← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Forty

Jas yang Kupilih Lagi

POV: Tamara

Kotak jas itu datang ke apartemen Kalibata hari Kamis sore, tiga hari sebelum akad nikah.

Aku ada di sana karena Mona memintaku datang. Tam, Kamis jam empat. Jangan telat. Aku butuh saksi. Aku tidak bertanya saksi untuk apa. Aku sudah belajar, dalam dua tahun mengenal Mona Rembulan Wirasena, bahwa kalau ia butuh saksi, sesuatu yang sangat penting dan sangat konyol akan terjadi.

Aku duduk di sofa ruang tengah dengan secangkir teh. Mona berdiri di dekat pintu kamar mandi, pura-pura sibuk mengelap kusen yang sudah bersih. Matahari di dapur, mencuci wajan yang tidak kotor.

Bel pintu berbunyi.

Mona tidak bergerak. Ia mengelap kusen lebih cepat.

“Mon,” kata Matahari dari dapur. “Bel.”

“Aku lagi sibuk, Kak.”

“Kamu ngelap kusen.”

“Kusennya kotor.”

Matahari menatap adiknya. Lalu menatapku. Aku mengangkat bahu dan menyesap teh.

Ia menghela napas, mengeringkan tangan, dan berjalan ke pintu.

Aku mendengar suara kardus diletakkan. Lalu jeda. Jeda yang sangat panjang.

Lalu suaranya, dengan nada yang belum pernah kudengar darinya. Nada bapak-bapak kompleks yang menemukan anaknya memanjat pagar.

“Mona Rembulan.”

Nama lengkap.

Mona menutup mata sebentar. Lalu ia meletakkan lap, merapikan rambutnya, dan berjalan ke ruang tengah dengan wajah paling polos yang pernah kulihat di wajah seorang VP Operations Southeast Asia.

Matahari berdiri di tengah ruangan, memegang jas.

Bukan jas abu-abu arang dari malam pesta Seri C. Jas beskap. Warna hitam dengan bordir benang emas yang sangat halus di kerah dan di sepanjang kancing. Jas pengantin Jawa. Di kakinya, kotak kardus besar yang sudah terbuka, dengan kertas tisu putih di dalamnya, dan sehelai kain batik tulis motif sidomukti yang dilipat rapi, dan blangkon hitam dengan mondolan di belakang.

“Ini berapa?” tanyanya.

“Diskon,” kata Mona.

“Diskon dari berapa?”

“Dari harga normal.”

Matahari membalik kerah beskap itu, mencari label. Tidak ada. Sudah dipotong.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Ia menghela napas. Panjang sekali.

“Mon.”

“Kak, sekali ini aja.” Mona mengambil beskap itu dari tangannya dan menempelkannya ke dadanya. Pas. Tentu saja pas. “Kakak nikah sekali seumur hidup. Aku nggak punya pasangan buat dinikahin. Bintang belum mau nikah sebelum Kakak nikah duluan, katanya urutan deploy harus benar. Jadi aku punya Kakak. Kakak mau aku liat Kakak nikah pakai jas sewaan?”

Matahari menatap adiknya lama.

Aku menatap mereka berdua dari sofa. Aku sudah mendengar cerita ini. Mona menceritakannya padaku di kasur twin di Surabaya, di antara cerita-cerita lain, sambil tertawa. Jas abu-abu arang. Label yang dipotong. Diskon dari harga normal. Kata sendirian yang selalu membuat kakaknya kalah.

Mona tidak memakai kata sendirian kali ini.

Ia tidak perlu.

“Aku yang pilih,” kata Mona pelan. “Dua tahun lalu aku pilih jas buat Kakak ke pesta kantor, biar Kakak nggak berdiri di pojok. Sekarang aku pilih jas buat Kakak nikah.” Ia merapikan kerah beskap itu di dada kakaknya. “Biar Kakak berdiri di tengah.”

Matahari menatap adiknya. Matanya berkaca-kaca.

Ia tidak berdebat soal harga lagi.


Tiga hari sebelum akad, rumah Eyang di Laweyan penuh orang.

Aku memutuskan menikah di Solo. Di pendopo rumah Eyang. Di bawah empat tiang kayu jati yang sudah berdiri sejak sebelum aku lahir. Ibuku, yang tidak pernah mau tinggal di rumah ini dan tidak pernah mau menjualnya, terdiam lama di telepon waktu aku memberitahunya. Lalu ia bilang, dengan suara yang tidak kukenal, Eyang pasti senang, Nduk.

Itu pertama kalinya ibuku memanggilku Nduk.

Ibuku datang dari Bali dua hari sebelum akad. Sendirian. Tanpa suami barunya. Ia berdiri di depan pintu kayu berukir rumah Eyang dengan koper kecil dan kacamata hitam, dan menatap pendopo yang sudah dihias dengan janur kuning dan bunga melati, dan tidak masuk selama lima menit.

Aku keluar dan berdiri di sebelahnya.

Kami tidak bicara. Kami hanya berdiri di sana, ibu dan anak, menatap rumah perempuan yang membesarkan salah satu dari kami dan ditinggalkan oleh yang lain.

Lalu ibuku melepas kacamata hitamnya. Matanya merah.

“Dapurnya,” katanya. “Dapurnya masih ada?”

“Masih. Dandangnya juga. Matahari masak garang asem pakai dandang Eyang.”

Ibuku menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku umur dua belas, ia memelukku.

Pelukannya canggung. Kaku. Seperti orang yang sudah lupa caranya. Tapi ia memelukku, di depan pintu rumah Eyang, dan aku membiarkannya.

Ayahku datang malam itu dari London. Ia membawa satu koper dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu, cincin kawin. Bukan cincin kawin untukku. Cincin kawin lamanya. Cincin yang ia pakai waktu menikah dengan ibuku, tiga puluh dua tahun lalu, di Solo.

Ia menyerahkannya kepada Matahari di pendopo, setelah makan malam.

“Ini tidak berhasil untuk saya,” kata ayahku dengan bahasa Indonesia beraksen Inggrisnya yang kental. “Tapi saya pikir mungkin cincin ini butuh kesempatan kedua.”

Matahari menatap cincin itu. Lalu menatap ayahku.

“Bapak yakin?”

“Saya bankir investasi selama tiga puluh lima tahun,” kata ayahku. “Saya tahu aset yang bagus kalau saya lihat.”

Ibuku, yang duduk di sudut pendopo di kursi goyang rotan Eyang yang sudah diperbaiki, mendengus. Ayahku menoleh padanya. Mereka saling menatap untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun.

Lalu ibuku tersenyum. Sangat sedikit. Tapi tersenyum.


Pagi hari akad, aku duduk di depan cermin di kamar Eyang.

Kamar yang dulu kutiduri sampai umur dua belas. Kasur kayu yang sama. Lemari jati yang sama. Cermin rias tua dengan bingkai kayu berukir yang sudah sedikit kusam, dengan noda kecil di sudut kanan bawah kacanya, noda yang dulu kukira hantu waktu aku kecil.

Perias pengantin dari Solo sudah selesai. Dua jam. Paes ageng. Rambutku disanggul dengan sanggul bokor mengkurep, dihiasi cunduk mentul emas yang berayun setiap aku menoleh. Alis dibentuk menjangan ranggah. Dahi dipaes hitam dengan lekukan-lekukan yang presisi, seperti grafik yang digambar dengan tangan. Kebaya beludru hitam dengan bordir emas yang senada dengan beskap Matahari. Kain batik sidomukti.

Dan lipstik.

Perias itu menawarkan tiga warna. Merah muda, merah bata, cokelat. Warna-warna yang tradisional. Warna-warna yang sopan.

Aku menolak ketiganya.

Aku mengeluarkan tabung lipstik dari tas kecilku. Tabung yang kubeli di London bertahun-tahun lalu. Yang kusimpan di laci wastafel sebagai cadangan. Yang kupakai di malam Matahari berdiri di depan pintu apartemenku dengan rantang dan jaket flanel.

Merah.

Perias itu menatapku dengan alis terangkat. Lalu ia menatap tabung itu. Lalu ia tersenyum dan menyingkir.

Aku menyapukannya sendiri. Atas. Lalu bawah. Dua gerakan.

Aku menatap perempuan di cermin.

Ia cantik. Aku tahu itu. Aku selalu tahu itu. Aku mengatakannya dengan nada yang sama ketika aku mengatakan EBITDA kita membaik delapan persen. Fakta yang sudah diaudit berkali-kali.

Tapi pagi ini, di cermin rias Eyang, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahku sendiri.

Aku tidak terlihat seperti perempuan yang mengejar. Aku tidak terlihat seperti perempuan yang menunggu di jendela setiap hari Minggu. Aku tidak terlihat seperti perempuan yang memesan kursi dua puluh dua malam berturut-turut karena takut kalau ia tidak mengejar, tidak ada yang akan datang.

Aku terlihat seperti perempuan yang dipilih.

Dipilih duluan. Di depan adik yang ia jaga dua puluh satu tahun. Di depan mimpi yang ia robek dua kali. Dipilih di atas pincuk garang asem, dengan tulisan tangan yang miring ke kiri di halaman terakhir buku kupon yang kujahit sendiri dengan benang merah.

Menikah denganku.

Mataku basah. Aku menahan napas supaya paes di dahiku tidak luntur.

Pintu kamar terbuka.

Mona masuk. Ia memakai kebaya hijau sage, warna yang sama dengan gaunnya di kencan pertama dengan Bintang di toko buku Cikini. Rambutnya disanggul sederhana. Anting bulan sabit. Dan di jari manis tangan kirinya, cincin emas putih tanpa batu.

Ia berhenti di ambang pintu. Ia menatapku di cermin.

Lama.

“Tam,” katanya pelan.

“Hm.”

“Kamu cantik banget.”

Aku tertawa. Pelan. Supaya paesnya tidak retak. “Kamu bilang itu ke semua pengantin.”

“Aku nggak pernah ke nikahan siapa pun.” Mona berjalan ke belakangku. Ia menatap wajahku di cermin, dari atas bahuku. “Aku selalu nolak undangan nikahan. Takut Kakak ketemu cewek di sana.”

Aku tertawa lagi. Mona tersenyum. Lesungnya muncul.

Lalu ia mengulurkan tangan dan merapikan satu cunduk mentul di sanggulku yang sedikit miring. Hati-hati. Seperti merapikan dasi kakaknya di malam pesta Seri C.

“Kamu pakai merah,” katanya.

“Iya.”

“Perias pasti protes.”

“Perias senyum.”

Mona menatap bibirku di cermin. Lalu ia menatap mataku di cermin.

“Tam,” katanya. “Pasal Empat masih berlaku.”

“Ini bukan transferproof.”

“Aku tahu.” Mona tersenyum. “Makanya aku ingetin. Biar kamu tahu aku tahu.”

Aku meraih tangannya di bahuku. Aku menggenggamnya.

“Mona,” kataku.

“Hm.”

“Terima kasih.”

“Buat apa?”

Aku menatapnya di cermin. Adik dari laki-laki yang akan kunikahi dalam satu jam. Perempuan yang menyerahkan buku resep dengan kertas tagihan semester tiga di halaman terakhirnya. Perempuan yang memegang lengan kakaknya di atas atap kontrakan di Tebet, lalu melepaskannya.

“Sudah ngasih dia ke aku,” kataku.

Mona menatapku lama. Lalu ia menggeleng pelan.

“Aku nggak ngasih dia ke kamu, Tam.” Ia meremas tanganku. “Dia yang milih kamu. Aku cuma minggir.”


Satu malam sebelumnya, pukul sebelas, aku menelepon Matahari.

Ia tidur di rumah Pak Haji di Tebet, karena menurut adat, calon pengantin laki-laki tidak boleh menginap di rumah yang sama dengan calon pengantin perempuan sebelum akad. Mona yang mengatur ini. Mona bilang, Pasal Satu revisi final. Kakak nggak boleh ketemu Tam sampai akad. Ini adat. Ini nggak bisa dinego.

Kami menegosiasikannya juga. Kami sepakat: tidak boleh bertemu, tapi boleh telepon. Maksimal setengah jam.

“Kamu belum tidur,” katanya waktu mengangkat.

“Kamu juga.”

“Pak Haji ngorok.”

Aku tertawa. “Lebih kenceng dari kamu?”

“Kayak dua kompresor AC rusak.” Ia diam sebentar. “Aku tidur di atap.”

“Di atap?”

“Di atas genteng bekas. Pakai tikar. Pak Haji pinjemin.” Aku mendengar angin di latar belakang. Klakson samar. “Lampu kotanya kelihatan dari sini.”

Aku memejamkan mata. Aku membayangkannya. Laki-laki dengan bekas luka di lengan kiri, berbaring di atas tikar di atap kontrakan tempat ia membesarkan adiknya, menatap lampu kota yang dulu tidak bisa ia beli. Malam sebelum ia menikah.

“Kamu takut?” tanyaku.

“Iya.”

“Takut apa?”

Ia diam lama.

“Takut aku nggak bisa jadi orang yang kamu butuhin,” katanya. “Takut aku lupa bilang aku mau. Takut aku angkat telepon Mona di tengah ngomong sama kamu.”

“Kamu bakal angkat.”

“Iya.”

“Terus kamu telepon balik aku.”

“Iya.”

“Itu cukup, Matahari.” Aku menarik selimut batik Eyang sampai ke dagu. “Aku nggak butuh orang yang sempurna. Aku butuh orang yang telepon balik.”

Ia diam. Aku mendengar napasnya, pelan, di ujung telepon.

“Tamara.”

“Hm.”

“Besok aku pakai beskap dari Mona.”

“Aku tahu.”

“Labelnya dipotong.”

“Aku tahu. Aku lihat.”

“Kamu tahu harganya?”

“Aku CFO. Aku tahu harga semua hal.” Aku tersenyum dalam gelap. “Jangan tanya. Kamu bakal nggak bisa tidur.”

Ia tertawa. Rendah, pelan, di atas atap kontrakan di Tebet. Tawa yang sekarang aku kenal seperti aku kenal bau daun salam.

“Setengah jam,” katanya. “Mona bilang maksimal setengah jam.”

“Kita udah dua puluh tujuh menit.”

“Tiga menit lagi.”

“Tiga menit lagi.”

Kami tidak bicara selama tiga menit itu. Kami hanya mendengarkan napas satu sama lain. Angin di atap di Tebet. Jangkrik di halaman rumah Eyang di Laweyan.

Pukul sebelas lewat tiga puluh, ponselku bergetar dengan pesan.

Mona 🌙: Udah setengah jam. Tutup. Ini perintah adik.

Lalu, satu detik kemudian:

Mona 🌙: Selamat malam, Tam. Sampai ketemu di pelaminan.


Pagi itu, sebelum akad, Sasha mengirim satu pesan ke grup chat staf Blin.

Aku membacanya di kamar Eyang, di depan cermin, waktu perias sedang memasang cunduk mentul terakhir.

Sasha (EA CFO), pukul 07:12: Pengumuman resmi. Taruhan pernikahan Bu Tamara Morgan, yang dibuka oleh Pak Raka dua tahun lalu, hari ini resmi ditutup. Hasil akhir: Opsi C (dua tahun lagi). Total pemenang: 1 orang.

Pemenang: Bintang A.

Total hadiah: Rp 47.350.000.

Lalu, dari Raka Wibisana (CEO), pukul 07:13:

SATU ORANG??? Siapa yang pilih C selain Bintang???

Sasha (EA CFO), pukul 07:13:

Tidak ada, Pak. Semua orang pilih A atau B. Pak Raka pilih A dengan taruhan lima juta.

Raka Wibisana (CEO), pukul 07:14:

Bintang kok bisa tahu????? 😭😭😭

Lalu, dari Bintang A., pukul 07:16:

Aku nggak tahu. Aku cuma hitung. Kakak Mona butuh setahun di Lyon. Mona butuh waktu selesai. Itu dua tahun.

Lalu, satu pesan lagi dari Bintang A., pukul 07:17:

Hadiahnya aku sumbangkan ke Pak Darto. Buat renovasi tenda warung di dekat Stasiun Tebet. Atasnya bocor. Dan lampunya kurang terang.

Grup chat itu hening sebentar.

Lalu, dari akun Dimas Omah Rembulan 🌶️, pukul 07:19:

Mas Bintang. Saya nangis lagi.

Aku meletakkan ponselku di meja rias. Aku menatap perempuan di cermin, dengan paes ageng dan cunduk mentul emas dan lipstik merah, dan aku tertawa sampai perias harus memegang kepalaku supaya sanggulnya tidak goyang.


Pukul sembilan pagi, aku berjalan keluar dari kamar Eyang.

Lorong rumah joglo itu dipenuhi bunga melati yang digantung dari tiang-tiang kayu. Wanginya memenuhi udara, bercampur dengan wangi dupa dan, samar sekali, dari arah dapur, daun salam. Dimas sedang memasak di dapur Eyang sejak subuh. Garang asem. Untuk tamu.

Di ujung lorong, pendopo. Janur kuning. Tamu-tamu yang duduk bersila di atas tikar pandan. Ayahku, di barisan depan, dengan beskap pinjaman yang terlalu ketat di perut. Ibuku di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi tidak terlalu jauh.

Bu Ratih, dengan kebaya emas, memegang buku tamu bersampul batik dan pulpen gel tinta emas yang baru. Pak Gunawan. Pak Darto dan Anto. Antoine, yang terbang lagi dari Lyon dan duduk bersila dengan susah payah, dengan lutut Prancis yang tidak terbiasa. Raka, dengan wajah yang masih tidak percaya ia kalah taruhan dari Bintang. Sasha, yang sudah menangis sejak semalam.

Bintang, di sebelah Mona. Tangan mereka bergandengan. Jari-jari terkunci.

Dan di tengah pendopo, di depan penghulu, duduk bersila di atas tikar pandan yang sama dengan tikar tempat kami makan garang asem pertama di rumah ini, dengan lampu minyak yang padam sendiri, dengan bintang-bintang Laweyan di atas kepala kami:

Matahari.

Beskap hitam dengan bordir emas. Blangkon hitam. Kain batik sidomukti. Dan di jari manisnya, belum, tapi dalam beberapa menit, cincin kawin lama ayahku yang mendapat kesempatan kedua.

Ia menoleh mendengar langkahku.

Ia menatapku.

Paes ageng. Sanggul bokor mengkurep. Cunduk mentul yang berayun. Kebaya beludru hitam. Dan lipstik merah.

Aku melihat wajahnya berubah. Seperti matahari pagi yang naik di atas sawah. Pelan, lalu semuanya sekaligus.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak bisa. Matanya terlalu basah untuk tersenyum.

Ia hanya menatapku, dari tengah pendopo rumah Eyang, seperti ia menatap pincuk garang asem pertama yang berhasil ia buat. Seperti menatap rasa yang hilang, dan baru saja ditemukan.

Aku berjalan ke arahnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak berjalan seperti orang yang mengejar.

Aku berjalan seperti orang yang pulang.