Chapter Twenty Seven
Kakak Jauh
POV: Mona
Ada tiga tanda bahwa kakakku sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku sudah menghafal ketiganya sejak aku umur sepuluh tahun.
Tanda pertama: ia bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada urusan, tapi karena tidak bisa tidur. Waktu aku sepuluh tahun, ia bangun jam tiga pagi selama seminggu, dan baru belakangan aku tahu itu minggu ketika pemilik kontrakan mengancam mengusir kami karena sewa telat tiga bulan.
Tanda kedua: ia menjawab nggak apa-apa dengan nada yang terlalu datar. Kakak biasanya menjawab nggak apa-apa dengan nada sedikit malas, sedikit geli, seperti orang yang menganggap pertanyaanku berlebihan. Kalau ia menjawab dengan nada datar, rata, seperti garis di monitor jantung, itu artinya ada apa-apa.
Tanda ketiga: ia memasak sesuatu yang tidak perlu dimasak. Waktu aku lima belas tahun dan ia dipecat dari warung makan di Manggarai karena menolak memakai minyak jelantah empat kali, ia pulang dan memasak rendang. Rendang enam jam. Di hari Selasa. Tanpa alasan. Kami makan rendang itu selama empat hari, dan baru di hari keempat ia bilang ia dipecat.
Minggu ini, kakakku menunjukkan ketiga tanda itu sekaligus.
Ia bangun jam lima pagi, sebelum alarmku, setiap hari sejak Rabu. Waktu aku tanya kenapa, ia bilang nggak apa-apa, Mon dengan nada datar seperti garis di monitor jantung. Dan Kamis malam, waktu aku pulang kerja, apartemen kami berbau kaldu. Kaldu sapi. Dua belas jam, dari baunya. Di dapur apartemen, bukan di restoran.
Kaldu sapi dua belas jam. Di hari Kamis. Tanpa alasan.
Aku tidak bertanya lagi.
Aku sudah bertanya dua kali, dan dua kali ia menjawab nggak apa-apa. Kakak tidak akan menjawab yang ketiga dengan berbeda. Kakak hanya akan menjawab kalau ia sudah siap. Selalu begitu.
Tapi minggu itu, aku membuat kesimpulan sendiri.
Kesimpulanku, yang kususun di mejaku di lantai dua puluh enam sambil menatap layar laptop yang tidak kubaca, adalah ini: Kakak mulai tidak butuh aku.
Bukti pertama: Kakak tidak lagi menghabiskan bekal yang kubuat. Ia membawanya, tapi ia membawa pulang setengahnya. Mungkin karena ia makan siang bersama Tamara. Mungkin karena Tamara membawakan sesuatu yang lain.
Bukti kedua: Kakak tidak lagi menunggu aku pulang di sofa. Ia sering sudah tidur waktu aku sampai, atau sudah di apartemen Tamara.
Bukti ketiga: Kakak menyimpan sesuatu dari aku. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh sembilan tahun. Dan ia menyimpannya bukan karena itu berbahaya, seperti sewa kontrakan yang telat atau pemecatan di Manggarai. Ia menyimpannya karena itu bukan urusanku lagi.
Ia punya Tamara sekarang. Ia menceritakan semuanya pada Tamara. Itu wajar. Itu yang seharusnya.
Aku tahu itu wajar. Aku menandatangani kontrak dua belas pasal yang mengakui itu wajar. Aku sendiri yang menghapus Pasal Sembilan.
Tapi mengetahui sesuatu itu wajar tidak membuatnya terasa tidak sakit.
Kamis siang, Raka memanggilku ke ruangannya.
Ruangan Raka di lantai dua puluh delapan adalah satu-satunya ruangan di kantor yang tidak punya meja kerja biasa. Ia punya meja berdiri dari kayu bekas, dua kursi beanbag berwarna oranye, papan tulis yang dipenuhi coretan ide yang tidak pernah dijalankan, dan satu rak penuh boneka Funko Pop karakter film superhero. Di dinding, poster bertuliskan MOVE FAST AND FIX THINGS yang dicetak dengan font yang sama dengan dinding LED di pesta Seri C.
Raka duduk di salah satu beanbag. Ia mempersilakanku duduk di beanbag lainnya.
Aku tetap berdiri.
“Mona,” katanya, dengan senyum yang terlalu lebar untuk jam satu siang. “Kabar baik.”
“Pak.”
“Raka.” Ia menepuk beanbag di sebelahnya. “Duduk, duduk. Ini kabar baik, aku nggak mau kamu terima kabar baik sambil berdiri kayak lagi dimarahin.”
Aku duduk di beanbag. Beanbag itu menelanku sampai lututku lebih tinggi dari daguku. Aku menatap Raka dari posisi yang sangat tidak bermartabat.
“Dewan direksi sudah setuju,” kata Raka. “Kita buka kantor regional Asia Tenggara di Singapura kuartal depan. Ekspansi ke Malaysia, Thailand, Vietnam. Seri C memungkinkan semua ini.” Ia menyatukan kedua telapak tangannya. “Dan kita butuh VP Operations regional untuk memimpinnya.”
Aku diam.
“Kamu,” kata Raka. “Kami mau kamu.”
Aku menatapnya.
“VP Operations Southeast Asia,” lanjutnya, semakin bersemangat. “Gaji dua kali lipat. Opsi saham. Apartemen di Singapura, dibayarin perusahaan. Tim sendiri, empat puluh orang di awal, seratus lebih di akhir tahun. Kamu yang bangun semuanya dari nol.” Ia mencondongkan badan ke arahku, beanbag-nya berkerisik. “Kamu tahu siapa yang rekomendasiin kamu?”
“Siapa?”
“Tamara.” Raka tersenyum. “Dia nulis rekomendasi dua halaman. Dua halaman, Mona. Tamara nggak pernah nulis rekomendasi lebih dari tiga kalimat. Dia bilang kamu satu-satunya orang di perusahaan ini yang bisa bangun operasional regional tanpa bikin dia pengin pensiun dini.”
Aku menatap Raka. Aku menatap rak Funko Pop di belakangnya. Aku menatap poster MOVE FAST AND FIX THINGS.
Singapura.
Satu setengah jam penerbangan dari Jakarta. Empat puluh orang di awal. Apartemen dibayarin perusahaan.
Jauh dari Kalibata. Jauh dari apartemen dua kamar dengan dinding tipis. Jauh dari dapur tempat aku menyiapkan tiga kotak bekal setiap pagi.
Jauh dari Kakak.
“Nggak,” kataku.
Raka berkedip. “Hah?”
“Nggak, Pak. Terima kasih. Tapi nggak.”
Senyum Raka membeku di wajahnya, seperti layar komputer yang hang di tengah animasi. “Mona, kamu belum dengar detailnya.”
“Saya nggak perlu detailnya.”
“Ini VP, Mona. VP. Di umur dua puluh sembilan. Kamu tahu berapa orang yang—”
“Saya tahu, Pak.” Aku mencoba berdiri dari beanbag. Gagal. Beanbag itu tidak mau melepaskanku. Aku mencoba lagi dengan bantuan tangan, dan akhirnya berhasil berdiri dengan cara yang sangat tidak elegan. “Saya sangat berterima kasih. Ke Bapak, ke dewan direksi, ke Bu Tamara. Tapi saya nggak bisa.”
“Kenapa?”
Aku diam.
Raka menatapku dari beanbag-nya, dengan wajah yang tiba-tiba tidak lagi seperti anak SMA yang baru dapat SIM. Wajah CEO. Wajah yang jarang ia pakai.
“Kamu bahkan nggak mikir dulu,” katanya pelan. “Satu detik pun.”
“Saya nggak perlu mikir.”
“Semua orang perlu mikir buat keputusan kayak gini, Mona.”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke pintu.
“Mona.”
Aku berhenti, tanganku di gagang pintu.
“Tawarannya masih terbuka sampai akhir bulan,” kata Raka. “Pikirkan dulu. Tolong.”
Aku keluar tanpa menjawab.
Bintang menemukanku di rooftop pukul empat sore.
Aku tidak terkejut. Lampu indikator pintu rooftop menyala di dasbor keamanan gedung. Ia punya akses ke dasbor itu.
Ia membawa dua gelas kopi. Ia menyodorkan satu tanpa bertanya. Hitam, satu gula.
Ia duduk di sebelahku di tepi semen yang rendah di dekat tangki air. Kali ini tidak setengah meter. Kali ini jarak bahu kami tinggal sejengkal.
Kami sudah kencan tiga kali sejak toko buku di Cikini. Bioskop di Kuningan, di mana ia mengomentari kesalahan fisika di film fiksi ilmiah dengan bisikan yang membuatku tertawa sampai ditegur penonton di belakang. Pameran foto di Kota Tua, di mana ia membaca setiap keterangan foto sampai habis, termasuk ukuran kamera dan bukaan lensanya. Makan malam di warung nasi Padang di Benhil, di mana ia memesan rendang dan bilang rendang Kakak masih nomor satu, dan pemilik warung mendengarnya dan memberinya tatapan yang bisa membunuh.
Ia belum menciumku. Ia belum mencoba.
Aku mulai bertanya-tanya kenapa.
“Raka cerita,” katanya.
“Raka cerita ke semua orang?”
“Raka cerita ke grup chat direksi. Aku di grup itu.” Ia menyesap kopinya. “Dia bilang kamu nolak VP dalam satu detik. Dia pakai tiga emoji muka kaget.”
Aku menatap kopiku. “Raka kebanyakan emoji.”
“Kenapa?” tanya Bintang.
“Kenapa apa?”
“Kenapa kamu nolak.”
Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap ke bawah, ke gedung-gedung Kuningan, ke jalan Rasuna Said yang mulai padat dengan mobil-mobil yang pulang kantor. Di arah tenggara, jauh di balik gedung-gedung itu, ada Senopati. Ada sebuah restoran dengan pintu hijau yang catnya mengelupas, dan seorang laki-laki di dalamnya yang mungkin sedang memecahkan kluwek.
“Kakak di sini,” kataku.
Bintang tidak bereaksi. Ia hanya menunggu.
“Kakak di sini,” ulangku, lebih pelan. “Aku nggak bisa ke Singapura. Siapa yang bikin bekalnya? Siapa yang ingetin dia makan? Siapa yang tahu kalau dia demam? Dia nggak pernah bilang kalau dia demam. Dia masuk kerja empat puluh derajat, Bintang. Empat puluh derajat. Aku yang harus ke restoran ambil obatnya dari loker.”
“Bu Tamara bisa—”
“Tamara bukan aku.” Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang kumaksud. Aku menelan. “Tamara nggak tahu dia suka sambalnya ditambah belakangan. Tamara nggak tahu dia nggak suka telur, tapi pura-pura suka telur supaya aku makan. Tamara nggak tahu dia nangis di kamar mandi waktu tumpeng pahit. Tamara—”
Aku berhenti.
Aku berhenti karena aku sadar Tamara tahu soal tumpeng pahit. Kakak yang cerita ke Tamara. Tamara yang cerita ke aku.
“Tamara tahu,” kata Bintang pelan.
“Iya.”
“Dan Tamara bisa belajar soal sambal.”
“Iya.”
“Dan soal telur.”
Aku diam. Aku menatap kopiku. Hitam, satu gula. Bintang yang tahu. Bintang yang memberi tahu Tamara.
“Mona,” katanya.
“Hm.”
“Kakakmu tiga puluh dua tahun.”
“Aku tahu.”
“Dia chef di restoran mahal. Dia punya pacar CFO yang ngerawat dia waktu demam. Dia punya Dimas, Bu Ratih, pemilik restoran yang maksa dia pulang jam tujuh di hari ulang tahunnya.” Bintang memutar gelas kopinya. “Dia punya banyak orang sekarang.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu yang nggak boleh ke Singapura?”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
Aku tidak punya jawaban. Aku hanya punya rasa. Rasa yang sama seperti waktu aku delapan tahun di pemakaman Ibu, meremas ujung baju Kakak sampai sobek di jahitannya. Rasa takut bahwa kalau aku melepaskan genggaman, aku akan jatuh.
“Kamu tahu apa yang aku pikirin waktu kamu bilang Kakak di sini?” tanya Bintang.
“Apa?”
Ia menatapku. Matanya cokelat tua dengan bintik-bintik terang di sekitar pupil, seperti kopi yang diaduk dengan sedikit susu.
“Aku pikir,” katanya pelan, “kakakmu mungkin bilang kalimat yang sama. Ke seseorang. Tentang kamu.”
Aku menatapnya.
“Mona di sini,” lanjut Bintang. “Mungkin dia pernah bilang itu. Waktu dia nolak sesuatu. Waktu dia nggak pergi ke suatu tempat.”
Aku tidak bisa bernapas.
Aku memikirkan Kakak yang bangun jam lima pagi. Nada datar seperti garis di monitor jantung. Kaldu dua belas jam di hari Kamis.
“Kamu tahu sesuatu,” kataku. Suaraku bergetar. “Kamu tahu sesuatu yang aku nggak tahu.”
Bintang menggeleng perlahan. “Aku nggak tahu apa-apa. Aku cuma tahu polanya.”
“Pola apa?”
“Dua orang yang saling jaga sampai lupa jaga diri sendiri.” Ia meletakkan gelas kopinya di semen di sebelahnya. “Itu pola yang paling susah di-debug. Karena dua-duanya merasa itu bukan bug. Dua-duanya merasa itu fitur.”
Aku tidak menjawab Bintang.
Kami duduk di rooftop sampai matahari terbenam, dan langit berubah ungu lalu biru tua, dan lampu-lampu Kuningan menyala satu per satu. Bulan muncul. Separuh. Pucat.
Bintang tidak bicara lagi. Ia hanya duduk di sebelahku, bahu kami sejengkal, sampai aku merasakan bahunya menyentuh bahuku. Ia tidak menjauh. Aku juga tidak.
Lalu ponselku bergetar. Dan ponselnya bergetar. Bersamaan.
Grup chat staf Blin.
Pesan dari Raka Wibisana (CEO), pukul 18:14:
Teman-teman. Saya mau berbagi berita yang sangat mengharukan. Hari ini Head of Ops kita, Mona, MENOLAK tawaran VP regional di Singapura. Dalam SATU DETIK. Saya bertanya kenapa. Dia tidak menjawab. Tapi saya punya teori. 😭😭😭
Pesan berikutnya, pukul 18:15:
Teori saya: Mona menolak karena ada seseorang di Jakarta yang tidak bisa dia tinggalkan. Seseorang dari divisi engineering. Seseorang yang terlihat bersamanya di toko buku di Cikini, di bioskop di Kuningan, dan di warung Padang di Benhil. 👀👀👀
Pesan berikutnya, pukul 18:15:
Sumber saya: Dimas. Dimas punya sepupu yang kerja di warung Padang itu.
Pesan berikutnya, pukul 18:16:
@Sasha tolong buka taruhan baru. 🎰
Lalu, dari Sasha (EA CFO), pukul 18:16:
Pak, taruhan yang lama belum selesai.
Lalu, dari Raka Wibisana (CEO), pukul 18:17:
BUKA DUA-DUANYA.
Aku menatap layar ponselku.
Bintang menatap layar ponselnya.
Grup chat itu meledak. Notifikasi berdatangan seperti hujan. Emoji. Stiker. Seseorang dari tim legal mengirim GIF dua burung bertengger di dahan yang sama. Seseorang dari tim gudang Cikarang, yang aku bahkan tidak tahu ada di grup ini, mengirim SELAMAT BU MONA dengan tujuh tanda seru.
Lalu, dari akun Dimas Sekar Kedhaton 🌶️, pukul 18:19:
Saya mau klarifikasi. Sepupu saya bilang mereka makan rendang dan Mas Bintang bilang rendang Chef Hari nomor satu. Sepupu saya tersinggung. Tapi sepupu saya juga bilang mereka kelihatan serasi. Itu aja.
Aku menutup mata.
Di sebelahku, aku mendengar Bintang menghela napas panjang. Napas yang sangat, sangat panjang.
“Raka,” katanya, dengan nada yang biasa ia pakai untuk menyebut nama vendor cloud yang server-nya down di tengah malam.
“Raka,” ulangku.
“Teorinya salah.”
Aku membuka mata dan menoleh padanya.
Bintang menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Telinganya merah. Lalu ia mengetik sesuatu dengan cepat dan menekan kirim.
Aku melihat pesannya muncul di grup.
Bintang A., pukul 18:21:
Koreksi untuk Pak Raka. Mona tidak menolak karena saya. Mona menolak karena alasan yang bukan urusan grup ini. Tolong hormati privasinya. Dan tolong berhenti buka taruhan tentang hidup orang. Itu tidak etis.
Grup chat itu mendadak hening.
Lalu, dari Raka Wibisana (CEO), pukul 18:23:
Maaf Bintang. Maaf Mona. Taruhan ditutup. 🙏
Lalu, dari Sasha (EA CFO), pukul 18:23:
Taruhan yang lama juga, Pak?
Raka Wibisana (CEO), pukul 18:24:
Yang lama jalan terus.
Aku menatap Bintang. Ia sudah meletakkan ponselnya di semen, layar menghadap ke bawah, dan menatap ke depan, ke lampu-lampu Kuningan, dengan telinga yang masih merah.
“Kamu,” kataku, “baru belain aku. Di depan tiga ratus empat puluh tujuh orang.”
“Tiga ratus lima puluh dua. Grupnya nambah.”
“Bintang.”
“Hm.”
“Kenapa?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas kopinya yang sudah dingin, menatapnya, lalu meletakkannya lagi.
“Karena itu bukan alasanmu,” katanya. “Dan kamu nggak perlu orang lain mutusin alasanmu.”
Aku menatapnya lama.
Lalu, tanpa memikirkannya, aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
Ia menegang. Seluruh tubuhnya, kaku seperti server yang tiba-tiba kelebihan beban. Lalu, perlahan, ia melunak. Ia tidak memelukku. Ia tidak bergerak. Ia hanya membiarkan kepalaku di bahunya, dan aku merasakan napasnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Bintang.”
“Hm.”
“Kenapa kamu belum cium aku?”
Hening. Sangat panjang.
“Karena,” katanya akhirnya, dengan suara yang sangat pelan, “kamu belum selesai.”
“Selesai apa?”
“Selesai jaga dia.” Ia menatap bulan separuh di atas Kuningan. “Aku nggak mau jadi orang kedua yang kamu jaga. Aku mau jadi orang pertama yang jaga kamu. Dan itu baru bisa terjadi kalau kamu udah selesai.”
Aku memejamkan mata di bahunya.
Aku memikirkan Kakak. Bangun jam lima. Nada datar. Kaldu dua belas jam.
Aku memikirkan Mona di sini.
Malam itu, waktu aku pulang ke apartemen pukul delapan, Kakak sedang berdiri di dapur, menatap panci kaldu sapi yang sudah ia masak sejak pagi. Ia tidak menyadari aku masuk. Ia berdiri di sana dengan sendok kayu di tangan, tidak mengaduk, hanya menatap.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dan menatap punggung kakakku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut bertanya. Bukan karena ia tidak akan menjawab.
Karena aku takut aku tahu jawabannya.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh reading
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan