Chapter Thirty Seven
Kamu Pilihan Pertamaku
POV: Tamara
Bel pintu apartemenku berbunyi hari Kamis pukul sepuluh lewat sembilan menit malam.
Aku tidak menunggu siapa pun. Sasha sudah pulang. Asisten rumah tanggaku datang Senin, Rabu, Jumat. Ini Kamis.
Aku berjalan ke pintu dengan piyama satin dan rambut digelung asal, dengan secangkir teh yang sudah dingin di tangan, dan mengintip lewat lubang kecil di pintu.
Lalu aku berhenti bernapas.
Ia berdiri di lorong. Kaus hitam. Jaket kulit yang lecet di siku. Rambut yang berantakan karena helm. Di tangan kanannya, rantang besi tiga susun berwarna hijau tua.
Di tangan kirinya, jaket flanel hijau tua. Dilipat rapi.
Aku mundur dari pintu.
Aku berdiri di tengah lorong apartemenku, dengan cangkir teh yang dingin di tangan, dan menatap pintu yang tertutup itu. Jantungku berdetak terlalu cepat. Terlalu keras. Seperti cobek yang diulek dengan tenaga penuh.
Bel berbunyi lagi.
Aku tidak bergerak.
Tiga minggu. Tiga minggu sejak malam ia berdiri di ruang tengahku dengan tangan kosong dan bilang aku nggak mau kamu nunggu orang yang nggak pernah bisa milih kamu duluan. Tiga minggu tanpa lipstik merah. Tiga minggu garang asem yang dikirim lewat Sasha dengan kebohongan bahwa Bu Ratih yang masak.
Aku tidak tahu apa yang ia mau. Aku tidak tahu apakah aku sanggup mendengarnya.
Bel tidak berbunyi lagi.
Aku menunggu. Satu menit. Dua menit. Aku mengintip lagi lewat lubang kecil.
Ia masih di sana. Tidak menekan bel. Tidak mengetuk. Hanya berdiri. Dengan rantang dan jaket di tangan, menatap pintu, seperti ia bisa berdiri di sana sampai pagi kalau perlu.
Seperti ia berdiri di depan adiknya di gang gelap. Tangan direntangkan.
Aku meletakkan cangkir teh di meja kecil di lorong.
Lalu aku berbalik dan berjalan ke kamar mandi.
Tabung lipstik merah itu ada di laci wastafel. Bukan yang di kantor. Yang kedua. Yang kubeli bertahun-tahun lalu di London, warnanya sedikit lebih tua, sedikit lebih gelap, yang selalu kusimpan di rumah sebagai cadangan.
Aku membuka tutupnya.
Aku menatap perempuan di cermin. Rambut digelung asal. Piyama satin. Mata yang sudah tidak bengkak lagi, tapi masih menyimpan bayangan tiga minggu. Bibir yang pucat, tanpa apa pun.
Aku menyapukan lipstik merah itu. Atas. Lalu bawah. Dua gerakan, yang sudah kuhafal sejak umur dua puluh.
Lalu aku menekan bibirku sekali.
Perempuan di cermin itu menatapku balik. Masih dengan piyama satin dan rambut berantakan. Tapi dengan bibir merah.
Aku tidak tahu kenapa aku memakainya. Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan. Mungkin ia datang untuk mengembalikan rantang Sasha. Mungkin ia datang untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum ke Lyon, karena aku tahu dari Raka, yang tahu dari Mona, bahwa Antoine masih di Jakarta.
Tapi apa pun yang akan ia katakan, aku tidak mau mendengarnya tanpa merah.
Aku berjalan kembali ke pintu. Aku membukanya.
Ia menatapku.
Ia menatap rambutku yang digelung asal. Piyama satinku. Kakiku yang telanjang di atas lantai kayu.
Lalu bibirku.
Ia menatap bibirku lama. Matanya, mata hitam yang dalam itu, berubah. Seperti sesuatu yang lama tertutup awan, tiba-tiba terkena cahaya.
“Merah,” katanya pelan.
“Aku baru pakai.”
“Kenapa?”
“Aku nggak tahu.” Aku memegang tepi pintu. “Mungkin karena aku nggak mau dengar apa pun dari kamu tanpa baju zirah.”
Ia tidak tersenyum. Ia mengangkat rantang di tangan kanannya, sedikit.
“Garang asem,” katanya.
“Sasha udah bawain tiga kali.”
“Itu bohong. Itu bukan Bu Ratih yang masak.”
“Aku tahu.”
“Aku tahu kamu tahu.” Ia menatap rantang itu. “Malam ini aku yang bawa. Sendiri. Nggak lewat siapa-siapa.”
Aku menatapnya. Lalu menatap jaket flanel di tangan kirinya.
“Dan itu?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan wajah yang sangat serius dan sangat lelah dan sangat, sangat takut.
“Boleh masuk?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku melangkah ke samping, membuka pintu lebih lebar.
Ia masuk.
Kami tidak makan garang asem itu. Belum.
Ia meletakkan rantang di meja makan kayu panjang. Ia meletakkan jaket flanel di sebelahnya. Lalu ia berdiri di sana, di dekat meja makan, di tempat yang sama dengan tiga minggu lalu, dan menatapku.
Aku berdiri di dekat jendela besar. Lampu-lampu Sudirman di belakangku.
“Aku ke Tebet,” katanya. “Minggu malam. Sama Mona.”
Aku diam.
“Ke kontrakan lama. Ke atap. Mona bawa mi rebus.” Ia menatap rantang di meja. “Satu mangkuk, dua sendok.”
Aku menunggu.
Dan ia menceritakannya. Semuanya. Lampu gang yang Mona ganti diam-diam. Telur yang ia makan untuk pertama kali dalam dua puluh tahun. Mona yang tahu soal Lyon, dua-duanya. Pertanyaan Pak Gunawan, di kantornya yang kecil, dengan foto hitam putih di dinding. Kamu nolak buat dia, atau kamu nolak karena kamu takut?
Ia menceritakan bahwa ia menangis. Di depan Mona. Untuk pertama kalinya.
Ia menceritakan bahwa Mona menyentuh bekas lukanya. Untuk pertama kalinya.
Dulu Kakak berdarah buat aku. Sekarang giliranku.
Aku sayang Kakak. Makanya sekarang Kakak harus pergi.
Ia menceritakan bahwa Mona merebut ponselnya, menelepon Antoine, dan bilang ia berangkat. Bahwa Mona membuat Pasal Tujuh Belas. Bahwa Pak Haji berteriak dari bawah, ini bukan pasar malem!
Aku tertawa di bagian itu. Tanpa sengaja. Tawa basah yang keluar dari hidung.
Ia menatapku tertawa. Sesuatu di wajahnya melunak.
“Aku berangkat,” katanya. “Ke Lyon. Dua minggu lagi.”
Aku berhenti tertawa.
“Aku sudah tanda tangan kontrak dengan Antoine kemarin. Di hotel di Thamrin.” Ia menatapku. “Satu tahun. Sous chef. Lalu pulang, dan buka restoran di Jakarta.”
Aku menatapnya. Aku menunggu diriku merasakan sesuatu. Sedih, mungkin. Karena ia akan pergi. Atau lega, karena ia akhirnya memilih dirinya sendiri.
Yang kurasakan adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadaku sesak dan hangat sekaligus.
Bangga.
“Kamu pilih,” kataku pelan. “Kamu akhirnya pilih diri kamu sendiri.”
“Mona yang dorong.”
“Kamu yang tanda tangan.”
Ia diam. Lalu ia mengangguk. “Aku yang tanda tangan.”
Hening.
Lampu-lampu Sudirman berkedip di belakangku. AC berdengung pelan.
