Chapter Forty Five
Extra 4 — Lebaran Pertama
POV: Tamara
Aku tidak pernah punya Lebaran.
Itu bukan keluhan. Itu data.
Waktu kecil di Solo, Eyang merayakannya dengan sederhana: opor ayam, sambal goreng ati, ketupat yang ia anyam sendiri di pendopo, dan beberapa tetangga yang datang bersalaman. Aku ingat bau santan dan daun kelapa muda. Aku ingat Eyang memakaikanku kebaya kecil berwarna kuning. Aku ingat salaman yang tidak pernah habis.
Setelah umur dua belas, Lebaran adalah hari kerja biasa di Inggris. Hari kuliah biasa di Oxford. Hari rapat biasa di London. Di Jakarta, Lebaran adalah hari ketika kantor kosong dan aku bisa menyelesaikan laporan kuartal tanpa gangguan, sementara Sasha mudik ke Medan dan Raka ke Bandung dan seluruh kota jadi sunyi seperti gudang di hari Minggu.
Tahun ini, Lebaran pertamaku sebagai istri Matahari Wirasena.
Tahun ini, aku punya keluarga.
Dan aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Malam takbiran, ruang tengah rumah kami di Kemang penuh dengan janur.
Mona yang membawanya. Dua ikat besar daun kelapa muda dari pasar, yang ia letakkan di lantai ruang tengah seperti gunungan. Ia duduk bersila di depannya dengan kaus lama Matahari dan rambut diikat asal, menganyam ketupat dengan kecepatan tangan yang membuatku curiga ia punya kontrak rahasia dengan pabrik ketupat.
“Tam, sini,” katanya, menepuk lantai di sebelahnya. “Belajar.”
Aku duduk. Aku mengambil dua helai janur. Aku menatap Mona menganyam. Lipat. Silang. Selip. Tarik. Dalam empat puluh detik, sebuah ketupat sempurna berbentuk belah ketupat jatuh dari tangannya ke tumpukan di sebelahnya.
Aku mencoba. Lipat. Silang. Selip.
Janurku robek.
Aku mengambil janur baru. Lipat. Silang. Selip. Tarik.
Hasilnya bukan belah ketupat. Hasilnya sesuatu yang mirip burung yang tertabrak mobil.
Mona menatap hasil karyaku. Lama.
“Itu apa?” tanyanya.
“Ketupat.”
“Itu bukan ketupat, Tam. Itu origami yang depresi.”
Dari dapur, aku mendengar tawa rendah yang kukenal. Matahari berdiri di ambang pintu dapur dengan sendok kayu di tangan, mengaduk opor di panci besar di belakangnya, dan menatap kami dengan senyum yang membuat kerutan di sudut matanya dalam.
“Kamu ketawa,” kataku padanya.
“Nggak.”
“Bahumu goyang.”
“Itu karena ngaduk opor.”
Aku mengangkat burung tertabrak mobil itu ke arahnya. “Ini salahmu.”
“Kenapa salahku?”
“Karena kamu nggak ngajarin aku. Kamu ngajarin aku motong bawang, ngulek sambal, masak garang asem. Kamu nggak pernah ngajarin aku nganyam ketupat.”
Ia meletakkan sendok kayu. Ia mengecilkan api di bawah panci opor. Lalu ia berjalan ke ruang tengah dan duduk bersila di lantai, di belakangku.
Persis di belakangku.
Kedua lengannya terulur melewati kedua sisi tubuhku. Tangannya menutupi tanganku. Tangan kanannya di atas tangan kananku. Tangan kirinya di atas tangan kiriku.
Seperti di les pertama. Di dapur Sekar Kedhaton. Waktu ia memandu tanganku di atas pisau dan bawang merah.
“Lipat di sini,” katanya, suaranya tepat di atas telingaku. Ia menggerakkan jari-jariku. “Silang ke bawah. Selip lewat sini. Jangan ditarik dulu.”
Aku tidak mendengar sepatah kata pun.
“Tarik pelan-pelan,” lanjutnya. “Dari dua sisi. Bareng.”
Ketupat pertama yang lahir dari tangan kami berdua jatuh ke pangkuanku. Bentuknya sedikit miring. Tapi itu belah ketupat. Itu ketupat.
“Chef,” kataku pelan, tanpa menoleh.
“Hm.”
“Kalau kamu duduk sedekat ini, aku nggak bisa konsentrasi nganyam.”
Ia diam satu detik. Lalu, tepat di telingaku, sangat pelan, cukup pelan supaya Mona yang duduk satu meter dari kami tidak mendengar:
“Kalau gitu, belajar konsentrasi.”
Aku menjatuhkan janur.
Mona menatap kami berdua. Ia menatap lengan kakaknya yang melingkari tubuhku. Ia menatap wajahku yang, aku tahu, merah menyala. Ia menatap wajah kakaknya yang tenang dengan telinga merah.
“Kalian,” katanya, dengan nada sangat datar, “lagi nganyam ketupat, atau lagi apa?”
“Nganyam,” kata Matahari.
“Nganyam,” kataku.
Mona menatap kami lama. Lalu ia mengambil sehelai janur dan melemparnya ke wajah kakaknya.
“Pasal Sepuluh berlaku di malam takbiran, Kak.”
Pagi hari Lebaran, aku keluar dari kamar dengan baju yang sudah kusiapkan sejak dua minggu sebelumnya.
Gamis batik dengan motif parang kecil, warna biru tua dengan aksen emas. Kerudung tipis dengan warna senada, dililit sederhana. Riasan tipis. Lipstik merah, tapi merah yang lebih lembut dari biasanya.
Dan di lorong, menunggu di depan pintu kamar mandi, Matahari. Dengan baju koko batik dengan motif parang kecil, warna biru tua dengan aksen emas.
Kain yang sama.
Ia menatap bajuku. Lalu menatap bajunya sendiri. Lalu menatapku lagi.
“Tam.”
“Hm?”
“Ini sama.”
“Iya.”
“Kamu yang pesan?”
“Sarimbit,” kataku, berjalan ke arahnya dengan langkah yang aku tahu terlihat sangat puas. “Baju pasangan. Aku pesan dari pengrajin di Pekalongan. Kainnya satu gulung, dipotong jadi dua. Satu buat kamu, satu buat aku.”
“Kapan kamu ukur badanku?”
“Proyek Matahari punya data ukuran semua orang.” Aku merapikan kerah baju kokonya, yang sebenarnya sudah rapi. Jariku bertahan di sana sebentar, di sisi lehernya, di atas denyut nadinya. “Kamu ganteng.”
Telinganya merah.
“Kita kayak,” ia mencari kata, “kayak pasangan di kalender.”
“Kita memang pasangan,” kataku. “Tahun depan kita jadi kalender. Aku udah ngomong ke Sasha.”
Ia menatapku dengan wajah ngeri. Aku tertawa. Lalu aku berjinjit dan mencium pipinya, cepat, sebelum Mona keluar dari kamar tamu dan melihat.
Mona keluar dari kamar tamu dengan gamis hijau sage dan kerudung putih. Ia menatap baju kami. Ia menatap kami. Ia menghela napas yang sangat panjang.
“Kalian,” katanya, “kayak pasangan di kalender.”
Sungkeman pertama kami di rumah Pak Darto.
Rumahnya di gang kecil di belakang Stasiun Tebet, dua gang dari kontrakan lama Matahari dan Mona. Rumah kecil dengan teras sempit dan pot-pot anggrek yang dirawat Anto. Pak Darto duduk di kursi rotan di ruang tamu dengan sarung dan peci baru, tongkat di sebelahnya.
Aku tidak tahu cara sungkem.
Aku tahu teorinya. Aku membacanya di internet tadi malam, jam dua pagi, sementara Matahari tidur. Berlutut. Cium tangan. Minta maaf. Tapi teori tidak sama dengan praktik, seperti teori gelatinisasi pati tidak sama dengan nasi yang tidak gosong.
Matahari sungkem duluan. Ia berlutut di depan Pak Darto, mencium tangannya, dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya kumengerti. Pak Darto menepuk kepalanya dua kali, dengan mata berkaca-kaca.
Lalu giliran Mona.
Lalu giliranku.
Aku berlutut di lantai ubin. Gamis batikku menyapu lantai. Aku meraih tangan Pak Darto yang keriput dan hangat. Aku menciumnya.
“Pak,” kataku. Aku tidak tahu bahasa Jawa yang benar untuk ini. Jadi aku bicara dengan bahasa yang kupunya. “Mohon maaf lahir dan batin. Maaf kalau saya pernah salah.”
Pak Darto menatapku lama. Lalu ia tertawa, tawa orang tua yang serak.
“Nduk,” katanya. “Kamu salah apa sama saya? Kamu baru ketemu saya tiga kali.”
“Saya nggak tahu, Pak. Tapi katanya harus minta maaf.”
Pak Darto tertawa lebih keras. Lalu ia merogoh saku baju kokonya dan mengeluarkan sesuatu. Amplop kecil berwarna hijau, dengan gambar ketupat di sudutnya.
Ia menyerahkannya padaku.
“THR,” katanya.
Aku menatap amplop itu.
“Pak, saya udah dewasa. Saya udah kerja. Saya CFO.”
“Kamu menantu baru di keluarga ini,” kata Pak Darto. “Hari itu sudah kayak anak saya sendiri. Kamu istrinya. Berarti kamu cucu saya.” Ia menepuk tanganku. “Cucu dapat THR. Itu aturannya.”
Aku membuka amplop itu. Di dalamnya, selembar uang dua puluh ribu rupiah. Baru. Lurus. Dari bank.
Aku menatap uang itu lama.
Selama delapan tahun aku bekerja di dunia keuangan, aku mengatur triliunan rupiah. Aku menutup Seri C senilai ratusan juta dolar. Aku menandatangani kontrak yang angkanya terlalu banyak nolnya untuk dibaca dengan sekali lihat.
Aku belum pernah menerima uang yang terasa sebesar dua puluh ribu rupiah ini.
“Makasih, Pak,” kataku. Suaraku pecah. “Makasih banyak.”
Pak Darto menepuk kepalaku dua kali, sama seperti ia menepuk kepala Matahari.
Di rumah Pak Haji, aku dapat THR lagi. Sepuluh ribu rupiah, dalam amplop putih polos. Pak Haji bilang ia cuma punya pecahan sepuluh ribu karena tukang sayur kemarin tidak punya kembalian.
Di rumah kami di Kemang, waktu Bu Ratih datang bersilaturahmi sore harinya dengan kebaya kutubaru berwarna kuning emas, aku dapat THR lagi. Lima puluh ribu rupiah, dalam amplop bergambar bunga, dengan tulisan tangan tinta emas di belakangnya: Buat menantu Chef. Semoga betah.
Delapan puluh ribu rupiah. Dari tiga orang.
Malam itu, aku meletakkan tiga amplop itu di meja makan, berjajar, dan memotretnya. Lalu aku mengunggahnya ke Instagram, tanpa filter, dengan caption: THR pertama. 80.000. Portofolio paling berharga yang pernah saya pegang.
Dalam sepuluh menit, Raka berkomentar: TAM KAMU DAPAT THR??? AKU NGGAK PERNAH DAPAT THR DARI SIAPA PUN. Dengan tujuh emoji menangis.
Sasha, dari Medan, berkomentar: Bu, mau saya bingkai?
Aku membalas: Iya.
Kupon dua puluh satu dipakai hari kedua Lebaran.
Aku menjahit halaman itu ke buku kupon pertama, setelah kami kembali dari Solo, di malam Matahari mengajakku ke makam Eyang dan aku memintanya membawaku ke makam orang tuanya. Benang merah, jahitan miring, tulisan tanganku:
Kupon 21: Tamara ikut ke makam Bapak dan Ibu. Lebaran.
Pemakaman umum di dekat Tebet. Tidak seperti pemakaman keluarga Eyang di Laweyan yang kecil dan teduh, pemakaman ini besar, panas, dan penuh. Ratusan nisan berjajar rapat. Ratusan keluarga yang datang di hari kedua Lebaran membawa bunga dan air.
Makam Bapak dan Ibu ada di bagian belakang, di dekat pagar, di bawah pohon kamboja kecil yang, kata Mona, ditanam sendiri oleh Matahari waktu ia umur lima belas. Dua nisan kecil dari keramik putih, bersebelahan. Nama-nama yang ditulis dengan cat hitam yang sudah dicat ulang berkali-kali.
Mona menaburkan bunga. Matahari menyiram air dari botol. Mereka berdua berjongkok di depan nisan dan berdoa dalam diam, dengan gerakan yang sudah mereka lakukan bersama setiap Lebaran selama dua puluh tiga tahun.
Aku berdiri di belakang mereka. Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Lalu Matahari menoleh. Ia mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku meraihnya. Aku berjongkok di sebelahnya, di depan nisan Ibu.
Aku menatap nama di nisan itu. Perempuan yang memberi nama Matahari dan Bulan kepada dua anaknya, supaya rumah mereka tidak pernah gelap.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku ingat makam Eyang, di bawah pohon kamboja di Laweyan, waktu aku tidak tahu harus berkata apa dan akhirnya hanya bilang aku pulang.
“Bu,” kataku pelan. Ke nisan. “Saya Tamara.”
Matahari menggenggam tanganku lebih erat.
“Saya istrinya Matahari.” Aku menelan. “Ibu nggak kenal saya. Tapi saya mau bilang, Ibu benar. Soal nama. Matahari sama Bulan. Supaya rumahnya nggak gelap.”
Angin bertiup. Bunga kamboja jatuh dari pohon kecil di atas kami.
“Rumahnya nggak gelap, Bu,” kataku. “Mereka berdua jaga rumahnya terang selama dua puluh tahun. Sendirian. Berdua.” Suaraku mulai bergetar. “Sekarang saya yang jaga Matahari. Dan Bulan juga udah ada yang jaga. Namanya Bintang. Dia kasih nama mobilnya kayak server. Ibu pasti suka dia.”
Di sebelahku, Mona tertawa kecil. Basah.
“Jadi Ibu nggak usah khawatir,” kataku. “Rumahnya sekarang banyak lampunya.”
Aku berhenti.
Di sebelahku, Matahari tidak bergerak. Ia menatap nisan ibunya. Rahangnya mengencang. Lalu mengendur.
Lalu aku melihat air mata jatuh di pipinya. Satu. Pelan. Tanpa suara.
Ia tidak mengusapnya. Ia tidak menyembunyikannya.
Aku mengangkat tangan dan mengusapnya dengan ibu jariku. Pelan. Seperti ia mengusap air mataku di malam garang asem pertama.
Ia menoleh padaku. Matanya basah.
“Ibu pasti suka kamu,” katanya pelan.
“Kenapa?”
“Karena kamu bilang rumahnya banyak lampunya.” Ia tersenyum, kecil, di tengah air mata. “Itu kalimat yang Ibu bakal bilang.”
Pulang dari pemakaman, di gang sempit di Tebet, aku berhenti berjalan.
“Kakiku capek,” kataku.
Matahari menoleh. “Kita baru jalan dua ratus meter.”
“Dua ratus meter setelah salaman sama empat puluh tiga orang di masjid, sungkem ke Pak Darto, sungkem ke Pak Haji, sungkem ke tetangga Pak Haji yang aku nggak kenal, ziarah, dan nyiram makam.” Aku menatapnya dengan mata yang dibuat besar dan berkaca-kaca. Mata yang sudah kulatih. “Kakiku capek salaman.”
“Kaki nggak dipakai buat salaman, Tam.”
“Kakiku solidaritas sama tanganku.”
Ia menatapku lama. Mona, di sebelahnya, menutup wajah dengan dua tangan.
“Gendong,” kataku, mengulurkan dua tangan.
“Ini gang, Tam. Banyak orang. Ini Lebaran.”
“Justru Lebaran. Hari kemenangan.” Aku menggoyangkan tanganku. “Aku mau menang.”
Ia menghela napas. Lalu ia berbalik dan berjongkok di depanku.
Aku naik ke punggungnya. Gamis batikku menjuntai. Kerudungku sedikit miring. Lenganku melingkari lehernya.
Ia berdiri. Ia mulai berjalan menyusuri gang, dengan aku di punggungnya, di depan tetangga-tetangga yang sedang duduk di teras dengan kue nastar dan sirup merah.
Seorang ibu di teras rumah ketiga berdiri dan menunjuk kami. “Lho, itu Hari? Hari anaknya almarhum Bu Sri?”
“Iya, Bu,” kata Matahari, tidak berhenti berjalan.
“Yang digendong siapa?”
“Istri, Bu.”
“Istrinya kenapa? Sakit?”
“Kakinya capek salaman, Bu.”
Ibu itu menatap kami. Lalu ia menoleh ke dalam rumahnya dan berteriak: “Pak! Pak! Hari anaknya Bu Sri gendong istrinya kayak di film Korea!”
Di belakang kami, Mona berjalan dengan wajah yang sangat merah dan tangan yang menutupi wajahnya dari tetangga.
Di depan rumah Pak Haji, Pak Haji berdiri dengan sarung dan peci, menatap kami dengan alis terangkat di balik kacamata tebalnya.
“Hari,” katanya. “Kamu gendong istrimu dari makam?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
“Kakinya capek salaman, Pak.”
Pak Haji menatapku di punggung Matahari. Aku tersenyum padanya dan melambai.
Pak Haji menghela napas. Lalu ia berkata sesuatu yang membuat Matahari tersandung dan hampir menjatuhkanku:
“Dulu almarhumah ibumu juga gitu. Tiap Lebaran minta digendong bapakmu dari masjid. Katanya kakinya capek salaman.”
Sore harinya, kami naik ke atap kontrakan lama di Tebet.
Pak Haji memberikan kuncinya lagi. Kontrakan itu kosong lagi; penyewa barunya mudik.
Tangga besi yang berkarat. Tumpukan genteng bekas di bawah terpal biru yang sobek. Lampu kota Kuningan di kejauhan.
Mona membawa rantang dua susun. Mi rebus. Masih mengepul.
Kami duduk di atas genteng bekas. Mona di tengah. Matahari di kiri. Aku di kanan.
Mona menuang mi rebus ke satu mangkuk plastik besar. Lalu ia mengeluarkan sendok dari tasnya.
Tiga sendok aluminium. Yang tipis dan bengkok.
“Aku beli satu lagi,” katanya, menyerahkan sendok ketiga padaku. “Di pasar loak. Yang paling bengkok. Biar sama.”
Aku menatap sendok itu. Bengkok di gagangnya. Tipis. Murah.
Aku menggenggamnya lebih erat dari aku menggenggam pulpen yang kupakai untuk tanda tangan Seri C.
Kami makan. Satu mangkuk. Tiga sendok.
Mona menyisihkan telurnya ke sisi kakaknya. Matahari memakannya, dan tersenyum ke adiknya, dan Mona tersenyum balik. Lalu Matahari mengambil telur dari sisi lain mangkuk dan menyisihkannya ke sisiku.
Aku menatap telur itu.
“Kamu suka telur,” kataku.
“Iya.”
“Terus kenapa dikasih ke aku?”
