← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Twenty Five

Rumah Eyang

POV: Tamara

Aku belum pernah ke makam Eyang.

Sepuluh tahun. Aku sudah ke Solo empat kali sejak pulang dari London, untuk urusan pekerjaan, untuk rapat dengan mitra logistik, untuk menghadiri pernikahan anak kolega. Setiap kali, aku menginap di hotel di Slamet Riyadi. Setiap kali, aku menyuruh sopir lewat jalan lain supaya tidak melewati jalan kecil di daerah Laweyan tempat rumah joglo Eyang berdiri. Setiap kali, aku pulang ke Jakarta tanpa pernah mampir ke pemakaman keluarga di belakang masjid kampung, tempat Eyang dikuburkan waktu aku sedang menulis jawaban Econometrics di Oxford.

Aku selalu punya alasan. Jadwal terlalu padat. Penerbangan terlalu pagi. Hujan.

Alasan sebenarnya tidak pernah kuucapkan, bahkan kepada diriku sendiri: aku takut. Aku takut berdiri di depan batu nisan itu dan tidak tahu harus bilang apa kepada perempuan yang memilihku, satu-satunya, waktu aku tidak memilihnya kembali.

Hari Jumat sore, di kereta Argo Lawu dari Gambir ke Solo Balapan, aku menceritakan ini kepada Matahari.

Ia duduk di sebelahku di gerbong eksekutif, dekat jendela, dengan tas ransel hitam di pangkuan. Di luar, sawah-sawah Jawa Barat bergerak mundur dalam warna hijau dan emas. Ia mendengarkan tanpa menyela, seperti biasa. Tangannya menggenggam tanganku di atas sandaran lengan.

Ketika aku selesai, ia diam sebentar. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.

Buku kupon kecil dengan sampul kertas cokelat dan jahitan benang merah yang miring.

Ia membukanya di halaman sebelas. Kupon 11: Tamara ikut ke makam Bapak dan Ibu. Kalau Matahari mau.

“Ini kebalik,” katanya.

“Kebalik?”

“Kupon ini buat aku. Aku yang pakai.” Ia mengambil pulpen dari tasnya, mencoret beberapa kata dengan hati-hati, dan menulis di atasnya dengan huruf besar yang miring ke kiri. Lalu ia memutar buku itu supaya aku bisa membacanya.

Kupon 11: ~~Tamara~~ Matahari ikut ke makam ~~Bapak dan Ibu~~ Eyang. Kalau Tamara mau.

Aku menatap tulisan itu lama.

“Kamu nggak bisa ubah kupon,” kataku. Suaraku keluar serak.

“Kenapa?”

“Karena itu kuponku. Aku yang bikin. Ada syarat dan ketentuannya.”

“Syaratnya apa?”

Aku mencoba mengingat. Aku tidak menulis syarat apa pun. Aku menulis buku kupon itu jam dua pagi dengan benang merah dan jarum yang kupinjam dari asisten rumah tanggaku, dan satu-satunya hal yang kupikirkan waktu itu adalah bagaimana caranya memberi seseorang sesuatu yang bukan uang.

“Nggak ada syarat,” akuiku.

“Berarti boleh diubah.”

“Itu logika yang buruk.”

“Itu logika CFO.” Ia menutup buku kupon itu dan memasukkannya kembali ke saku kemejanya, di atas jantungnya. “Aku belajar dari kamu.”

Aku tidak menjawab. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan menatap sawah-sawah di luar jendela sampai mataku berhenti panas.


Makam Eyang ada di pemakaman keluarga kecil di belakang masjid kampung di Laweyan. Pohon kamboja tua di tengahnya, bunga-bunganya putih dan kuning, berjatuhan di atas batu-batu nisan yang sebagian sudah miring. Seorang bapak tua penjaga makam menunjukkan jalan, lalu meninggalkan kami.

Batu nisan Eyang sederhana. Marmer putih yang sudah kusam, dengan tulisan hitam yang sedikit memudar. Nama lengkapnya. Tanggal lahir. Tanggal wafat. Tanggal yang sama dengan hari aku duduk di ruang ujian di Oxford dan mencium bau karpet tua dan kopi basi.

Aku berdiri di depan batu nisan itu.

Aku sudah memikirkan apa yang akan kukatakan. Di kereta. Di hotel tadi malam. Di mobil pagi ini. Aku sudah menyusun kalimat-kalimat, seperti menyusun presentasi untuk dewan direksi. Permintaan maaf, penjelasan, pengakuan.

Aku tidak mengatakan satu pun.

Aku berlutut di tanah yang lembap. Aku menyentuh marmer putih itu dengan telapak tanganku. Dingin. Sedikit kasar. Ada lumut tipis di sudutnya.

Dan aku menangis.

Bukan tangisan seperti di kursi nomor satu waktu garang asem. Bukan tangisan seperti di pelukan Mona di hotel Surabaya. Tangisan yang lebih tua dari itu. Tangisan umur dua puluh tahun, di kamar asrama Oxford, dengan baju hitam yang tidak pernah dipakai ke pemakaman. Tangisan yang sudah menunggu sepuluh tahun untuk menemukan tempat yang tepat.

Matahari berlutut di sebelahku.

Ia tidak memelukku. Ia tidak menyentuhku. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya. Sebuah toples kaca kecil, berisi bunga melati yang masih segar dan beberapa lembar daun salam.

Ia menaburkan melati di atas makam Eyang. Pelan. Sedikit demi sedikit. Lalu ia meletakkan lima lembar daun salam di dekat batu nisan.

“Lima,” bisikku di antara tangis.

“Biar harum sampai ke mimpi,” katanya.

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

Ia membiarkanku menangis. Lama. Ia duduk di sebelahku di tanah yang lembap, dengan celana jeansnya yang kotor oleh tanah merah, dan tidak berkata apa-apa. Bunga kamboja jatuh dari pohon di atas kami. Satu mendarat di bahunya. Ia tidak menyingkirkannya.

Ketika tangisku akhirnya mereda, aku menurunkan tanganku dan menatap batu nisan itu.

“Eyang,” kataku. Suaraku serak dan pelan. “Aku pulang.”

Hanya itu. Dua kata. Semua kalimat yang kususun di kereta dan hotel dan mobil hilang, dan yang tersisa hanya dua kata itu.

Lalu, karena aku tidak tahu harus berkata apa lagi, aku menoleh ke laki-laki di sebelahku. Ke rambutnya yang ada bunga kamboja di bahunya. Ke tangannya yang kotor tanah merah. Ke wajahnya yang tenang dan sabar dan menatapku tanpa terburu-buru.

“Eyang,” kataku lagi, kembali menatap batu nisan, “ini Matahari. Dia yang bikin garang asem Eyang.”

Angin bertiup. Bunga kamboja berjatuhan lagi.

“Rasanya sama,” bisikku. “Persis sama. Pakai gula jawa. Pakai dandang. Pakai kluwek sedikit.” Aku menelan. “Eyang pasti suka dia.”

Matahari tidak berkata apa-apa. Tapi aku merasakan tangannya akhirnya menggenggam tanganku, di atas tanah lembap di depan makam Eyang.


Rumah joglo Eyang tidak berubah.

Ibuku menyewa seorang ibu tetangga untuk membersihkannya seminggu sekali. Jadi lantainya bersih, dan perabotannya ditutup kain putih, dan tidak ada sarang laba-laba di sudut-sudut. Tapi rumah itu kosong dengan cara yang tidak bisa dibersihkan. Kosong seperti rumah yang menunggu.

Aku membuka pintu kayu berukir di depan. Engselnya berderit, persis seperti dulu.

Pendopo dengan empat tiang kayu jati dan lantai ubin kuning yang dingin di bawah kaki. Bale-bale bambu di sudut tempat Eyang dulu tidur siang. Kursi goyang rotan yang sudah lapuk di satu sisi.

Dan di belakang, dapur.

Aku berjalan ke sana dengan langkah yang pelan. Matahari di belakangku.

Dapur Eyang kecil. Tungku tanah liat di satu sisi, yang sudah tidak dipakai sejak Eyang membeli kompor gas di tahun dua ribuan. Kompor gas dua tungku di atas meja beton. Rak kayu dengan panci-panci tergantung. Dan di atas kompor, persis di tempat yang sama dengan sepuluh tahun lalu, dandang tembaga yang sudah menghitam di bagian bawah.

Aku berhenti di ambang pintu dapur. Aku tidak bisa masuk.

Matahari berdiri di sebelahku. Ia menatap dandang itu. Lalu ia menatap rak kayu, dan di rak itu, di antara toples-toples kaca yang berdebu, ia menemukan satu toples berisi daun-daun kering yang sudah cokelat.

Daun salam. Yang sudah kering di toples sejak Eyang pergi.

Ia mengambil toples itu, membukanya, dan menciumnya.

“Masih wangi,” katanya pelan.

“Itu sepuluh tahun.”

“Daun salam yang dikeringkan dengan benar bisa tahan lama.” Ia menatap toples itu. “Eyangmu ngeringinnya dengan benar.”

Aku menatap toples itu di tangannya. Daun-daun salam yang dipetik Eyang sendiri dari pohon di halaman belakang, dikeringkan di atas tampah di bawah sinar matahari, dimasukkan ke toples, dan disimpan untuk Kamis-Kamis yang tidak pernah datang lagi.

“Kita masak,” kataku.

Matahari menoleh.

“Garang asem,” kataku. “Di sini. Pakai dandang Eyang. Pakai daun salam Eyang.”


Kami ke pasar Laweyan sore itu. Ayam kampung bagian paha. Belimbing wuluh. Tomat hijau. Santan dari kelapa yang diparut di tempat. Gula jawa dari pedagang yang Matahari tanya selama sepuluh menit tentang asal gulanya. Daun pisang. Satu biji kluwek.

Kami memasak di dapur Eyang sampai malam.

Matahari mengajariku semua langkahnya. Ia berdiri di belakangku waktu aku mengulek bumbu, tangannya di atas tanganku, memandu putaran ulekan dari pergelangan, bukan dari bahu. Ia membiarkanku memecahkan kluwek dengan punggung pisau. Ia menunjukkan cara melayukan daun pisang di atas api supaya tidak sobek waktu dilipat.

Dan aku membuat pincuk-pincuk kecil dengan tanganku sendiri, satu demi satu, di meja dapur Eyang, persis seperti Eyang dulu membuatnya.

Lima lembar daun salam per pincuk. Dari toples Eyang.

Dua rawit utuh. Yang berani boleh gigit.

Kami mengukusnya di dandang tembaga Eyang, empat puluh menit, sepuluh menit lebih lama dari resep mana pun.

Waktu dandang itu mulai mengepul, waktu bau garang asem dan daun salam mulai memenuhi dapur kecil itu, memenuhi rumah joglo yang sepuluh tahun kosong, aku berdiri di tengah dapur dan memejamkan mata.

Bau itu. Bau Kamis.

Rumah ini tidak kosong lagi.


Kami makan di pendopo, duduk bersila di atas tikar pandan yang kutemukan tergulung di gudang. Lampu minyak yang Matahari temukan di laci dan isi dengan minyak tanah dari warung. Pincuk-pincuk garang asem di atas piring rotan.

Aku membuka pincuk pertama. Uapnya naik.

Aku mencicipi.

Tidak sama persis dengan yang Matahari buat di Sekar Kedhaton. Sedikit lebih asam, karena belimbing wuluh dari pasar Laweyan lebih muda. Sedikit lebih kasar, karena tanganku belum sehalus tangannya saat mengulek. Daun salamnya sepuluh tahun lebih tua.

Tapi ini dimasak di dapur Eyang. Di dandang Eyang. Dengan daun salam Eyang. Dengan tanganku.

“Gimana?” tanya Matahari.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku meletakkan sendok, merangkak di atas tikar pandan ke arahnya, dan menciumnya.

Ciuman yang rasanya asam dan gurih dan daun salam.

Ia membalas ciumanku dengan tangan di belakang leherku, dan aku mendorongnya pelan sampai ia bersandar ke tiang kayu jati pendopo, dan aku duduk di pangkuannya dengan lutut di kedua sisi pinggangnya, dan lampu minyak di sebelah kami berkedip-kedip.

“Tamara,” bisiknya di antara ciuman.

“Hm.”

“Ini rumah Eyangmu.”

“Iya.”

“Kita di pendopo rumah Eyangmu.”

“Iya.” Aku mencium rahangnya. “Eyang yang ngajarin aku makan pakai tangan. Eyang yang bilang makanan itu disentuh, bukan cuma dimakan.” Aku mencium lehernya, di bawah telinga, di tempat yang aku tahu membuatnya menahan napas. “Eyang pasti ngerti.”

“Eyangmu orang Solo umur tujuh puluhan.”

“Eyangku,” aku menarik wajahku dan menatapnya dari jarak lima sentimeter, “menikah umur enam belas tahun dengan laki-laki yang ia kenal tiga minggu. Dia bilang ke aku, waktu aku sepuluh tahun, kalau kamu ketemu laki-laki yang masakannya bikin kamu pulang, Nduk, jangan dilepas.”

Matahari diam.

Lampu minyak berkedip. Di luar pendopo, jangkrik bernyanyi. Di langit di atas Laweyan, tanpa polusi Jakarta, bintang-bintang terlihat jelas. Puluhan. Ratusan.

“Dia bilang itu?” tanyanya pelan.

“Dia bilang itu.”

Aku menangkup wajahnya dengan dua tangan. Kulitnya hangat di bawah telapak tanganku. Matanya hitam dan dalam di bawah cahaya lampu minyak.

“Aku sayang kamu,” kataku.

Pelan. Jelas. Tanpa air mata kali ini.

Aku sudah mengucapkannya di malam garang asem pertama, waktu ia berlutut di lantai teraso Sekar Kedhaton. Aku mengucapkannya dengan suara pecah, dengan air mata, dengan seluruh hidupku yang tiba-tiba terbuka. Tapi malam ini berbeda. Malam ini aku mengucapkannya di rumah Eyang. Di pendopo tempat Eyang dulu tidur siang. Dengan rasa garang asem buatanku sendiri di lidah.

Malam ini aku mengucapkannya sebagai seseorang yang sudah pulang.

Matahari menatapku. Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan dan hangat dan membuat kerutan di sudut matanya dalam.

“Aku tahu,” katanya.

“Kamu harusnya jawab aku juga.”

“Aku sudah bilang aku cinta kamu di balkon.”

“Itu nggak dihitung. Itu di Jakarta. Ini di Solo.”

“Beda kota beda aturan?”

“Beda kota beda kontrak.”

Ia tertawa. Tawa rendahnya yang sekarang kukenal seperti aku mengenal bau daun salam. Lalu ia menarik wajahku lebih dekat dan berbisik di bibirku:

“Aku juga.”

Dan menciumku lagi, di pendopo rumah Eyang, di bawah bintang-bintang Laweyan, sampai lampu minyak di sebelah kami kehabisan minyak dan padam sendiri.


Kami tidak pindah ke kamar.

Kami tidur di bale-bale bambu di sudut pendopo, tempat Eyang dulu tidur siang. Bale-bale yang terlalu kecil untuk dua orang dewasa. Aku berbaring dengan kepala di dadanya, kakiku menjuntai di ujung, selimut batik tua yang kutemukan di lemari Eyang menutupi kami berdua. Ia berbaring dengan satu lengan di bawah kepalanya dan satu lengan melingkari bahuku.

Kami tidak melakukan apa pun selain itu. Berbaring. Mendengarkan jangkrik. Menatap langit lewat celah atap pendopo.

“Matahari.”

“Hm.”

“Kamu pernah ke makam orang tuamu?”

Ia diam sebentar. “Setiap Lebaran. Sama Mona.”

“Aku boleh ikut?”

“Kupon sebelas sudah dipakai.”

“Aku bikin kupon baru.” Aku menggambar lingkaran kecil di dadanya dengan ujung jari. “Kupon dua puluh satu.”

“Bukunya cuma dua puluh.”

“Aku jahit halaman baru.”

Ia tertawa pelan. Dadanya bergetar di bawah pipiku. Lalu ia mencium puncak kepalaku.

“Boleh,” katanya. “Lebaran nanti. Kamu ikut.”

Aku memejamkan mata. Detak jantungnya di bawah telingaku, pelan dan teratur, seperti bunyi ulekan di cobek batu.


Ponselnya bergetar pukul satu lewat dua belas dini hari.

Aku hampir tertidur. Aku merasakan getaran itu dari saku celananya, di bawah selimut batik, di dekat pahaku. Ia bergerak sedikit untuk mengambilnya.

“Siapa?” gumamku, setengah sadar.

“Email.”

“Jam satu pagi?”

“Dari Prancis. Di sana masih jam tujuh malam.”

Aku membuka mataku sedikit. Dari posisiku, dengan kepala di dadanya, aku bisa melihat cahaya biru layar ponsel menerangi wajahnya dari bawah.

Ia membaca email itu.

Wajahnya berubah.

Bukan perubahan besar. Matahari tidak pernah membuat perubahan besar di wajahnya. Tapi aku sudah menghabiskan berbulan-bulan membaca wajah laki-laki ini, dari kursi nomor satu, dari jarak lima sentimeter di parkiran, dari bantal di sebelahnya waktu aku demam. Aku tahu setiap gerakan kecil di rahangnya. Setiap kerutan di dahinya.

Dan malam itu, di bawah cahaya biru layar ponsel, aku melihat rahangnya mengencang. Aku melihat kerutan di dahinya, yang tidak pernah benar-benar hilang bahkan saat ia tidur, menjadi lebih dalam. Aku melihat matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya, perlahan, lalu kembali ke atas, membaca ulang.

Lalu ia mematikan layar ponselnya.

Ia memasukkannya kembali ke saku celana. Ia tidak berkata apa-apa. Ia menarik selimut batik itu sedikit lebih tinggi di bahuku, dan mengusap rambutku, dan menatap langit-langit pendopo.

“Siapa?” tanyaku lagi. Lebih sadar sekarang.

Jeda. Satu detik. Dua.

“Chef lama,” katanya. “Mentorku dulu. Dari Prancis.”

“Dia bilang apa?”

“Dia mau ke Jakarta. Bulan depan.”

Aku mengangkat kepala dari dadanya dan menatapnya. Dalam gelap, setelah layar ponsel mati, aku hanya bisa melihat garis wajahnya di bawah cahaya bintang yang masuk lewat celah atap.

“Itu kabar bagus, kan?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab.

“Iya,” katanya akhirnya. “Kabar bagus.”

Ia menarik kepalaku kembali ke dadanya dengan lembut. Ia mencium puncak kepalaku lagi. Ia memelukku sedikit lebih erat dari sebelumnya.

Aku memejamkan mata. Aku mendengarkan detak jantungnya.

Pelan dan teratur, seperti bunyi ulekan di cobek batu.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, detaknya sedikit lebih cepat dari biasanya. Dan sampai aku tertidur, ia tidak berhenti menatap langit-langit pendopo.