Chapter Twenty Six
Tawaran Kedua
POV: Hari
Chef Antoine Lefèvre datang ke Sekar Kedhaton hari Selasa pukul tiga sore, dan Dimas hampir pingsan.
“Chef,” bisiknya, mencengkeram lenganku di balik pass dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tangan yang setiap hari mengupas bawang. “Chef. Chef. Itu orang Prancis.”
“Iya, Dim.”
“Prancis, Chef.”
“Aku tahu, Dim.”
“Chef, saya bilang dari dulu. Saya bilang dari malam pertama Bu Tamara dateng. Michelin, Chef. Michelin diam-diam.” Matanya melebar. “Mereka akhirnya dateng.”
“Dim, itu mentorku.”
Dimas menoleh padaku perlahan. “Chef punya mentor Prancis?”
Aku tidak menjawab. Aku melepaskan tangan Dimas dari lenganku, membuka apronku, dan berjalan keluar dari dapur.
Antoine berdiri di tengah ruang makan utama yang kosong, menatap tiang-tiang kayu jati dan ukiran di langit-langit dengan tangan di belakang punggung. Ia sudah lebih tua dari yang kuingat. Rambutnya, yang dulu cokelat bergelombang, sekarang hampir seluruhnya putih. Wajahnya lebih kurus, kerutan di sekitar matanya lebih dalam. Tapi postur tubuhnya masih sama. Tegak. Bahu ke belakang. Seperti seseorang yang sudah berdiri di depan kompor selama empat puluh tahun dan tidak pernah membungkuk.
Ia menoleh mendengar langkahku.
“Matahari,” katanya. Dengan aksen Prancis yang membuat namaku terdengar seperti nama tempat di peta. Ma-ta-a-ri. “Mon petit soleil.”
“Chef.”
Ia berjalan ke arahku dan memelukku. Pelukan orang Prancis: cium pipi kiri, pipi kanan, pipi kiri lagi. Bau parfum dan rokok dan, samar sekali, mentega cokelat.
Ia menarik diri dan menatapku dari ujung rambut ke ujung kaki, dengan tangan masih di bahuku.
“Kau lebih tua,” katanya dalam bahasa Inggris.
“Sembilan tahun, Chef.”
“Sembilan tahun.” Ia menggelengkan kepala. “Terakhir aku lihat kau, kau masih anak kurus yang memotong bawang di dapur hotel di Thamrin dengan tangan yang gemetar karena takut aku marah.”
“Chef memang marah.”
“Aku marah karena kau memotong bawang lebih baik dari semua koki lulusan sekolah di dapur itu.” Antoine menepuk pipiku dua kali, seperti menepuk anak kecil. “Aku marah karena aku tahu kau tidak akan pernah ke Lyon.”
Sembilan tahun lalu, aku dua puluh dua tahun dan bekerja sebagai koki junior di dapur sebuah hotel bintang lima di Thamrin. Itu pekerjaan pertamaku setelah warung Pak Darto. Gajinya tiga kali lipat. Aku menerimanya karena Mona baru masuk semester tiga dan uang kuliahnya naik.
Chef Antoine datang ke hotel itu sebagai konsultan tamu selama tiga bulan. Ia punya restoran di Lyon yang punya dua bintang Michelin, dan hotel itu membayarnya mahal untuk merancang menu musim baru dan melatih koki-koki di sana.
Di minggu ketiga, ia menemukanku di sudut dapur jam lima pagi, sendirian, memecahkan kluwek untuk rawon makan siang staf. Rawon yang tidak ada di menu. Rawon yang kubuat untuk teman-teman sesama koki junior karena kami tidak punya uang untuk beli makan siang di luar.
Ia mencicipinya dari panci. Ia diam lama. Lalu ia bertanya siapa yang mengajariku.
Pak Darto, jawabku. Warung tenda di dekat stasiun.
Di akhir bulan ketiga, sebelum ia pulang ke Prancis, Antoine memanggilku ke kantornya. Ia menyerahkan sebuah amplop. Di dalamnya, surat penawaran beasiswa penuh untuk program dua tahun di sekolah kuliner di Lyon, ditambah magang di restorannya. Biaya sekolah, tempat tinggal, uang saku. Semuanya ditanggung.
Kau punya sesuatu yang tidak bisa diajarkan, katanya waktu itu. Aku bisa mengajarkan sisanya.
Aku membawa amplop itu pulang ke kontrakan kami di Tebet. Aku duduk di atap, di atas tumpukan genteng bekas, dan membaca surat itu tiga kali di bawah lampu jalan.