“Jadi,” kataku. Aku mencoba membuat suaraku ringan. Aku gagal. “Kamu ke sini buat pamit.”
“Nggak.”
Aku menatapnya.
Ia melangkah ke arahku. Satu langkah. Dua. Tiga. Ia berhenti di depanku. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium bau asap kayu dan helm dan, samar sekali, daun salam.
Ia tidak menyentuhku.
“Tiga minggu lalu,” katanya, “aku berdiri di sini dan bilang kamu pantas dapat orang yang milih kamu duluan.”
“Aku ingat.”
“Aku bilang aku bukan orang itu. Aku bilang tanganku nggak bisa lepas dari Mona.”
“Aku ingat.”
Ia mengangkat tangan kirinya. Tangan dengan garis pucat panjang di lengan bawahnya. Ia menatap tangan itu sebentar. Lalu ia menatapku.
“Mona yang lepas duluan,” katanya. “Di atap. Dia pegang lenganku, terus dia lepas. Dan tanganku—” Ia menelan. “Tanganku nggak tahu harus ngapain. Kosong. Lama banget kosong. Dua puluh satu tahun tanganku pegang sesuatu, terus tiba-tiba kosong.”
Aku menatap tangannya.
“Dan waktu tanganku kosong,” katanya pelan, “yang pertama aku pikirin bukan Lyon. Bukan restoran. Bukan Antoine.”
Ia mengulurkan tangan kirinya. Perlahan. Ke arahku. Berhenti di udara, di antara kami. Menunggu.
“Kamu,” katanya.
Aku tidak bisa bernapas.
“Tamara,” katanya, dan suaranya pecah di namaku. “Kamu pilihan pertamaku.”
Air mataku jatuh.
Aku tidak menutupnya. Aku tidak mengusapnya. Aku membiarkannya jatuh, satu, di pipi kiri, lalu satu lagi, di pipi kanan, membasahi lipstik merah di sudut bibirku.
“Aku baru belajar cara milih,” lanjutnya. Tangannya masih terulur di udara. Gemetar sedikit. Tangan yang tidak pernah gemetar di dapur. “Aku belum pinter. Aku mungkin bakal salah. Aku mungkin bakal angkat telepon Mona di tengah ngomong sama kamu, karena kebiasaan. Aku mungkin bakal lupa bilang aku mau waktu aku mau sesuatu.”
Ia menarik napas.
“Tapi aku belajar. Dari kamu. Kamu guru yang bagus.”
Aku menatap tangannya yang terulur.
Tangan dengan kapalan di telunjuk. Bekas luka bakar di pangkal ibu jari. Garis pucat panjang di lengan bawah, empat belas jahitan, sebelas tahun.
Tangan yang memandu tanganku di atas pisau di les pertama. Tangan yang menyimpulkan tali apron di pinggangku. Tangan yang menggenggam tanganku tujuh jam waktu aku demam. Tangan yang menuang saus gula jawa dalam bentuk huruf T.
Tangan yang sekarang kosong. Dan terulur. Untukku.
“Kalau Mona telepon sekarang,” kataku, dengan suara yang hampir hilang, “bilang dia sakit kepala?”
Ia tidak ragu. “Aku telepon balik. Setelah selesai ngomong sama kamu.”
“Kalau dia bilang sakit kepalanya parah?”
“Aku suruh Bintang yang ke sana.” Sudut bibirnya bergerak sedikit. “Bintang punya akses ke database HR. Dia tahu alamatnya.”
Aku tertawa. Basah. Pecah. Di tengah tangis.
Lalu aku meraih tangannya.
Jari-jariku menyelip di antara jari-jarinya, satu per satu, seperti di parkiran malam garang asem pertama. Seperti melipat adonan. Telapak tangannya hangat dan kasar dan gemetar, dan begitu jari kami terkunci, gemetarnya berhenti.
“Satu tahun di Lyon,” kataku.
“Iya.”
Ia menatapku. Matanya basah. Ia tidak mengusapnya.
“Kamu mau nunggu?” tanyanya.
Pertanyaan itu jujur. Polos. Ditanyakan dengan nada orang yang benar-benar tidak tahu jawabannya. Orang yang sudah siap mendengar tidak.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku menggeleng.
Wajahnya berubah. Aku melihat sesuatu runtuh di matanya. Pelan. Seperti dinding yang retak.
“Aku nggak nunggu,” kataku.
Ia diam.
“Aku nggak pernah suka nunggu. Aku nunggu di jendela asrama setiap hari Minggu selama enam tahun. Aku udah selesai nunggu.” Aku meremas tangannya. “Aku nyusul.”
Ia berkedip.
“Tiap kuartal,” kataku. “Aku sudah bikin jadwalnya. Kamu udah lihat. Tab keempat di spreadsheet. Maret, Juni, September, Desember.” Aku tersenyum, dengan air mata dan lipstik merah yang mulai luntur di sudut. “Kamu pikir aku hapus spreadsheet itu?”
“Kamu nggak hapus?”
“Aku CFO, Matahari. Aku nggak pernah hapus data.” Aku melangkah lebih dekat, sampai jarak di antara kami hilang. “Lagian, CFO punya budget perjalanan dinas.”
Ia menatapku. Lalu ia tertawa.
Tawa rendah yang keluar dari dadanya, tawa yang sudah tiga minggu tidak kudengar, tawa yang membuat kerutan di sudut matanya dalam dan bahunya bergetar.
Dan di tengah tawanya, ia menarik tanganku yang terkunci di tangannya, menarikku ke dadanya, dan menciumku.
Ciuman itu rasanya asin karena air mata. Rasanya vanila karena lipstik merah. Rasanya seperti seseorang yang pulang ke rumah yang ia kira sudah tidak ada.
Tangannya di belakang leherku, menarik jepit di rambutku yang digelung asal sampai rambutku jatuh. Tanganku di dadanya, lalu di lehernya, lalu di rahangnya, menariknya lebih dekat. Punggungku menyentuh kaca jendela yang dingin, tiga puluh dua lantai di atas Sudirman.
Ia menciumku seperti orang yang menciumku untuk pertama kali. Dan seperti orang yang menciumku untuk terakhir kali sebelum pergi jauh. Dan seperti orang yang tahu bahwa ini bukan yang terakhir.
Ketika ia akhirnya menarik diri, dahinya bersandar ke dahiku. Napas kami berantakan.
Lipstik merahku sudah tidak di bibirku lagi. Sebagian besar ada di bibirnya, di dagunya, di rahangnya.
“Pasal Empat,” gumamnya.
“Ini bukan lipstik transferproof.”
“Mona bakal minta laporan.”
“Biar.” Aku mencium sudut bibirnya, di mana merah itu paling tebal. “Biar dia tahu.”
Kami makan garang asem itu setelahnya. Duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke sofa, dengan rantang terbuka di antara kami dan satu sendok untuk masing-masing.
Ia menyisihkan rawit utuh ke sisiku.
“Yang berani boleh gigit,” katanya.
Aku menggigitnya. Mataku berair. Ia menyodorkan air hangat tanpa diminta. Seperti selalu.
Lalu ia mengambil jaket flanel dari meja makan dan meletakkannya di pangkuanku.
Aku menatap jaket itu.
“Kembaliin tahun depan,” katanya.
Aku mengangkat wajah. Ia menatapku dengan senyum kecil di sudut bibirnya yang masih merah karena lipstikku.
“Biar kamu punya alasan ketemu aku lagi,” lanjutnya.
“Aku nggak butuh alasan,” kataku, dan suaraku pecah lagi.
“Aku tahu.” Ia mengambil tanganku. Menggenggamnya. “Aku yang butuh.”
Aku memeluk jaket itu di dada. Masih bau asap kayu. Masih bau hujan di bawah jembatan layang Casablanca, entah bagaimana, meski sudah berminggu-minggu di loker restoran.
Aku tidak menangis lagi. Aku tersenyum.
Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3, dua minggu kemudian. Pukul sembilan malam.
Rombongan pengantar Matahari Wirasena terdiri dari sembilan orang dan satu spanduk.
Spanduk itu dibawa Dimas. Kain putih sepanjang dua meter, dengan tulisan tangan menggunakan cat semprot merah yang sedikit meleleh di pinggir: CHEF JANGAN LUPA PULANG. KALDU SAYA MENUNGGU. Di sudut kanan bawah, gambar kucing oranye yang dibuat dengan sangat buruk.
Bu Ratih memakai kebaya kutubaru berwarna kuning emas, warna paling cerah yang pernah kulihat ia pakai. Ia membawa buku tulis kecil bersampul batik dan pulpen gel tinta emas. Ia menulis sesuatu di buku itu setiap lima menit dan tidak mengizinkan siapa pun membacanya.
Pak Gunawan berdiri di belakang dengan tangan di belakang punggung dan kacamata yang melorot ke ujung hidung. Ia tidak banyak bicara. Tapi ia menepuk bahu Matahari empat kali dalam sepuluh menit.
Sasha membawa tablet berisi dokumen perjalanan yang sudah ia cek tiga kali. Raka membawa balon berbentuk menara Eiffel yang ia beli di toko pesta di Kuningan, dan sudah ditegur satpam bandara dua kali karena balon itu terus menabrak papan informasi penerbangan.
Pak Darto datang dengan tongkat dan Anto di sebelahnya. Ia membawa satu bungkus mi rebus. Mentah. Dalam bungkus plastik. Ia menyerahkannya ke Matahari dengan tangan gemetar.
“Bekal,” katanya. “Kalau di sana kangen.”
Bintang berdiri di sebelah Mona. Sangat dekat. Bahu mereka bersentuhan. Tangan mereka tidak bergandengan, tapi jari kelingking Bintang menyentuh jari kelingking Mona, di sisi badan, dan tidak ada yang menarik diri.
Dan Mona.
Mona berdiri di depan kakaknya. Ia memakai kaus lama Matahari yang kebesaran. Rambutnya digerai. Anting bulan sabit. Wajahnya bersih, tanpa riasan apa pun. Matanya sudah merah bahkan sebelum panggilan naik pesawat.
Ia menyerahkan sesuatu ke kakaknya. Kotak bekal stainless. Yang ia beli dengan gaji pertamanya.
“Bekal,” katanya. “Buat di pesawat. Makanan pesawat nggak enak.”
Matahari mengambil kotak itu. Ia tidak membukanya. Ia hanya memegangnya dengan dua tangan.
“Telurnya nggak gosong,” kata Mona.
“Kakak suka yang gosong.”
“Itu bohong.”
“Iya.” Matahari tersenyum. “Itu bohong.”
Mona tertawa, basah. Lalu ia memeluk kakaknya. Lama. Di tengah bandara, di depan sembilan orang dan satu spanduk dan satu balon menara Eiffel. Tidak ada yang bicara. Bahkan Raka.
Ketika Mona akhirnya melepaskan, Matahari berbalik kepadaku.
Ia tidak bicara. Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari saku jaket kulitnya. Buku kupon kecil dengan sampul kertas cokelat dan jahitan benang merah yang miring.
Ia membukanya di halaman terakhir. Halaman kedua puluh.
Kupon 20: ____________________ (isi sendiri)
Garis kosong itu sudah tidak kosong. Ada sesuatu yang ditulis di sana, dengan huruf besar yang miring ke kiri. Tapi ia menutupi tulisan itu dengan ibu jarinya sebelum aku sempat membacanya.
“Ini aku isi,” katanya.
“Isinya apa?”
“Buka waktu aku pulang.” Ia menutup buku kupon itu dan meletakkannya di tanganku. “Jangan sebelumnya. Janji?”
Aku menatap buku kecil itu di telapak tanganku.
“Kamu tahu aku CFO,” kataku. “Aku nggak suka ketidakpastian.”
“Aku tahu.” Ia mencium keningku. “Anggap aja ini investasi jangka panjang.”
Panggilan naik pesawat terdengar pukul sembilan lewat empat puluh.
Ia berjalan menuju pintu keberangkatan dengan ransel hitam di punggung, kotak bekal dari Mona di satu tangan, bungkus mi rebus dari Pak Darto di tangan lain. Di ambang pintu, ia berbalik.
Ia menatap kami semua. Dimas yang menangis di balik spanduk. Bu Ratih yang menulis di buku batiknya dengan tangan gemetar. Pak Gunawan yang mengangguk sekali. Raka dengan balon Eiffel yang sudah mulai kempes. Sasha dengan tablet di dada. Pak Darto dengan tongkatnya. Bintang dengan jari kelingking di jari kelingking Mona.
Lalu ia menatap Mona.
Lalu ia menatapku.
Ia mengangkat tangan kirinya. Tangan dengan garis pucat panjang di lengan bawahnya. Ia melambai. Sekali.
Lalu ia masuk.
Mona berdiri di sebelahku di depan kaca besar terminal keberangkatan. Di luar, di landasan pacu yang gelap, pesawat-pesawat berdiri seperti burung yang menunggu.
Yang lain sudah mundur ke kursi tunggu. Dimas masih menangis di bahu Bu Ratih. Raka mencoba memasukkan balon Eiffel ke dalam tas. Bintang berdiri beberapa langkah di belakang Mona, tangan di saku celana, menunggu.
Mona dan aku berdiri berdampingan. Tidak bicara. Menatap kaca.
Lalu salah satu pesawat itu mulai bergerak. Pelan. Menuju landasan pacu. Lampu-lampu kecil di sayapnya berkedip merah dan hijau.
Mona menatap pesawat itu. Aku menatap pesawat itu.
“Bu,” kata Mona pelan.
Aku menoleh.
Ia tidak menatapku. Ia menatap pesawat yang sekarang berhenti di ujung landasan pacu, menunggu giliran.
“Jagain dia dari jauh, ya, Bu,” katanya. Suaranya pecah di ujung.
Aku menatapnya. Adik dari laki-laki yang kucintai. Perempuan yang membuat Syarat dan Ketentuan dua belas pasal. Yang memanjat rak gudang tiga meter dengan sepatu kets. Yang menangis di pelukanku di kasur twin hotel di Surabaya. Yang memegang lengan kakaknya di atas atap kontrakan di Tebet, lalu melepaskannya.
Aku meraih tangannya. Ia tidak menarik diri.
“Tam,” kataku.
Mona menoleh.
“Panggil aku Tam,” kataku. “Bukan Bu. Bukan Tamara. Tam.”
Mona menatapku lama. Matanya basah. Lalu, perlahan, lesungnya muncul.
“Tam,” ulangnya. Mencoba kata itu di mulutnya.
Di luar, di landasan pacu, pesawat itu mulai berlari. Semakin cepat. Semakin cepat. Lampu-lampu di sayapnya menjadi garis.
Lalu ia terangkat.
Mona menggenggam tanganku lebih erat. Aku menggenggam tangannya balik.
Kami berdiri di sana, dua perempuan yang mencintai laki-laki yang sama dengan cara yang berbeda, menatap pesawat itu naik ke langit malam Jakarta, menjadi titik cahaya, menjadi titik yang lebih kecil, sampai tidak terlihat lagi.
Di tanganku yang lain, buku kupon kecil dengan jahitan benang merah yang miring.
Kupon dua puluh. Belum dibuka.
Aku tidak membukanya.
Aku CFO. Aku tidak suka ketidakpastian.
Tapi untuk satu hal ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak keberatan menunggu.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku reading
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan