← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Five

Bukan Buat Makanannya

POV: Tamara

“Bu, ini masuk pos apa?”

Jumat malam, pukul delapan lewat dua puluh. Lantai dua puluh delapan sudah sepi, kecuali ruanganku, ruangan Raka yang lampunya masih menyala karena ia lupa mematikannya, dan meja Sasha yang dipenuhi tiga gelas kopi kosong dan satu wajah yang sudah menyerah pada kehidupan.

Sasha berdiri di ambang pintu ruanganku dengan tablet, menampilkan konfirmasi reservasi dari Sekar Kedhaton. Dua puluh dua malam. Kursi nomor satu. Satu orang.

“Pos apa maksudmu?”

“Reimbursement, Bu. Entertainment klien? Riset vendor? Saya bisa tulis uji kelayakan mitra katering untuk acara tahunan, itu masih masuk akal kalau auditor nggak terlalu rajin.”

“Pribadi,” kataku, tanpa mengalihkan mata dari laporan arus kas yang sedang kubaca. “Pakai kartuku.”

Hening.

“Sebulan penuh, Bu?”

“Sebulan penuh.”

“Bu, itu—” Sasha menghitung dengan bibirnya, tanpa suara. Aku melihat angka-angka bergerak di wajahnya seperti saham yang anjlok. “Bu, itu uang muka KPR.”

“Itu uang muka KPR di Bekasi.”

“Bu, Bekasi juga Indonesia.”

Aku menutup laptop, berdiri, dan mengambil tas dari kursi. Di cermin kecil di dinding ruanganku, cermin yang kupasang bukan karena aku narsis tapi karena aku percaya seorang CFO tidak boleh masuk rapat dengan lipstik yang tidak rata, aku memeriksa wajahku.

Rambutku kugerai malam ini. Aku sudah melepas jepitnya sejak jam tujuh dan menyisirnya dengan jari sampai gelombangnya jatuh dengan benar. Blus yang kupakai berwarna zamrud tua, sutra, dengan potongan leher V yang cukup dalam untuk diperhatikan dan cukup sopan untuk tidak dibicarakan. Kalung tipis emas putih. Aku mengambil lipstik merah dari tas dan menyapukannya, dua gerakan, atas lalu bawah, lalu menekan bibir sekali.

Mata hazel di cermin balas menatapku. Tulang pipi yang tinggi. Garis rahang yang menurut ibuku terlalu keras untuk perempuan dan menurut setiap laki-laki di ruang rapat sedikit menakutkan. Aku cantik malam ini. Aku sudah sering cantik, tapi malam ini aku cantik dengan sengaja, dan itu perbedaan yang hanya aku yang tahu.

“Bu.” Sasha masih di ambang pintu. “Saya boleh nanya satu hal?”

“Kamu akan nanya, apa pun jawabanku.”

“Ibu dandan kayak gini buat chef?”

Aku menutup lipstik. Klik.

“Aku dandan kayak gini untuk diriku sendiri, Sasha.”

“Ibu nggak pernah dandan kayak gini buat rapat direksi.”

“Direksi tidak pantas mendapatkannya.”

Sasha menatapku, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun bekerja denganku, aku melihat senyum di wajahnya yang bukan senyum kelelahan. Itu senyum anak muda yang baru menemukan bahwa atasannya ternyata manusia.

“Saya boleh ikut, Bu?”

“Nggak boleh.”

“Kenapa?”

“Karena kamu akan melaporkannya ke grup chat staf dalam waktu sepuluh menit.”

“Lima, Bu,” kata Sasha jujur. “Grup chat-nya cepat.”


Aku memesan slot terakhir malam itu, pukul sembilan tiga puluh, dan meminta satu hal tambahan lewat telepon: live cooking. Masak di depanku. Jelaskan setiap bumbu.

Bu Ratih, perempuan berkebaya kutubaru yang hari ini memakai warna hijau pupus, menyambutku di pintu dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan oleh profesionalisme dua puluh tahun. Ia mengantarku ke kursi nomor satu seperti mengantar pengantin ke pelaminan.

“Silakan, Bu Tamara. Chef sudah siap dari tadi.”

“Dari tadi?”

“Dari jam delapan, Bu. Sudah ganti apron dua kali.” Bu Ratih merendahkan suara. “Biasanya Chef ganti apron cuma kalau kena kuah rawon.”

Aku duduk. Ruang makan utama di belakangku sudah hampir kosong. Hanya ada sepasang suami-istri lanjut usia di meja pojok yang sedang menikmati dessert dengan sangat lambat. Dapur terbuka di depanku bersih, mengilap, beraroma serai dan kayu terbakar.

Dan di balik meja dapur berdiri Matahari Wirasena.

Ia memakai jas koki putih dengan kancing kain, lengan masih terkancing sampai pergelangan. Rambutnya tidak disisir ke belakang seperti di pesta, tapi dibiarkan jatuh sedikit di dahi, dan aku memutuskan aku lebih suka yang ini. Wajahnya tenang. Selalu tenang. Seperti permukaan kaldu yang sudah dimasak dua belas jam.

“Selamat malam, Bu Tamara.”

“Tamara. Kamu sudah tahu aku tahu soal Mona, jadi kita nggak perlu formal lagi.”

“Ibu tetap tamu.”

“Aku tamu yang memesan kursi ini dua puluh dua malam berturut-turut.”

Ia diam sebentar. Aku melihat informasi itu sampai ke matanya, diproses, dan ditaruh di suatu tempat yang tidak bisa kubaca.

“Bu Ratih sudah bilang,” katanya.

“Dan?”

“Dan saya masih belum tahu kenapa.”

“Kamu akan tahu,” kataku, “kalau kamu memperhatikan.”


Ia memasak rawon lagi. Atas permintaanku. Kali ini dari awal, di depanku, dengan bumbu yang diulek di cobek batu besar di atas meja dapur.

“Bawang merah,” katanya, memasukkan butir-butir merah muda ke cobek. “Bawang putih. Kemiri yang sudah disangrai. Ketumbar. Kunyit, sedikit, buat warna. Jahe, lengkuas.”

Ia mengulek dengan gerakan yang berirama, tangan kanan menekan dan memutar ulekan, tangan kiri menahan cobek. Lengan jas kokinya masih terkancing. Aku memperhatikan otot di lengan bawahnya menegang dan mengendur di balik kain putih itu.

“Lalu ini.” Ia mengambil sesuatu dari mangkuk kecil. Hitam, seperti tanah yang dipadatkan. “Kluwek.”

“Yang membuatmu tidur cuma empat jam.”

Sudut bibirnya bergerak. “Iya.”

“Kenapa kluwek?”

Ia mengangkat satu biji di antara jari, memutarnya di bawah cahaya lampu dapur. “Kluwek itu beracun kalau mentah. Ada sianidanya. Harus direndam, dikubur di abu, difermentasi berminggu-minggu. Baru setelah itu boleh dimasak. Dan kalau sudah diproses dengan benar—” Ia memecahkan cangkangnya dengan punggung pisau. Isinya hitam pekat dan berminyak. “—nggak ada bumbu lain yang bisa menggantikan rasanya.”

Aku menopang dagu dengan satu tangan.

“Jadi yang beracun bisa jadi enak,” kataku. “Asal sabar.”

“Asal diproses dengan benar.”

“Kamu lagi ngomongin kluwek,” tanyaku pelan, “atau aku?”

Tangannya berhenti di atas cobek. Hanya sesaat, tapi aku melihatnya. Ia mengangkat wajah. Matanya yang hitam bertemu mataku, dan untuk dua detik tidak ada yang bicara. Di belakang punggungnya, dari balik pintu ayun menuju ruang penyimpanan, aku mendengar sesuatu yang renyah, lalu suara ssst yang sangat keras untuk ukuran ssst.

“Kluwek, Bu,” katanya akhirnya.

“Sayang sekali.”

Ia kembali mengulek. Lebih cepat dari sebelumnya.


Aku menunggu sampai bumbunya mulai ditumis. Sampai minyak di wajan mendesis dan aroma bawang dan kluwek naik ke udara, memenuhi dapur, memenuhi kepalaku, membuatku teringat sesuatu yang belum boleh kuingat malam ini.

Lalu ia membuka kancing lengan jas kokinya, kanan, lalu kiri, dan menggulungnya sampai siku.

Aku tahu ia melakukannya karena wajan panas, karena minyak, karena kebiasaan. Aku tahu itu bukan untukku.

Tapi aku tetap melihat. Lengan bawahnya kuat, kulitnya sawo matang dengan bekas-bekas kecil cipratan minyak seperti bintik-bintik di peta. Urat yang terlihat setiap ia menggenggam gagang wajan. Tangan yang bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki orang yang sudah melakukan hal yang sama ribuan kali.

“Kamu sengaja?” tanyaku.

Ia menoleh. “Sengaja apa?”

“Gulung lengan baju di depan perempuan yang sudah memesan kursimu sebulan penuh.”

Ia menatap lengannya sendiri, seperti baru sadar lengannya ada di sana. “Biar nggak kena minyak.”

“Sayang sekali,” kataku lagi. “Aku kira buat aku.”

Kali ini ia tidak langsung menjawab. Ia menuang kaldu ke wajan, perlahan, membiarkan uapnya naik di antara kami seperti tirai. Ketika uap itu menipis, wajahnya masih tenang, tapi telinganya, aku memperhatikan dengan kepuasan yang tidak pantas untuk seorang eksekutif berumur tiga puluh tahun, telinganya merah.

“Bu Tamara,” katanya. “Boleh saya tanya sesuatu?”

“Tanya apa saja.”

“Ibu sebenarnya mau apa?”

Pertanyaan itu jujur. Polos. Ditanyakan dengan nada orang yang benar-benar tidak tahu jawabannya, orang yang tidak terbiasa dengan kemungkinan bahwa seseorang datang untuknya dan bukan untuk sesuatu yang bisa ia berikan.

Dan karena ia bertanya dengan jujur, aku memutuskan menjawab dengan jujur juga.

Aku mencondongkan tubuh ke depan, siku di meja kayu jati, sampai jarak di antara kami tinggal selebar meja dapur.

“Aku ke sini,” kataku, pelan dan jelas, “bukan buat makanannya, Chef.”

Sesuatu jatuh di balik pintu ayun. Logam. Mungkin sendok sayur. Diikuti suara Bu Ratih yang berbisik dengan nada sangat marah, “Dimas!”

Matahari tidak menoleh ke arah suara itu. Ia menatapku. Lama. Sangat lama, untuk ukuran laki-laki yang, menurut informasi Sasha, menolak diwawancara majalah tiga kali.

Lalu ia berkata, dengan wajah yang sama sekali datar:

“Tapi Ibu tetap harus bayar makanannya.”

Aku tertawa.

Bukan tawa sosial, yang kupakai di gala dan makan malam investor dan rapat yang perlu diselamatkan. Bukan tawa kecil terkejut seperti waktu Mona bilang Ibu juga di pesta. Aku tertawa seperti waktu aku masih kecil, di dapur rumah Solo, waktu Eyang pura-pura memarahi kucing yang mencuri ikan asin. Tawa yang keluar dari perut. Tawa yang membuatku menunduk dan menutup mulut dengan tangan dan tetap tidak bisa berhenti.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa seperti itu. Mungkin sebelum Oxford. Mungkin sebelum asrama. Mungkin sebelum umur dua belas.

Ketika aku mengangkat wajah, mataku sedikit basah. Matahari sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, sendok kayu masih di tangannya, berhenti di tengah gerakan mengaduk.

“Maaf,” kataku, menyeka sudut mata dengan ujung jari supaya maskaraku tidak luntur. “Aku nggak—itu lucu.”

“Saya serius soal bayar.”

“Aku tahu. Itu yang lucu.”

Ia kembali mengaduk. Tapi aku melihat sudut bibirnya. Tertarik ke atas, sedikit, dan tidak turun-turun lagi.


Rawonnya disajikan dalam mangkuk tanah liat, kuahnya hitam pekat, dengan potongan daging yang lepas dari tulangnya hanya dengan disentuh sendok. Tauge pendek, telur asin, sambal, kerupuk kulit. Ia meletakkannya di depanku dan berdiri menunggu, tangan di balik punggung, seperti tentara menunggu inspeksi.

Aku mencicipi.

Rasanya dalam. Gurih yang bukan dari garam. Hangat yang bukan dari suhu. Dan di bawah semua itu, ada sesuatu yang membuat dadaku sesak, karena aroma kluwek dan lengkuas dan kemiri sangrai itu adalah aroma dapur di sebuah rumah joglo kecil di Solo, tempat seorang perempuan tua pernah memasak untuk cucunya setiap sore sampai cucunya dikirim ke negara lain.

Aku tidak menangis. Aku tidak menangis di depan orang. Aku hanya menunduk lebih lama di atas mangkuk itu daripada yang perlu.

“Enak,” kataku akhirnya. Suaraku sedikit lebih rendah dari biasanya.

Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia meletakkan segelas air hangat di samping mangkukku. Bukan air dingin. Hangat. Tanpa aku minta.

Seperti ia menuangkan air untuk Mona di pesta.

Aku menatap gelas itu. Lalu menatapnya.

Lengan jas kokinya masih tergulung sampai siku, dan dari jarak sedekat ini, dengan lampu dapur yang terang tepat di atas kami, aku akhirnya melihatnya dengan jelas.

Garis panjang di lengan bawah kirinya. Pucat, sedikit menonjol, dari dekat pergelangan sampai hampir ke siku. Bukan luka dapur. Luka dapur itu kecil, banyak, acak. Ini satu, panjang, lurus. Ini luka dari sesuatu yang dihunuskan ke arahnya, dan ia tidak menghindar.

Tanganku bergerak sebelum otakku sempat menghentikannya. Ujung jariku terulur melintasi meja, ke arah garis itu.

Ia menarik lengannya. Tidak kasar. Tidak tersinggung. Hanya mundur sedikit, setengah langkah, dan tanpa terburu-buru menurunkan lengan bajunya kembali sampai pergelangan.

Aku menarik tanganku. Meletakkannya di pangkuan.

“Itu kenapa?” tanyaku.

Ia mengancingkan lengannya. Kancing kain, satu per satu. Ia tidak menatapku saat melakukannya.

“Dulu,” katanya.

Satu kata. Sebuah pintu yang ditutup pelan-pelan, tidak dibanting, tapi tetap ditutup.

Aku bisa mendesak. Aku sudah mendesak CEO perusahaan logistik sampai mereka mengakui utang tersembunyi tiga ratus miliar. Aku tahu caranya.

Tapi aku melihat caranya mengancingkan lengan itu. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang menutup sesuatu yang bukan miliknya sendiri untuk dibuka.

Dan aku teringat bagaimana di pesta ia selalu berdiri di sebelah kiri Mona. Setengah langkah di depan.

Aku tidak tahu ceritanya. Tapi aku tiba-tiba tahu untuk siapa luka itu.

“Oke,” kataku. “Dulu.”

Ia mengangkat wajah, sedikit terkejut, seperti tidak menyangka aku akan berhenti.

“Suatu hari,” lanjutku, mengambil gelas air hangat itu, “kamu cerita.”

“Kenapa saya harus cerita?”

“Karena aku akan sering ke sini.” Aku menyesap airnya. “Dua puluh satu malam lagi, tepatnya. Kamu nggak bisa diam terus selama dua puluh satu malam.”

“Saya bisa diam lebih lama dari itu, Bu.”

“Aku tahu. Itu yang membuatku penasaran.”


Ia mengantarku ke pintu depan. Bukan ke parkiran. Ke pintu. Bu Ratih sudah pulang, entah sungguhan atau pura-pura, dan ruang makan utama gelap kecuali lampu-lampu kecil di sepanjang lorong menuju pintu kayu besar berukir.

Di luar, Senopati masih ramai. Klakson, motor, musik dari bar di seberang jalan.

“Besok aku datang lagi,” kataku, di ambang pintu.

“Besok Sabtu, Bu. Penuh.”

“Kursi nomor satu sudah dipesan atas namaku.”

Ia diam sebentar. “Ibu nggak bosan?”

Aku berbalik menghadapnya. Ia berdiri di ambang pintu, setengah dalam cahaya lampu jalan dan setengah dalam gelap restoran, jas kokinya masih putih bersih meski sudah bekerja lima belas jam, tangan di saku celana, rambut jatuh ke dahi. Ia lebih tinggi dariku bahkan dengan hak sepatuku yang sembilan senti. Aku harus sedikit mendongak.

Aku jarang harus mendongak untuk siapa pun.

“Bosan atau nggak,” kataku, melangkah setengah langkah lebih dekat, cukup dekat untuk mencium bau serai dan asap kayu dari jasnya, “itu tanggung jawabmu, Chef. Bukan tanggung jawabku.”

“Tanggung jawab saya cuma masak.”

“Kalau begitu masak yang nggak bikin aku bosan.”

“Saya masak rawon yang sama sejak umur dua puluh.”

“Rawonnya nggak bikin aku bosan.” Aku memiringkan kepala. “Yang masak juga nggak.”

Ia menatapku. Aku menatapnya balik. Di seberang jalan, bar itu memutar lagu lama yang aku tahu liriknya tapi tidak bisa kuingat judulnya.

Lalu ia berkata, sangat pelan, sangat datar, dengan telinga yang lagi-lagi merah:

“Hati-hati di jalan, Bu Tamara.”

“Tamara.”

“Hati-hati di jalan.”

Ia tidak menyebut namaku. Tapi ia juga tidak menyebut Bu. Aku menghitungnya sebagai kemenangan parsial. Dalam negosiasi, kemenangan parsial di pertemuan kedua adalah tanda yang sangat baik.


Di mobil, sopirku bertanya apakah aku mau langsung pulang. Aku bilang ya. Lalu aku menyandarkan kepala ke jok dan menatap lampu-lampu kota yang bergerak mundur.

Tanganku masih ingat rasa ingin menyentuh garis pucat di lengannya. Dadaku masih ingat rasa rawon itu. Dan pipiku, aku menyadari dengan agak ngeri, masih pegal karena tertawa.

Ponselku bergetar.

Sasha.

Bu, maaf ganggu. Ada notifikasi dari bank. Kartu kredit Ibu yang dipakai di restoran kena limit transaksi harian karena dianggap mencurigakan. Pihak bank mau verifikasi apakah benar Ibu melakukan transaksi besar di restoran yang sama dua kali dalam tiga hari, plus satu pre-payment untuk 22 malam.

Lalu, satu detik kemudian:

Saya sudah bilang ke banknya iya benar. Mereka nanya alasannya. Saya bilang “kebutuhan pribadi yang mendesak.” Mbaknya ketawa, Bu.

Lalu:

Bu, ini bukan fungsi strategis.

Aku mematikan layar ponsel, menyandarkan kepala lagi, dan, sendirian di jok belakang mobil yang melaju di Sudirman pukul sebelas malam, aku tertawa lagi.

Dua kali dalam satu malam.

Aku harus berhati-hati. Ini mulai jadi kebiasaan.