← Matahari Ada Pawangnya

Chapter One

Jas yang Kubeli Diam-Diam

POV: Mona

Butuh dua minggu, empat belas alasan, dan satu kotak jas yang harganya kusembunyikan rapat-rapat untuk membuat kakakku mengangguk.

Alasan pertama: “Kakak ada katering Sabtu itu.”

Aku cek ke Bu Ratih. Tidak ada katering.

Alasan kedua: “Kakak nggak punya jas.”

“Nanti kubeliin.”

Alasan ketiga: “Kakak nggak ngerti obrolan orang startup. Nanti mereka ngomongin valuasi, Kakak ngomongin santan.”

“Ngomongin santan aja. Orang startup juga makan.”

Alasan keempat sampai ketiga belas tidak perlu kuceritakan karena isinya variasi dari “Kakak capek”, “Kakak malu”, dan satu yang paling jujur, yang ia ucapkan sambil mencuci wajan pukul sebelas malam: “Itu acaramu, Mon. Kakak cuma bakal jadi orang yang berdiri di pojok.”

Alasan keempat belas tidak sempat ia ucapkan karena kotak jasnya keburu datang.

Kurirnya mengetuk pintu apartemen kami di Kalibata hari Kamis sore. Kakak yang membukakan, karena aku sengaja pura-pura sibuk di kamar mandi. Dari balik pintu aku mendengar suara kardus diletakkan, lalu jeda panjang, lalu namaku dipanggil dengan nada yang biasanya dipakai bapak-bapak kompleks waktu menemukan anaknya memanjat pagar.

“Mona Rembulan.”

Nama lengkap. Gawat.

Aku keluar sambil mengeringkan tangan yang tidak basah. Kakak berdiri di ruang tengah memegang jas abu-abu arang seperti memegang bom.

“Ini berapa?”

“Diskon.”

“Diskon dari berapa?”

“Dari harga normal.”

Ia membalik kerah jas itu, mencari label. Aku sudah memotongnya tadi pagi, sebelum kurir datang, karena aku tahu persis kakakku. Ia orang yang bisa menghabiskan tiga hari memikirkan harga satu bungkus kerupuk impor. Ia menghela napas, panjang sekali.

“Mon.”

“Kak, sekali ini aja.” Aku mengambil jas itu dari tangannya dan menempelkannya ke dadanya. Pas. Tentu saja pas. Aku hafal ukuran kakakku lebih baik dari ukuranku sendiri. “Perusahaanku baru tutup Seri C. Semua manager boleh bawa pasangan. Aku nggak punya pasangan. Aku punya Kakak. Kakak mau aku dateng sendirian terus berdiri di pojok?”

Kakak menatapku lama. Ia selalu kalah kalau aku memakai kata sendirian, dan aku tahu itu curang.

“Satu jam,” katanya akhirnya.

“Tiga.”

“Dua.”

“Dua setengah, plus Kakak senyum kalau difoto.”

“Kakak selalu senyum kalau difoto.”

“Kakak selalu kelihatan kayak lagi nahan sakit gigi kalau difoto.”

Ia tidak membantah, karena memang benar.


Namaku diberikan Ibu. Ibu bilang nama depanku itu kata lama untuk bulan, dari bahasa Inggris kuno, dan Rembulan ia tambahkan supaya orang Jawa di kampungnya tidak bingung. Kakakku diberi nama Matahari. Ibu bilang, satu untuk siang, satu untuk malam, supaya rumah kami tidak pernah gelap.

Ibu meninggal waktu aku delapan tahun. Bapak setahun sebelumnya. Rumah kami gelap juga pada akhirnya, tapi Ibu benar soal satu hal: selama ada Kakak, aku tidak pernah benar-benar di dalam gelap.

Kakak sepuluh tahun waktu itu. Ia belajar menanak nasi dari tetangga, belajar menawar di pasar dari ibu-ibu warung, belajar berbohong ke pemilik kontrakan bahwa “Bapak lagi kerja di luar kota” sampai pemilik kontrakan bosan bertanya. Umur empat belas ia mulai mencuci piring di warung tenda dekat stasiun. Umur tujuh belas ia sudah memegang wajan. Umur dua puluh ia sudah bisa membuat rendang yang membuat orang menangis.

Aku tidak pernah bertanya dari mana uang SPP-ku datang. Aku tahu jawabannya bau minyak goreng dan bawang merah.

Jadi kalau sekarang aku bisa membelikannya jas, satu jas, satu kali, ia harus memakainya. Ini bukan soal pesta. Ini soal aku yang akhirnya bisa memberi balik, walau hanya sedikit.


Sabtu malam aku berdandan di depan cermin kamar dengan pintu terkunci, karena Kakak punya kebiasaan buruk mengetuk tiap lima menit untuk bertanya, “Udah belum?”

Gaunku biru tengah malam, panjang sampai mata kaki, potongan leher yang memperlihatkan tulang selangka dan tidak lebih. Rambutku kubiarkan tergerai, hitam, lurus, jatuh sampai punggung. Aku memakai anting perak kecil berbentuk bulan sabit yang kubeli dengan gaji pertamaku dulu.

Aku tidak akan pura-pura rendah hati. Aku tahu aku cantik. Mataku tajam, bulu mataku panjang tanpa perlu ditempel, kulitku bersih karena aku disiplin soal sunscreen sejak SMA. Ada lesung di pipi kiriku yang hanya muncul kalau aku tertawa betul-betul, dan karena aku jarang tertawa betul-betul di kantor, sebagian besar rekan kerjaku tidak tahu lesung itu ada. Malam itu, di depan cermin, aku melihat perempuan yang kelihatan seperti sudah menang. Aku memutuskan percaya padanya.

Ketukan keenam.

“Mon, udah belum?”

Aku membuka pintu.

Kakak berdiri di lorong dengan jas abu-abu arang, kemeja putih, dan dasi biru tua yang kupilih supaya senada dengan gaunku. Rambutnya disisir ke belakang, dan untuk pertama kalinya dalam setahun ia bercukur sampai bersih. Kakakku tinggi, bahunya lebar karena bertahun-tahun mengangkat panci kaldu, dan wajahnya punya rahang yang membuat ibu-ibu pasar Kalibata memberinya bonus cabai. Ia memang tampan. Aku tidak pernah bilang ke dia karena kepalanya bisa besar, tapi itu fakta, sama seperti fakta bahwa air mendidih di seratus derajat.

Ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu kembali ke wajahku. Ekspresinya aneh, seperti orang yang baru sadar sesuatu dan tidak suka dengan kesadarannya.

“Kamu cantik banget malam ini, Mon,” katanya pelan. “Kakak jadi takut sendiri.”

“Takut kenapa?”

“Takut harus nonjok orang.”

Aku tertawa. Lesungku muncul, aku bisa merasakannya. “Nggak ada yang perlu ditonjok. Ini pesta kantor, Kak. Isinya orang-orang yang tiap hari bikin slide.”

“Justru itu. Orang yang bisa bikin slide bisa bikin apa aja.”

Dasinya miring dua derajat ke kanan. Aku melangkah mendekat dan membetulkannya, lalu turun ke manset kemejanya yang belum dikancing, karena tentu saja Kakak tidak tahu cara memakai kancing manset. Aku memasangkan yang kanan dulu. Lalu yang kiri.

Waktu aku menarik ujung lengan kemejanya supaya rapi, kain itu tersingkap sedikit dan aku melihatnya. Garis pucat yang memanjang di lengan bawah kirinya, dari dekat pergelangan sampai hampir ke siku. Tidak lagi merah. Sudah sebelas tahun. Tapi aku masih bisa merasakan rasanya melihat darah itu pertama kali, menetes ke rok seragam abu-abuku di mulut gang yang lampunya mati.

Aku mengancingkan mansetnya sedikit lebih lama dari yang perlu.

“Mon?”

“Hm.”

“Kamu diem.”

“Lagi konsentrasi. Kancing manset itu teknologi tinggi.”

Ia tidak percaya, tapi ia tidak bertanya. Itu salah satu hal yang paling kusayangi dari kakakku. Ia tahu kapan harus tidak bertanya.

Aku menepuk dadanya dua kali, mundur selangkah, dan memasang wajah paling manis yang kupunya.

“Sekarang senyum. Aku sayang Kakak, nih. Gratis.”

Kakak memicingkan mata. “Biasanya kalau kamu bilang gitu, ada maunya.”

“Mauku cuma satu. Senyum.”

Ia tersenyum. Masih seperti orang menahan sakit gigi, tapi lebih ringan. Cukup.


Pestanya di ballroom hotel di Kuningan, tiga lantai di bawah kantor kami. Blin menyewa seluruh lantai. Ada lampu gantung kristal, band jazz, dan dinding LED raksasa bertuliskan SERIES C. WE’RE JUST GETTING STARTED. dengan font yang dipilih tim brand selama tiga minggu rapat.

Begitu kami melewati pintu, aku merasakan kepala-kepala menoleh.

Aku sudah memperkirakan ini. Aku sudah datang ke banyak acara kantor sendirian. Aku tahu reputasiku: Head of Operations yang galak, yang membuat vendor logistik menangis di telepon dan membuat tim gudang hafal SOP sampai ke titik koma. Tidak ada yang pernah melihatku membawa siapa pun. Dan sekarang aku datang menggandeng laki-laki setinggi itu, dengan jas yang aku tahu persis harganya.

Menggandeng, ya. Ini disengaja.

Aku menyebutnya Protokol Gandeng. Aku sudah memakainya sejak kuliah, di setiap acara yang mengharuskan Kakak datang dan ada perempuan berkeliaran di sekitarnya. Kalau aku menggandeng lengannya, orang berasumsi. Kalau orang berasumsi, perempuan-perempuan itu mundur sendiri. Efisien. Tidak ada korban. Kakak tahu protokol ini, menganggapnya konyol, dan tetap membiarkan lengannya kugandeng karena, katanya, “Ya udah, daripada kamu ngambek.”

“Mon,” bisiknya sekarang. “Semua orang ngeliatin.”

“Bagus.”

“Bagus gimana?”

“Berarti jasnya bekerja.”

Raka Wibisana, CEO dan pendiri Blin, menghampiri kami sebelum kami sempat mencapai meja minuman. Raka berumur tiga puluh empat, punya energi anak SMA yang baru dapat SIM, dan hobi utamanya selain membakar uang investor adalah mengumpulkan gosip kantor seperti orang lain mengumpulkan prangko.

“MONA.” Ia merentangkan tangan seperti mau memeluk, lalu melihat lenganku di lengan Kakak, lalu menurunkan tangannya pelan-pelan dengan wajah orang yang menemukan harta karun. “Wow. Wow. Akhirnya. Aku kira kamu nikah sama KPI.”

“Selamat malam, Pak Raka.”

“Raka. Ini pesta. Dan ini—” Ia menatap Kakak dari atas ke bawah, persis seperti Kakak menatapku tadi, tapi dengan niat yang jauh lebih jahil. “Ini siapa?”

Kakak membuka mulut. Aku menginjak kakinya. Pelan. Hak sepatuku sembilan senti, jadi pelan-ku cukup efektif.

“Ini Hari,” kataku.

“Hari,” ulang Raka, seolah mencicipi nama itu. “Hari. Hari yang spesial.”

“Hari aja, Pak,” kata Kakak, menahan sakit di kakinya dengan wajah datar yang luar biasa. “Selamat atas Seri C-nya.”

“Terima kasih, terima kasih. Kerja kerasnya Tamara, sebenarnya. Aku cuma tukang senyum.” Raka mengedip padaku dengan cara yang membuatku ingin mengundurkan diri. “Nanti cerita, ya. Aku butuh semua detailnya.”

Ia pergi. Aku melepaskan kaki Kakak.

“Mon,” desisnya, “kenapa nggak bilang aku kakakmu?”

“Karena nggak ada yang nanya.”

“Dia nanya.”

“Dia nanya siapa. Aku jawab Hari. Itu jujur.”

Kakak menatapku dengan ekspresi orang yang tahu ia tidak akan menang debat ini, dan memutuskan untuk mengambil canapé dari nampan pelayan yang lewat. Ia menggigitnya, mengunyah, lalu mengernyit.

“Kenapa?”

“Rendangnya,” bisiknya. “Paling dimasak dua jam. Harusnya enam. Santannya belum pecah minyak.”

“Kak, jangan kritik makanan orang di pesta orang.”

“Kakak nggak kritik. Kakak cuma kasihan sama sapinya.”


Satu jam berikutnya berjalan sesuai rencana.

Aku memperkenalkan Kakak ke beberapa rekan sebagai Hari, tidak lebih. Mereka mengangguk, tersenyum, berasumsi. Dua perempuan dari tim marketing sempat mendekat dengan gelas sampanye dan senyum yang terlalu lebar. Aku memeluk lengan Kakak lebih erat dan bertanya kepada mereka tentang performa kampanye kuartal lalu dengan suara rapat paling dinginku. Mereka mundur dalam empat menit. Rekor baru.

Lalu Bintang Aditama muncul di sebelahku seperti hantu yang bekerja di bagian engineering.

Bintang adalah Head of Engineering Blin. Ia berumur tiga puluh satu, berkacamata, rambutnya selalu terlihat seperti baru bangun meski aku tahu ia bangun jam lima pagi untuk lari. Ia satu-satunya orang di kantor yang tidak takut padaku, dan itu sangat menjengkelkan karena aku sudah berusaha keras membuat semua orang takut padaku.

Ia memegang gelas berisi jus jeruk, karena Bintang tidak minum alkohol dan tidak pernah merasa perlu menjelaskan kenapa. Ia menatap Kakak. Lalu menatapku. Lalu menatap Kakak lagi.

“Ini pacarmu?” tanyanya datar.

“Iya.”

“Hm.” Ia menyesap jusnya. “Mukanya mirip kamu.”

“Jodoh kan memang mirip.”

“Hm,” katanya lagi, dan hanya itu. Tapi Bintang punya dua jenis hm. Yang satu artinya oke. Yang satu lagi artinya aku tahu kamu bohong tapi aku terlalu sopan untuk bilang di depan orangnya. Ini jenis yang kedua.

Kakak, yang sejak tadi diam, mengulurkan tangan. “Hari.”

“Bintang.” Mereka bersalaman. Bintang menatap tangan Kakak sebentar, ke kulitnya yang penuh bekas luka kecil, bekas cipratan minyak, bekas pisau yang meleset. “Kamu kerja pakai tangan.”

“Masak.”

“Hm.” Kali ini jenis yang pertama. Lalu Bintang menoleh padaku. “Jas yang bagus. Kamu yang pilih?”

“Kenapa kamu tahu aku yang pilih?”

“Dasinya sama kayak gaunmu.” Ia mengangkat bahu dan pergi menuju meja dessert tanpa pamit, karena Bintang tidak percaya pada konsep pamit.

Kakak menatap punggungnya. “Dia siapa?”

“Rival.”

“Rival apa?”

“Rival segala hal.”

“Kok dia tahu kamu yang pilih dasinya?”

“Karena dia nyebelin.”

Kakak tersenyum, dan kali ini senyumnya tidak seperti sakit gigi. Ia tersenyum seperti orang yang menemukan sesuatu yang lucu dan memutuskan menyimpannya untuk nanti. Aku tidak suka senyum itu. Aku memutuskan pura-pura tidak melihatnya.


Di dekat pukul sembilan, MC mengumumkan sambutan dari jajaran direksi. Lampu meredup. Kami berdiri di dekat pilar sebelah kanan panggung. Kakak memegang segelas air putih. Ia menuangkan satu gelas lagi untukku dari teko di meja terdekat, tanpa kuminta, seperti yang selalu ia lakukan sejak aku kecil, karena katanya aku lupa minum kalau sudah sibuk bicara.

Aku meminumnya. Ia benar. Aku lupa minum sejak tadi.

Saat itulah aku merasakannya.

Kalian tahu perasaan diperhatikan? Bulu kuduk yang berdiri, kulit tengkuk yang mendadak sadar diri. Aku sudah bertahun-tahun bekerja di dunia di mana orang memperhatikanku. Atasan yang menilai, bawahan yang mencari celah, vendor yang menunggu aku salah ucap. Aku kenal rasanya.

Tapi ini berbeda. Ini bukan tatapan yang diarahkan padaku.

Aku menoleh perlahan ke pojok ruangan, ke dekat jendela besar yang menghadap lampu-lampu Kuningan.

Tamara Morgan berdiri sendirian di sana dengan segelas sampanye yang belum diminum.

Chief Financial Officer Blin. Tiga puluh tahun. S2 Oxford. Perempuan yang menutup Seri C kami dalam empat bulan ketika semua orang bilang butuh delapan. Perempuan yang, di rapat kuartal lalu, membedah proposal anggaran timku sampai tinggal tulang dengan suara yang tidak pernah naik satu oktaf pun.

Ia memakai gaun hitam sederhana tanpa lengan, potongannya lurus dan tegas seperti dirinya. Rambut cokelat gelapnya bergelombang jatuh di bahu. Lipstik merah. Selalu lipstik merah. Matanya hazel, warisan ayahnya yang orang Inggris, dan dari jarak sejauh ini pun aku bisa melihat mata itu menyala di bawah lampu kristal.

Ia cantik. Aku harus jujur soal itu, karena aku tidak suka membohongi diriku sendiri. Ia cantik dengan cara yang tidak meminta izin, cantik yang terasa seperti keputusan, bukan kebetulan.

Dan itu masalah.

Karena Tamara Morgan tidak sedang menatapku.

Ia menatap kakakku.

Bukan sekilas. Bukan tatapan iseng orang yang bosan di pesta. Ia menatapnya seperti ia menatap laporan keuangan: tenang, teliti, dan dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, seperti seseorang yang baru saja menemukan angka yang menarik di halaman empat puluh dua.

Aku menggandeng lengan Kakak lebih erat.

Kakak menunduk. “Mon? Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” kataku.

Di pojok ruangan, Tamara Morgan akhirnya mengangkat gelas sampanyenya, sedikit saja, ke arah kami.

Lalu ia tersenyum.

Seumur hidupku, aku sudah mengusir banyak perempuan dari sekitar kakakku. Barista, tetangga, teman kampus, kasir minimarket yang terlalu ramah. Aku tidak pernah kalah.

Tapi aku belum pernah harus mengusir atasanku sendiri.