Chapter Twenty
Pertama Kali Dirawat
POV: Tamara
Tutup buku kuartal tiga selesai pukul empat sore hari Selasa, setelah sembilan hari aku tidur rata-rata tiga jam semalam.
Aku menandatangani berkas terakhir. Aku mengirim laporan konsolidasi ke dewan direksi. Aku menutup laptop, menatap layar hitamnya, dan merasakan sesuatu yang aneh di belakang mataku. Seperti ada orang kecil di dalam kepalaku yang memukul-mukul tengkorakku dengan palu karet.
“Bu,” kata Sasha dari ambang pintu, “Ibu pucat.”
“Aku selalu pucat. Ayahku orang Inggris.”
“Bu, Ibu pucat kayak kertas HVS.”
Aku berdiri. Ruangan berputar sedikit. Aku memegang tepi meja.
“Aku pulang,” kataku.
“Saya antar, Bu.”
“Nggak usah. Sopir sudah di bawah.”
“Bu—”
“Sasha. Kamu juga tidur tiga jam sehari selama sembilan hari. Pulang. Tidur. Itu perintah.”
Sasha menatapku dengan mata berkantung yang sama dalamnya dengan mataku. Ia ragu. Lalu ia mengangguk, karena ia juga sudah di ujung batas.
Di mobil, aku menyandarkan kepala ke jendela. Kaca jendelanya terasa sangat dingin. Atau kepalaku yang terlalu panas.
Pukul sembilan malam, termometer digital di laci kamar mandiku menunjukkan tiga puluh sembilan koma empat.
Aku menatap angka itu dengan pandangan kabur. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku memakai termometer itu. Mungkin waktu aku membelinya, dua tahun lalu, waktu pindah ke apartemen ini dan Sasha bilang setiap rumah harus punya kotak P3K.
Apartemenku di lantai tiga puluh dua. Tiga kamar, dua kamar mandi, jendela dari lantai sampai langit-langit yang menghadap ke Sudirman. Dapur dengan kompor induksi yang tidak pernah dipakai dan kulkas dua pintu yang isinya tiga botol air mineral, satu kotak yogurt kedaluwarsa, dan sisa lapis legit dari makan malam bertiga minggu lalu.
Asisten rumah tanggaku datang Senin, Rabu, Jumat. Ini Selasa.
Aku berbaring di sofa ruang tengah karena tidak sanggup berjalan ke kamar tidur. Aku menarik selimut tipis yang biasanya kupakai untuk menonton film. Aku menggigil. Gigiku bergemeletuk.
Aku tahu aku harus minum obat. Aku tidak tahu di mana obatnya. Aku tahu aku harus makan. Aku tidak punya apa pun untuk dimakan selain lapis legit.
Aku memejamkan mata.
Aku ingat waktu kecil, di Solo, aku pernah demam tinggi. Umur tujuh atau delapan. Eyang duduk di tepi kasurku semalaman dengan baskom berisi air hangat dan kain, mengompres dahiku setiap setengah jam. Eyang memasak bubur dengan kaldu ayam kampung dan menyuapiku sendok demi sendok. Eyang menyanyikan lagu Jawa yang aku tidak ingat liriknya, tapi aku ingat suaranya, yang serak dan pelan dan membuat demamku terasa seperti sesuatu yang bisa ditanggung.
Setelah Eyang, tidak ada lagi.
Di asrama di Inggris, kalau aku sakit, aku pergi ke klinik sekolah sendiri, menerima parasetamol dari perawat yang tidak tahu namaku, dan kembali ke kamar. Di Oxford, aku pernah radang tenggorokan seminggu penuh dan tidak ada yang tahu sampai aku tidak bisa presentasi di seminar. Di London, aku pernah tifus dan dirawat di rumah sakit lima hari, dan ayahku mengirim bunga dengan kartu yang ditulis sekretarisnya.
Aku sudah terbiasa sakit sendirian. Itu bukan masalah. Itu fakta. Seperti fakta bahwa ayahku orang Inggris dan aku pucat.
Ponselku bergetar di atas meja kopi.
Aku meraihnya dengan tangan yang gemetar.
☀️ Matahari
Restoran rame banget malam ini. Dimas jatuhin sendok sayur tiga kali. Kamu udah makan?
Aku menatap layar. Huruf-hurufnya berenang sedikit.
Aku mengetik balasan. Jariku lambat dan sering salah tekan.
udh
Aku mengirimnya. Lalu aku sadar aku berbohong. Lalu aku sadar aku terlalu lelah untuk peduli.
Ponselku bergetar lagi dalam sepuluh detik.
Kamu nggak pernah ketik “udh”. Kamu selalu ketik “sudah” lengkap pakai titik.
Aku menatap pesan itu. Laki-laki ini. Ia memperhatikan cara aku mengetik.
Aku mengetik: aku cpek
Capek atau sakit?
Aku tidak menjawab. Aku tidak sanggup.
Ponselku berdering. Telepon. Aku mengangkatnya dan menempelkannya ke telinga tanpa membuka mata.
“Tamara?”
Suaranya. Di latar belakang, bunyi dapur yang sedang sibuk. Desis minyak, dentang panci, suara Dimas yang berteriak meja delapan nambah rawon dua!
“Hm,” kataku.
“Kamu kenapa?”
“Aku nggak apa-apa.”
“Suaramu kayak orang tenggelam.”
“Aku cuma,” aku menelan, tenggorokanku sakit, “aku cuma agak panas.”
“Berapa?”
“Apa?”
“Panasnya. Berapa derajat.”
“Tiga puluh sembilan.” Aku berhenti. “Koma empat.”
Hening. Bunyi dapur di latar belakang tiba-tiba menjauh, seperti ia berjalan ke tempat yang lebih sepi.
“Kamu sendirian?”
“Asisten rumah tanggaku datang besok.”
“Kamu udah minum obat?”
“Aku nggak tahu obatnya di mana.”
“Kamu udah makan?”
“Ada lapis legit.”
Hening lagi. Lebih lama.
“Kamu,” katanya, dengan suara yang sangat pelan dan sangat datar, “demam tiga puluh sembilan koma empat, sendirian, nggak tahu obatnya di mana, dan makan lapis legit.”
“Lapis legitnya masih bagus. Dua puluh empat lapis.”
“Tamara.”
“Aku nggak apa-apa, Matahari. Aku sudah biasa. Kamu kerja aja. Restoran rame.”
Hening yang paling lama.
Lalu ia berkata satu kalimat, dengan suara yang tidak pernah kudengar darinya sebelumnya. Suara yang bukan suara Chef, bukan suara pacar yang menggoda, bukan suara laki-laki yang malu-malu. Suara seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak bisa dibantah.
“Satu jam. Jangan tidur dulu.”
Telepon terputus.
Ia datang dalam lima puluh dua menit.
Aku tahu karena satpam lobi menelepon interkom, dan suaranya terdengar bingung: Bu, ada tamu. Bapak yang kemarin. Yang motor biru. Bawa banyak barang. Katanya Ibu sakit?
Aku menekan tombol untuk membuka akses lift. Aku tidak sanggup bicara.
Lima menit kemudian, bel pintu apartemenku berbunyi. Aku berjalan ke pintu dengan selimut di bahu, berpegangan ke dinding, dan membukanya.
Matahari berdiri di lorong dengan jas koki putih yang masih terpasang di badannya, apron yang belum dilepas, dan wajah yang tegang seperti kawat. Di tangan kanannya, rantang besi tiga susun. Di tangan kirinya, kantong plastik apotek yang penuh. Di bahunya, tas ransel hitam yang terlihat berat.
Ia menatapku. Rambutku yang berantakan, wajahku yang pucat dan berkeringat, selimut di bahu, piyama satin yang kancingnya salah pasang.
Ekspresinya berubah. Dari tegang menjadi sesuatu yang lebih buruk. Seperti orang yang melihat api yang ia takutkan benar-benar sudah membakar sesuatu.
“Kamu masih pakai apron,” kataku, dan suaraku serak.
Ia tidak menjawab. Ia melangkah masuk, meletakkan semua barang di lantai lorong, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
Tangannya dingin. Dingin dan kasar dan sangat, sangat nyaman.
“Ya Tuhan,” gumamnya.
“Tiga puluh sembilan koma empat. Aku sudah bilang.”
“Kamu bilang nggak apa-apa.”
“Itu bohong.”
“Aku tahu.” Ia menarik tangannya dari dahiku. Lalu, tanpa bertanya, tanpa meminta izin, ia membungkuk, menyelipkan satu lengan di belakang lututku dan satu lengan di punggungku, dan mengangkatku.
Aku memekik pelan. “Matahari—”
“Kamu nggak bisa jalan lurus.”
“Aku bisa.”
“Kamu pegangan dinding dari tadi.”
Ia membawaku ke kamar. Ia tidak bertanya di mana kamarku. Ia membuka pintu pertama yang ia temukan, ternyata ruang kerja, menutupnya lagi, membuka pintu kedua, kamar tamu, menutupnya lagi, dan membuka pintu ketiga. Kamarku. Ia meletakkanku di kasur, menarik selimut tebal dari ujung kasur, dan menutupiku sampai dagu.
Lalu ia berdiri di sana, di samping kasurku, dengan jas koki putih yang ada noda kuah rawon di bagian dada, dan menatapku.
“Kamu,” kataku, menatapnya dari bawah selimut, dengan otak yang sudah setengah meleleh karena demam, “baru gendong aku ke kamar.”
“Iya.”
“Ini pertama kalinya kamu ke apartemenku.”
“Iya.”
“Dan pertama kalinya kamu masuk ke kamarku.” Aku tersenyum. Senyum yang mungkin terlihat sangat bodoh karena wajahku terasa seperti balon. “Aku bayangin ini beda.”
Ia berkedip.
“Aku bayangin,” lanjutku, karena demam rupanya mencabut semua filter yang kupasang selama tiga puluh tahun, “aku pakai lingerie hitam. Bukan piyama satin dengan kancing salah pasang. Dan kamu yang buka pintu kamar ini pakai kaki, karena tanganmu sibuk.” Aku menutup mata. “Bukan karena aku demam.”
Hening.
Aku membuka mata. Ia masih berdiri di sana. Telinganya merah. Lehernya merah. Wajahnya merah sampai aku khawatir ia juga demam.
“Kamu,” katanya perlahan, “kamu demam.”
“Iya.”
“Kamu ngomong sembarangan karena demam.”
“Aku ngomong jujur karena demam.” Aku menatapnya. “Kalau sehat, aku masih mikir dulu. Sekarang aku nggak sanggup mikir.”
Ia menatapku lama. Lalu ia membungkuk, dan aku pikir ia akan menciumku, dan aku memejamkan mata. Tapi yang kurasakan adalah bibirnya di dahiku. Lama. Hangat. Seperti mengukur suhu tubuhku dengan bibir, cara yang dipakai ibu-ibu di kampung.
“Nanti,” bisiknya di dahiku. “Waktu kamu sehat. Waktu kamu masih bisa mikir dulu.”
Lalu ia menegakkan badan dan keluar dari kamar sebelum aku sempat menjawab.
Aku tidak tahu berapa lama ia di dapur. Aku tertidur dan terbangun beberapa kali. Setiap kali terbangun, aku mendengar bunyi-bunyi yang tidak pernah kudengar di apartemen ini. Bunyi pisau di talenan. Bunyi air mengalir. Bunyi kompor induksi yang tidak pernah dipakai, yang ternyata berbunyi bip pelan saat dinyalakan. Bunyi seseorang bersenandung dengan suara rendah, lagu yang tidak kukenal.
Lalu bau. Bau bawang putih yang ditumis. Bau jahe. Bau kaldu ayam.
Bau dapur yang hidup.
Ia kembali ke kamar dengan nampan. Di atasnya, semangkuk bubur dengan kaldu ayam, suwiran ayam, daun bawang, dan bawang goreng. Segelas teh jahe hangat dengan madu. Dua tablet parasetamol di piring kecil. Baskom berisi air hangat dan handuk kecil yang sudah dilipat.
Ia meletakkan nampan di nakas. Ia membantu aku duduk, menyelipkan dua bantal di punggungku. Ia memberiku obat dan air hangat, dan menungguku menelan. Lalu ia mengambil mangkuk bubur, duduk di tepi kasurku, menyendok bubur, meniupnya pelan, dan menyodorkannya ke bibirku.
Aku menatap sendok itu.
“Aku bisa makan sendiri,” kataku.
“Tanganmu gemetar.”
Aku menatap tanganku di atas selimut. Ia benar.
Aku membuka mulut. Ia menyuapiku. Bubur itu hangat dan lembut dan gurih, dengan rasa jahe yang samar dan sesuatu yang membuat tenggorokanku yang sakit terasa lebih baik.
“Kamu bawa kaldu dari restoran?” tanyaku setelah suapan ketiga.
“Kaldu delapan belas jam yang baru. Dimas yang jaga.”
“Dimas tahu?”
“Dimas yang nyiapin rantangnya. Bu Ratih yang beli obat di apotek sebelah restoran. Pak Gunawan yang bilang aku boleh pulang servis setengah jalan.” Ia menyendok bubur lagi. “Seluruh Sekar Kedhaton tahu kamu sakit.”
Aku menelan bubur. Dan sesuatu di tenggorokanku, yang bukan sakit karena demam, terasa sesak.
Seluruh Sekar Kedhaton. Seorang sous chef dengan plester bergambar kucing, seorang maître d’ dengan tinta emas, seorang pemilik restoran yang belum pernah kutemui. Mereka tahu aku sakit, dan mereka melakukan sesuatu.
Ayahku tidak tahu aku sakit. Ibuku tidak tahu aku sakit. Selama sepuluh tahun, tidak ada satu pun orang dalam hidupku yang tahu kalau aku sakit, kecuali Sasha, dan Sasha tahu karena Sasha mengatur kalenderku.
Ponselnya bergetar di saku apronnya. Ia mengeluarkannya, melirik layar, dan menghela napas.
“Mona,” katanya.
“Dia tahu?”
“Aku telepon dia waktu jalan ke sini. Buat nanya obat.” Ia membuka layar dan memperlihatkannya padaku.
Empat belas pesan. Dari Mona 🌙.
Kak, parasetamol dulu, kalau 4 jam ga turun baru ibuprofen. JANGAN dicampur. Kak kompres pake air hangat bukan air dingin. Air dingin bikin menggigil. Kompres di ketiak sama lipatan paha juga bukan cuma dahi. Kak dia alergi udang JANGAN kasih kaldu yang ada udangnya. Kak suruh dia minum yang banyak. Air putih. Bukan kopi. Dia pasti mau minum kopi. JANGAN. Kak kalau sampai 40 bawa ke RS. Jangan nunggu. Kak Pasal Satu dibekukan sementara. Darurat medis. Kakak boleh nginep. Tapi di SOFA. SOFA ya Kak. Kak bubur pake jahe. Jahe bagus buat tenggorokan. Kak kasih madu di tehnya. Kak jangan lupa matiin kompornya. Kakak sekarang suka lupa matiin kompor. Dimas cerita. Kak dia punya termometer? Kalau ga punya beli. Termometer digital. Yang raksa jangan. Kak. Kak bilang ke dia cepet sembuh. Dari aku.
Aku membaca pesan-pesan itu, dari atas ke bawah, dua kali. Pesan terakhir, tiga kali.
Kak bilang ke dia cepet sembuh. Dari aku.
Aku menutup mata. Air mataku jatuh. Aku tidak tahu apakah karena demam atau karena hal lain.
“Hei,” kata Matahari pelan. Ia meletakkan mangkuk bubur dan ponselnya di nakas. “Hei, kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu nangis.”
“Demam bikin mata berair.”
“Tamara.”
Aku membuka mata. Ia duduk di tepi kasur, membungkuk ke arahku, dengan jas koki yang bernoda kuah rawon dan rambut yang berantakan karena helm dan wajah yang sangat khawatir.
“Aku nggak pernah,” kataku, dan suaraku pecah, “aku nggak pernah dirawat orang. Sejak Eyang.”
Ia diam.
“Ayahku kirim bunga waktu aku tifus. Bunganya ditulis sekretarisnya. Ibuku nggak tahu. Aku nggak kasih tahu, karena aku tahu dia nggak akan datang, dan aku nggak mau tahu dia nggak akan datang.” Aku mengusap mata dengan punggung tangan yang gemetar. “Aku selalu sakit sendirian. Aku pikir itu normal. Aku pikir semua orang dewasa sakit sendirian.”
Ia mengambil handuk kecil dari baskom air hangat, memerasnya, dan mengusap wajahku perlahan. Dahi, pipi, bawah mata, tempat air mataku mengalir.
“Kamu tahu kenapa?” bisikku.
“Kenapa apa?”
“Kenapa aku selalu sakit sendirian.”
Ia menunggu.
Aku menatap langit-langit kamarku. Langit-langit putih bersih yang dicat ulang oleh pengelola apartemen tahun lalu. Aku sudah menatap langit-langit ini ratusan malam tanpa bisa tidur.
“Karena aku nggak pernah jadi pilihan pertama siapa pun,” kataku.
Kalimat itu keluar dari mulutku dan menggantung di udara, seperti uap dari mangkuk bubur.
“Ayahku pilih kerjaannya. Ibuku pilih hidupnya yang baru. Laki-laki yang pernah dekat sama aku pilih perempuan yang lebih... yang lebih mudah. Yang nggak bikin mereka merasa kecil. Bahkan Eyang,” aku menelan, “Eyang pilih aku. Eyang satu-satunya. Tapi Eyang pergi waktu aku nggak di sana, dan aku pilih ujian. Aku pilih ujian daripada pulang.”
Air mataku jatuh lagi. Aku tidak mengusapnya.
“Jadi aku belajar mengejar,” kataku. “Aku kejar semuanya. Beasiswa, kerjaan, promosi, Seri C. Aku kejar kamu. Dua puluh dua malam di kursi nomor satu. Karena kalau aku yang mengejar, aku nggak perlu nunggu dipilih. Aku nggak perlu tahu rasanya nggak dipilih.”
Hening.
Hanya bunyi napasku yang berat, dan AC yang berdengung pelan, dan lampu-lampu Sudirman di luar jendela yang tidak pernah tidur.
Matahari tidak bicara. Ia tidak bilang kamu pilihan pertamaku. Ia tidak bilang itu nggak benar. Ia tidak bilang apa pun yang akan terdengar seperti kalimat dari film.
Ia hanya meraih tanganku di atas selimut. Menggenggamnya. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku, perlahan, seperti di parkiran malam garang asem. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku. Sekali. Dua kali. Terus.
Ia tidak melepaskannya.
Aku menatap tangan kami. Lalu menatapnya. Ia menatapku balik dengan mata yang tenang dan dalam, dan di mata itu tidak ada kasihan.
Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mirip pengakuan. Seperti ia mendengar sesuatu dalam kalimatku yang ia kenal dari dirinya sendiri.
Aku tidak mengerti apa. Aku terlalu lelah untuk mengerti.
“Tidur,” katanya pelan.
“Kamu pulang?”
“Nggak.”
“Mona bilang sofa.”
“Aku nggak tidur di sofa.” Ia menarik kursi dari meja riasku, meletakkannya di samping kasur, dan duduk di sana tanpa melepaskan tanganku. “Aku nggak tidur.”
“Kamu harus tidur. Kamu besok kerja.”
“Aku pernah nggak tidur dua hari waktu Mona tifus kelas tiga SMP. Ini nggak seberapa.”
“Itu Mona. Itu adikmu.”
“Iya.” Ibu jarinya terus bergerak di punggung tanganku. “Dan ini kamu.”
Aku menatapnya. Kalimat itu sederhana. Lima kata. Dan ini kamu. Tapi ia menaruhnya di sebelah itu Mona, dengan nada yang sama, dengan berat yang sama.
Aku menutup mata sebelum aku menangis lagi.
Aku terbangun pukul tiga pagi.
Demamku sudah turun. Aku bisa merasakannya dari keringat dingin di leherku dan kepalaku yang tidak lagi berdenyut. Lampu kamar dimatikan, hanya lampu tidur kecil di nakas yang menyala kuning redup.
Matahari masih di kursi di samping kasurku. Ia tertidur dalam posisi duduk, kepala terkulai ke samping, bersandar ke tepi kasurku. Jas kokinya sudah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi. Ia memakai kaus putih di dalamnya. Lengan kirinya, dengan garis pucat panjang itu, terulur di atas kasur.
Tangannya masih menggenggam tanganku.
Tujuh jam, dan ia tidak melepaskannya. Bahkan dalam tidur.
Aku menatapnya. Wajahnya yang tertidur. Kerutan di dahinya yang tidak hilang bahkan saat tidur, kerutan orang yang terbiasa khawatir. Rambutnya yang jatuh ke dahi. Bulu matanya yang panjang. Napasnya yang pelan dan teratur.
Dan dengkurnya. Pelan. Seperti kompresor AC yang lelah.
Aku tersenyum dalam gelap.
Dengan tanganku yang bebas, aku meraih ponselku di nakas. Aku membuka aplikasi perekam suara. Aku menekan tombol merah, dan mendekatkan ponsel ke arahnya selama tiga puluh detik.
Lalu aku membuka WhatsApp, mencari kontak Mona R. Wirasena, dan mengirim rekaman itu.
Di bawahnya, aku mengetik:
Pasal Empat Belas. Dia masih di sini. Demamku sudah turun. Terima kasih untuk empat belas pesannya.
Aku meletakkan ponsel kembali di nakas. Aku menggenggam tangan Matahari lebih erat. Lalu aku memejamkan mata dan tidur lagi, kali ini tanpa menatap langit-langit, kali ini dengan suara dengkur pelan di sebelahku seperti lagu yang Eyang nyanyikan dulu.
Pukul enam pagi, ketika aku bangun, ada satu balasan di ponselku.
Mona R. Wirasena:
Rekamannya aku simpan. Cepet sembuh, Tamara.
Tidak ada Bu. Untuk pertama kalinya.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat reading
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan