Chapter Twenty One
Aku Cinta Kamu
POV: Hari
Setiap tanggal tujuh belas November, sejak aku umur dua belas tahun, aku bangun dan menemukan tumpeng kecil di meja.
Tumpeng pertama dibuat Mona waktu ia sepuluh tahun. Nasinya nasi putih biasa yang ia warnai kuning dengan kunyit yang terlalu banyak, sampai rasanya pahit. Bentuknya bukan kerucut, lebih mirip gundukan pasir yang ditendang. Lauknya satu butir telur rebus yang dibelah dua, tiga potong tempe goreng, dan seiris mentimun. Ia menancapkan satu batang lilin ulang tahun di puncaknya, lilin bekas yang ia minta dari tetangga, dan menyalakannya dengan korek api kompor minyak tanah.
Selamat ulang tahun, Kak, katanya, dengan rambut dikepang dua miring dan pipi belepotan kunyit. Maaf nasinya pahit.
Aku makan semuanya. Sampai butir terakhir. Itu nasi paling pahit yang pernah kumakan, dan aku tidak pernah bilang ke Mona bahwa aku menangis di kamar mandi kontrakan setelahnya.
Sembilan belas tahun kemudian, pagi tanggal tujuh belas November, aku bangun dan menemukan tumpeng kecil di meja dapur apartemen kami.
Nasinya kuning sempurna, dimasak dengan santan dan kunyit dan serai dan daun salam. Bentuknya kerucut yang rapi, dicetak dengan cetakan aluminium yang Mona beli khusus untuk ini. Lauknya ayam goreng, telur balado, perkedel, tempe orek, urap sayur, dan sambal goreng ati. Di puncaknya, satu batang lilin.
Mona berdiri di sebelah meja dengan piyama dan rambut yang masih berantakan, memegang korek gas. Ia menyalakan lilin itu.
“Selamat ulang tahun, Kak.”
“Makasih, Mon.”
“Tiup.”
Aku meniup lilinnya. Mona bertepuk tangan dua kali, seperti setiap tahun. Lalu ia memotong puncak tumpeng itu dan menyerahkannya kepadaku di piring kecil, seperti setiap tahun.
Kami makan bersama di meja dapur, seperti setiap tahun. Mona bercerita tentang vendor yang mengirim barang ke gudang yang salah. Aku makan perkedel. Semuanya sama seperti setiap tahun.
Kecuali satu hal.
Waktu kami selesai makan, waktu aku berdiri untuk mencuci piring, Mona tidak memberiku kado.
Setiap tahun, Mona memberiku kado di pagi hari, setelah tumpeng. Selalu. Kaus kaki tebal untuk dapur yang lantainya dingin. Sarung tangan tahan panas. Jam tangan yang kusimpan di laci karena takut tergores. Selalu di pagi hari, di meja dapur, dibungkus kertas koran karena katanya kertas kado itu pemborosan.
Pagi ini, tidak ada bungkusan kertas koran.
Aku tidak bertanya. Aku mencuci piring. Mona mengelap meja. Lalu, waktu aku sudah selesai dan mengeringkan tangan dengan lap, Mona berkata tanpa menoleh:
“Malam ini Kakak nggak usah pulang cepat.”
Aku menatapnya.
“Tamara udah izin ke aku,” lanjutnya, masih mengelap meja yang sudah bersih. “Lewat grup.”
“Grup apa?”
Mona berhenti mengelap. Ia menyadari kesalahannya.
“Nggak ada grup.”
“Mon.”
“Pasal Delapan, Kak. Koordinasi hadiah ulang tahun. Itu di kontrak. Kakak udah baca kontraknya?”
“Kakak nggak pernah lihat kontraknya.”
“Ya udah. Itu urusan Pihak Kedua dan Pihak Ketiga.” Ia melempar lap ke bak cuci dan berjalan ke kamarnya. Di ambang pintu, ia berhenti. Ia tidak menoleh. “Kak.”
“Hm.”
“Selamat ulang tahun. Aku sayang Kakak.”
Pintu kamarnya menutup.
Aku berdiri di dapur dengan lap di tangan. Aku sayang Kakak. Kalimat yang sama yang ia ucapkan di malam pesta Seri C, waktu membetulkan dasiku, sebagai candaan supaya aku tersenyum di foto.
Tapi pagi ini tidak terdengar seperti candaan.
Grup itu bernama Proyek Matahari ☀️. Aku tahu karena Dimas memberitahuku pukul sepuluh pagi di dapur restoran, sambil memotong bawang, dengan wajah orang yang sudah menahan rahasia terlalu lama dan akhirnya meledak.
“Chef, saya nggak tahan.”
“Nggak tahan apa?”
“Grupnya, Chef. Saya diundang.”
“Grup apa, Dim?”
“Proyek Matahari, Chef. Bu Tamara yang bikin. Anggotanya Bu Tamara, Mbak Mona, saya, Bu Ratih, sama Mbak Sasha.” Ia meletakkan pisau. “Grupnya dibikin dua minggu lalu, Chef. Buat koordinasi ulang tahun Chef. Pasal Delapan.”
Aku menatapnya.
“Saya cuma ditugasin intel, Chef. Ukuran baju, merek sepatu, Chef pernah bilang pengin apa.” Dimas menatap talenan. “Saya bilang Chef nggak pernah bilang pengin apa-apa. Mbak Mona bilang itu masalahnya. Terus grupnya hening lima menit.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Terus mereka debat dua hari soal kado Mbak Mona, Chef. Mbak Mona mau kasih kadonya lewat Bu Tamara. Bu Tamara bilang jangan, harus Mbak Mona sendiri. Mbak Mona bilang aku udah kasih tumpeng tiap pagi selama sembilan belas tahun, malam ini giliran kamu.” Dimas menatapku. “Bu Tamara nggak bales tiga jam. Terus dia bales oke. Cuma itu.”
Aku menurunkan tanganku dari wajah.
Aku memikirkan pagi tadi. Mona yang tidak memberiku kado di meja dapur. Mona yang bilang malam ini Kakak nggak usah pulang cepat. Mona yang bilang aku sayang Kakak dari ambang pintu kamar, tanpa menoleh.
Adikku sedang melepaskan sesuatu. Pelan-pelan. Dengan caranya sendiri.
Aku tidak tahu harus merasa lega atau sedih.
“Chef,” kata Dimas, “jangan bilang saya cerita ya.”
“Kamu cerita ke saya karena kamu nggak tahan.”
“Iya, Chef.”
“Kamu akan bilang ke grup bahwa kamu cerita ke saya.”
Dimas diam. Lalu mengambil ponselnya. “Arsip, Chef.”
Malam itu, Pak Gunawan memaksaku pulang pukul tujuh. Ia berdiri di pintu dapur dengan tangan terlipat di belakang punggung dan berkata, Kalau kamu masih di sini jam tujuh lewat lima, saya potong gajimu. Pak Gunawan tidak pernah bercanda soal gaji. Aku pulang.
Aku mandi di loker restoran. Aku memakai kemeja yang dikirim ke restoran oleh kurir pagi tadi, dengan kartu kecil bertuliskan tangan miring yang sudah kukenal: Pakai ini malam ini. — T. Kemeja linen putih dengan potongan yang pas sekali di bahuku. Aku tidak bertanya bagaimana ia tahu ukuranku. Aku sudah tahu jawabannya: Proyek Matahari.
Aku mengendarai motor ke Setiabudi. Satpam lobi sekarang sudah mengenaliku. Ia membukakan pintu lift tanpa ditanya dan berkata, Selamat ulang tahun, Pak. Titipan pesan dari Bu Tamara.
Lift naik ke lantai tiga puluh dua. Aku berdiri di depan pintu apartemennya. Aku mencium sesuatu dari celah bawah pintu.
Bau gosong.
Aku mengetuk.
Pintu terbuka setelah sepuluh detik. Tamara berdiri di sana dengan gaun merah anggur selutut, rambut tergerai, lipstik merah, dan apron putih yang kuberikan di les pertama. Apron dengan ujung yang hangus. Ada noda kecap di bagian dada apron itu. Ada tepung di pipinya. Ada sesuatu yang hitam di ujung rambutnya.
Ia cantik. Ia cantik dengan cara yang membuatku ingin tertawa dan memeluknya sekaligus. Cantik dengan tepung di pipi.
“Selamat ulang tahun,” katanya.
“Makasih.”
“Jangan masuk dulu.”
“Kenapa?”
“Karena,” ia menarik napas, “karena aku perlu jelasin sesuatu sebelum kamu lihat dapurku.”
Aku menunggu.
“Aku mau bikin nasi goreng,” katanya. “Nasi goreng spesial. Yang kamu bikin pertama kali di warung Pak Darto, waktu umur lima belas. Pak Darto kasih resepnya ke aku lewat Anto. Lewat WhatsApp. Anto ketik pakai satu jari, butuh dua hari.” Ia menelan. “Aku sudah latihan tiga kali di rumah. Yang pertama gosong. Yang kedua keasinan. Yang ketiga lumayan.”
“Terus yang malam ini?”
Hening.
“Yang malam ini,” katanya pelan, “gosong dan keasinan.”
Aku menatapnya. Ia menatapku dengan dagu sedikit terangkat dan mata yang menantang, menantangku untuk tertawa.
Aku tidak tertawa. Aku melangkah masuk, menutup pintu di belakangku, melingkarkan tanganku di pinggangnya, dan menciumnya. Di bibir. Lama. Dengan bau gosong di sekeliling kami dan tepung di pipinya yang menempel ke pipiku.
Ketika aku melepaskannya, ia menatapku dengan mata setengah tertutup.
“Kamu belum lihat dapurnya,” bisiknya.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu belum cicip nasi gorengnya.”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu nggak tahu seberapa parah.”
“Tamara.” Aku mengusap tepung dari pipinya dengan ibu jari. “Mona bikin tumpeng pertamanya umur sepuluh tahun. Nasinya pahit karena kunyitnya kebanyakan. Bentuknya kayak gundukan pasir. Aku makan semuanya.”
Ia diam.
“Aku nangis di kamar mandi setelahnya,” kataku. “Bukan karena pahitnya.”
Matanya berkaca-kaca. Ia menunduk dan menyandarkan dahinya ke dadaku.
“Kamu curang,” gumamnya ke kemeja linen putih yang ia kirim.
“Kenapa?”
“Karena kamu selalu tahu kalimat yang bikin aku nangis.”
Nasi gorengnya memang gosong dan keasinan.
Bagian bawahnya kerak hitam yang menempel di wajan seperti aspal. Bagian atasnya asin sampai lidahku kebas. Telur ceploknya pecah dan kuningnya matang sampai keras. Kerupuknya melempem karena ia menggorengnya terlalu awal.
Aku makan semuanya.
Ia duduk di seberangku di meja makan kayu panjang di apartemennya, meja yang menurutnya belum pernah dipakai makan sejak ia pindah dua tahun lalu, dan menatapku makan dengan ekspresi ngeri yang semakin dalam setiap suapan.
“Kamu nggak harus habisin.”
“Aku mau.”
“Itu asin banget.”
“Iya.”
“Kamu besok bisa darah tinggi.”
“Iya.”
“Matahari, stop.”
Aku menyuap suapan terakhir. Aku mengunyah. Aku menelan. Aku meletakkan sendok di piring yang kosong dengan bunyi ting yang pelan.
“Enak,” kataku.
“Itu bohong.”
“Itu bukan bohong. Ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan.”
“Matahari, ini gosong dan keasinan. Ini secara objektif buruk.”
“Secara objektif buruk,” kataku, “tapi secara subjektif ini nasi goreng pertama yang pernah dimasak orang buat aku. Selain Mona.”
Ia membuka mulut. Menutupnya.
“Tujuh belas tahun aku masak buat orang lain,” lanjutku. “Ribuan piring. Puluhan ribu, mungkin. Dan selama tujuh belas tahun itu, cuma satu orang yang pernah masak buat aku. Mona.” Aku menatap piring kosong di depanku. “Malam ini dua.”
Tamara diam lama. Lalu ia berdiri, berjalan memutari meja, dan duduk di pangkuanku. Begitu saja. Tanpa izin, tanpa basa-basi, dengan gaun merah anggur dan apron hangus dan tepung yang masih tersisa di rambutnya.
Ia melingkarkan lengannya di leherku dan menciumku. Ciuman yang rasanya asin dan sedikit gosong.
“Itu,” bisiknya di bibirku, “kalimat paling romantis yang pernah diucapkan ke nasi goreng gosong.”
Balkon apartemennya menghadap ke Sudirman. Tiga puluh dua lantai di atas jalan, angin bertiup lebih dingin dan lebih kencang dari di bawah. Lampu-lampu kota terhampar seperti biji wijen di atas kain hitam. Di kejauhan, lampu-lampu mobil bergerak pelan seperti semut yang membawa lilin.
Kami berdiri di pagar balkon. Ia di depanku, aku di belakangnya, lenganku melingkar di pinggangnya, daguku di bahunya. Rambutnya yang tertiup angin menyentuh pipiku. Wangi kayu manis yang dibakar.
“Aku punya dua kado,” katanya.
“Kamu sudah kasih kemeja.”
“Kemeja itu bukan kado. Kemeja itu syarat.” Ia mengeluarkan sesuatu dari saku apronnya. Sebuah buku kecil. Seukuran telapak tangan, dengan sampul kertas cokelat yang dijahit tangan dengan benang merah. Jahitannya miring di beberapa tempat. “Ini kado pertama.”
Aku membukanya.
Di halaman pertama, tulisan tangan miring:
Buku Kupon Matahari. Berlaku seumur hidup. Tidak bisa diuangkan. Tidak bisa dipindahtangankan. Terutama tidak ke Dimas.
Halaman kedua:
Kupon 1: Tamara memasak untuk Matahari. Risiko ditanggung penerima.
Halaman ketiga:
Kupon 2: Tamara tidak mengangkat telepon dari Raka selama 24 jam penuh.
Halaman keempat:
Kupon 3: Tamara mendengarkan cerita tentang kluwek sampai habis tanpa menyela.
Aku membalik halaman demi halaman. Dua puluh kupon. Ada yang lucu. Ada yang membuatku menahan napas. Ada yang membuatku harus berhenti sebentar dan menatap lampu kota supaya mataku tidak basah.
Kupon 11: Tamara ikut ke makam Bapak dan Ibu. Kalau Matahari mau.
Lalu halaman terakhir. Halaman kedua puluh.
Kupon 20: ____________________ (isi sendiri)
Di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil, lebih miring, seperti ditulis dengan tangan yang sedikit gemetar:
Apa saja. Aku serius. Apa saja.
Aku menatap halaman itu lama.
Lalu aku menatap Tamara. Ia sudah berbalik menghadapku, punggungnya bersandar ke pagar balkon, angin menerbangkan rambutnya ke wajahnya. Ia tidak menyibakkan rambutnya. Ia hanya menatapku, dengan bibir merah yang sedikit tergigit dan alis yang sedikit terangkat.
“Apa saja,” kataku.
“Apa saja.”
“Kamu tahu itu berbahaya.”
“Aku CFO, Matahari. Aku tahu persis risiko yang aku ambil.” Ia mendekat. Tangannya di dadaku, di atas kemeja linen putih. Jarinya bermain dengan kancing paling atas. “Aku cuma mau tahu kapan kamu berani pakai.”
Aku menelan. Jakunku bergerak. Ia melihatnya. Senyumnya melebar.
“Simpan,” bisiknya. “Pakai kalau sudah siap.”
Aku menutup buku kecil itu dan memasukkannya ke saku kemejaku. Di atas jantung.
“Kado kedua,” katanya, dengan nada yang tiba-tiba berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. “Kado kedua bukan dari aku.”
Ia masuk ke dalam dan kembali dengan kotak kayu panjang. Kayu jati, dengan ukiran sederhana di tutupnya. Ia menyerahkannya dengan dua tangan.
“Dari Mona,” katanya. “Dia titipkan ke aku. Dia bilang aku harus kasih ini di sini. Di balkon. Malam ini.”
Aku menatap kotak itu. Aku tidak langsung membukanya.
Sembilan belas tahun, Mona memberiku kado di meja dapur setiap pagi tanggal tujuh belas November. Dibungkus kertas koran. Diserahkan langsung, dengan tangannya sendiri, dengan wajah yang selalu sedikit malu, karena ia selalu khawatir kadonya tidak cukup bagus.
Malam ini, ia menitipkan kadonya ke orang lain.
Aku membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya, di atas bantalan beludru hitam, ada pisau chef. Pisau Jepang, dengan bilah baja damaskus yang berpola seperti air beriak, dan gagang kayu berwarna gelap. Pisau yang sudah kuidam-idamkan sejak lima tahun lalu, waktu aku melihatnya di katalog yang dibawa Pak Gunawan dari Osaka, dan menutup katalog itu karena harganya setara dengan uang semester terakhir Mona.
Aku tidak pernah bilang ke Mona soal pisau ini. Aku tidak pernah bilang ke siapa pun.
Tapi aku ingat Mona melihatku menutup katalog itu. Ia ada di restoran waktu itu, mengantar bekal. Ia melihat wajahku.
Ia ingat. Lima tahun.
Aku mengangkat pisau itu dari kotaknya. Bilahnya berkilau di bawah lampu balkon. Dan di sisi bilah, dekat gagang, terukir dengan huruf kecil yang rapi:
Untuk Matahari, dari Bulan.
Aku berhenti bernapas.
Bukan Untuk Kakak, dari Mona. Bukan Untuk Hari.
Untuk Matahari, dari Bulan.
Nama dari Ibu. Nama yang Mona minta Tamara tidak pakai di Pasal Sembilan, lalu ia hapus sendiri. Nama yang tidak pernah dipakai siapa pun sejak Ibu meninggal, sampai seorang perempuan berlipstik merah di pesta Seri C bilang aku lebih suka yang lengkap.
Mona mengukirnya di pisau. Dan menitipkannya ke perempuan itu.
Aku meletakkan pisau itu kembali ke kotaknya dengan tangan yang gemetar. Tanganku tidak pernah gemetar. Tidak di dapur, tidak di depan api, tidak waktu darah menetes dari lenganku di gang gelap sebelas tahun lalu.
Malam ini tanganku gemetar.
Tamara tidak bicara. Ia mengambil kotak itu dari tanganku, menutupnya dengan hati-hati, dan meletakkannya di kursi balkon. Lalu ia berdiri di depanku dan memelukku. Lengannya melingkari punggungku. Wajahnya di dadaku.
Aku memeluknya balik. Aku menunduk dan menyandarkan dahiku di puncak kepalanya. Rambutnya wangi kayu manis dan sedikit bau gosong.
Kami berdiri seperti itu lama. Angin tiga puluh dua lantai di atas Sudirman. Lampu-lampu kota. Bunyi klakson yang samar dari jalan di bawah.
“Dia melepaskan aku,” kataku akhirnya, ke rambutnya. Suaraku pecah. “Pelan-pelan. Dia melepaskan aku.”
“Bukan,” bisik Tamara di dadaku. “Dia menitipkan kamu.”
Aku menutup mata.
Dan di sana, di balkon, dengan perempuan ini di pelukanku dan pisau dari adikku di kursi sebelah dan buku kupon dengan jahitan miring di saku kemejaku, aku menyadari sesuatu yang sudah lama kuketahui tapi tidak pernah berani kuucapkan, bahkan kepada diriku sendiri.
Aku mengangkat kepala. Aku menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya supaya ia menatapku. Matanya basah. Lipstiknya pudar sedikit di sudut. Tepung masih tersisa di ujung rambutnya.
“Tamara.”
“Hm?”
“Aku cinta kamu.”
Angin berhenti bertiup. Atau mungkin aku yang berhenti mendengarnya.
Aku sayang kamu sudah kuucapkan di malam garang asem, berlutut di lantai teraso. Itu kalimat yang hangat dan aman. Aku cinta kamu belum pernah kuucapkan kepada siapa pun dalam tiga puluh dua tahun hidupku.
Tamara menatapku. Air mata yang tadi menggenang di matanya akhirnya jatuh. Satu, di pipi kiri. Lalu satu lagi, di pipi kanan.
Ia tidak mengusapnya.
“Aku cinta kamu,” katanya. Suaranya pecah di tengah, seperti suaraku. “Aku cinta kamu, Matahari Wirasena. Aku cinta kamu dari kursi nomor satu sampai balkon ini. Aku cinta kamu waktu kamu bilang Mona kreatif. Aku cinta kamu waktu kamu tidur di kursi sambil pegang tanganku tujuh jam. Aku cinta kamu waktu kamu makan nasi goreng gosong sampai habis.”
Ia berhenti. Menarik napas.
“Tapi,” tambahnya, dengan suara yang tiba-tiba sangat serius, “masakanku tadi jangan dibahas. Selamanya.”
Aku tertawa.
Aku tertawa di balkon lantai tiga puluh dua dengan mata basah, dan ia tertawa juga, dan kami tertawa seperti dua orang bodoh di tengah angin malam Jakarta, sampai tawanya berubah jadi sesuatu yang lain, dan ia menarik kerah kemeja linenku, dan menciumku.
Di bawah kami, kota berkilau. Di atas kami, di antara polusi, satu titik cahaya kecil.
Pukul sebelas malam, aku mengirim pesan ke Mona.
Satu foto. Pisau di kotak jati, di bawah lampu balkon. Ukirannya terlihat jelas.
Di bawahnya, aku mengetik:
Makasih, Bulan.
Balasan datang dalam satu detik. Ia belum tidur. Tentu saja belum.
Sama-sama, Matahari.
Aku menunjukkan pesan itu ke Tamara, yang sedang bersandar di bahuku di kursi balkon. Ia membacanya, tersenyum, dan menggenggam tanganku lebih erat.
Kami duduk di sana sampai lewat tengah malam, bicara tentang hal-hal kecil. Tentang Eyang. Tentang Ibu. Tentang tumpeng pahit dan nasi goreng gosong. Tentang kluwek, dan ia mendengarkan sampai habis tanpa menyela, dan waktu aku selesai, ia bilang, Kupon tiga, sudah dipakai.
Pukul satu, aku pulang.
Mona masih bangun. Ia duduk di sofa dengan televisi menyala tanpa suara, dan waktu aku masuk, ia menoleh, menatapku dari atas ke bawah, lalu ke kantong kemejaku, di mana buku kupon kecil itu masih menonjol.
Ia tidak bertanya.
“Pisaunya bagus?” tanyanya.
“Paling bagus.”
“Kakak nangis?”
Aku diam.
Mona tersenyum. Lesungnya muncul. “Kakak nangis.”
“Tidur, Mon.”
“Kakak nangis kayak waktu tumpeng pahit.”
Aku berhenti di ambang pintu kamarku. “Kamu tahu soal itu?”
“Dinding kontrakan kita tipis, Kak.” Mona mematikan televisi. “Aku dengar Kakak nangis di kamar mandi. Aku pikir Kakak nangis karena nasinya pahit. Aku nangis juga di kasur. Aku pikir aku gagal.”
Aku menatapnya.
“Aku baru tahu tadi pagi,” kata Mona pelan, “dari Tamara. Dia cerita Kakak cerita soal tumpeng ke dia. Katanya Kakak bilang bukan karena pahitnya.” Ia berdiri dari sofa. Ia berjalan ke arahku, dan memelukku. Cepat. Erat. Seperti waktu ia delapan tahun di pemakaman Ibu. “Dua puluh tahun aku pikir aku gagal, Kak.”
“Kamu nggak pernah gagal, Mon.”
“Aku tahu sekarang.” Ia melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamarnya. Di ambang pintu, ia berhenti. “Selamat ulang tahun, Matahari.”
Pintu kamarnya menutup.
Aku berdiri di lorong apartemen kami, di antara pintu kamar adikku dan pintu kamarku, dengan buku kupon di saku kemeja dan bau gosong yang masih menempel di rambutku, dan aku menyadari bahwa malam ini, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh dua tahun, aku tidak merasa harus memilih.
- 1 Jas yang Kubeli Diam-Diam
- 2 Aset Tak Tercatat
- 3 Kursi Nomor Satu
- 4 Rencana Darurat Nomor Satu
- 5 Bukan Buat Makanannya
- 6 Saya Tidak Bisa Masak, Chef
- 7 Inspeksi
- 8 Nasi Gosong
- 9 Mengantar ke Parkiran
- 10 Garang Asem Eyang
- 11 Kakak Senyum ke Ponsel
- 12 Rasa yang Hilang
- 13 Jawaban
- 14 Syarat & Ketentuan
- 15 Kencan di Kaki Lima
- 16 Makan Malam Bertiga
- 17 CFO Manja
- 18 Setelah Jam Tutup
- 19 Bekal yang Bukan Buatku
- 20 Pertama Kali Dirawat
- 21 Aku Cinta Kamu reading
- 22 Dinas Surabaya
- 23 Belum
- 24 Ayah dari London
- 25 Rumah Eyang
- 26 Tawaran Kedua
- 27 Kakak Jauh
- 28 Pilihan Pertama
- 29 Dua Kali
- 30 Karena Sayang
- 31 Dua Kali karena Kamu
- 32 Dapur Paling Sepi
- 33 Ratu Es
- 34 Melepas
- 35 Rooftop Tebet
- 36 Giliranku
- 37 Kamu Pilihan Pertamaku
- 38 Omah Rembulan
- 39 Sekarang
- 40 Jas yang Kupilih Lagi
- 41 Epilog — Pidato Bulan