ratih diam lama. Lalu ia mengulurkan tangannya yang keriput dan menepuk lenganku dua kali, tepat di atas garis pucat itu.
“Belajar,” katanya. “Kamu belajar pegang wajan dari Pak Darto. Kamu belajar kluwek dari ibu-ibu Pasar Gede. Kamu belajar garang asem dari dandang ibu saya.” Ia berdiri, mengambil pulpen tinta emas dan tas belanjanya. “Kamu bisa belajar nerima juga.”
Ia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti.
“Jangan bikin saya beli tinta hitam buat buku tamu, Le,” katanya tanpa menoleh. “Saya nggak suka tinta hitam.”
Ia pergi.
Aku tidak pulang malam itu.
Aku duduk di chef’s table, di kursi nomor dua, di sebelah kursi nomor satu yang kosong, sampai pukul dua pagi. Lampu gantung di atas meja menyala. Hanya itu satu-satunya lampu di seluruh restoran.
Aku memikirkan semuanya. Lyon. Laras. Mona. Tamara.
Aku memikirkan Mona di umur dua puluh, dengan kalkulator dan tagihan semester dan tulisan kecil di pinggir kertas: Kakak jangan tahu. Aku memikirkan Mona di umur delapan, meremas ujung bajuku di pemakaman Ibu sampai sobek. Aku memikirkan Mona di umur delapan belas, di mulut gang yang gelap, berteriak Kakak.
Aku memikirkan Tamara di umur dua belas, di jendela asrama setiap hari Minggu. Tamara di umur dua puluh, di ruang ujian di Oxford, mencium bau karpet tua dan kopi basi. Tamara di umur tiga puluh, di kamar mandi apartemennya dengan pintu terkunci dan keran yang menyala penuh, karena aku tahu ia pasti menangis di sana. Ia tidak menangis di depan orang.
Dua perempuan. Dua luka yang berbeda. Dan aku, di tengah, dengan tangan yang hanya tahu cara memegang satu.
Aku bisa meminta Tamara bertahan. Aku bisa bilang tunggu aku belajar. Aku bisa bilang suatu hari aku akan tahu cara memilih kamu duluan.
Tapi itu berarti meminta Tamara menunggu. Lagi. Meminta gadis di jendela asrama itu berdiri di jendela lagi, setiap hari Minggu, menunggu mobil yang mungkin tidak pernah datang.
Aku tidak bisa melakukan itu padanya.
Aku sayang dia terlalu banyak untuk melakukan itu padanya.
Pukul dua lewat sepuluh, aku mengambil ponselku. Aku menatap nama di layar. Tamara. Dengan emoji matahari yang ia tambahkan sendiri di ponselku waktu aku tidak melihat, berminggu-minggu lalu, di dapur ini.
Aku mengetik.
Besok malam. Aku ke apartemenmu. Jam sebelas. Aku perlu bilang sesuatu.
Aku mengirimnya.
Dua centang abu-abu. Lalu, setelah empat menit, dua centang biru. Dibaca.
Lalu, setelah sebelas menit, satu balasan. Yang pertama dalam tiga hari.
Oke.
Satu kata. Seperti dulu. Seperti iya.
Aku mematikan lampu gantung di atas chef’s table. Restoran gelap. Aku berjalan ke pintu hijau dalam gelap, dengan langkah yang kuhafal dari lima tahun, dan membukanya.
Kucing oranye duduk di anak tangga. Ia menatapku.
“Aku tahu,” kataku padanya.
Ia tidak menguap. Ia hanya menatap.
“Aku tahu ini salah,” kataku. “Tapi aku nggak tahu yang benar.”
Kucing itu berdiri, berjalan ke arahku, dan menggosokkan kepalanya ke kakiku. Sekali. Lalu ia pergi ke gang yang gelap, ekornya terangkat, tanpa menoleh.
Aku menatapnya pergi.
Lalu aku mengunci pintu hijau, dan pulang, dan berbaring di kasurku dengan mata terbuka sampai pagi, menatap langit-langit, mendengarkan Mona yang membuka pintu kamarnya sedikit di kamar sebelah, supaya ia bisa mendengar dengkurku dan tahu aku masih di rumah.
Malam itu aku tidak mendengkur. Aku tidak tidur.
Dan aku mendengar, dari kamar sebelah, Mona juga tidak tidur.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali reading
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan