← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Fifteen

Kencan di Kaki Lima

POV: Tamara

Matahari menjemputku untuk kencan pertama kami dengan sepeda motor.

Motor bebek biru tua, umurnya mungkin lebih tua dari karierku. Joknya sudah ditambal di dua tempat dengan kulit sintetis yang warnanya sedikit berbeda. Kaca spionnya cuma satu. Di bawah lampu lobi apartemenku di Setiabudi, di antara deretan mobil Eropa yang diparkir valet, motor itu terlihat seperti anak kampung yang tersesat di pesta dansa.

Ia berdiri di sebelahnya dengan kemeja flanel kotak-kotak hijau tua, jeans, dan dua helm di tangan. Satu helm hitam yang sudah lecet. Satu helm putih yang masih ada stiker harganya.

“Kamu beli helm baru,” kataku.

“Kemarin.”

“Buat aku?”

“Helm Mona kegedean buat kamu.”

“Kamu ukur kepalaku?”

“Aku lihat kamu waktu pakai karet rambut.” Ia mengulurkan helm putih itu. “Lingkar kepala kamu lebih kecil dari Mona. Sedikit.”

Aku menatapnya. Laki-laki ini memperhatikan lingkar kepalaku waktu aku mengikat rambut di dapurnya. Sementara aku sibuk memastikan gerakan mengikat rambut itu terlihat menggoda, ia sibuk mengukur kepalaku untuk helm.

Aku tidak tahu harus merasa tersanjung atau tersinggung. Aku memilih tersanjung.

“Satpam lobi dari tadi ngeliatin,” kataku.

“Iya.”

“Mereka pikir kamu ojek online.”

“Tadi satu nanya aku mau jemput siapa. Aku bilang Bu Tamara Morgan, lantai tiga puluh dua. Dia nanya nomor order.”

Aku tertawa. Satpam di pos lobi menoleh ke arahku dengan wajah kaget. Mereka belum pernah melihatku tertawa. Mungkin mereka belum pernah melihatku keluar dari lobi pukul tujuh malam hari Sabtu dengan celana jeans dan sepatu kets.

Aku memakai pakaian yang Matahari minta lewat pesan tadi siang: Celana. Sepatu yang nyaman. Jangan yang mahal, nanti kena kuah. Jadi aku memakai jeans biru muda yang pas di badan, kaus putih ketat dengan kerah bulat, dan jaket denim yang kubeli di Portobello Market bertahun-tahun lalu dan tidak pernah kupakai di Jakarta. Rambutku kuikat ekor kuda tinggi. Anting emas kecil. Lipstik merah.

Ia menatapku dari atas ke bawah, persis seperti di pintu belakang restoran malam les pertama. Lalu ia berkata, tanpa basa-basi, dengan suara rendah yang membuat lututku sedikit lemas:

“Kamu cantik banget.”

“Aku cuma pakai kaus.”

“Iya. Itu masalahnya.”

“Kenapa masalah?”

“Karena aku harus nyetir motor setengah jam dengan kamu di belakang, pakai kaus itu.”

Aku memasang helm putih itu dengan sangat perlahan, sambil menatapnya.

“Kalau gitu,” kataku, mengunci tali helm di bawah daguku, “pegangan yang erat.”

“Kamu yang pegangan.”

“Aku tahu,” kataku. “Itu maksudku.”


Aku belum pernah naik motor.

Aku tumbuh di Solo sampai umur dua belas, di rumah Eyang yang punya sepeda onthel tua tapi tidak punya motor. Setelah itu Inggris, di mana aku naik kereta, bus tingkat, dan sesekali taksi hitam. Setelah itu Jakarta, di mana aku naik mobil dengan sopir, karena Sasha bilang CFO tidak boleh terlihat naik ojek di depan investor.

Jadi waktu Matahari menyalakan motor, dan motor itu bergetar di bawahku seperti kucing yang mendengkur, dan ia berkata pegangan, aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dengan kekuatan yang mungkin berlebihan.

“Tamara.”

“Hm?”

“Aku nggak bisa napas.”

Aku mengendurkan peganganku sedikit. Sedikit sekali.

Motor itu melaju keluar dari lobi apartemen, melewati satpam yang masih menatap kami dengan mulut setengah terbuka, dan masuk ke jalan Setiabudi yang ramai. Angin malam menerpa wajahku. Lampu-lampu jalan bergerak dengan cara yang berbeda dari kaca jendela mobil. Lebih cepat, lebih dekat, lebih nyata. Bau knalpot, bau sate dari gerobak di pinggir jalan, bau hujan yang belum turun.

Dan punggungnya. Di depanku. Hangat dan lebar di balik kemeja flanel. Aku menyandarkan pipiku di sana, di antara tulang belikatnya, dan merasakan setiap tarikan napasnya.

Di lampu merah Kuningan, ia menoleh sedikit.

“Kamu nyaman?”

“Sangat.”

“Kamu yakin? Kamu meluk aku kayak meluk pelampung.”

“Aku belum pernah naik motor, Matahari.”

Ia diam. Lalu, sebelum lampu berubah hijau, tangan kirinya lepas dari setang dan turun, menutupi tanganku yang mengunci di depan perutnya. Ia menggenggamnya sebentar. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku, sekali.

“Kalau gitu,” katanya, “aku pelan-pelan.”

Lampu hijau. Tangannya kembali ke setang. Motor melaju.

Aku menyandarkan pipiku lebih erat ke punggungnya, dan memutuskan bahwa aku akan naik motor ini sampai tua.


Warung tenda Pak Darto ada di dekat Stasiun Tebet, di pinggir jalan sempit di bawah pohon ketapang yang sudah tua. Tenda biru dengan tulisan putih yang sudah memudar: NASI GORENG – MIE REBUS – CAPCAY – PAK DARTO SEJAK 1998. Empat meja kayu panjang dengan bangku plastik. Satu gerobak dengan wajan besar di atas kompor gas yang menyala biru. Lampu bohlam kuning yang digantung di tiang tenda, dikerumuni laron.

Seorang laki-laki muda berumur tiga puluhan sedang menggoyang wajan. Di sebelahnya, duduk di kursi plastik dengan tongkat di samping kaki, seorang laki-laki tua berambut putih dengan kaus singlet dan sarung kotak-kotak.

Laki-laki tua itu melihat kami turun dari motor. Matanya menyipit. Lalu matanya melebar.

“Lho.” Ia meraih tongkatnya dan berusaha berdiri. “Lho, lho, lho. Hari?”

“Pak Darto.” Matahari menghampirinya dan mencium tangannya. “Jangan berdiri, Pak.”

“Kamu itu lho, setahun nggak ke sini!” Pak Darto memukul lengan Matahari dengan tongkatnya, pelan, penuh sayang. “Udah jadi chef restoran mahal, lupa sama warung!”

“Bulan lalu saya ke sini, Pak.”

“Bulan lalu kamu ke sini bungkus. Itu nggak dihitung.” Pak Darto menoleh ke arahku. Matanya berhenti di wajahku, di rambutku, di jaket denimku, dan kembali ke wajahku. Ia diam lama. Lalu ia menoleh ke Matahari dengan ekspresi orang yang baru menang lotre. “Ini siapa?”

Matahari menatapku. Aku menunggu. Aku ingin tahu bagaimana ia akan memperkenalkanku. Ia belum pernah memperkenalkanku kepada siapa pun. Ini pertama kalinya.

“Tamara,” katanya. Lalu, setelah jeda yang sangat singkat, “Pacar saya, Pak.”

Sesuatu di dadaku meletup seperti kerupuk di minyak panas.

Pak Darto menatapku. Lalu menatap Matahari. Lalu menatapku lagi. Lalu ia menoleh ke laki-laki muda di depan wajan.

“Le! Anto! Matiin kompornya!”

“Kenapa, Pak?”

“Hari bawa pacar!”

Anto mematikan kompornya. Dua orang pembeli yang sedang menunggu nasi goreng menoleh. Seorang ibu yang lewat dengan kantong belanja berhenti. Pak Darto berdiri, dengan tongkat, dengan gemetar, dan meraih tanganku dengan kedua tangannya yang keriput dan hangat.

“Nduk,” katanya, dan suaranya bergetar. “Nduk, makasih ya.”

“Makasih kenapa, Pak?”

“Makasih udah mau sama bocah ini.” Ia menepuk tanganku. “Dua puluh tahun saya kenal dia. Dari umur empat belas cuci piring di sini, sampai sekarang. Saya kira dia nggak bakal pernah bawa siapa-siapa ke sini selain adiknya.”

Aku menatap Matahari. Telinganya merah. Ia menatap tanah.


Kami duduk di meja kayu paling ujung, di bawah lampu bohlam yang paling terang. Pak Darto bersikeras memasak sendiri, meski Anto protes dan Matahari protes dan dokter Pak Darto, menurut Anto, sudah melarang Pak Darto berdiri lebih dari sepuluh menit.

“Nasi goreng spesial,” kata Pak Darto, meletakkan dua piring di depan kami dengan tangan gemetar. “Yang dulu Hari bikin pertama kali di sini, waktu umur lima belas.”

Nasi goreng itu sederhana. Kecap manis, bawang merah goreng, telur ceplok setengah matang, kerupuk, acar mentimun. Disajikan di piring melamin hijau dengan sendok dan garpu yang sedikit bengkok.

Aku mengambil sendok.

“Pakai tangan, Nduk,” kata Pak Darto. “Lebih enak.”

Aku menatap tanganku. Lalu menatap nasi goreng itu.

Terakhir kali aku makan dengan tangan, aku umur sebelas tahun, di dapur rumah Eyang, di atas tikar pandan. Eyang mengajariku mencuci tangan di kobokan berisi air dan irisan jeruk nipis, lalu menyuap dengan empat jari, ibu jari mendorong nasi ke mulut. Makan pakai tangan itu menghormati makanan, Nduk. Kamu nyentuh dia, dia nyentuh kamu.

Setelah itu Inggris. Pisau dan garpu. Tata krama meja asrama. Lalu London, sumpit untuk sushi di makan siang kantor. Lalu Jakarta, restoran-restoran investor dengan lima jenis garpu.

Matahari tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendorong mangkuk kobokan berisi air dan irisan jeruk nipis ke arahku.

Aku mencuci tanganku. Aku menyendok nasi goreng dengan empat jari, ibu jari mendorong, dan memasukkannya ke mulut.

Rasanya manis dan gurih dan sedikit gosong di pinggir, dan sederhana, dan sama sekali tidak seperti masakan di Sekar Kedhaton. Tapi aku memejamkan mata, karena tangan yang menyentuh nasi itu membuatku merasa seperti umur sebelas tahun lagi.

Ketika aku membuka mata, Matahari sedang menatapku.

Ia tidak makan. Piringnya belum disentuh. Ia hanya duduk di seberangku, dagu bertopang di tangan, menatapku makan dengan ekspresi yang membuat perutku terasa hangat dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan nasi goreng.

Aku menjilat sisa kecap di ujung jempolku. Perlahan. Sengaja.

Matanya mengikuti gerakan itu.

“Chef,” kataku, “kamu sadar nggak, cara kamu ngelihat aku makan itu nggak sopan?”

Ia tidak memalingkan muka. Ia tidak berkedip.

“Sadar,” katanya.

“Dan kamu nggak berhenti.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Ia mencondongkan badan ke depan, di atas meja kayu yang sudah lapuk, sampai jarak di antara wajah kami tinggal sejengkal. Lampu bohlam di atas kami berdengung. Laron berputar-putar.

“Karena,” katanya pelan, “aku sudah lihat ratusan orang makan masakanku. Belum ada satu pun yang bikin aku pengin jadi sendoknya.”

Aku berhenti bernapas.

Laki-laki ini. Laki-laki yang tiga minggu lalu menjawab aku ke sini bukan buat makanannya dengan Ibu tetap harus bayar makanannya. Laki-laki yang telinganya memerah setiap kali aku menggulung lengan bajunya dengan kata-kata.

Ia baru saja mengatakan itu. Di warung tenda. Di depan Pak Darto.

Aku melirik ke samping. Pak Darto berdiri tiga meter dari kami, bersandar pada tongkatnya, dengan mulut ternganga. Anto di belakangnya menutup wajah dengan handuk kecil. Ibu dengan kantong belanja, yang ternyata belum pergi, menutup mulutnya dengan dua tangan.

Aku kembali menatap Matahari. Pipiku panas. Aku tahu pipiku merah. Aku tidak peduli.

“Kamu,” bisikku, “belajar ngomong kayak gitu dari mana?”

“Dari kamu.” Ia menyandarkan diri kembali ke kursinya dan akhirnya mengambil sendok. “Kamu guru yang bagus.”


Pak Darto ternyata menyimpan arsip aib selama dua puluh tahun, dan malam itu ia membuka semuanya.

Ia bercerita tentang Matahari umur empat belas, yang memecahkan dua belas piring di minggu pertamanya bekerja dan menangis di belakang tenda karena takut gajinya dipotong. Tentang Matahari umur enam belas, yang alisnya terbakar habis karena terlalu dekat dengan wajan waktu belajar teknik api besar, dan harus menggambar alis dengan pensil arang selama dua bulan. Tentang Matahari umur tujuh belas, yang menyanyi lagu dangdut keras-keras sambil menggoreng karena mengira warung sudah tutup, padahal masih ada tiga pembeli.

“Lagu apa, Pak?” tanyaku dengan semangat jurnalis investigasi.

“Pak,” kata Matahari, dengan nada memperingatkan.

“Begadang, Nduk. Rhoma Irama. Lengkap sama gaya tangannya.”

Aku tertawa sampai harus bersandar ke tiang tenda. Matahari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Telinganya, di balik tangannya, merah menyala seperti cabai.

Lalu Pak Darto bercerita tentang hal lain, dengan suara yang lebih pelan.

“Dulu dia pulang dari sini jam dua belas malam. Bawa sebungkus mi rebus sisa. Saya tanya, buat siapa, Le? Dia bilang buat adiknya.” Pak Darto menatap Matahari yang sudah menurunkan tangannya. “Setiap malam. Bertahun-tahun. Dia nggak pernah makan mi rebusnya sendiri. Selalu dibawa pulang.”

Aku menatap Matahari. Ia menatap piring nasi gorengnya yang sekarang sudah kosong.

“Nduk,” kata Pak Darto, menyentuh bahuku dengan tangannya yang keriput. “Jaga dia, ya. Dia itu orang yang selalu ngasih. Orang yang selalu ngasih biasanya lupa caranya nerima.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.


Waktu kami bersiap pulang, aku mengeluarkan dompet.

Pak Darto menepis tanganku dengan tongkat. “Ndak usah, Nduk.”

“Pak, saya—”

“Ndak usah. Ini traktiran saya.”

Aku membuka mulut untuk berargumen, karena aku CFO dan aku tidak suka utang yang tidak tercatat. Tapi Matahari menahan tanganku yang memegang dompet. Ia menyelipkan selembar uang ke saku singlet Pak Darto, cepat sekali, sebelum Pak Darto bisa menolak.

“Le!”

“Bukan buat makan, Pak. Buat obat.”

Pak Darto menatapnya dengan mata yang tiba-tiba basah. Ia tidak mengembalikan uang itu.

Di motor, sebelum Matahari menyalakan mesin, aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menyandarkan dagu di bahunya.

“Kamu bayar,” kataku ke telinganya.

“Di sini, aku yang bayar.”

“Di Sekar Kedhaton, aku yang bayar.”

“Di Sekar Kedhaton kamu bayar ke restoran. Bukan ke aku.”

“Terus aku bayar kamu pakai apa?”

Ia diam sebentar. Aku merasakan napasnya tertahan di bawah lenganku.

“Kamu sudah bayar,” katanya akhirnya.

“Pakai apa?”

Ia menoleh, sedikit, cukup untuk aku melihat sudut senyumnya dari balik helm yang belum dikunci.

“Pakai ketawamu tadi,” katanya. “Waktu Pak Darto cerita soal Begadang.”

Aku menatapnya. Lalu aku mengangkat tangan, membuka kaca helmnya yang belum dikunci, dan mencium sudut bibirnya. Cepat. Ringan.

Di belakang kami, di bawah tenda biru, aku mendengar Pak Darto berteriak HOREEE dengan suara orang tua yang pecah, diikuti tepuk tangan Anto dan ibu dengan kantong belanja yang ternyata masih belum pulang.

Matahari menutup kaca helmnya dengan cepat. Tapi aku sempat melihat wajahnya. Merah sampai ke leher.


Di perjalanan pulang, hujan turun.

Bukan hujan deras. Gerimis, halus, seperti uap dari dandang. Matahari menepi di bawah jembatan layang di Casablanca dan bertanya apakah aku mau menunggu sampai reda.

“Nggak,” kataku. “Lanjut.”

“Kamu basah nanti.”

“Aku nggak pernah kehujanan di motor. Aku mau tahu rasanya.”

Ia menatapku dari balik bahu. Lalu ia melepas jaket flanelnya, memakaikannya padaku di atas jaket denim, menarik kerahnya sampai menutupi leherku, dan mengancingkan satu kancing di bagian atas.

“Kamu yang basah nanti,” kataku.

“Aku sudah biasa.”

Kami melaju di bawah gerimis. Lampu-lampu Jakarta memantul di jalan yang basah seperti cat yang meleleh. Aku memeluk pinggangnya erat-erat, pipiku di punggungnya yang perlahan basah, dan merasakan kausnya menempel di kulitnya, hangat di bawah dingin hujan.

Di lobi apartemenku, satpam yang tadi menanyakan nomor order menatap kami dengan ekspresi yang sangat berbeda. Aku basah. Matahari lebih basah. Rambutku keluar dari ikatan ekor kuda dan menempel di pipi. Lipstikku pasti luntur.

Aku melepas helm putih dan menyerahkannya kembali.

“Simpan,” katanya.

“Ini helmmu.”

“Itu helmmu.” Ia memasang helm hitamnya sendiri. “Aku beli buat kamu. Biar ada yang nempel di motorku selain helm Mona.”

Aku memeluk helm putih itu di dada. Masih ada stiker harganya. Rp189.000.

Investasi paling romantis yang pernah dilakukan siapa pun untukku.

“Matahari.”

“Hm?”

Aku melangkah mendekat. Aku tidak peduli satpam. Aku tidak peduli tetangga lantai tiga puluh dua yang mungkin turun lift kapan saja. Aku menarik kerah kaus basahnya, perlahan, sampai ia membungkuk, dan menciumnya. Lebih lama dari ciuman di warung. Bibirnya dingin karena hujan dan hangat di bawahnya.

Ketika aku melepaskannya, ia menatapku dengan mata setengah terpejam.

“Pasal Sepuluh,” gumamnya.

“Mona nggak ada di sini.”

“Satpammu ada.”

“Satpamku nggak tanda tangan apa pun.”

Ia tertawa pelan. Lalu ia menyalakan motornya, dan sebelum ia pergi, ia berkata dengan suara yang hampir tenggelam oleh mesin:

“Jaketnya kembaliin minggu depan.”

“Kenapa minggu depan?”

“Biar kamu punya alasan ketemu aku lagi.”

“Aku nggak butuh alasan.”

“Aku tahu.” Ia menurunkan kaca helmnya. “Aku yang butuh.”

Motor biru tua itu melaju pergi di bawah gerimis. Aku berdiri di lobi dengan helm putih di pelukan dan jaket flanel yang bau asap kayu dan hujan, sampai satpam berdeham dan bertanya dengan sangat sopan apakah aku perlu bantuan.

“Nggak, Pak,” kataku. “Saya baik-baik saja.”

Aku tidak pernah sebaik ini.