← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Nineteen

Bekal yang Bukan Buatku

POV: Mona

Sekarang aku membuat tiga kotak bekal setiap pagi.

Kotak pertama untuk Kakak. Itu sudah aku lakukan sejak aku umur sebelas tahun dan bisa memegang pisau tanpa diawasi. Nasi, satu lauk, satu sayur, sambal di wadah terpisah. Tidak pernah berubah.

Kotak kedua juga untuk Kakak, secara teknis. Tapi aku tahu itu bukan untuk Kakak. Sejak minggu lalu, Kakak mulai membawa pulang kotak bekalnya dalam keadaan kosong sebelum jam makan siang, dan waktu aku bertanya, ia bilang Kakak bagi. Bagi ke siapa, aku tidak perlu bertanya. Jadi sekarang aku membuat porsi kedua, sedikit lebih kecil, tanpa udang, dengan sambal yang rawitnya kukurangi tiga biji. Kakak membawanya ke restoran, dan setiap hari pukul sebelas, sebuah motor ojek berhenti di depan pintu belakang Sekar Kedhaton untuk mengantarnya ke lantai dua puluh delapan sebuah gedung di Kuningan.

Aku tahu soal ojek itu karena Dimas mengirim foto ke grup chat staf Blin setiap hari dengan caption: Pengiriman bekal CFO hari ke-sekian. Kucing ikut mengantar. Fotonya selalu sama: kotak bekal di jok ojek, kucing oranye duduk di sebelahnya.

Kotak ketiga, aku belum tahu untuk siapa.

Aku sudah membuatnya selama sebelas hari. Setiap pagi aku mengisinya, setiap pagi aku memasukkannya ke tas, dan setiap malam aku membawanya pulang lagi dalam keadaan penuh dan memakannya sendiri di depan televisi. Sebelas hari makan malam dari kotak bekal yang dingin.

Pagi itu, kotak ketiga berisi nasi dengan bawang goreng, ayam goreng bumbu kuning, tumis jamur dengan cabai hijau, dan sambal bajak. Aku menutupnya dan menatapnya sebentar.

Kakak keluar dari kamar mandi dengan handuk di leher, dan berhenti di ambang pintu dapur.

“Tiga, Mon?”

“Hm.”

“Yang ketiga buat siapa?”

“Buat aku.”

“Kamu nggak pernah bawa bekal.”

“Sekarang bawa.”

Kakak menatapku. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya berjalan ke kulkas, mengambil air, dan berkata sambil membelakangiku, dengan nada yang terlalu ringan untuk tidak disengaja:

“Bintang suka ayam goreng bumbu kuning, kayaknya.”

Aku menjatuhkan tutup kotak bekal.

“Kakak nggak kenal Bintang.”

“Kakak salaman sama dia di pesta.”

“Satu kali salaman bukan kenal.”

“Tamara bilang dia makan ayam goreng bumbu kuning tiap Jumat di kantin lantai lima.” Kakak meminum airnya. “Ini Jumat.”

Aku memungut tutup kotak bekal dari lantai. Wajahku panas.

“Pasal Empat Belas, Kak.”

“Kita nggak punya Pasal Empat Belas.”

“Pasal Empat Belas itu soal ngorok. Pasal Lima Belas sekarang: Pihak Pertama dilarang ikut campur urusan kotak bekal Pihak Ketiga.”

Kakak tersenyum. Senyum yang sekarang lebih sering muncul. Senyum yang dulu cuma muncul satu kali setahun, di ulang tahunku. Senyum yang membuat matanya menyipit dan kerutan di sudutnya dalam.

Aku menatap senyum itu, dan sesuatu di dadaku terasa manis dan sakit sekaligus.

Kakakku bahagia. Aku bisa melihatnya. Ia bersenandung di kamar mandi sekarang, setiap pagi. Ia membalas pesan di ponselnya sambil tersenyum seperti orang bodoh. Ia pulang lebih larut dan bangun lebih segar. Ia membeli parfum baru. Kakakku, yang selama tiga puluh satu tahun hanya wangi sabun mandi dan asap kayu, sekarang memakai parfum. Sedikit. Di pergelangan tangan. Aku menciumnya waktu ia memelukku tadi malam sebelum tidur. Wangi cendana.

Ia tidak membelinya sendiri. Aku tahu itu. Kakakku tidak tahu cara membeli parfum.

Aku senang ia bahagia. Aku sangat senang.

Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku yang dulu sibuk menjaganya.


Di kantor, aku menghindari lantai lima sampai pukul dua belas lewat empat puluh.

Lantai lima adalah kantin. Kantin Blin bukan kantin biasa. Ada enam gerai makanan, mesin kopi seharga mobil, kursi-kursi warna pastel yang dipilih tim desain interior dengan anggaran yang membuat Tamara menulis KENAPA dengan pulpen merah di proposal mereka. Dan setiap Jumat, gerai nomor tiga menjual ayam goreng bumbu kuning dengan antrean yang mengular sampai ke lift.

Aku tidak berencana ke lantai lima. Aku berencana makan di mejaku sendiri, seperti biasa, sambil membalas email, seperti biasa.

Pukul dua belas lewat empat puluh dua, aku berdiri di lantai lima dengan kotak bekal ketiga di tangan, menatap antrean di gerai nomor tiga.

Bintang tidak ada di antrean.

Aku memutar badan, berniat kembali ke lift, dan hampir menabrak seseorang.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Bintang.

Ia berdiri di depanku dengan nampan kosong, kacamata sedikit miring, rambut berantakan seperti biasa. Ia memakai kemeja biru muda dengan lengan digulung sampai siku, dan di saku kemejanya ada tiga pulpen dengan warna berbeda. Aku tidak pernah memperhatikan pulpen-pulpen itu sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikannya sekarang.

“Nggak ngapa-ngapain,” kataku.

“Kamu nggak pernah ke kantin.”

“Sekarang ke kantin.”

“Bawa bekal.” Ia menatap kotak di tanganku. “Ke kantin. Bawa bekal sendiri.”

“Ada larangannya?”

“Nggak.” Ia mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Cuma nggak efisien.”

“Kamu sendiri ngapain bawa nampan kosong?”

“Ayam goreng bumbu kuningnya habis.” Ia menatap gerai nomor tiga dengan ekspresi duka yang sangat mendalam untuk ukuran wajahnya yang biasanya datar. “Habis jam dua belas lewat tiga puluh. Biasanya habis jam satu. Ada rombongan tim marketing yang beli dua puluh porsi. Mereka lagi syukuran karena proposal mereka akhirnya disetujui Bu Tamara setelah revisi ketiga.”

Aku menatap kotak bekal di tanganku.

Ayam goreng bumbu kuning. Nasi dengan bawang goreng. Tumis jamur. Sambal bajak.

Kakakku, pikirku, pasti punya hubungan dengan Tuhan.

“Bintang.”

“Hm.”

Aku menyodorkan kotak bekal itu. Dengan satu tangan. Tidak dengan dua tangan, karena dua tangan terlalu formal, terlalu jelas, terlalu seperti aku sudah merencanakan ini selama sebelas hari, padahal memang begitu.

“Kebanyakan,” kataku. “Aku nggak habis.”

Bintang menatap kotak itu. Lalu menatapku. Lalu menatap kotak itu lagi.

“Isinya apa?”

“Buka aja.”

Ia meletakkan nampan kosongnya di meja terdekat. Ia mengambil kotak bekal itu dari tanganku dengan dua tangan, dua-duanya, dengan sangat hati-hati, seperti memegang hard disk berisi data produksi yang belum di-backup. Ia membuka tutupnya.

Ia diam lama.

“Ayam goreng bumbu kuning,” katanya.

“Kebetulan.”

“Kebetulan.”

“Iya.”

“Hm.” Jenis kedua. Jenis yang berarti aku tahu kamu bohong.

Lalu ia mendongak, dan ia tidak menatapku dengan wajah datarnya yang biasa. Ia menatapku dengan wajah yang sedikit kesal. Sedikit sekali, tapi jelas. Alisnya bertaut. Bibirnya mengerucut.

“Lima tahun,” katanya.

“Apa?”

“Lima tahun kita kerja satu gedung. Lima tahun aku lihat kamu bawa bekal buat kakakmu ke lift setiap pagi, karena kamu selalu mampir ke restoran dulu sebelum ke kantor. Lima tahun aku cium bau sambal bajak dari tas kamu di lift.” Ia menatap kotak itu. “Dan baru sekarang aku kebagian.”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

“Kamu,” kataku perlahan, “komplain?”

“Iya. Aku komplain.” Ia mengambil sendok plastik dari wadah di meja kantin dan duduk. “Ini telat lima tahun. Dalam standar service level agreement, ini pelanggaran berat.”

Aku berdiri di depannya, menatapnya duduk di kursi kantin berwarna pastel dengan kotak bekal yang kubuat dengan tanganku sendiri, dan aku tidak tahu harus marah atau tertawa.

“Kalau kamu nggak mau, kembalikan.”

“Aku nggak bilang nggak mau.” Ia menyendok nasi dan ayam. “Aku bilang telat.”

Ia memasukkan suapan pertama ke mulutnya.

Ia mengunyah. Perlahan. Matanya terpejam setengah. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Bintang Aditama, Head of Engineering, laki-laki yang menyebut kode orang lain tidak elegan di depan seluruh tim dan pernah membuat vendor cloud dari Singapura menangis dengan satu email, membuat suara.

Suara kecil. Dari tenggorokannya. Seperti mm.

Aku duduk di kursi di depannya tanpa sadar.

Ia membuka mata. Ia menatapku. Ia menelan.

“Ayamnya,” katanya, “bumbunya meresap sampai tulang.”

“Direbus dulu sama bumbu, baru digoreng.”

“Sambalnya.” Ia menyendok sedikit sambal bajak dan memakannya. Matanya langsung berair. Ia batuk sekali. “Sambalnya itu senjata.”

“Rawit setan. Aku tanam sendiri.”

Ia menatapku dengan mata berair. “Dimas nggak bohong.”

“Dimas bohong soal banyak hal. Soal ini nggak.”

Ia makan dalam diam setelah itu. Dengan serius. Dengan konsentrasi yang sama seperti waktu ia membaca log error di server jam tiga pagi. Ia tidak menyisakan sebutir nasi pun. Ia bahkan mengambil sisa bawang goreng di sudut kotak dengan ujung sendok, satu per satu.

Aku memperhatikannya makan. Aku tidak pernah memperhatikan siapa pun makan bekal buatanku kecuali Kakak. Dan Kakak makan bekalku dengan cara orang yang sudah makan masakanku dua puluh tahun: cepat, akrab, tanpa komentar, seperti bernapas.

Bintang makan bekalku seperti membaca sesuatu yang belum pernah ia baca.


Kantin mulai sepi. Rombongan tim marketing sudah selesai syukuran. Tinggal beberapa orang di meja-meja jauh, dan seorang petugas kebersihan yang mengelap meja dengan gerakan lambat.

Bintang menutup kotak bekal yang sudah kosong. Ia tidak mengembalikannya. Ia meletakkannya di depannya, di atas meja, dan meletakkan tangannya di atas tutupnya, seperti menahannya supaya tidak diambil.

“Kakakmu,” katanya, “kelihatan bahagia.”

Aku menatapnya. “Kamu ketemu Kakak di mana?”

“Di lobi. Waktu dia bawa rantang rawon. Dan di grup chat. Dimas kirim foto dia setiap hari.” Bintang mendorong kacamatanya. “Dia senyum di semua foto. Dimas bilang dulu dia nggak pernah senyum di foto.”

“Dulu dia senyum kayak orang sakit gigi.”

“Sekarang nggak.”

“Sekarang nggak,” ulangku.

Bintang diam sebentar. Lalu ia bertanya, dengan nada yang sama ia bertanya di rooftop, tidak menghibur dan tidak menuduh:

“Kamu?”

“Aku kenapa?”

“Kamu bahagia?”

Aku menatap kotak bekal kosong di bawah tangannya. Aku memikirkan sebelas hari makan malam dari kotak bekal yang dingin di depan televisi. Aku memikirkan senandung Kakak di kamar mandi. Wangi cendana di pergelangan tangannya. Kertas di pintu kulkas yang sekarang berisi jadwal Tamara, ditulis Kakak dengan huruf besar yang miring ke kiri: Rabu rapat direksi sampai malam. Kamis free. Jumat Sasha cuti, T kerja sendiri, kirim bekal lebih banyak.

“Aku senang dia bahagia,” kataku.

“Itu bukan jawaban pertanyaanku.”

“Itu jawaban yang aku punya.”

Bintang mengangguk perlahan. Ia tidak memaksa. Ia tidak pernah memaksa. Ia hanya menatapku dari balik kacamata dengan mata yang ternyata, aku baru menyadarinya di bawah lampu kantin yang terang, berwarna cokelat tua dengan bintik-bintik lebih terang di sekitar pupil. Seperti kopi yang diaduk dengan sedikit susu.

“Mona,” katanya.

“Hm.”

“Kamu cantik kalau lagi kesal.”

Aku berkedip.

Ia mengatakannya tanpa perubahan nada. Persis seperti ia mengatakan server down atau latensinya naik dua puluh milidetik. Fakta teknis. Laporan status.

“Waktu kamu marah-marah ke vendor Cikarang di telepon, waktu kamu lempar pulpen ke aku di lorong, waktu kamu bilang Pasal Sepuluh di lobi.” Ia memutar kotak bekal di bawah tangannya, perlahan. “Kamu cantik banget waktu kesal. Matamu jadi tajam, pipimu merah, kamu kelihatan kayak bisa memimpin perang.”

Aku tidak bisa bicara. Wajahku panas. Jauh lebih panas dari waktu Kakak menebak soal ayam goreng bumbu kuning tadi pagi.

“Tapi,” lanjutnya, masih dengan nada laporan status, “kamu lebih cantik lagi kalau lagi ketawa.”

Ia berhenti memutar kotak bekal.

“Ada lesung di pipi kirimu. Cuma muncul kalau kamu ketawa beneran. Aku lihat dua kali. Satu kali di rooftop, waktu aku bilang soal foto kucing Dimas. Satu kali di ruang rapat, waktu aku bilang buku manajemen nggak membantu.” Ia menatapku. “Itu jarang. Kamu jarang ketawa beneran.”

Aku menatapnya. Aku lupa bernapas.

Laki-laki ini. Rivalku. Laki-laki yang sudah lima tahun membuatku kesal dengan hm-nya yang dua jenis, dengan diamnya yang lebih berisik dari omongan siapa pun, dengan kopinya yang selalu hitam tanpa gula dan rambutnya yang selalu berantakan.

Ia menghitung berapa kali lesungku muncul.

“Kamu,” kataku. Suaraku keluar serak. “Kamu hitung?”

“Aku engineer. Aku hitung semua yang jarang terjadi.”

“Kenapa?”

“Karena yang jarang terjadi itu yang paling penting buat dimonitor.”


Aku harus pergi. Aku punya rapat pukul satu lewat lima belas. Aku harus berdiri, mengambil kotak bekal kosong dari bawah tangannya, dan kembali ke lantai dua puluh enam, dan pura-pura percakapan ini tidak pernah terjadi.

Aku tidak berdiri.

“Bintang.”

“Hm.”

“Kenapa kamu bilang semua ini sekarang?”

Ia diam lama. Ia menatap ke luar jendela kantin, ke gedung-gedung Kuningan yang berkilau di bawah matahari siang. Jarinya mengetuk tutup kotak bekal, pelan, berirama, seperti mengetuk keyboard.

“Karena kakakmu sudah ada yang jaga,” katanya akhirnya.

Aku tidak mengerti. “Apa hubungannya?”

Ia menoleh. Menatapku. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang bukan datar. Sesuatu yang lembut, dan sedikit ragu, dan sangat, sangat sabar.

“Selama lima tahun,” katanya pelan, “kamu sibuk jaga dia. Setiap pagi bawa bekal ke restoran sebelum ke kantor. Setiap malam pulang jam enam tepat, nggak pernah ikut makan malam tim, karena harus masak buat dia. Setiap ada acara kantor, kamu bawa dia dan berdiri di sebelahnya kayak tembok.” Ia memutar kotak bekal sekali lagi. “Aku nggak mau ganggu. Kamu kelihatan nggak punya ruang buat apa pun selain dia.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang dia punya Bu Tamara.” Bintang mendorong kotak bekal kosong itu ke arahku, melintasi meja. Perlahan. “Sekarang kamu punya tangan yang nggak tahu harus ngapain. Aku lihat. Kamu bikin bekal tiga, padahal kamu cuma butuh dua.”

Aku menatap kotak bekal di depanku. Aku menatap tanganku, yang tanpa sadar sudah memegang tepi kotak itu.

“Mona,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Kamu juga boleh dijaga.”


Aku tidak ingat bagaimana aku kembali ke lantai dua puluh enam.

Aku ingat lift. Aku ingat menatap angka digital di atas pintu lift, lima, delapan, dua belas, dan tidak membaca satu pun. Aku ingat duduk di rapat pukul satu lewat lima belas dan seseorang dari tim gudang bertanya apakah aku baik-baik saja karena aku belum bicara sepatah kata pun selama dua puluh menit.

Aku ingat, di akhir rapat, ponselku bergetar.

Bintang A.

Kotak bekalnya ketinggalan di aku. Aku cuci dulu. Aku kembalikan Senin.

Lalu, beberapa detik kemudian:

Atau Sabtu. Kalau kamu mau ambil sendiri. Ada toko buku di Cikini yang buka sampai jam sembilan. Aku traktir kopi. Sebagai kompensasi pelanggaran SLA lima tahun.

Aku menatap layar.

Aku mengetik: Itu ajakan kencan?

Tanda mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul. Lama sekali. Aku membayangkan Bintang di mejanya, di lantai dua puluh delapan, menatap layar ponselnya dengan kening berkerut seperti menatap bug yang tidak bisa direproduksi.

Lalu:

Itu pengembalian kotak bekal dengan nilai tambah.

Aku tertawa. Sendirian, di ruang rapat yang sudah kosong. Aku tertawa sampai aku merasakan sesuatu di pipi kiriku, sesuatu yang jarang muncul.

Aku mengetik: Jam berapa?

Jam tiga. Aku jemput.

Kamu nggak tahu alamatku.

Aku tahu. Kamu pernah isi formulir kontak darurat di HR. Aku punya akses ke database HR.

Itu pelanggaran privasi.

Itu efisiensi.


Malam itu, aku pulang ke apartemen pukul tujuh. Kakak belum pulang. Jumat malam, restoran selalu penuh.

Aku duduk di depan jendela dapur dengan secangkir teh. Di luar, di atas gedung-gedung Kalibata, bulan menggantung. Hampir penuh malam ini. Bersih, tidak tertutup polusi. Langka untuk Jakarta.

Dan di sebelahnya, sangat kecil, sangat redup, hampir tidak terlihat, ada satu titik cahaya.

Bintang.

Aku menatap titik cahaya itu lama. Ibu dulu bilang, satu untuk siang, satu untuk malam, supaya rumah kami tidak pernah gelap. Matahari dan Bulan.

Ibu tidak pernah bilang apa-apa soal bintang.

Mungkin karena Ibu tahu, bulan tidak pernah benar-benar sendirian di langit. Ada titik-titik kecil di sekitarnya, yang redup, yang tidak dilihat siapa pun, yang sabar menunggu sampai matahari terbenam supaya mereka boleh muncul.

Aku mengambil ponselku dan memotret langit itu. Bulan yang hampir penuh, dan satu titik kecil di sebelahnya.

Aku tidak mengirimnya ke siapa pun.

Tapi aku menyimpannya.

Di kulkas, besok pagi, aku akan membuat tiga kotak bekal lagi. Dan kali ini, aku tahu untuk siapa yang ketiga.