“Karena,” katanya, menatap lampu-lampu Kuningan, “di atap ini, telur dikasih ke orang yang paling disayang.”
Aku berhenti mengunyah.
Mona, di tengah, menatap kakaknya. Lalu menatapku. Lalu ia menunduk ke mangkuk dan tersenyum dengan lesung yang dalam.
Lalu kami mendengar langkah di tangga besi.
Bintang muncul di pinggir atap. Kemeja batik yang disetrika sampai lipatannya tajam. Rambut berantakan karena angin. Di tangannya, satu sendok aluminium. Tipis. Bengkok.
“Aku telat,” katanya. “Macet di Casablanca.”
Mona menatap sendok di tangannya. “Kamu dapat dari mana?”
“Pasar loak yang sama. Penjualnya bilang tadi pagi ada perempuan beli satu. Yang paling bengkok.” Ia menatap Mona. “Aku beli yang kedua paling bengkok.”
Ia duduk di sebelah Mona. Di atas genteng bekas. Kemeja batiknya yang mahal di atas terpal biru yang sobek.
Satu mangkuk. Empat sendok.
Malam itu, di kasur di rumah kami di Kemang, aku memeluk Matahari seperti koala.
Gamis batik sudah diganti kaus Pak Darto. Tiga amplop THR berjajar di nakas. Sendok aluminium yang bengkok di sebelahnya. Aku membawanya pulang. Mona bilang itu punyaku sekarang.
“Matahari,” bisikku ke lehernya.
“Hm.”
“Aku punya keluarga Lebaran sekarang.”
Ia diam. Tangannya mengusap punggungku. Pelan. Naik turun.
“Aku punya Pak Darto yang kasih THR dua puluh ribu,” kataku. “Pak Haji yang kasih sepuluh ribu karena nggak ada kembalian. Bu Ratih yang kasih lima puluh ribu pakai tinta emas. Mona yang beli sendok paling bengkok. Bintang yang beli sendok kedua paling bengkok.” Suaraku mulai pecah. “Dan Ibu. Ibu kamu. Yang dulu minta digendong dari masjid karena kakinya capek salaman.”
Ia memelukku lebih erat.
“Dua puluh tahun aku nggak punya Lebaran,” bisikku. “Dan tahun ini aku dapat semuanya sekaligus.”
Ia tidak menjawab. Ia hanya mencium puncak kepalaku. Lama.
Lalu aku mengangkat wajah dan menatapnya dalam gelap.
“Matahari.”
“Hm.”
“Minal aidin wal faizin.” Aku tersenyum. “Maafin aku ya, udah godain kamu terus. Setiap hari. Dari jam lima pagi.”
Ia menatapku. Aku melihat sudut bibirnya bergerak dalam gelap.
“Nggak dimaafin,” katanya.
Aku berkedip. “Hah?”
“Nggak dimaafin,” ulangnya. Pelan. Menurunkan kepalanya sampai bibirnya hampir menyentuh bibirku. “Lanjutin.”
Hening.
Lalu aku merasakan wajahku memanas. Seluruh wajah. Seperti opor yang dipanaskan ulang di hari kedua Lebaran.
Aku menyembunyikan wajahku di lehernya.
“Curang,” gumamku. “Kamu curang di hari Lebaran.”
“Hari kemenangan,” bisiknya. “Kamu sendiri yang bilang.”
Aku tidak membalas. Aku tidak bisa. Aku hanya memeluknya lebih erat, dengan wajah yang terbakar, di malam Lebaran pertamaku, di rumah yang penuh lampu.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan
- 42 Extra 1 — CFO di Kantor, Bocah di Rumah
- 43 Extra 2 — Sakit Pura-Pura
- 44 Extra 3 — Istri di Kursi Nomor Satu
- 45 Extra 4 — Lebaran Pertama reading
- 46 Extra 5 — Pernikahan Bulan
- 47 Extra 6 — Buku Kupon Jilid Dua
- 48 Extra 7 — Dua Garis