← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Twelve

Rasa yang Hilang

POV: Hari

Rasa adalah ingatan yang dimakan.

Aku belajar itu bukan dari sekolah kuliner, karena aku tidak pernah sekolah kuliner. Aku belajar itu dari Pak Darto, pemilik warung tenda di dekat Stasiun Tebet, waktu umurku lima belas. Malam itu seorang bapak tua datang ke warung, memesan nasi goreng, makan sesuap, dan tiba-tiba menangis di bangku plastik di bawah tenda. Pak Darto tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyodorkan segelas teh manis hangat dan kembali ke wajannya.

Setelah bapak itu pergi, aku bertanya kenapa ia menangis.

Nasi goreng saya mirip nasi goreng almarhum istrinya, kata Pak Darto. Dia bilang. Tadi, pas bayar.

Kok bisa mirip, Pak?

Nggak tahu. Kebetulan. Pak Darto mengaduk wajannya. Tapi kamu ingat ini, Le. Orang nggak makan cuma pakai lidah. Orang makan pakai semua yang pernah terjadi sama dia.

Enam belas tahun kemudian, aku berdiri di dapur Sekar Kedhaton pada Selasa malam setelah servis, menatap empat mangkuk garang asem yang semuanya salah.


Masalahnya bukan resep.

Aku sudah punya resep. Aku sudah mengumpulkannya dari tiga ibu-ibu pedagang di Pasar Gede Solo lewat telepon, dari dua buku masakan Jawa lama yang kubeli di pasar loak Senen, dan dari ingatan Tamara yang ia ceritakan dengan suara yang pecah di kata mimpi.

Ayam kampung, bagian paha. Santan encer dari perasan kedua. Belimbing wuluh dan tomat hijau, belimbingnya masuk di akhir. Cabai rawit utuh, dua per pincuk. Daun salam lima lembar. Sedikit kluwek di bumbu, sangat sedikit, supaya kuahnya punya jiwa. Dibungkus daun pisang, dikukus.

Aku sudah membuat versi demi versi di dapur apartemen subuh-subuh sebelum Mona bangun. Versi lima, enam, dan tujuh kubuat di sini, di restoran, setelah tamu terakhir pulang. Semuanya enak. Semuanya garang asem Solo yang baik dan benar.

Dan aku tahu semuanya salah.

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku tahu. Aku belum pernah makan garang asem Eyang Tamara. Aku tidak pernah bertemu perempuan itu. Tapi aku sudah memasak selama tujuh belas tahun, dan ada sesuatu yang dimiliki masakan rumah yang tidak dimiliki masakan restoran. Masakan restoran itu presisi. Masakan rumah itu kebiasaan. Kebiasaan seorang nenek yang mungkin selalu menambahkan sejumput garam lebih karena tangannya sudah tua, atau memotong ayam sedikit lebih besar karena cucunya suka gigitan yang besar, atau mengukus sepuluh menit lebih lama karena ia sambil menonton sinetron.

Aku tidak tahu kebiasaan-kebiasaan itu. Tidak ada buku yang mencatatnya.

“Chef.”

Bu Ratih berdiri di ambang pintu dapur. Ia sudah ganti baju, kebayanya diganti daster batik dan jaket rajut, tas belanja di bahu. Selasa adalah malam liburnya. Ia seharusnya sudah di rumah satu jam yang lalu.

“Bu belum pulang?”

“Belum.” Ia melangkah masuk dan menatap empat mangkuk di meja. “Itu buat Bu Tamara?”

Aku tidak menjawab. Itu sudah cukup jawaban.

Bu Ratih meletakkan tasnya di kursi, menggulung lengan jaket rajutnya, dan mengambil sendok dari wadah.

“Saya cicipi.”

“Bu, ini malam libur Ibu.”

“Chef, saya sudah lima tahun nyariin Chef jodoh. Lima tahun gagal karena adik Chef. Sekarang jodohnya dateng sendiri, Chef lagi bikin masakan buat dia, dan Chef pikir saya mau pulang nonton sinetron?” Ia mencelupkan sendok ke mangkuk pertama. “Sinetronnya bisa diulang di YouTube. Ini nggak bisa.”

Dari arah ruang penyimpanan, Dimas muncul dengan apron masih terpasang dan wajah orang yang tidak ingin ketinggalan. “Saya juga, Chef.”

“Dim, kamu udah pulang dari tadi.”

“Saya balik, Chef. Lupa charger.”

“Charger-mu di saku apronmu.”

Dimas menunduk menatap saku apronnya, di mana kabel putih terlihat menggantung keluar dengan sangat jelas. Ia mengangkat wajah. “Lupa yang satunya, Chef.”


Mereka mencicipi semua versi.

Bu Ratih mencicipi dengan mata terpejam, seperti juri lomba masak di televisi, dan memberi komentar dalam bahasa Jawa halus yang sebagian besar tidak dimengerti Dimas. Dimas mencicipi dengan semangat seorang sous chef yang tidak sengaja mendapat makan malam gratis, dan memberi komentar enak, Chef untuk semua versi tanpa kecuali.

“Dim, kamu bilang enak untuk semuanya.”

“Semuanya memang enak, Chef.”

“Saya nggak nyari yang enak. Saya nyari yang benar.”

Dimas menatapku dengan ekspresi bingung yang tulus. “Bedanya apa, Chef?”

Aku tidak bisa menjawab. Bu Ratih bisa.

“Bedanya, Dim,” katanya, meletakkan sendok dengan pelan, “yang enak itu bikin kamu kenyang. Yang benar itu bikin kamu pulang.”

Dimas memikirkannya. Lalu mengangguk dengan serius, seperti baru diberi wahyu. “Itu dalam, Bu.”

“Itu filosofi Jawa.”

“Ibu ngarang barusan,” kataku.

“Semua filosofi Jawa—”

“Awalnya dikarang orang,” kataku dan Dimas bersamaan.

Bu Ratih mengangguk puas, seperti guru yang muridnya akhirnya hafal pelajaran.

Lalu ia mengambil sendok lagi dan mencicipi versi ketujuh sekali lagi. Lama. Ia menggerakkan kuah itu di mulutnya, menelannya, dan diam.

“Chef,” katanya pelan. “Eyangnya Bu Tamara itu orang Solo asli?”

“Kata Bu Tamara, iya.”

“Umur berapa waktu meninggal?”

Aku berpikir. “Tamara dua puluh waktu itu. Eyangnya pasti tujuh puluhan.”

“Tujuh puluhan, orang Solo, masak tiap Kamis buat cucunya.” Bu Ratih meletakkan sendok. “Chef, ibu saya juga orang Solo. Meninggal umur tujuh puluh empat. Masak garang asem tiap Lebaran.”

Aku menatapnya.

“Ibu saya itu, Chef,” lanjut Bu Ratih, “kalau masak, nggak pernah pakai gula pasir. Pakai gula jawa. Sedikit. Diserut tipis-tipis. Katanya gula pasir itu manisnya sombong, langsung kerasa. Gula jawa manisnya sopan, datang belakangan, abis asamnya.” Ia menatap mangkuk-mangkuk di meja. “Chef pakai gula pasir, kan?”

Aku pakai gula pasir. Semua resep di buku menulis gula pasir. Semua ibu-ibu di Pasar Gede bilang gula sedikit tanpa menyebut jenisnya, karena bagi mereka itu tidak perlu disebut. Bagi mereka, gula ya gula jawa.

“Dan satu lagi,” kata Bu Ratih. “Orang tua dulu, Chef, kalau ngukus pakai dandang, bukan kukusan listrik. Dandang itu airnya mendidih pelan, uapnya basah. Daun pisangnya jadi agak layu, terus wangi daunnya masuk ke kuah. Kalau pakai steamer restoran, uapnya kering, cepat. Daunnya nggak sempat ngasih apa-apa.”

Aku berdiri diam di depan meja stainless.

Gula jawa. Dandang.

Dua hal yang tidak tertulis di resep mana pun, karena tidak ada orang tua yang merasa perlu menuliskan hal yang sudah mereka lakukan seumur hidup.

“Bu,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kumaksud. “Ibu punya dandang?”

Bu Ratih tersenyum. Senyum paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya dalam lima tahun.

“Punya, Chef. Peninggalan ibu saya. Besok saya bawa.”


Versi kedelapan kubuat Rabu sore, di dapur restoran, di dandang tembaga peninggalan ibu Bu Ratih yang sudah menghitam di bagian bawah dan penyok di satu sisi.

Gula jawa diserut tipis. Daun pisang yang sudah dilayukan di atas api. Ayam kampung bagian paha, kupotong sedikit lebih besar dari biasanya, karena seorang cucu perempuan suka gigitan yang besar. Lima lembar daun salam per pincuk. Dua rawit utuh, yang berani boleh gigit. Kluwek, hanya seujung sendok teh, diulek bersama bumbu sampai tidak terlihat lagi.

Aku mengukusnya empat puluh menit. Sepuluh menit lebih lama dari resep mana pun, karena seorang nenek mungkin mengukus sambil menonton sinetron.

Waktu aku membuka satu pincuk untuk dicicipi, uapnya naik dan memenuhi dapur. Dimas, yang sedang mengupas bawang di ujung meja, berhenti. Bu Ratih, yang sedang memeriksa buku reservasi di ambang pintu, menutup bukunya perlahan.

Aku mencicipi.

Asamnya datang belakangan. Pelan. Seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan. Gurihnya dalam, dengan sesuatu di bawahnya yang tidak bisa kusebut, sesuatu yang gelap dan hangat. Kluwek. Manisnya muncul di ujung, setelah asam, setelah gurih, seperti ucapan selamat malam. Dan di atas semuanya, bau daun salam yang begitu kuat sehingga aku bisa menciumnya di belakang mataku.

Aku tidak tahu apakah ini rasa Eyang Tamara.

Tapi ini rasa rumah seseorang.

Bu Ratih mendekat, mencicipi dari ujung sendokku, dan diam. Matanya berkaca-kaca. Ia menepuk lenganku dua kali, tidak berkata apa-apa, lalu keluar dari dapur dengan langkah cepat. Aku mendengar ia membuang ingus di toilet karyawan.

Dimas mencicipi juga. Ia mengunyah lama. Lalu ia menatapku.

“Chef,” katanya. “Ini bukan enak.”

“Iya.”

“Ini benar.”

Aku mengangguk.

Dimas menatap pincuk itu sebentar lagi. Lalu ia mengeluarkan ponselnya.

“Dim.”

“Arsip, Chef.”

“Dimas.”

“Ini bersejarah, Chef.” Ia memotret pincuk itu dari tiga sudut, lalu menyimpan ponselnya dengan wajah khidmat. “Nggak saya kirim ke grup chat, Chef. Sumpah. Ini arsip pribadi.”

Aku memutuskan untuk percaya padanya, karena malam ini aku tidak punya tenaga untuk tidak percaya.


Aku mengirim pesan ke Tamara malam itu.

Kamis. Jam sepuluh. Restoran.

Balasannya datang dalam empat detik.

Kamis? Bukan Rabu?

Aku mengetik: Kamis.

Jeda panjang. Tanda mengetik muncul dan hilang tiga kali.

Lalu:

Kamu ingat.

Aku tidak membalas. Aku tidak perlu.


Kamis malam, pukul sepuluh lewat enam belas menit.

Ruang makan Sekar Kedhaton gelap kecuali satu lampu gantung di atas chef’s table, yang kunyalakan sendiri. Dapur juga gelap, kecuali lampu di atas kompor dan nyala api biru kecil di bawah dandang tembaga yang menjaga dua pincuk terakhir tetap hangat.

Dimas dan Bu Ratih sudah pulang. Aku menyuruh mereka pulang dengan nada yang tidak bisa dibantah, dan mereka pulang. Dimas sempat bertanya apakah ia boleh menonton dari jauh lewat CCTV, dan aku mematikan CCTV dapur di depan matanya.

Tamara datang lewat pintu depan, bukan pintu belakang. Aku yang membukanya.

Ia memakai gaun hitam sederhana, panjang sampai betis, dengan lengan tipis yang transparan. Rambutnya tergerai, tidak diikat, karena malam ini tidak ada pelajaran. Lipstik merah. Tapi wajahnya, di bawah lampu lorong yang temaram, terlihat lebih muda dari biasanya. Lebih ragu. Seperti seseorang yang datang ke rumah lama yang ia takut sudah berubah.

Ia cantik. Ia selalu cantik. Tapi malam itu ia cantik dengan cara yang membuatku ingin melindunginya dari sesuatu yang aku tidak tahu apa.

“Hai,” katanya pelan.

“Hai.”

Ia tidak menggoda. Ia tidak berkata Chef dengan nada yang membuat telingaku panas. Ia hanya berdiri di ambang pintu dengan tangan meremas tali tasnya, menatapku.

“Kamu bikin,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Saya coba.”

Aku mengantarnya ke kursi nomor satu. Aku menarik kursi itu untuknya. Ia duduk.

Aku kembali ke dapur, mengangkat satu pincuk dari dandang dengan penjepit, meletakkannya di piring tanah liat kecil, dan membawanya ke meja. Aku meletakkannya di depannya. Aku menuangkan segelas air hangat dan meletakkannya di sebelah piring.

Lalu aku mundur selangkah dan berdiri di sana, tangan di balik punggung, seperti waktu ia mencicipi rawon pertama kali.

Ia menatap pincuk daun pisang itu. Daunnya layu sempurna, cokelat kehijauan, disematkan dengan lidi di bagian atas. Uap tipis masih keluar dari lipatan-lipatannya.

Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap.

“Daunnya,” bisiknya. “Daunnya layu.”

“Dikukus pakai dandang.”

Ia mengangkat wajah. Matanya sudah berkaca-kaca bahkan sebelum ia membuka pincuk itu.

“Eyang pakai dandang.”

“Saya tahu.”

Ia menatapku lama. Lalu, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencabut lidi dari pincuk dan membuka lipatan daun pisang itu.

Uapnya naik.

Aku melihat uap itu menyentuh wajahnya, menyentuh pipinya, menyentuh bulu matanya. Aku melihat ia menutup mata. Aku melihat ia menarik napas dalam, sangat dalam, seperti orang yang baru keluar dari air setelah tenggelam lama.

Ia tidak membuka mata. Ia meraba sendok di sebelah piring tanpa melihat, mencelupkannya ke kuah, dan membawanya ke bibirnya.

Ia mencicipi.

Dan Tamara Morgan, perempuan yang tidak menangis di depan orang, yang tidak pernah gemetar, yang menutup Seri C dalam empat bulan dan membedah anggaran seperti ahli bedah, meletakkan sendoknya dengan sangat pelan di samping piring, menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis.

Bukan tangisan pelan. Bukan air mata yang mengalir diam-diam. Bahunya berguncang. Suaranya keluar dari balik tangannya, tertahan, pecah, seperti sesuatu yang dikunci selama sepuluh tahun di dalam dada dan baru saja menemukan pintunya terbuka.

Aku berdiri di sana.

Seumur hidupku, aku hanya pernah melihat satu perempuan menangis seperti ini. Mona, umur delapan tahun, di pemakaman Ibu. Waktu itu aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi aku memeluknya sampai tangisnya habis.

Aku tidak memeluk Tamara. Aku tidak yakin boleh.

Tapi aku juga tidak bisa berdiri saja.

Aku berjalan memutari meja. Aku berlutut di sebelah kursinya, satu lutut di lantai teraso yang dingin, sehingga wajahku sejajar dengan wajahnya yang tertunduk. Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya di sana, cukup dekat untuk ia tahu aku di sana.

Ia menangis lama. Aku menunggu. Kuah garang asem di pincuk perlahan berhenti mengepul.

Lalu ia menurunkan tangannya.

Wajahnya basah. Maskaranya luntur sedikit di bawah mata, membuat garis-garis tipis gelap di pipinya. Lipstiknya sedikit pudar di sudut bibir. Hidungnya merah. Matanya yang madu itu merah dan bengkak dan sangat, sangat terbuka, seperti jendela yang baru saja dibuka setelah rumahnya lama kosong.

Ia menatapku yang berlutut di sebelahnya.

“Ini,” katanya, suaranya serak dan pecah, “ini Eyang.”

“Saya nggak tahu,” kataku pelan. “Saya nggak pernah ketemu Eyang. Saya cuma—”

“Ini Eyang,” ulangnya, lebih keras, dan air matanya mengalir lagi. “Asamnya. Datang belakangan. Daun salamnya. Ada sesuatu di bawahnya, aku nggak tahu apa, gelap, hangat—”

“Kluwek.”

Ia tertawa di tengah tangisnya. Tawa yang basah dan pecah. “Kluwek. Tentu saja kluwek. Kamu dan kluwekmu.”

“Dan gula jawa,” kataku. “Bu Ratih yang kasih tahu. Ibunya orang Solo. Dandangnya juga punya Bu Ratih.”

Ia menatapku. “Bu Ratih?”

“Dia nangis di toilet karyawan kemarin.”

Ia tertawa lagi, lalu menangis lagi, lalu tertawa dan menangis bersamaan, dan menutup wajahnya dengan satu tangan, dan aku melihat bahunya berguncang, dan aku tidak tahan lagi.

Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya.

Hanya itu. Ibu jariku mengusap garis maskara di bawah matanya, perlahan, seperti mengusap cipratan cabai di les ketiga. Kulitnya basah dan hangat.

Ia berhenti menangis. Ia menurunkan tangannya dari wajah, perlahan, dan menatapku.

Aku tidak tahu kapan keputusan itu kubuat. Mungkin di parkiran, waktu ia berhenti di jarak setipis daun pisang dan berkata belum. Mungkin di dapur, waktu ia bilang itu nggak bodoh, itu lapar. Mungkin waktu aku menelepon ibu-ibu di Pasar Gede pukul enam pagi, menanyakan berapa lembar daun salam, dan tersenyum seperti orang bodoh ke ponselku sendiri.

Mungkin aku sudah memutuskannya di malam pertama, waktu ia tertawa dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.

Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku sudah menghabiskan dua puluh satu tahun tidak membiarkan diriku menginginkan apa pun, dan malam ini, berlutut di lantai teraso yang dingin, dengan ibu jariku di pipinya yang basah, aku menginginkan sesuatu begitu besar sampai dadaku sakit.

“Tamara,” kataku.

Pertama kalinya aku menyebut namanya tanpa Bu.

Ia menahan napas.

Aku tidak menyebut saya. Aku tidak menyebut Ibu. Kata-kata itu tiba-tiba terasa seperti pakaian yang terlalu kaku, yang harus dilepas.

“Aku sayang kamu.”

Hening.

Hening yang begitu sunyi sehingga aku bisa mendengar nyala api biru kecil di bawah dandang di dapur. Aku bisa mendengar jam dinding di atas kasir. Aku bisa mendengar napasnya, yang berhenti, lalu mulai lagi, gemetar.

Matanya melebar. Bibirnya terbuka sedikit. Air mata menggenang lagi di sudut matanya, tapi tidak jatuh. Menggantung di sana, di bulu matanya, berkilau di bawah satu lampu gantung di atas chef’s table.

Tangannya bergerak. Perlahan. Naik ke tanganku yang masih di pipinya.

Dan ia membuka mulutnya untuk menjawab.