← Matahari Ada Pawangnya

Chapter Four

Rencana Darurat Nomor Satu

POV: Mona

Interogasi dimulai pukul sebelas lewat empat puluh tujuh malam, di ruang tengah apartemen, dengan lampu yang sengaja kunyalakan semua supaya terasa seperti ruang pemeriksaan.

Kakak duduk di sofa dengan rambut masih basah habis mandi, kaus oblong abu-abu, dan wajah orang yang sudah menerima nasibnya. Aku berdiri di depannya dengan tangan terlipat di dada.

“Ulangi dari awal.”

“Kakak udah cerita dua kali, Mon.”

“Ulangi. Dengan detail.”

Ia menghela napas. “Dia dateng jam tujuh. Duduk di kursi nomor satu. Kakak masak tujuh hidangan. Dia nanya food cost.”

“Kakak jawab?”

“Dua puluh delapan persen.”

“KAKAK JAWAB FOOD COST KE CFO?”

“Dia nanya, Mon.”

“Dia CFO, Kak! Dia nanya food cost itu kayak dokter nanya udah makan belum, itu bukan basa-basi, itu diagnosis!” Aku mulai berjalan bolak-balik di depan sofa. Karpet yang kubeli tahun lalu mulai menipis di jalur yang sama. “Terus?”

“Terus dia nanya berapa jam Kakak tidur.”

Aku berhenti berjalan. “Kenapa dia nanya itu?”

“Kakak nggak tahu.”

“Kakak jawab?”

“Empat.”

“Terus?”

“Terus dia nanya kenapa. Kakak bilang kluwek.”

Aku menatapnya. “Kluwek.”

“Kemarin Kakak mecahin kluwek sampe jam dua.”

“Kak, Kakak ngomong kluwek ke perempuan yang lulus S2 dari Oxford.”

“Kluwek itu penting, Mon. Kalau nggak direndam bener, orang bisa keracunan.”

Aku menutup wajah dengan dua tangan. Dari balik jari-jariku aku berkata, “Terus bagian keceplosan.”

Hening.

“Kak.”

“Dia nanya pacar Kakak cemburu nggak Kakak masak buat perempuan lain sampe jam sepuluh.”

“Dan?”

“Dan Kakak bilang, pacar? Oh, Mona adik saya.”

Aku menurunkan tangan perlahan.

Kakakku duduk di sofa, menatapku dengan mata yang jujur sampai menyakitkan, mata yang sama dengan yang menatapku waktu aku kelas dua SD dan pulang menangis karena sepatuku jebol. Mata yang tidak pernah tahu cara berbohong, bahkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

“Kakak capek, Mon,” katanya pelan. “Enam belas jam di dapur. Kakak nggak mikir.”

Dan, seperti biasa, semua marahku menguap di depan kalimat itu, karena aku tahu persis kenapa ia bisa capek sampai tidak berpikir. Sejak umur empat belas ia bekerja enam belas jam sehari. Sebagian besar jam-jam itu dulu untukku.

Aku duduk di sebelahnya. Bahu kami bersentuhan.

“Dia bilang apa setelah itu?”

“Dia ketawa.”

“Ketawa?”

“Ketawa beneran, Mon. Kayak... lepas.” Kakak diam sebentar. “Terus dia nanya kenapa kamu bohong. Kakak bilang kamu jaga Kakak. Dia nanya dari apa. Kakak bilang dari perempuan.”

Aku memejamkan mata. “Terus dia bilang?”

Kakak diam lebih lama kali ini. Ketika aku membuka mata, ia sedang menatap tangannya sendiri.

“Kalau begitu, dia gagal malam ini.”


Sebelum aku melanjutkan, aku perlu membuat pengakuan.

Aku tidak pernah gagal.

Aku sudah menjaga kakakku dari perempuan sejak aku kelas tiga SMP. Aku punya catatan. Bukan catatan tertulis, aku tidak segila itu, tapi catatan di kepala, dan catatan itu panjang.

Mbak Wulan, tetangga kontrakan yang menitipkan tempe goreng tiap sore. Aku mengajaknya ngobrol di warung dan bercerita, dengan wajah polos anak SMP, bahwa kakakku punya alergi kedelai parah sampai pernah masuk UGD. Itu bohong. Tapi tempe gorengnya berhenti datang, dan Mbak Wulan menikah dengan tukang servis AC enam bulan kemudian dan hidup bahagia. Aku menganggap itu kontribusi.

Siska, barista di kafe dekat kampusku, yang selalu memberi Kakak kopi gratis. Aku datang ke kafe itu setiap hari selama dua minggu dan memesan kopi dengan spesifikasi yang sangat rumit sampai Siska menangis di belakang mesin espresso. Ia pindah shift. Aku tidak bangga dengan yang ini. Tapi aku juga tidak menyesal.

Guru les piano itu, yang Bu Ratih carikan. Aku hanya ngobrol dengannya lima belas menit tentang efisiensi rantai pasok sayur organik. Aku bersumpah aku tidak bilang apa pun yang buruk tentang Kakak. Aku hanya kebetulan menyebut bahwa ada lowongan guru musik dengan gaji dua kali lipat di sekolah internasional di Balikpapan, dan kebetulan aku kenal kepala sekolahnya. Ia berterima kasih padaku waktu pamit. Win-win.

Ada lebih banyak lagi. Kasir minimarket. Teman kuliah yang pura-pura minta diajari masak. Mantan pacar sahabatku yang tiba-tiba sering mampir ke restoran. Semuanya mundur. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang terluka parah.

Ada satu nama lagi yang tidak kumasukkan ke daftar ini.

Tidak malam ini.

Intinya: aku tidak pernah gagal. Dan aku tidak pernah harus menghadapi lawan yang bisa memotong anggaran timku dengan satu tanda tangan.


“Kakak tidur aja,” kataku akhirnya. “Aku yang urus.”

“Urus apa, Mon?”

“Urus.”

“Mon.” Ia menahan pergelangan tanganku waktu aku berdiri. Tangannya hangat dan kasar, dan di lengan bawahnya, kaus oblongnya tidak menutupi bekas luka panjang itu. “Dia atasanmu. Jangan cari masalah.”

“Aku nggak cari masalah, Kak. Aku mencegah masalah. Itu beda. Itu literally job description-ku.”

“Mon.”

“Aku Head of Operations. Mencegah gangguan itu pekerjaanku.”

“Kakak bukan gangguan.”

“Kakak bukan. Dia yang gangguan.”

Ia menatapku lama. Lalu ia melepaskan tanganku, dan bibirnya bergerak sedikit, hampir senyum, seperti orang yang tahu ia tidak bisa menghentikan banjir dengan tangan kosong.

“Jangan pindahin dia ke Balikpapan.”

“Aku nggak kenal siapa pun di Blin yang punya otoritas mindahin CFO ke Balikpapan.”

“Itu bukan penolakan, Mon.”

“Selamat tidur, Kak.”


Rencana Darurat Nomor Satu dijalankan Kamis pagi pukul enam lewat sepuluh.

Konsepnya sederhana: kalau Bu Tamara sudah tahu aku bukan pacar Kakak, maka Kakak butuh pacar sungguhan. Atau setidaknya, kesan bahwa ia punya pacar sungguhan. Kesan publik. Sesuatu yang bisa dilihat siapa pun yang membuka Instagram Sekar Kedhaton, yang aku yakin akan dibuka oleh seorang CFO yang sudah memerintahkan asistennya mencari tahu nama lengkap kakakku dalam waktu kurang dari satu jam.

Aku tahu Sasha. Kami pernah satu lift. Ia pernah meminjam charger-ku. Ia efisien, dan efisiensi meninggalkan jejak.

Akun Instagram Sekar Kedhaton dikelola oleh Dimas. Dimas punya kelemahan yang sudah kuketahui sejak lama: ia tidak bisa menolak sambal buatanku. Sambal bajak dengan terasi Lasem yang kubuat setiap akhir bulan. Kakak bilang sambalku lebih enak dari sambal restoran, dan Kakak tidak pernah bohong soal makanan.

Aku mengirim pesan ke Dimas.

Dim. Satu botol sambal bajak. Kamu post satu foto di IG restoran hari ini. Caption: “Chef Hari dan pasangan setianya.” Fotonya aku kirim lewat Drive, ada di folder “Foto Kakak”, pilih yang paling bagus.

Balasan Dimas datang dalam empat puluh detik.

Dua botol, Mbak.

Satu setengah.

Deal. Tapi Mbak, ini buat ngusir Bu CFO ya? Yang kemarin? Yang kartunya dikantongin Chef?

Aku menatap layar.

Kartunya DIKANTONGIN?

Ups. Mbak saya lagi sibuk. Fotonya saya post jam sepuluh.

Aku tidak sempat membalas karena Dimas langsung offline, dan aku harus berangkat ke kantor sebelum jalan tol berubah jadi tempat parkir.


Kantor Blin ada di lantai dua puluh enam sampai dua puluh delapan sebuah gedung di Kuningan. Divisi operasional di dua puluh enam. Direksi, termasuk Raka dan Bu Tamara, di dua puluh delapan.

Aku berpakaian untuk perang hari itu. Blazer krem dengan potongan tegas, celana panjang senada, kemeja sutra hitam di dalamnya. Rambutku kuikat tinggi dan rapi, tidak ada satu helai pun yang lolos. Hak sepatu tujuh senti, cukup tinggi untuk berwibawa, cukup rendah untuk berlari mengejar vendor kalau perlu. Anting bulan sabit, karena itu jimatku. Lipstik nude dengan sedikit warna mawar.

Di cermin lift lobi aku melihat diriku dan menyetujuinya. Aku terlihat seperti perempuan yang akan menang hari ini. Wajahku bersih dan tajam, tulang pipiku tinggi, mataku yang hitam terlihat lebih tajam lagi dengan eyeliner tipis. Aku cantik, dan hari ini aku memakai kecantikanku seperti baju zirah.

Lalu Bintang masuk ke lift yang sama dengan segelas kopi hitam dan rambut yang, seperti biasa, terlihat seperti baru diterpa angin topan.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Lift naik. Lantai lima. Delapan. Dua belas.

“Kamu kelihatan kayak mau ngejatuhin pemerintahan,” kata Bintang tanpa menoleh.

“Aku cuma mau kerja.”

“Hm.” Jenis kedua.

Lantai lima belas. Pintu terbuka. Dan Tamara Morgan masuk.

Kemeja putih dengan kerah tinggi, rok pensil hitam, rambut cokelat bergelombang yang dijepit setengah di belakang kepala. Lipstik merah. Tablet di satu tangan, kopi di tangan lain. Ia melihatku. Ia tersenyum. Pintu lift menutup di belakangnya, dan tiba-tiba ruang sempit berdinding cermin itu berisi tiga orang dan seluruh oksigen di dalamnya terasa berkurang setengah.

“Pagi, Mona.”

“Pagi, Bu Tamara.”

“Pagi, Bintang.”

“Pagi, Bu.” Bintang menyesap kopinya.

Lantai delapan belas. Sembilan belas. Aku menatap angka digital di atas pintu seperti menatap angka hitung mundur bom.

Lantai dua puluh. Bu Tamara menyesap kopinya juga, dengan tenang, lalu berkata, dengan nada yang sama ringannya seperti orang mengomentari hujan:

“Kakakmu masak enak.”

Lantai dua puluh satu.

“Orangnya juga.”

Lantai dua puluh dua. Aku tidak bernapas. Di pojok lift, Bintang sedang menatap langit-langit dengan ekspresi orang yang sangat, sangat fokus memikirkan arsitektur sistem terdistribusi supaya tidak tertawa.

Lantai dua puluh enam. Pintu terbuka.

Bu Tamara menatapku dengan mata hazel yang tenang, menunggu. Ia tidak menyindir. Ia tidak menantang. Ia hanya menunggu, seperti orang yang meletakkan kartu di meja dan ingin melihat kartu apa yang akan kukeluarkan.

Aku tersenyum. Senyum paling profesional yang kupunya.

“Terima kasih, Bu. Nanti saya sampaikan ke Kakak.”

“Tolong sampaikan juga,” katanya, saat aku sudah melangkah keluar, “rawonnya membuatku ingat sesuatu yang sudah lama aku lupa.”

Pintu lift menutup.

Aku berdiri di lorong lantai dua puluh enam selama sembilan detik, menatap pintu besi itu.

Lalu aku sadar Bintang juga turun di lantai dua puluh enam, karena timnya sedang pinjam ruang rapat kami. Ia berdiri di sebelahku. Kopinya masih di tangan. Wajahnya datar. Bahunya bergetar sedikit.

“Kakak,” katanya.

“Diam.”

“Jadi bukan pacar.”

“Diam, Bintang.”

“Pantes mukanya mirip.”

“Satu kata lagi dan aku pastikan semua server-mu migrasi ke vendor yang paling lambat di Asia Tenggara.”

Bintang mengangguk perlahan, dengan serius. Lalu ia berjalan menuju ruang rapat. Lima langkah kemudian, tanpa menoleh, ia berkata, “Jodoh kan memang mirip.”

Aku melempar pulpen. Pulpennya meleset. Bintang tidak berhenti berjalan.


Pukul sepuluh lewat dua menit, ponselku bergetar dengan notifikasi Instagram.

sekarkedhaton.jkt baru saja membagikan postingan.

Aku membukanya dengan jantung berdebar, siap melihat foto yang kupilih dengan hati-hati semalam: aku dan Kakak di pernikahan sepupu jauh dua tahun lalu, aku dengan kebaya, Kakak dengan beskap, diambil dari sudut yang tidak menunjukkan wajahku dengan jelas tapi menunjukkan tanganku menggandeng lengannya. Romantis. Ambigu. Sempurna.

Foto yang muncul di layarku adalah Bu Ratih.

Bu Ratih, dengan kebaya kutubaru oranye, sedang mengecap sambal dari ujung jari telunjuknya dengan mata terpejam dan ekspresi penuh kenikmatan. Kakak berdiri di belakangnya, buram, memegang cobek.

Caption: Chef Hari dan pasangan setianya. ❤️🌶️

Aku menelepon Dimas. Ia mengangkat di dering pertama.

“Mbak! Udah lihat? Udah tiga ratus like!”

“DIMAS, ITU BU RATIH.”

“Lho? Folder Foto Kakak, Mbak. Itu satu-satunya foto Chef yang mukanya kelihatan dikit di situ. Sisanya foto Chef sama Mbak semua, terus aku pikir, masa pasangan setianya adiknya sendiri, kan aneh, Mbak.”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Logika Dimas tidak salah. Itu yang paling menyakitkan.

“Lagian,” lanjut Dimas dengan suara ceria, “Bu Ratih seneng banget, Mbak. Beliau udah share ke grup arisan. Katanya ini foto profil barunya.”

Di latar belakang, aku mendengar suara Bu Ratih berteriak riang, “Mbak Mona, makasih ya!”

Aku menutup telepon.


Rencana Darurat Nomor Dua dijalankan pukul sebelas, dari toilet lantai dua puluh enam, karena itu satu-satunya tempat di kantor di mana aku bisa menelepon tanpa Bintang tiba-tiba muncul.

Konsepnya bahkan lebih sederhana: kalau Bu Tamara memesan kursi chef’s table, aku akan memesan semuanya. Kakak tidak bisa memasak untuk orang yang tidak punya kursi.

Aku menelepon nomor reservasi Sekar Kedhaton. Bu Ratih yang mengangkat.

“Sekar Kedhaton, selamat siang.”

“Bu, ini Mona.”

“Oh, Mbak Mona! Makasih fotonya, Mbak, temen-temen arisan pada iri—”

“Bu, aku mau pesan chef’s table. Semua kursi. Minggu depan. Semua malam.”

Hening sebentar. Lalu suara Bu Ratih berubah, dari riang menjadi suara maître d’ profesional yang terdengar sangat, sangat menikmati apa yang akan ia katakan.

“Wah, maaf, Mbak Mona. Kursi nomor satu sudah dipesan.”

“Minggu depan?”

“Sebulan penuh, Mbak. Setiap malam restoran buka. Atas nama T. Morgan. Asistennya baru telepon pagi ini, jam delapan.”

Aku menyandarkan kepala ke dinding bilik toilet.

“Kursi dua sampai delapan masih ada, Mbak,” lanjut Bu Ratih manis. “Mau dipesan semua? Biar Mbak bisa duduk di sebelahnya tiap malam?”

Aku menghitung di kepala. Tujuh kursi. Dua juta delapan ratus ribu per kursi, belum termasuk pajak dan layanan. Kali dua puluh dua malam sebulan.

Angkanya lebih besar dari harga mobil pertama yang kubeli.

“...Nggak jadi, Bu.”

“Baik, Mbak. Ada lagi yang bisa dibantu?”

“Nggak, Bu. Makasih.”

“Sama-sama, Mbak. Oh iya, Mbak—”

“Ya?”

“Bu Tamara-nya cantik banget ya, Mbak. Kayak bintang film zaman dulu.”

Aku menutup telepon.


Malam itu, Kakak pulang pukul sebelas lewat seperempat. Ia tertidur di sofa sebelum aku selesai menghangatkan sayur asem untuknya. Kepalanya miring ke sandaran, mulutnya sedikit terbuka, satu tangan masih memegang remote televisi yang belum sempat ia nyalakan.

Aku mengambil remote dari tangannya dan menyelimutinya dengan kain batik yang biasa kami pakai untuk menutup kaki kalau AC terlalu dingin.

Lalu aku mengambil apronnya dari tas kerjanya, untuk dicuci. Kakak selalu membawa pulang apronnya sendiri. Katanya, laundry restoran tidak menghilangkan bau terasi, dan ia tidak mau bau terasi ikut tidur di loker.

Waktu aku memeriksa saku apron, seperti yang selalu kulakukan supaya pulpen atau korek tidak ikut tercuci, jariku menyentuh sesuatu yang kaku.

Kartu nama. Putih. Tebal.

Tamara Morgan, Chief Financial Officer, Blin.

Aku membaliknya.

Rawonnya sempurna. Chef-nya juga. — T.

Aku berdiri di dapur kecil kami, di bawah lampu neon yang berdengung pelan, memegang kartu itu.

Aku bisa membuangnya. Kakak tidak akan tahu. Kakak tidak akan bertanya. Kakak tidak pernah bertanya.

Aku menatap tulisan tangan itu. Huruf T yang ujungnya berputar.

Lalu aku menatap Kakak di sofa. Lengan kirinya terkulai di luar kain batik. Di bawah cahaya televisi yang mati, garis pucat panjang di kulitnya terlihat lebih jelas, seperti sungai di peta.

Aku ingat malam itu. Gang di Tebet. Lampu jalan yang mati. Laki-laki yang bau alkohol dan tangannya yang menarik lengan seragamku. Teriakan Kakak, yang belum pernah kudengar sekeras itu, sebelum atau sesudahnya. Kilat logam di bawah cahaya dari jendela rumah orang. Dan darah, yang menetes dari lengan Kakak ke rok abu-abuku, hangat dan terlalu banyak, sementara Kakak tetap berdiri di depanku dengan tangan terentang seperti dinding.

Ia tidak menangis. Aku yang menangis. Ia hanya bilang, Udah, Mon. Udah. Kakak di sini.

Sebelas tahun, dan ia tidak pernah pergi dari sana. Dari depanku. Dengan tangan terentang.

Aku memasukkan kartu itu kembali ke saku apron. Tidak kubuang.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena Kakak menyimpannya. Mungkin karena, untuk pertama kalinya, kakakku menyimpan sesuatu yang bukan untukku.

Aku mencuci apron itu dengan tangan, di wastafel, dengan kartu itu sudah kupindahkan ke atas meja kecil di samping sofa, di bawah remote, di tempat Kakak akan menemukannya pagi nanti dan mengira ia sendiri yang meletakkannya di sana.

Lalu aku duduk di lantai, bersandar ke sofa, dekat kaki Kakak, seperti waktu kami kecil dan kontrakan kami cuma punya satu kasur.

Kalau Kakak pergi, pikirku, dan pikiran itu datang dengan suara yang tidak pernah kuizinkan bicara di siang hari, aku pulang ke siapa?

Aku tidak punya jawaban.

Jadi aku mengambil ponsel, membuka aplikasi catatan, dan mengetik satu judul baru.

Rencana Darurat Nomor Tiga.

Halamannya masih kosong. Tapi aku Head of Operations. Aku selalu punya rencana berikutnya.