Chapter Forty Seven
Extra 6 — Buku Kupon Jilid Dua
POV: Tamara
Buku kupon pertama habis hari Selasa, pukul sebelas malam, di kamar mandi.
Kupon terakhir yang tersisa adalah kupon tujuh belas: Tamara memijat bahu Matahari selama tiga puluh menit tanpa berhenti. Ia memakainya setelah servis Selasa malam di Omah Rembulan, setelah empat ratus dua belas piring dan satu tamu yang mengembalikan rawon karena terlalu hitam. Ia duduk di tepi bak mandi dengan bahu yang kaku seperti papan, dan aku memijatnya tiga puluh menit tanpa berhenti, dan ia mendengkur di menit kedua puluh tujuh.
Aku membuka buku kupon itu setelahnya. Dua puluh satu halaman. Semuanya sudah dicoret dengan tanda centang dari pulpen merahnya. Kupon satu, Tamara memasak, dipakai pagi setelah pernikahan, telur dadar yang tidak gosong. Kupon tiga, mendengarkan cerita kluwek tanpa menyela, dipakai di balkon lantai tiga puluh dua. Kupon sebelas, makam Eyang. Kupon dua puluh, Menikah denganku, di pincuk garang asem. Kupon dua puluh satu, makam Bapak dan Ibu.
Semuanya habis.
Aku duduk di tepi kasur dengan buku kecil itu di tanganku, dengan sampul kertas cokelat yang sudah lecek di sudut dan benang merah yang sudah mulai longgar, dan merasa sesuatu yang aneh. Seperti kehilangan.
Jadi aku membuat yang baru.
Aku membelinya hari Rabu, di toko alat tulis di Blok M, di sela makan siang. Kertas cokelat yang lebih tebal. Benang merah yang lebih kuat. Jarum yang lebih tajam. Pulpen hitam dengan ujung yang lebih halus.
Aku menjahitnya hari Kamis malam, di meja makan, sementara Matahari masih di Omah Rembulan. Aku bertekad: kali ini lurus. Kali ini rapi. Kali ini aku tidak akan menjahit jam dua pagi dengan jarum pinjaman dari asisten rumah tangga.
Kali ini aku punya rencana.
Aku mengukur margin dengan penggaris. Aku menandai titik jahitan dengan pensil, setiap satu sentimeter. Aku menonton tiga video tutorial jahit tangan di YouTube, dua dalam bahasa Inggris dan satu dalam bahasa Korea dengan subtitle Indonesia yang kacau.
Hasilnya miring.
Bukan sedikit miring. Miring seperti menara di Pisa. Benang merah yang seharusnya lurus di tepi sampul berbelok di tengah, seperti sungai yang bingung, dan berakhir dua sentimeter lebih tinggi dari tempat ia mulai.
Aku menatap buku itu. Aku menatap video tutorial yang masih terbuka di laptopku, di mana tangan seorang perempuan Korea menjahit dengan lurus sempurna sambil tersenyum.
Aku menutup laptop.
“Miring,” kataku ke buku itu. “Kamu miring lagi.”
Buku itu tidak menjawab.
Aku mengambil pulpen hitam dan mulai menulis.
Buku Kupon Matahari, Jilid Dua. Berlaku seumur hidup. Tidak bisa diuangkan. Tidak bisa dipindahtangankan. Terutama tidak ke Dimas. Terutama tidak ke Raka.
Kupon 1: Matahari bernyanyi untuk Tamara. Lagu apa saja. Durasi minimal satu lagu penuh.
Kupon 2: Tamara memilih baju yang Matahari pakai selama satu hari. Matahari tidak boleh protes.
Kupon 3: Satu pagi, Matahari tidak ke pasar. Matahari tidur sampai jam delapan. Dengan Tamara.
Kupon 4: Matahari menceritakan satu hal yang belum pernah ia ceritakan ke siapa pun. Bahkan Mona.
Kupon 5: Satu jam, Tamara boleh memotret Matahari sebanyak apa pun. Matahari harus senyum. Senyum beneran. Bukan senyum sakit gigi.
Aku berhenti menulis. Aku membaca ulang lima kupon itu. Lalu aku menulis kupon keenam, dan wajahku memanas bahkan sebelum aku selesai menulisnya.
Kupon 6: Matahari memakai apron. Hanya apron.
Aku menatap kupon itu lama.
Lalu aku mencoretnya. Lalu aku menulisnya lagi di bawah coretan, lebih kecil. Lalu aku menutup buku itu dan menutup wajahku dengan dua tangan, sendirian di meja makan, pukul sepuluh malam.
Matahari pulang pukul sebelas lewat dua puluh.
Aku menunggu di ruang tengah dengan buku kupon di belakang punggung. Aku sudah merencanakan penyerahannya. Aku akan berdiri, menyerahkannya dengan dua tangan, dan bilang Jilid Dua dengan suara yang tenang, seperti menyerahkan term sheet.
Ia membuka pintu. Ia melihatku berdiri di tengah ruang tengah dengan tangan di belakang punggung.
Ia berhenti. Ia menatapku dengan mata menyipit.
“Kamu sembunyiin apa?” tanyanya.
“Nggak ada.”
“Tanganmu di belakang.”
“Tanganku memang biasanya di belakang.”
“Tanganmu nggak pernah di belakang. Tanganmu selalu di depan. Kamu selalu pegang sesuatu. Ponsel, tablet, kopi, aku.”
Aku menatapnya. Rencanaku runtuh dalam sembilan detik.
Aku mengeluarkan buku kupon dari belakang punggungku dan menyodorkannya dengan dua tangan. “Jilid Dua.”
Ia mengambilnya. Ia menatap sampulnya. Ia menatap jahitan benang merah yang miring seperti menara di Pisa.
Ia tidak berkomentar soal jahitannya. Ia tersenyum. Sedikit. Di sudut bibir.
Ia membuka halaman pertama. Ia membaca.
Kupon satu. Kupon dua. Kupon tiga. Aku melihat sudut bibirnya naik sedikit lebih tinggi di setiap halaman. Kupon empat. Ia berhenti lebih lama di sana. Kupon lima. Ia mendengus pelan.
Kupon enam.
Ia berhenti.
Ia menatap halaman itu. Lama. Ia menatap coretan di atas, dan tulisan kecil di bawah coretan.
Telinganya merah. Lalu lehernya. Lalu ia menutup buku itu dengan cepat.
“Tam.”
“Hm?”
“Kupon enam.”
“Itu dicoret.”
“Ditulis lagi di bawahnya.”
“Itu typo.”
“Typo nggak ditulis ulang, Tam.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap lantai. Wajahku panas. Aku tahu wajahku merah.
Ia menatapku lama. Lalu, tanpa bicara, ia memasukkan buku kupon itu ke saku kemejanya. Di atas jantungnya. Seperti buku kupon jilid satu.
Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya.
Buku kecil. Sampul kertas cokelat. Dijahit dengan benang merah.
Jahitannya juga miring.
Aku menatap buku itu di tangannya. “Itu apa?”
“Jilid Dua,” katanya. “Buat kamu.”
Aku duduk di sofa dan membuka buku itu.
Tulisan tangannya besar dan miring ke kiri, seperti tulisan anak SD. Huruf-hurufnya ditulis dengan hati-hati, pelan, dengan pulpen hitam yang sedikit bocor sehingga ada noda kecil di beberapa tempat.
Buku Kupon Tamara. Berlaku seumur hidup. Tidak boleh ditolak.
Kupon 1: Satu malam, aku yang masak. Kamu duduk di meja plating.
Aku menatap kupon itu. Meja plating. Meja stainless di Sekar Kedhaton, tempat aku duduk di malam kedua puluh dua, dengan gaun hitam yang punggungnya terbuka, sementara ia bilang itu meja buat plating, bukan buat duduk.
Wajahku mulai panas.
Kupon 2: Satu hari, kamu nggak boleh pakai baju kantor. Seharian. Termasuk kalau ada rapat online.
“Rapat online,” kataku. “Aku punya rapat dewan direksi online tiap Kamis.”
“Tidak boleh ditolak,” katanya, duduk di sebelahku. “Halaman pertama.”
Kupon 3: Satu pagi, aku yang meluk kamu kayak koala. Kamu nggak boleh kabur pakai guling.