Lalu aku turun, dan melihat Mona tertidur di atas buku-buku kuliahnya di meja kecil di sudut kamar, dengan kalkulator di tangan dan selembar kertas tagihan semester di sebelahnya.
Aku menatap tagihan itu.
Aku kembali ke atap. Aku merobek surat penawaran itu menjadi delapan bagian. Aku membuangnya ke tempat sampah di ujung gang keesokan paginya, sebelum Mona bangun.
Mona tidak pernah tahu. Tidak ada yang pernah tahu. Kecuali Antoine, yang menerima email dariku seminggu kemudian, berisi satu kalimat dalam bahasa Inggris yang kususun selama tiga jam: Thank you, Chef, but I cannot go.
Ia membalas dengan satu kalimat juga: Then I will wait.
Aku tidak pernah membalas lagi.
“Aku sudah menunggu sembilan tahun,” kata Antoine.
Kami duduk di chef’s table. Ia di kursi nomor dua. Aku di kursi nomor tiga. Kursi nomor satu kosong di sebelah kami.
Bu Ratih menyajikan teh. Ia memakai kebaya paling bagus yang ia punya, merah marun dengan bordir emas, dan mengucapkan please, Sir, tea, Monsieur, monggo dengan aksen yang membuat Antoine menatapnya dengan sangat bingung dan sangat terpesona.
“Merci, Madame,” kata Antoine.
“Mer-si,” ulang Bu Ratih, tersipu. “Sama-sama, Monsieur. You’re welcome. Monggo.”
Ia pergi ke dapur. Aku mendengar ia berbisik keras ke Dimas, Dim, Dim, dia panggil aku Madame!
Antoine menatap pintu dapur, lalu menatapku dengan alis terangkat.
“Restoran yang menarik,” katanya.
“Orang-orang yang menarik.”
“Itu yang membuat restoran menarik.” Ia menyesap tehnya. Lalu ia meletakkan cangkirnya dan mengeluarkan sebuah map dari tas kulitnya. Map biru tua dengan logo restorannya di sudut. Ia meletakkannya di atas meja kayu jati, di antara kami.
“Aku tidak akan menawarkan beasiswa lagi,” katanya. “Kau sudah tidak butuh sekolah.”
Aku menatap map itu.
“Ini tawaran yang berbeda.” Antoine membuka map itu dan memutarnya ke arahku. “Satu tahun di Lyon. Di dapurku. Bukan sebagai murid. Sebagai sous chef. Kau akan belajar teknik yang tidak bisa kau pelajari di sini. Kau akan belajar cara menjalankan restoran dengan dua bintang. Kau akan belajar semua hal yang kau perlukan.”
“Perlukan untuk apa, Chef?”
Antoine mengetuk halaman kedua di map itu.
“Untuk restoranmu sendiri,” katanya. “Di Jakarta. Setelah satu tahun di Lyon, kau pulang, dan kita buka restoran bersama. Aku investor. Kau chef dan pemilik. Namamu di pintu. Masakan Jawa, dengan teknik yang kau bawa dari Lyon.” Ia bersandar ke kursinya. “Aku sudah tua, Matahari. Aku tidak punya anak. Aku tidak punya murid yang aku percaya untuk membawa apa yang aku tahu. Kecuali satu.”
Aku menatap halaman-halaman di map itu. Angka-angka. Rencana. Denah sebuah ruang restoran kosong di daerah Kemang yang sudah ia survei. Nama yang ditulis tangan di sudut denah itu dengan pensil, dengan tanda tanya di belakangnya: Rumah Matahari?
Tanganku, di atas meja, tidak bergerak.
“Aku tahu kenapa kau menolak dulu,” kata Antoine pelan. “Kau tidak pernah bilang. Tapi aku tahu. Aku melihat foto di loker-mu di hotel. Anak perempuan dengan seragam SMA.”
Aku menatapnya.
“Dia sudah dewasa sekarang, kan?” tanya Antoine. “Sudah lulus kuliah. Sudah bekerja.”
“Dia Head of Operations di perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, Chef.”
Antoine tersenyum. “Bagus. Bagus sekali.” Ia menutup map itu dan mendorongnya ke arahku. “Kalau begitu, tidak ada lagi alasan.”
Aku tidak menjawab.
Antoine menatapku lama. Lalu ia berdiri, mengancingkan jasnya, dan meletakkan tangannya di bahuku.
“Aku di Jakarta sampai akhir bulan,” katanya. “Pikirkan. Diskusikan dengan siapa pun yang perlu kau ajak bicara.” Ia menepuk bahuku dua kali. “Tapi, mon petit soleil, aku sudah enam puluh delapan tahun. Ini tawaran terakhir. Aku tidak akan menunggu sembilan tahun lagi.”
Malam itu aku memberi tahu Tamara.
Aku tidak berencana memberi tahunya malam itu. Aku berencana memikirkannya dulu, sendiri, selama beberapa hari. Tapi Tamara datang ke Sekar Kedhaton pukul sepuluh untuk les masak, seperti biasa, dan ia menatapku dari ambang pintu hijau selama tiga detik, dan berkata, “Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa.”
“Kamu iris bawangnya tebal sebelah.”
Aku menatap talenan. Ia benar.
Jadi aku memberi tahunya. Di dapur yang sunyi, sambil memotong bawang yang tidak perlu dipotong. Tentang Antoine. Tentang Lyon. Tentang satu tahun sebagai sous chef di restoran dua bintang. Tentang map biru tua dan denah di Kemang dan nama yang ditulis dengan pensil dengan tanda tanya di belakangnya.
Aku tidak memberi tahunya bahwa ini tawaran kedua. Aku tidak memberi tahunya soal amplop yang kurobek jadi delapan bagian sembilan tahun lalu. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena cerita itu terasa seperti milik orang lain. Milik anak berumur dua puluh dua tahun di atap kontrakan di Tebet, yang sudah lama tidak ada.
Tamara mendengarkan tanpa menyela. Ia duduk di atas meja stainless, kaki menjuntai, tangan di pangkuan. Wajahnya tidak bergerak selama aku bicara. Wajah CFO. Wajah orang yang sedang menghitung.
Ketika aku selesai, ia diam.
Lalu ia turun dari meja, berjalan ke arahku, dan memelukku. Dengan dua lengan di leherku, dengan wajah di bahuku, dengan kekuatan yang membuatku mundur selangkah.
“Matahari,” katanya ke bahuku. Suaranya bergetar. Bukan karena sedih. “Matahari, ini luar biasa.”
“Tamara—”
“Restoranmu sendiri.” Ia menarik wajahnya dan menatapku, dan matanya menyala seperti kompor yang baru dinyalakan. “Namamu di pintu. Dua bintang Michelin di Lyon. Investor yang percaya sama kamu. Kamu tahu berapa banyak chef yang akan bunuh orang buat tawaran kayak gini?”
“Tamara.”
“Satu tahun. Cuma satu tahun.” Ia sudah mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat di layar. “Aku bisa ke Lyon tiap kuartal. Ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Paris, terus kereta TGV dua jam ke Lyon. Aku bisa atur rapat dengan investor Eropa di Paris, terus nyambung ke Lyon. Sasha bisa—”
“Tamara, aku belum bilang iya.”
Ia berhenti mengetik. Ia mengangkat wajah dari ponselnya.
“Belum,” katanya.
“Belum.”
“Kenapa belum?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap talenan, ke bawang yang teriris tebal sebelah.
Tamara menatapku lama. Lalu ia meletakkan ponselnya di meja, perlahan. Ia mengulurkan tangan dan mengangkat daguku dengan dua jari, sampai aku menatapnya.
“Kamu takut,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Aku nggak tahu.”
“Kamu takut ninggalin restoran ini? Bu Ratih? Dimas?” Ia tersenyum kecil. “Dimas bisa handle. Dia sendiri yang bilang. Saya udah tiga tahun, Chef.”
Aku tidak tersenyum.
Tamara menatapku lebih lama. Senyumnya memudar sedikit. Aku melihat sesuatu di matanya. Pertanyaan yang lain. Pertanyaan yang ia tidak ucapkan.
Lalu, seperti memutuskan sesuatu, ia mengangkat ponselnya lagi.
“Kasih aku malam ini,” katanya. “Satu malam. Aku bikin analisisnya.”
“Analisis apa?”
“Semuanya. Biaya hidup di Lyon. Penghasilan sous chef di restoran dua bintang. Proyeksi pendapatan restoran baru di Kemang. Risiko. Peluang. Jadwal kunjunganku.” Ia sudah mulai mengetik lagi. “Kamu nggak perlu mutusin sekarang. Kamu cuma perlu lihat angkanya.”
“Tamara, ini bukan soal angka.”
Ia berhenti mengetik. Ia menatapku.
“Semua hal itu soal angka, Matahari,” katanya pelan. “Sampai kamu punya alasan yang bukan angka.”
Ia tidak bertanya apa alasan itu. Ia hanya menatapku, menunggu.
Aku tidak memberikannya.
Pukul enam pagi, ponselku bergetar dengan email dari Tamara.
Subjeknya: PROYEK LYON v1.0 — RAHASIA — Hanya untuk Pihak Pertama
Lampirannya: satu spreadsheet dengan sebelas tab.
Aku membukanya di dapur apartemen, dengan secangkir kopi yang belum kuminum, sementara Mona masih tidur di kamarnya.
Tab pertama: Ringkasan Eksekutif. Tiga paragraf yang menjelaskan tawaran Antoine dengan bahasa yang lebih rapi dari yang pernah bisa kuucapkan.
Tab kedua: Biaya Hidup Lyon. Sewa apartemen studio di arondisemen ketujuh, dekat restoran Antoine. Transportasi. Makan. Asuransi kesehatan. Semuanya dalam euro dan rupiah, dengan kurs yang diperbarui otomatis.
Tab ketiga: Proyeksi Restoran Kemang. Lima tahun. Tiga skenario: konservatif, moderat, optimis. Bahkan skenario konservatif menunjukkan titik impas di bulan keempat belas.
Tab keempat: Jadwal Kunjungan. Empat kunjungan dalam satu tahun, satu per kuartal. Tanggal-tanggal yang disesuaikan dengan jadwal rapat investor Eropa. Penerbangan Jakarta–Paris. Kereta Paris–Lyon. Dan di kolom paling kanan, judulnya Catatan, ditulis tangan di sel-sel yang sudah diformat:
Kunjungan 1 (Maret): Ajak aku ke pasar Lyon. Aku mau lihat kamu nawar keju pakai bahasa Prancis yang kacau.
Kunjungan 2 (Juni): Musim panas. Piknik di tepi sungai Rhône. Kamu masak, aku bawa anggur. Eh, aku bawa jus. Aku tahu kamu nggak minum.
Kunjungan 3 (September): Ulang tahunku. Kamu yang atur. Aku mau dikejutkan.
Kunjungan 4 (Desember): Fête des Lumières. Seluruh kota dinyalain lilin. Aku mau cium kamu di bawah lampu-lampu itu.
Tab kelima sampai kesepuluh adalah analisis risiko, skenario pajak, dan perbandingan biaya yang tidak sepenuhnya kumengerti.
Tab kesebelas berjudul Lain-lain.
Isinya cuma satu sel. Sel A1.
Kamu pantas dapat ini. Kamu pantas dapat semuanya. Kamu sudah ngasih seumur hidup. Sekarang giliranmu nerima.
Aku nggak ke mana-mana. — T.
Aku menatap sel itu lama sekali. Kopi di cangkirku sudah dingin.
Aku menutup laptop.
Dari balik pintu kamar Mona, aku mendengar alarm berbunyi. Pukul enam lewat lima belas. Mona akan bangun, keluar dengan rambut berantakan, dan mulai menyiapkan bekal. Tiga kotak. Untukku, untuk Tamara, untuk Bintang.
Aku memasukkan laptop ke tasku. Aku mencuci cangkir kopi. Aku berdiri di dapur, menunggu.
Mona keluar dari kamar. Rambutnya berantakan. Ia memakai kaus lamaku yang kebesaran. Ia menguap, menatapku, dan tersenyum mengantuk.
“Pagi, Kak.”
“Pagi, Mon.”
“Kakak bangun duluan?”
“Nggak bisa tidur.”
Mona menatapku sedikit lebih lama. Lalu ia membuka kulkas dan mulai mengeluarkan telur.
“Kakak kenapa?”
Aku menatap punggung adikku. Rambutnya yang hitam lurus, panjang sampai punggung. Bahunya yang tegak, bahkan di jam enam pagi. Tangannya yang sudah tahu jalannya sendiri: telur, cabai, daun bawang, wajan.
Delapan belas tahun ia menyiapkan bekal untukku setiap pagi.
Siapa yang akan ia siapkan bekal kalau aku di Lyon?
“Nggak apa-apa, Mon,” kataku.
Ia tidak menoleh. Ia memecahkan telur ke mangkuk dan mengocoknya dengan garpu. Bukan whisk. Garpu.
“Oke,” katanya.
Aku tidak memberi tahunya. Pagi itu, atau malam itu, atau hari berikutnya.
Aku menyimpan map biru tua dari Antoine di loker restoran, di bawah apron cadangan. Aku menyimpan email dari Tamara di folder yang tidak pernah kubuka. Aku menyimpan semua itu seperti aku dulu menyimpan surat beasiswa di saku celanaku, di atap kontrakan di Tebet, sebelum aku merobeknya jadi delapan bagian.
Bedanya, kali ini aku belum merobek apa pun.
Belum.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua reading
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan