← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Ten

Garang Asem Eyang

POV: Tamara

Eyang memasak garang asem setiap hari Kamis.

Aku tidak tahu kenapa Kamis. Waktu aku kecil, aku pernah bertanya, dan Eyang menjawab, Karena Kamis itu hari yang nanggung, Nduk. Bukan awal minggu, bukan akhir minggu. Hari yang nanggung butuh makanan yang jujur. Aku tidak mengerti jawaban itu sampai bertahun-tahun kemudian, di sebuah ruang rapat di London pada hari Kamis, ketika aku menatap kotak salad yang harganya sebelas pound dan merasakan lapar yang tidak ada hubungannya dengan perut.

Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun. Bukan kepada ayahku, yang tidak akan mengerti kenapa seseorang bisa merindukan sup. Bukan kepada ibuku, yang meninggalkan rumah Eyang di Solo begitu ia bisa dan tidak pernah menoleh lagi. Bukan kepada laki-laki yang pernah kuajak makan malam di London, yang menganggap masakan Indonesia adalah nasi goreng dan satay dan menganggap itu pengetahuan yang cukup.

Malam itu, Senin, di dapur Sekar Kedhaton yang sunyi dengan gending Jawa yang diputar sangat pelan, aku menceritakannya kepada Matahari.

Aku tidak berencana menceritakannya.


Les keenam dimulai seperti biasa.

Aku datang pukul tujuh lewat dua menit. Kucing oranye menjaga pintu dan kali ini bergeser tanpa harus kutawar, yang kuanggap sebagai kemajuan diplomatik. Matahari membuka pintu sebelum aku mengetuk. Ia selalu membuka pintu sebelum aku mengetuk. Aku mulai curiga ia mendengar langkah kakiku dari dalam.

Aku memakai gaun rajut hitam selutut malam itu, dengan lengan panjang yang bisa kugulung dan garis leher yang cukup rendah untuk membuatnya menatap langit-langit setiap kali aku membungkuk di atas talenan. Rambutku kusanggul longgar. Lipstik merah, karena aku sudah menjawab pertanyaannya di les kelima dan jawabanku tidak berubah.

Ia mengikatkan apronku lagi. Ia sudah melakukannya enam kali, dan setiap kali tangannya bertahan sedikit lebih lama di pinggangku. Malam ini, waktu ia menyimpulkan tali, aku merasakan buku-buku jarinya menyentuh pinggangku dan tidak buru-buru pergi.

“Kamu makin pintar ikat simpul,” kataku tanpa menoleh.

“Latihan.”

“Latihan sama siapa?”

“Sama kamu.”

“Cuma sama aku?”

Simpulnya selesai. Tangannya masih di pinggangku, dua detik, tiga.

“Cuma sama kamu,” katanya. Lalu tangannya pergi.

Aku tidak berbalik. Aku butuh beberapa detik untuk menyusun ulang wajahku.

“Malam ini kita masak apa, Chef?”

“Kamu yang pilih.”

Aku berbalik. Ia tidak pernah menyuruhku memilih. Ia selalu datang dengan rencana. Telur dadar, sambal, sayur lodeh, soto. Kurikulum yang rapi, berurutan, seperti silabus kuliah.

“Kenapa aku?”

“Karena kamu sudah bisa pegang pisau.” Ia bersandar ke meja stainless dengan tangan terlipat di dada, lengan kausnya digulung, garis pucat di lengan kirinya terlihat jelas di bawah lampu. Ia tidak lagi menyembunyikannya dariku. Aku tidak tahu kapan itu berubah. “Murid yang sudah bisa pegang pisau boleh pilih resep sendiri.”

Aku menatapnya. Aku memikirkan semua masakan yang pernah kumakan di Jakarta, di restoran-restoran yang Sasha pesan untuk makan malam investor. Rendang, sate, gado-gado, nasi uduk.

Lalu, sebelum otakku sempat memfilter, mulutku berkata:

“Garang asem.”


Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya mengangguk dan bertanya: “Versi mana?”

“Versi mana maksudnya?”

“Garang asem ada banyak versi. Kudus, Semarang, Solo, Jogja. Ada yang pakai santan, ada yang bening. Ada yang dibungkus daun pisang dan dikukus, ada yang direbus di panci. Ada yang ayamnya ayam kampung, ada yang pakai daging. Ada yang asamnya dari belimbing wuluh, ada yang dari tomat hijau.”

Aku menatapnya. Aku tidak tahu ada versi-versi. Aku hanya tahu satu versi.

“Solo,” kataku pelan. “Eyangku orang Solo.”

Ia menegakkan badan dari meja. Ekspresinya tidak berubah, tapi caranya menatapku berubah. Seperti seorang dokter yang baru menyadari pasiennya tidak datang untuk flu biasa.

“Ceritakan rasanya,” katanya.

Aku tertawa kecil, gugup. “Aku nggak bisa jelasin rasa. Aku orang angka.”

“Coba.”

Aku diam. Aku menatap meja stainless, ke pantulan lampu kuning yang buram di permukaannya. Gending di radio berganti, dari yang lambat ke yang lebih lambat lagi.

“Kuahnya,” kataku akhirnya, “nggak terlalu kental. Ada santannya, tapi sedikit, cuma buat bikin warnanya kayak susu yang dicampur teh. Asamnya bukan asam yang nyolok. Asam yang... muncul belakangan. Kayak kamu sudah menelan, terus baru terasa di belakang lidah.”

Ia mendengarkan tanpa bergerak.

“Ada daun salam. Banyak. Eyang selalu taruh daun salam lebih banyak dari resep mana pun, katanya biar harum sampai ke mimpi.” Suaraku sedikit bergetar di kata mimpi. Aku berdeham. “Dan dibungkus daun pisang. Dikukus. Eyang bikin pincuk-pincuk kecil, satu buat aku, satu buat Eyang. Waktu dibuka, uapnya keluar dan baunya—”

Aku berhenti.

Aku tidak bisa melanjutkan.

Bukan karena aku tidak tahu kata-katanya. Karena aku tahu persis kata-katanya, dan kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku seperti tulang.

Matahari tidak menyela. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya menarik kursi bar dari sudut dapur, meletakkannya di sebelahku, dan menunggu aku duduk. Aku duduk. Ia menuangkan segelas air hangat dari termos, meletakkannya di depanku, dan duduk di kursi lain di seberang meja, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak membuatku merasa terkurung.

Aku menatap air hangat itu. Air hangat. Tidak dingin. Ia selalu memberiku air hangat.

“Eyang meninggal waktu aku tahun kedua di Oxford,” kataku.

Suaraku datar. Aku memaksanya datar. Seperti membaca laporan.

“Minggu ujian akhir. Ibuku kirim email. Bukan telepon, email. Subjeknya Eyang. Isinya tiga kalimat. Eyang meninggal tadi pagi. Pemakaman besok siang. Kamu fokus ujian saja, tidak usah pulang, nanti kita ziarah kalau kamu libur.” Aku tertawa tanpa suara. “Aku telepon ayahku di London. Dia bilang, There’s nothing you can do from here, darling. Finish your exams. Dan dia benar. Secara logis, dia benar. Penerbangan Oxford ke Solo butuh dua puluh enam jam, dengan dua transit. Aku tidak akan sampai sebelum pemakaman. Dan kalau aku tidak ujian, aku harus mengulang satu tahun.”

Matahari diam.

“Jadi aku ujian.” Aku memutar gelas air di tanganku. “Aku dapat nilai tertinggi di angkatanku untuk mata kuliah itu. Econometrics. Profesorku bilang jawabanku elegant.” Aku tersenyum. Senyum yang terasa seperti retakan di kaca. “Aku nggak ingat satu pun soalnya. Aku cuma ingat bau ruang ujian. Bau karpet tua dan kopi basi. Dan aku terus mikir, di Solo sekarang pasti bau kemenyan dan bunga melati, dan aku nggak di sana.”

Aku menyesap air hangat itu. Tanganku sedikit gemetar. Aku membencinya. Aku tidak pernah gemetar.

“Waktu aku pulang ke Indonesia, rumah Eyang sudah kosong. Ibuku nggak mau jual, tapi juga nggak mau tinggal di sana. Dapurnya masih ada. Panci kukusannya masih ada. Daun salamnya sudah kering di toples.” Aku menarik napas. “Sejak itu, aku coba garang asem di mana-mana. Di Solo, di Jogja, di Jakarta, di restoran Indonesia di London. Nggak ada yang sama. Ada yang terlalu asam. Ada yang terlalu kental. Ada yang daun salamnya terlalu sedikit. Ada yang nggak dikukus. Dan aku tahu ini bodoh, aku tahu rasa itu ingatan, dan ingatan itu nggak bisa direplikasi, aku tahu itu secara rasional—”

“Itu nggak bodoh,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

Ia menatapku dari seberang meja dengan mata yang tenang dan dalam, seperti kuah rawon yang sudah dimasak delapan jam. Tidak ada kasihan di sana. Tidak ada simpati yang dibuat-buat.

“Itu bukan bodoh,” ulangnya. “Itu lapar.”

Aku tidak mengerti. “Lapar?”

“Lapar yang bukan di perut.” Ia menunduk sebentar, menatap tangannya sendiri yang terlipat di atas meja. “Saya tahu rasanya.”

Dan aku tahu, tanpa ia harus mengatakannya, bahwa ia sedang memikirkan mi rebus dari satu mangkuk dengan dua sendok, di atap kontrakan di Tebet, di bawah lampu kota yang tidak bisa mereka beli.


Kami tidak memasak garang asem malam itu.

Ia bilang ia tidak mau memasaknya sebelum ia tahu rasanya. Ia bertanya banyak hal. Bukan pertanyaan seperti yang kuajukan di malam pertama, food cost dan margin dan berapa jam tidur. Pertanyaan yang lebih aneh. Lebih teliti.

“Ayamnya ayam kampung atau ayam negeri?”

“Kampung. Eyang beli di pasar, dipotong di sana.”

“Bagian apa?”

“Paha. Aku suka paha. Eyang selalu kasih aku paha.”

“Santannya kental atau encer?”

“Encer. Dari perasan kedua, kayaknya.”

“Ada tomat hijau?”

“Ada. Dan belimbing wuluh. Dua-duanya.”

“Cabainya rawit utuh atau diiris?”

Aku berpikir lama. “Utuh. Eyang selalu taruh dua rawit utuh di tiap pincuk. Katanya, yang berani boleh gigit.”

Ia mengangguk. Ia tidak mencatat apa pun di kertas. Ia mencatat semuanya di kepala, aku bisa melihatnya, dengan cara yang sama aku mencatat setiap angka di neraca.

“Satu lagi,” katanya. “Eyang pakai kluwek?”

Aku tertawa, tidak sengaja. “Kluwek? Di garang asem?”

“Ada beberapa versi Solo lama yang pakai sedikit kluwek di bumbu, buat kedalaman. Nggak banyak. Cuma sedikit. Orang nggak sadar ada di sana.”

Aku terdiam.

Aku ingat sesuatu. Sesuatu yang sangat samar. Eyang di dapur, memecahkan sesuatu yang hitam dengan ulekan, dan aku, umur tujuh tahun, bertanya itu apa, Eyang? dan Eyang menjawab, Rahasia, Nduk. Biar kuahnya punya jiwa.

“Ada,” kataku, hampir berbisik. “Aku rasa ada.”

Ia mengangguk sekali.

“Kasih saya waktu,” katanya. “Saya cari rasanya.”

Aku menatapnya. Ia mengatakannya dengan nada yang sama seperti ia mengatakan iris tipis atau jangan angkat telepon. Tidak dramatis. Tidak berjanji. Hanya pernyataan sederhana, seperti fakta tentang kluwek yang harus direndam sebelum dimasak.

Tapi aku sudah menghabiskan sepuluh tahun mencari rasa itu. Aku sudah makan garang asem di empat kota di dua benua. Dan tidak ada satu pun orang yang pernah bilang, kasih saya waktu, saya cari rasanya.

Aku tidak menangis. Aku tidak menangis di depan orang.

Tapi mataku panas, dan aku harus menatap langit-langit dapur sebentar, dan ia pura-pura tidak melihat dengan mencuci gelas yang sudah bersih.


Ia mengantarku ke parkiran pukul sembilan lewat dua puluh. Dua puluh meter. Malam itu ada angin, angin yang jarang ada di Jakarta, yang menggoyang daun pohon di samping gedung dan membuat rambutku yang tersanggul longgar mulai lepas di beberapa helai.

Kami berjalan tanpa bicara. Bahuku menyentuh lengannya. Aku tidak menjauh. Ia juga tidak.

Di depan mobilku, aku berhenti. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat malam, seperti biasa, dengan kalimat menggoda seperti biasa, sesuatu tentang Rabu depan dan apron dan lipstik.

Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, tangannya meraih tanganku.

Bukan untuk memeriksa luka. Bukan untuk memandu pisau. Bukan untuk menarikku dari api.

Ia hanya menggenggamnya.

Tangannya besar dan hangat dan kasar, membungkus tanganku sepenuhnya. Jari-jarinya perlahan menyelip di antara jari-jariku, satu per satu, seperti melipat adonan, sampai jari kami terkunci. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku sekali. Pelan.

Aku menatap tangan kami. Lalu menatapnya.

Ia tidak menatapku. Ia menatap tangan kami juga, dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya percaya tangannya sendiri baru saja melakukan itu.

“Kamu,” kataku, dan suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan, “yang mulai.”

“Iya.”

“Ini langkah, atau kalimat?”

Ia akhirnya mengangkat wajah. “Langkah.”

Angin bertiup lagi. Sehelai rambutku lepas sepenuhnya dari sanggul dan jatuh ke wajahku. Dengan tangan yang tidak menggenggam tanganku, ia menyelipkannya ke belakang telingaku. Jarinya menyentuh pelipisku, garis rahangku, dan berhenti sebentar di bawah daguku.

“Kalau kamu pegang tanganku kayak gini,” bisikku, “aku jadi pengin minta yang lain.”

Ibu jarinya berhenti di punggung tanganku. “Minta apa?”

Aku melangkah mendekat. Setengah langkah. Tangan kami masih terkunci di antara kami, di depan dadanya.

“Nanti kamu tahu,” kataku.

Ia menelan. Aku melihat jakunnya bergerak. Aku melihat matanya turun ke bibirku dan tidak naik lagi.

Ia membungkuk sedikit. Sedikit sekali.

Lalu ponselku berdering.

Keras. Sangat keras. Nada dering yang kupasang khusus untuk satu orang supaya aku tahu harus mengangkatnya dalam situasi apa pun: lagu kebangsaan Inggris versi orkestra, yang kupilih tiga tahun lalu sebagai lelucon pribadi.

God Save the King, dengan volume penuh, di parkiran gelap di Senopati.

Matahari mundur setengah langkah, kaget. Tangan kami masih bertaut, tapi momen itu pecah seperti telur yang dipecahkan terlalu keras.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas dengan tangan kiri. Layarnya menyala.

RAKA WIBISANA (CEO).

Aku mengangkatnya. “Raka.”

“Tam! Tamara! Kamu lagi di mana? Sasha bilang kamu lagi les masak lagi. Les keenam. Tam, enam kali. Grup chat staf udah heboh. Aku cuma mau konfirmasi, kamu beneran lagi—”

Aku menutup telepon.

Aku membuka kontak Raka. Aku menekan Blokir kontak ini. Ponselku bertanya, Anda yakin? Aku menekan Ya. Lalu aku membuka pengaturan, menyetel blokir itu supaya otomatis terbuka dalam satu jam, karena aku CFO yang bertanggung jawab dan ada kemungkinan kecil perusahaan terbakar dalam satu jam ke depan.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Matahari menatapku dengan alis terangkat.

“Kamu,” katanya perlahan, “baru blokir CEO-mu.”

“Satu jam.”

“Itu boleh?”

“Aku yang ngatur anggaran perusahaan itu. Aku boleh blokir siapa saja yang kumau selama satu jam.” Aku menatap tangan kami yang masih bertaut. Lalu aku menatapnya. “Tadi kita sampai di mana?”

Ia menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tertawa. Bukan senyum. Tawa. Pendek, rendah, keluar dari dadanya seperti sesuatu yang lama terkunci dan tiba-tiba menemukan celah. Bahunya bergerak. Matanya menyipit. Kerutan di sudut matanya dalam.

Aku menatapnya tertawa dan lupa bernapas.

Ia tampan waktu diam. Ia tampan waktu memasak. Tapi waktu tertawa, ia terlihat seperti sesuatu yang sudah lama tidak dilihat siapa pun. Seperti matahari yang keluar setelah hujan berminggu-minggu.

“Kita sampai,” katanya, masih sedikit tertawa, “di God Save the King.”

“Itu nada dering khusus.”

“Untuk CEO-mu.”

“Supaya aku ingat dia raja yang harus diselamatkan dari dirinya sendiri.”

Ia tertawa lagi. Lalu tawanya mereda, perlahan, dan yang tersisa hanya senyum, dan tangannya yang masih menggenggam tanganku, dan angin yang menggoyang daun di atas kami.

Ia mengangkat tangan kami yang bertaut. Perlahan. Sampai setinggi dadanya. Ia menatap jari-jari kami yang terkunci, dan ibu jarinya mengusap punggung tanganku sekali lagi.

“Rabu,” katanya. “Jam sepuluh.”

“Kamu sudah tahu rasanya?”

“Belum. Tapi saya akan tahu.”

Ia melepaskan tanganku. Perlahan, satu jari demi satu jari, seperti ia enggan. Lalu ia membukakan pintu mobilku.

Aku masuk. Ia menutup pintu. Aku menurunkan jendela.

“Matahari.”

Ia membungkuk sedikit ke jendela.

“Terima kasih,” kataku, “sudah dengar.”

Ia diam sebentar. Lalu, dengan suara yang sangat pelan:

“Terima kasih sudah cerita.”


Di mobil, aku tidak bicara pada sopirku. Aku tidak membuka laptop. Aku tidak membalas pesan Sasha yang masuk empat kali berturut-turut berisi emoji mata.

Aku menatap tangan kananku di pangkuan. Tangan yang tadi ia genggam. Masih terasa hangat, seperti baru keluar dari baskom air hangat. Aku membuka dan menutup jari-jariku perlahan, merasakan jejak jari-jarinya yang tadi menyelip di antaranya.

Di luar jendela, Jakarta pukul sepuluh malam bergerak seperti sungai lampu.

Kasih saya waktu. Saya cari rasanya.

Aku menyandarkan kepala ke jendela. Sesuatu yang hangat dan basah mengalir di pipiku, dan aku membiarkannya, karena di jok belakang mobil yang gelap ini tidak ada orang yang melihat.

Bukan tangisan sedih. Aku tahu rasanya tangisan sedih; aku menangis seperti itu di kamar asrama Oxford, sendirian, dengan baju hitam yang tidak pernah kupakai ke pemakaman.

Ini tangisan yang lain. Tangisan seseorang yang sudah lama lapar, dan baru saja mencium bau masakan dari dapur yang jauh.

Pukul sebelas lewat satu menit, blokir Raka terbuka otomatis. Tiga detik kemudian, ponselku bergetar dengan dua puluh tiga pesan dari CEO-ku.

Pesan terakhir berbunyi: TAM. SASHA BILANG KALIAN PEGANGAN TANGAN DI PARKIRAN. SASHA DAPET DARI DIMAS. DIMAS BALIK KE RESTORAN AMBIL CHARGER DAN NGINTIP DARI JENDELA DAPUR. TAM APA INI BENAR. AKU SUDAH TARUH TARUHAN.

Aku mematikan ponsel sepenuhnya.

Lalu, sendirian di jok belakang, dengan pipi yang masih basah, aku tertawa sampai perutku sakit.