Aku tertawa. Basah sedikit.
Kupon 4: Aku cium kamu di depan Raka. Lama. Biar dia berhenti buka taruhan.
“Itu nggak akan bikin dia berhenti,” kataku. “Itu bakal bikin dia buka taruhan baru.”
“Aku tahu,” katanya. “Itu bonus.”
Kupon 5: Satu malam, kamu tidur di dadaku, bukan di leherku. Biar aku yang dengar detak jantungmu, bukan kamu yang dengar punyaku.
Aku berhenti tertawa.
Aku menatap kupon itu. Lalu aku menatapnya. Ia duduk di sebelahku, dengan jas koki yang belum dilepas, rambut berantakan, menatap ke depan, ke televisi yang mati, dengan telinga merah.
Laki-laki ini. Laki-laki yang dua tahun lalu tidak bisa bilang aku mau. Laki-laki yang merobek mimpinya jadi delapan bagian di atap kontrakan di Tebet.
Ia menulis biar aku yang dengar detak jantungmu.
Aku membalik halaman.
Kupon 6: Kamu pakai lipstik merah. Hanya lipstik merah.
Aku menutup buku itu.
Dengan cepat. Keras. Bunyi plak.
Aku menatap lurus ke depan, ke televisi yang mati. Wajahku terbakar. Seluruh wajahku, leherku, telingaku. Aku bisa merasakan panasnya naik dari dada seperti uap dari dandang Eyang.
Di sebelahku, Matahari diam.
Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat datar, sangat tenang:
“Kamu yang mulai. Kupon enam. Apron.”
“Itu typo,” kataku ke televisi.
“Ini juga typo,” katanya.
Aku tidak bisa menoleh. Aku tidak bisa bicara. Aku duduk di sofa dengan buku kupon tertutup di pangkuanku dan wajah yang aku yakin bisa dipakai untuk menggoreng telur.
Aku. CFO Blin. Perempuan yang menulis Matahari memakai apron. Hanya apron. lalu mencoretnya dan menulisnya lagi.
KO oleh kupon nomor enam.
Kami menyepakati aturan permainan malam itu, di meja makan, dengan kopi dan dua buku kupon di antara kami.
Aturan yang kususun di selembar kertas, dengan pulpen merah, seperti term sheet:
1. Setiap pihak boleh menggunakan kupon kapan saja selama akhir pekan. 2. Kupon yang digunakan tidak boleh ditolak. 3. Kupon yang digunakan harus dipenuhi saat itu juga, kecuali secara fisik tidak memungkinkan. 4. Pihak yang menggunakan kupon paling banyak dinyatakan menang. 5. Pihak yang kalah memasak sarapan hari Senin.
Ia membacanya. Ia mengangguk. Ia mengambil pulpen merahku dan menambahkan satu baris di bawah:
6. Kupon enam baru boleh dipakai setelah jam sembilan malam.
Aku menatap baris itu. Lalu menatapnya.
“Kamu yang nambahin itu,” kataku.
“Kamu yang nulis kupon enam duluan.”
Kami menandatanganinya. Aku dengan huruf T yang ujungnya berputar. Ia dengan nama lengkap, Matahari Wirasena, dalam huruf besar yang miring ke kiri.
Sabtu pagi, pukul lima, alarmnya berbunyi.
Aku sudah bangun. Aku sudah menunggu.
Sebelum ia sempat bergerak, aku menyodorkan buku kupon jilid dua di depan wajahnya. Terbuka di halaman tiga.
Kupon 3: Satu pagi, Matahari tidak ke pasar. Matahari tidur sampai jam delapan. Dengan Tamara.
Ia menatap kupon itu dengan mata setengah terpejam. Lalu ia menatapku.
“Rawit setan,” katanya.
“Tidak boleh ditolak. Pasal dua.”
Ia menghela napas. Ia mematikan alarm. Ia berbaring lagi.
Aku memeluknya seperti koala. Ia tidur sampai jam delapan lewat sebelas. Aku tidak tidur. Aku menatapnya tidur selama tiga jam dan sebelas menit, dan itu tiga jam paling bahagia minggu ini.
Skor: Tamara 1, Matahari 0.
Pukul delapan lewat lima belas, ia bangun, menatapku, dan tanpa bicara, mengambil buku kupon jilid dua miliknya dari nakas.
Halaman tiga.
Kupon 3: Satu pagi, aku yang meluk kamu kayak koala. Kamu nggak boleh kabur pakai guling.
Ia memelukku. Seperti koala. Lengan di pinggangku, kaki di atas kakiku, wajah di leherku. Rambutnya yang berantakan menggelitik pipiku.
Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak mau bergerak.
“Kamu curang,” kataku ke langit-langit. “Kamu pakai kupon tiga buat bales kupon tiga.”
“Pasal satu,” gumamnya ke leherku. “Boleh pakai kapan saja.”
Skor: Tamara 1, Matahari 1.
Pukul sepuluh, aku menggunakan kupon dua. Tamara memilih baju yang Matahari pakai selama satu hari.
Aku memilihkannya kemeja batik yang kubelikan di Pekalongan, yang belum pernah ia pakai karena menurutnya terlalu bagus buat dipakai. Celana linen krem. Dan, karena aku tidak bisa menahan diri, kacamata hitam.
Ia menatap dirinya di cermin lorong. Kemeja batik. Celana linen. Kacamata hitam.
“Aku kayak bapak-bapak mau arisan,” katanya.
“Kamu kayak model katalog,” kataku.
“Kenapa kacamata hitam? Kita di dalam rumah.”
“Karena kamu ganteng pakai kacamata hitam.”
Ia menatapku lewat cermin, dari balik kacamata hitam. Telinganya merah.
Skor: Tamara 2, Matahari 1.
Pukul sebelas, ia menggunakan kupon dua milikku. Satu hari, kamu nggak boleh pakai baju kantor.
Aku tidak sedang memakai baju kantor. Ini Sabtu. Aku memakai kaus Pak Darto.
“Kupon ini nggak berlaku,” kataku. “Aku nggak pakai baju kantor.”
“Hari ini Sabtu,” katanya. “Kuponnya aku simpan buat Kamis.”
Aku berhenti. “Kamis rapat dewan direksi.”
“Online.”
“Aku nggak bisa rapat dewan direksi pakai kaus Pak Darto.”
“Tidak boleh ditolak.” Ia mengetuk buku kupon di tangannya. “Pasal dua.”
“Pasal tiga! Harus dipenuhi saat itu juga!”
“Kecuali secara fisik tidak memungkinkan.” Ia tersenyum. “Secara fisik, Kamis belum datang.”
Aku menatapnya. Laki-laki ini membaca term sheet-ku dan menemukan celah di pasal tiga dalam tiga belas jam.
Aku menikahi pengacara yang menyamar jadi chef.
Skor: Tamara 2, Matahari 2.
Siang hari, perang kupon menjadi semakin brutal.
Pukul satu, aku menggunakan kupon lima. Satu jam, Tamara boleh memotret Matahari sebanyak apa pun. Matahari harus senyum beneran. Aku memotretnya dua ratus empat puluh tujuh kali. Di dapur. Di halaman belakang di bawah pohon jambu. Dengan kemeja batik dan kacamata hitam. Ia tersenyum beneran di foto ke-dua ratus dua belas, ketika aku tidak sengaja tersandung selang air dan jatuh ke rumput.
Skor: Tamara 3, Matahari 2.
Pukul dua, ia menggunakan kupon empat. Aku cium kamu di depan Raka. Ia menelepon Raka dengan video call. Raka mengangkat dari mal, sedang belanja dengan keponakannya. Matahari tidak bilang apa-apa. Ia hanya menarik wajahku dan menciumku di depan kamera selama sebelas detik. Raka menjatuhkan ponselnya di eskalator. Keponakannya yang mengangkat dan berkata ke kamera, Om Raka kenapa? Om Raka teriak.
Skor: Tamara 3, Matahari 3.
Pukul tiga, aku menggunakan kupon satu. Matahari bernyanyi untuk Tamara.
Ia menatapku lama. “Lagu apa?”
“Begadang,” kataku. “Rhoma Irama. Lengkap sama gaya tangannya. Pak Darto bilang kamu bisa.”
Wajahnya pucat. Lalu merah. Lalu pucat lagi.
“Tam.”
“Tidak boleh ditolak.”
Ia menyanyikannya. Di ruang tengah. Dengan kemeja batik dan kacamata hitam. Lengkap dengan gaya tangan. Suaranya sumbang dan ia lupa lirik di bait kedua dan harus mengarangnya sendiri. Aku merekamnya dari awal sampai akhir.
Aku tertawa sampai menangis. Sampai perutku sakit. Sampai harus berbaring di lantai.
Skor: Tamara 4, Matahari 3.
Rekaman itu tidak kukirim ke siapa pun. Aku menyimpannya di folder rahasia di ponselku, dengan nama file Aset Paling Berharga.
Pukul tujuh malam, ia menggunakan kupon satu milikku. Satu malam, aku yang masak. Kamu duduk di meja plating.
Rumah kami tidak punya meja plating. Rumah kami punya meja dapur dari kayu jati.
Ia membersihkannya. Dilap tiga kali. Lalu ia menatapku dan menunjuk meja itu.
Aku duduk di atasnya. Kakiku menjuntai. Seperti di malam kedua puluh dua di Sekar Kedhaton.
Ia memasak. Garang asem, tentu saja. Dengan dandang tembaga yang Bu Ratih tidak pernah minta kembali. Dan selama ia memasak, ia tidak bicara. Ia hanya sesekali menoleh padaku. Menatapku. Lalu kembali ke kompor.
Setiap kali ia menoleh, jantungku berdetak lebih cepat.
Di menit ketiga puluh, waktu dandang sudah mengepul dan bau daun salam memenuhi dapur, ia berjalan ke arahku. Ia berdiri di depanku, di antara lututku, seperti malam itu.
“Kamu tahu,” katanya pelan, “itu meja dapur. Bukan buat duduk.”
Aku menatapnya. Ia mengulang kalimatnya sendiri. Kalimat malam kedua puluh dua.
“Kenapa kamu nggak suruh aku turun?” tanyaku. Kalimatku sendiri.
Ia tidak menjawab. Ia meletakkan dua tangannya di tepi meja, di kedua sisi tubuhku.
Lalu ia menciumku.
Tidak ada alarm asap kali ini. Ia sudah mengecilkan api di bawah dandang. Aku melihatnya melakukannya sebelum ia berjalan ke arahku. Kali ini ia tidak lupa.
Kali ini ia tidak perlu lupa untuk menginginkan sesuatu.
Skor: Tamara 4, Matahari 4.
Pukul sembilan lewat satu menit, aku membuka buku kupon jilid dua miliknya. Halaman enam.
Kupon 6: Matahari memakai apron. Hanya apron.
Ia menatapku dari seberang meja makan, di mana kami baru selesai makan garang asem.
Aku menatapnya balik dengan wajah yang aku tahu merah.
Ia menatapku lama. Lalu ia membuka buku kupon jilid dua milikku. Halaman enam.
Kupon 6: Kamu pakai lipstik merah. Hanya lipstik merah.
Kami saling menatap. Di atas meja makan. Dengan dua buku kupon terbuka di halaman enam.
Pukul sembilan lewat dua menit.
“Pasal enam,” katanya pelan. “Setelah jam sembilan.”
“Sudah lewat jam sembilan,” kataku. Suaraku keluar serak.
Ia berdiri dari kursinya.
Aku berdiri dari kursiku.
Skor terakhir hari itu tidak tercatat. Sasha tidak ada di sana untuk mencatatnya. Dan kami berdua, untuk pertama kalinya sejak perang kupon dimulai, tidak peduli siapa yang menang.
Lampu dapur mati pukul sembilan lewat empat menit.
Minggu pagi, pukul tujuh, aku terbangun di dadanya.
Bukan di lehernya. Di dadanya. Seperti kupon lima. Telingaku di atas jantungnya. Detaknya pelan dan teratur, seperti bunyi ulekan di cobek batu.
Ia sudah bangun. Ia menatap langit-langit. Satu tangannya mengusap rambutku, pelan.
“Kamu pakai kupon lima,” kataku. “Tadi malam. Tanpa bilang.”
“Kamu tidur duluan,” katanya. “Aku pindahin kamu.”
Aku tidak bergerak. Aku mendengarkan detak jantungnya.
“Matahari.”
“Hm.”
“Kamu masih punya kupon yang belum dipakai?”
Ia diam sebentar. Lalu ia mengulurkan tangan ke nakas dan mengambil buku kupon jilid dua miliknya. Ia membukanya. Ia membalik halaman demi halaman, sampai ke halaman terakhir.
Halaman yang belum kulihat. Kemarin aku hanya membaca sampai kupon enam, lalu menutupnya dengan plak karena wajahku terbakar.
Ia menyodorkannya padaku.
Kupon 12 (terakhir): Satu hari, kamu yang dijaga. Kamu nggak boleh ngejaga siapa pun. Bukan Sasha. Bukan Raka. Bukan tiga ribu dua ratus karyawan Blin. Bukan aku. Satu hari, kamu cuma boleh dijaga.
Aku membaca kupon itu.
Lalu membacanya lagi.
Lalu aku tidak bisa membacanya lagi karena mataku kabur.
“Kamu,” kataku. Suaraku pecah. “Kamu nulis ini kapan?”
“Kamis malam. Di loker Omah Rembulan.” Ia mengusap rambutku. “Dimas lihat. Dimas nangis.”
“Dimas selalu nangis.”
“Iya.”
Aku menatap kupon itu. Bukan Sasha. Bukan Raka. Bukan tiga ribu dua ratus karyawan Blin. Bukan aku.
Ia tahu.
Ia tahu bahwa aku juga menjaga semua orang. Dengan caraku. Dengan pulpen merah dan spreadsheet dan rapat jam sembilan dan proposal yang kubedah sampai tulang supaya perusahaan tidak bangkrut dan tiga ribu dua ratus orang tidak kehilangan pekerjaan. Dengan memastikan Sasha pulang jam sembilan. Dengan menelepon Raka jam sebelas malam enam tahun lalu dan bilang bangun, aku punya ide.
Ia tahu bahwa aku, sama seperti dia, sudah lama lupa caranya dijaga.
“Kapan aku boleh pakai?” bisikku.
Ia memelukku lebih erat. Dagunya di puncak kepalaku.
“Sekarang,” katanya. “Hari ini Minggu. Kamu nggak boleh buka email. Kamu nggak boleh angkat telepon Sasha. Kamu nggak boleh mikirin proyeksi kuartal empat.”
“Aku pasti mikirin proyeksi kuartal empat.”
“Kalau kamu mikirin, aku tahu. Alismu jadi ngerut di sini.” Ia menyentuh titik di antara alisku dengan ujung jarinya. “Kalau ngerut, aku cium. Sampai nggak ngerut lagi.”
Aku tertawa. Basah. Di dadanya.
Lalu aku menutup mata.
Hari Minggu itu, aku tidak membuka email. Aku tidak mengangkat telepon. Aku berbaring di dadanya sampai siang. Ia memasak bubur dan menyuapiku. Ia mengepang rambutku, miring, dengan tangan yang lebih terbiasa memegang wajan. Ia membacakan buku masak tua Resep Satu Porsi yang ia pinjam dari Mona, dengan suara yang membuat setiap resep terdengar seperti dongeng.
Dan setiap kali alisku mengerut, setiap kali proyeksi kuartal empat menyelinap ke kepalaku, ia menciumnya. Di titik di antara alis.
Sampai sore, alisku sudah tidak mengerut lagi.
Senin pagi, aku memasak sarapan.
Aku kalah perang kupon. Aku tahu aku kalah. Bukan karena skornya. Skornya tidak pernah selesai dicatat.
Aku kalah karena kupon dua belas.
Dan aku tidak pernah sebahagia ini kalah.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan
- 42 Extra 1 — CFO di Kantor, Bocah di Rumah
- 43 Extra 2 — Sakit Pura-Pura
- 44 Extra 3 — Istri di Kursi Nomor Satu
- 45 Extra 4 — Lebaran Pertama
- 46 Extra 5 — Pernikahan Bulan
- 47 Extra 6 — Buku Kupon Jilid Dua reading
- 48 Extra 7 — Dua Garis